Thursday, November 24, 2011

INSPIRASI ABDUL HARIS NOOR


Peluang Usaha


Rabu, 23 November 2011 | 13:12  oleh Ragil Nugroho
INSPIRASI ABDUL HARIS NOOR
Abdul gagal jadi manajer, sukses jadi pengusaha (1)

Meski bercita-cita ingin menjadi pegawai kantoran dan jadi manajer, Abdul Haris Noor tetap harus menerima kenyataan pahit karena di-PHK. Namun di tengah kesulitan selalu ada berkah. Begitu tidak menjadi pegawai, ia justru menemukan keuntungan dari seni kaligrafi dari kayu yang ada di sekitar rumahnya di Jepara.

Siapa yang tak kenal kota Jepara di Jawa Tengah. Dalam buku sejarah, kota ini sering disebut karena Pahlawan Nasional Raden Ajeng Kartini lahir di kota ini. Tak hanya itu, Jepara juga kondang seantero jagat karena produk seni ukir kayunya.

Kini, Jepara tak hanya terkenal sebagai gudangnya pengukir kayu untuk mebel atau bangunan rumah. Di Jepara juga bermunculan seniman-seniman kaligrafi yang memanfaatkan kayu sebagai media utama.

Nah, potensi kaligrafi inilah yang dimanfaatkan oleh Abdul Haris Noor. Pria berusia 42 tahun yang lahir dan besar di Jepara ini sukses membawa seni kaligrafi Jepara ke mancanegara.

Melalui CV Radiant Suryatama yang dia dirikan pada 2006 di Jepara, selain menjual produk kaligrafi di dalam negeri, Abdul telah mengekspor kaligrafi itu ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Uni Emirat Arab, Inggris hingga Amerika Serikat. Ia menjual produk kaligrafinya mulai harga Rp 750.000 hingga Rp 2,5 juta per unit.

Dengan mempekerjakan sekitar 20 karyawan tetap dan 25 karyawan lepas, dalam sebulan Abdul mampu memproduksi kaligrafi sebanyak 700 buah, dengan omzet hingga Rp 500 juta per bulan. "Pekerja saya tidak hanya berasal dari Jepara tapi juga ada yang berasal dari Sumatera," ujarnya.

Sebagai lulusan Sekolah Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, Abdul tahu benar bagaimana kualitas kayu yang baik dan bagaimana pendistribusiannya. Namun setelah lulus, Abdul tidak langsung terjun ke dunia usaha perkayuan. Maklum, saat itu dia sangat ingin menjadi pegawai kantoran. "Saya bercita-cita menjadi manajer yang ke mana-mana diantar oleh sopir pribadi," kenangnya.

Untuk mengejar cita-cita itu, Abdul pun melamar bekerja di sebuah perusahaan fabrikasi baja di Cilegon, Jawa Barat. Meskipun tidak sesuai bidang ilmu yang ditekuninya, namun ia tetap nekat bekerja di tempat itu demi meraih pengalaman. Tak soal meski ketika itu dia hanya menerima gaji sebesar Rp 800.000 per bulan.

Sayang, cita-cita menjadi manajer itu kandas di tengah jalan. Baru bekerja selama dua tahun, perusahaannya kolaps karena krisis keuangan hebat melanda negeri ini. Abdul pun harus menerima kenyataan pahit ketika dia masuk dalam daftar karyawan yang harus di-PHK.

Begitu kehilangan pekerjaan, Abdul memutuskan untuk pulang ke Jepara. "Saya jelas sempat merasa terpukul. Namun hidup harus terus berjalan," tegasnya.

Dalam kondisi terjepit dan kesulitan mencari kerja, akhirnya ia bekerja sama dengan rekannya mencoba usaha packaging furniture. Usahanya ini jalankan di bawah perusahaan yang ia dirikan, CV Mitra Radiant pada 1999 di Jepara.

Karena tidak begitu berkembang, Abdul memutuskan berganti fokus usaha pada pembuatan kaligrafi. Ia pun mengubah nama CV Mitra Radiant menjadi CV Radiant Suryatama.

Kali ini Abdul merasa semakin percaya diri. Menurut dia, peluang untuk meraih sukses berbisnis kaligrafi lebih terbuka. Dia melihat, warga Jepara banyak yang menekuni seni ini sehingga Abdul tidak perlu repot mencari tenaga kerja.

Hanya, menurut Abdul, ketika itu mutu seni kaligrafi seniman Jepara belum sebaik sekarang sehingga tak menarik minat pembeli. Apalagi standarnya belum mengikuti kaidah internasional yang berlaku. "Kayu dan ukiran seadanya saja," ujar Abdul.

Abdul pun merasa terpanggil untuk membenahi seni kaligrafi ini. Bagi dia, pembenahan mutu ini sekaligus menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Bagaimanapun, sejatinya, seni kaligrafi banyak penggemarnya karena lebih mudah dinikmati.

Pelajaran pertama dari Abdul kepada seniman kaligrafi yang ada di sekitar rumahnya adalah dengan memberikan pemanasan pada kayu jati bahan kaligrafi. Pemanasan ini penting agar kadar air kayu berkurang dan tidak melengkung. Selain itu, ketika kadar air berkurang, kadar minyak pada kayu jati akan lebih menonjol sehingga kayu bisa lebih tahan lama. "Kalau diukir juga tak gampang pecah, " ujarnya.


Kamis, 24 November 2011 | 14:04  oleh Ragil Nugroho
INSPIRASI ABDUL HARIS NOOR
Abdul jadi eksportir dengan modal Rp 5 juta (2)
 
Perjalanan Abdul Haris Noor merintis bisnis ukiran kaligrafi berawal dari kegagalan. Sebelumnya, dia pernah bangkrut ketika berbisnis mesin packaging mebel dan bangkrut pula dalam bisnis mebel. Namun Abdul pantang menyerah dengan memulai merintis usaha ukiran kaligrafi hanya dengan modal Rp 5 juta.

Tidak mudah bagi Abdul Haris Noor meraih sukses dalam bisnis ukiran kaligrafi dari kayu jati. Pria kelahiran Jepara itu harus melewati rintangan berat sebelum akhirnya mampu jadi eksportir ukiran kaligrafi ke mancanegara.

Keberhasilan Abdul menghadapi rintangan tak lepas dari peran keluarganya yang hidup sederhana. Ia dibesarkan dari ayah yang pekerja keras yang berprofesi sebagai tukang kayu.

Berkaca dari orang tua, Abdul pun tumbuh menjadi sosok pekerja keras. Selain itu, pelajaran hidup yang diterima dari sang ayah membuatnya menjadi sosok yang teguh pada pendirian.

Karena keteguhan itulah, Abdul enggan kuliah pada jurusan yang tidak ia inginkan. Setelah tamat SMA, Abdul mendapat tawaran beasiswa dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STIP) di Curug, Tangerang, Banten.

Namun kesempatan belajar gratis menjadi pilot itu ia lewatkan begitu saja. Abdul hanya belajar dua pekan, setelah dia kembali pulang tanpa pamit pada pengelola kampus. "Saya merasa enggak nyaman, maklum orang desa," kenang Abdul.

Sejak hengkang dari kampus STIP, Abdul memutuskan menjadi "pilot" angkutan umum di Jepara. Dari hasil menyopir itu, Abdul tetap menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung. "Uang itu saya pakai untuk ongkos masuk kuliah," terang Abdul.

Setelah dua tahun menjadi sopir, Abdul memutuskan kuliah di Institut Pertanian Stiper (Instiper), Yogyakarta. Di kampus itulah Abdul belajar tentang teknologi hasil hutan, termasuk teknologi yang berkait dengan pengolahan kayu.

Setelah kuliah, Abdul sempat bekerja di perusahaan baja, hingga akhirnya di-PHK. Namun, Abdul tidak melupakan keilmuannya di bidang teknologi pengolahan hasil hutan.

Bermodal ilmunya itu, Abdul mengajak sahabatnya mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi packaging mebel tahun 1999. Dengan membawa bendera CV Mitra Radiant, Abdul memasarkan mesin packaging mebel kepada perusahaan mebel di Jepara.

Hampir tiga tahun bisnis penjualan mesin packaging itu berjalan lancar. Sampai tahun 2002, Abdul dan sahabatnya mulai pecah kongsi hingga akhirnya berpisah. "Saya memilih melanjutkan usaha sendirian," kata Abdul.

Selepas itu, Abdul mendirikan perusahaan baru bernama CV Mandiri Wirastama, yang bergerak di bidang penjualan mebel. "Perusahaan ini berkembang hingga bisa ekspor," terang Abdul.

Tiga tahun lamanya, dua perusahaan itu berkembang beriringan. Memasuki tahun 2005, kedua perusahaan itu mulai goyah karena terlilit krisis finansial. "Banyak mitra bisnis saya tidak membayar tagihan," terang dia.

Tagihan macet itu membuat kedua perusahaan itu tumbang. Abdul mengaku mengalami kerugian hingga Rp 100 juta akibat kredit macet itu. "Saya sempat menagih utang seperti pengemis," kenang Abdul.

Karena tagihan tak kunjung dibayarkan mitra, Abdul menghentikan operasional kedua perusahaan. Ia juga menjual aset perusahaan. "Yang tersisa hanya Rp 5 juta," katanya.

Walaupun usahanya bangkrut, Abdul tidak patah arang. Dengan modal yang tersisa, Abdul melirik peluang usaha baru yaitu ukiran kaligrafi dari kayu jati. "Saya itu saya ganti nama perusahaan menjadi CV Radiant Suryatama," katanya.

Dengan modal seadanya, Abdul mempekerjakan tiga orang karyawan untuk membuat ukiran kaligrafi tersebut. "Saya sempat jadi bahan olok-olokan karena bikin kaligrafi," kata Abdul.

Setelah berhasil memproduksi kaligrafi, Abdul malah kebingungan menjual karya itu. Hampir setahun lamanya Abdul tak kunjung mendapatkan pangsa pasar ukiran kaligrafi kayu itu.

Pada 2006, Abdul kemudian memutuskan ikut pameran kerajinan di Kementerian Perindustrian di Jakarta. Pameran itulah yang membawa perubahan bagi bisnis kaligrafinya.

Selain mendapat pembeli, pameran itu mempertemukan Abdul dengan teman lama yang mau memberikan bantuan modal tanpa agunan kepadanya. "Dari situlah titik balik bisnis saya," terang Abdul.

 
Jumat, 25 November 2011 | 15:07  oleh Ragil Nugroho
INSPIRASI ABDUL HARIS NOOR
Abdul menjaring pembeli di lokasi pameran (3)


Setelah mendapat pinjaman Rp 30 juta dari sahabat lama, Abdul Haris Noor langsung tancap gas menambah produksi ukiran kaligrafinya. Hasil produksi itu kemudian ia pamerkan di dalam negeri hingga ke mancanegara. Dari ajang pameran itu, Abdul sukses menjaring pembeli dari luar negeri, terutama dari Timur Tengah.

Membangun bisnis ukiran kaligrafi dari kayu jati bukanlah perkara mudah. Apalagi bisa mengekspornya ke mancanegara. Tapi Abdul Haris Noor, sukses melakukan pekerjaan susah tersebut.

Hanya dalam waktu dua tahun, lewat CV Radiant Suryatama, Abdul berhasil mengekspor kaligrafi itu ke kawasan Timur Tengah dan ke beberapa negara berpenduduk mayoritas muslim. "Secara budaya, negara mayoritas muslim lebih dekat dengan seni kaligrafi," terang Abdul.

Abdul sukses menembus pasar ekspor setelah ia mendapat pinjaman Rp 30 juta dari sahabat lamanya. Berbekal dana itu Abdul bisa memproduksi 100 kaligrafi yang bakal dia pajang di lokasi pameran.

Karena penjualan selama pameran laris manis, Abdul pun ingin menjajal pameran di luar negeri. Nah, salah satu ajang pameran di luar negeri yang membuat namanya melambung tinggi adalah pameran Index Internasional di Dubai, Uni Emirat Arab, pada 2008 silam.

Dari pameran kelas dunia itu Abdul berhasil panen pelanggan dari Uni Emirat Arab, Malaysia, Brunei Darussalam, Iran, India, Irak, bahkan pelanggan dari Amerika Serikat.

Tak kurang Rp 50 juta berhasil dibawa pulang Abdul selama mengikuti pameran itu. Padahal, itu hanya uang panjar alias uang muka. Karena setelah itu, pesanan kaligrafi bernilai ratusan juta harus segera ia kirim ke pemesannya. "Sejak pameran itu produk saya mendunia," tegasnya.

Merasakan nikmat pameran, membuat Abdul ketagihan. Sejak itulah ia gemar memajang kaligrafinya di berbagai pameran, baik di kawasan Asia hingga Eropa. "Pemasaran di arena pameran sangat efektif," ujar Abdul.

Abdul membuktikan, setelah ikut berbagai pameran itu, selama empat bulan belakangan, ia memperoleh pesanan kaligrafi senilai Rp 250 juta dari Iran. Sedangkan dari Uni Emirat Arab memesan kaligrafi senilai Rp 270 juta.

Begitu juga pelanggan Abdul di India yang memesan kaligrafi senilai Rp 185 juta. Bahkan negara yang habis dilanda peperangan seperti Irak juga memesan ukiran kaligrafi senilai Rp 85 juta. "Kebanyakan pelanggan saya adalah pedagang yang menjual lagi kaligrafi itu," terang Abdul.

Kini Abdul menyadari, pentingnya pameran dalam berbisnis kerajinan. Namun agar pasarnya kian membesar, Abdul merasa pameran saja belumlah cukup untuk menambah pelanggan.

Nah, untuk menggalang lebih banyak pelanggan, Abdul memutuskan untuk membuat situs sendiri dan membuka akun di situs jejaring sosial. Lewat dunia maya itulah Abdul memperagakan kaligrafinya ke seluruh dunia.

Pemasaran lewat situs pun sukses. Banyak pembeli tertarik dan memesan kaligrafi itu melalui surat elektronik kepada Abdul.

Agar pelanggannya nyaman, Abdul tidak hanya menjual kaligrafi desain miliknya sendiri. Ia juga melayani pembuatan kaligrafi dengan desain dari pelanggan. "Yang penting pelanggan puas," terangnya.

Demi pelanggan juga, Abdul selalu menjaga kualitas kayu bahan baku kaligrafi. Ia mengaku hanya membeli kayu jati dari Perum Perhutani. Untuk satu kubik kayu jati itu, Abdul merogoh kocek Rp 12 juta.

Walaupun bahan baku kayu jati itu terbilang mahal, namun Abdul berusaha menjual kaligrafi semurah mungkin. Abdul memang memilih mengejar omzet ketimbang mengambil untung terlalu tinggi tapi barang tak cepat laku. "Yang penting cashflow-nya lancar," terangnya.

Untuk menjaga kualitas kerajinan, Abdul juga ogah menerima pesanan kaligrafi sebanyak-banyaknya. Apalagi, jumlah perajinnya juga masih terbatas.

Abdul sendiri memang tak ingin karyawannya kewalahan dikejar target. "Saya memperlakukan mereka itu seperti keluarga," bebernya. Bahkan untuk urusan makan pun Abdul juga menyediakan juru masak khusus.

Soal harga jual kaligrafi itu, Abdul mematok tarif rata-rata sebesar Rp 750.000 per unit. Oleh pelanggannya di luar negeri, ukiran kaligrafi itu dijual lagi senilai Rp 1,2 juta. "Bahkan ada yang menjual sampai dua kali lipat," ungkapnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/83441/Abdul-gagal-jadi-manajer-sukses-jadi-pengusaha-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1322118297/83549/Abdul-jadi-eksportir-dengan-modal-Rp-5-juta-2-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/83659/Abdul-menjaring-pembeli-di-lokasi-pameran-3-

3 comments:

  1. Selamat Datang KEUANGAN KREDIT SOLUSI RUMAH, Kami menawarkan Pinjaman sah dengan atau tanpa agunan dengan bunga rendah 2% dengan jaminan dan jaminan maksimum. kami menawarkan pinjaman kepada orang-orang di kredit buruk, pinjaman perbaikan rumah, pinjaman pribadi dan bisnis, mahasiswa mencari bantuan keuangan dan perusahaan dll Setiap orang yang berminat harus menghubungi kami melalui email: financialcredit_solutions@ymail.com dengan informasi berikut, silahkan lengkap dan KTT informasi di bawah ini;
    ************************************************** *****
    Peminjam? S Informasi ..........
    (1) Jumlah Pinjaman Dibutuhkan: ..........
    (2) Jumlah Pinjaman Dibutuhkan Dalam Kata: ...........
    (3) Nama Lengkap: .............
    (4) Negara: .............
    (5) Berlaku Nomor Telepon Seluler Atau Telp Telepon: ........
    (6) Tujuan Dari Pinjaman: ...........
    (7) Tingkat Pendapatan Bulanan:
    (8) Alamat: ...............
    (9) Pekerjaan: ............
    (10) Jenis Kelamin: Laki-laki Atau Perempuan: ..............
    (11) Negara: ...............
    (12) Jangka waktu pinjaman: ..............
    (13) Kota: .............
    (14) Umur: ...................
    HARI TANGGAL: ...................

    ********************************
    Mr Rashid Omar (CEO)
    KEUANGAN KREDIT SOLUSI RUMAH
    EMAIL: financialcredit_solutions@ymail.com

    ReplyDelete
  2. saya melihat komentar dari orang-orang yang telah menerima pinjaman dari Guaranty Trust Company dan saya memutuskan untuk mengajukan permohonan dari mereka dan hanya beberapa hari pinjaman saya sebesar 300 juta dikirimkan ke negara saya; email hari ini jika tertarik Guaranty_Trust_PLC@outlook.com

    ReplyDelete
  3. saya melihat komentar dari orang-orang yang telah menerima pinjaman dari Guaranty Trust Company dan saya memutuskan untuk mengajukan permohonan dari mereka dan hanya beberapa hari pinjaman saya sebesar 300 juta dikirimkan ke negara saya; email hari ini jika tertarik Guaranty_Trust_PLC@outlook.com

    ReplyDelete