Wednesday, November 30, 2011

4 Alasan Mengapa Israel Unggul dalam Entrepreneurship

Views :3071 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 30 November 2011 14:35
entr1111Kewirausahaan merupakan kunci kemakmuran suatu negara. Demikian yang sering kita dengar dari berbagai ceramah dan paparan mengenai entrepreneurship selama ini. Memang demikianlah adanya, sebuah lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan usaha-usaha baru dan entrepreneur-entrepreneur inovatif penting artinya dalam kemajuan kesejahteraan suatu bangsa. Tetapi kadang lingkungan yang kondusif itu bukanlah lingkungan yang damai memanjakan. Justru lingkungan yang penuh keterbatasan, penuh konflik berpeluang lebih tinggi dalam menelurkan ide-ide bisnis dan perusahaan-perusahaan baru yang menguntungkan.

Anda bisa saja menyangkal hipotesis ini. Namun, jika kita menilik Israel, sangkalan Anda akan tertolak mentah-mentah. Di sebuah negara yang tingkat keamanannya bahkan sangat rendah dan dipenuhi dengan kekerasan setiap saat, sangat mengherankan bahwa entrepreneurship bisa tumbuh begitu subur di sana dibandingkan belahan bumi lainnya yang lebih aman dan stabil. Apa rahasianya?

Sebuah kajian dilakukan oleh Sarah Lacy, mantan editor senior blog Techcrunch.com, dalam bukunya “Brilliant, Crazy, Cocky: How the Top 1% of Entrepreneurs Profit from Global Chaos”. Lacy kemudian memaparkan sejumlah faktor menarik yang bisa menerangkan fakta yang cukup ironis, yaitu Israel yang meskipun didera oleh konflik yang berkepanjangan mampu menggenjot pertumbuhan entrepreneur-entrepreneur barunya.

Mentalitas ‘chutzpah’
Terminologi ‘chutzpah’, demikian menurut Lacy, merupakan sikap mental pertama yang menjadi faktor pendorong suburnya entrepreneurship di sana. ‘Chutzpah’ sendiri adalah sebuah sikap yang erat kaitannya dengan keberanian, pantang mundur, dan kesombongan (dalam en.Wikitionary.org dikatakan bahwa makna chutzpah adalah “nearly arrogant courage”- keberanian yang hampir seperti sikap sombong).

Keberanian yang meluap-luap dalam jiwa masyarakat Israel dalam mempertahankan tanah yang ia duduki tecermin dengan jelas saat anak-anak muda Israel ini terjun dalam kancah entrepreneurship. Sikap tersebut, kata Lacy dalam bukunya, bisa dilacak asalnya dari kewajiban bagi sebagian besar anggota masyarakatnya untuk menghabiskan 2-3 tahun sepanjang hidupnya dalam wajib militer Israel. Pemuda-pemudi Israel sudah terlatih untuk tidak takut mati. Dan jika Anda menemui seseorang yang tak takut dengan kematian, mengapa ia harus memiliki alasan untuk merasa takut dengan kegagalan berbisnis yang tidak akan membunuhnya? Separah apapun kegagalan berbisnis, mereka berpikir masih bisa bangkit dan masih ada harapan, karena mereka masih menghembuskan nafas.

Dengan memasuki wajib militer pada usia belia, sebagian besar anak muda Israel juga sangat terbiasa dengan lingkungan yang keras dan kritis. Mereka tidak terbiasa tunduk (berkat ketiadaan hirarki militer yang rumit) pada perintah atasannya tanpa alasan yang menurut mereka cukup kuat untuk meyakinkan mereka. Dan sikap kritis tersebut juga turut dipraktikkan saat memulai usaha baru. Sikap kritis juga membuat mereka haus dengan hal-hal baru, sebuah karakteristik yang sangat entrepreneurial.

Kebijakan pemerintah yang 100% pro-entrepreneurship
Sebagai kompensasi atas mandeknya perekonomian di pertengahan dekade 1970 dan pertengahan 1980-an, pemerintah Israel merancang serangkaian gerakan yang berfungsi sebagai pondasi untuk teknologi tinggi yang sangat menguntungkan yang akan menghasilkan  lebih banyak jutawan baru dan memupuk perekonomian agar terus tumbuh melampaui negara maju selama 15 tahun terakhir ini (BCC, 49).  Bahkan dalam kondisi yang terjepit kekerasan seperti sekarang pun, pemerintah Israel masih memiliki waktu dan tenaga yang besar untuk kemajuan entrepreneurship bangsanya.

Pemerintah Israel tak segan-segan untuk menghabiskan waktu, tenaga dan dana yang besar demi mendirikan sebuah ekosistem, perangkat hukum dan kebijakan yang mendukung pertumbuhan lebih banyak entrepreneur baru yang inovatif. Bahkan pemerintah Israel memutuskan untuk membuka sebagian kebijakan ‘penghalang’ yang bisa mencegah masuknya lebih banyak investasi asing di teritorinya. Tahun 1993, pemerintah dirikan sebuah badan pendanaan bernama Yozma. Tujuan Yozma ialah mendorong terciptanya sebuah ekosistem modal ventura lokal yang menarik bagi investor asing terutama Amerika Serikat.

Kebijakan migrasi yang ‘terbuka’
Pemerintah Israel sangat ‘terbuka’ dengan pendatang baru di wilayah mereka, meski dengan catatan pendatang tersebut harus memiliki darah Yahudi. Mereka tidak membatasi imigran luar yang datang meskipun mereka tidak terlalu menguntungkan secara ekonomis. Pemerintah sama baiknya menyambut seorang imigran yang gagap teknologi dan imigran lain yang terpelajar dan memiliki kompetensi dalam berbisnis. Dan seperti yang sudah banyak kita ketahui, kaum imigran justru memiliki karakteristik yang lebih menonjol saat terjun dalam entrepreneurship. Karakteristik imigran yang khas seperti keberanian memulai dan mempelajari hal-hal baru di lingkungan yang sepenuhnya asing dan kurang bersahabat dengan selera asli mereka sangat memacu tumbuhnya semangat entrepreneurship dalam diri setiap warga Israel, terutama mereka yang masih belia.

Penentuan waktu yang tepat (right timing)
Menurut Lacy, sejumlah perusahaan baru muncul terlalu dini dan sebagian lainnya muncul terlambat. Maka dari itu, sebuah penentuan waktu yang tepat sangat diperlukan. Israel adalah sebuah negara yang mampu dengan sangat baik menentukan waktu dengan baik untuk mencurahkan perhatian terhadap pengembangan sebuah ekosistem entrepreneurship dengan pertumbuhan yang tinggi. Modal ventura menjadi makin besar sebagai kelompok aset sehingga banyak perusahaan baru di Israel yang mulai untuk berpikir secara global.  (*/Akhlis)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/pendidikan/serba-serbi/87-studi-kasus/13149-4-alasan-mengapa-israel-unggul-dalam-entrepreneurship.html

No comments:

Post a Comment