Wednesday, November 21, 2012

Belajar dari Sukses Coca Cola

KIAT MANAJEMEN: Belajar dari Sukses Coca Cola

Compact_-coca-cola-myanmar -- Kalau saja Neville Isdell menolak tawaran menjadi CEO tatkala ia telah berusia 55 tahun, baik dirinya, Coca Cola maupun dunia akan menyesal--


Terus terang, awalnya saya agak dipaksa untuk membaca buku Inside Coca Cola ini, lantaran harus menjadi pembahas di acara Bedah Buku di sebuah radio terkemuka di Indonesia.

Banyak prasangka saya bermunculan. “Pastinya buku ini akan sepihak cerita soal suksesnya Coca Cola!” Ternyata, memang sih dugaan saya benar. Namun, kebenaran ini hanya separuh. Separuhnya lagi di luar dugaan saya, karena apa yang tertuang di buku ini melebihi yang saya duga.

Buku ini memang menjelaskan bagaimana Coca Cola bisa bertahan begitu lama. Isinya juga pasti akan bikin kuping panas bagi rival bisnisnya. Namun membaca satu demi satu halaman membuat saya sadar, buku ini adalah kisah perjuangan seorang CEO yang berusaha mati-matian membangun bisnisnya.

Buku tentang seorang manusia, yang berusaha melakukan yang terbaik. Akhirnya, saya berkesimpulan, bahkan kompetitornya sekalipun, akan dapat manfaat yang luar biasa dari membaca buku yang ditulis mantan CEO Coca Cola ini.

Perjalanan Seorang Pensiunan

 “Motivasiku bukanlah  jadi CEO, tetapi melakukan apa yang terbaik yang ada di depanku saat ini!” Begitulah kalimat yang berulang kali diucapkan oleh Neville Isdell, mantan CEO Coca Cola yang memimpin pada periode 2004-2009. Namun, justru prinsip melakukan yang terbaik itulah yang memberikannya enjadi orang nomor satu di perusahaan yang mampu bertahan 126 tahun itu.

Bahkan, dalam acara Bedah Buku tersebut, tanpa diduga, saya ditanya dengan sebuah pertanyaan yang unik, “Pak Anthony. Kalau seandainya Bapak sudah pensiun lantas tiba-tiba diminta untuk mengurus suatu perusahaan. Bapak mau atau nggak?”

Sungguh pertanyaan yang menarik. Karena, justru itulah yang terjadi dengan Neville Isdell. Usianya sudah pensiun saat ia diminta memimpin Coca Cola. Ia telah punya rumah di Barbados dan Eropa.

Saat itu, dia ingin bersenang-senang, menghabiskan hari-harinya  dengan istri dan putri tercinta. Tiba-tiba, datanglah panggilan itu. Dan kalau saja, Neville Isdell menolak, mungkin dia sendiri akan menyesali seumur hidupnya. Sebagaimana ia katakan pada istrinya, “Saya mungkin akan menyesali seumur hidup saya, kalau saya tidak menerimanya”.

Dengan mengikuti intuisinya, akhirnya di bawah kepimpinannya, dunia mengenal Zero Coke dan Diet Coke. Di bawah kepemimpinannya juga Coca Cola mengalami redefinisi bisnisnya, serta mendapatkan ‘roh semangat’ pelayanan masyarakatnya. Sungguh, kalau saja Neville Isdell menolak tawaran menjadi CEO tatkala ia telah berusia 55 tahun, baik dirinya, Coca Cola maupun dunia akan menyesal. Untunglah….!

Warisan dari Seorang Neville Isdell

Tentu saja kita harus realistis. Pertama, Neville Isdell adalah seorang manusia yang pasti punya ketidaksempurnaan. Kedua, seseorang yang dianggap pahlawan di Coca Cola bisa saja dianggap sebagai seorang musuh di tempat lain.

Namun, untuk sementara mari tutup kata “Coca Cola” dan mari kita pelajari sesuatu hal yang bermakna dari seorang manusia bernama Neville Isdell yang ‘kebetulan’ dibesarkan dan membesarkan Coca Cola. Nah, apakah pembelajaran dan intisari kehidupan dan praktek manajemen yang bisa kita pelajari darinya?

Pertama, seorang pemimpin haruslah menjadi orang yang paling yakin. Baik yakin dengan dirinya, maupun yakin dengan apa yang dijualnya. Soal keyakinan, Neville Isdell memberikan contoh bagaimana ia bahkan lebih yakin bahwa dirinya bisa lebih baik dari  seorang Jack Welch yang telah terbukti sukses memimpin GE.

Namun, keyakinan dirinya beralasan sebab, menurutnya ia telah terbiasa hidup “mengumpulkan uang se-sen demi sen di lorong-lorong” saat menjual Coca Cola. Ia yakin bahwa ia sungguh tahu soal bisnisnya. Dan yang lebih hebatnya adalah bagaimana ia begitu yakin soal produknya melebih produk kompetitornya.

Keyakinan inilah yang menjadi bara api yang lua biasa. Dan umumnya, keyakinan ini memang menular.  Terbukti memang, semangatnya ini sangat membantu memotivasi timnya, tatkala penjualannya kalah dibandingkan dengan pesaing atau tatkala dibutuhkan motivasi untuk merebut kembali pangsa pasar yang telah diambil oleh pesaing.

Kedua, “Sehebat-hebatnya brand, Manusialah Penentunya!” Yang menarik, meskipun brand yang diusungnya adalah brand yang sangat popular. Namun, Neville Isdell dengan tegas mengatakan bahwa yang hebat di Coca Cola bukanlah brand-nya tetapi manusianya.

Bahkan, supir sekalipun sangat ia hargai. Pernah sekali ia berujar, “Supirpun punya kuping loh”. Makanya, termasuk ia pun sangat peduli dengan orang-orang yang berada di gugus paling depan. Baginya, itulah jantungnya kehidupan perusahaan.

Ketiga, pemimpin haruslah turun ke bawah. Sebagai seoarang CEO, Neville Isdell  mengajarkan seorang pimpinan jangan asal terima laporan. Misalkan saja, tatkala curiga soal kecurangan, dia sungguh menelitinya. Ketika di Afrika Selatan, ia sampai  menimbang botol-botol yang pecah untuk membuktinya adanya kecurangan.

Dia pun menginspeksi sampai ke toilet karyawan untuk memastikan soal sanitasi dan kesejahtraan karuawannya. Ia pun tidak suka protokoler yang menurutnya banyak menutupi kenyataan yang sesungguhnya.

Keempat, bisnis bukan hanya soal profit, tapi juga soal partner dan planet. Berulang kali pula, Isdell mengajarkan kepada para pemimpin bahwa selain profit, bisnis juga harus mensejahterakan partner serta membuat planet (bumi) lebih baik. Makanya, di bab terakhir ia bicara soal Kapitalisme Terhubung (Connected Capitalism) dimana ia bicara soal pelayanan masyarakat. Bisakah perusahaan dianggap untung, sementara masyarakat sekitarnya menderita?

Akhirnya, kelima, jagalah keseimbangan keluarga dan kerja. Satu hal yang hebat adalah di tengah kesibukannya, Isdell selalu punya waktu untuk keluarganya. Ia meluangkan liburan bahkan sengaja membawa serta keluarganya bersamanya. Bukti kecintaannya pada keluarganya, terlihat di bukunya.

Bayangkan saja, yang memberi kata pengantar di bukunya, bukanlah orang hebat dan terkenal yang ia pernah temui (Neville Isdell telah beberapa kali bertemu dengan beberapa pemimpin di dunia mulai dari Clinton, Bush, Nelson Mandela, Lech Walesa, Pangeran Charles, dan lainnya).

Namun, yang ia minta tulisannya di kata pengantar adalah istrinya sendiri. Dan komentar yang menarik soal Neville Isdell menurut istrinya adalah: Pertama, Sesibuk-sibuknya mengurus Coca Cola, Neville selalu meluangkan waktu berlibur dengan keluarganya setiap tahun. Kedua, waktu turunnya  pada 2009, istrinya sempat takut Neville akan mengalami post power syndrome, tapi nyatanya posisi itu dilepasnya dengan suka rela.

Hal itu ternyata terjawab dalam kisahnya dimana Neville tegas-tegas menyatakan tidak mau mengulang ‘dosa’ yang banyak terjadi di perusahaan sukses. Menurutnya, seringkali CEO-nya sukses, setelah si CEO turun, maka terjadilah malapetaka karena tidak ada yang mampu mewarisi kemampuan CEO tersebut. Jadi, sebelum turun Neville sudah jauh-jauh hari menyiapkan Muhtar Kent, yang kelak akan jadi penggantinya.

It’s Not About Coca Cola…!

Betul, it’s not about Coca Cola, it’s about any organization! Hanya saja, kali ini kita kebetulan bercermin dari Neville Idel yang memimpin Coca Cola. Namun pembelajaran dan prakteknya bisa jadi pembelajaran bagi siapapun.

Kisah serta pemikiran Neville Isdell yang tertuang dalam bukunya itu menyisakan beberapa pertanyaan untuk kita renungkan bersama: Seberapa yakin dirimu dengan kemampuanmu serta produk yang kamu jual? Apakah Anda yang paling yakin, atau ada yag lebih yakin?

Seberapa besar dirimu melihat orang-orangmu sungguh merupakan asset yang paling berharga? Bagaimana Anda bisa buktikan bahwa Anda menghargai mereka? Apakah Anda dikenal sebagai pimpinan yang turun ke bawah ataukah yang lebih suka menonton dari atas kursi empuk Anda?

Apakah bisnis Anda juga memikirkan soal kesejahteraaan partner serta planet dan masyarakt di sekitar Anda? Apakah yang sudah Anda lakukan dari profit yang Anda peroleh? Apakah Anda sukses tetapi keluarga Anda menderita? Kapan terakhir kali Anda sungguh-sungguh memberikan waktu bagi mereka? (msb)


*Best EQ Trainer Indonesia, penulis

http://www.bisnis.com/articles/kiat-manajemen-belajar-dari-sukses-coca-cola

No comments:

Post a Comment