Sentra Perabot: Tempat berburu perabot murah (1)
Oleh Revi Yohana, Fahriyadi - Minggu, 26 Agustus 2012 | 18:58 WIB
Sentra perabotan rumahtangga merupakan satu dari
sekian banyak sentra produk lain di kawasan Pasar Jatinegara, Jakarta
Timur. Sentra perabotan rumahtangga ini sudah di Pasar Jatinegara sejak
1980-an. Lokasinya tidak jauh setelah Halte Transjakarta Pasar
Jatinegara. Sentra ini berada di pinggir Jalan Pasar Jatinegara. Tapi,
ada juga pedagang yang kiosnya di dalam gang yang sepanjang jalannya
penuh kios perabotan rumahtangga.
Di sentra ini ada sekitar 25 pedagang. Sebagai pusat perabotan
rumahtangga, tempat tersebut menjual hampir semua jenis perabotan
rumahtangga. Mulai dari perabotan kecil, seperti kemoceng, gantungan
baju, dan keset, hingga perabot besar semisal lemari kabinet dan tempat
tidur. Selain itu, juga banyak dijual produk-produk elektroknik
rumahtangga, semacam kipas angin, setrika, dan rice cooker.
Zubaedah, salah satu pedagang di sentra ini, mengaku menyediakan
hampir semua jenis perabot rumahtangga. Harganya berkisar mulai Rp
10.000 untuk perabot kecil, hingga Rp 800.000 untuk perabot besar
seperti tempat tidur. Ia juga menjual peralatan dapur seperti panci,
penggorengan, dan kompor.
Dari usahanya ini, Zubaedah bisa mengantongi omzet minimal sebesar Rp
1 juta per hari. Menurutnya, omzetnya lumayan besar karena sentra ini
selalu ramai dikunjungi pembeli. Maklum, sentra ini sudah kesohor di
Jakarta dan sekitarnya. "Tempat berjualan kami ini sudah 30 tahun,
turun-temurun dari kakek," jelas Zubaedah.
Awalnya, Zubaedah bilang, pedagang perabotan rumahtangga di
Jatinegara yang di zaman Belanda bernama Meester Cornelis baru ada enam
orang. Toko mereka belum sebesar sekarang. Tapi sekarang, selain jumlah
pedagangnya makin banyak, tokonya juga besar-besar dengan barang
dagangan yang makin lengkap.
Samadi, pedagang lainnya, termasuk pedagang senior. Ia sudah
berjualan di tempat ini sejak 20 tahun lalu. Ia membenarkan, jumlah
pedagang sekarang jauh lebih banyak dari saat awal ia berjualan. "Meski
pedagang kian banyak, pembelinya juga bertambah," katanya.
Pembeli semakin ramai, Samadi menjelaskan, lantaran sentra ini
semakin dikenal luas masyarakat dan semakin lengkap barang dagangannya.
Ia sendiri memiliki dua toko di Pasar Jatinegara. Kedua kiosnya itu bisa
meraup omzet minimal Rp 7 juta-Rp 8 juta sehari.Adapun laba bersihnya
10% hingga15% dari omzet.
Samadi mengungkapkan, sebagian besar pelanggan sentra ini merupakan
warga Jabodetabek. Selain konsumen pengguna, banyak juga pelanggan
sentra ini berprofesi sebagai pedagang. Biasanya, mereka menjual lagi
perabotan tersebut di daerah lain. "Kalau harganya cocok dan masih bisa
untung, mereka ambil barang dari sini," ungkap Samadi.
Harga perabot di tempat ini memang terhitung miring. Ambil contoh,
rice cooker yang di supermarket biasanya Rp 500.000 per unit, di sini
hanya Rp 350.000.
Sentra perabot: Sesuai kebutuhan konsumen (2)
Oleh Revi Yohana, Fahriyadi - Senin, 27 Agustus 2012 | 12:37 WIB
Pedagang produk perabotan rumah tangga di Pasar
Jatinegara, Jakarta Timur banyak memiliki pelanggan dari kalangan
perusahaan, rumah sakit, sekolah-sekolah hingga universitas. Biasanya,
mereka membeli dalam jumlah besar. Pedagang sendiri akan memasok perabot
yang sedang banyak dicari.
Sentra perabotan rumah tangga di
Pasar Jatinegara selalu ramai diserbu pembeli. Namun, tidak seluruh
perabotan bisa laku dalam waktu yang sama. Biasanya ada musim-musim
tertentu di mana satu produk lebih laku dari produk yang lain. Untuk
itu, pedagang harus jeli membaca peluang tersebut.
Pada saat
menjelang Lebaran, misalnya, produk stoples yang paling laris. Makanya,
banyak pedagang menjajakan produk ini. Namun, setelah lebaran usai,
stoples tersebut akan disimpan kembali.
Giliran produk lain yang
akan ditonjolkan pedagang. "Kalau stoples dipajang khusus menjelang
Lebaran dan tahun baru, karena tidak laku kalau enggak musimnya, jadi
saya simpan saja," ujar Samadi, pedagang perabotan di Pasar Jatinegara.
Jika
musim hujan, alat-alat kebersihan rumah yang paling banyak laku. Di
saat-saat seperti itu, Samadi banyak memasok alat pel, ember, keset,
tempat sampah dan alat kebersihan lainnya.
Jumlahnya lebih
banyak ketimbang hari biasa. Selain pembeli eceran, banyak pula yang
membeli barang tersebut dalam partai besar. Untuk alat-alat kebersihan
semacam itu, langganannya banyak perusahaan penyedia jasa
cleaning service perkantoran dan rumah sakit.
Sekali
membeli, biasanya mereka memborong alat kebersihan sebanyak 50 hingga
100 buah. Menurut Samadi, mereka ini rutin datang berbelanja.
Pedagang
lainnya, Doni juga mengaku kerap melayani melayani pembelian dari
perkantoran dan rumah sakit. Selain itu, banyak juga sekolah atau kampus
yang berbelanja di tempatnya.
Makanya, omzetnya pun terpengaruh
dengan siklus penerimaan siswa atau mahasiswa baru. "Setiap musim
ajaran baru, pemesanan perabot kebersihan lebih meningkat," katanya.
Jika
membeli secara borongan, biasanya Doni memberi potongan harga. Mengenai
pasokan barang, para pedagang mengaku tidak kesulitan.
Setiap
hari selalu ada sales produk yang berkeliling menawarkan produk kepada
para pedagang. Pedagang tinggal menyebutkan kebutuhan produknya dan
barang tersebut akan dibawa keesokan harinya.
Selain itu, ada
pula barang yang bisa dipesan langsung ke pabrik via telepon.
Selanjutnya, barang akan diantarkan langsung ke pedagang.
"Setiap
hari kami memasok barang baru. Maka, barang terus berputar.
Pintar-pintar saja melihat mana yang sedang laku," ujar Doni.
Zubaedah
juga jeli dalam memasok barang. Ia mengaku tidak mau memasok barang
yang tidak begitu diminati dalam jumlah banyak. Sebaliknya, ia memilih
mengikuti musim atau siklus barang yang sedang diminati konsumen.
Menjelang
tahun baru mendatang, ia telah menyiapkan sejumlah produk yang banyak
dicari konsumen, seperti kasur, lemari susun, rak, dan karpet. Saat
sedang ramai dipesan, harga barang-barang tersebut terkadang lebih
mahal dari biasanya.
Sentra Perabot: Rukun karena satu kampung (3)
Oleh Revi Yohana, Fahriyadi - Senin, 27 Agustus 2012 | 18:25 WIB

Sentra perabotan rumah tangga di Pasar Jatinegara,
Jakarta Timur diramaikan sekitar 25 pedagang. Kendati saling bersaing
mendapatkan pembeli, toh hubungan sesama pedagang tetap terjalin
harmonis. Para pedagang hidup rukun dan saling dekat satu sama lain.
Hubungan harmonis ini tercipta karena mereka semua bernaung di bawah
Perkumpulan Pedagang Cirebon di Mesteer.
Kebetulan hampir semua pedagang perabotan rumah tangga di Pasar
Jatinegara ini berasal dari Cirebon. Sejatinya, perkumpulan ini tidak
hanya mengayomi para pedagang perabot saja. Tetapi, juga seluruh
pedagang di Mesteer asal Cirebon yang jumlahnya lebih dari 200 orang.
Di dalam perkumpulan itu terdapat unit-unit usaha yang masing-masing
memiliki ketua. Khusus untuk pedagang perabotan rumah tangga, ketua
perkumpulan dijabat oleh Samadi.
Samadi mengaku ditunjuk ketua karena termasuk orang yang pertama
berdagang perabot di Mesteer. "Karena saya yang dituakan, saya berusaha
mengatur agar jangan ada persaingan tidak bagus di kawasan ini," ujar
Samadi.
Di dalam perkumpulan, kata Samadi, para pedagang kerap melakukan
pertemuan rutin. Makanya, komunikasi sesama pedagang terjalin dengan
baik. Selain itu, pedagang juga kerap urunan biaya bila ada acara
tertentu. Termasuk ketika ada anggota keluarga pedagang yang sakit.
Contoh lain, saat menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus. Seluruh
pedagang akan patungan untuk mengadakan acara perayaan kemerdekan di
Cirebon. "Kebetulan kami semua satu kampung jadi bisa membuat acara
seperti ini," ujar Samadi.
Samadi bercerita, bila ada kegiatan yang dilakukan di Cirebon,
seluruh pedagang biasanya akan pulang kampung untuk mengikuti acara
tersebut. Sementara penjualan akan dititipkan kepada karyawan.
"Makanya, perkumpulan ini yang dijaga hatinya, saling silaturahmi,
sehingga satu sama lain tidak boleh sirik," ujar Samadi. Pedagang
lainnya, Doni membenarkan hal tersebut. Menurutnya, selama berjualan di
pasar itu hubungan sesama pedagang selalu rukun. Ia mencontohkan, ketika
dirinya kehabisan stok barang saat ada pembeli.
Karena hubungan baik dengan sesama pedagang, ia bisa meminjam barang
dari pedagang lainnya, sehingga tidak kehilangan pelanggan. Begitu pun
sebaliknya. Kendati rukun, namun bukan berarti tidak ada persaingan sama
sekali. Ia tak menampik, kadang-kadang ada pedagang yang menjual harga
lebih murah. "Kalau jual murah, mungkin sedang butuh untuk bayar
karyawan, rezeki masing-masing sudah ada yang mengatur," ujar Doni.
Ke depannya, Menurut Doni, persaingan sesama pedagang bakal semakin
ketat. Setelah Lebaran biasanya akan datang lagi pedagang baru, baik
dari Cirebon maupun dari tempat lain yang mencoba mengadu nasib dengan
berjualan di kawasan ini.
Jika tak bertahan, mereka akan menjadi pedagang musiman. Namun jika
bertahan biasanya menjadi anggota tetap perkumpulan pedagang kawasan
itu. "Yang terpenting, persaingan tetap terjaga baik," timpal Zubaedah,
pedagang lainnya.
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-perabot-tempat-berburu-perabot-murah-1/2012/08/26
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-perabot-sesuai-kebutuhan-konsumen-2/2012/08/27
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-perabot-rukun-karena-satu-kampung-3