Wednesday, August 8, 2012

SENTRA PERALATAN KUE PASAR JATINEGARA, JAKARTA TIMUR

SENTRA PERALATAN KUE PASAR JATINEGARA, JAKARTA TIMUR

Sentra peralatan kue: Omzet pedagang melonjak (1)

Sentra peralatan kue: Omzet pedagang melonjak (1

Setiap menjelang Lebaran dan hari-hari besar lainnya, para ibu rumah tangga pasti akan disibukkan dengan aktivitas membuat kue. Aktivitas itu tentu memerlukan peralatan yang tidak sedikit.

Nah, bila peralatan kue di rumah masih kurang, Anda bisa mengunjungi Pasar Jatinegara, Jakarta Timur. Di pasar ini terdapat sentra khusus yang menjual peralatan kue yang cukup lengkap.

Lapak peralatan kue ini sudah ada sejak tahun 1980-an. Seiring berjalannya waktu, pedagang peralatan kue di pasar ini pun semakin banyak. Hingga kini, tercatat ada 20 lapak pedagang, baik di dalam pasar maupun di luar pasar.

Peralatan kue yang mereka jual sangat beragam. Di antaranya ada loyang kue dengan aneka bentuk dan ukuran, cetakan, sendok aduk, panci, dan oven untuk memanggang kue.

Untuk menemukan sentra peralatan kue ini tak sulit. Anda cukup datang ke Pasar Jatinegara yang bisa diakses dari Kampung Melayu ataupun dari Matraman.

Para padagang kebanyakan menempati areal basement dan sebagian lagi menghuni lapak di luar pasar. Khusus untuk pedagang yang menghuni basement, lapak dagangannya menyatu dengan tempat penjualan bahan kue, bumbu masak, dan makanan ringan.

Selain itu, ada juga beberapa kios yang menjual kue kering. KONTAN sempat menyambangi sentra ini pada Selasa lalu (31/7).

Saat itu, suasana pasar memang tidak terlalu ramai. Hanya nampak satu dua orang saja yang berbelanja dan memilih produk yang mereka incar. Sementara pedagang lain hanya terlihat berdiri sembari memandangi pengunjung pasar yang datang silih berganti.

Desmawati, pemilik Toko Ibu Eddy di Pasar Jatinegara, mengaku, telah berjualan peralatan membuat kue sejak tahun 1993. Peralatan kue yang dijualnya cukup lengkap, seperti aneka cetakan kue, aneka model loyang, mixer, dan oven pemanggang.

Aneka produk itu dibanderol mulai Rp 2.000 hingga Rp 400.000 per buah. Ia mengaku, pelanggannya banyak dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, seperti Bekasi, Pondok Gede, dan Klender.

Bahkan, banyak juga para pedagang yang mengambil produk darinya untuk dijual kembali. "Kami juga menerima custom (pesanan) tapi dengan harga jual yang lebih tinggi," ujarnya.

Pada hari biasa, ia meraup omzet Rp 500.000 per hari. Sementara di bulan puasa ini omzetnya naik hingga Rp 2 juta-Rp 3 juta per hari. "Nanti 10 hari menjelang Lebaran lebih ramai lagi," ujarnya.

Pedagang lainnya adalah Juju yang sudah 12 tahun berjualan peralatan kue di Pasar Jatinegara. Produk yang ia jual hampir sama dengan pedagang lainnya, yakni cetakan, loyang, dan produk lainnya.

Juju mengaku, omzetnya pada bulan biasa hanya sekitar Rp 500.000-Rp 1 juta per hari. Namun, di bulan puasa ini, ia bisa meraih omzet Rp 2,5 juta per hari. "Labanya hanya sekitar 15%-20%," ujarnya.

Sentra peralatan kue: Musim panen pun tiba (2)

Sentra peralatan kue: Musim panen pun tiba (2)
Bulan puasa dan Lebaran merupakan musim panen bagi pedagang peralatan kue di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur. Pasalnya, di masa itu, penjualan peralatan kue selalu melonjak dibandingkan bulan biasa. Untuk mengantisipasi tingginya permintaan, mereka kerap menyetok peralatan kue dalam jumlah banyak.

Bulan Ramadan dan Lebaran selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu para pedagang peralatan kue di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur. Pasalnya, penjualan peralatan kue menjelang Ramadan dan Lebaran selalu melonjak dari bulan biasa.

Biasanya, lonjakan penjualan mulai terjadi dua bulan menjelang puasa dan sepuluh hari menjelang Lebaran.

Desmawati, pemilik Toko Pak Eddy mengaku, setiap mendekati bulan puasa selalu memenuhi kiosnya dengan stok peralatan kue yang lebih lengkap. Peralatan kue itu, ia dapatkan dari perajin di daerah Bogor, Bandung, dan Citereup.

Ia mengaku, cara tersebut cukup berhasil menggenjot penjualan kiosnya. "Kami tidak teriak-teriak memanggil pelanggan, tapi cukup memajang produk sehingga pengunjung tertarik membeli," ujarnya.

Di luar bulan puasa, Desmawati mengaku, penjualan peralatan kue tetap tinggi. Biasanya, permintaan lumayan tinggi di awal bulan. "Selalu ramai pas tanggal muda," katanya.

Selama ini, pelanggan Desmawati kebanyakan pembeli grosir yang akan menjual kembali produk peralatan kue itu di tempat lain. Pembeli grosir itu menjadi langganan tetapnya dan rutin berbelanja.

Selain pembeli grosir, ia juga tetap melayani pembeli eceran yang biasanya end user. "Mereka tetap berkontribusi terutama pada saat-saat sepi," jelasnya.

Untuk pelanggan ritel, kebanyakan berasal dari daerah Jabodetabek. Sementara pelanggan grosir dari berbagai daerah. "Saya sering mengirim ke daerah, seperti Pekanbaru, Jambi, Padang," ujarnya.

Romana, pedagang lain yang sudah berjualan lebih dari 10 tahun mengatakan, peralatan kue bukan produk musiman. Makanya, kata dia, prospek peralatan kue ini cukup bagus karena permintaannya selalu ada. "Kalau pasang surut itu wajar dan semua usaha mengalaminya," kata lelaki 45 tahun ini.

Beda dengan Desmawati, kebanyakan pelanggan kios Romana merupakan pembeli eceran atau end user. Tapi, ada pula pembeli grosir dari daerah-daerah. Makanya, ia juga sering diminta mengirim peralatan kue ke daerah. "Beberapa kejadian seperti itu sering terjadi," katanya.

Bila kebanyakan pedagang mendapat pasokan barang dari para perajin di Bogor dan Citereup, Romana mengaku sebagian besar barang dagangannya didapat dari kawasan Jembatan Lima, Jakarta Barat. "Saya berbelanja sendiri ke sana," ujarnya.

Peralatan kue itu dibelinya dari para pedagang juga. Ia memilih cara ini karena pasokan barangnya dijamin lancar. Beda bila pasokan langsung dari perajin yang kerap terlambat datang. "Bisa sampai tiga hari baru datang," ujarnya.

Dari bisnis ini, Romana mengaku bisa memperoleh omzet antara Rp 300.000-Rp 500.000 per hari. Namun, mendekati puasa dan Lebaran, omzetnya bisa melonjak hingga dua kali dari omzet di hari biasa.

Sentra pelatan kue: Pembeli tak kapok (3)

Sentra pelatan kue: Pembeli tak kapok (3)
Sentra peralatan kue di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur terbilang lengkap. Hampir semua peralatan kue dijual di pasar ini. Namun, sentra ini terbilang kurang nyaman untuk berbelanja.

Maklum, Pasar Jatinegara tempat sentra ini bernaung terkesan jorok dan kotor. Di pasar ini, konsentrasi pedagang peralatan kue terpecah dua. Sebagian ada yang membuka lapak di luar gedung pasar, dan sebagian lagi menempati bagian basement pasar.

Kedua lokasi itu sama-sama kurang nyamannya. Selain kurang bersih, kondisi pasar juga becek dan bau amis. Sementara di basement tak kalah semrawut.

Selain pengap, aroma udara di basement ini juga cukup mengganggu penciuman. Sebab, di lantai ini banyak pedagang bumbu masak, bahan kimia kue, dan lain sebagainya.

Suasana kian semrawut karena beberapa pedagang peralatan kue sering menumpuk barang dagangan di luar lapak. Hal itu terpaksa mereka lakukan karena lapak dagangan yang sempit. Akibatnya, ruang gerak pengunjung di areal basement ini menjadi sangat terbatas.

Para pedagang sendiri mengakui kondisi pasar yang kurang nyaman buat berbelanja itu. "Mungkin yang tak biasa memang akan risih melihat suasana di basement Pasar Jatinegara ini," kata Desmawati, pemilik Toko Pak Eddy.

Kendati kurang nyaman buat berbelanja, para pedagang tidak khawatir pengunjung pasar ini bakal menyusut. Pedagang lain, Romana menilai, kondisi Pasar Jatinegara dengan segala kelebihan dan kekurangannya tetap menjadi tempat favorit warga Jakarta dan sekitarnya untuk berbelanja. "Yang penting pedagang bisa menjaga kepuasan pelanggan, maka kekurangan itu bisa tertutupi," katanya.

Pedagang lain seperti Juju juga mengaku tidak resah. Menurutnya, segala ketidaknyamanan itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Makanya, banyak pelanggan memaklumi dan tidak mempersoalkannya lagi. "Jadi pelanggan sudah tahu semua kondisinya seperti itu," ujarnya.

Makanya, kata Juju, sehari-hari pasar ini tetap ramai dikunjungi pembeli. Sentra peralatan kue di pasar ini juga selalu ramai diserbu oleh pembeli.

Soalnya, selain lumayan lengkap, harga peralatan kue di pasar ini juga bervariasi. Dengan begitu, pembeli bisa mencari perbandingan harga dari satu pedagang ke pedagang lain.

Desmawati, misalnya, memasang harga lebih tinggi dari para kompetitor dia. Menurutnya, harga itu sepadan dengan kualitas produknya yang diklaim sebagai salah satu yang terbaik di sini. "Kalau pelanggan tahu tentang kualitas produk kami, mereka memaklumi harganya," jelasnya.

Perbedaan harga ini berkisar antara Rp 1.000-Rp 2.000 per pieces untuk produk kecil. Sementara untuk produk besar seperti loyang dan oven, perbedaan harganya bisa mencapai puluhan ribu rupiah.

Menurut Juju, setiap pedagang mendapat pasokan barang dari produsen yang berbeda-beda. Harga yang diberikan produsen sangat menentukan harga jual ke konsumen akhir. "Biasanya kalau harga dari produsen naik, maka kami pun menaikkan harga tapi tidak besar dan berusaha menekan margin," ujarnya.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-peralatan-kue-omzet-pedagang-melonjak-1/2012/08/03
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-peralatan-kue-musim-panen-pun-tiba-2/2012/08/05
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-pelatan-kue-pembeli-tak-kapok-3

4 comments:

  1. Menyediakan souvenir pernikahan melayani pengiriman seluruh wilayah indonesia

    souvenir pernikahan jatinegara

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Selamat siang pak Junedi Arif, saya ada kebutuhan loyang utk didistribusikan ke pabrik sebanyak 100 pcs dgn ukuran P58 x L52 x T6 bahan stainless alumunium, bisa kasih penawaran harga pak? Terimakasih.

      Delete