Wednesday, December 14, 2011

SENTRA KECAP MAJALENGKA, JAWA BARAT




Peluang Usaha


Senin, 12 Desember 2011 | 14:42  oleh Hafid Fuad
SENTRA KECAP MAJALENGKA, JAWA BARAT
Sentra kecap Majalengka: Mengecap hasil kecap sejak zaman Belanda (1)
Bagi Anda penggemar kecap, tidak ada salahnya berkunjung ke Majalengka. Di sana terdapat puluhan industri skala kecil dan menengah yang memproduksi kecap dengan cara tradisional. Selain gurih, kecap dari Majalengka tidak menggunakan bahan pengawet.

Kabupaten Majalengka di Jawa Barat tak hanya menghasilkan kerajinan, perkebunan atau perikanan saja. Majalengka juga memiliki potensi industri, yaitu industri kecap.

Di kota yang terletak di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah ini terdapat puluhan produsen kecap skala kecil dan menengah. Para pengusaha kecap ini tersebar di dua kecamatan, yakni di pusat kota, tepatnya di Kecamatan Majalengka dan di Kecamatan Kadipaten yang tak jauh dari pusat kota.

Kalau kita telusuri ke belakang, industri kecap di Majalengka punya sejarah panjang. Industri penyedap makanan berwarna hitam itu sudah muncul pada 1940-an, saat negeri ini masih dijajah Belanda.

Nah, jejak sejarah itu masih tersisa di pabrik kecap Maja Menjangan. "Kecap kami adalah generasi pertama di Majalengka," kata Rini, pengelola Kecap Meja Menjangan.

Selain Kecap Meja Menjangan, ada 36 industri kecap lainnya di Majalengka. Tapi dari seluruh industri itu hanya 10 industri saja yang tersohor hingga ke luar daerah. "Mayoritas industri kecap di sini dikelola secara rumahan," terang Rini.

Rata-rata setiap industri kecap itu mempekerjakan tiga sampai 15 karyawan. Dari tangan mereka inilah mengalir kecap Majalengka yang terkenal gurih dan tahan lama meski tanpa bahan pengawet.

Kecap yang diproduksi di Majalengka rata-rata dijual dalam tiga bentuk kemasan. Yang pertama, kemasan botol plastik berisi 140 mililiter (ml), kedua, kemasan botol kaca berisi 275 ml, dan ketiga kemasan botol kaca ukuran 575 ml.

Soal harga jual kecap, tiap produsen mematok harga berbeda. Namun rata-rata kemasan 140 ml dijual seharga Rp 3.000 - Rp 3.500 per botol. Untuk kemasan 275 ml dijual Rp 5.000-Rp 6.000 per botol. Sedangkan kemasan 575 ml dijual Rp 10.000- Rp 12.000 per botol.

Sebagian produsen kecap ada yang berinisiatif menjual kecap dalam kemasan plastik kecil yang dijual Rp 500 per kemasan. Namun, "Kemasan yang terlaris adalah kemasan botol 275 ml untuk pedagang kelontong dan rumah tangga," kata Rini yang memiliki omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.

Selain menjual di daerah Majalengka, Rini melayani permintaan kecap dari Cirebon, Kuningan, dan Bandung. Tapi permintaan luar daerah itu masih dalam jumlah terbatas.

Untuk memproduksi kecap, produsen Majalengka membutuhkan waktu produksi setidaknya satu bulan. Selama 14 hari waktu untuk merendam kedelai, sisa waktu lainnya untuk meracik kedelai dengan bahan baku lainnya seperti gula aren dan garam.

Proses merendam kedelai butuh waktu lama agar air meresap sempurna ke dalam kedelai. "Banyak produsen yang tidak sabar sehingga kecapnya kurang gurih," kata Muhammad Kandi, pemilik merek Kecap Ayam Panggang.

Sama dengan Rini, Kandi juga memproduksi kecap dengan kemasan botol plastik dan botol kaca. Namun sejak memulai usaha sejak 1982, Kandi hanya menjual produk kecapnya di Majalengka saja.
Selasa, 13 Desember 2011 | 16:27  oleh Hafid Fuad
SENTRA KECAP MAJALENGKA, JAWA BARAT
Sentra kecap Majalengka: Jaga racikan tradisi demi menjaga pasar (2)
Untuk menjaga citarasa, produsen kecap di Kabupaten Majalengka mempertahankan pemakaian alat masak tradisional, seperti memasak dengan kayu bakar. Selain itu, peracikan bahan baku dilakukan sesuai dengan takaran yang telah ditentukan pendahulu mereka.

Untuk memproduksi kecap, produsen kecap di Kabupaten Majalengka senantiasa mempertahankan cara produksi tradisional. Walaupun kapasitas produksi tradisional terbatas, tapi mereka mempertahankannya demi menjaga cita rasa.

Saat KONTAN bertandang ke dapur pembuatan kecap itu, memang tak terlihat peralatan modern seperti kompor gas. Di rumah produksi kecap milik Muhammad Kardi, misalnya. Di sana yang nampak justru tungku kayu bakar tempat merebus kedelai. "Rata-rata produsen kecap di sini memakai alat tradisional," terang Kardi.

Menurut Kardi, merebus kedelai dengan kayu bakar membuat rasa kecap lebih gurih. Itulah sebabnya, Kardi enggan memakai kompor gas atau kompor minyak tanah.

Selain cara memasak tradisional, berbagai perlengkapan di pabrik kecap itu juga masih tradisional. Lihat saja, ember wadah kedelai yang masih terbuat kayu. Ember kayu itu berguna untuk merendam kedelai saat difermentasi selama 14 hari.

Taufiqurohman atau Oman, pegawai pabrik kecap Maja Menjangan bilang, proses fermentasi kedelai dengan cara merendam itulah yang membedakan produksi kecap mereka dengan pabrik kecap skala besar.

Mengenai racikan kecap itu, Oman mengaku berpedoman pada takaran yang sudah ditentukan pendahulu mereka. "Catatan takaran komposisi bahan baku dari pendahulu masih saya simpan dan saya pakai," terang Oman.

Bahan baku untuk membuat kecap terdiri dari kedelai hitam, gula aren, garam kasar, air, dan tepung terigu. Semua bahan baku itu asli dari dalam negeri, kecuali tepung terigu.

Untuk kedelai hitam, industri kecap di Majalengka mendatangkannya dari Brebes, Jawa Tengah. Mereka membeli kedelai hitam saat panen tiba di bulan Juni-Juli dengan harga Rp 6.000 per kilogram (kg). "Kalau membeli di luar waktu panen harganya bisa Rp 8.000 per kg," ujar Oman. Biasanya, di musim panen, para produsen langsung membeli berton-ton kedelai hitam.

Adapun gula aren didatangkan dari Banjarnegara, Tasikmalaya, dan Garut. Oman biasanya membeli gula aren dalam jumlah banyak karena pasokannya terkadang tidak menentu.

Pasokan yang tidak stabil itu mempengaruhi harga gula aren yang cenderung naik. Belakangan ini harga gula aren mencapai Rp 10.000 per kg, naik dari harga tahun lalu yang cuma Rp 6.000 per kg.

Selain gula aren, produsen kecap Majalengka juga membeli garam kasar yang harganya juga naik, terutama saat musim hujan. Belakangan ini harga garam kasar naik dari Rp 400 per kg menjadi Rp 1.600 per kg. "Harga tergantung cuaca," jelasnya.

Untuk membuat kecap, pertama kali yang dilakukan adalah merebus kedelai kemudian menjemurnya hingga kering. Setelah itu kedelai direndam 10 - 14 hari kemudian dijemur lagi. "Usai penjemuran kedua, kedelai direndam lagi dengan air garam," terang Oman.

Setelah direndam dengan air garam, kedelai itu direbus lagi kemudian disimpan selama sepekan. Selanjutnya baru masuk tahap peracikan dengan gula aren dan tepung terigu. "Campuran diaduk sampai kental. Setelah mengental baru bisa masuk botol," kata Oman.


Rabu, 14 Desember 2011 | 15:46  oleh Hafid Fuad
SENTRA KECAP MAJALENGKA, JAWA BARAT
Sentra kecap Majalengka: Manis kejayaan kecap mulai terasa hambar (3)
Kecap Majalengka pernah menjadi tuan rumah di daerah sendiri pada 1970 hingga 1980-an. Tapi kini kecap Majalengka kalah bersaing dengan produsen kecap raksasa. Beruntung, belakangan ini, industri kecap Majalengka jadi salah satu daerah kunjungan wisata.

Pembuat kecap di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mayoritas adalah pengusaha skala kecil dan menengah. Kapasitas produksi mereka terbatas untuk pasar kecap di Majalengka, pemasaran paling jauh di kabupaten tetangga.

Sementara untuk pasar kota besar seperti: Jakarta, Semarang dan Surabaya, produsen kecap dari Majalengka tak bisa menyentuhnya. Maklum, pasar kecap di kota besar itu diambil oleh produsen kecap raksasa.

Keinginan produsen kecap Majalengka menjual kecap ke kota besar sebenarnya ada, tapi kapasitas produksi mereka tidak mencukupi. Apalagi mereka juga tidak memiliki jalur distribusi yang berjangkauan luas. "Kami bisa produksi jika stok yang ada sudah terjual dulu," kata Muhammad Kardi, pemilik kecap Ayam Panggang.

Karena tidak bisa bersaing di daerah lain, puluhan industri kecap di Majalengka terpaksa bersaing memperebutkan pasar di daerah sendiri. Padahal pasar itu kian mengecil, sebab kecap bermerek juga sudah merangsek hingga ke kampung-kampung. "Kami kalah bersaing dengan kecap bermerek itu," keluh Kardi.

Kondisi pasar kecap di Majalengka itu sangat berbeda dengan kondisi pasar pada 1970 sampai 1980-an lalu. Kala itu, kecap Majalengka menjadi tuan rumah di daerah sendiri. .

Oman, pegawai bagian produksi kecap Maja Menjangan bilang, pernah kewalahan melayani pesanan walaupun sudah mempekerjakan 50 karyawan. Tapi kini karyawan perusahaan yang berdiri tahun 1940 itu tinggal 10 orang saja. "Dulu kami harus bekerja dua sift, siang malam," kenang Oman.

Berbagai upaya sudah dilakukan Oman supaya pasar kecapnya kembali jaya. Salah satunya dengan mengurangi harga jual sampai 20%. Tapi upaya itu tak banyak mendatangkan hasil. "Kami sekarang mengandalkan pelanggan setia saja," jelas Oman.

Walaupun kondisi pasar kecap di Majalengka kian mengecil, tapi Oman atau Kardi sama-sama ingin tetap mempertahankan usaha itu. Mereka paham, ada banyak masalah harus selesaikan selain berhadapan dengan produsen kecap raksasa.

Salah satu masalah itu adalah terbatasnya pasokan bahan baku. Khususnya pasokan bahan baku kacang kedelai hitam dan gula aren. Pasokan dari dua bahan baku itu sangat bergantung dengan kondisi cuaca.

Selain itu, harga bahan baku itu terus menanjak naik. Padahal para pengusaha kecap tradisional itu juga tidak mungkin bisa menaikkan harga jual kecap.

Masalah lain yang paling sulit diatasi adalah soal datangnya musim hujan yang tak menentu. Sementara produksi kecap Majalengka bergantung pada sinar matahari untuk mengeringkan kedelai yang akan diolah menjadi kecap. "Jika cuaca buruk seperti mendung saja, produksi kecap kami bisa terganggu," jelas Oman.

Namun begitu Oman atau Kardi belakangan ini agak terhibur. Belakangan ini banyak wisatawan mampir ke tempat pembuatan kecap milik mereka untuk menyaksikan proses pembuatan kecap secara tradisional.

Para wisatawan itu, selain menikmati proses pembuatan kecap, mereka kerap membeli kecap untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. "Pejabat pemerintah juga sering memesan untuk oleh-oleh," tambah Oman.
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1323675727/84999/Sentra-kecap-Majalengka-Mengecap-hasil-kecap-sejak-zaman-Belanda-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1323768455/85106/Sentra-kecap-Majalengka-Jaga-racikan-tradisi-demi-menjaga-pasar-2-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/85218/Sentra-kecap-Majalengka-Manis-kejayaan-kecap-mulai-terasa-hambar-3-

1 comment:

  1. Apabila Anda mempunyai kesulitan dalam pemakaian / penggunaan chemical , atau yang berhubungan dengan chemical, jangan sungkan untuk menghubungi, kami akan memberikan konsultasi kepada Anda mengenai masalah yang berhubungan dengan chemical.

    Salam,

    (Tommy.k)

    WA:081310849918
    Email: Tommy.transcal@gmail.com

    Management

    OUR SERVICE
    Boiler Chemical Cleaning
    Cooling tower Chemical Cleaning
    Chiller Chemical Cleaning
    AHU, Condensor Chemical Cleaning
    Chemical Maintenance
    Waste Water Treatment Plant Industrial & Domestic (WTP/WWTP/STP)
    Degreaser & Floor Cleaner Plant
    Oli industri

    ReplyDelete