Sunday, August 21, 2011

Sukses Kelola Bisnis Keluarga Sampai ke Luar Negeri

PDF Cetak E-mail
Melakukan usaha di era globalisasi ini biasanya berkiblat pada hal modern dan menanggalkan nilai-nilai budaya. Kendati tidak setiap orang seperti itu.

Seperti yang digeluti U'us, pengelola Sanggar Reret Art Shop. Sanggar itu adalah sebuah usaha kerajinan, patung kayu, primitif, kerjinan dari tulang dan lain-lain yang beralamat di Jalan Raya Bandung-Sumedang Km 19 Cibeusi, Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

uus_reret0811Sanggar Reret ini dikelola oleh seorang bapak yang bernama Dr. HC. Dayat Supriatna, bersama keluarganya termasuk anaknya yang bernama U'us.

U'us menceritakan awal mulanya usaha sanggar ini hanya bermodalkan Rp20 ribu dengan pinjaman uang dari bank. Lanjutnya dengan tekad dan kerja keras usaha ini mulai kelihatan berhasil dengan dimulai menjual dengan mendatangi rumah ke rumah dan mulut ke mulut.

"Awal mulanya usaha ini, dulu hanya dari rumah ke rumah, mulut ke mulut, door to door-lah, dengan modal awal usaha kami hanya Rp20 ribu pada tahun 1965," ungkap Uus kepada Okezone.

Usaha Sanggar Reret ini, dijelaskan U'us adalah usaha yang turun temurun dari tahun 1965, namun baru berhasil setelah tahun 1997, usaha Sanggar ini mulai baru bisa menghasilkan. U'us mulai berhasil mempekerjakan beberapa pegawai dan mulai mengekspor hasil kerajinannya.

"Sampai 1997 masih sendiri, kita jual sendiri. Mulai keangkatnya tahun 1997, setelah mulai disentuh instansi pemerintah," ucapnya.

Dia menceritakan, pemerintah tertarik membiayai UMKM ini setelah melihat sang bapak pencipta usaha melakukan show atau pameran ke luar negeri, yaitu ke Jerussalem dengan biaya sendiri dan bantuan seorang teman. Setelah melihat hasil pameran si bapak di luar negeri, pemerintah baru tertarik untuk membiayai Sanggar ini.

Dia menambahkan, setelah mendapatkan sentuhan pemerintah ini, Sanggar pun mulai berkembang, di mana pada 1997 Sanggar Reret mempekerjakan sekira 50 karyawan. "Namun pekerja kita sekarang 25-an," tambahnya.

Tidak tanggung tanggung, hasil kerajinan yang dirintis bapaknya, Uus beserta keluarganya ini sekarang telah melalangbuana ke luar negeri, dimana sekira 75 persen dari hasil produk dijualnya ke luar negeri. Adapun omzet penjualan hasil produk kerajinan ini mencapai Rp20 juta di setiap even yang dilakoninya. Barang yang dijual pun beragam harganya, mulai dari Rp15 ribu sampai Rp3 juta. "Kalau ada even begini seperti pameran, inacraft omzet kita bisa mencapai Rp15 juta sampai Rp20 juta, tapi enggak selalu tetap juga. Kalau enggak ada event biasanya kita juga masukin barang ke factory outlet," jelasnya

Dia juga menceritakan, ketika terjadi krisis moneter 1998 usaha kerajinan ini malah mendapatkan untung karena kebanyakan konsumen pasar mereka adalah orang orang luar negeri. Sehingga dengan adanya krisis ini malah menguntungkan karena tingginya harga dolar. "Malah bagus 1998, kebanyakan beli orang luar," katanya.

Walaupun demikian dia mengaku untuk penjualan ke luar negeri ini, Indonesia masih kalah jauh dengan Thailand, padahal menurut Uus barang hasil kerajinan Indonesia jauh lebih bagus dibandingkan barang asal Thailand.

Uus menjelaskan, kekalahan Indonesia dalam merambah pasar internasional ini adalah susahnya izin untuk berdagang atau ekspor keluar negeri, sehingga Indonesia kalah bersaing dengan Thailand. "Untuk ekspor keluar negeri barang kita 75 persen kita ekspor, tapi kita hanya jual ke eksportir aja, dan dalam ekspor kita juga masih kalah dengan Thailand, perizinan susah ke luar, makanya ini adalah salah satu faktor susahnya bersaing ke luar," pungkasnya.
Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/10616-sukses-kelola-bisnis-keluarga-sampai-ke-luar-negeri.html

No comments:

Post a Comment