Tuesday, December 11, 2012

Raup Penghasilan Tambahan dari YouTube


google image Ilustrasi YouTube
JAKARTA, KOMPAS.com - Gemar mengunggah video ke YouTube? Jika iya, Anda bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari sini. YouTube telah meluncurkan Partnership Program, yaitu metode bagi pengguna YouTube untuk berbagi pendapatan dari pemasangan iklan dari video yang mereka buat.

"Mulai hari ini, bersamaan dengan Filipina dan Malaysia, YouTube meluncurkan layanan Partnership Program di Indonesia,"kata David McDonald, Head of Content Operation Asia Pacific, saat berbincang dengan KompasTekno, Jumat (7/12/2012), melalui sambungan konferensi video.

Caranya cukup mudah. Pengguna hanya perlu mengunggah video seperti biasa. Kemudian, pengguna dapat menekan sebuah tombol khusus yang diberi nama "Monetize", apabila ingin memasukkan iklan ke video tersebut.

Setelah itu, pengguna akan dihadapakan dengan kontrak kemitraan yang harus diisi terlebih dahulu sebelum resmi menjadi mitra YouTube.

Dengan menjadi mitra, video si pengguna bisa mendapat kesempatan untuk dipilih oleh pihak pengiklan.

Meskipun bisa share pendapatan, YouTube tidak menjelaskan secara detail persentase pembagian hasil tersebut. Sebab perhitungan pendapatan pengguna akan ditentukan dari si pengiklan. Cara untuk menentukan besarnya pendapatan akan diserahkan seluruhnya ke si pengiklan, entah dari jumlah klik video atau page view.

"Kami tidak bisa memberitahukan berapa besar persentase dari pembagian ini. Namun, satu hal yang pasti, pengguna akan mendapatkan mayoritas pendapatan,"jelas McDonald.

Setelah melewati beberapa periode tertentu, YouTube akan mengirimkan penghasilan si pengguna melalui fasilitas pengiriman uang seperti Moneygram.

Siap untuk menambah pundi-pundi uang melalui YouTube?

 
http://tekno.kompas.com/read/xml/2012/12/08/09143911/raup.penghasilan.tambahan.dari.youtube 

Menjadi Besar dan Berdaya Saing

KIAT MANAJEMEN: Menjadi Besar dan Berdaya Saing

Compact_trust_kepercayaan --- Boleh dikatakan, tanpa inovasi tidak akan terjadi pertumbuhan yang berkelanjutan.

Tidak mudah menjadikan perusahaan agar berskala besar. Tidak mudah juga menjadi perusahaan yang berskala besar, apalagi menjadi perusahaan besar yang berdaya saing tinggi.

Artinya, ada perusahaan yang tidak kunjung menjadi besar karena tidak berdaya saing, ada juga perusahaan yang berskala besar tetapi tidak berdaya saing, dan ada juga perusahaan berdaya saing tinggi yang tidak berskala besar.

Memang tidak harus semua perusahaan menjadi besar. Namun setiap perusahaan perlu tumbuh berkelanjutan supaya tidak mati. Istilahnya: grow or die !!. Artinya, kalau perusahaan tidak bertumbuh itu pertanda dia menuju kematian. Dan ketika terus tumbuh, menjadi besar merupakan sebuah konsekuensi.

Terus tumbuh dibutuhkan untuk menjaga spirit hidup, untuk memberi harapan dan menimbulkan gairah segenap personil dan pimpinan perusahaan serta para stakeholders.

Perusahaan yang menjadi besar adalah perusahaan yang tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan rekan sejawatnya di bisnis. Bisa jadi karena dia punya daya saing lebih tinggi sehingga berhasil memenangkan kompetisi dalam merebut ‘kantong’ konsumen.

Namun ada juga perusahaan yang menjadi besar karena “dijadikan besar” oleh pemiliknya meskipun sesungguhnya tidak cukup punya daya saing.  Perusahaan besar yang bubble seperti ini cenderung akan menjadi beban.

Indonesia perlu lebih banyak perusahaan besar yang berdaya saing global, setidaknya itulah keyakinan dan obsesi saya yang memberi energi untuk mengajak Arrbey dan pihak-pihak terkait untuk mengadakan serangkaian program dan bahkan gerakan Transforming into Large Enterprises atau TiiLEs dengan tema Be Large and Globally Competitive.

Riset terpadu sudah dan masih terus dilakukan, termasuk melalui penyelenggaraan serial seminar, FGD, Summit dan lainnya. Dari riset terpadu TiiLEs, didapatkan setidaknya ada lima dan satu faktor penting untuk menjadikan perusahaan berskala besar yang lalu diberi nama 5n1 TiiLEs Strategy Pillars yaitu 1) Market Expansion, 2) Business Diversification, 3) Corporate Governance, 4) Technology Development, 5) Asset Management dan ‘bonus wajib” Strategic Innovation. Strategi inovasi merupakan penggerak bagi kelima faktor TiiLEs.

Inovasi Melalui Imitasi


Inovasi penting bagi seluruh perusahaan pada semua skala usaha. Mulai dari yang berskala mikro, kecil, menengah, besar sampai besar sekali. Memang ada persepsi umum bahwa inovasi biasanya lebih nampak ketika perusahaan masih baru dan berskala belum besar, yang kemudian terdegredasi ketika perusahaan menjadi makin dewasa dan besar.  Inovasi merupakan penggerak, pendorong, pemercepat dan pemberi energi untuk mengkaselerasi pertumbuhan perusahaan.

Bahkan boleh dikatakan, tanpa inovasi tidak akan terjadi pertumbuhan yang berkelanjutan.  Inovasi bisa berwujud pada dihasilkannya produk, layanan, sistem, teknologi, tata kelola atau komunikasi baru.

Inovasi bisa dihasilkan dari proses R&D di laboratorium, pengamatan pasar, riset konsumen, competitor inteligence dan bahkan dari hasil ‘ngelamun’ atau bertapa.  Banyak cara inovatif untuk menghasilkan inovasi.

Pada TiiLEs-IIC Innovation Summit 2012 beberapa hari lalu, terjadi dialog menarik apakah inovasi bisa dikembangkan melalui imitasi?  Para nara sumber terbelah.  Ada yang setuju, tapi ada juga yang tidak.Sebagai penyelenggara, saya mencoba bersikap netral tapi tidak bisa menghindar dan perlu bersikap.

Pernyataan pendapat bahwa inovasi bisa dilakukan melalui imitasi sejalan dengan prinsip inovasi ala ATM yang berorientasi praktis. ATM yang dimaksud di sini bukannya mesin kasir uang tetapi kependekan dari Amati-Tiru-Modifikasi.Banyak produk baru yang merupakan hasil dari aplikasi inovasi ala ATM.

Bolehkah inovasi ala ATM? Perang saling tuntut copyright antara Apple dan Samsung yang sekarang sedang marak bisa digunakan sebagai ‘yurisprudensi’ apakah inovasi ala ATM boleh dilakukan atau tidak. Terlepas dari adanya perdebatan soal inovasi ala ATM di sidang pengadilan, pada dasarnya inovasi melibatkan aspek input-proses-output.

Inovasi mudah dikenali hasilnya dari output yang dihasilkan berupa produk, layanan, sistem, tata kelola atau komunikasi baru.  Untuk menghasilkan output inovasi, dibutuhkan proses dan input inovasi.

Di sinilah letak perdebatan yang tidak akan kunjung usai akan terjadi.  Salah satu langkah proses inovasi adalah ATM di atas, selain tentunya R&D di laboratorium dan bahkan sekedar ‘ngelamun’ sambil bertapa di lembah yang sunyi.  Input inovasi menjadi kunci startegis berlangsungnya inovasi.

Input inovasi bersumber pada manusia-manusia berkualitas yang disebut human capital yang punya kemauan dan kemampuan melakukan inovasi.  Proses rekrutmen dan pengembangan human capital seperti ini seringkali tidak nampak di publik.

Di Bank Mandiri misalnya, direktorat pengelola human capital mengambil inisiatif dan menyelenggrakan Mandiri Innovation Award untuk mendorong para personilnya mau dan mampu berinovasi.Kemauan melakukan inovasi menjadi sumber penggerak terjadinya inovasi yang berkelanjutan, yang bisa jadi berwujud dalam bentuk langkah praktis inovasi ala ATM ataupun proses inovasi lainnya.

Apapun bentuk proses inovasi yang dilakukan, tetap saja inovasi dituntut menghasilkan output yang marketable dan menghasilkan nilai tambah untuk menumbuhkembangkan usaha bisnis.

Oleh karenanya inovasi dan entrepreneurship haruslah berjalan seiring.Inovasi bukan sekedar inovasi untuk inovasi.  Inovasi adalah enabler dan prime mover yang menggerakkan market expansion, business diversification, corporate governance, technology development dan asset management untuk  menjadikan perusahaan berskala besar dan lebih besar.(msb)

*Chief Strategy Consultant ARRBEY

http://www.bisnis.com/articles/kiat-manajemen-menjadi-besar-dan-berdaya-saing

Kreasi digital di aneka media


Kreasi digital di aneka media

Berkat perkembangan teknologi, kini banyak orang menginginkan sesuatu yang unik dan menarik untuk dijadikan sebagai hadiah ulang tahun bagi orang-orang yang mereka sayangi.
Misalnya, mug yang memuat tulisan atau foto lucu dari orang yang ingin diberi hadiah. Hal itu bisa didapatkan dari layanan cetak digital atau digital printing.
Tidak hanya menghasilkan spanduk atau baliho, kini layanan digital printing sudah makin variatif dalam memanfaatkan pelbagai media.
Mug hanya salah satu contoh. Di luar itu, masih banyak lagi, seperti puzzle, keramik, jam dinding, sarung bantal, piagam, box rokok, box kartu nama, gantungan kunci, dan lain-lain.
Semua bentuk hadiah yang memanfaatkan layanan digital printing itu bisa diorder semenarik mungkin. Misalnya, memuat foto berdua bersama kekasih.
Salah satu pemain bisnis digital printing ini adalah Amry manullang yang mengusung merek usaha Damai Digitalz di Jakarta. Ia sudah merintis usaha ini sejak tahun 2010.
Sebelum membuka usaha sendiri, ia pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan digital printing. Ia kemudian terpikir membuka usaha sendiri.
Menyadari persaingan bisnis ini sudah ketat, Amry pun berkreasi dengan berbagai pilihan media untuk mencetak gambar atau foto. Hingga kini, ia sudah melayani pembuatan produk digital printing di pelbagai media.
Tak hanya kaos atau pin, Amry menyediakan layanan cetak digital di media lain, seperti piring, puzzle, asbak, mouse pad, hingga botol minuman. "Pokoknya selama media dan lapisan yang tahan panas bisa kami jadikan media cetak," ujar Amry.
Bahkan, Amry juga bisa mencetak di media kayu, seperti meja, aneka kotak, dan sebagainya. Selain mencari ide sendiri, ia selalu berusaha memenuhi permintaan desain dari konsumen. Di mana pun konsumen ingin mencetak gambar, ia akan usahakan untuk memenuhi.
Harga cetak di tempatnya cukup terjangkau karena Amry memiliki mesin cetak sendiri. Untuk sebuah mug, tarif cetaknya Rp 15.000 per unit dan asbak Rp 10.000 per unit.
Puzzle dihargai mulai Rp 20.000 untuk ukuran A5 hingga Rp 30.000 untuk ukuran A4. Paling mahal adalah cetakan di botol minuman stainless steel yang dibanderol seharga Rp 60.000. "Kalau pesan banyak, diskonnya bisa sampai 20% dari harga eceran," ujarnya.
Amry biasa mengerjakan 200 cetakan-300 cetakan dalam sebulan, dengan omzet sekitar Rp 15 juta. Kebanyakan pelanggan memesan buat sovenir, acara perusahaan atau koleksi pribadi.
Menurut Amry, proses digital printing tidak terlalu rumit. Setelah memperoleh gambar atau foto dari pelanggan, ia lantas mengolahnya dengan program photoshop. Setelah proses editing selesai, ia mencetak (print) dengan tinta sublim.
Hasilnya segera dipasang pada media yang diinginkan menggunakan mesin cetak. Tunggu beberapa saat, setelah suhu mencapai tertentu, hasil pun jadi.
Jika hanya membuat satu produk, pelanggan bisa menunggu hasil sampai selesai. "Tingkat kesulitannya terletak pada penyesuaian warna saja," ujarnya. Terkadang, warna di komputer dengan hasil cetak belum tentu sama.
Pemain lainnya adalah Angga Yosua di Duren Sawit, Jakarta Timur, yang mengeusung merek Prixtal Digital Print. Ia mengakui, media cetak digital kini makin variatif. Sama dengan Amry, ia biasa mendapatkan desain dari pelanggan kemudian mencetaknya di atas media yang dipesan pelanggan.
Agar proses pencetakan desain itu bagus, Angga biasanya mencari bahan material yang bagus, termasuk variasi warna sesuai permintaan pelanggan.
Selain untuk kebutuhan sovenir, Angga juga banyak mendapatkan pesanan mencetak desain untuk kebutuhan banner, poster, dan stiker.
Beragam desain itu ia cetak di pelbagai bidang, seperti di billboard, kayu, kaca, plastik, dan besi. “Kami memiliki mesin digital printing terbaru agar bisa melayani kebutuhan konsumen,” ujarnya.
Sebagian besar pelanggannya berasal dari Jakarta. Dalam sebulan, ia bisa menerima puluhan hingga ratusan pesanan dari pelanggan, dengan omzet mencapai puluhan juta.     

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/kreasi-digital-di-aneka-media

Ini Tips Memilih Apartemen Agar Harganya Cepat Melesat


Wiji Nurhayat - detikfinance
Senin, 10/12/2012 16:24 WIB
ilustrasi
Jakarta - Ada beberapa syarat agar apartemen yang konsumen beli bisa bernilai jual tinggi dalam waktu singkat. Harga apartemen bisa melesat jika terintegrasi dengan bangunan lainnya.

GM Marketing Pasar Baru Mansion Ratdi Gunawan membeberkan beberapa syarat agar apartemen tetap bernilai jual tinggi.

"Harus ada Hotel dan Mal tepat di sampingnya, ini membuat apartemen terlihat lebih moderen dan tentu saja bernilai jual tinggi serta mendongkrak image kemewahan," kata Gunawan di Restoran Shangrilla Palace, Pasar Baru Jakarta Pusat, Senin (10/12/2012).

Ia menuturkan dengan adanya hotel dan mal, secara tak langsung menopang fasilitas transportasi publik. Hal ini diyakini akan membuat apartemen tetap bernilai jual tinggi.

"Apalagi ditambah unit terbatas dengan segala fasilitas pendukung yang menunjukan kemewahan, berarti harga bisa dimonopoli dan tentu saja harga jual apartemen akan tetap tinggi," tuturnya.

Ia memberikan pesan, agar para calon pembeli/penghuni apartemen harus membeli apartemen dari sekarang. Menurutnya tahun 2013 ada kenaikan harga TDL listrik sebesar 15% yang akan dilakukan secara bertahap dan hal itu akan berpengaruh terhadap kenaikan harga apartemen.

"Tahun 2013 harga listrik naik 15%, maka ini berpengaruh terhadap harga jual apartemen yang akan mengalami kenaikan juga. Jadi belilah apartemen dari sekarang," tandasnya.



(wij/hen)
http://finance.detik.com/read/2012/12/10/162416/2114363/1016/ini-tips-memilih-apartemen-agar-harganya-cepat-melesat

3 Kunci Menjalankan Roda Bisnis dengan Piawai

Hits : 731 PDF Cetak E-mail
Senin, 10 Desember 2012 14:10
Employee-and-Employer-Relationship1

Awalnya terasa mudah tetapi harus disadari bahwa pengelola bisnis bukan perkara gampang. Apalagi jika Anda entrepreneur yang masih merintis. Ada begitu banyak pekerjaan yang harus Anda selesaikan. Mungkin Anda menjabat sebagai seorang CEO tetapi jika kondisi mendesak, mau tak mau Anda harus turun tangan membantu dalam marketing, sales, distribusi, dan sebagainya.

Sebagai entrepreneur, Anda juga seorang sosok pemimpin bagi karyawan. Untuk itu, Anda juga tidak boleh mengabaikan 3 kunci manajemen bisnis berikut ini agar roda bisnis Anda tetap berjalan dengan baik.

Beri inspirasi
Sebagai seorang pemimpin di perusahaan Anda, Anda harus menjadi sosok teladan yang menginspirasi setiap saat. Seorang entrepreneur dan pemilik bisnis yang pasif, kurang pro aktif, dan apatis (pasrah) dalam mengendalikan bisnisnya tentu akan menjadi teladan yang buruk bagi para pegawai yang ia pimpin. Untuk memotivasi para karyawan, Anda harus terus menerus menebarkan energi dan antusiasme saat bekerja dengan mereka.


Segera tindak pemicu kinerja buruk
Kepekaan seorang entrepreneur dalam mengatasi sumber permasalahan dalam roda bisnisnya sangatlah krusial. Anda jangan menunda penyelesaian permasalahan. Begitu juga saat menghadapi masalah bisnis yang berasal dari sisi internal. Anda perlu melakukan konsolidasi dan menindak mereka yang menghasilka  kinerja yang kurang memuaskan. Mengapa? Jika Anda membiarkan pekerjaan yang buruk begitu saja, karyawana secara tidak langsung akan merasa disetujui untuk bertindak demikian, dan akhirnya produktivitas dan kualitas pekerjaan akan menurun dalam jangka panjang.      

Tetapkan arah yang jelas
Pemimpin yang lemah tidak memiliki perspektif yang optimis terhadap bisnis yang dijalankan. Mereka juga tidak bisa menjawab dengan memuaskan saat ditanya tentang arah bisnis mereka dalam beberapa tahun mendatang. Jangan menjadi pemimpin yang demikian. Setidaknya Anda harus memiliki perencanaan dan arah yang jelas dalam mengelola bisnis. Dengan memiliki perencanaan dan arah yang tegas, Anda akan memberikan arah kerja yang lebih terfokus pada karyawan. Pada gilirannya, mereka akan mampu untuk bekerja lebih fokus dan efisien. (*AP)

http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/177-manajemen/21882-3-kunci-menjalankan-roda-bisnis-dengan-piawai.html

Monday, December 10, 2012

Umpan Balik dalam "Coaching"


Senin, 10 Desember 2012 | 10:09 WIB

Program pengembangan kepemimpinan yang ada lebih banyak melatih cara memberi umpanbalik, ketimbang cara menerima dan mengolah umpan balik dengan bijaksana.
KOMPAS.com - Jujur dan objektif dalam memberi umpan balik mengenai sikap, kinerja, ketrampilan individu jelas bukan hal mudah. Namun, kita tahu bahwa ini kritikal bagi pengembangan diri anak buah, sehingga memang tidak bisa kita hindari.
Ya, umpan balik menjadi komoditi penting dalan transaksi “coaching”. Tidak heran dalam kegiatan pelatihan coaching, porsi terbesar yang dilatihkan adalah pemberian umpan balik. Harapan kita tentu saja, bila sebagian besar eksekutif sudah mengikuti sertifikasi coaching, para atasan ini akan trampil memberi umpan balik, dan selanjutnya, budaya coaching pasti akan tumbuh.
Tapi, pada kenyataannya, hal ini tidak selalu terjadi, bukan? Kita bisa melihat ada lingkungan kerja di mana semua orang sudah dilatih untuk memberi umpan balik, namun tetap kegiatan coaching-nya tidak mengalir mulus dan kontinu. Bahkan, saat program coaching digalakkan, dengan dialokasikannya waktu-waktu khusus, yang terjadi malah program tersebut menjadi kaku, formal dan tidak efektif. Kita tentu jadi berpikir keras, mencari tahu letak salahnya.

Sebuah penelitian terhadap 28.000 manajer di 117 perusahaan yang berbeda, menemukan bahwa pemberian umpan balik masih sangat rancu. Berdasarkan riset ini, hal yang dinilai lebih sulit malah ternyata umpan balik ke atas, yaitu memberi masukan pada atasan. Terlepas dari latar belakang budaya, keinginan untuk menyenangkan orang lain, apalagi atasan, selalu ada.
Inilah yang menjadi salah satu masalah utama dalam pengembangan budaya coaching, yaitu menyaring dan menyampaikan kebenaran, sekaligus menjaga kenyamanan di lingkungan kerja. Bila para anak buah ragu memberi umpan balik pada atasan sebagai coach mereka, dan para atasan sendiri masih kesulitan untuk menerima umpan balik secara jujur, bagaimana mungkin hubungan baik yang melandasi coaching bisa terbentuk?

Pelajaran pertama: menerima umpan balik
Dalam buku Primal Leadership: Realizing the Power of Emotional Intelligence, Daniel Goleman dkk, menggunakan istilah “The CEO Disease”, yaitu gejala di mana para pimpinan tertinggi tidak bisa  merasakan suasana hati organisasinya, kehilangan kepekaan untuk meraba tingkat kejujuran dalam organisasi. Penyebabnya adalah kurangnya keterbukaan pimpinan untuk meraba, mendengar, dan menggali umpan balik.
Bisa kita bayangkan, bila tokoh kunci dalam organisasi menghalalkan umpan balik yang "tidak jujur" terhadap dirinya, bagaimana mungkin organisasi akan mengupayakan keterbukaan di lingkungan tersebut?

Riset mengatakan bahwa pemimpin dengan EQ tinggi biasanya mengejar umpan balik, baik positif maupun negatif. Namun, mengapa tidak semua orang bisa melakukannya dengan mudah? Dalam ilmu psikologi, kita mengenal istilah mechanism of defensiveness, yaitu energi yang digunakan individu untuk “membentengi” diri, agar kritik, umpan balik tidak “melukai” harga dirinya.
Inilah yang menyebabkan umpan balik kerap mental, tidak membuat individu melakukan upaya perbaikan. Alih-alih membuka diri terhadap umpan balik, individu bisa jadi malah menunjukkan sikap anti-kritik, mencari pembenaran, bahkan “ngeles” alias “denial”.
Sayangnya program pengembangan kepemimpinan yang ada, lebih banyak melatih cara memberi umpanbalik, ketimbang cara menerima dan mengolah umpan balik dengan bijaksana. Padahal “A good coach must have been a good coachee”. Sebelum kita memberikan umpanbalik, kita perlu mengasah kemampuan untuk menerima, mencerna, dan mengolah umpanbalik dengan efektif.
Sebagai pimpinan, kita perlu menyusun mekanisme baru, agar reaksi kita positif atas umpan balik yang diterima, kemudian mengarahkan energi untuk melakukan perubahan diri positif berdasar masukan tadi. Proses perubahan ini haruslah transparan, terbuka dan terlihat oleh lingkungan kerjanya.
Selain untuk menghargai pemberi umpanbalik, hal ini penting untuk memberikan teladan bagaimana mengubah diri ke arah yang lebih baik. Jadi, di samping cara mengekspresikan umpan balik, ada pra-kondisi yang perlu dikembangkan agar komunikasi perbaikan kinerja bisa terutarakan dengan nyaman.

Kejujuran dan kepekaan sebagai sahabat sejati
Hasnul Suhaimi, CEO XL Axiata, pernah membuka pembicaraan dengan mengatakan: “Apa ya yang harus saya kembangkan lagi, agar lebih sukses?”. Beliau mengirim signal bahwa ia terbuka untuk kritik, bahkan mengejarnya. Jelas sekali betapa beliau sudah biasa menerima dan mengolah umpan balik yang diberikan pada dirinya. Tak ada warna kekhawatiran dan sikap defensif dalam perilakunya, bahkan terasa benar sikap “nothing to loose”, apa adanya.
Sikap rileks dan mudah beradaptasi inilah yang justru menjadi kekuatan utama dalam membangun suasana “coaching”. Beliau berkeyakinan bahwa begitu kita "takut diserang", pada saat itulah hubungan rusak. Kita memang perlu percaya bahwa begitu sikap defensif membudaya, "learning" akan macet. Dan, bila "self directed learning" terhenti, perusahaan akan sulit berubah.
“Coaching” yang efektif selalu “one on one” dan diwarnai hubungan pribadi, rasa percaya, dan kejujuran yang kental. Jadi, lagi-lagi, pemimpin perlu pasang badan untuk "berhadapan" dengan coachee dan menyatakan pendapat mengenai kinerjanya, apa dampaknya ke dirinya sendiri, bukan mengatasnamakan orang lain, tim atau bahkan perusahaan.

Hasnul Suhaimi menyebut umpan balik sebagai "sahabat sejati". Masukan itu harus dijaga, agar si coache tetap mindful, obyektif tentang penilaian dirinya, dan mendorong dirinya sendiri untuk melihat kesempatan berubahnya. Beliau mengingatkan bahwa coach yang andal harus peka terhadap porsi masukan yang diberikan. Contoh-contoh perilaku akan membuat pesan kita lebih clear, tapi  porsinya harus pas dan tidak menyudutkan. Pada saat seorang coachee sudah memberi tanda bahwa ia menangkap pesannya, misalnya dengan mengatakan, “Ooo, begitu, ya, saya akan perbaiki”, kita pun perlu stop di situ dulu.
Kita perlu tahu bahwa kita sudah menyentuh “the sweet spot” dan memberi kesempatan pada coachee untuk menggarap dirinya. Kesuksesan seorang coach, menurut beliau, bisa ditakar dari masukan yang kita dapat. Hasnul menikmati komentar seperti, ”Seumur hidup belum ada yang memberi tahu saya mengenai ini, dan ini akan saya improve, pak. Terimakasih.” Hasnul Suhaimi menjadi pembicara pada seminar "The Power of Coaching", tanggal 6 Desember 2012 lalu.
(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)


Sumber: Kompas Cetak
Editor :
Dini
 
http://female.kompas.com/read/2012/12/10/1009434/Umpan.Balik.dalam.Coaching

Bagaimana Menentukan Lokasi dan Jenis Waralaba

Hits : 2499 PDF Cetak E-mail
Minggu, 09 Desember 2012 09:34
waralaba_1Waralaba merupakan bisnis yang hakikatnya seperti rantai, satu dengan yang lain saling berhubungan erat dan memiliki kesamaan dalam aspek-aspek tertentu. Waralaba juga dijual oleh pemiliknya (pewaralaba/ franchisor) pada orang lain (terwaralaba/ franchisee). Terwaralaba bisa berupa seseorang yang ingin menjalankan usaha atau sebuah perusahaan yang hendak mengoperasikan waralaba tertentu. Beberapa contoh waralaba dari dalam negeri ialah Es Teler 77, Ayam Bakar Mbok Berek, rumah Makan Wong Solo, dan sebagainya. Sementara waralaba luar negeri di antaranya ialah McDonald’s, Subway, Holiday Inn, stasiun pengisian bahan bakar Exxon, Kentucky Fried Chicken, Carrefour, Starbucks, dan lain-lain.

Dalam beberapa kasus, orang atau perusahaan yang membeli waralaba akan mendapatkan hak kepemilikan penuh tetapi di beberapa waralaba yang lain para terwaralaba ini akan membayarkan sebagian labanya kepada perusahaan pewaralaba. Untuk membuka waralaba, Anda harus mempertimbangkan beberapa pilihan berikut ini.

* Meneliti peluang dan menentukan waralaba bisnis apakah yang Anda ingin buka. Penting untuk mempertimbangkan lokasi, bisnis apa yang tidak ada di lokasi itu dan bagaimana Anda bisa mencetak laba sebanyak mungkin. Tanyakan dan hubungi pemilik waralaba-waralaba lainnya  agar Anda lebih mengetahui pendapat dan pengalaman mereka.

* Ajukanlah permohonan untuk membuka waralaba ke pewaralaba yang Anda anggap paling sesuai dan berprospek paling cerah. Banyak perusahaan memungkinkan Anda untuk mengajukan permohonan secara online untuk memulai proses. Di beberapa waralaba, Anda akan diharuskan untuk memiliki sebuah lokasi bisnis dan bangunannya yang siap pakai.

* Sewalah seorang pengacara untuk meneliti surat perjanjian kerjasama waralaba jika permohonan Anda disetujui pewaralaba. Pengacara itu akan memberitahu dan menjelaskan pada Anda secara gamblang konsekuensi yang nyata maupun tersembunyi yang harus Anda tanggung setelah menandatanganinya dan memastikan posisi Anda tidak dirugikan di dalam kerjasama itu. Dengan demikian, Anda tidak akan merasa menyesal di kemudian hari.

* Bayarkan biaya waralaba dan jangan lupa untuk mengasuransikan bisnis dan hak milik Anda. Saat selesai dan semua sudah diasuransikan, Anda bisa mewawancarai calon karyawan dan mulai untuk mendirikan bisnis Anda. Beberapa perusahaan waralaba memberikan alat-alat untuk menjalankan kegiatan bisnis seperti mesin kasir, pemanggang, sebagai bagian dari uang yang telah dibayarkan tetapi yang lain tidak. Setelah itu, Anda akan siap dengan operasionalisasi bisnis.

http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/180-waralaba/7422-bagaimana-menentukan-lokasi-dan-jenis-waralaba.html