Sunday, May 6, 2012

Pebisnis Harus Berubah

Pebisnis Harus Berubah
| Marcus Suprihadi | Minggu, 6 Mei 2012 | 12:47 WIB

TRIBUNNEWS.COM/BIAN HARNANSA Ilustrasi pesawat Garuda

KOMPAS.com- Hari-hari ini, publik Indonesia disuguhkan berita menarik mengenai penjualan saham Garuda Indonesia Tbk. Terakhir diberitakan mengenai pembelian 10,27 persen saham Garuda oleh PT Trans Airways milik PT Trans Corporation.
Kemajuan Garuda baru terasa menarik dibahas kalau kita mencoba melihatnya dari aspek spesifik. Misalnya, perusahaan ini sangat rajin meninjau kelayakan rute penerbangan.
Berita ini menarik untuk beberapa hal, di antaranya, pertama, nama Garuda Indonesia tengah bagus-bagusnya. Lembaga riset Australia Roy Morgan pada Maret lalu menyatakan Garuda sebagai the Best International Airline. Penumpang selalu ”hampir penuh” dan total pendapatan Garuda tahun 2011 mencapai Rp 27,2 triliun, naik 39,2 persen dibandingkan dengan pendapatan tahun 2010. Laba komprehensif mencapai Rp 858,8 miliar, naik 285,4 persen dari tahun 2010. Penjualan sebesar 10,27 persen saham itu senilai Rp 1,439 triliun.
Hal kedua, pembeli saham Garuda itu adalah PT Trans Corporation, milik Chaerul Tanjung. Pembelian saham Garuda ini kian meneguhkan posisi PT Trans Corporation sebagai salah satu raksasa bisnis di Indonesia. Usaha Trans Corporation kini merebak mulai dari kafe, perbankan, sentra ritel raksasa, hiburan dan hotel, hingga media televisi.
Kinerja yang diraih Garuda Indonesia patut dicatat sebagai fenomena baru maskapai penerbangan dunia. Garuda menjadi lebih baik dalam hal pelayanan dan mutu, merupakan hal wajar. Sebab, semua maskapai dunia mengejar kualitas dan layanan prima. Kalau kemudian penumpang Garuda selalu penuh sesak, baik penerbangan di dalam maupun di luar negeri, itu juga merupakan hal wajar. Sebab, terjadi lonjakan signifikan golongan menengah di Indonesia dan lonjakan kepercayaan warga dunia terhadap Garuda.
Kemajuan Garuda baru terasa menarik dibahas kalau kita mencoba melihatnya dari aspek spesifik. Misalnya, perusahaan ini sangat rajin meninjau kelayakan rute penerbangan. Lihatlah, misalnya, ketika diketahui rute Jakarta-Amsterdam dan Amsterdam-Jakarta tidak selalu penuh, manajemen perusahaan ini mengurangi frekuensi penerbangan. Kalau ada keberatan dari konsumen, itu urusan kemudian.
Perusahaan ini pun rajin masuk ke rute-rute yang sangat gemuk. Kalau rute itu penuh sesak dengan maskapai lain, Garuda tetap percaya diri untuk berkompetisi, bahkan berani menjual tiket jauh lebih mahal di banding maskapai dalam negeri lainnya. Dan, Garuda tetap sangat diminati. Ini salah satu aspek yang membuat Garuda mampu meraih kinerja bagus.
Dalam konteks global, kinerja Garuda bisa disebut sebuah fenomena yang menarik dibahas. Ia naik daun ketika maskapai penerbangan lain, seperti JAL, Singapore Airlines, Swiss Air, Malaysia Airlines, dan Lufthansa, tidak meraih kinerja luar biasa. Beberapa perusahaan tersebut malah menderita kerugian sehingga harus dibantu pemerintahnya.
Jika dilihat lebih jauh, bisa disebutkan bahwa dari banyak aspek, terdapat beberapa hal penting yang dilakukan Garuda, yakni keinginan berubah yang luar biasa. Segenap pimpinan dan kru Garuda ingin membawa maskapai ini lebih baik lagi. Jika itu teraih, nama bangsa ini juga menjadi masyhur. Salah satu yang dilakukan adalah dengan melihat SQ, Emirates, Lufthansa, dan beberapa maskapai ”bintang lima” lainnya. Pengamatan sampai pada isi kabin, pelayanan, dan sikap para kru.
Kini, Garuda tengah meraih nama yang harum, saatnya untuk terus menata diri menjadi maskapai nomor satu, setidaknya mencapai taraf setingkat atau lebih baik daripada maskapai ”bintang lima” yang ada. Tentu ini bukan pekerjaan mudah, melainkan dengan semangat mau berubah, ini mestinya bisa dicapai. (Abun Sanda)
 
Sumber :
Kompas Cetak
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/05/06/12471974/Pebisnis.Harus.Berubah

No comments:

Post a Comment