Tuesday, November 13, 2012

Bisnis yang Bermartabat


Hits : 677 PDF Cetak E-mail
Minggu, 11 November 2012 15:17
bisnis_yang_bermartabat
Nomor satu pelanggan, nomor dua distributor, dan nomor tiga industri. Urutan ini dicanangkan para pendiri industri otomotif Toyota. Ini dimaknakan, raksasa industri otomotif dunia itu menempatkan pelanggan atau konsumen di urutan pertama prioritas. Pelanggan harus dinomorsatukan. Tanpa pelanggan, tidak ada distributor dan industri.

Di Indonesia, pelbagi perusahaan mempunyai strategi khas untuk memenangi pertarungan keras di pasar. Grup-grup usaha, seperti Astra, Salim, Djarum, Bakrie, Medco, Agung Podomoro, dan PT Haji Kalla—sekadar menyebut beberapa contoh—mempunyai strategi penuh warna dan kaya. Di antara grup tadi, yang kali ini menarik diungkapkan ialah PT Hadji Kalla. Grup usaha yang didirikan Haji Kalla, ayah dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, itu berdiri tahun 1952. Peringatan usia panjang itu diselenggarakan di Makassar, Sabtu (20/10/2012).

Haji Kalla mengawali bisnis pada era 1930-an dengan menjadi semacam patteke, pedagang keliling/eceran tempo dulu. Ia berdagang dari kampung ke kampung, dari desa ke desa. Yang diperdagangkan, mulai dari kain, sarung, hingga beberapa jenis kebutuhan sehari-hari. Karena situasi saat itu, perusahaannya kerap cemerlang, tetapi acap pula terseok-seok. Setelah Indonesia merdeka, usahanya makin maju hingga ”diformalkan” pada 1952. Perusahaan tumbuh ketika Jusuf Kalla, atas permintaan ayahnya, menjadi pemimpin perusahaan itu. Namun, Jusuf Kalla kemudian menyerahkan seluruh kendali kepada adik-adiknya ketika menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan merangkap Kepala Bulog tahun 1999.

Jusuf Kalla bertutur, pada ulang tahun ke-60 perusahaan ini ia setuju dibuat perayaan. Ia hendak menyapa pelanggan dan publik, sekaligus menyatakan bahwa perusahaan bisa bertahan lama kalau ditangani sepenuh hati dan menggenggam nilai-nilai luhur.

Perusahaan, lanjut Jusuf Kalla, harus selalu bersyukur atas apa yang diraih. Rasa syukur ini mendorong untuk terus maju dan maju. Perusahaan pun harus memiliki nilai budaya siri (martabat, harga diri). Kalau perusahaan tidak dikelola dengan baik, kinerjanya menurun. Hal itu akan membuat siri, martabat dan kehormatan, turun. Maka, segenap usaha konstruktif mesti dilakukan agar perusahaan maju dan martabat tegak.

Hal yang menarik adalah nama perusahaan menggunakan nama keluarga. Kalau kinerja turun, nama keluarga itu ikut terbawa-bawa. Maka, suka tidak suka, segenap energi dan elan harus dikerahkan. Reputasi bagus, nama semerbak.

Ke depan, kata Jusuf Kalla, adik-adiknya akan mengembangkan perusahaan ke aspek lebih strategis. Misalnya, bermain di wilayah ramah lingkungan, yakni energi terbarukan, green energy (membangun listrik 1.200 megawatt), industri, mesin-mesin presisi, dan sejumlah komoditas strategis.

Jusuf Kalla bangga, PT Haji Kalla berkibar. Selama lebih dari 20 tahun perusahaan (hampir) selalu nomor satu sebagai pembayar pajak terbesar di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. ”Bayar pajak yang benar menjadi komitmen kami, demikian juga menyetor zakat,” ujar Jusuf Kalla. (*kompas.com)

http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/37-advise/21506-bisnis-yang-bermartabat.html

No comments:

Post a Comment