KOMPAS.com
- Jujur dan objektif dalam memberi umpan balik mengenai sikap, kinerja,
ketrampilan individu jelas bukan hal mudah. Namun, kita tahu bahwa ini
kritikal bagi pengembangan diri anak buah, sehingga memang tidak bisa
kita hindari.
Ya, umpan balik menjadi komoditi penting dalan transaksi “
coaching”. Tidak heran dalam kegiatan pelatihan
coaching,
porsi terbesar yang dilatihkan adalah pemberian umpan balik. Harapan
kita tentu saja, bila sebagian besar eksekutif sudah mengikuti
sertifikasi
coaching, para atasan ini akan trampil memberi umpan balik, dan selanjutnya, budaya
coaching pasti akan tumbuh.
Tapi,
pada kenyataannya, hal ini tidak selalu terjadi, bukan? Kita bisa
melihat ada lingkungan kerja di mana semua orang sudah dilatih untuk
memberi umpan balik, namun tetap kegiatan
coaching-nya tidak mengalir mulus dan kontinu. Bahkan, saat program
coaching
digalakkan, dengan dialokasikannya waktu-waktu khusus, yang terjadi
malah program tersebut menjadi kaku, formal dan tidak efektif. Kita
tentu jadi berpikir keras, mencari tahu letak salahnya.
Sebuah
penelitian terhadap 28.000 manajer di 117 perusahaan yang berbeda,
menemukan bahwa pemberian umpan balik masih sangat rancu. Berdasarkan
riset ini, hal yang dinilai lebih sulit malah ternyata umpan balik ke
atas, yaitu memberi masukan pada atasan. Terlepas dari latar belakang
budaya, keinginan untuk menyenangkan orang lain, apalagi atasan, selalu
ada.
Inilah yang menjadi salah satu masalah utama dalam pengembangan budaya
coaching,
yaitu menyaring dan menyampaikan kebenaran, sekaligus menjaga
kenyamanan di lingkungan kerja. Bila para anak buah ragu memberi umpan
balik pada atasan sebagai
coach mereka, dan para atasan sendiri
masih kesulitan untuk menerima umpan balik secara jujur, bagaimana
mungkin hubungan baik yang melandasi
coaching bisa terbentuk?
Pelajaran pertama: menerima umpan balikDalam buku
Primal Leadership: Realizing the Power of Emotional Intelligence,
Daniel Goleman dkk, menggunakan istilah “The CEO Disease”, yaitu gejala
di mana para pimpinan tertinggi tidak bisa merasakan suasana hati
organisasinya, kehilangan kepekaan untuk meraba tingkat kejujuran dalam
organisasi. Penyebabnya adalah kurangnya keterbukaan pimpinan untuk
meraba, mendengar, dan menggali umpan balik.
Bisa kita bayangkan,
bila tokoh kunci dalam organisasi menghalalkan umpan balik yang "tidak
jujur" terhadap dirinya, bagaimana mungkin organisasi akan mengupayakan
keterbukaan di lingkungan tersebut?
Riset mengatakan bahwa
pemimpin dengan EQ tinggi biasanya mengejar umpan balik, baik positif
maupun negatif. Namun, mengapa tidak semua orang bisa melakukannya
dengan mudah? Dalam ilmu psikologi, kita mengenal istilah
mechanism of defensiveness, yaitu energi yang digunakan individu untuk “membentengi” diri, agar kritik, umpan balik tidak “melukai” harga dirinya.
Inilah
yang menyebabkan umpan balik kerap mental, tidak membuat individu
melakukan upaya perbaikan. Alih-alih membuka diri terhadap umpan balik,
individu bisa jadi malah menunjukkan sikap anti-kritik, mencari
pembenaran, bahkan “ngeles” alias “
denial”.
Sayangnya
program pengembangan kepemimpinan yang ada, lebih banyak melatih cara
memberi umpanbalik, ketimbang cara menerima dan mengolah umpan balik
dengan bijaksana. Padahal “
A good coach must have been a good coachee”.
Sebelum kita memberikan umpanbalik, kita perlu mengasah kemampuan untuk
menerima, mencerna, dan mengolah umpanbalik dengan efektif.
Sebagai
pimpinan, kita perlu menyusun mekanisme baru, agar reaksi kita positif
atas umpan balik yang diterima, kemudian mengarahkan energi untuk
melakukan perubahan diri positif berdasar masukan tadi. Proses perubahan
ini haruslah transparan, terbuka dan terlihat oleh lingkungan kerjanya.
Selain
untuk menghargai pemberi umpanbalik, hal ini penting untuk memberikan
teladan bagaimana mengubah diri ke arah yang lebih baik. Jadi, di
samping cara mengekspresikan umpan balik, ada pra-kondisi yang perlu
dikembangkan agar komunikasi perbaikan kinerja bisa terutarakan dengan
nyaman.
Kejujuran dan kepekaan sebagai sahabat sejatiHasnul
Suhaimi, CEO XL Axiata, pernah membuka pembicaraan dengan mengatakan:
“Apa ya yang harus saya kembangkan lagi, agar lebih sukses?”. Beliau
mengirim signal bahwa ia terbuka untuk kritik, bahkan mengejarnya. Jelas
sekali betapa beliau sudah biasa menerima dan mengolah umpan balik yang
diberikan pada dirinya. Tak ada warna kekhawatiran dan sikap defensif
dalam perilakunya, bahkan terasa benar sikap “
nothing to loose”, apa adanya.
Sikap rileks dan mudah beradaptasi inilah yang justru menjadi kekuatan utama dalam membangun suasana “
coaching”.
Beliau berkeyakinan bahwa begitu kita "takut diserang", pada saat
itulah hubungan rusak. Kita memang perlu percaya bahwa begitu sikap
defensif membudaya, "
learning" akan macet. Dan, bila "
self directed learning" terhenti, perusahaan akan sulit berubah.
“
Coaching” yang efektif selalu “
one on one”
dan diwarnai hubungan pribadi, rasa percaya, dan kejujuran yang kental.
Jadi, lagi-lagi, pemimpin perlu pasang badan untuk "berhadapan" dengan
coachee
dan menyatakan pendapat mengenai kinerjanya, apa dampaknya ke dirinya
sendiri, bukan mengatasnamakan orang lain, tim atau bahkan perusahaan.
Hasnul Suhaimi menyebut umpan balik sebagai "sahabat sejati". Masukan itu harus dijaga, agar si
coache tetap
mindful,
obyektif tentang penilaian dirinya, dan mendorong dirinya sendiri untuk
melihat kesempatan berubahnya. Beliau mengingatkan bahwa
coach yang andal harus peka terhadap porsi masukan yang diberikan. Contoh-contoh perilaku akan membuat pesan kita lebih
clear, tapi porsinya harus pas dan tidak menyudutkan. Pada saat seorang
coachee sudah
memberi tanda bahwa ia menangkap pesannya, misalnya dengan mengatakan,
“Ooo, begitu, ya, saya akan perbaiki”, kita pun perlu
stop di situ dulu.
Kita perlu tahu bahwa kita sudah menyentuh “
the sweet spot” dan memberi kesempatan pada
coachee untuk menggarap dirinya. Kesuksesan seorang
coach,
menurut beliau, bisa ditakar dari masukan yang kita dapat. Hasnul
menikmati komentar seperti, ”Seumur hidup belum ada yang memberi tahu
saya mengenai ini, dan ini akan saya
improve, pak. Terimakasih.” Hasnul Suhaimi menjadi pembicara pada seminar "The Power of Coaching", tanggal 6 Desember 2012 lalu.
(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)
Sumber: Kompas Cetak
Editor :
Dini
http://female.kompas.com/read/2012/12/10/1009434/Umpan.Balik.dalam.Coaching