Saturday, September 1, 2012

Cara Yakinkan Orang Lain untuk Terima Risiko

Hits : 625 PDF Cetak E-mail
Jumat, 31 Agustus 2012 14:02
Resesi yang terjadi dalam perekonomian dunia menyebabkan orang berfokus pada apa yang mereka harus relakan untuk dilepas, daripada memikirkan apa yang harus mereka peroleh. Namun tanpa mengambil risiko, tidak akan ada inovasi atau pertumbuhan yang diraih oleh perusahaan Anda. Untuk membantu orang di sekitar Anda menerima risiko, ajukan gagasan dalam pengertian yang mudah mereka mengerti.

Tunjukkan pada mereka kesalahan yang besar yang bisa mereka hindari jika mereka mau menerima gagasan Anda untuk menerima risiko yang tersembunyi. Tempatkan pengambilan risiko sebagai suatu hal yang tidak boleh ditinggalkan tetapi juga tidak perlu untuk digembor-gemborkan. Orang sekarang ini tidak akan melakukan tindakan jika mereka tidak ditunjukkan akibat yang harus ditanggung jika mereka tidak bertindak. (AP)

Sumber gambar: icashblog.com

http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/37-advise/19672-cara-yakinkan-orang-lain-untuk-terima-risiko.html

Menghadapi Rekan Kerja Penjilat


Jumat, 31 Agustus 2012 | 08:03 WIB
T:
Salam kenal Ibu Ainy. Saya Aida, karyawati perusahaan swasta. Ibu, saya mempunyai rekan kerja yang licik. Sepertinya ingin menyingkirkan saya. Ia seringkali mengambil alih pekerjaan saya tanpa konfirmasi terlebih dahulu.

Menurut saya, ia berusaha menarik perhatian manager saya. Hal ini membuat saya nampak tidak bertanggung jawab. Parahnya, manager saya adalah tipe orang yang pilih kasih. Di matanya, segala yang ia lakukan selalu baik dan benar.

Terus terang Bu, hal ini membuat saya merasa kurang nyaman. Ditambah lagi, hampir semua rekan kerja yang saya bawahi berasal dari daerah yang sama dengan manager dan rekan kerja saya tersebut. Bu Ainy, apa yang harus saya lakukan? Mohon sarannya ya, Bu. Terima kasih.
(Aida, 30 tahun)

J:
Mbak Aida yang budiman, memang tidak enak jika pekerjaan kita sering diambil alih oleh rekan kerja tanpa ijin. Apalagi jika ia termasuk orang yang licik dan penjilat. Pertanyaannya, tindakan terbaik apakah yang perlu Mbak Aida lakukan?

Ada 3 tindakan terbaik yang perlu Anda lakukan :

Pertama, ajaklah bicara. Tanyakan baik-baik kepadanya, apa alasannya ia sering mengambil alih pekerjaan Anda tanpa ijin. Dengarkan baik-baik penjelasannya. Kondisikan pembicaraan Anda berdua berlangsung enak tanpa emosi.

Kedua, setelah Anda mendengar penjelasannya dengan baik, katakan kepadanya bahwa secara etika, ia tidak boleh melakukannya. Bagaimana pun ia harus berbicara dengan Anda. Jika menurutnya ia melakukan semua itu demi kebaikan karena ia butuh kecepatan, maka katakan kepadanya bahwa bagaimana pun juga ia  tetap harus berbicara kepada Anda. Katakan kepadanya, mulai sekarang ia tidak boleh melakukannya lagi.

Ketiga, bicarakan dengan atasan Anda. Selama berbicara dengan atasan Anda, bicaralah secara obyektif. Artinya ceritakan apa adanya, tidak lebih dan tidak kurang. Ini sangatlah penting, karena menunjukkan Anda seorang yang profesional. Bukan iri hati apalagi dengki. Katakan kepada atasan Anda bahwa sangatlah tidak etis jika hal ini terus terjadi. Karena bisa memicu percekcokan dan ketidak harmonisan sebuah tim.

Mintalah atasan Anda untuk berbicara bertiga yaitu Anda, rekan kerja Anda serta atasan Anda. Buatlah kesepakatan bersama agar hal ini tidak terulang lagi. Ini sangatlah penting demi menciptkan lingkungan kerja yang kompak, saling menghargai dan saling mendukung. Selamat melangkah!


Editor :
Hesti Pratiwi
 
http://female.kompas.com/read/2012/08/31/08030928/Menghadapi.Rekan.Kerja.Penjilat

Friday, August 31, 2012

Peluang usaha minuman cokelat

TAWARAN KEMITRAAN


Minuman cokelat punya banyak penggemar di Indonesia. Itu yang menjadi alasan Hadi Wibowo mendirikan gerai minuman cokelat dengan brand Coklat Mania di Semarang, Jawa Tengah sejak 2007 silam. Dua tahun berselang, Hadi resmi menawarkan kemitraan ke publik.
Tiga tahun mengelola kemitraan, Coklat Mania kini telah memiliki 95 outlet di seluruh Indonesia. Tujuh di antara milik sendiri di Semarang dan sisanya milik mitra yang tersebar di pelbagai daerah. Menurut Hadi, perkembangan pesat jumlah mitra Coklat Mania lantaran persaingan bisnis ini tidak seketat kuliner lain.
Selain itu, Hadi mengklaim, harga minuman cokelat yang ia tawarkan relatif murah. Tapi, cita rasanya tak kalah dari kompetitor yang menjual dengan harga lebih mahal. "Kami menjual Rp 2.500 - Rp 5.000 per cup dengan beragam variasi topping, seperti keju dan irisan buah," tuturnya.
Untuk menjadi mitra Coklat Mania, Hadi menyiapkan dua paket investasi. Yakni, paket Rp 3,75 juta untuk booth dan Rp 12 juta untuk booth di mal. Ia menjanjikan, omzet mitra sekitar Rp 250.000-Rp 500.000 per hari. Dengan laba sekitar 40% - 50%, Hadi memperkirakan mitra bisa balik modal dalam dua bulan.
Ia mengklaim, beberapa mitranya bahkan banyak yang sudah bisa balik modal pada bulan pertama. Namun, dengan catatan lokasinya harus strategis. "Rekomendasi kami, mitra membuka gerai di depan sekolah, kampus, dan juga pusat perbelanjaan," sarannya.
Hingga akhir tahun ini, Hadi menargetkan bisa merangkul sekitar 60 mitra baru di seluruh Indonesia. Dia menjelaskan, upaya ke arah itu telah dilakukan dengan getol berpromosi terutama di kawasan Indonesia Timur yang belum terlalu banyak kompetitornya. "Kami berusaha masuk ke sana dalam waktu dekat ini, terutama di wilayah Sulawesi yang persaingannya belum ketat," jelas Hadi.
Selain genjar berpromosi, Hadi juga rajin melakukan inovasi terhadap menu. Ambil contoh, dengan memperbanyak juga variasi topping.

Peluang manis bisnis es teh manis

TAWARAN KEMITRAAN


Menenggak segelas es teh manis di tengah terik matahari, pasti terasa nikmat. Tak heran, minuman ini cukup laris manis. Pengusaha minuman ini juga terus bermunculan. Salah satunya adalah Tony Haryanto yang mengusung merek Goal Tea.
Usaha yang berada di bawah CV Gerai Nusantara ini sudah berdiri sejak awal tahun 2009. Dan, di akhir 2009 langsung menawarkan kemitraan. "Kami telah memiliki 82 gerai yang tersebar di Jabodetabek, Flores, dan Pekalongan," ujar Tony Haryanto pemilik CV Gerai Nusantara.
Seluruh gerai tersebut, Tony mengungkapkan, milik mitra. Dalam kerjasama ini, Goal Tea menawarkan paket investasi senilai Rp 5 juta. Paket tersebut termasuk booth, mesin sealer, dispenser, cooler box, termos, teko listrik, dan bahan baku awal.
Dengan harga jual Rp 2.000 per cup, mitra bisa mengantongi omzet Rp 6 juta per bulan. Laba bersihnya sekitar 30%. Dengan asumsi mitra bisa menjual minimal 100 cup per hari, mitra bisa balik modal 2,5 bulan saja.
Tony mengklaim, keunggulan Goal Tea terletak pada campuran teh dan kebersihannya. "Salah satu campuran adalah teh hitam yang sangat bagus untuk antioksidan," jelasnya.
Goal Tea sendiri ditawarkan dengan pilihan rasa vanila, jeruk, dan susu.Teh ini juga sudah mengantongi sertifikat layak dari Kementerian Kesehatan. Racikan tehnya memakai gula asli bukan biang gula. Begitu juga esnya, tidak menggunakan es balok.
Tony juga mengklaim sangat menjaga standar kualitas penyajian. Ia akan melakukan kontrol secara rutin ke masing-masing gerai. Bila mitra menggunakan gula biang atau es balok, maka gerainya akan ditutup.
Itu sebabnya, Tony optimistis, usahanya ini masih akan terus berkembang lantaran teh adalah minuman yang diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Targetnya, dalam setiap bulan bisa menambah tiga gerai sehingga akhir tahun ini ada 12 gerai baru. "Saya tidak menargetkan terlalu banyak, yang penting memaksimalkan gerai yang ada," ujar dia.

Bijak dalam Mengelola Investasi


Hits : 286 PDF Cetak E-mail
Kamis, 30 Agustus 2012 08:59
investor0312
Investor perlu bersikap bijak dalam mengelola investasinya. Sikap bijak itu dilakukan dengan mengelola risiko terhadap investasi dalam mengelola portofolionya. pasalnya, kondisi bursa saham terus berfluktuasi seiring dengan perkembangan ekonomi nasional, regional, bahkan global.

Agar kondisi keuangan Anda tetap aman selama berinvestasi, Anda dapat menyisihkan dana likuid dalam bentuk deposito atau tabungan sebesar 12 bulan biaya hidup sebagai dana darurat. Dana ini harus berada di luar dana yang akan diinvestasikan.

Selain itu, dalam berinvestasi Anda dapat menerapkan cara yang lebih sistematis seperti dollar cost averaging dan diversifikasi instrumen investasi. Sekadar indormasi, dollar cost averaging adalah teknik investasi yang dilakukan secara teratur atau bertahap. Cara ini juga memberikan kesempatan lebih tinggi bagi investor untuk meraih keuntungan, karena investor mendapatkan harga rata-rata investasi per unit yang lebih rendah dibanding cara investasi melalui teknik lain.

Dollar cost averaging memberi manfaat kepada investor karena sang investor tak perlu mengira-ngira waktu yang tepat untuk investasi karena investasi dilakukan secara berkala. (*/dari berbagai sumber)

http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/182-investasi/19626-bijak-dalam-mengelola-investasi.html

SENTRA KERAJINAN KERAMIK PLERED, PURWAKARTA


Ada ratusan perajin (1)

Sentra keramik Plered: Ada ratusan perajin (1)

Bila Anda tengah berkunjung atau melintas di Purwakarta, Jawa Barat, tak ada salahnya berkunjung ke Desa Anjun, Kecamatan Plered. Di sana, ada ratusan perajin yang memproduksi dan menjual aneka kerajinan keramik.Harganya mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Omzet perajin pun mencapai puluhan juta.

Selain di Kasongan, Yogyakarta, sentra kerajinan keramik juga bisa Anda jumpai di Purwakarta, Jawa Barat. Di daerah ini, sentra kerajinan keramik bisa Anda temukan di Desa Anjun, Kecamatan Plered.

Lokasinya tidak jauh dari Pasar Plered. Sementara, dari terminal Purwakarta, jaraknya sekitar 20 kilometer (km). Untuk menuju desa ini, Anda bisa menumpang angkutan umum dengan trayek Pasar Plered.

Di Anjun terdapat ratusan perajin yang memproduksi bermacam kerajinan keramik. Beberapa di antaranya adalah vas bunga, guci, meja, kursi, tempat payung, dan masih banyak lagi.

Semua kerajinan itu terbuat dari tanah liat yang diberi pelbagai motif seperti bunga. Umumnya, proses produksi dilakukan di rumah masing-masing perajin. Tapi, sebagian perajin ada juga yang sudah mendirikan bengkel kerja khusus tak jauh dari rumahnya.

Saat KONTAN menyambangi desa ini Juli 2012 lalu, para perajin tampak sibuk bekerja. Sedang di bagian depan rumah mereka terlihat ratusan kerajinan keramik yang sedang dikeringkan di bawah terik matahari.

Keramik yang baru selesai dibuat itu masih belum dicat. Alhasil, warna aslinya yang terbuat dari tanah liat terlihat terang menyala.

Ade Sudrajat, salah seorang perajin keramik, mengatakan, proses pembuatan keramik di desanya telah ada sejak nenek moyangnya. Sampai sekarang kerajinan itu masih berjalan secara turun temurun. "Kami hanya meneruskan usaha yang sudah ada dengan pelbagai perkembangan bentuk," kata dia.

Ade sendiri sudah melakoni usaha ini sejak 15 tahun lalu. Dengan dibantu lima karyawan, ia bisa memproduksi sebanyak 100 hingga 150 keramik sehari.

Keramik hasil karyanya dibanderol dengan harga Rp 10.000 hingga ratusan ribu per buah. "Harga tergantung bentuk keramik dan kerumitan membuatnya," kata Ade. Dari usahanya ini, dalam sebulan ia bisa meraup omzet sekitar Rp 90 juta, dengan laba berkisar 30%.

Perajin lainnya adalah Haja Ayat yang sudah terjun ke bisnis pembuatan keramik sejak 1981 silam. Selain memproduksi, Haja juga memiliki toko keramik yang ada di Jalan Raya Anjung, Plered.

Tempat pembuatan keramik Haja tidak jauh dari tokonya. Dalam sehari, bengkel produksinya bisa membikin rata-rata sebanyak 50 buah sampai 100 kerajinan keramik. Produk keramiknya dijual dengan harga
Rp 10.000 sampai ratusan ribu per buah. Saban bulan pendapatan Haja mencapai sekitar Rp 50 juta.

Seangkatan dengan Haja, Slamat Krajan juga telah menekuni usaha ini sejak tahun 1980-an. Saat ini, dia memproduksi sekitar 60 sampai 100 kerajinan keramik per hari, dengan omzet Rp 55 juta.

Produk keramik Slamat kebanyakan berupa vas bunga dan tempat payung. "Usaha ini adalah warisan orang tua," jelasnya.

Kendala modal (2)

Sentra keramik Purwakarta: Kendala modal (2)

Jumlah perajin keramik di Desa Anjun, Plered, Purwakarta terus menyusut. Pasalnya, banyak perajin skala kecil yang bangkrut karena kekurangan modal dan pengetahuan mengelola keuangan. Sebagian memang masih ada yang bertahan. Mereka menjual keramik buatannya ke perajin besar dengan harga murah.

Pusat produksi keramik di Plered, Purwakarta, Jawa Barat sudah dikenal sejak awal abad ke-20. Sentra ini terpusat di Desa Anjun. Saat masih jaya-jayanya, jumlah perajin keramik di Plered mencapai 2.000 orang.

Tapi, belakangan banyak perajin yang bangkrut alias gulung tikar. Kini, jumlahnya tinggal ratusan perajin saja. Banyak dari mereka yang bangkrut karena kurangnya modal dan pengetahuan mengelola keuangan.

Ujang, salah seorang perajin kecil di Plered bilang, selama ini dia kesulitan mengembangkan usahanya lantaran kendala modal dan tenaga. "Dalam sehari saya hanya bisa menjual 50 keramik," katanya.

Untuk bertahan, Ujang menjual keramik ke perajin besar dengan harga sangat murah. Yakni, antara Rp 500 - Rp 1.000 per keramik. Keramik dia hargai murah karena belum dicat dan diberi motif. Kendati belum dicat dan diberi motif, proses pembuatan keramik sendiri tidak mudah.

Untuk tanah liatnya, mereka harus membeli dari daerah Citeko, Plered. Setelah itu, tanah dibentuk menjadi aneka produk keramik. Kemudian, keramik dibakar dan dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari.

Ujang terpaksa menjual keramik kepada para perajin besar dengan harga murah. "Soalnya, kami juga butuh uang cepat buat hidup sehari-hari," ujarnya lirih.

Salah seorang perajin besar yang kerap menampung keramik dari para perajin kecil adalah Mochamad Taufiq. Ia menampung keramik dari para perajin kecil dengan harga murah karena produknya masih harus di-finishing.

Proses finishing di antaranya meliputi pengecatan dan pemberian motif. Setelah selesai di-finishing, keramik Taufiq jual dengan harga lumayan tinggi. Yaitu, mulai Rp 10.000 hingga ratusan ribu per keramik.

Menurut Taufiq, banyak perajin kecil sulit berkembang akibat terkendala modal. "Sudah itu, mereka juga tidak pandai mengelola keuangan, sehingga banyak yang bangkrut," katanya.

Sayang, dukungan dari pemerintah tergolong minim. Contoh, penyuluhan atau pelatihan dari pemerintah sangat jarang diberikan.

Perajin besar lainnya, Ade Sudrajat, mengakui minimnya dukungan dari pemerintah setempat dalam mengembangkan kerajinan keramik di Plered. Padahal, para perajin sangat membutuhkan adanya penyuluhan, pelatihan, maupun bantuan modal dari pemerintah.

Haji Ayat, perajin lainnya, menambahkan, kendala modal sebenarnya bisa diatasi dengan mengajukan pinjaman ke bank. Tapi, bagi perajin kecil, bunga bank yang lumayan tinggi jelas memberatkan mereka.

Tahun lalu sebetulnya sempat ada program bantuan modal dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan bunga yang cukup rendah. Namun, tidak semua perajin memenuhi persyaratan sehingga banyak yang tidak mendapat pinjaman ini.

Selalu ramai (3)

Sentra keramik Plered: Selalu ramai (3)

Desa Anjun, Plered, Purwakarta sudah tersohor sebagai sentra keramik di Jawa Barat. Sentra ini selalu ramai dikunjungi konsumen. Kebanyakan dari mereka merupakan para pedagang keramik dari sejumlah daerah. Selain dijual lagi di daerahnya, ada juga pedagang yang mengekspor keramik Plered ke sejumlah negara.

Selama puluhan tahun, Desa Anjun, Kecamatan Plered dikenal sebagai sentra keramik. Di desa ini terdapat ratusan perajin yang memproduksi bermacam kerajinan keramik.

Beberapa di antaranya adalah vas bunga, guci, meja, kursi, tempat payung, dan masih banyak lagi. Selain pusat produksi, desa ini juga menjadi pusat perdagangan keramik.

Karena sudah terkenal luas dan memiliki stok keramik dalam jumlah banyak, banyak pedagang dari daerah berburu keramik ditempat ini untuk dijual kembali.

Biasanya, mereka belanja keramik setiap akhir pekan. Selain diramaikan para pedagang, para wisatawan juga kerap menyambangi desa ini. Tidak hanya berburu keramik, mereka juga berkesempatan melihat langsung proses pembuatan keramik dari dekat.

Bahkan, hari kerja pun desa ini tetap ramai dikunjungi wisatawan. Seperti saat KONTAN menyambangi desa ini pada Juli 2012 lalu. Nampak, beberapa bus mengangkut rombongan pelajar yang tengah melakukan study tour atau darma wisata ke Plered.

Mereka terlihat mengunjungi beberapa bengkel kerja milik para perajin untuk melihat langsung proses pembuatan keramik.

Haja Ayat, salah seorang perajin keramik di Desa Anjun mengaku, desanya memang kerap dikungjungi para pelajar. Selain dari Jawa Barat, "Banyak juga pelajar dari Jawa Tengah dan Jawa Timur," katanya.

Sementara pelanggannya sendiri kebanyakan para pedagang dari daerah-daerah. Para pedagang itu umumnya berasal dari luar Plered, seperti Jakarta, Bandung, dan kota-kota lain di Indonesia.

Para pedagang ini ada juga yang mengekspor keramik Plered ke sejumlah negara.Menurut Ayat, setiap perajin keramik sudah memiliki pelanggan tetap.

Ayat sendiri, kerap melempar produk keramiknya ke sejumlah pedagang asal Jakarta. Para perajin menawarkan harga berbeda antara pedagang dengan wisatawan.

"Kami kasih harga tinggi jika konsumennya wisatawan, karena mereka hanya beli sedikit," ujar Ayat.

Jika konsumennya wisatawan, rata-rata harga keramiknya dibanderol mulai Rp 20.000-Rp 300.000 per buah. Sementara bila dijual ke pedagang harganya mulai Rp 10.000 hingga ratusan ribu per buah.

Perajin lain, Ade Sudrajat juga memiliki pelanggan dari kalangan pedagang. "Mereka banyak dari Jakarta," ujarnya. Setiap hari, Ade rutin memasok 300 keramik ke Jakarta. Ade bilang, jika sudah memiliki pelanggan, pendapatannya sudah pasti.

Sementara jika mengharapkan kedatangan wisatawan ke Plered, ia harus bersaing dengan para perajin lainnya.

Mochamad Taufiq, perajin lainnya memilih menjual semua produknya ke para pedagang keramik yang ada di Plered. Ia bilang, sudah memiliki sejumlah pedagang yang siap menampung keramiknya.
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-keramik-plered-ada-ratusan-perajin-1/2012/08/28
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-keramik-purwakarta-kendala-modal-2/2012/08/29
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-keramik-plered-selalu-ramai-3

Zaza salon genjot mitra usaha


Pasar bisnis salon muslimah di Indonesia kian menjanjikan. Terbukti, jumlah gerai salon muslimah kini terus bertambah. Itu pula yang Laili Sa'adah, pemilik Zaza Salon Muslimah dari Kudus, Jawa Tengah, rasakan. Tahun 2011, jumlah gerai Zaza Salon baru ada lima. Seluruh mitra itu masih terkonsentrasi di Jawa Tengah, yakni Solo dan Purwodadi.
Tapi sekarang, jumlahnya sudah 10, tersebar di berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Malang, Probolinggo, Cilegon, Pangkal Pinang, Medan, dan Semarang. Melihat tingginya minat mitra usaha, Laili menargetkan tahun ini bisa menambah 20 mitra baru di seluruh Indonesia.
Saat ini, saja ada empat sampai lima permohonan kerjasama dari para calon mitra usaha dari berbagai daerah.Guna meraih target, Laili terus merapikan konsep kemitraan. "Kami terus melakukan penyempurnaan layanan dengan membuat standar layanan untuk para petugasnya," kata Laili yang merintis usaha sejak 2008 ini.
Pelayanan yang ada di Zaza Salon Muslimah sendiri sangat lengkap, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Diantaranya ada creambath, hairspa, potong rambut sampai meni pedi, bahkan spa-V juga tersedia.
Zaza Salon juga gencar melakukan promosi, terutama media jejaring sosial, seperti facebook dan twitter. Untuk biaya kemitraannya masih dibanderol Rp 37,5 juta. "Tapi Oktober nanti kami naikkan menjadi Rp 50 juta," kata dia. Kenaikan biaya ini dilakukan demi peningkatan pelayanan.
Selama ini, dengan membayar biaya kemitraan Rp 37,5 juta, mitra mendapatkan hak menggunakan nama Zaza Salon Muslimah lima tahun. Ada juga training karyawan, training owner, standar operasional prosedur (SOP), marketing plan, serta desain exterior dan interior salon. Mitra juga akan mendapatkan pendampingan rutin.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/zaza-salon-genjot-mitra-usaha