Friday, September 16, 2011

INSPIRASI ARVIN MIRACELOVA

PELUANG USAHA 
 
INSPIRASI

 
Rabu, 14 September 2011 | 13:53  oleh Fahriyadi
INSPIRASI ARVIN MIRACELOVA
Arvin gabungkan bisnis televisi dan pendidikan (1)
Dunia pendidikan dan produksi acara televisi sering tidak berhubungan. Namun, bagi Arvin Miracelova dua dunia itu bisa menjadi daya pikat untuk bisnisnya. Dia banyak memanfaatkan anak didiknya dalam TOS Academy untuk pembuatan tayangan Student Music Television (SMTV). Antusiasme belajar anak didik pun meningkat.

Arvin Miracelova adalah pendiri Student Music Television (SMTV) dan Talent On Screen (TOS) Academy. Melalui usaha yang berdiri pada 2007 itu, lelaki yang kini berusia 36 tahun ini mampu memproduksi beragam acara yang ditayangkan di 30 televisi lokal. Arvin mengaku SMTV bahkan mampu membuat siaran televisi dari hulu ke hilir.

Beragam tayangan hiburan dan pendidikan dikerjakan. Mulai dari klip video artis indie, film musikal, teater musikal, hingga tayangan nonmusik seperti serial boneka kisah para nabi. "Segmen tayangan kami memang yang edukatif dan menghibur," ujarnya.

Ia mengatakan, tiga konsep itu disebutnya sebagai golden triangle, yaitu komunitas musik, pelajar, dan pembangunan kepribadian bangsa atau nation building. Golden triangle ini akan selalu menjadi roh dari tayangan yang dia buat.

Arvin berprinsip, setiap tayangan dia buat tidak sekadar hiburan tetapi juga bermanfaat. Konsep ideal Arvin inilah yang kemudian menarik perhatian para pemilik televisi-televisi lokal. "Kita berusaha membuat tayangan yang membuat anak-anak bangga. Selain menikmati tayangan, mereka juga kita libatkan dalam pembuatannya," ujarnya.

Tak hanya pengelola televisi yang tertarik, ia juga mengaku mendapat mitra dari pebisnis pariwisata. Banyak juga perusahaan ataupun manajemen artis yang tertarik membuat klip atau tayangan program bersama Arvin, terutama yang menonjolkan unsur budaya Indonesia.

Ia mengaku sebanyak 70% proyek yang dikerjakannya dibiayai industri pariwisata seperti hotel dan resor. Sampai kini, Arvin sudah berhasil memproduksi beragam tayangan dengan durasi mencapai 2.000 jam tayang.

Konsep nation building dalam produk tayangan televisi yang ditampilkan SMTV selalu melibatkan para pelajar, mulai pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), terutama pelajar yang tergabung dalam TOS Academy dalam pembuatan tayangan televisinya. Tak hanya sebagai pemeran dan penonton, anak-anak yang tergabung dan TOS Academy juga diajarkan bagaimana memproduksi tayangan.

Dengan cara inilah, menurut Arvin, anak-anak TOS Academy menjadi antusias dalam belajar ilmu peran dan broadcasting atau penyiaran. Walaupun lebih mengedepankan jenjang SD sampai SMA, bukan berarti usaha yang digeluti Arvin tetap membuka kelas untuk umum maupun profesional.

Untuk meningkatkan antusiasme anak didik TOS Academy, Arvin kerap mengikutkan hasil karya mereka di berbagai kesempatan. "Kami beberapa kali memenangi penghargaan," katanya. Penghargaan terakhir yang diperolehnya adalah International Young Creative Entrepreneur (IYCE) British Council Award 2011 untuk International Screen Category.

Dengan berbagai penghargaan yang diperolehnya, Arvin mengaku akan berkolaborasi dengan pembuat film di Inggris untuk menggarap film komersial. "Kami akan mengeksplorasi budaya di sebuah pulau di Aceh," imbuh lulusan Universitas Airlangga ini. Bagi Arvin, rencana kerja sama ini bakal menjadi kesempatan emas baginya untuk menimba pengalaman dalam pembuatan tayangan berkualitas.

Dengan pengalaman dan berbagai penghargaan yang diraihnya, ayah empat anak ini juga sering diminta tampil sebagai pemberi materi berbagai seminar tentang penyiaran.

Ia bahkan dipercaya oleh produser Amerika Serikat dalam pembuatan tayangan serial boneka tokoh dunia, seperti Barack Obama, Adolf Hitler, Julius Caesar, dan Thomas Alfa Edison. "Karena materinya dalam bahasa Inggris, kemungkinan tayangan ini bisa diekspor," ungkapnya.

Arvin juga terus memberdayakan sumber daya yang berbakat dalam bidang penyiaran. TOS Academy, misalnya, telah merekrut lulusan SMK broadcasting untuk menjadi tenaga pengajar. Menurutnya, dengan cara itu, dia turut berkontribusi dalam pengembangan dunia pendidikan. Apalagi menurutnya, saat ini banyak lulusan SMK broadcasting yang kurang mendapat kesempatan dalam dunia penyiaran.  

Kamis, 15 September 2011 | 12:22  oleh Fahriyadi
INSPIRASI ARVIN MIRACELOVA
Arvin belajar di banyak negara untuk mengabdi (2)
Selain memproduksi tayangan edukasi untuk anak, Arvin Miracelova pemilik SMTV dan TOS Academy juga memproduksi klip video, film musikal, dan film dokumenter. Klien Arvin datang dari band indie hingga membuat film dokumenter dari sekolah di luar negeri. Agar tetap kreatif, ia rutin belajar ke berbagai negara.

Arvin Miracelova, pemilik Student Music Television (SMTV) dan Talent on Screen (TOS) Academy di Jakarta, tidak pernah menyangka bisa memiliki bisnis pendidikan dan penyiaran sendiri seperti sekarang ini. Mulanya Arvin hanya tertarik membuat tayangan edukatif untuk anak-anak saja.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan SMA di Kentucky, Amerika Serikat, itu prihatin menyaksikan kualitas tayangan televisi untuk anak di Indonesia. "Menyedihkan saat harus melihat anak saya menonton film sadis," kata Arvin yang menetap di Jakarta itu.

Meski ada stasiun teve menggarap tayangan untuk anak, tetapi kualitasnya jauh dari harapan Arvin. Kondisi itulah yang membakar semangat Arvin untuk menggarap program edukasi untuk stasiun televisi.

Tetapi modal semangat saja tidak cukup, Arvin butuh tenaga kerja untuk menggarap program televisi. Ia butuh pemain di belakang layar, juga pemain di depan layar (aktor). "Maka itu saya mendirikan SMTV dan TOS Academy sebagai tempat pendidikan juga untuk mencari bakat," imbuh Arvin.

Bersama siswa jebolan lembaga pendidikannya itulah Arvin memproduksi program satu per satu. Hingga kini pria berdarah Jerman dan Belanda itu mampu memproduksi 2.000 jam tayangan televisi untuk anak. Uniknya, 90% tayangan edukatif itu disiarkan secara gratis di stasiun teve lokal. "Biaya produksi program itu dibiayai perusahaan swasta," imbuhnya.

Setelah memproduksi tayangan edukatif, Arvin juga menggarap program komersial seperti klip video, film musikal atau musik teater. Pelanggannya berdatangan dari band indie yang sedang meniti karier.

Untuk setiap program klip video, Arvin mengutip tarif jasa Rp 8 juta. Untuk pembuatan film musikal ia mengutip tarif jasa mulai Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Untuk dokumentasi musik teater ia pernah mematok tarif Rp 100 juta. "Setiap bulan selalu ada proyek komersial itu," terang Arvin yang enggan menyebut detail proyek itu.

Selain mendapatkan proyek di dalam negeri, Arvin terkadang mendapat proyek di luar negeri. Ia pernah menggarap proyek kolaborasi tayangan untuk anak dan juga film dokumenter seperti film dokumenter sekolah di luar negeri.

Selain dari klip video, film musikal, dan film dokumenter pundi rupiah Arvin mengalir dari bisnis pendidikan yang ia kelola. Siswa dari SMTV dan TOS Academy rutin membayar biaya pendidikan ke kantong Arvin. "Biaya pendidikan setiap siswa Rp 500.000," kata Arvin yang tidak mau menyebut jumlah siswanya itu.

Kebanyakan siswa di SMTV dan TOS Academy itu adalah siswa di sekolahan formal. "Lembaga pendidikan saya menjadi kegiatan ekstrakurikuler siswa di luar sekolah," terang Arvin.

Karena lembaga pendidikan milik Arvin makin banyak peminat, tahun ini ia memutuskan membuka cabang TOS Academy di kota Bandung, Bekasi, dan Palembang. "Saya masih kelola sendiri dan belum diwaralabakan," terang Arvin.

Dari bisnis pendidikan dan juga penyiaran tersebut, Arvin setidaknya mampu mendulang omzet Rp 100 juta per bulan. Namun, Arvin tidak terjebak mengejar materi, ia mengaku tetap konsisten untuk membuat program edukasi yang diberikan secara gratis untuk disiarkan di stasiun teve lokal yang ada di Indonesia.

Untuk menjaga kualitas dari lembaga pendidikan maupun karyanya, Arvin tak sungkan menimba ilmu ke berbagai negara. Arvin rutin ke luar negeri untuk belajar dunia penyiaran dan perfilman lebih dalam lagi. "Pengetahuan kreatif yang ada di Indonesia tidak cukup," ungkap Arvin.

Arvin menyebut program menimba ilmu itu dengan nama educational tour, yang ia lakukan dengan cara berkunjung ke Amerika Serikat, Australia, Republik Ceko, dan Jerman. "Selain mencari ilmu, saya juga mencari mitra kerja sama," terang Arvin.

Dalam menjalankan kedua bisnis itu, Arvin tetap memegang teguh tujuannya untuk memperbaiki kualitas program televisi untuk anak Indonesia. "Anak-anak tidak hanya butuh informasi, tetapi butuh hiburan dan pendidikan," jelas Arvin.  

Jumat, 16 September 2011 | 14:39  oleh Fahriyadi
INSPIRASI ARVIN MIRACELOVA
Arvin tetap fokus memproduksi tayangan edukasi (3)
Setelah mendirikan Student Music Television (SMTV) dan Talent On Screen (TOS) Academy, Arvin Miracelova membuat teve online. Tak hanya itu Arvin juga akan menjalin kerja sama program dengan operator televisi berbayar dan televisi nasional, termasuk juga mempersiapkan program untuk turis dan ekspatriat.

Walaupun sudah memiliki lembaga pendidikan Student Music Television (SMTV) dan Talent On Screen (TOS) Academy, tidak membuat Arvin Miracelova lupa akan visinya untuk menyediakan program edukasi untuk anak. Dia tetap konsisten menyediakan program itu.

Namun, dalam hal produksi, Arvin tidak mau terjebak membuat program edukasi asal-asalan alias tidak bermutu. "Kualitas itu perlu. Maka dari itu saya terus mengembangkan kreativitas," kata Arvin yang sudah memiliki banyak program yang telah disiarkan 30 teve lokal di Indonesia.

Walaupun program tontonan edukasinya sudah banyak disiarkan teve lokal, Arvin menilai hal itu belum cukup. Ia ingin penonton tayangan edukasinya itu lebih banyak lagi.

Salah satu caranya adalah dengan dengan membuat situs di internet. Dengan alamat www.smtvindonesia.com, Arvin mengunggah karyanya ke dunia maya. "Yang tidak bisa nonton program di teve lokal, bisa unduh sendiri di internet secara gratis," kata Arvin.

Arvin yang pernah bekerja di bagian kreatif salah satu perusahaan content provider itu sebenarnya bisa membuat tontotan untuk pengguna iPad, yang ia sebut sebagai iPad TV. Tapi, hal itu urung dia lakukan karena pengguna komputer tablet masih terbatas di Indonesia.

Bagi Arvin, akan lebih baik kalau fokus mengembangkan program televisi dengan cara membuat situs sendiri dan juga membuka kerja sama dengan salah satu operator televisi berbayar. "Tahun depan kerja sama kami sudah bisa terealisasi," ujar Arvin.

Untuk kerja sama dengan operator televisi berbayar itu, Arvin sudah mempersiapkan program SMTV berupa tayangan yang merupakan perpaduan dari musik, budaya, dan pendidikan. "Segmen kami tetap anak-anak dan remaja," terangnya.

Selain mengikat kerja sama dengan televisi berbayar, Arvin juga sedang menginisiasi kerja sama dengan televisi nasional. Pria yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri itu belakangan sedang menyusun program edukasi yang akan ditawarkan ke stasiun televisi nasional. "Saya berharap SMTV tidak hanya menghadirkan program untuk teve lokal saja, tetapi juga teve nasional," jelas Arvin.

Tidak hanya di dalam negeri, Arvin juga mengembangkan bisnisnya ke luar negeri. Dia kini sedang mempersiapkan program kolaborasi dengan lembaga pembuat program televisi di luar negeri. Program kolaborasi itu bertemakan penjelajahan budaya Indonesia oleh para turis atau ekspatriat.

Arvin berharap, program jelajah budaya Indonesia itu bisa memperkenalkan kebudayaan Indonesia di luar negeri dengan lebih baik. "Tayangan itu juga bisa menjadi sarana promosi kami," tutur Arvin.

Untuk mewujudkan berbagai rencana itu, Arvin sudah merekrut sepuluh tenaga kreatif yang sudah menguasai ilmu penyiaran seperti dirinya.

Adapun untuk tenaga kerja lepas, Arvin merekrut siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan broadcasting. "Para pelajar kami rekrut dan kami berikan pengetahuan produksi program," pungkasnya.

Sembari mengembangkan bisnis program televisi, Arvin ternyata tidak lupa untuk mengembangkan bisnis lembaga pendidikan penyiaran miliknya.

Arvin mengaku saat ini ia sedang bekerja keras untuk menambah kelas di TOS Academy. Salah satu caranya, dengan membuka kelas khusus di akhir pekan.

Kelas khusus itu untuk menampung anak-anak dan remaja yang hanya bisa belajar penyiaran saat akhir pekan saja. Agar lebih menarik peminat, Arvin memungut biaya pendidikan akhir pekan itu dengan sistem harian.

Contoh, jika siswa belajar materi teori penyiaran saja dikenakan biaya Rp 15.000 per hari. Jika siswa belajar praktik dan teori sekaligus dikenakan biaya Rp 75.000 per hari. "Setelah dibuka ternyata peminatnya banyak," kata Arvin.

Menariknya lagi, peminat kelas akhir pekan tak hanya anak-anak dan remaja, kalangan dewasa banyak yang tertarik. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Arvin langsung membuka kelas untuk dewasa itu. "Pesertanya banyak dari profesional penyiaran juga," ujar Arvin.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1315983188/77380/Arvin-gabungkan-bisnis-televisi-dan-pendidikan-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1316064167/77484/Arvin-belajar-di-banyak-negara-untuk-mengabdi-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/77592/Arvin-tetap-fokus-memproduksi-tayangan-edukasi-3

No comments:

Post a Comment