Penulis : Maria Susy Berindra A | Kamis, 29 November 2012 | 12:51 WIB
Saatnya Mengembangkan Potensi dengan Berwirausaha
KOMPAS.com - Saat ini,
kewirausahaan mulai berkembang sangat pesat. Berbagai kalangan berusaha
untuk mengembangkan potensi dengan berwirausaha agar dapat meraih
keuntungan. Mahasiswa pun tak mau ketinggalan mencurahkan kreativitasnya
dengan berwirausaha.
Banyaknya pihak yang memberi perhatian,
mulai dari kalangan pengusaha, perbankan, hingga pendidik, membuat
kewirausahaan menjadi semacam gerakan yang populer. Bahkan, sejak tahun
2009 pemerintah meluncurkan Program Mahasiswa Wirausaha yang mendorong
munculnya wirausaha-wirausaha muda dari universitas.
Mengapa sih
banyak pihak peduli pada perkembangan kewirausahaan? Bagaimana enggak
peduli, hal ini merupakan salah satu cara untuk memperkuat fondasi
ekonomi nasional. Semakin banyak wirausaha tangguh tercipta, penganggur
terdidik semakin berkurang jumlahnya. Data Kementerian Tenaga Kerja
menyebutkan, per Februari 2012 jumlah penganggur berijazah diploma dan
sarjana mencapai 790.000 orang atau 10,4 persen dari total penganggur.
Jadi,
inilah tantangannya. Kalau mahasiswa ingin berperan memajukan bangsa
ini, jadilah seorang wirausaha yang sukses. Tidak hanya mengurangi satu
calon penganggur, tetapi juga banyak penganggur lain karena telah
membuka lapangan kerja baru. Tidak hanya menjanjikan pencapaian materi,
tetapi juga lebih dari itu hasilnya berupa pribadi-pribadi yang teruji
ketangguhannya menghadapi berbagai rintangan.
Pekan lalu, dalam
pameran Pekan Produk Kreatif Indonesia 2012, di Jakarta, banyak
ditemukan wirausaha muda. Salah satu peserta pameran adalah usaha yang
dimiliki empat alumnus mahasiswa Jurusan Desain Grafis, Fakultas Seni
Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, yakni Bima Nurin, Dian
Effendy, Habibi Putranto, dan Sweta Kartika. Mereka berwirausaha di
bidang desain grafis yang memamerkan produk kaus, tas, dan
buku daur ulang yang dinaungi Wanara Studio.
”Awalnya,
kami mengerjakan tugas kuliah di semester enam. Setelah selesai, kami
ingin berkumpul dan berbuat sesuatu. Nah, jadilah usaha studio desain
grafis ini yang salah satunya membuat kaus dengan desain ambigram,” ujar
Dian.
Dengan modal awal sekitar Rp 3 juta pada tahun 2009, kini
mereka bisa meraup omzet penjualan sekitar Rp 10 juta per bulan. Setiap
tiga bulan, Wanara Studio akan mengeluarkan desain terbaru dalam
berbagai ukuran. Biasanya, Dian dan teman-temannya akan melakukan riset
budaya lokal yang kemudian desainnya dibuat lebih modern dan disukai
kalangan anak muda.
”Bukan hanya kaus, kami juga menerima proyek
desain grafis. Dari kami berempat, masing-masing juga bisa menerima
proyek, tergantung apakah mau diberikan ke perusahaan atau dikerjakan
sendiri,” ungkap Dian.
Banyak peminatSurvei
Litbang Kompas awal Oktober 2012, di Jakarta, Bandung, Yogyakarta,
Surabaya, dan Makassar merangkum pendapat 301 mahasiswa dari sejumlah
perguruan tinggi mengenai kewirausahaan. Hampir semua mahasiswa yang
menjadi responden (91 persen) menyatakan ketertarikannya untuk membuat
usaha sendiri alias berwirausaha. Bahkan, hampir separuh di antaranya
mengaku sangat tertarik.
Siapa saja teman-teman mahasiswa yang
tertarik untuk menjadi pengusaha? Kalau dilihat dari latar belakang
pendidikan, peminatnya lebih banyak berasal dari teman-teman yang
mengambil kuliah ilmu sosial (60 persen) dibandingkan dengan mahasiswa
dari ilmu eksakta. Selain itu, teman-teman yang tertarik berwirausaha
sebagian besar memiliki pengalaman bekerja sama dalam tim, baik saat
mengikuti organisasi intrakampus maupun mencicipi dunia kerja.
Minat
yang besar tersebut patut diapresiasi. Namun, sejauh mana mereka kenal
dengan dunia ini? Coba cermati definisi berikut, entrepreneur adalah
seseorang yang berani mengambil risiko, mampu mencium adanya peluang
bisnis, mampu mendayagunakan sumber daya secara efektif dan efisien
untuk memperoleh profit (Serian Wijatno: 2009).
Dari pengertian
tersebut kita dapat menyaring kata-kata kunci, seperti berani, risiko,
inovatif, dan kreatif. Kata kunci lain yang tidak bisa diabaikan adalah
totalitas dan konsistensi. Pasalnya, dua hal inilah yang paling
menentukan terus berlanjutnya eksistensi sebagai entrepreneur di antara
proses jatuh dan bangun usahanya.
Meskipun hampir semua responden
mahasiswa setuju dengan pernyataan bahwa berwirausaha penuh risiko,
mereka memandangnya sebagai sebuah tantangan. Bahkan, mayoritas (77
persen) menilai, profesi ini membanggakan. Apalagi, jika ingin terjun ke
usaha mandiri ini, tidak selalu membutuhkan modal yang besar.
Setidaknya sekitar separuh responden berpendapat demikian.
Persepsi-persepsi
positif tersebut membangun bayangan usaha yang ingin dibuat responden.
Tidak kurang dari 67 persen responden mahasiswa yang berminat menjadi
wirausaha memilih usaha-usaha yang mengambil peran sebagai produsen,
sementara sisanya distributor barang. Hal ini memungkinkan berkembangnya
aspek kreatif dan inovatif yang diharapkan dari semangat kewirausahaan.
Untuk merealisasikan niat tersebut, responden sudah memiliki bayangan usaha yang ingin dibuatnya. Bisnis
kuliner
paling banyak dipilih responden (28 persen). Usaha yang menjual produk
makanan atau minuman ini memang sangat potensial untuk dikembangkan.
Inovasi dapat dilakukan dari bahan baku, rasa, bentuk/tampilan, kemasan,
dan teknik penjualan.
Selain kuliner, bisnis fashion pun menjadi
pilihan mahasiswa (17 persen). Sebagian besar dari mereka ingin menjual
pakaian dan aksesori fashion, sementara lainnya ingin menawarkan jasa
clothing dan desain. Usaha yang menuntut kreativitas ini memang sedang
populer. Coba saja selancar di internet, kita akan temukan ribuan bisnis
online yang menjual produk fashion ini. Usaha di bidang pertanian,
percetakan, properti, dan teknologi informasi juga ada dalam daftar
pilihan responden.
Semangat dan cita-cita tersebut harus terus
dikobarkan. Dana dan pendampingan dari yang lebih berpengalaman di
bidang ini sudah banyak tersedia sehingga seharusnya bukan menjadi
kendala utama. Yang lebih penting justru persiapan mental pelakunya.
Menjadi wirausaha tidak berhenti pada fase ketika bisnis sudah
berkembang dan laris, inovasi harus terus-menerus dilakukan karena
itulah intinya kewirausahaan. Dalam proses inilah kembali dibutuhkan
totalitas yang konsisten.
Nah, tunggu apalagi? Ayo segera wujudkan impianmu dengan mengembangkan potensi untuk berwirausaha.
(SUGIHANDARI/LITBANG KOMPAS/SIE)
Editor :
Caroline Damanik
http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/29/12511189/Saatnya.Mengembangkan.Potensi.dengan.Berwirausaha