Monday, September 17, 2012

Sentra pakaian Pasar Klewer

SENTRA PAKAIAN DI PASAR KLEWER SOLO, JAWA TENGAH

Sentra pakaian Pasar Klewer: Barang sama (2)

Sentra pakaian Pasar Klewer: Barang sama (2)

Sejak tahun 1970, Pasar Klewer di Solo, Jawa Tengah menjadi pusat grosir pakaian terbesar di Jawa Tengah. Aneka jenis pakaian, terutama berbahan batik dijual di pasar ini, seperti blus, kemeja, hingga kaos.
Sebagai sentra pakaian batik, pasar ini selalu ramai dikunjungi pembeli. Bahkan, banyak wisatawan asing yang menyempatkan diri singgah ke Klewer.
Selain pilihan barangnya banyak, pasar ini juga terkenal murah. Para pedagang mengaku bisa menjual murah karena mendapatkan barang dagangan langsung dari tengkulak atau tangan pertama.
Namun, risikonya, barang yang mereka jual banyak dimiliki pedagang lain. Alhasil, baik dari segi model maupun motif pakaian yang dijual di Klewer hampir semuanya seragam.
Biasanya, bila ada yang melihat satu model dengan satu motif di sebuah toko, maka Anda akan menemukan pula model dan motif serupa di toko lain.
Chusnol, salah seorang pedagang mengakui kondisi itu terkadang menyulitkan mereka. Soalnya, tanpa ada perbedaan produk, mereka kesulitan untuk bersaing. "Inilah tantangannya berdagang di Pasar Klewer," ujarnya.
Sebenarnya, pedagang bisa saja memonopoli pemasaran satu merek tertentu, sehingga tidak dimiliki oleh pedagang lain. Namun, mereka harus bersedia mengambil semua barang yang diproduksi oleh sang pemilik merek itu. "Jadi, pedagang lain tidak bisa mengambil lagi," ujar Chusnol.
Sementara produk yang dikeluarkan oleh merek tertentu jumlahnya bisa mencapai ratusan hingga ribuan. Maklumlah, mereka juga harus memproduksi massal supaya bisa menjual dengan harga agak murah.
Lantaran sulit melakukan variasi produk berbeda, pedagang menyiasatinya dengan bersaing di harga dan pelayanan. "Di pasar ini selisih Rp 500 saja pelanggan bisa kabur," ujar Chusnol. Makanya, ia selalu berusaha memuaskan pelanggannya.
Pedagang lain, Kaidar Ali, pemilik toko Batari Fashion mempunyai kiat khusus demi menonjolkan perbedaan produk yang ia jual. Yakni, dengan cara mencampur barang dagangan dari beberapa produsen. Selain dari Solo dan sekitarnya, ia juga mengambil pakaian dari Jakarta, seperti cardigan, legging, dan gamis model terbaru.
Supaya berbeda dengan toko lain, ia juga menjual aneka perhiasan. "Yang bagus-bagus dan sedang tren saya pajang, Nanti kan orang tertarik untuk melihat-lihat yang lain," ujar Kaidar.
Walaupun sama dengan yang lain, Chusnol sendiri mengaku tidak begitu khawatir bakal ditinggal pembeli. Soalnya, kebanyakan pembeli sudah maklum dengan kondisi itu.
Biar barang yang dibeli beragam, kadang mereka membeli secara berseri. "Jadi membeli satu model yang terdiri dari tiga sampai enam warna berbeda yang diambil acak," ujar Chusnol.
Chusnol menambahkan, sampai saat ini Pasar Klewer masih ramai dikunjungi para pembeli dari berbagai daerah. Kebanyakan dari mereka adalah para pedagang pakaian di daerahnya masing-masing. Biasanya, pengunjung pasar ini benar-benar membludak saat menjelang Lebaran.

Sentra pakaian Pasar Klewer: Pusat grosir (1)

Sentra pakaian Pasar Klewer: Pusat grosir (1)
Jika sedang berkunjung ke Surakarta, Jawa Tengah, rasanya kurang lengkap jika belum mampir ke Pasar Klewer. Selain di Solo dan sekitarnya, pasar ini juga sudah kesohor hingga ke berbagai daerah di Indonesia.
Pasar tradisional yang legendaris ini dikenal sebagai pusat grosir pakaian dan batik terbesar di Jawa Tengah. Sejak sebelum tahun 1960, Pasar Klewer menjadi tempat berkumpulnya ratusan pedagang.
Pasar ini memang tergolong besar dengan total luas lahan mencapai sekitar 12.000 meter persegi. Lantaran jumlah pedagang terus bertambah, sejak tahun 1970, Pemerintah Kota Solo membangun gedung permanen berlantai dua.

Sejak dibangun gedung, pasar tersebut resmi menyandang nama Klewer. Sebelumnya pasar ini dinamakan Slompretan. Kendati sudah ada gedung, saat ini masih banyak pedagang memenuhi pelataran pasar dan pinggiran jalan untuk berjualan. Kondisi ini menyebabkan kemacetan.
Saat KONTAN mengunjungi pasar tersebut, kemacetan sudah terjadi sekitar 100 meter sebelum tiba di depan area Pasar Klewer. Di sisi kanan kiri jalan terdapat banyak pedagang ditambah kendaraan yang parkir sembarangan. "Ya memang begini Pasar Klewer. Dinamakan Klewer karena barangnya kleweran (bertebaran) dan bergantungan," ujar Chusnol, pemilik Toko Pamor Khalifah yang telah menjalankan usahanya selama 10 tahun.
Meski semrawut, tetap saja banyak pengunjung datang ke pasar ini. Mereka rela berdesak-desakan lantaran harganya miring dan pilihan barangnya juga banyak. Barang di pasar ini kebanyakan dijual dengan harga grosir. Harga tersebut kadang berlaku juga bagi pembeli eceran.
Contohnya Chusnol yang menjual pakaian anak mulai Rp 10.000. Dress wanita dihargai Rp 30.000, dan kemeja mulai Rp 40.000. "Yang paling mahal pakaian bahan paris, satunya Rp 150.000," ujar Chusnol.
Selain di Solo dan Pulau Jawa, Chusnol mengaku, sering mendapat order dari konsumen di luar Jawa. Kebanyakan konsumennya ini para pedagang.
Ia pernah mengirim barang ke Kalimantan, Medan, Batam, dan yang paling banyak ke Sumatera. "Satu bulan saya bisa dua kali kirim barang ke luar kota," ujar Chusnol. Omzetnya sekitar Rp 50 juta per bulan.
Pedagang lainnya, Kaidar Ali mengaku mengantongi omzet Rp 18 juta per bulan. Ia juga menjual aneka pakaian, seperti batik, gamis, blus, dan legging. Selain pakaian, ia juga menjual aneka perhiasan imitasi, seperti kalung dan cincin yang dijual mulai Rp 35.000 hingga Rp 300.000 per unit.

Sentra pakaian Pasar Klewer: Berebut konsumen (3)

Sentra batik di Pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah, telah berdiri selama puluhan tahun. Mayoritas pedagang telah berjualan di pasar ini secara turun temurun. Selain mewarisi toko milik orangtuanya, banyak juga dari mereka yang membuka toko sendiri.
Kendati membuka toko sendiri, sebelumnya mereka telah lama membantu orangtuanya mengelola toko. Contohnya Kaidar Ali, pemilik toko Batari Fashion di Klewer. Ia mengaku, telah puluhan tahun ikut orangtuanya berjualan di pasar ini.
Baru delapan bulan yang lalu, ia memutuskan untuk membuka toko sendiri di Pasar Klewer. "Jadi, kami ini orang lama yang berdagang turun-temurun," kata Kaidar.
Menurut Kaidar, sampai saat ini, pemain baru masih bermunculan. Dan, umumnya mereka merupakan anak para pedagang yang sudah senior.
Kehadiran para pemain baru ini tentu membuat persaingan antar pedagang semakin ketat. Kaidar pun menyiasatinya dengan pintar-pintar memilih barang dagangan. "Selain pakaian, saya juga menjual aneka perhiasan," ujarnya.
Pedagang lain, Chusnol mengaku telah berjualan di Klewer selama 10 tahun. Sama halnya dengan Kaidar, sebelum membuka toko, ia juga lama membantu orangtuanya berjualan di Klewer.
Ia bilang, persaingan antar pedagang memang makin ketat dibanding awal ia berjualan. Persaingan juga terjadi antara pedagang dengan pemasok.
Soalnya, kata Chusnol, banyak pemasok sekarang datang langsung ke Klewer untuk menjajakan dagangan. "Dahulu para pemasok tidak pernah berjualan langsung di Pasar Klewer," katanya.
Kondisi ini, menurutnya, sudah berlangsung beberapa tahun terakhir. Para pemasok biasanya menggelar dagangan di Klewer setiap Senin dan Kamis.
Lokasi lapaknya berada di pelataran pasar atau di pinggiran jalan. Bagi para pedagang, kehadiran pemasok ini merupakan saingan terberat.
Pasalnya, banyak konsumen memilih belanja langsung ke pemasok. "Tentu orang lebih memilih membeli dari tangan pertama daripada dari kami yang di dalam gedung," ujar Chusnol.
Selain lokasinya di luar pasar, pemasok juga menjual barang dengan harga lebih murah dibanding pedagang. Menurut Chusnol, saat ini sudah banyak konsumen yang tahu tentang keberadaan pemasok ini, terutama konsumen dari wilayah Solo dan sekitarnya.
Akibatnya, pedagang tidak hanya kehilangan pelanggan, tapi juga kesulitan menjaring pelanggan baru. Kini, mereka pun lebih mengandalkan penjualan kepada pelanggan lama. Umumnya, mereka ini pembeli dari luar kota. "Pelanggan-pelanggan dari luar kota ini yang sekarang saya jaga," ujar Chusnol.
Untuk itu, ia menyediakan beberapa layanan yang dapat memuaskan pelanggannya. Di antaranya layanan pemesanan via telepon dan pesan singkat (short message service/SMS).
Menurutya, sudah banyak pelanggan yang memanfaatkan layanan tersebut. Lewat layanan via telepon atau SMS itu, Chusnol tinggal menyebutkan model terbaru dan segera mengirimkannya.
Kebanyakan pelanggan Chusnol berdomisili di Kalimantan, Medan, Batam, dan Jawa. Dalam sebulan, ia rutin melakukan pengiriman dua kali ke luar kota.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-pakaian-pasar-klewer-pusat-grosir-1/2012/09/13
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-pakaian-pasar-klewer-barang-sama-2/2012/09/14
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-pakaian-pasar-klewer-berebut-konsumen-3-1

No comments:

Post a Comment