Tuesday, May 15, 2012

SENTRA BURUNG SUKAHAJI, BANDUNG, JAWA BARAT


SENTRA BURUNG SUKAHAJI, BANDUNG, JAWA BARAT

Dipajang di trotoar (1)


Sentra burung Sukahaji: Dipajang di trotoar (1)


Pasar Burung Sukahaji di Jalan Peta, Bandung sudah kesohor di kalangan para pecinta burung. Di tempat ini ada 152 kios yang menyediakan banyak pilihan burung berkicau. Selain di dalam pasar, banyak juga pedagang yang membuka lapak dagangan di trotoar jalan.

Burung termasuk salah hewan piaraan favorit. Sejak lama, banyak orang yang hobi memelihara binatang ini, terutama jenis burung kicau. Banyak alasan kenapa burung kicau menjadi hewan peliharaan yang diminati. Misalnya karena kicauannya yang merdu.

Lantaran banyak pehobi burung, hampir di setiap daerah terdapat sentra penjualan burung kicau. Di Bandung, Anda dapat menemukan sentra penjualan burung kicau di Jalan Peta.

Di jalan ini terdapat Pasar Burung Sukahaji yang diramaikan sekitar 152 pedagang. Akses menuju pasar ini tidak sulit. Jika dari Jakarta dan melewati jalan tol, Anda bisa keluar di pintu tol Pasir Koja. Selanjutnya tinggal lurus saja hingga sampai di Jalan Peta. Di ujung jalan ini Anda tinggal belok kanan dan langsung menemukan Pasar Sukahaji.

Pasar seluas 5.800 meter persegi ini diisi 152 kios pedagang burung. Masing-masing kios berukuran sekitar 4 meter persegi. Itu belum termasuk kios milik pedagang yang mangkal di trotoar jalan di depan pasar.

Hampir setiap hari, tempat ini ramai dikunjungi para pecinta burung. Saat KONTAN menyambangi pasar ini Minggu (22/4), jumlah pengunjung terlihat membeludak. Selain di dalam pasar, banyak juga pembeli yang mengerubuti pedagang yang mangkal di trotoar.

Di trotoar jalan itu, pedagang mendirikan tenda yang bisa dibongkar pasang. Mereka memilih berjualan di trotoar karena di dalam sudah tidak ada tempat.

Layaknya pasar burung lainnya, ketika memasuki pasar ini Anda akan langsung disambut dengan aneka kicauan burung. Tapi, siap-siap saja mencium bau tidak sedap dari tempat ini.

Walau berbau, hal itu tidak menyurutkan minat para pembeli untuk berburu burung di tempat ini. Terlebih, koleksi burung kicau yang diperdagangkan terbilang lengkap.

Di antaranya beo, murai, jalak, jalak bali, cucak rawa, gelatik, kenari, kutilang emas, kutilang lumut, cap jenggot dan banyak jenis lainnya. Harganya tentu berbeda-beda, tergantung jenis dan kualitas burung.

Selain itu, "Harga yang dijual pedagang yang mangkal di trotoar lebih murah dibanding dengan yang di dalam pasar," klaim Yosef, pedagang yang membuka lapak di trotoar jalan.

Umumnya, menurut Yosef, harga burung kicau terbagi dua kelompok. Yakni, burung yang sudah bisa berkicau dan belum berkicau atau masih bahan. " Kalau masih bahan itu baru ditangkap dan lebih murah," jelasnya.

Ia sendiri menjual burung mulai dari jenis kutilang emas seharga Rp 150.000, hingga murai seharga Rp 1,2 juta per ekor. Menurutnya, murai seharga itu masih termasuk bahan. "Kalau sudah bunyi Rp 2 juta per ekor," ucapnya. Yosef bisa menjual minimal lima ekor burung per hari, dengan omzet Rp 400.000-Rp 500.000. Sebulan omzetnya mencapai Rp 15 juta.

Adi Kurniawan, pedagang lainnya bilang, burung-burung berharga mahal, seperti beo dan murai tidak banyak pembelinya. Yang banyak dicari burung yang harganya sekitar Rp 100.000 per ekor. Dalam sehari, ia mengaku mendapat omzet Rp 1,5 juta-Rp 2 juta. "Tergantung rezeki juga sih," ujarnya.

Jaja, salah seorang pembeli, mengaku suka berburu burung di tempat ini karena koleksinya lengkap. "Selain itu, harga burung yang dijual juga masih bisa ditawar," jelasnya

 

Rezeki meluber (2)


Sentra burung Sukahaji: Rezeki meluber (2)


Pasar Burung Sukahaji di Jalan Peta, Bandung, selalu ramai diserbu pembeli. Aktivitas jual beli juga meluber hingga ke trotoar jalan di depan pasar. Maklum, banyak pedagang yang tak kebagian tempat di pasar berjualan di trotoar. Lantaran lebih murah, mereka banyak mendapat penghasilan dari pembeli borongan.

Pasar Burung Sukahaji di Jalan Peta, Bandung, merupakan pasar burung terbesar di wilayah Bandung, Jawa Barat. Namun, pasar seluas 5.800 meter persegi ini sudah tidak sanggup lagi menampung para pedagang yang ada. Akibatnya, banyak pedagang yang membuka lapak hingga ke trotoar jalan di depan pasar.

Bahkan, pedagang sudah menggelar barang dagangannya di trotoar sejak 500 meter sebelum masuk pasar. Aktivitas jual beli di trotoar ini tidak kalah ramainya dibandingkan dengan di dalam pasar.

Ketika KONTAN menyambangi pasar ini, Minggu (22/4), jumlah pengunjung terlihat membeludak dan memenuhi setengah jalan raya. Alhasil, kondisi itu menimbulkan kemacetan, sehingga pengendara harus melambatkan kendaraannya.

Pasar di trotoar ini ramai diserbu pembeli karena harganya lebih murah dibanding di dalam pasar. Pasalnya, burung yang diperdagangkan umumnya belum bisa berkicau atau masih bahan yang baru ditangkap dari hutan.

Selain itu, mereka juga tidak membayar sewa kios. "Kami hanya membayar uang kebersihan Rp 2.000 per hari," ujar Yosef, pedagang yang membuka lapak di trotoar jalan.

Untuk menarik perhatian konsumen, terkadang mereka juga menjual burung yang sudah mulai bisa berkicau dengan harga lebih murah. Tetapi, pembeli harus membeli secara borongan.

Sekali borong, para penjual burung bisa mendapatkan hingga puluhan juta dari si pembeli. Contohnya, Adi Kurniawan, pedagang burung di Pasar Sukahaji ini. Jika ada pembeli borongan, ia bisa meraup omzet sekitar Rp 8 juta sampai Rp 10 juta hanya pada hari itu juga. "Belum lama ada pembeli dari Lampung yang memborong 12 burung sekaligus," jelas Adi.

Untuk pembeli borongan ini, ia memberikan potongan harga. Contohnya, burung murai. Jika belum lancar berkicau burung ini dibanderol Rp 1,2 juta per ekor. Tapi, jika ada pembeli borongan, harganya diturunkan menjadi Rp 900.000 per ekor.

Yosef juga kerap mendapat pembeli borongan. Jika sedang ada pembeli borongan, ia bisa meraup omzet Rp 2,5 juta dalam sehari. Umumnya, pembeli borongan ini merupakan pedagang atau pehobi burung juga di daerah asalnya. Burung yang mereka beli biasanya masih bakalan. Kalau pun sudah berkicau, paling-paling baru di tahap belajar.

Stanislaus, pedagang lain juga mengaku sering ketiban rezeki dari mereka yang membeli burung secara borongan ini. Jika biasanya meraup omzet rata-rata Rp 600.000 per hari, kalau ada borongan omzetnya naik menjadi Rp 3 juta.

Kendati demikian, pembeli borongan ini tidak setiap hari ada. Dalam sebulan paling hanya ada satu sampai dua kali. Selebihnya, mereka lebih banyak melayani pembeli dari wilayah Bandung dan sekitarnya.

Untuk menarik minat pembeli eceran ini, pedagang biasanya menjual burung plus sangkarnya dengan harga miring. Sebagai contoh, burung kutilang emas yang dibanderol Rp 150.000 per ekor. Agar konsumen tertarik, harga diturunkan sedikit maka pembeli sudah mendapatkan burung dan sangkar. "Biasanya sangkar burung kami jual dengan harga Rp 10.000," ujar Adi.

Pasokan berlimpah (3)

Sentra burung Sukahaji: Pasokan berlimpah (3)

Pasar burung Sukahaji, Bandung, Jawa Barat bukan cuma ramai oleh calon pembeli. Saat akhir pekan, di sentra ini juga kedatangan pemasok burung yang sengaja datang dari daerah untuk menawarkan burung ke pedagang maupun ke pembeli.

Berkunjung ke sentra burung Sukahaji, Bandung, Jawa Barat, Anda bisa mendapatkan aneka jenis burung. Mulai burung murai asal Lampung dan Medan, jalak bali, cucak rawa, gelatik, kenari, kutilang emas, kutilang lumut, cap jenggot dan masih banyak lagi jenis lainnya. Wajar, bila di sana, hampir semua burung populer bisa dijajakan. Pasalnya, banyak pedagang yang mendapat pasokan burung dari berbagai daerah.

Yosef, salah seorang pedagang burung mengaku selalu mendapat pasokan burung dari para pemasok dari luar kota Bandung. Antara lain dari Ciwidey, Pengalengan, Lampung, bahkan hingga Medan. Ia bilang, murai asal Lampung umumnya lebih murah dengan harga sekitar Rp 1,2 juta per burung, sementara burung murai asal Medan, harganya lebih mahal yakni bisa mencapai Rp 2 juta per ekor.

Mahalnya burung Murai asal Medan bukan tanpa sebab. Menurut Yosef, Murai asal Medan memiliki bulu yang lebih indah dan ekor yang lebih panjang. Selain itu, kicauannya juga lebih merdu jika dibandingkan dengan murai asal Lampung.

Demikian juga dengan burung beo yang bisa diajak bicara. "Burung beo di sini ada yang dipasok langsung dari Kalimantan," jelas Yosef.

Yosef bilang, ada banyak pemasok burung dari daerah yang langsung menjual burung dagangan mereka kepada para pedagang di pasar ini. Ini memudahkan pedagang di sentra ini karena mereka tak perlu lagi berburu sendiri burung dari daerah.

Adi Kurniawan pedagang burung lainnya juga mengaku sering memperoleh pasokan burung-burung miliknya dari Ciwidey, Solo, Medan, Kalimantan, Lampung, dan Kalimantan.

Dagangan Adi kebanyakan burung jenis murai asal Medan dari pada asal Lampung. Alasannya, Burung Murai asal Medan lebih mahal tapi bisa mendatangkan laba lebih tinggi. "Biasanya para pemasok dari daerah langsung mengantarnya ke sini lalu kami membelinya dari mereka," jelas Adi.

Sementara burung beo miliknya ia peroleh dari pemasok asal Kalimantan. Ia biasanya membanderol beo yang baru ditangkap dari alam Rp 1 juta per ekor. "Beo yang kami jual di sini, rata-rata sudah bisa menyuarakan beberapa kata," jelasnya.

Perputaran burung di sentra ini juga sangat cepat. Sehingga pedagang tak perlu memelihara burung-burung tersebut dalam waktu lama.

Stanislaus, pedagang lain pilih fokus kepada burung-burung yang berasal dari Bandung dan sekitarnya. Ia membeli dari para pemasok dengan dalam jumlah borongan maupun per jenis burung saja. Dengan cara pembelian itu, ia bisa mendapatkan harga yang lebih murah.

Biasanya, pemasok burung yang datang ke sentra Sukahaji pada akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu. Pasalnya, selain menawarkan dagangan kepada pedagang di sentra ini, pemasok ini juga sering menawarkan langsung kepada pembeli.

Mereka menyadari, jumlah pengunjung di sentra ini membeludak di akhir pekan ketimbang hari biasa. Bahkan para pedagang mengklaim omzet mereka meningkat dua sampai tiga kali lipat dibandingkan hari biasanya.
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-burung-sukahaji-dipajang-di-trotoar-1/2012/05/10
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-burung-sukahaji-rezeki-meluber-2/2012/05/14
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-burung-sukahaji-pasokan-berlimpah-3/?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter


2 comments:

  1. Saya punya Stock burung Rio rio (Jalak Sulawesi)
    ratusan ekor,
    dan siap untuk dipasarkan.
    No Hp;
    085 395 751 911

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete