Wednesday, March 21, 2012

Angkringan Pak Camat: Harga Cerdas, Rasa Terhormat

Views :202 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 21 Maret 2012 14:53
angkringan_pkcamatAngkringan yang biasanya dijumpai di desa-desa dan pinggir jalan di Yogyakarta saat ini merambah pasar ibu kota. Salah satunya adalah Angkringan Pak Camat. Dengan tagline, "Harga Cerdas, Rasa Terhormat," Angkringan Pak Camat ingin menaikkan harkat angkringan di luar kota Yogyakarta.

“Awalnya kami lihat franchise-franchise itu rata-rata makanan luar semua. Kemudian kami pikir kenapa tidak produk lokal ikut di-franchise-kan juga, orang bisa semakin kenal makanan tradisional kita,” ujar Deven, Marketing Director Angkringan Pak Camat saat ditemui di sela-sela acara pameran Info Franchise & Business Concept Expo 2012 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dengan mengusung konsep waralaba, Angkringan Pak Camat membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati laba dari kuliner khas di dalamnya, seperti nasi kucing, tempe dan tahu bacem, bihun cabe rawit, wedang jahe, dan lain sebagainya.

“Kami jadi waralaba itu baru 2 tahun lalu. Kalau merek Pak Camatnya sendiri sudah dari tahun 2000 di Yogyakarta,” jelas Deven.

Perkembangan bisnis ini cukup pesat, dalam 2 tahun sejak mulai diwaralabakan, Angkringan Pak Camat saat ini telah memiliki 14 cabang di Jabodetabek dan 1 gerai di Bandung. Perkembangan tersebut wajar karena Angkringan Pak Camat menawarkan paket-paket kemitraan yang menguntungkan para franchisee.

Keuntungan menjadi pewaralaba Angkringan Pak Camat salah satunya tidak adanya syarat khusus jika ingin membuka Angkringan ini, cukup sediakan lahan 3x3 meter. Selain itu Angkringan Pak Camat memiliki 2 jenis paket waralaba yang disebut paket prima dan paket Mandiri. Bagi yang memilih paket prima dikenakan biaya Rp 25 juta dan untuk paket Mandiri dikenakan biaya Rp 15 juta.

“Biaya 25 juta sudah termasuk semua, dari gerobak, pelatihan karyawan, stok makanan, sampai alat-alat makannya. Pokoknya tinggal buka saja,” jelas Deven.

Sedangkan untuk yang memilih paket Mandiri, para mitra bebas untuk memilih sendiri bahan makanannya, tidak disuplai dari franchisor. “Biasanya ini pilihan masyarakat yang mau buka di luar kota. Kita tidak mungkin suplai makanan tiap hari ke sana, jadi mereka bebas pilih sendiri. Tapi tetap kita sesuaikan rasanya dengan yang lain,” jelas Deven.

Jika setelah membuka usaha ini tiba-tiba terjadi penurunan omzet, pihak franchisor pun tidak segan untuk memberikan saran kepada franchisee-nya. “Kita ajak jalan ke tempat makan lain, kita jembatani mereka ngobrol dengan pemilik tempat makan itu, jadi franchisee bisa belajar juga dari yang sudah sukses,” ujarnya.

Untuk menjaga keaslian rasanya, tim Angkringan Pak Camat akan melakukan kunjungan 1 bulan sekali ke setiap mitra mereka.

Mengenai omzet, saat ini omzet rata-rata di tiap gerainya berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per harinya. Dari omzet ini lah Angkringan Pak Camat berani mengklaim bahwa mitranya dapat balik modal hanya dalam waktu 6 bulan saja.

"Royalti fee-nya kita kasih sebesar pada saat mereka sudah BEP, itu dari bulan ke tujuh, 3% untuk Angkringan Pak Camat sampai tiga tahun. Setelah itu, akan kita tanyakan apakah mereka mau memperpanjang atau tidak,” jelas Deven.

Keuntungan lain yang didapat mitra ini adalah para mitra bebas menjual minuman atau makanan di luar dagangan pokok angkringan sendiri tanpa dikenakan royalty fee. Misalnya seorang mitra ingin menjual jus buah, itu dimungkinkan dan tidak dipotong 3% untuk biaya royaltinya. “Justru kami kasih masukan, ini bagusnya ditambah jualan jus, soft drink, atau makanan apa begitu,” aku Deven. (*/ian)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/perusahaan-a-merek/nasional/merek/15432-angkringan-pak-camat-harga-cerdas-rasa-terhormat.html

No comments:

Post a Comment

Post a Comment