Thursday, September 6, 2012

SENTRA BATU ALAM PULOMAS, JAKARTA TIMUR


Sentra Batu Alam: Berburu batu alam di Pulomas (1)

Sentra Batu Alam: Berburu batu alam di Pulomas (1)

Batu alam merupakan salah satu material penting dalam membangun rumah. Sebagai material bangunan, batu alam dapat digunakan untuk pelapis pada dinding pagar maupun tembok rumah. Dengan batu alam, tampilan rumah akan terlihat lebih cantik dan menarik. Mendapatkan batu alam tidak terlalu sulit. Di Jakarta, Anda bisa berburu batu alam langsung ke sentranya di Pulomas, Jakarta Timur.
Lokasi persisnya berada di Jalan Ahmad Yani by pass arah Cempaka Putih menuju Rawamangun. Di sepanjang ruas jalan ini, terdapat lebih dari 35 kios batu alam. Mengakses sentra batu alam ini tidak terlalu sulit. Deretan kios sudah bisa ditemukan mulai gerbang tol Cempaka Putih hingga pertigaan lampu merah Pulomas-Rawasari.
Sentra batu alam ini, konon, sudah mulai terbentuk sejak 1980-an. Namun, saat itu, jumlah kiosnya belum sebanyak sekarang. Sebagai sentra batu alam, kawasan ini mulai ramai sejak tahun 2004. Sebagian besar pedagang merupakan pindahan dari kawasan Cempaka Putih. Sekitar delapan tahun silam mereka terkena gusuran. "Mereka pindah ke mari dan jumlahnya kian banyak," ucap Dwi Witono, pengelola kios Sanggar Karya Mandiri.
Pria yang akrab disapa Tono ini mengklaim, kawasan tempatnya berjualan merupakan tempat ideal berburu batu alam. "Pilihannya banyak," kata Tono. Ia sendiri fokus berjualan batu paras Jogja dengan berbagai ukiran di dalamnya. Dengan harga jual Rp 750.000 per meter, omzetnya lebih dari Rp 15 juta sebulan.
Saat KONTAN menyambangi sentra ini memang banyak sekali jenis batu alam yang dijual para pedagang. Di antaranya ada batu andesit, koral, kali, dan candi alur. Selain batu, beberapa kios juga menjual patung batu dengan berbagai karakter, mulai hewan hingga manusia. Patung batu ini, umumnya, terdapat di kios-kios besar. Salah satunya kios Arsitektur Batu Alam Indah.
Herman, pengelola kios itu mengakui, kios yang dikelolanya sejak 10 tahun terakhir ini memang termasuk salah satu yang terbesar di sentra ini.
Di kiosnya, Herman mengaku menyediakan semua kebutuhan yang diinginkan pelanggan menyangkut batu alam. Ia bilang, batu alur candi merupakan jenis batu alam yang paling banyak diburu pelanggan.
Ia mengaku bisa menjual hingga 50 meter persegi batu alur candi per hari. Batu tersebut diambil langsung dari Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Harga jual batu alur candi ini bervariasi. Batu dengan motif garis ia lepas dengan harga Rp 125.000 per meter. Sedangkan yang polos Rp 95.000 per meter. "Harga cukup terjangkau dari tempat lain," klaim Herman.
Selain batu alur candi, batu koral juga banyak peminatnya. Batu ini dibanderol Rp 50.000 per karung. Namun, batu kali kurang begitu laku. "Paling laku seminggu dua kali," ujarnya. Harga batu kali ini mulai Rp 20.000-Rp 400.000 per buah, tergantung ukuran. Sebulan, kios Herman bisa meraup omzet Rp 50 juta.

Sentra Batu Alam: Banyak order dari kontraktor (2)

Sentra Batu Alam: Banyak order dari kontraktor (2)

Diramaikan lebih dari 35 kios, sentra batu alam di Pulomas, Jakarta Timur menyediakan banyak sekali pilihan batu alam dari berbagai jenis. Diantaranya ada batu andesit, koral, kali, candi alur, dan banyak lagi.
Herman, pengelola kios Arsitektur Batu Alam Indah di kawasan ini mengaku, pelanggan mereka bukan hanya perorangan saja. "Tapi, banyak juga perusahaan konstruksi ataupun pengembang properti," katanya.
Konsumen tersebut berasal dari berbagai kawasan di Jabodetabek, seperti Kelapa Gading, Cibubur, dan Bekasi. Ia mengaku, seiring menggeliatnya pasar properti, kebutuhan batu alam pun terus meningkat. Kondisi ini membawa berkah bagi para penjual batu alam. "Dalam beberapa tahun terakhir intensitas pemesanan semakin sering dibanding sebelumnya," ucapnya.
Menurut Herman, permintaan batu alam ini tak pernah sepi. Bahkan, ketika kondisi perekenomian sedang krisis, permintaan batu alam tetap terus berdatangan. "Selama pembangunan masih berlangsung, permintaan batu alam akan selalu ada," jelasnya.
Lantaran pasarnya terbuka lebar, Herman mengaku tak khawatir dengan ketatnya persaingan. Menurutnya, setiap pedagang sudah memiliki pelanggan masing-masing. Makanya, persaingan tetap berjalan sehat. Bahkan, kata dia, sesama pedagang kadang saling memasok batu alam ke kios lain ketika ada yang sedang kehabisan stok. "Beberapa kali pernah terjadi seperti itu, dan itu bukti sikap toleransi selalu dipupuk oleh setiap pedagang di sini," ujarnya.
Dwi Witono, pengelola kios Sanggar Karya Mandiri mengakui, masing-masing pedagang sudah memiliki pelanggan tetap. Beda dengan Herman, konsumen kios Dwi selama ini banyak berasal dari kalangan perorangan. "Konsumen saya kebanyakan datang setiap akhir pekan," ujar pria yang akrab disapa Tono itu.
Pada hari kerja, sentra ini memang terlihat sepi pengunjung. Kondisi itu pula yang KONTAN dapati saat mengunjungi sentra ini pada Rabu lalu (29/8). Saat itu, hanya tampak beberapa pedagang sedang menunggu pembeli. Sebagian lagi ada yang membereskan tumpukan batu untuk dikemas dalam satu ikatan yang rapi. Kios yang dikelola Tono juga tampak sepi. Bersama karyawan lain, ia terlihat sedang mengerjakan ukiran batu yang merupakan pesanan dari pelanggannya.
Ia bilang, pasca Lebaran belum ada order yang masuk ke kiosnya. "Mungkin bulan depan baru ada lagi pesanan," kata Tono. Menurut Herman, permintaan batu alam setiap habis Lebaran memang selalu sepi. Kemungkinan beberapa minggu setelah Lebaran baru kembali normal. Namun, saat Ramadan kemarin, pedagang sudah menikmati masa puncak penjualan. "Saat itu pesanan ramai karena banyak yang merenovasi rumah menyambut Lebaran," ujarnya.

Sentra batu alam: Bisa juga pesan patung (3)


Komentar
Telah dibaca sebanyak 381 kali
Sentra batu alam: Bisa juga pesan patung (3)

Sentra batu alam di kawasan Pulomas, Jakarta Timur diramaikan sekitar 35 pedagang. Selain para pedagang, sentra ini juga menjadi ladang penghidupan bagi para pemahat patung.

Umumnya, mereka bekerja berdasarkan order dan tidak terikat pada satu kios saja. Seperti yang dilakukan oleh Darius Arya Dipa, seorang pemahat patung batu yang mengaku sering mendapatkan order dari beberapa kios di sentra ini.

Darius mengaku, sudah mendapat order membuat patung sejak 20 tahun silam. "Sejak sentra ini masih sepi dan hanya ada beberapa kios," kata pria berusia 60 tahun ini.

Menurut Darius, mayoritas patung yang dipajang di beberapa kios merupakan hasil karyanya. Oleh pemilik kios, patung-patung tersebut hanya dijadikan contoh produk dan tidak dijual. Bila ada yang memesan baru dibuatkan.

Darius bilang, ia mampu membuat bermacam patung dengan berbagai karakter. Mulai dari hewan, seperti kuda, gajah, rusa, naga, dan dinosaurus, hingga patung berbentuk manusia yang tampilannya disesuaikan dengan keinginan pelanggan seperti arca. "Ukurannya pun bisa dipilih mulai kecil hingga yang sesuai dengan aslinya," tandasnya.

Menurutnya, pembuatan patung tersebut bisa memakan waktu hingga dua minggu. Bahkan, bisa lebih lama bila pelanggan menginginkan patung tersebut memiliki relief kontemporer dan menarik.

Konsumennya, kata Darius, kebanyakan perusahaan untuk dijadikan hiasan taman kantor ataupun menjadi landmark sebuah kawasan komplek perumahan.

Kebanyakan pelanggan memesan patung dari batu alur candi yang didatangkan dari berbagai daerah, seperti Cirebon, Sukabumi, hingga Flores. Harga jual patung itu bervariasi. Untuk ukuran kecil dibanderol Rp 1 juta-Rp 2, sedangkan ukuran besar mencapai Rp 15 juta.

Selain di kawasan Pulomas, ia juga kerap mendapat pesanan dari berbagai tempat tempat penjualan batu alam di kawasan Senayan dan Depok. Sistemnya kerjanya, ia bermitra dengan para pemilik kios

"Tak jarang saya juga mendapat order langsung dari pelanggannya," jelasnya.

Dalam sebulan, ia bisa mendapat order minimal empat patung dengan berbagai ukuran. Dari pekerjaannya ini, Darius mengantongi pendapatan Rp 50 juta setiap bulan.

Perajin lainnya adalah Dwi Witono. Beda dengan Darius, ia fokus membuat ukiran batu paras Jogja. Pria yang akrab disapa Tono ini juga bukan pekerja lepas seperti Darius. Keahliannya itu hanya dia manfaatkan di satu kios tempatnya bekerja, yakni kios Sanggar Karya Mandiri.

Ia mengaku, bekerja dengan sistem bagi hasil dengan pemilik kios. "Nanti laba setelah bahan baku dibagi dua," katanya.

Dari profesinya ini, Dwi mengaku bisa meraup pendapatan hingga jutaan rupiah per bulan. Lantaran menjanjikan, banyak orang berdatangan ke sentra ini untuk melamar menjadi perajin batu paras.

Herman, pengelola kios Arsitektur Batu Alam Indah mengakui peran para pemahat patung batu cukup besar dalam usaha ini.

Ia bilang, setiap kios pasti memiliki para perajin yang terlatih dan terampil membuat patung batu. "Jadi tak ada istilah harus pelatihan lagi," kata Herman. n

(Selesai)
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-batu-alam-berburu-batu-alam-di-pulomas-1/2012/09/02
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-batu-alam-banyak-order-dari-kontraktor-2/2012/09/03
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-batu-alam-bisa-juga-pesan-patung-3

No comments:

Post a Comment