Tuesday, January 17, 2012

PELUANG BISNIS DISPLAI ALAT KOSMETIK

Peluang Usaha

 
Selasa, 17 Januari 2012 | 14:41  oleh Fahriyadi
PELUANG BISNIS DISPLAI ALAT KOSMETIK
Laba menawan dari bisnis displai alat kecantikan
Sebuah produk tak cukup hanya ditaruh rak-rak penjualan alakadarnya. Produk harus dikenalkan lebih dekat kepada konsumen dengan cara menaruhnya pada sebuah displai. Salah satu jenis displai yang sekarang populer adalah displai kosmetik.

Martin, pemilik CV Gianti Jaya di Tangerang, Banten mengintip peluang tersebut dengan membuat beragam displai. Dia mengatakan, tren permintaan displai untuk keperluan memajang produk kosmetik kian meningkat, seiring banyaknya produk kecantikan yang ditawarkan.

Dia bilang, pelanggannya datang dari minimarket dan supermarket yang membutuhkan displai sebagai perangkat utama selain rak dan etalase. "Pelanggan saya dari minimarket dan supermarket di seluruh Indonesia," imbuhnya.

Martin menjelaskan, awalnya dia memproduksi displai kosmetik, namun sekarang dia membuat displai untuk keperluan lain. "Sekarang juga banyak orang membeli untuk kebutuhan peralatan kantor," ucapnya.

Dia mengatakan, selain memproduksi secara eceran, ia juga menerima pesanan customize atau sesuai dengan pesanan pelanggan. Saban bulan dia bisa menjual 1.000 beragam displai. Harganya mulai dari Rp 90.000-Rp 200.000 per displai.

Dari penjualan itu Martin mampu mendulang omzet di atas Rp 100 juta per bulan. Dari omzet tersebut, ia mengklaim bisa mengantongi margin keuntungan sekitar 30%.

Namun, saat ini Martin sedang galau lantaran produk displai asal China kian marak di pasaran dengan harga lebih murah. "Apalagi bahan baku pembuat displai bernama acrylic dalam setahun naik dua kali lipat," keluhnya.

Arifin, pemilik CV Arifiya Cipta Kreasi mengatakan, tren permintaan yang naik dibarengi pula dengan bermunculannya para produsen displai kosmetik lain. "Jadi kami harus rajin membuka pasar," ujarnya.

Strategi lain yang dilakukan Arifin adalah lebih fokus memproduksi displai kosmetik secara customize. Menurutnya, cara itu lebih efektif ketimbang memproduksi secara massal.

Agar bisa menakar pembuatan, Arifin menentukan minimum order sebanyak 50 displai dengan harga Rp 25.000-Rp 200.000 per displai. "Saya bisa jual 1.000 displai per bulan dengan omzet Rp 30 juta per bulan," ungkapnya.

Supaya penjualannya meningkat, Arifin sedang gencar melakukan promosi via internet. Ia menilai, cara pemasaran tersebut cukup efektif untuk memperoleh pelanggan. "Kami bisa menampilkan hasil produk yang pernah kami buat dan itu bisa menjadi referensi bagi calon pelanggan kami ke depannya," katanya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/laba-menawan-dari-bisnis-displai-alat-kecantikan

No comments:

Post a Comment