Tuesday, August 14, 2012

PELUANG BISNIS STOPLES

PELUANG BISNIS STOPLES

Tri pernah menjadi kuli dan tukang sapu (1)

Pernah menjadi kuli dan tukang sapu, Tri Sumono kini pengusaha sukses dengan omzet ratusan juta. Ia mengawali langkahnya di dunia usaha dengan menjadi pedagang aksesori kaki lima. Ulet dan tekun membuat usahanya terus berkembang.
Pepatah lama yang menyatakan "hidup seperti roda berputar" nampaknya berlaku bagi Tri Sumono. Berawal dari menjadi kuli bangunan hingga tukang sapu, Tri kini sukses menjadi pengusaha beromzet ratusan juta rupiah per bulan.
Lewat perusahaan, CV 3 Jaya, Tri Sumono mengelola banyak cabang usaha. Antara lain, produksi kopi jahe sachet merek Hootri, toko sembako, peternakan burung, serta pertanian padi dan jahe. Bisnis lainnya, penyediaan jasa pengadaan alat tulis kantor (ATK) ke berbagai perusahaan, serta menjadi franchise produk Ice Cream Campina. "Saya juga aktif jual beli properti," katanya.
Dari berbagai lini usahanya itu, ia bisa meraup omzet hingga Rp 500 juta per bulan. Pria kelahiran Gunungkidul, 7 Mei 1973 ini mengaku, tak pernah berpikir hidupnya bakal enak seperti sekarang.
Terlebih ketika ia mengenang masa-masa awal kedatangannya ke Jakarta. Mulai merantau ke Jakarta pada 1993, pria yang hanya lulusan sekolah menengah atas (SMA) ini sama sekali tidak memiliki keahlian.
Ia nekat mengadu nasib ke Ibukota dengan hanya membawa tas berisi kaos dan ijazah SMA. Untuk bertahan hidup di Jakarta, ia pun tidak memilih-milih pekerjaan.
Bahkan, pertama bekerja di Jakarta, Tri menjadi buruh bangunan di Ciledug, Jakarta Selatan. Namun, pekerjaan kasar itu tak lama dijalaninya.
Tak lama menjadi kuli bangunan, Tri mendapat tawaran menjadi tukang sapu di Kantor Kompas Gramedia di Palmerah, Jakarta Barat.
Tanpa pikir panjang tawaran itu langsung diambilnya. "Pekerjaan sebagai tukang sapu lebih mudah ketimbang jadi buruh bangunan," jelasnya.
Lantaran kinerja memuaskan, karirnya pun naik dari tukang sapu menjadi office boy. Dari situ, karirnya kembali menanjak menjadi tenaga pemasar dan juga penanggung jawab gudang.
Pada tahun 1995, ia mencoba mencari tambahan pendapatan dengan berjualan aksesoris di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Saat itu, Tri sudah berkeluarga dengan dua orang anak. "Saya dagang aksesori seperti jepit rambut, kalung dan gelang dengan modal Rp 100.000," jelasnya.
Setiap Sabtu-Minggu, Tri rutin menggelar lapak di Stadion Gelora Bung Karno. Dua tahun berjualan, modal dagangannya mulai terkumpul lumayan banyak.
Dari sanalah, ia kemudian berpikir bahwa berdagang ternyata lebih menjanjikan ketimbang menjadi karyawan dengan gaji pas-pasan. Makanya, di tahun 1997, ia memutuskan mundur dari pekerjaannya dan fokus berjualan.
Berbekal uang hasil jualan selama dua tahun di Gelora Bung Karno, Tri berhasil membeli sebuah kios di Mal Graha Cijantung. "Setelah pindah ke Cijantung, bisnis aksesori ini meningkat tajam," ujarnya.
Tahun 1999, ada seseorang yang menawar kios beserta usahanya dengan harga mahal. Mendapat tawaran menarik, Tri kemudian menjual kiosnya itu. Dari hasil penjualan kios ditambah tabungan selama ia berdagang, ia kemudian membeli sebuah rumah di Pondok Ungu, Bekasi Utara. Di tempat baru inilah, perjalanan bisnis Tri dimulai.

Naluri bisnis Tri Sumono terasah dari aksesori (2)

Sukses di kopi, Tri merambah minuman kesehatan (3)

Sukses di kopi, Tri merambah minuman kesehatan (3)

Sejak sukses menekuni usaha pembuatan sari kelapa, perjalanan bisnis Tri Sumono terus berkembang dan maju. Tak lama menekuni bisnis sari kelapa, ia kembali menjajaki peluang bisnis baru.

Kali ini, peluang bisnis itu datang dari salah satu perusahaan yang menjadi konsumen sari kelapanya. Perusahaan itu menawarinya proyek pengemasan. "Saya diminta mengerjakan pembuatan 3 juta saset produk minuman susu," ujar Tri.

Tanpa pikir panjang, ia pun menyanggupinya. Supaya bisa fokus menggarap proyek ini, bisnis pembuatan sari kelapanya terpaksa dihentikan. "Selain tenaga terbatas, produksi sari kelapa masih seminggu sekali sehingga tidak efisien," jelasnya.

Selama dua tahun, Tri menggarap proyek senilai Rp 2 miliar itu. Saat awal mengerjakan proyek, ia langsung mendapat bayaran separuh dari total nilai proyek atau Rp 1 miliar.

Uang itu dipakainya buat mendirikan perusahaan pengemasan. Selain buat mengurus legalitas perusahaan, sebagian juga dipakai buat menyiapkan peralatan.

Setelah kontrak kerja sama berakhir pada 2009, Tri kembali merambah bisnis baru. Kali ini ia menekuni usaha pembuatan kopi jahe merek Hootri.

Dengan memanfaatkan peralatan pengemasan yang sudah dimilikinya, produksi kopi ini bisa bertahan hingga saat ini. "Sejak mendapat proyek pengemasan saya sudah berpikir untuk berbisnis minuman saset seperti ini," ujarnya

Saat ini, produksi kopi saset-nya mencapai 1.000 karton per bulan. Kopi tersebut dibanderol Rp 75.000 per karton yang berisi 120 saset.

Produk kopinya itu dipasarkan ke wilayah Sumatra dan Kalimantan. Ia sengaja menghindari pasar Jabodetabek dan Pulau Jawa karena tingkat persaingannya sudah sangat ketat. "Sementara kompetitornya banyak perusahaan raksasa yang sudah terkenal," ujarnya. Sampai saat ini, Tri masih terlibat langsung dalam semua aktivitas produksi kopi jahe saset ini. Ia tak ingin hanya duduk dan menanti laporan.

Hal serupa juga dilakukan terhadap lini bisnisnya yang lain, seperti usaha toko sembakonya. Konsep manajemen seperti ini bukan berarti ia tak percaya kepada karyawannya.

"Tapi justru saya ingin memberi contoh dan semangat kepada karyawan untuk bekerja maksimal," ujarnya.

Tri berharap, kelak produk kopinya bisa semakin dikenal. Untuk itu, ia tak berhenti melakukan inovasi. "Setelah Lebaran kami akan merilis kopi hitam dan kopi susu," jelasnya.

Selain itu, ia juga berencana memproduksi minuman kesehatan beras merah. Setiap saset minuman ini setara dengan sepiring nasi merah.

No comments:

Post a Comment