Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Friday, January 11, 2013

Duo pengusaha yang bikin bulu mata lentik

INSPIRASI YOHANES FERRY DAN AUDREI SOEKOCO

Duo pengusaha yang bikin bulu mata lentik

Duo pengusaha yang bikin bulu mata lentik

Gemas melihat produsen bulu mata asing merajalela Purbalingga, Yohanes Ferry dan Audrei Soekoco terjun ke usaha ini. Melepaskan status sebagai karyawan swasta, kini, mereka mampu mengekspor bulu mata palsu ke lima benua di dunia.

Tak sia-sia Yohanes Ferry dan Audrei Soekoco nekat melepas karier masing-masing di sebuah perusahaan swasta. Berkat kejelian mereka melihat peluang bisnis di daerah asalnya, kini, dua sekawan itu menjadi salah satu produsen bulu mata besar di Purbalingga, Jawa Tengah.

Tahun 2012 ini, usaha dua sahabat ini mampu memproduksi 24 juta pasang bulu mata palsu di pabriknya. Produknya pun berhasil merambah lima benua, dari Amerika, Eropa, Asia, Afrika, serta Australia.

Sejak awal, Ferry dan Audrei memang mengincar pasar ekspor. Namun, mereka tidak membatasi diri pada bulu mata saja. Mereka hanya ingin mengekspor produk kerajinan asal Purbalingga. Bulu mata, sapu bambu, dan tikar kayu pun menjadi pilihan mereka.

Lantaran respons pertama datang dari pemesanan bulu mata palsu, mereka kemudian memutuskan untuk menjadi eksportir produk tata rias itu. “Pasar ekspor bulu mata memang cukup besar,” kata Ferry. Apalagi, pengiriman contoh produk ke calon konsumen murah karena bulu mata bisa dikemas dalam paket mungil.

Awalnya, Ferry tak membuat sendiri bulu mata palsu. Ia meneruskan pesanan ke perajin bulu mata yang banyak terdapat di Purbalingga. Sayang, saat sedang merintis usahanya, justru banyak perajin gulung tikar.

Tak mau bisnis yang baru saja lahir ikut mati, Ferry dan Audrei lantas mendirikan pabrik sendiri. Maklum, pesanan bulu mata mulai menghampiri kedua pengusaha muda ini.

Bermodal tabungan Rp 50 juta, pabrik bulu mata palsu milik kedua sahabat itu berdiri pada Oktober 2008. Awalnya, mereka menyewa sebuah rumah di Cirongge dan mempekerjakan 30 perajin di pabrik barunya. Tak lupa, Ferry membuat badan hukum untuk usahanya, yakni PT Bintang Mas Triyasa (BMT).

Pada tahap awal, pemesanan bulu mata masih terbilang kecil. Pembeli dari Malaysia, Singapura, dan Australia memesan rata-rata 10.000 hingga 20.000 pasang bulu mata. Tidak semua konsumen BMT puas. Banyak produk mereka yang ditolak.

Namun, konsumen yang mengembalikan bulu mata justru memberi pelajaran bagi BMT. “Mereka mengarahkan produk kami sesuai dengan standar pasar ekspor, sekaligus memberitahu model bulu mata yang sedang tren,” ujar Ferry. Beruntung pula, mesti kecewa, para pembeli itu tak lantas memutuskan hubungan bisnis.


Masuk Amerika

Bulu mata palsu produk BMT terdiri dari bulu mata berbahan dasar rambut asli dan rambut sintesis. Rambut asli yang diolah merupakan rambut yang berasal dari sisa-sisa potongan rambut manusia. Bahan baku ini diperoleh dari pengepul di Indonesia dan India.

Maklum, rambut dari kedua negara ini kualitasnya sangat baik sebagai bahan bulu mata. “Perbedaannya, diameter ketebalan rambut asal India lebih besar ketimbang rambut asli dari Indonesia,” kata Ferry.

Sedang bahan baku untuk rambut sintesis dipasok oleh produsen dari Jepang dan Korea. Produk kedua negara itu dikenal berkualitas baik.

Seperti pengusaha lain, Ferry dan Audrei pernah mengalami hari-hari buruk di tahap awal usaha mereka. Beberapa kali, pemesan tidak membayar. “Kami begitu mudah percaya, hingga merugi puluhan juta,” kenang Ferry.

Untuk mencegah kejadian serupa berulang, mereka menerapkan sistem letter of credit bagi pemesan baru. Setelah terjalin kepercayaan yang baik, baru BMT mau menerima pembayaran di belakang, atau setelah pesanan diterima.

Berbagai pengalaman turut membesarkan BMT. Pesanan bulu mata terus mengalir. Hingga awal 2009, BMT sudah memiliki perwakilan pemasaran di Amerika Serikat (AS).

Dari kantor ini, produk BMT semakin dikenal di Negeri Paman Sam. BMT pun masuk ke pasar Eropa karena rajin mengikuti pameran tata rias yang diadakan negara-negara di Benua Biru itu. Maklum, banyak pebisnis menganggap, perusahaan yang rajin ikut pameran memiliki kredibilitas baik.

Pengiriman bulu mata pun terus meningkat. Pesanan bahkan datang dari produsen alat kecantikan kelas dunia. Untuk memenuhi pesanan yang melonjak, BMT membangun pabrik baru. Pabrik yang menempati lahan seluas 3.000 m² di Karang Sentul, Purbalingga itu, dibangun dengan pinjaman bank. Dengan mempekerjakan 300 orang karyawan, produksi BMT meningkat hingga 2,9 pasang bulu mata per tahun.

Pasar yang terus membesar membuat BMT terus menambah pabriknya. Tahun 2011, BMT membuka pabrik baru di daerah Mewek, Purbalingga. Ferry mempekerjakan 2.000 karyawan untuk memproduksi 14 juta pasang bulu mata sepanjang tahun lalu.

Tak berhenti di situ. Ferry pun mendiversifikasi usahanya. Kini, BMT juga merambah bidang plastik vacuum foaming, sektor finansial, serta jasa distribusi berbagai produk kosmetik dan tata rias.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/duo-pengusaha-yang-bikin-bulu-mata-lentik

Thursday, January 3, 2013

INSPIRASI FATICHUN

INSPIRASI FATICHUN

Fatichun pasok batik seragam PNS di Salatiga (1)

Fatichun pasok batik seragam PNS di Salatiga (1)
Usia yang tidak lagi muda ternyata tidak menghalangi seseorang untuk memulai usaha. Begitu juga dengan Fatichun, 64 tahun. Di usianya yang sudah tua, ia sukses mengibarkan batik khas daerahnya, Salatiga,  Jawa Tengah,
Awal mula perkenalannya dengan bisnis batik terjadi saat ia mendapat pelatihan dari Dinas Pariwisata Kota Salatiga pada 2008. Saat itu, ia baru dua tahun pensiun sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Pemkab Semarang.
"Walau sudah pensiun saya itu tidak betah berdiam diri tanpa pekerjaan," kata ayah dua putri ini. Lantaran masih ingin memiliki kesibukan, ia pun semangat mengikuti pelatihan mengenai bisnis batik selama 15 hari.
Kendati singkat, ia mengaku banyak mendapat pelajaran penting mengenai seluk beluk bisnis batik. Pelatihan itu sendiri memang mendorong para pesertanya terjun ke usaha batik.
Makanya, tak lama dari mengikuti pelatihan itu, ia langsung memutuskan terjun ke usaha pembuatan batik dengan brand Batik Selotigo. "Kebetulan saat pensiun, saya memang berniat membuka usaha," ujarnya.
Ia pun langsung mempraktikkan seluruh ilmu dan pengalaman yang didapatnya dari pelatihan, terutama menyangkut teknik produksi dan pemasaran.
Keputusan Fatichun terjun ke bisnis batik ini cukup berani. Pasalnya, dari 20 peserta pelatihan, hanya ia saja yang memutuskan terjun ke usaha batik.
Namun, keputusannya itu tidak salah. Dalam waktu singkat, ia sukses meraup omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.
Bisnisnya makin berkembang setelah Walikota Salatiga mewajibkan setiap PNS di daerahnya memakai batik khas Salatiga sebagai seragam kantor.
Makanya, pelanggan Batik Selotigo kebanyakan masyarakat setempat, khususnya dari instansi pemerintah. “PNS di Pemkot Salatiga diharuskan memakai pakaian berbahan kain batik khas Salatiga setiap hari Rabu sampai Sabtu,” katanya.
Peraturan yang berlaku mulai tahun 2010 itu turut mendorong kelancaran usahanya. Sejak saat itu, orderan dari pegawai pemerintah kota Salatiga membludak.
Bila sebelumnya hanya bisa menjual ratusan potong kain batik per bulan, kini permintaan terhadap kain batiknya mencapai ribuan potong."Dalam sebulan, saya bisa menjual sekitar 3.000 potong batik," katanya.
Selain menjual batik dalam bentuk kain lembaran, ia juga menjual batik dalam bentuk kemeja dan rok. Produk batiknya beragam dari batik tulis hingga batik cap, dan dibanderol mulai Rp 80.000 - Rp 250.000 per pieces.
Fatichun mengatakan, keputusan pemerintah itu merupakan bentuk dukungan terhadap industri kecil menengah (IKM) di Salatiga, terutama untuk produk kain batik.
Fatichun mengaku, tanpa bantuan pemerintah, bisnis batiknya akan sulit berkembang. Apalagi, batik khas Salatiga belum begitu dikenal
Usia batik Salatiga memang tergolong baru dibandingkan batik dari daerah lain, seperti Solo, Pekalongan, Cirebon, dan Yogyakarta. Fatichun sendiri mengklaim kalau  dirinya termasuk pelopor batik khas Salatiga.

Fatichun, juragan batik yang tak bisa membatik (2)

Fatichun, juragan batik yang tak bisa membatik (2)

Batik khas Salatiga sudah mulai diciptakan pada tahun 2004. Namun, pemerintah setempat baru serius mengembangkan batik khas daerah itu pada 2008, ketika Dinas Pariwisata Salatiga mengadakan pelatihan seputar batik.
Fatichun (64) menjadi salah satu pesertanya, sekaligus menjadi satu-satunya peserta yang terjun ke bisnis batik. Peserta lainnya tidak melakukan hal yang sama karena kekurangan modal.
Tidak lama setelah mendapat pelatihan, Fatichun langsung memulai usaha batik. Fatichun mengaku, merogoh kocek Rp 150 juta buat modal awal mendirikan usaha batik dengan brand Selotigo.
Modal itu digunakan untuk membeli perlengkapan membatik dan mendirikan galeri batik di Jalan Raya Salatiga – Bringin kilometer (km) 2, Watu Rumpuk, Salatiga.
Waktu itu, Fatichun mengaku mendapatkan pinjaman modal dari anaknya sendiri yang tengah bekerja di Jepang. Menjadi pengusaha batik sukses sering kali membuat orang menyangka Fatichun memiliki keterampilan membatik. Padahal, pemilik usaha batik Selotigo ini mengaku sama sekali tidak bisa membatik.
Maklum, usaha batik baru dimulainya ketika ia sudah berumur 60 tahun. Saat itu, ia baru dua tahun pensiun dari PNS Kabupaten Semarang. "Jangankan membatik, menjahit kain saja saya tidak bisa," katanya.
Lantaran tidak memiliki keterampilan membatik, saat awal memulai usaha, ia  langsung mendatangkan delapan orang pembatik dari Pekalongan dan Sidoarjo.
Saat itu, masih belum banyak pembatik profesional dari Salatiga. Seluruh kegiatan produksi diserahkan pada para pembatik tersebut. Ia hanya menjalankan manajemen batik Selotigo.
Setelah mendapatkan sumber daya manusia (SDM), Fatichun mencari merek dagang yang dirasa mampu mewakili visinya memajukan batik khas daerahnya.
Awalnya, ia mau memakai nama "Salatiga". "Tapi ketentuannya nama kota tidak bisa dijadikan merek dagang," ujarnya. Karena itu, ia memilih nama Selotigo yang memiliki arti tiga batu yang bertumpuk.
Nama ini memiliki kesamaan arti dengan motif "Watu Rumpuk" yang menjadi ciri khas batik daerah Salatiga. Pada tahun 2010, Fatichun mulai memasarkan batik Selotigo melalu internet, terutama di Facebook dan blog. Namun cara ini dirasa kurang efektif sehingga Fatichun tidak meneruskannya.
Sekarang, Fatichun fokus melakukan pemasaran lewat radio lokal. Dalam beberapa kesempatan, ia diundang menjadi pembicara talkshow di radio seputar batik khas Salatiga. Di situ, ia juga mempromosikan produk batiknya.
Selain itu, ia juga rajin mengikuti pameran di beberapa kota, seperti Semarang, Kudus, dan Grobogan. Fatichun juga pernah mengikuti fashion show khusus produk batik.
"Waktu itu ada acara pemilihan model. Batik saya terpilih diikutkan pada fashion show," katanya. Selama empat tahun menjalankan usaha batik, Fatichun masih belum menemukan pembatik asli Salatiga.
Padahal, ia ingin menambah desain batik khas Salatiga agar lebih bervariasi.   

Fatichun mendongkrak pamor batik Salatiga (3)


Fatichun mendongkrak pamor batik Salatiga (3)

Walau diciptakan tahun 2004, batik khas Salatiga baru serius dikembangkan oleh pemerintah setempat pada 2008 lalu. Fatichun termasuk salah seorang pelopor industri batik Salatiga dengan merek dagang Selotigo.
Sebetulnya, menjadi pelopor industri batik Salatiga jauh dari impian Fatichun. Apalagi, sejak awal pria pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) ini tak pernah memiliki keinginan menjadi pengusaha.
Keinginan untuk berwiraswasta baru muncul saat Fatichun pensiun sebagai pegawai Pemerintah Kabupaten Semarang tahun 2006. "Walau sudah pensiun, saya tidak betah berdiam diri tanpa pekerjaan," kata ayah dua putri ini.
Perkenalannya dengan dunia batik terjadi saat mengikuti pelatihan yang digelar Dinas Pariwisata Kota Salatiga pada 2008. Sejak mengikuti pelatihan itu, Fatichun belajar banyak seputar dunia batik khususnya batik Salatiga.
Fatichun mengatakan, batik Salatiga sering juga disebut dengan batik plumpungan. Motif batik plumpungan diciptakan pertama kali tahun 2004 dan menjadi motif batik yang paling terkenal di Salatiga.
Nama plumpungan berasal dari Prasasati Plumpungan yang sarat nilai filosofi dan sejarah bagi Salatiga. Gagasan dasarnya ialah mengambil bongkahan batu tulis yang terdapat pada Prasasti Plumpungan.
Makanya, yang menjadi ciri khas batik plumpungan adalah gambar dua bulatan batu yang terdiri dari batu besar dan kecil yang saling berimpitan.
Selain plumpungan, batik Salatiga juga memiliki beberapa motif lain, seperti bayang-bayang, cempaka mekar, gendongan, genggong, dan watu rumpuk plumpungan. Semua motif ini ada di butik milik Fatichun.
Menurut Fatichun, batik Salatiga mempunyai beberapa kelebihan. Misalnya, warna yang awet dan tidak mudah luntur. Mayoritas kelirnya juga cerah sehingga disukai banyak kalangan masyarakat. "Saya sengaja pakai warna ngejreng pada batik saya supaya anak muda juga suka," ujarnya.
Kendati sudah sukses, Fatichun belum puas dengan usaha batiknya saat ini. Ia terobsesi membuka sekolah membatik bagi warga Salatiga. Sebab, pembatik yang terampil di Salatiga realtif jarang.
Rencananya, Fatichun akan menjadikan butik batiknya sebagai tempat pelatihan membatik. Dengan membuka tempat pelatihan, dia berharap, semakin banyak orang yang tertarik mendalami batik Salatiga  dan mengembangkannya di masa mendatang.
Fatichun juga berkeinginan, kelak Salatiga bisa terkenal sebagai kota penghasil batik, semisal Pekalongan dan Solo. "Kalau daerah lain saja bisa mendapatkan identitas penghasil batik, tentunya Salatiga juga bisa," ucapnya yakin.
Batik Salatiga, Fatichun bilang, sangat potensial dikembangkan. Saat ini saja, peminat produk batiknya meliputi hampir semua kalangan.
Dari kalangan artis, contohnya, butik batiknya pernah dikunjungi Dwi Andika sdan Shezi Idris. Tapi, lantaran usianya sudah tidak muda lagi, dia berencana mewariskan bisnis batiknya ke anaknya.      

(Selesai)
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/fatichun-pasok-batik-seragam-pns-di-salatiga-1/2012/12/26
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/fatichun-juragan-batik-yang-tak-bisa-membatik-2/2012/12/27
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/fatichun-mendongkrak-pamor-batik-salatiga-3

Wednesday, September 26, 2012

3 Pelajaran Bisnis dari Proyek Real Estate Slipi


Hits : 746 PDF Cetak E-mail
Selasa, 25 September 2012 17:03
pakciprofile
Jika Anda telah tinggal di Jakarta dalam waktu lama, Anda tentu pernah melintasi daerah Slipi Jaya dan Perempatan Tomang. Di sinilah lokasi lahan proyek real estate Slipi yang saya bersama Pembangunan Jaya dirikan di awal tahun 1960-an.

Ada demikian banyak pelajaran bisnis yang bisa diambil dari perjalanan kami merampungkan proyek tersebut dari awal hingga berdiri. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut. Semoga bermanfaat.

Tak ragu bereksperimen dengan konsep produk baru
Saat tahun 1960-an tingkat inflasi mencapai ratusan persen. Akibatnya pelaksanaan proyek Senen pun terhambat. Dampaknya serius. Proyek mangkrak selama kurang lebih setahun dan ini membuat uang kami tak bisa diputar dan bisa merugi besar. Belum lagi harus membayar bunga atas pinjaman itu.

Saya pun usulkan untuk mencoba gagasan proyek real estate. Konsep produk properti jenis real estate di Indonesia saat itu masih sangat asing. Tak ada sebelumnya pengembang yang menawarkannya. Proyek Slipi yang kami akan bangun memang menjadi real estate pertama yang dibangun oleh swasta di tanah air.

Tantangan itu sendiri adalah belum adanya best practice yang bisa dipelajari. Maka kami yakin untuk menjadi pelopor.

Mencari pembeli dengan jeli
Menemukan pembeli untuk produk yang sudah lazim ditemui di pasar bukan hal yang sukar. Akan tetapi akan lain kasusnya saat kita harus membuat dan menjual produk yang belum dikenal sebelumnya dan memiliki segmen konsumen yang belum jelas serta terbatas.

Untuk itulah, saya dan tim di Pembangunan Jaya bersama mencari para pembeli yang tertarik dengan produk real estate semacam ini. Akhirnya kami putuskan untuk membidik para pejabat perbankan. Alasan utamanya ialah karena telah ada kedekatan sebelumnya dalam berbagai kegiatan pendanaan proyek sebelumnya. Dan yang pasti mereka juga memiliki daya beli yang dibutuhkan. Dana cadangan mereka tidak sedikit.

Kami tawarkan pembayaran melalui cicilan pada mereka, dan mereka tertarik. Ini membuat proses pembayaran lebih terasa ringan bagi pembeli.

Tak puas? Temukan solusi sendiri
Selama proses pengembangan proyek real estate Slipi ini kami mengamati pula bahwa para kontraktor yang kami ajak kerjasama kurang menaati rencana proyek yang telah ditetapkan sejak semula. Mereka cenderung mengadakan penambahan di sana sini untuk memperbesar keuntungan. Dalihnya memang untuk memperbaiki kualitas proyek tetapi ini membuat proyek melebar dari rencana awal. Padahal tingkat inflasi mencekik saat itu, yang artinya penghematan wajib dilakukan tanpa kecuali.

Akhirnya kami di Pembangunan Jaya merasakan makin perlunya memiliki solusi untuk masalah satu ini. Disepakati untuk kemudian mendirikan kontraktor yang dimiliki Pembangunan Jaya sendiri sehingga pengendalian akan lebih mudah. Setelah itu, lahirlah divisi Pembangunan Teknik yang kemudian menjadi cikal bakal masuknya Pembangunan Jaya dalam bisnis pemborongan.


http://www.ciputraentrepreneurship.com/ciputra-notes-inspirasi/20359-3-pelajaran-bisnis-dari-proyek-real-estate-slipi.html

Monday, September 3, 2012

INSPIRASI ISAM SAMSUDIN


Isam sukses mengibarkan sutra garut (1)

Isam sukses mengibarkan sutra garut  (1)

Terjun ke usaha pembuatan kain sutra sejak 2008, Isam Samsudin sukses memperkenalkan kain sutra khas Garut hingga ke seluruh penjuru Nusantara. Konsumennya mulai pengusaha batik, desainer, dan masyarakat umum.

Sejak dahulu, Kabupaten Garut, Jawa Barat sudah terkenal sebagai daerah penghasil sutra. Daerah ini punya industri tenun sutra yang telah ada sejak puluhan tahun silam.

Salah satu perajin yang sukses mengibarkan sutra khas Garut ini adalah Isam Samsudin. Sejak tahun 2008, ia memperkenalkan sutra Garut ke seluruh penjuru Nusantara.

Di bawah bendera usaha Gallery Sutra Garut, kain sutra buatannya kini banyak dipesan para perajin batik, desainer pakaian, dan juga masyarakat umum penyuka sutra dari seluruh Indonesia.

Salah satu yang menjadi nilai tambah kain sutra buatan Isam adalah proses pembuatannya yang dilakukan secara handmade dengan bantuan peralatan tradisional.

Lantaran itu kain sutra buatannya dikenal sebagai kain sutra ATBM alias alat tenun bukan mesin. "Semua proses pengerjaannya dilakukan secara tradisional, jadi lebih eksklusif dan kualitasnya juga terjamin," ujarnya.

Karena kelebihannya, kain sutra buatan lelaki 36 tahun ini banyak disukai. Dengan dibantu 40 karyawan, Isam mengaku mampu menghasilkan rata-rata lebih dari 2.300 meter kain saban bulannya.

Tidak hanya kain sutra polos, ia juga memproduksi kain sutra yang sudah diberi warna dan motif tertentu. "Untuk kain polos kami menjualnya sekitar Rp 85.000 hingga Rp 125.000 per meternya," ungkapnya.

Selain kain yang masih polos, Isam juga memproduksi kain sutra yang sudah diberi warna dan motif batik. Bahkan, ada juga yang dibuatnya menjadi pakaian kemeja dan lain-lain.

Isam mengklaim, seluruh hasil karya desain batik sutranya merupakan kreasi sendiri dengan memadukan motif batik khas Cirebon. "Selebihnya merupakan hasil imajinasi saya sendiri," ujarnya.

Bila sudah diberi motif batik, harganya jauh lebih mahal dari kain yang masih polos. Untuk kain sutra batik, misalnya, dibanderol mulai Rp 1,5 juta-Rp 3,5 juta per pieces.

Sementara yang sudah menjadi pakaian jadi dihargai hingga Rp 5 juta per lembar. Dari usaha ini, omzet yang dikantonginya dalam sebulan mencapai sekitar Rp 150 juta. Adapun laba bersihnya sekitar 40% dari omzet.

Isam mengaku, selama hampir empat tahun menjalani usaha ini, penjualan dan permintaan kain sutra terus meningkat. Pencapaian yang diraih Isam saat ini terbilang cukup baik mengingat ia hanya memiliki bekal pendidikan Diploma I (D1) Ilmu Perhotelan.

Pengalaman bergelut di usaha ini dapatnya dari bekerja pada usaha pembuatan kain sutra ATBM milik kakak kandungnya sendiri pada tahun 2001 hingga 2008.

Selama bekerja dengan kakaknya, ia mengaku banyak belajar tentang proses pembuatan kain sutra. Lambat-laun minta dan kecintaannya terhadap kain sutra terus tumbuh. "Saya tak pernah terpikir akan masuk ke bidang ini sebelumnya," ucapnya.

Berbekal kecintaan dan keterampilan membuat kain sutra inilah ia memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Bisnis ini dirintisnya dengan modal awal Rp 60 juta dari hasil pinjaman ke beberapa teman dan saudaranya.

Isam dapat berkah dari marakya desainer (2)

Isam dapat berkah dari marakya desainer (2)

Kesuksesan bisa diraih dengan tekad dan keyakinan yang kuat. Meskipun modal usaha harus meminjam pada beberapa orang, namun dengan kerja keras semuanya bisa terbayar. Begitulah yang dilakukan Isam Samsudin, pemilik Gallery Sutera Garut, saat awal-awal merintis usaha. Bisnis ini dirintis dengan modal awal Rp 60 juta ini mulai ditekuni Isam pada 1 Februari 2008.
Modal awal tersebut didapat dari hasil meminjam ke teman dan kerabat keluarganya. Uang tersebut, ia gunakan untuk membeli lima alat tenun dan merekrut lima karyawan. Selain itu, ada juga yang dipakai buat membeli bahan, seperti benang. Di masa awal merintis usaha, Isam getol menawarkan kain buatannya ke pasar.
Sempat dilanda dilema ketika harus bersaing head to head dengan sang kakak, namun Isam mengaku tetap menaruh hormat pada kakaknya yang juga menekuni usaha pembuatan kain sutera. "Kami bersaing cukup sehat meski kadang ada konflik namun itu bisa teratasi," tandasnya.
Persaingan sehat itu dibuktikan Isam dengan memilih segmen pasar yang berbeda dengan sang kakak. Ia fokus memproduksi kain sutera dengan grade kualitas lebih tinggi dari yang diproduksi kakaknya. Maka itu, harga kain sutera buatan Isam dijual lebih mahal dari kakaknya. Meski lebih mahal bukan berarti Isam sepi pembeli.
Munculnya para desainer muda dan para pengrajin batik mendatangkan berkah bagi dia. Terbukti, sejak awal memulai usaha, ia telah rutin memasok kebutuhan sutera untuk mereka. Tak heran, bila dalam waktu tiga bulan, ia sudah bisa mengembalikan pinjaman modal usaha. Kemudian delapan bulan setelah usaha Isam berjalan, ia meningkatkan kapasitas produksi dengan menambah alat tenun dan juga merekrut karyawan baru.
Kendati bisnis terus berkembang, Isam tidak lantas terlena. Sebagai pengusaha fesyen, ia menyadari pentingnya inovasi produk dan mengikuti tren perkembangan zaman. Makanya, pada tahun 2011, pria yang hobi berolahraga ini mulai berkreasi dengan kain sutera buatannya itu. Sekitar 25% kain sutera hasil produksinya kala itu diberi motif sendiri.
Motifnya bisa berupa batik, garis-garis, atau kotak-kotak. Sementara sisanya tetap dipasarkan dalam bentuk kain sutera polos. Kain polos ini untuk memenuhi permintaan para pembatik dan desainer. Lantaran diminati pasar, Isam kini mengubah fokus usaha.
Sejak 2012, sebanyak 75% kain suteranya sudah diberi motif sendiri. Dari 75% itu, sekitar 25% dibuat menjadi kemeja pria, sarung, dan selendang dengan motif batik. "Ke depan kami akan membuat desain batik untuk pakaian wanita," tuturnya.
Empat tahun berjalan, Isam mengaku mendapatkan kepuasan batin yang tak diperoleh saat masih bekerja dengan sang kakak dulu. Menurutnya, menikmati tahap demi tahap dalam merintis usaha merupakan proses pembelajaran yang tak bisa ditemukan dimanapun. "Karena jika kita mengelola bisnis sendiri, bukan sekedar keterampilan yang bertambah, naluri dan insting bisnis pun dapat terbentuk," ungkapnya.

Isam berdayakan warga sekitar (3)

Isam berdayakan warga sekitar (3)

Di bawah bendera usaha Gallery Sutera Garut, Isam Samsudin sukses memperkenalkan kain sutera khas Garut ke seluruh penjuru Nusantara. Di daerahnya, kini Isam dikenal sebagai salah satu produsen kain sutera yang cukup mapan. Tapi, bukan itu satu-satunya tujuan Isam terjun ke usaha pembuatan kain sutera. Melalui usaha yang ditekuninya ini, ia juga ingin melestarikan kerajinan kain sutera ATBM alias alat tenun bukan mesin.
Sejak lama, kerajinan ini telah menjadi warisan budaya khas Garut. Motivasi lain adalah membuka lapangan pekerjaan bagi warga di sekitarnya.
Berkat usaha pembuatan kain sutera, kini ia telah berhasil merealisasikan seluruh keinginannya itu. Dari segi finansial, Isam mengaku penghasilannya lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga serta para karyawannya.
Dalam upaya pelestarian budaya, ia juga telah sukses mempertahankan tradisi produksi kain sutera tanpa mesin. "Semua pelanggan saya mengakui bahwa sutera ATBM lebih baik ketimbang mesin pabrikan," ujarnya.
Keunggulan sutera ATBM bukan hanya dari kualitas produknya yang lebih baik dibanding buatan mesin. Tapi, hasil produksinya juga lebih maksimal karena tidak banyak bahan baku benang yang terbuang. Namun ada juga kelemahannya. Yakni, kapasitas produksi yang tidak bisa sebanyak mesin. "Soalnya, ATBM banyak menggunakan tenaga manusia," ujarnya.
Hal lain yang mendatangkan kepuasan bagi Isam adalah kemampuannya menyediakan lapangan pekerjaan. Dari awalnya hanya mempekerjakan lima orang karyawan, kini total karyawan yang dimilikinya sudah 42 orang. Dengan semakin berkembangnya bisnis kain suteranya, tidak menutup kemungkinan semakin banyak tenaga kerja yang akan diajaknya bergabung.
Usahanya ini sedikit banyak telah membantu mengurangi pengangguran di Desa Karya Jaya, Kecamatan Bayongbong, Garut. "Beberapa pemuda di kampung ini sering datang ke saya menanyakan pekerjaan, dan jika memang sedang membutuhkan saya tak bisa menolaknya," jelasnya.
Menurut Isam, sebagian besar karyawannya, awalnya tidak memiki keterampilan memproduksi kain sutera. Namun ia tidak ragu mempekerjakan mereka. Sebab, Isam memang ingin menularkan keterampilan membuat kain sutera ke warga desa. "Saya dulu juga bekerja di usaha ini tanpa keterampilan, tapi semuanya bisa dipelajari asalkan ada niat," lanjutnya.
Isam sendiri masih memiliki sejumlah rencana untuk membesarkan usahanya. Dalam waktu dekat ia akan membuka galeri khusus untuk memajang kain sutera buatannya.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/isam-berdayakan-warga-sekitar-3
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/isam-dapat-berkah-dari-marakya-desainer-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/isam-sukses-mengibarkan-sutra-garut-1/2012/08/30

Tuesday, August 7, 2012

INSPIRASI DIAN PURWANINGTYAS


Berkat internet, Dian meramu makanan Meksiko (1)

Berkat internet, Dian meramu makanan Meksiko (1)

Berawal dari hobi berburu resep masakan di internet, Dian Purwaningtyas berhasil meramu makanan khas Meksiko. Ia lalu menawarkan makanan Meksiko itu ke pasar. Mendapat respons positif, omzet Dian kini ratusan juta per bulan.

Membangun usaha bermodalkan hobi dan keyakinan tidaklah mudah. Namun, tidak demikian dengan Dian Purwaningtyas (31), pemilik usaha makanan khas Meksiko dengan brand Mr Tacoz.

Usaha yang berbasis di Malang, Jawa Timur, ini mampu mendulang omzet hingga ratusan juta per bulan. Kemampuannya meramu makanan Meksiko ini diperoleh dari kegemarannya berburu resep masakan dari seluruh dunia. "Saya berburu resep-resep makanan melalui media internet," kata Dian.

Selama ini, Dian memang selalu penasaran dengan sesuatu yang terjadi di dunia luar, terutama dalam hal makanan. Rasa penasaran itu juga yang mendorongnya rajin berburu resep masakan lewat internet.

Di internet, ia kemudian menemukan resep masakan khas Meksiko yang dianggapnya cocok dengan selera masyarakat Indonesia. "Ciri khasnya agak pedas-pedas, cocok dengan lidah masyarakat Indonesia," ujarnya.

Setiap menemukan resep yang menarik, Dian selalu mencoba untuk mempraktikkannya. Begitu juga ketika menemukan resep masakan Meksiko.

Ia pun tertarik untuk belajar meramu masakan dari negara Amerika Latin itu. Dari beberapa kali mencoba, ia lalu berhasil menghidangkan masakan Meksiko yang lezat.

Salah satunya adalah tacoz. Makanan Meksiko ini serupa kebab, yakni sayuran dan daging yang dibalut roti tortila. Bedanya, kulit tortila pada tacoz ada yang krispi. Perpaduan bumbu khas dengan dominasi citarasa nan pedas dan gurih sesuai dengan lidah orang Indonesia.

Lantaran sesuai dengan lidah orang Indonesia, ia yakin peminat tacoz di Indonesia lumayan banyak. Dari situ ide bisnisnya kemudian muncul.

Pada Desember 2007, ia kemudian memberanikan diri untuk mendirikan gerai pertama di Malang. Untuk brand usaha ia memakai nama Mr. Tacoz.

Selain tacoz, ia juga menyediakan menu lain, seperti nacoz, mexico fries alias kentang berbumbu meksiko, dan tacoz burger. Makanan-makanan itu dibanderol mulai Rp 7.500 sampai Rp 15.000 per porsi.

Ia merintis usaha ini hanya dengan modal awal Rp 1,5 juta. Modal yang tak seberapa itu antara lain dipakai untuk membeli gerobak bekas.

Supaya tampak menarik, gerobak bekas itu kemudian dicat kembali. "Lalu saya beri gambar kartun lengkap dengan kumisnya dan tulisan Mr Tacoz," jelasnya.

Di masa awal merintis usaha, Dian rajin mengikuti bazar dan pameran di kampus dan sekolah-sekolah. Berkat usahanya itu, Mr Tacoz mendapat sambutan pasar yang cukup antusias. "Setiap hari, dalam waktu tiga jam sudah ludes terjual," jelas Dian.

Melihat respons pasar yang positif, pada tahun 2009 ia resmi menawarkan kemitraan. Hingga saat ini, Dian sudah memiliki 40 gerai di sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Bandung.

Selain konsep booth, gerai-gerai itu juga ada yang mengusung konsep mini kafe. Dari usahanya ini, Dian meraup omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.

Pada tahun 2009, usaha kulinernya ini sempat mendapat penghargaan dari Indonesia Franchise Award (IFA). Saat itu, ia masuk nominasi 10 besar Woman Entrepreneur Franchise Award 2009 dari IFA.

Dian, mantan guru yang jadi pengusaha kuliner (2)

Dian, mantan guru yang jadi pengusaha kuliner (2)
Sejak kecil, Dian tak pernah punya keinginan menjadi pengusaha. Selepas kuliah, ia sempat menjadi pengajar di lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD). Namun, kariernya tidak lama. Lantaran hobi berburu resep makanan di internet, ia lalu memutuskan terjun ke bisnis kuliner.

Dian Purwaningtyas mengaku tak pernah menyangka bakal terjun ke bisnis kuliner. Apalagi, dia lulusan dari jurusan Biologi di Universitas Brawijaya, Malang.

Selepas kuliah, Dian juga sempat bekerja di sebuah lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan jabatan kepala sekolah dan dewan pembuat kurikulum.

Namun, kariernya di dunia pendidikan tidak bertahan lama. Dian hanya betah mengajar beberapa bulan saja di sana dan akhirnya memilih keluar. "Saya merasa tidak satu visi dengan pemilik sekolah dalam prinsip pendidikan anak-anak," jelas wanita kelahiran 1980 ini.

Setelah keluar dari dunia pendidikan, Dian memilih tidak melamar pekerjaan ke tempat lain. Ia justru melanjutkan hobi lamanya saat masih kuliah dulu, yakni menjelajah dunia internet dan mencari hal-hal baru di sana.

Sebagai penyuka kuliner, Dian pun sibuk berburu resep-resep baru di internet. Nah, sebelum menemukan resep masakan khas Meksiko, ia sempat mencoba meramu makanan khas Jepang. Resep itu juga didapat dari internet.

Oleh Dian, resep makanan Jepang itu dimodifikasi sesuai dengan selera lidah orang Indonesia. Untuk mewujudkan idenya ini, ia sempat meminta bantuan mahasiswa tata boga.

Saat itu, tidak kurang dari 39 menu masakan khas Jepang berhasil dimodifikasinya. Ia kemudian mencoba menawarkan menu makanan Jepang itu ke pasar.

"Dan, saya kaget ketika menu-menu hasil modifikasi saya itu ternyata disukai di pasaran," jelas Dian.

Saat itu, bisnis kuliner Jepang ini dikelolanya dengan mengusung konsep kafe. Modalnya, patungan dengan beberapa temannya.

Namun, bisnis ini tidak bertahan lama. Manajemen yang buruk membuat bisnis ini terseok-seok. Selain karena minim pengalaman, usaha ini juga terkendala modal yang minim.

Beruntung, ada orang lain yang mau mengambil alih usaha kafe ini. Dengan terpaksa, ia pun melepaskannya. "Saya sangat kehilangan saat itu," kenang Dian.

Namun, ia tidak mau larut dalam putus asa. Pengalaman itu justru membuatnya semakin semangat untuk terjun ke bisnis kuliner.

Sejak itu, ia kembali sibuk berburu resep makanan di internet. Pilihannya kemudian jatuh ke makanan Meksiko. Selain sesuai selera orang Indonesia, makanan Meksiko juga masih sepi pemain. "Beda dengan masakan kontinental atau American junk food," ujarnya.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini ia tidak mau gagal lagi. Mengusung brand Mr. Tacoz, makanan Meksiko hasil racikannya ternyata diminati pasar. Dari sisi manajemen usaha juga diperkuat. "Saya juga rajin ikut pameran," ujarnya.

Dian ingin bawa gerai Mr Tacoz ke luar negeri (3)

Dian ingin bawa gerai Mr Tacoz ke luar negeri (3)

Sebagai pebisnis, naluri Dian Purwaningtyas melebarkan usahanya tak pernah padam. Ia berambisi, bisnis makanan Meksiko dengan brand Mr Tacoz bisa berkembang hingga keluar negeri. "Minimal bisa masuk Tenggara, seperti Malaysia," kata Dian.

Untuk menggapai ambisinya itu, Dian sudah menyiapkan rencana. Antara lain memperkuat jalur distribusi melalui Pulau Sumatra. Demi kelancaran jalur distribusi ia akan membangun gudang tempat penampungan produk di Sumatra. Operasional gudang dan jalur distribusi ini akan dikelola oleh kantor cabang.

Ia berharap, semua upaya itu bisa memperkuat jalur distribusi hingga ke negara tetangga. Sejauh ini, Dian mengaku sudah ada calon mitra yang berminat mengambil paket master franchise di Malaysia. "Sekarang saya masih mengonsultasikan konsep dan prosesnya," jelas Dian.

Untuk di dalam negeri, saat ini Mr Tacoz sudah memiliki 40 gerai yang tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia. Sebagian besar gerai tersebut milik mitra usaha.

Selain fokus membesarkan Mr Tacoz , Dian juga sibuk menggarap bisnis lain. Sejak empat bulan terakhir, ia merintis bisnis minuman cokelat di Mr Tacoz. Karena prospeknya lumayan menjanjikan, ia pun memilih memisahkan bisnis ini dengan Mr Tacoz. Untuk brand usaha, ia memberi nama The Soklat.

Hingga kini, The Soklat memiliki lima gerai. Satu di antaranya milik sendiri dan sisanya milik mitra. Sejak awal dirintis, Dian memang langsung menawarkan kemitraan usaha.

Membanderol Rp 7.000 - Rp 8.000 per gelas, ia bisa meraup omzet Rp 8 juta per bulan. Dian meramu bahan baku minuman ini dari bubuk cokelat terbaik, gula singkong rendah kalori, dan susu rendah kolesterol.

Ke depan, Dian ingin mengembangkan usaha ini menjadi rumah cokelat. "Jadi saya tidak lagi menjual minuman cokelat saja, tapi juga berbagai bentuk produk cokelat," papar Dian.

Bersama suaminya, Lin Budiarto juga mengelola usaha pembuatan dan desain gerai dengan brand Bakoel Outlet. Berbekal pengalamannya, Dian paham betul apa yang diinginkan pedagang saat memesan gerai.

Ia mengklaim, gerainya banyak diminati karena harganya lebih murah. Misalnya, untuk ongkos mendesain outlet, Dian hanya membanderol Rp 250.000 per gerai.

Jika membuat gerobak plus desainnya, harganya mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 12 juta. "Harganya bervariasi sesuai desain dan bahan baku yang digunakan," paparnya.

Friday, August 3, 2012

INSPIRASI KARYO SAMPURNO MUSTIKO


Karyo kini sukses jadi juragan soto (1)

Karyo kini sukses jadi juragan soto (1)
Lantaran ngebet untuk melanjutkan kuliah, Karyo Sampurno Mustiko nekad merantau ke Jakarta. Karena tak punya biaya, di Ibu kota, ia merintis usaha soto yang diberi nama Soto Kudus Kauman. Belakangan, usaha sotonya berkembang pesat. Omzetnya mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

Berawal dari keinginan untuk memperbaiki nasib dan bisa meneruskan sekolah hingga ke tingkat perguruan tinggi, Karyo Sampurno Mustiko nekad merantau ke Jakarta. Bersama kakaknya bernama Ludi Priyanto, ia meninggalkan kampung halamannya di Pati, Jawa Tengah.

Saat itu, ia baru saja lulus sekolah menengah atas (SMA) pada tahun 2005. "Ketika itu saya sangat ingin melanjutkan kuliah namun tidak ada biaya," kata Karyo.

Apalagi, kedua orangtuanya saat itu sudah meninggal dunia. Ia pun tertantang untuk mencari biaya kuliah sendiri. Di Jakarta, ia sempat membantu usaha soto milik seorang teman.

Namun, tak lama ia memutuskan membuka usaha soto sendiri. Saat merintis usaha soto ini, ia juga mengajak serta kakaknya. Usaha soto Karyo ini kemudian diberi nama Soto Kudus Kauman.

Pada tahun 2010, mereka kemudian mengajak tiga orang lain untuk bergabung. Mereka adalah Basri, Sikin, dan Ubaidilah.

Setelah berjalan selama tujuh tahun, kini Soto Kudus Kauman menjadi usaha yang cukup besar dan dikenal luas. Pelanggannya mulai dari rakyat biasa hingga pejabat negara. "Pak Boediono (Wakil Presiden) rutin memesan 50 porsi katering ke kami seminggu sekali," ujar Karyo.

Selain dari kalangan pejabat, ia juga kerap menerima pesanan katering dari hotel-hotel bintang lima di Jakarta. Karyo sendiri sempat memperoleh penghargaan sebagai finalis Wirausaha Muda Mandiri tahun 2011 dari Bank Mandiri.

Untuk gerai, saat ini sudah ada 14 gerai Soto Kudus Kauman yang tersebar di kawasan Jabodetabek. Sebanyak sembilan gerai di antaranya milik mitra dan sisanya milik sendiri.

Dari gerai mitra ini, Karyo masih memperoleh dana bagi hasil sekitar 50% dari omzet per bulan. Sementara untuk yang memakai skema waralaba, ada juga royalti fee 5% dari omzet mitra.

Dari situ, total omzet yang masuk ke kantongnya mencapai Rp 150 juta per bulan. "Saya sendiri tak menyangka bisa membesarkan bisnis soto yang awalnya dirintis dari soto kaki lima," ujar anak bungsu dari sembilan bersaudara ini.

Impian awal Karyo untuk meneruskan kuliah pun terwujud. Sejak tahun 2007, ia sudah terdaftar sebagai mahasiswa jurusan pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. "Ini memang sudah menjadi impian saya sejak awal, dan sekarang saya sudah duduk di semester 10," ujar Karyo.

Tidak hanya biaya kuliah, Karyo kini telah bisa membiayai sendiri kebutuhan hidup yang lain dan tidak bergantung lagi kepada kakaknya.

Menurutnya, orang-orang yang ingin membuka usaha tak perlu terlalu menunggu punya banyak kemampuan. "Saya sendiri dulu saat membuka usaha tidak tahu apa-apa tentang soto, apalagi pengalaman berwirausaha" ujar Karyo.

Karyo bilang, setiap orang yang ingin belajar dan terus berusaha pasti bisa terjun ke dunia wirausaha.

Karyo: Gratiskan wanita hamil membawa keberuntung


Dengan modal pinjaman, Karyo Sampurno Mustiko membuka usaha soto kudus. Strategi menggratiskan perempuan hamil makan soto menjadi strategi andalan yang melambungkan Soto Kudus Kauman. Yakin dengan pasar, sejak tahun 2010, Karyo berani mewaralabakan usahanya.

Setelah membantu temannya berjualan soto di Jakarta, Karyo Sampurno Mustiko memberanikan diri membuka usaha kuliner itu sendiri dengan mengusung nama Soto Kudus Kauman.

Menurut Karyo, modal awal untuk berdagang soto adalah hasil pinjaman. "Waktu itu saya pinjam dari teman Rp 1,5 juta," kata Karyo mengenang,

Uang sebanyak Rp 1 juta itu, lantas Karyo gunakan untuk membeli gerobak dan peralatan memasak. Sisanya sebanyak Rp 500.000 dia pakai untuk membayar sewa lapak kaki lima.

Modal usaha Karyo lainnya adalah ilmu meracik soto yang ia dapat selama membantu temannya berdagang makanan itu. Tak disangka-sangka, soto olahannya membekas di lidah para pembeli.

Pelanggan Karyo pun bertambah banyak. Alhasil, usaha sotonya berkembang dan memiliki cabang. Selain rasa soto yang khas, Karyo punya "magnet" lain untuk menarik pembeli.

Salah satunya ialah, setiap pengunjung yang hamil gratis makan soto di Soto Kudus Kauman. Bukan tanpa alasan Karyo memberikan perlakuan istimewa bagi wanita hamil.

Awalnya, Karyo menjelaskan, cara ini bukanlah strategi pemasaran. Tapi, semata-mata lantaran dia teringat pengalaman getir sang ibu yang ketika itu mengidam soto kudus cuma tidak kesampaian.

Maklum, kala itu kondisi ekonomi orang tuanya sangat sulit, sehingga tak mampu membeli soto kudus. Mirisnya, waktu itu tidak ada penjual soto kudus yang iba, meski ibunya tengah hamil.

Karyo mengingat peristiwa itu sebagai perjalanan hidup yang pahit. "Karena uang yang pas-pasan sehingga hanya cukup untuk makan dan bertahan hidup," tutur Karyo getir.

Nah, berangkat dari pengalaman pahit itulah, Karyo berkomitmen untuk tidak menerima bayaran dari perempuan yang tengah hamil. Ternyata, cara itu menjadi strategi dan berkah pemasaran yang jitu. Soto Kudus Kauman makin dikenal orang.

Keberhasilan yang Karyo raih tak membuat ia berpuas diri. Makanya, ketika mendapat tawaran pembinaan usaha dari Kementerian Perdagangan, dia langsung iyakan.

Dari sinilah Karyo mulai mengenal dan belajar mengembangkan usaha dengan sistem waralaba.

Di tahun 2010, Karyo pun mulai mewaralabakan Soto Kudus Kauman. Ia menggandeng tiga temannya, Ubaidilah, Basri, dan Sikin untuk ikut membesarkan usaha soto dengan sistem waralaba. Tak sampai setahun, tiga mitra usaha Karyo pun bergabung bersama Soto Kudus Kauman.

Sayang, saat kesuksesan mulai di depan mata, Karyo pecah kongsi dengan salah satu temannya, Sikin. Sikin membuka usaha soto kudus dengan dengan nama Soto Kudus Kauman juga.

Menurut Karyo, keputusan Sikin berpisah dan mendirikan usaha soto kudus sendiri menjadi cobaan terberat yang pernah dia alaminya selama berwirausaha. Tapi, dia berusaha tidak mempersoalkan kenyataan ini.

Karyo menambahkan, sampai sekarang masalah tersebut belum selesai. Tapi, "Tidak apa-apa yang penting bisa sama-sama menjalankan," ujarnya.

Kini, Karyo cuma bisa berharap Soto Kudus Kauman yang kini sudah punya 14 cabang bisa tetap eksis. Dan, ia akan mengelola sebaik-baiknya.

Karyo ingin sotonya besar seperti McDonald's (3)



Sejak pecah kongsi dengan seorang temannya bernama Sikin, Karyo fokus membenahi manajemen dan sumber daya manusia (SDM) di Soto Kudus Kauman. Ia berharap pembenahan itu bisa membuat usaha sotonya semakin berkibar.

Pengalaman pecah kongsi dengan sang teman sangat membekas Karyo Sampurno Mustiko. Sejak pecah kongsi dengan salah seorang temannya bernama Sikin, ia pun fokus membenahi sistem manajemen dan sumber daya manusia (SDM) di Soto Kudus Kauman.

Karyo tak ingin peristiwa serupa terulang kembali. Seperti diketahui, Sikin kini membuka usaha soto kudus sendiri dengan nama Soto Kudus Kauman juga.

Ia khawatir, tanpa penguatan SDM dan manajemen, maka peristiwa serupa bakal terulang lagi. Karyo sendiri mengakui, pengelolaan SDM-nya masih belum begitu bagus.

Makanya, pembenahan SDM ini menjadi prioritas utama. Selama melakukan pembenahan, Karyo menutup sementara tawaran kemitraan Soto Kudus Kauman. "Selama pembenahan ini saya juga belum akan membuka gerai baru," ujar Karyo.

Ia menargetkan, pembenahan manajemen dan SDM ini bisa selesai paling lambat akhir tahun ini. Menurut Karyo, hingga saat ini permintaan menjadi mitra masih terus berdatangan.

Namun, selama perbaikan belum selesai, ia belum membuka lagi tawaran kemitraan. Karyo bilang, dengan sistem saat ini, mengelola 14 gerai saja ia sudah kewalahan. "Nah, nanti kalau setiap permintaan saya terima tapi tidak siap, sama saja bunuh diri pelan-pelan," ujar karyo.

Ia khawatir, jika kualitas produk dan pelayanan menurun, nama Soto Kudus Kauman bisa buruk di mata pelanggan.

Karyo berjanji, begitu perbaikan internal selesai, ia akan memproses setiap permintaan menjadi mitra. Ia menargetkan, sistem kemitraannya ini akan efektif lagi mulai tahun depan.

Bila pembenahan selesai dilakukan, ia berharap usaha sotonya bisa semakin berkibar. "Harapan saya waralaba Soto Kudus Kauman bisa besar seperti McDonald's," ujar Karyo.

Karyo ingin jaringan gerai sotonya semakin kuat dan menjamur. Minimal, kata dia, di setiap kota ada Soto Kudus Kauman.

Ia juga berharap brand Soto Kudus Kauman bisa semakin kuat di masyarakat. "Sehingga saat mengingat soto, masyarakat mengingat soto kudus Kauman," ujarnya.

Karyo juga ingin waralaba sotonya bisa menjadi tempat nongkrong yang digemari sekaligus trendsetter di lini bisnisnya.

Maka itu, Karyo juga berencana menambah menu-menu baru yang di setiap gerai sotonya. "Namun, soto tetap akan menjadi menu unggulan kami," jelas karyo.

Selain membesarkan usaha sotonya, Karyo juga berniat merambah usaha lain. Saat ini, ia sudah mulai terjun ke usaha laundry. "Saya mulai bisnis ini dari kecil-kecilan," jelas Karyo.

Selain laundry, ia juga sudah merencanakan untuk merambah jenis usaha lain. Namun, Karyo belum mau blak-blakan menyebut sektor usaha yang akan digarapnya.

"Yang penting ada hasilnya dan saya menyukai bidangnya," jelas Karyo yang semakin mantap berwirausaha.

Selama mengelola usaha soto ini, Karyo memang banyak belajar tentang bisnis. Dari sebelumnya awam, kini ia sudah banyak menguasai, terutama bisnis dengan sistem waralaba. Tak heran, bila naluri bisnisnya kian terasah.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/karyo-kini-sukses-jadi-juragan-soto-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/karyo-gratiskan-wanita-hamil-membawa-keberuntung/2012/08/02
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/karyo-ingin-sotonya-besar-seperti-mcdonalds-3

Monday, July 30, 2012

Bashori raih omzet ratusan juta dari sangkar

INSPIRASI M. BASHORI

Bashori raih omzet ratusan juta dari sangkar

Bashori raih omzet ratusan juta dari sangkar
Menekuni usaha pembuatan sangkar burung hias sejak 1990, M. Bashori kini meraup omzet Rp 100 juta per bulan. Sangkar burungnya kini dipasarkan di sejumlah daerah. Selama menekuni usaha ini, ia banyak membuat model baru.

Sejak tahun 1990, M. Bashori telah menjadi perajin sangkar burung di Kota Gede, Yogyakarta. Selain aneka sangkar burung hias dengan ukiran relief, ia juga membuat sangkar burung standar.

"Awalnya saya hanya pembuat gantangan (gantungan sangkar burung) dari perak," ujar Bashori.

Karena Bashori juga pecinta burung, ia pun mencoba-coba membuat sangkar burung. Ternyata, sangkar burung buatannya diminati banyak orang.

Bashori mengaku belajar membuat sangkar burung secara otodidak. "Kata orang sudah menjadi talenta saya," ujar bashori.

Kendati demikian, usaha ini tetap membutuhkan keterampilan khusus. Di bawah bendera usaha Karunia Sangkar Jogja, ia mengaku sudah banyak membuat model baru yang diikuti perajin lainnya.

Tahun 2005, misalnya, ia pernah membuat sangkar burung dengan relief aneka dinosaurus. Tak lama, model sangkarnya booming dan banyak pula yang mengikuti.

Begitu pula saat ia membuat sangkar yang diberi nama Luna Maya. "Eh, kemudian banyak yang mengikuti dan muncul sangkar burung Manohara dan Ayu Ting-ting," ujarnya.

Selain di Pulau Jawa, pelanggan sangkar burungnya juga banyak dari daerah Sumatera dan Sulawesi. Dengan pelanggan yang luas, dalam sebulan ia bisa menerima pesanan hingga 50 sangkar. Omzet yang didapatnya Rp 100 juta per bulan dengan laba bersih sekitar 15%.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/bashori-raih-omzet-ratusan-juta-dari-sangkar

Monday, July 23, 2012

INSPIRASI KAIMAN



Kaiman: Dulu sopir, kini juragan jamur (1)

Kaiman: Dulu sopir, kini juragan jamur (1)

Potensi besar bisnis budidaya jamur tiram telah menggiring banyak orang untuk menggelutinya. Salah satunya, Kaiman, produsen jamur tiram asal Desa Bulukandang, Pasuruan, Jawa Timur. Tak hanya membudidayakan jamur tiram, belakangan Kaiman mulai mengolahnya menjadi aneka makanan ringan.

Bisnis jamur tiram Kaiman berkibar lewat bendera Jatiman Food. Ia bilang, nama ini diberikan oleh salah seorang mahasiswa yang ia temui saat pelatihan di Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna (PPKS) tahun 2005 silam. Jatiman sendiri merupakan kepanjangan Jamur Tiram dari Jawa Timur si Pak Kaiman.

Sebelum menjadi pembudidaya jamur tiram, masa lalu pria paruh baya itu terbilang kelam. Ia hanya seorang supir dan juga tukang palak di desanya. Jalan hidupnya berubah setelah ia mengenal jamur tiram dan lalu diajak ikut serta temannya membudidayakan jamur ini.

Perlahan, usaha Kaiman pun berkembang. Saat ini, Kaiman membudidayakan jamur tiram di tiga wilayah yakni di Bali, serta di Desa Bulukandang dan Desa Dayurejo, Pasuruan.

Untuk membudidayakan jamur tiram, Kaiman harus menyiapkan serbuk kayu sebagai media pembibitan jamur tiram. Ia mendatangkan serbuk kayu langsung dari Jember, Jawa Timur. Konon, serbuk kayu dari Serbuk kayu yang paling pas untuk proses pembibitan jamur tiram adalah yang tidak terlalu lembab dan juga tidak terlalu kering. Setiap pekan, Kaiman mendatangkan sekitar 5 ton-6 ton serbuk kayu.

Serbuk kayu kemudian dijemur di terik matahari seharian dan kemudian disaring dengan saringan kawat kasa berukuran 1,5 meter x 1,5 meter. Serbuk kayu dijemur dan disaring untuk mengurangi kadar air berlebih dan memisahkan serbuk kayu dengan kotoran-kotoran lain.

Setelah dijemur dan disaring, serbuk kayu tersebut dikemas dengan plastik transparan dengan masing-masing berat kemasan yakni 1 kilogram. Media tanam yang sudah jadi itu namanya baglog.

Baglog tersebut kemudian diberi bibit jamur tiram dan dibawa ke tempat penyimpanan hingga jamur tumbuh menjamur. Ruang penyimpanan harus bebas dari pencahayaan. Saban hari, baglog tersebut disirami air untuk merangsang jamur tumbuh.

Dari tiga lokasi budidaya jamur tiramnya, Kaiman sanggup memanen sekitar 5 kuintal-8 kuintal jamur tiram segar setiap hari. Dari bisnis ini, omzet Kaiman bisa mencapai Rp 300 juta - Rp 350 juta tiap bulannya dengan keuntungan bersih 30%, sisanya untuk biaya operasional.

Berkat bisnis ini pula, Kaiman bisa mempekerjakan 40 orang, yakni di Bali ada 20 orang karyawan dan di Pasuruan 20 orang karyawan. Ia mengatakan, permintaan jamur tiram segar paling banyak dari Surabaya dan Bali. Tapi, ia juga memasok ke daerah lain juga seperti Balikpapan. "Bahkan, saya juga ekspor ke Korea Selatan dan China juga," kata Kaiman.

Belakangan Kaiman tak hanya menjual jamur tiram segar. Ia juga mulai mengolah jamur tiram menjadi berbagai camilan ringan. Misal, keripik jamur goreng, keripik jamur tepung, kue kepang jamur dan kue lidah kucing jamur.

Kaiman pantang menyerah meraih sukses (2)


Sukses yang diraih Kaiman dalam membesarkan usaha budidaya jamur tiram penuh dengan lika-liku. Pria kelahiran Desa Bulukandang, Pasuruan, Jawa Timur ini, pernah mengenyam profesi sebagai supir truk untuk sekadar bertahan hidup.

Sebagai pengemudi truk, pemilik merek Jatiman Food ini kerap membawa hasil bumi dari desa-desa di Kabupaten Pasuruan ke luar kota, atau bahkan hingga ke luar Jawa Timur. "Selain jadi sopir, saya biasanya bermain judi bahkan bisa mencuri juga," ujar Kaiman.

Ketika masa sulit itulah, perangkat desa di tempatnya tinggal mengajak Kaiman mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram pada 2005. Pelatihan itu diselenggarakan oleh Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna (PPKS).

Ia pun menyambut baik tawaran itu. Peserta pelatihan itu terdiri dari beberapa kelompok kerja (pokja) dan Kaiman bergabung di dalam salah satu pokja.

Pelatihan itu berlangsung selama sekitar tiga bulan. Awalnya, ia tak yakin jamur tiram bisa membawa perubahan bagi kehidupan ekonomi keluarganya. Kendati begitu, ia tetap mengikuti setiap sesi pelatihan.

Lambat laun, pikirannya mulai terbuka untuk mencoba usaha budidaya jamur tiram. Itulah yang kemudian mengawali langkahnya untuk berwirausaha.

Selesai mengikuti pelatihan, Kaiman langsung mencari modal dengan menggadaikan surat BPKP motornya. "Selain itu ada juga yang pinjam dari keluarga," ujarnya.

Kala itu, modal yang terkumpul tidak lebih dari Rp 500.000. Uang itu dipakainya buat membeli bibit jamur tiram dan baglog (media pembibitan jamur).

Awalnya, ia hanya membudidayakan jamur tiram di rumah. Setelah panen, jamur tersebut ditawarkannya ke pasar-pasar di Pasuruan.

Masa-masa ini penuh dengan perjuangan. Soalnya, jamur tiram saat itu belum begitu populer. Untuk meyakinkan pembeli, ia pun perlu menjelaskan panjang lebar tentang manfaat mengonsumsi jamur tiram. "Waktu jualan di pasar, saya sampai harus membawa kertas dan spidol untuk bisa memberi keterangan bahwa jamur tiram ini bisa dibuat macam-macam," imbuh Kaiman.

Namun, Kaiman tidak patah arang. Pada 2006, ia kembali pelatihan kewirausahaan yang diadakan oleh PPKS di Pekanbaru, Riau. Di tempat pelatihan itu, ia bertemu dengan seorang peneliti jamur asal Belanda bernama Mr. Dwigth.

Dari Dwigth ini, ia mendapat informasi tentang bibit jamur tiram unggul asal Thailand. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, sepulang dari Pekanbaru ia langsung memutuskan untuk membudidayakan jamur tersebut.

Hasilnya memang tidak mengecewakan. Kualitas jamur tiram asal Thailand ini memang lebih menjanjikan dengan rasa yang lebih enak dari jamur biasa.

Ia pun memutuskan untuk terus membudidayakan jamur ini. Alhasil, sejak itu usaha budidaya jamurnya mulai bangkit, hingga menjadi seperti sekarang.

Selain dijual di kawasan Surabaya, jamur hasil budidayanya kini dipasarkan juga ke daerah-daerah lain, seperti Bali dan Balikpapan. Bahkan, ia juga merambah pasar ekspor ke Korea Selatan dan China.

Kaiman jadi mentor usaha jamur sampai Timor (3)



Setelah sukses dengan usaha budidaya jamur tiram, Kaiman kini kerap diundang mengisi pelatihan seputar usaha tersebut. Bahkan, ia sering memberi pelatihan budidaya jamur di Timor Leste.

Kaiman kini dikenal sebagai sosok pengusaha yang cukup sukses di bidang usaha budidaya jamur tiram. Karena kesuksesannya itu pula, ia kerap diundang untuk berbagi pengalaman seputar usaha budidaya jamur tiram.

Bahkan, Kaiman juga beberapa kali ke Timor Leste guna membagikan ilmunya kepada masyarakat setempat yang ingin mengembangkan usaha jamur tiram seperti dirinya. Kaiman bilang, sepanjang tahun ini telah dikontrak oleh Dinas Pertanian Timor Leste. "Saya diminta mengajari petani di negara tersebut seputar usaha budidaya jamur tiram," ujarnya.

Guna memenuhi kontrak tersebut, saban bulan ia harus terbang ke wilayah yang pernah menjadi bagian dari Indonesia itu.

Di luar itu, ia juga masih kerap diundang untuk tampil sebagai pembicara. Bahkan, Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna (PPKS) juga sering memintanya menjadi pembicara dalam beberapa pelatihan budidaya jamur tiram.

Ia mengaku senang jika diminta menjadi pembicara. "Senang karena bisa bantu petani juga," ujarnya.

Di sela kesibukannya sebagai pembicara, ia juga tetap fokus membesarkan usahanya. Bahkan, ia mulai membudidayakan jamur kuping juga.

Ia mengatakan, telah mengekspor jamur kuping ke sejumlah negara, seperti China dan Korea Selatan. Menurutnya, permintaan jamur kuping di dua negara itu tergolong tinggi.

Potensi permintaannya dalam sebulan mencapai 10 ton. Namun, Kaiman baru bisa mengekspor lima sampai delapan kuintal. Selain China dan Korea, permintaan jamur kuping juga datang dari Vietnam. Jumlahnya mencapai lima ton per bulan.

Ekspor jamur itu tidak dilakukannya langsung, melainkan melalui distributor. "Kami ekspor kering, kalau segar bisa busuk di jalan," ujarnya.

(Selesai)
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/kaiman-dulu-sopir-kini-juragan-jamur-1/2012/07/23

Friday, July 13, 2012

INSPIRASI RIYADH RAMADHAN

INSPIRASI RIYADH RAMADHAN

Menjadi jutawan muda berkat bisnis gorengan

Menjadi jutawan muda berkat bisnis gorengan (1)
KENDATI usianya masih muda, Riyadh Ramadhan sudah berani memulai usaha. Di usia 19 tahun, ia sudah memiliki bisnis gorengan di Surabaya dengan omzet ratusan juta per bulan. Bisnis ini dirintisnya tahun 2009, saat ia masih berusia 16 tahun.
Saat itu, ia baru duduk di kelas satu sekolah menengah atas (SMA). Lantaran usianya yang masih belia, ia pernah dinobatkan sebagai Entrepreneur Termuda 2010 versi Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.
Riyadh memulai bisnis secara autodidak. Semua berawal dari kegemarannya memasak. Suatu ketika, naluri bisnisnya bangkit setelah melihat peluang usaha gorengan. "Saya melihat di Surabaya banyak penjual gorengan, lalu saya berpikir untuk membikin sendiri," kata Riyadh.
Keinginan untuk berbisnis itu kemudian diutarakannya kepada kedua orangtuanya. Walau masih muda, orangtua Riyadh menyambut baik keinginan anaknya itu untuk berbisnis. Kebetulan, orangtua Riyadh memang memiliki jiwa bisnis.
Mereka berprofesi sebagai wiraswasta. Namun, usaha yang mereka kelola bukan bergerak di bidang makanan. "Mereka mengelola lembaga pendidikan," ujar Riyadh.
Awal terjun ke bisnis ini, Riyadh mencoba menawarkan sesuatu yang baru. Tidak seperti gorengan di pinggir jalan, ia memilih lokasi di pusat perbelanjaan. Konsep gerainya juga dibuat menyerupai kafe. Selain gorengan, ia juga menyediakan beragam pilihan minuman.
Dengan label Go Crunz, ia menawarkan menu gorengan, seperti kentang, jamur, dan ayam, hingga otak-otak ikan. "Total ada sembilan menu gorengan," katanya.
Gorengan itu dibanderol Rp 6.000-Rp 9.000 per kotak. Setiap kotak berisi empat sampai lima gorengan. Ternyata, banyak yang menyukai gorengan buatan Riyadh. Lalu dia membuka dua gerai lagi dengan konsep booth.
Dari ketiga gerai itu, total omzet yang didapatnya mencapai Rp 120 juta per bulan, dengan laba sekitar 40% dari omzet. Lantaran respon pasar positif, sejak tahun 2010, Riyadh resmi menawarkan kemitraan usaha. Saat ini, jumlah gerainya sudah 12 gerai.Perinciannya, tiga milik sendiri dan sisanya milik mitra. Mitra usahanya itu tersebar di beberapa kota, seperti Jakarta, Bekasi, Malang, hingga Balikpapan.
Dalam kemitraan ini, ia menawarkan dua paket investasi. Yakni, paket booth sebesar Rp 39 juta dan paket kafe Rp 110 juta.
Berdasarkan pengalamannya, omzet paket booth ditargetkan Rp 500.000-Rp 700.000 per hari. Sementara paket kafe Rp 1,5 juta-Rp 2 juta per hari.Dalam kemitraan ini, ia memasok bumbu dan kemasan kepada seluruh mitra bisnisnya.


Awalnya menjadi penjual gorengan di sekolah

Awalnya menjadi penjual gorengan di sekolah (2)
Tekad Riyadh Ramadhan untuk memiliki bisnis di usia muda sangat kuat. Karena tekad yang kuat itu, ia pun tak risih meski harus harus memulai usaha dari menjajakan gorengan di sekolahnya.
Riyadh memang mengawali kesuksesan bisnisnya sebagai penjual gorengan. Pertama menjadi penjual gorengan, dia membidik teman-teman sekelasnya sebagai konsumen.
Setiap jam istirahat sekolah, Riyadh tidak sungkan mengeluarkan dagangan yang ia bawa setiap hari dari rumah. Sebagai remaja yang baru duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), sebenarnya dia agak canggung dan malu berjualan di sekolahnya.
Apalagi, Riyadh juga sering menjadi bahan olok-olokan dari teman-teman sekolahnya. "Beberapa nada sumbang berupa ejekan sempat terdengar dari teman," kenangnya.
Bukannya berhenti, makin lama makin banyak teman yang mengejeknya sebagai penjual gorengan. Awalnya, ia sempat minder dan ingin mundur dari bisnisnya itu.
Namun, Riyadh tetap berpikir positif bahwa apa yang ia lakukan sudah tepat. Lagi pula, dia merasa tidak ada yang dirugikan dari bisnisnya itu.
Sementara bila mundur, keinginannya untuk memiliki usaha akan pupus.
"Orangtua saya juga sering menguatkan mental saya untuk tidak mundur hanya karena mendapat ejekan dari teman," ujarnya.
Atas dorongan orang tuanya, Riyadh berusaha membuang jauh-jauh semua perasaan sakit hati yang ia alami di sekolah. Namun, seiring berjalannya waktu, justru banyak temannya yang mulai menyukai gorengannya. Bahkan,teman-teman yang tidak sekelas dengannya juga ikutan meminati gorengan buatan Riyadh.
Lantaran pesanan gorengannya makin banyak, ia selalu berusaha bangun tidur lebih awal untuk mempersiapakan dagangannya. Riyadh selalu bangun tidur jam tiga dinihari setiap hari.
Di pagi buta itu, dia menyiapkan semua bahan yang diperlukan, termasuk meracik sendiri tepung gorengannya. "Saya menjalani semuanya dengan semangat," katanya.
Selama setahun menjajakan gorengan di sekolah, ia pun mulai terpikir untuk mengembangkan usahanya. Hingga suatu saat Riyadh menemukan ide untuk membuka kafe di mal.
Lagi-lagi, orangtuanya mendukung penuh rencananya tersebut. Berbekal keuntungan usaha selama setahun serta sokongan dana dari orangtuanya, Riyadh pun mulai merintis pendirian kafe di salah satu mal di Surabaya.
Riyadh memberi nama kafe itu Go Crunz, yang sampai sekarang masih menjadi label usahanya. Di kafe itu ia menyediakan menu gorengan, seperti kentang, jamur, ayam, dan otak-otak ikan.
Tak ingin mengecewakan orangtua yang sudah mendukungnya dan juga tanggung jawab terhadap diri sendiri karena uang tabungannya ludes untuk modal usaha, Riyadh pun total di bisnis ini.
Guna mengembangkan usahanya, ia kemudian menawarkan kemitraan pada Oktober 2010. Guna menjaring mitra, Riyadh rajin mengikuti pameran waralaba di daerahnya.Kerja kerasnya tidak sia-sia. Di bulan pertama menawarkan kemitraan, ia sukses menjaring tujuh mitra.

Terus latih mental dan mimpi go international (3)


Komentar
Telah dibaca sebanyak 320 kali
Terus latih mental dan mimpi go international (3)
SUKSES di usia muda mungkin menjadi impian banyak orang, begitupun Riyadh Ramadhan. Ia tak menyangka, bisnisnya akan tumbuh cepat. Toh begitu, tak mudah membangun bisnis di usia belia.
Riyadh mengaku banyak kendala yang ia hadapi. Misal, ia sempat kesulitan membuat sistem manajerial usaha yang baik. Alhasil, ia sering gonta-ganti karyawan lantaran kinerja pegawainya tak memuaskan.
"Karena usia saya yang lebih muda, banyak karyawan yang tak menghormati saya sebagai pimpinan, sehingga kinerja mereka tak maksimal," terangnya.
Tak kehabisan akal, Riyadh pun rajin melahap buku mengenai manajemen dan kepemimpinan. Ia pun kerap mengikuti ajang entrepreneurship bagi anak muda seusianya.
Meski tak menyabet predikat sebagai juara, Riyadh tak berkecil hati. "Tujuan utamanya bukan juara, tapi lebih pada pembelajaran karakter dan jiwa kepemimpinan dari para pengusaha muda," ungkapnya.
Bukan sekadar memetik ilmu, dari ajang kompetisi itu Riyadh juga bisa membuka jaringan yang lebih luas. Dari situ, ia mulai belajar akan pentingnya manajerial usaha agar usaha makin berkembang.
"Dalam usaha, pemasaran memang penting tapi belajar menjadi seorang pimpinan yang baik juga tak kalah penting," katanya.
Dari kompetisi tersebut, Riyadh mengaku pikirannya kian terbuka. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus ia benahi, terutama manajemen usaha. Hal utama yang langsung Riyadh lakukan adalah mengubah gaya kepemimpinannya.
Riyadh bilang, ia sekarang lebih tegas namun bukan berarti berubah jadi pribadi yang galak dan ditakuti karyawannya. Selain itu, ia mencoba menerapkan metode kekeluargaan dalam manajemen Go Crunz.
Dengan perubahan gaya kepemimpinan itu, sekarang manajemen usahanya jauh lebih solid. "Dalam beberapa bulan terakhir, tidak ada lagi gonta-ganti karyawan," jelasnya.
Bukan itu saja, menyadari bahwa ia adalah principal dari sebuah brand yang juga melibatkan orang lain, Riyadh menganggap semua mitra usahanya merupakan saudara dekatnya. Hal ini pula yang membuat dia cenderung lebih selektif memilih mitra usaha.
Salah satu patokannya memilih mitra adalah merasa klop saat pertama kali bertemu dengan calon mitra. "Jadi ada chemistry dalam berkomunikasi," ungkap mahasiswa jurusan Desain Manajemen IBMT International University ini.
Insting itulah yang akhirnya membuat Riyadh memiliki sembilan mitra. Dia mengklaim semuanya loyal dan memenuhi ekspektasi membesarkan franchise Go Crunz.
Kendati bisnisnya makin mengembang, tak membuat Riyadh cepat puas. Ia mengatakan, masih harus terus belajar agar usaha kian membesar.
Ia pun menyimpan mimpi bahwa merek Go Crunz dalam beberapa tahun ke depan bisa go international seperti Kebab Baba Rafi milik Hendy Setiono. Ia menyebut Hendy sebagai mentor andal dan telah menginspirasi dirinya.


http://peluangusaha.kontan.co.id/news/riyadh-rintis-sukses-sebagai-penjual-gorengan-1/2012/07/13
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/awalnya-menjadi-penjual-gorengan-di-sekolah-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/terus-latih-mental-dan-mimpi-go-international-3