Showing posts with label media sosial. Show all posts
Showing posts with label media sosial. Show all posts

Tuesday, December 4, 2012

4 Langkah "iBranding" Lewat Media Sosial


Selasa, 4 Desember 2012 | 16:02 WIB

Jangan hanya memikirkan atau merancang strategi branding produk Anda tapi juga diri Anda.
KOMPAS.com - Personal branding mirip dengan menjual produk. Butuh promosi supaya "laku" dijual. Bedanya, hal utama yang kita dapat dari iBranding bukanlah uang, melainkan image positif yang membuat diri Anda "potensial" di mata bos dan klien. Apalagi kalau kita masih mengincar posisi lowong di perusahaan idaman, butuh strategi khusus supaya nama Anda dilirik. Cara mudahnya, gunakan media sosial untuk promosi diri. Bisa lewat LinkedIn, Twitter, Facebook, atau Path. Berikut langkah-langkahnya:

1. Following.
Follow akun-akun penting demi kemajuan karier atau bisnis. Bisa akun resmi perusahaan idaman, akun situs pencari kerja, atau siapa pun yang bisa memberi semangat positif. Anda boleh juga boleh unfollow akun yang isinya keluhan supaya tidak tertular energi negatif.

2. Tagline.

Buat tagline di bio yang menjelaskan profesi atau kemampuan Anda. Misalnya, "Adinda-2 years experience in Public Relations & Marketing - Good Communication Skill - Creative Writer".

3. Pengalaman.

Tambahkan pengalaman penting di akun media sosial. Meliputi pengalaman kerja, passion dan prestasi yang pernah Anda dapat untuk mendukung iBranding.

4. Blog atau profesional website.

Mulailah membuat blog atau profesional website. Terutama kalau Anda ingin membangun bisnius. Dengan begitu, saat perusahaan googling nama Anda untuk mencari tahu, banyak informasi yang bisa mereka dapat. Karena itu, jangan asal "berkicau" karena HRD juga menilai calon karyawan lewat status di media sosial.

(Majalah Chic/Ayunda Pininta Kasih)
Editor :
wawa
 
 http://female.kompas.com/read/2012/12/04/16024548/4.Langkah.iBranding.Lewat.Media.Sosial

Thursday, June 28, 2012

Membangun Layanan Pelanggan di Media Sosial ala Dell

Views :320 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 28 Juni 2012 09:28
sosmed0612Terima kasih kepada media sosial, sekarang pelanggan dan pemilik bisnis memiliki pilihan lebih dari sebelumnya. Bahkan kini kita sering melihat banyak orang melakukan keluhan lewat media sosial, baik itu di Twitter maupun Facebook.

Sebelumnya, ketika pelanggan ingin berdiskusi tentang suatu produk atau layanan, mereka akan menghubungi call center dan masalah mereka akan diselesaikan secara pribadi.

Hanya pelanggan dan perusahaan yang akan mendengar keluhan atau pujian Anda. Namun sekarang, beragam isu ini dimuat secara terbuka menjangkau para pembeli potensial dalam jangkauan publik yang lebih luas.

Di masa kini, sebuah keluhan dari pelanggan di media sosial dapat berpengaruh dan memberi efek yang lebih besar pada reputasi perusahaan Anda, jika admin dari media sosial Anda tidak segera memberi jawaban dan solusi pada pelanggan.

Lebih lanjut lagi, percakapan di media sosial juga dapat digunakan sebagai sistem peringatan awal untuk isu yang berkembang sekitar produk dan layanan perusahaan.

Bagi Anda, pekerja di divisi customer care yang ingin membangun layanan pelanggan melalui media sosial, berikut beberapa saran dari Pieter Lydian, Direktur dan Country Manager Dell Indonesia seperti yang dikutip dari detikInet:

1. Pilihlah perantara yang tepat untuk demografi AndaSebelum membuat sebuah forum untuk customer support, evaluasi dulu target market Anda untuk menentukan media sosial apa yang paling cocok untuk menjangkau mereka.

Support forum dan discussion board dapat menjadi sarana untuk menawarkan solusi ke publik dan menghubungkan konsumen dengan para ahli, baik di perusahaan maupun para konsumen dan suporter Anda.

Twitter memiliki volume yang besar dengan kurang dari atau 140 karakter dengan berbagai kesempatan untuk berhubungan 1:1 dengan berbagai pihak tentang brand, produk maupun layanan Anda.

Media sosial seperti Facebook juga menawarkan kesempatan yang baik untuk berhubungan dengan anggota komunitas Anda. Para konsumen Anda telah memilih jaringan media sosialnya masing-masing dan penting bagi Anda sebagai pelaku usaha untuk menjangkau para konsumen dimanapun media sosial pilihannya.

2. Memusatkan pendekatan AndaPada mulanya, di Dell global hanya ada 20 pegawai yang memiliki akun Twitter, tidak semuanya efektif dijalankan. Ketika kami memiliki sejumlah pegawai yang terfokus ke Twitter untuk menjawab pertanyaan dan meneruskan masalah dan keluhan konsumen ke departemen yang sesuai, hal ini menyebabkan jam kerja yang tidak efisien dan bukanlah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah.

Untuk itulah kami meluncurkan @DellCares guna membantu konsumen mencari jalan keluar dari masalah mereka dan hasilnya kami berhasil membantu lebih dari 1.400 orang di bulan pertama setelah peluncurannya. Memiliki proses tweeting yang tersentralisasi merupakan kunci yang menentukan kesuksesan dan mencegah kebingungan di dalam perusahaan.

3. Personalisasi adalah kunciKetika Anda berhubungan dengan konsumen, sangat penting untuk terkoneksi dengan mereka secara personal. Orang akan merespon orang, brand akan kehilangan kredibilitasnya dengan cepat apabila diketahui komunikasi yang Anda jalankan berasal dari robot.

Oleh karenanya, setiap customer support representative yang menjalankan @DellCares memiliki inisial nama dan foto tampak muka mereka di halaman profil @DellCares dan setiap tweet ditandai sehingga konsumen mengetahui mereka berbicara dengan siapa dan tweet mereka terlihat dengan jelas.

4. Ini adalah usaha bersamaMemberikan layanan konsumen melalui media sosial membutuhkan kerjasama antara customer service, marketing dan product development untuk menangani beragam permasalahan.

Supaya dapat merespons dengan efektif masalah-masalah yang terjadi via media sosial, tim customer service Anda perlu terlatih dengan brand messaging perusahaan dan panduan menghadapi konsumen secara menyeluruh.

Apabila respons yang mereka berikan tidak sejalan dengan tujuan brand yang lebih besar, hal ini bisa menciptakan kekacauan dan akibatnya konsumen tidak akan lupa dan berdampak pada kepuasaan konsumen.

5. Menggunakan media sosial sebagai pelengkap, bukan pengganti
Media sosial tidak akan menggantikan perangkat pendukung konvensional, hal ini membuka jalan bagi pelaku usaha untuk terhubung secara real-time dengan konsumennya di tempat dimana meraka sudah memiliki percakapan.

Walaupun Twitter bagus untuk mencari konsumen dan menjangkau mereka lebih dekat, 140 karakter di dalamnya menjadi halangan untuk berdialog lebih panjang sehingga terkadang percakapan perlu dipindahkan ke medium yang lebih sesuai. Setelah masalah terselesaikan, kemudian buat kesimpulan secara publik di medium sebelumnya.

6. Tentukan proses responsnya dan pastikan untuk menindaklanjutiHanya karena media sosial dijalankan secara real-time tidak berarti setiap masalah harus ditindaklanjuti secara instan.

Anda harus mengambil waktu untuk memahami masalahnya dan memikirkan tanggapan untuk memberikan solusi yang optimal. Jangan lupa untuk mengakui keluhan konsumen dan pastikan mereka bahwa Anda sedang berupaya memecahkan masalahnya.

Pastikan mereka tetap mendapat perkembangan selama proses berlangsung dan setelah masalah terselesaikan, kontak mereka secara langsung untuk memastikan mereka betul-betul puas dengan layanannya. Hal ini menggambarkan bagaimana Anda memperhatikan konsumen sebagai pribadi dan bukan hanya untuk menghilangkan komentar publik yang negatif.

Melalui media sosial, konsumen menemukan sarana untuk bersuara dan semakin gencar menggunakannya sebagai media pendukung. Mengeluarkan tweet untuk meminta bantuan membutuhkan langkah lebih mudah dibandingkan dengan mengirim e-mail atau menghubungi layanan bantuan sehingga mereka dapat memperoleh tanggapan lebih cepat.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/53-pelayanan-konsumen/18073-membangun-layanan-pelanggan-di-media-sosial-ala-dell.html

Thursday, June 21, 2012

Media Sosial Penting di Mata CEO

Views :298 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 21 Juni 2012 09:33
sosmed0612Para pimpinan perusahaan kini mulai sadar pentingnya penggunaan teknologi digital. Mereka beranggapan, melalui media yang satu ini komunikasi dengan pelanggan bisa lebih cepat dan terintegrasi dengan baik.

Di tengah perkembangan teknologi dan maraknya penggunaan media sosial seperti sekarang ini, perusahaan teknologi informasi (TI) terkemuka IBM baru saja mengungkapkan beberapa kebiasaan baru yang terjadi di kalangan para chief executive officer (CEO) di dunia. Menurut Country Manager Global Business Service IBM Indonesia Widita P Sardjono, ada beberapa kebiasaan baru yang melanda CEO masa kini.

Salah satunya mereka lebih gemar menggunakan media sosial dalam mengembangkan bisnis yang dipimpinnya. “Untuk mempererat hubungan dengan pelanggan, mitra, dan karyawan generasi baru di waktu mendatang, para CEO telah menggeser perhatian mereka dari e-mail dan telepon sebagai sarana komunikasi ke jaringan sosial sebagai cara baru untuk menjalin hubungan langsung,“ ungkap Widita.

Menurut penelitian IBM, saat ini baru 16% CEO yang menggunakan platform media sosial untuk menjalin hubungan dengan pelanggan. Tetapi, seiring dengan kemajuan teknologi, angka ini diperkirakan akan melonjak menjadi 57% dalam waktu tiga hingga lima tahun ke depan.

Sementara itu, pakar marketing Hermawan Kertajaya mengatakan, saat ini para CEO sudah memaklumi kemajuan media termasuk maraknya sosial media di tengah masyarakat.

Hal ini membuat mereka harus memasuki dan memanfaatkan sosial media tersebut. “Para CEO, khususnya yang memberikan perhatian kepada marketing, sudah menyadari bahwa marketing tidak lagi hanya vertikal namun horizontal. Marketing juga beralih dari legacy marketing menjadi new view marketing,” ujar Hermawan.

Hal ini diakui Presiden Direktur PT XL Axiata Tbk Hasnul Suhaimi. Menurut dia, perkembangan teknologi yang semakin maju saat ini secara langsung maupun tidak turut memajukan perusahaan yang dipimpinnya. “Bagi saya,kemajuan dunia digital saat ini sangat banyak memberikan kontribusi positif bagi perkembangan XL hingga menjadi seperti sekarang,“ ujar Hasnul.

Penggunaan media sosial memberi banyak manfaat terutama sebagai media promosi. Salah satunya dapat memperoleh informasi yang lebih cepat tentang tanggapan konsumen pada produk yang diluncurkan. “Dulu tanggapan konsumen hanya bisa didapat setelah 2-3 hari iklan dilansir di media, tetapi saat ini hanya dalam hitungan detik setelah peluncuran (iklan) tanggapan konsumen sudah bisa diketahui,“ ungkap Hasnul. Hal yang sama juga dikatakan President Director PT Modern Putera Indonesia Henri Honoris yang mengelola 7-Eleven. Menurut dia, pemasaran melalui media sosial seperti Twitter atau Facebook sangat membantu bisnisnya. Saat ini akun Twitter 7-Eleven sudah mencapai lebih dari 58.371 follower.

“Dalam manajemen kami, di bagian media memiliki tugas yang menyuarakan pemasaran lewat jejaring sosial. Bahkan sekarang kami memiliki generasi 7-Eleven di jejaring sosial, yang bernama alaieven,” ujar Henri.

Tidak jarang mereka menanggapi soal menu yang disajikan atau berkomentar soal suasana di outlet. Mereka juga sering mengajak teman-temannya untuk mencoba ke outlet. “Tanpa sadar sebenarnya pemasaran melalui sosial media ini lebih praktis. Dengan jejaring ini kita bisa langsung berinteraksi dengan pelanggan,” kata Henri. (*/Harian Seputar Indonesia)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/175-penjualan-dan-pemasaran/17868-media-sosial-penting-di-mata-ceo.html

Monday, November 14, 2011

Tips Membangun Layanan Pelanggan Melalui Social Media

Views :349 Times PDF Cetak E-mail
Minggu, 13 November 2011 15:40
Terima kasih kepada media sosial, sekarang pelanggan memiliki pilihan lebih dari sebelumnya. Bahkan kini kita sering melihat banyak orang melakukan keluhan lewat social media, baik itu di Twitter maupun Facebook.

Customer_ServiceSebelumnya, ketika pelanggan ingin berdiskusi tentang suatu produk atau layanan, mereka akan menghubungi call center dan masalah mereka akan diselesaikan secara pribadi.

Hanya pelanggan dan perusahaan yang akan mendengar keluhan atau pujian Anda. Namun sekarang, beragam isu ini dimuat secara terbuka menjangkau para pembeli potensial dalam jangkauan publik yang lebih luas.

Di masa kini, sebuah keluhan dari pelanggan di social media dapat berpengaruh dan memberi efek yang lebih besar pada reputasi perusahaan Anda, jika admin dari social media Anda tidak segera memberi jawaban dan solusi pada pelanggan.

Lebih lanjut lagi, percakapan di social media juga dapat digunakan sebagai sistem peringatan awal untuk isu yang berkembang sekitar produk dan layanan perusahaan.

Bagi Anda, pekerja di divisi customer care yang ingin membangun layanan pelanggan melalui social media, berikut beberapa saran dari Pieter Lydian, Direktur dan Country Manager Dell Indonesia seperti yang dikutip dari detikInet :

1. Pilihlah perantara yang tepat untuk demografi Anda: Sebelum membuat sebuah forum untuk customer support, evaluasi dulu target market Anda untuk menentukan media sosial apa yang paling cocok untuk menjangkau mereka.

Supportforum dan discussion board dapat menjadi sarana untuk menawarkan solusi ke publik dan menghubungkan konsumen dengan para ahli, baik di perusahaan maupun para konsumen dan suporter Anda.

Twitter memiliki volume yang besar dengan kurang dari atau 140 karakter dengan berbagai kesempatan untuk berhubungan 1:1 dengan berbagai pihak tentang brand, produk maupun layanan Anda.

Media sosial seperti Facebook juga menawarkan kesempatan yang baik untuk berhubungan dengan anggota komunitas Anda. Para konsumen Anda telah memilih jaringan media sosialnya masing-masing dan penting bagi Anda sebagai pelaku usaha untuk menjangkau para konsumen dimanapun media sosial pilihannya.

2. Memusatkan pendekatan Anda: Pada mulanya, di Dell global hanya ada 20 pegawai yang memiliki akun Twitter, tidak semuanya efektif dijalankan. Ketika kami memiliki sejumlah pegawai yang terfokus ke Twitter untuk menjawab pertanyaan dan meneruskan masalah dan keluhan konsumen ke departemen yang sesuai, hal ini menyebabkan jam kerja yang tidak efisien dan bukanlah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah.

Untuk itulah kami meluncurkan @DellCares guna membantu konsumen mencari jalan keluar dari masalah mereka dan hasilnya kami berhasil membantu lebih dari 1.400 orang di bulan pertama setelah peluncurannya. Memiliki proses tweeting yang tersentralisasi merupakan kunci yang menentukan kesuksesan dan mencegah kebingungan di dalam perusahaan.

3. Personalisasi adalah kunci: Ketika Anda berhubungan dengan konsumen, sangat penting untuk terkoneksi dengan mereka secara personal. Orang akan merespon orang, brand akan kehilangan kredibilitasnya dengan cepat apabila diketahui komunikasi yang Anda jalankan berasal dari robot.

Oleh karenanya, setiap customer support representative yang menjalankan @DellCares memiliki inisial nama dan foto tampak muka mereka di halaman profil @DellCares dan setiap tweet ditandai sehingga konsumen mengetahui mereka berbicara dengan siapa dan tweet mereka terlihat dengan jelas.

4. Ini adalah usaha bersama: Memberikan layanan konsumen melalui media sosial membutuhkan kerjasama antara customer service, marketing dan product development untuk menangani beragam permasalahan.

Supaya dapat merespons dengan efektif masalah-masalah yang terjadi via media sosial, tim customer service Anda perlu terlatih dengan brand messaging perusahaan dan panduan menghadapi konsumen secara menyeluruh.

Apabila respons yang mereka berikan tidak sejalan dengan tujuan brand yang lebih besar, hal ini bisa menciptakan kekacauan dan akibatnya konsumen tidak akan lupa dan berdampak pada kepuasaan konsumen.

5. Menggunakan media sosial sebagai pelengkap, bukan pengganti: Media sosial tidak akan menggantikan perangkat pendukung konvensional, hal ini membuka jalan bagi pelaku usaha untuk terhubung secara real-time dengan konsumennya di tempat dimana meraka sudah memiliki percakapan.

Walaupun Twitter bagus untuk mencari konsumen dan menjangkau mereka lebih dekat, 140 karakter di dalamnya menjadi halangan untuk berdialog lebih panjang sehingga terkadang percakapan perlu dipindahkan ke medium yang lebih sesuai. Setelah masalah terselesaikan, kemudian buat kesimpulan secara publik di medium sebelumnya.

6. Tentukan proses responsnya dan pastikan untuk menindaklanjuti: Hanya karena media sosial dijalankan secara real-time tidak berarti setiap masalah harus ditindaklanjuti secara instan.

Anda harus mengambil waktu untuk memahami masalahnya dan memikirkan tanggapan untuk memberikan solusi yang optimal. Jangan lupa untuk mengakui keluhan konsumen dan pastikan mereka bahwa Anda sedang berupaya memecahkan masalahnya.

Pastikan mereka tetap mendapat perkembangan selama proses berlangsung dan setelah masalah terselesaikan, kontak mereka secara langsung untuk memastikan mereka betul-betul puas dengan layanannya. Hal ini menggambarkan bagaimana Anda memperhatikan konsumen sebagai pribadi dan bukan hanya untuk menghilangkan komentar publik yang negatif.

Melalui media sosial, konsumen menemukan sarana untuk bersuara dan semakin gencar menggunakannya sebagai media pendukung. Mengeluarkan tweet untuk meminta bantuan membutuhkan langkah lebih mudah dibandingkan dengan mengirim e-mail atau menghubungi layanan bantuan sehingga mereka dapat memperoleh tanggapan lebih cepat.

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/53-pelayanan-konsumen/12746-membangun-layanan-pelanggan-melalui-social-media.html

Thursday, November 10, 2011

9 Kiat Berbisnis lewat Social Media

9 Kiat Berbisnis lewat Social Media
Dini | Kamis, 10 November 2011 | 16:00 WIB

Dengan memanfaatkan social media, kita tetap bisa memantau dan menjalankan usaha tersebut di kantor, di sela-sela pekerjaan utama kita.

KOMPAS.com - Saat ini ada banyak pebisnis pemula yang mengawali usahanya di dunia maya melalui social media. Menurut Agnes Marlita, seorang pelaku social media marketing, langkah ini dilakukan karena pengusaha-pengusaha ini pada awalnya adalah orang-orang yang memiliki pekerjaan formal tetap, tapi ingin mempunyai usaha sampingan.
"Waktu yang mereka miliki terbatas. Dengan memanfaatkan social media, seperti Facebook atau blog, mereka tetap bisa memantau dan menjalankan usaha tersebut di kantor, di sela-sela pekerjaan utamanya," Agnes menerangkan.
Dalam akun pribadinya, seorang pengusaha bisa memasukkan informasi-informasi tentang barang dagangannya. Namun, Iim Fahima Jachja, CEO dari Virtual Consulting, mengingatkan, karena pada dasarnya social media adalah ajang bersosialisasi, kita tidak bisa mengharapkan orang untuk langsung membeli ketika kita mempromosikan sesuatu. Minimal kita harus membuat mereka senang dengan keberadaan kita dulu, terutama orang atau kenalan baru. Dibutuhkan proses untuk menuju ke sana, tidak bisa secara instan.
Setelah berkenalan dan mengobrol, orang bisa tertarik dengan usaha kita. Sesudahnya barulah ia mau membeli produk yang ditawarkan. "Jadi kalau menggunakan social media, kita harus panjang sabar," tutur Iim sambil tertawa.
Untuk bisa menggunakan social media secara efektif, ada tip-tip yang bisa Anda ikuti:
1. Pilih hanya satu blog. Bentuk blog memang banyak, tapi tidak berarti Anda mesti memiliki semuanya. Supaya lebih fokus, pilih satu saja. Kita juga harus mengalokasikan waktu tersendiri untuk menjalankan blog. Kalau punya lebih dari satu blog, kita bisa keteteran, seperti mengurus banyak toko di mana-mana.
2. Buat tampilan blog yang bagus. Tidak perlu yang njelimet atau aneh, yang penting blog itu bisa menyampaikan maksud kita berjualan.
3. Hindari berpromosi dengan menulis pesan di wall seseorang dan menggunakan fitur "tag" (pada Facebook), serta fitur "mention" (pada Twitter). Iim mengatakan, etika di social media sama saja dengan etika di kehidupan nyata. Intinya kita harus menghargai dan menghormati orang lain. "Memberi komentar, tag, dan mention sembarangan sama saja dengan mengotori isi Facebook dan Twitter seseorang. Padahal Facebook dan Twitter itu ibarat rumah. Kalau tidak ingin rumah kita dikotori, tentunya kita jangan mengotori rumah orang," tegas Iim.
4. Berpromosilah di waktu yang sudah ditentukan di mailing list. Tujuannya adalah agar anggota-anggota lain tidak terganggu dan diskusi utama tetap terjaga.
5. Latih kemampuan menggunakan Twitter. Karena hanya bisa menuliskan 140 karakter, kita harus pintar-pintar mencari cara yang efektif untuk bisa menyampaikan tujuan. Kita juga harus memikirkan cara agar jika ada orang yang me-retweet, isinya tidak terpotong. Menurut Iim, jalan keluarnya adalah dengan banyak berlatih dan belajar.
6. Cepat tanggap. Kehidupan di social media berlangsung setiap detik. Dalam anggapan Iim, kalau berkecimpung di social media, kita juga harus hidup setiap detik. Namun ini bukan berarti kita harus memperbarui status setiap detik. "Jika ada orang yang berkomentar atau mengajukan pertanyaan, saat itu juga kita harus merespons," ujar Iim.
7. Cari follower sebanyak-banyaknya. Menurut Agnes, inilah yang harus dilakukan sebagai pemula di Twitter. Kita bisa mulai dari teman sendiri. "Kita harus rajin nge-tweet informasi tentang produk," ujarnya. Kita bisa menyasar orang dengan jumlah follower yang banyak, tapi ingat, pendekatannya harus secara halus, ya. Kalau sudah tertarik, ia akan mention produk kita. Itu menjadi promosi gratis kepada follower-nya, lho.
8. Belajar dari pebisnis lain yang sudah berhasil. Coba perhatikan blog, Facebook, dan Twitter mereka. Apa yang berbeda, itulah yang membuat mereka lebih unggul dibandingkan pengusaha-pengusaha lain. Ketika berusaha menarik perhatian calon pelanggan baru, jangan tawarkan produk itu sendiri, melainkan keuntungan yang bisa didapat karena membeli produk kita. Sebagai contoh, ketika Anda berjualan mesin cuci. Daripada menawarkan mesin cucinya, lebih baik tawarkan penghematan waktu yang didapat dari pembelian mesin cuci tersebut.
9. Selalu minta pendapat dari pelanggan. Tanyakan kepada mereka, perbaikan atau penyempurnaan apa yang bisa dilakukan terhadap produk kita. Kalau puas, mereka akan mempromosikan usaha kita kepada orang lain.
(Ajeng Pinto/Fitri Hariyadiningsih/Tassia Sipahutar)


Sumber: Majalah Sekar

Tuesday, October 18, 2011

Fajar Aryanto, Raup Laba dari Bisnis Ayam Penyet

Fajar Aryanto, Raup Laba dari Bisnis Ayam Penyet Views :293 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 17 Oktober 2011 15:48
Di mana ada usaha, di situ ada jalan. Beginilah yang dilakukan pria ini. Dirinya yang sudah bosan hanya menjadi karyawan swasta pun lalu memutar otaknya untuk mempunyai sebuah bisnis.

ayam_penyet1011Pintar membaca peluang. Itulah yang dilakukan Fajar Aryanto ketika dirinya ingin membuka bisnis. Kecermatannya mendirikan bisnis berbasis olahan penyet itu berawal ketika tidak ada orang lain yang mengambil bisnis penyet.

Idenya pun lalu disampaikan kepada orangtuanya, yang saat itu langsung disambut baik. Warung Penyet Gandhi, yang diambil dari nama sang ayah, langsung melejit dari mulut ke mulut dalam waktu tiga bulan sejak didirikan.

"Ghandi itu nama ayah saya. Tiga bulan sejak beroperasi lumayan animo masyarakat. Lagipula, belum ada yang mengambil makanan olahan penyet. Kebanyakan kan seperti bakso, pecel ayam," ungkap pria yang disapa Fajar ini.

Modal awal yang digelontorkan Fajar pun tak terlalu besar. Hanya sekira Rp4 juta-Rp5 juta, dirinya sudah bisa membangun usahanya. Gerobak bekas yang masih bagus pun dibelinya sekira Rp200 ribu untuk permulaan.

"Modalnya sekira Rp4 jutaan, itu sudah termasuk gerobak, meja, kursi, kompor dua buah, bahan baku seperti ayam, iga, bebek, dan lele," jelas pria kelahiran 16 Januari 1983 itu.

Dengan modal yang tidak terlalu besar, dirinya bisa meraup keuntungan hingga Rp800 ribu per hari dengan omzet nyaris sebanyak dua kali lipat. Harga yang ditawarkan pun tak terlalu mahal, dengan menu andalan ayam, lele, iga, dan bebek penyet, dan soto Bandung, dia mematok harga sekira Rp12 ribu-Rp25 ribu saja.

Bisnisnya yang terletak di Jalan Cakrawala, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur ini, pun rencananya akan berekspansi ke daerah selatan Jakarta. Selama ini, Fajar pun baru mempromosikan usahanya melalui jejaring sosial, seperti melalui media Twitter @PenyetGandhi dan Facebook. "Intinya, kalau kita mau berusaha, pasti akan ada jalan. Kalau ditunda terus, nanti malah enggak jadi-jadi berbisnisnya," kelakarnya. (*/Okezone)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/12032-fajar-aryanto-raup-laba-dari-bisnis-ayam-penyet.html

Friday, October 14, 2011

Shama Kabani, Menjadi Jutawan Berkat Media Sosial

Views :187 Times PDF Cetak E-mail
Jumat, 14 Oktober 2011 09:29
Pandangan skeptis menyatakan media sosial takkan mampu bertahan lama untuk mencetak para ahli yang potensial mengembangkan bisnis. Anggapan itu tentu saja tak berlaku untuk Shama Kabani. Pengusaha berusia 26 tahun itu justru sukses menjadi jutawan berkat media sosial.

shama-kabaniMedia sosial telah menarik minat Shama sejak lama. Iapun memeroleh banyak berkah dari media sosial. Perempuan muda ini bahkan membuat tesis bertema Twitter--yang kala itu jumlah usernya baru 2.000an orang belum mencapai 100 jutaan seperti sekarang--untuk meraih gelar master di University of Texas di Austin, AS.

Sejumlah proyek berbasis media sosial juga lahir dari pemikiran Shama. Ia sempat menjadi pembawa acara web TV yang membahas seputar teknologi. Tahun 2010, Shama meluncurkan buku berjudul The Zen of Social Media Marketing: An Easier Way to Build Credibility, Generate Buzz and Increase Revenue yang menjadi buku best seller keempat tentang marketing web di Amazon.com.

Nah, itu semua baru proyek sampingan Shama saja. Bisnis utamanya adalah The Marketing Zen Group, perusahaan marketing yang menaruh perhatian pada segala aspek yang berhubungan dengan marketing web mulai dari Facebook, Twitter, blog, video, dsb. Bermarkas di Dallas, perusahaan itu berdiri tahun 2009 dengan biaya dari kantongnya sendiri sebesar US$ 1.500 atau sekitar Rp13,4 juta.

“Saat ini kita sedang berada dalam sebuah masa dengan budaya perusahaan yang tak harus face-to-face untuk bertemu dengan kliennya,” ucap Shama seperti yang dikutip dari situs Entrepreneur.com. “Setiap hari, saya menanyakan hal yang sama pada diri sendiri: apa yang bisa saya lakukan hari ini untuk menambah kepercayaan audience (pembaca blog, penonton televisi, follower Twitter, dll), baik untuk tim kami sendiri ataupun untuk klien,” lanjut perempuan yang berasal dari Texas tersebut.

Shama memberi contoh sejumlah terobosan yang telah dilakukan untuk kliennya. Untuk k9cuisine.com, ritel online makanan anjing di Paris, Marketing Zen membuat blog dan Twitter untuk mempererat relasi antar sesama blogger yang menyukai hewan peliharaan. Sementara untuk Arthur Murray Dance Studios di Boston, perusahaan Shama mengoptimalisasi website agar mencapai target penjualan yang telah ditetapkan.

Awalnya Shama tak berniat untuk membuat perusahaan yang hanya fokus pada media sosial. Ide originalnya adalah membangun perusahaan konsultan dengan skala lebih umum. Namun dia segera menyadari passion-nya yakni di dunia media sosial. Lalu Shama mengubah strateginya dengan melakukan pendekatan berupa berkonsultasi dengan klien serta memberi pemahaman kepada mereka tentang cara yang efektif untuk market bisnisnya dan memberi kesempatan kepada klien untuk menerapkannya dalam bisnis mereka.

Dari bisnisnya ini, Shama mempelajari dua hal. Klien-kliennya tak hanya sekedar membutuhkan jasa konsultan tapi juga perusahaan yang mampu mengimplementasikan ide-idenya; dan media sosial merupakan satu-satunya puzzle marketing berskala besar yang di dalamnya mencakup kegiatan membangun website yang solid serta mengembangkan search engine, yang dapat merealisasikan keinginan klien. “Itulah sebabnya perusahaan kami berubah dari perusahaan konsultan menjadi perusahaan yang mengambil alih marketing web para klien,” ucapnya.

Pemikiran Shama berhasil menuai untung besar. Meski tak menyebutkan secara spesifik namun dijelaskan olehnya kepada situs Entrepreneur.com dan dikutip oleh CiputraEntrepreneurship.com bahwa omzetnya mengalami kenaikan lebih dari 400 persen pada tahun lalu. Ia berharap Marketing Zen bisa menjadi multimillion-dollar company pada akhir 2014. Salah satu rahasia profit model Shama adalah mempekerjakan pegawai dengan sistem virtual. Hampir seluruh pegawainya yang berjumlah 30 orang bekerja secara virtual dan selusinnya bahkan berlokasi di Filipina.

Di tengah kesibukannya mengelola Marketing Zen, Shama menyempatkan diri untuk memberi pelatihan kepada para entrepreneur muda. Awal tahun ini, bersama dengan delegasi bisnis dari AS dan Denmark, Shama pergi ke Mesir untuk sharing knowledge kepada entrepreneur muda setempat. Kegiatan itu dilakukan untuk mewujudkan impiannya yakni mengajak kaum muda menangani market bisnis global yang baru.

“Dunia kita saat ini bukanlah dunia di zaman kakek-nenek atau bahkan zaman orangtua kita,” tegas Shama. “Lulus dari perguruan tinggi bukan jaminan untuk sukses. Entrepreneur muda harus mampu menciptakan peluangnya sendiri. Perekonomian (dunia) membutuhkan darah segar dan ide baru,” lanjutnya. (*/ely)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/internasional/wanita/11944-shama-kabani-menjadi-jutawan-berkat-media-sosial.html