Saturday, October 13, 2012

Membesarkan Brand dalam Industri Kecil


Hits : 911 PDF Cetak E-mail
Jumat, 12 Oktober 2012 14:17
merek0812Industri kecil atau yang lebih dikenal dengan istilah usaha kecil menengah (UKM), dewasa ini mempunyai peranan yang sangat penting bagi kemajuan ekonomi Indonesia.

Dalam hal ini UKM tidak hanya berperan dalam menyumbang surplus produksi dalam negeri, tapi juga dapat menciptakan sebuah lapangan pekerjaan dalam skala yang cukup besar. Tetapi, sebagian besar UKM masih dihadapkan dengan banyak masalah, salah satunya dari segi pemasaran.

Sejauh ini mereka hanya terfokus pada produk, penetapan harga dan hal-hal lain yang berorientasi pada penjualan. Bagi sebagian kalangan membangun sebuah brand belumlah menjadi prioritas.

Mereka berpandangan bahwa branding sejauh ini biasanya identik dengan industri berskala besar saja. Mereka juga belum menyadari bahwa brand adalah salah satu aset penting dalam sebuah perusahaan. Banyak persepsi yang timbul bahwa branding membutuhkan biaya yang besar, oleh sebab itu pemilik UKM lebih memilih untuk mengalokasikan modalnya untuk sektor riil, seperti meningkatkan kapasitas produksi, penambahan bahan baku dan lain sebagainya.

Padahal apabila mereka melihat branding sebagai sebuah investasi, dan proses branding yang diterapkan efektif dan efisien, pada akhirnya hal tersebut akan memberikan keuntungan jangka panjang. Brand bisa dianalogikan sebagai sebuah identitas. Tanpa identitas yang kuat dan jelas, sebuah usaha tidak akan dikenal oleh target market-nya.

Di lain sisi, baik buruknya identitas sebuah brand terbentuk dari apa yang diterapkan oleh stakeholder-nya sendiri. Sebuah brand dikatakan baik apabila merek tersebut dapat membentuk ikatan emosional yang kuat dengan pelanggannya.

Selain itu, apabila persepsi akan sebuah brand tinggi, maka value yang dihasilkan pun akan berbanding lurus. Hal ini akan membantu perusahaan dalam membangun citra positif dan terkesan profesional. Di sisi lain hal tersebut juga akan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk dan jasa yang ditawarkan. Sebagai contoh, sebuah keluarga memilih untuk menggunakan hanya satu merek pasta gigi yang terus direkomendasikan dari generasi ke generasi.

Ikatan emosional yang sudah terbentuk seperti itu seringkali akan membuat pelanggan mengabaikan produk atau jasa lain yang ditawarkan di pasaran karena didasarkan oleh persepsi brand yang sudah terbentuk di benak mereka, serta brand recognition yang tinggi.

Keripik Maicih adalah salah satu contoh branding UKM yang cukup berhasil. Berbekal dengan strategi branding dan pemasaran yang kuat dan jelas, Keripik Maicih kini cukup dikenal di kalangan penggemar keripik di Indonesia pada umumnya, dan Bandung pada khususnya.

Sebuah ikatan emosional yang kuat sudah terbentuk oleh brand keripik ini dengan pelanggannya. Didukung dengan strategi branding dan pemasaran yang unik, hal ini membedakan mereka dengan para pesaingnya. Strategi pemasaran gerilya, yaitu lokasi penjualan yang selalu berpindah-pindah, membuat para pelanggannya penasaran dan selalu mencari info mengenai lokasi penjualan yang bisa ditemukan melalui akun mereka di situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.

Para pelanggannya pun rela untuk mengantre demi mendapatkan makanan ringan yang terbuat dari singkong ini. Saat ini Keripik Maicih tidak hanya menjual keripik singkong, tetapi juga menjual camilan khas Indonesia lainnya seperti sablak, basreng, dan gurilem. Sebagai kesimpulan, brand adalah sebuah aset penting walaupun untuk industri berskala kecil, di mana brand bisa menjadi diferensiasi bagi sebuah UKM dengan UKM lainnya.

Selain itu, brand juga dapat membantu sebuah UKM dapat dikenal luas dan diingat oleh konsumen, terutama apabila merek tersebut dapat berhasil membentuk sebuah ikatan emosional yang kuat dengan pelanggannya, dan memiliki persepsi positif dari segi pencitraannya. (*/Harian Seputar Indonesia)

http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/175-penjualan-dan-pemasaran/20756-membesarkan-brand-dalam-industri-kecil.html

No comments:

Post a Comment