Showing posts with label wirausaha. Show all posts
Showing posts with label wirausaha. Show all posts

Saturday, March 16, 2013

Ingin Sukses Memulai Wirausaha, Intip Tips Awalnya


Penulis : Riana Afifah | Jumat, 15 Maret 2013 | 09:21 WIB


SHUTTERSTOCK
Saat berbisnis jangan hanya memikirkan soal uang dan keuntungan. Tentukan tujuan lain dari bisnis.

JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam memulai mengembangkan wirausaha, ada satu hal yang perlu Anda perhatikan dengan baik sekali pun Anda memulainya pada usia muda. Jaringan pelanggan merupakan salah satu alat ukur keberhasilan usaha yang dijalankan.

Makin besar jaringan yang anda buat, makin terbuka pintu kesuksesan dari usaha tersebut. Lalu bagaimana cara yang tepat untuk membangun jaringan ini?

Pakar bidang Knowledge Management, James Van Der Westhuizen, mengatakan bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah memahami jaringan pelanggan tersebut. Pasalnya, menjalankan sebuah usaha tidak semata-mata hanya berkutat pada masalah uang saja, tetapi intinya adalah pelayanan kepada orang lain.

"Pengetahuan akan pelanggan ini penting dan harus dipahami dengan baik keinginannya agar ada tujuan yang jelas dari usaha yang dijalankan," kata Van Der Westhuizen dalam acara Indonesian MAKE Study 2013 di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Kamis (14/3/2013).

Langkah selanjutnya adalah memilih target pasar yang sesuai dengan bidang usaha yang dijalankan. Hal ini juga berkaitan dengan pelayanan dan pengembangan wilayah usaha nantinya jika jaringan pelanggan mulai terbentuk. Dengan memilih target pasar yang tepat, pelaku usaha dapat membuat program promosi dan penjualan yang sesuai juga.

"Tidak cukup hanya paham dengan kemauan pasar. Namun, harus memilih target market mana yang akan disasar. Jadi sales programnya bisa tepat," jelas Van Der Westhuizen.

Langkah selanjutnya tentu saja mulai membuat program promosi yang jelas dan akurat dengan memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang pesat saat ini. Untuk menggaet pelanggan, informasi yang memadai dengan berbagai rekomendasi positif akan membantu mendongkrak pengembangan usaha yang tengah dijalankan.

"Sekarang di mana-mana orang googling dulu untuk tahu review suatu tempat atau suatu barang. Jadi, manfaatkan itu sebaik mungkin. Banyaknya review positif tentu menarik minat orang untuk menggunakan jasa kita," tandasnya.
 
Editor :
Caroline Damanik

http://edukasi.kompas.com/read/2013/03/15/09211324/Ingin.Sukses.Memulai.Wirausaha..Intip.Tips.Awalnya

Tuesday, December 4, 2012

Tak kenal usia, asal jangan takut ambil risiko

WIRAUSAHA: Tak kenal usia, asal jangan takut ambil risiko

Compact_ukm__28_ BOGOR: Sejumlah pensiunan dosen dan pegawai IPB mendapatkan materi kewirausahaan dari pakar wirausaha Musa Hubeis di Grha Widya Wisuda Kampus IPB Darmaga.

Dalam paparannya, Musa memotivasi pensiunan IPB agar tidak takut mengambil resiko dalam berbisnis atau berwirausaha.

“Berwirausaha itu tidak mengenal batas umur, lihat penggagas KFC (Kolonel Sanders aktif mewaralabakan KFC di usia 65) atau pencipta DELL (anak usia 14 tahun). Selain itu, berwirausaha tidak membuat umur menjadi pendek karena otak kita diajak untuk berpikir. Yang membuat umur pendek itu adalah hutang yang menumpuk,” ujarnya, Selasa (4/12).

Kunci utama dalam berbisnis, produk harus terstandarisasi nasional atau internasional, jika tidak maka tidak bisa “goes international”. Selain itu penggunaan bahan yang zero waste yang bisa di daur ulang dengan bantuan teknologi.

“Selain itu, ciptakan pasarnya dulu baru proses produksinya,” jelas Musa.

Selain materi tentang kewirausahaan, pada kesempatan tersebut, pensiunan IPB juga mendapatkan tawaran kerjasama dengan Agribusiness Development Center University Farm (ADC-UF) IPB. Kerjasama yang ditawarkan Kepala University Farm Anas D. Susila berupa pengembangan budidaya jambu Kristal.

“Kami sudah menciptakan pasarnya yakni beberapa mall di Jakarta dengan total permintaan per tahunnya 40 ton. Namun sampai saat ini, kami baru bisa memenuhinya sekitar 50%. Oleh karenanya dalam kesempatan ini, kami mengajak Bapak dan Ibu untuk dapat bekerjasama dengan kami,” ujarnya. (arh)

http://www.bisnis.com/articles/wirausaha-tak-kenal-usia-asal-jangan-takut-ambil-risiko

Friday, November 30, 2012

Saatnya Mengembangkan Potensi dengan Berwirausaha


Penulis : Maria Susy Berindra A | Kamis, 29 November 2012 | 12:51 WIB


Saatnya Mengembangkan Potensi dengan Berwirausaha

KOMPAS.com - Saat ini, kewirausahaan mulai berkembang sangat pesat. Berbagai kalangan berusaha untuk mengembangkan potensi dengan berwirausaha agar dapat meraih keuntungan. Mahasiswa pun tak mau ketinggalan mencurahkan kreativitasnya dengan berwirausaha.

Banyaknya pihak yang memberi perhatian, mulai dari kalangan pengusaha, perbankan, hingga pendidik, membuat kewirausahaan menjadi semacam gerakan yang populer. Bahkan, sejak tahun 2009 pemerintah meluncurkan Program Mahasiswa Wirausaha yang mendorong munculnya wirausaha-wirausaha muda dari universitas.

Mengapa sih banyak pihak peduli pada perkembangan kewirausahaan? Bagaimana enggak peduli, hal ini merupakan salah satu cara untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. Semakin banyak wirausaha tangguh tercipta, penganggur terdidik semakin berkurang jumlahnya. Data Kementerian Tenaga Kerja menyebutkan, per Februari 2012 jumlah penganggur berijazah diploma dan sarjana mencapai 790.000 orang atau 10,4 persen dari total penganggur.

Jadi, inilah tantangannya. Kalau mahasiswa ingin berperan memajukan bangsa ini, jadilah seorang wirausaha yang sukses. Tidak hanya mengurangi satu calon penganggur, tetapi juga banyak penganggur lain karena telah membuka lapangan kerja baru. Tidak hanya menjanjikan pencapaian materi, tetapi juga lebih dari itu hasilnya berupa pribadi-pribadi yang teruji ketangguhannya menghadapi berbagai rintangan.

Pekan lalu, dalam pameran Pekan Produk Kreatif Indonesia 2012, di Jakarta, banyak ditemukan wirausaha muda. Salah satu peserta pameran adalah usaha yang dimiliki empat alumnus mahasiswa Jurusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, yakni Bima Nurin, Dian Effendy, Habibi Putranto, dan Sweta Kartika. Mereka berwirausaha di bidang desain grafis yang memamerkan produk kaus, tas, dan buku daur ulang yang dinaungi Wanara Studio.

”Awalnya, kami mengerjakan tugas kuliah di semester enam. Setelah selesai, kami ingin berkumpul dan berbuat sesuatu. Nah, jadilah usaha studio desain grafis ini yang salah satunya membuat kaus dengan desain ambigram,” ujar Dian.

Dengan modal awal sekitar Rp 3 juta pada tahun 2009, kini mereka bisa meraup omzet penjualan sekitar Rp 10 juta per bulan. Setiap tiga bulan, Wanara Studio akan mengeluarkan desain terbaru dalam berbagai ukuran. Biasanya, Dian dan teman-temannya akan melakukan riset budaya lokal yang kemudian desainnya dibuat lebih modern dan disukai kalangan anak muda.

”Bukan hanya kaus, kami juga menerima proyek desain grafis. Dari kami berempat, masing-masing juga bisa menerima proyek, tergantung apakah mau diberikan ke perusahaan atau dikerjakan sendiri,” ungkap Dian.

Banyak peminat

Survei Litbang Kompas awal Oktober 2012, di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar merangkum pendapat 301 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi mengenai kewirausahaan. Hampir semua mahasiswa yang menjadi responden (91 persen) menyatakan ketertarikannya untuk membuat usaha sendiri alias berwirausaha. Bahkan, hampir separuh di antaranya mengaku sangat tertarik.

Siapa saja teman-teman mahasiswa yang tertarik untuk menjadi pengusaha? Kalau dilihat dari latar belakang pendidikan, peminatnya lebih banyak berasal dari teman-teman yang mengambil kuliah ilmu sosial (60 persen) dibandingkan dengan mahasiswa dari ilmu eksakta. Selain itu, teman-teman yang tertarik berwirausaha sebagian besar memiliki pengalaman bekerja sama dalam tim, baik saat mengikuti organisasi intrakampus maupun mencicipi dunia kerja.

Minat yang besar tersebut patut diapresiasi. Namun, sejauh mana mereka kenal dengan dunia ini? Coba cermati definisi berikut, entrepreneur adalah seseorang yang berani mengambil risiko, mampu mencium adanya peluang bisnis, mampu mendayagunakan sumber daya secara efektif dan efisien untuk memperoleh profit (Serian Wijatno: 2009).

Dari pengertian tersebut kita dapat menyaring kata-kata kunci, seperti berani, risiko, inovatif, dan kreatif. Kata kunci lain yang tidak bisa diabaikan adalah totalitas dan konsistensi. Pasalnya, dua hal inilah yang paling menentukan terus berlanjutnya eksistensi sebagai entrepreneur di antara proses jatuh dan bangun usahanya.

Meskipun hampir semua responden mahasiswa setuju dengan pernyataan bahwa berwirausaha penuh risiko, mereka memandangnya sebagai sebuah tantangan. Bahkan, mayoritas (77 persen) menilai, profesi ini membanggakan. Apalagi, jika ingin terjun ke usaha mandiri ini, tidak selalu membutuhkan modal yang besar. Setidaknya sekitar separuh responden berpendapat demikian.

Persepsi-persepsi positif tersebut membangun bayangan usaha yang ingin dibuat responden. Tidak kurang dari 67 persen responden mahasiswa yang berminat menjadi wirausaha memilih usaha-usaha yang mengambil peran sebagai produsen, sementara sisanya distributor barang. Hal ini memungkinkan berkembangnya aspek kreatif dan inovatif yang diharapkan dari semangat kewirausahaan.

Untuk merealisasikan niat tersebut, responden sudah memiliki bayangan usaha yang ingin dibuatnya. Bisnis kuliner paling banyak dipilih responden (28 persen). Usaha yang menjual produk makanan atau minuman ini memang sangat potensial untuk dikembangkan. Inovasi dapat dilakukan dari bahan baku, rasa, bentuk/tampilan, kemasan, dan teknik penjualan.

Selain kuliner, bisnis fashion pun menjadi pilihan mahasiswa (17 persen). Sebagian besar dari mereka ingin menjual pakaian dan aksesori fashion, sementara lainnya ingin menawarkan jasa clothing dan desain. Usaha yang menuntut kreativitas ini memang sedang populer. Coba saja selancar di internet, kita akan temukan ribuan bisnis online yang menjual produk fashion ini. Usaha di bidang pertanian, percetakan, properti, dan teknologi informasi juga ada dalam daftar pilihan responden.

Semangat dan cita-cita tersebut harus terus dikobarkan. Dana dan pendampingan dari yang lebih berpengalaman di bidang ini sudah banyak tersedia sehingga seharusnya bukan menjadi kendala utama. Yang lebih penting justru persiapan mental pelakunya. Menjadi wirausaha tidak berhenti pada fase ketika bisnis sudah berkembang dan laris, inovasi harus terus-menerus dilakukan karena itulah intinya kewirausahaan. Dalam proses inilah kembali dibutuhkan totalitas yang konsisten.

Nah, tunggu apalagi? Ayo segera wujudkan impianmu dengan mengembangkan potensi untuk berwirausaha.

(SUGIHANDARI/LITBANG KOMPAS/SIE)
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Caroline Damanik
http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/29/12511189/Saatnya.Mengembangkan.Potensi.dengan.Berwirausaha

Sunday, October 28, 2012

6 Rahasia Sukses Berwirausaha

Hits : 883 PDF Cetak E-mail
Sabtu, 27 Oktober 2012 14:53
sukses_wirausaha_ihiy
1. Alasan
Temukan alasan yang kuat mengapa anda ingin berwirausaha. Apakah karena susah cari pekerjaan, atau ingin merasakan menjadi seorang bos, bisa juga ingin mendapatkan penghasilan yang tak terbatas. Alasannya bisa apa saja, yang terpenting semakin kuat alasan anda untuk berwirusaha maka semakin fokus anda pada tujuan anda.

2. Keyakinan Yang Kuat
Anda harus memiliki kepercayaan yang kuat dan positif. Contohnya : anda yakin bahwa anda bisa menjadi seorang wirausaha yang sukses, atau wirausaha itu mudah asal kita tahu caranya. Keyakinan yang positif seperti itulah yang harus anda bangun. Jangan sampai yang negatif yang justru mendominasi pikiran anda. misalnya seperti : saya takut gagal, wirausaha itu perlu bakat, dll. Pikiran negatif seperti itu harus anda singkirkan jauh-jauh.

3. Impian yang Jelas
Anda harus memiliki impian yang jelas. Karena dengan impian itu anda akan termotivasi untuk meraihnya. Jangan takut untuk memiliki impian yang tinggi. Karena semakin tinggi impian anda tentunya akan memberikan daya dorong yang lebih besar pada diri anda. Akan tetapi tetap harus bersikap fleksibel dan jangan sampai impian anda sesuatu yang mustahil bisa dicapai.

4. Penguasaan Ilmu (Belajar)
Dalam memulai wirausaha kita dituntut untuk terus belajar dan memiliki pikiran yang terbuka. Kita bisa belajar dari buku, orang lain yang sudah menjalankan bisnis, ataupun dari seminar-seminar.

5. Aksi
Nah, langkah inilah yang paling penting dalam berwirausaha. Karena tanpa aksi tidak akan ada yang terjadi. Hanya dengan aksi/tindakanlah kita bisa semakin dekat dengan impian kita.

6. Doa
Udah langkah terakhir nih..Langkah yang ke-6 adalah do'a. Karena bagaimanapun kerasnya usaha kita, tetap saja tuhan jugalah yang menetukan. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berusaha. (*artikelbisnispemula.blogspot.com)


http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/37-advise/21170-6-rahasia-sukses-berwirausaha.html

Sunday, September 30, 2012

Mulai Berwirausaha dengan Sikap Mental Berbeda

Hits : 1495 PDF Cetak E-mail
Sabtu, 29 September 2012 11:09
Mulai_Berwirausaha_dengan_Sikap_Mental_Berbeda
Ketika seseorang mulai berbisnis, tentu banyak ketakutan dan kendala yang dihadapi. Takut kehilangan kemapanan sebagai pegawai, yang sudah pasti terima gaji pada setiap bulan, takut kehilangan fasilitas dari kantor, hingga takut tidak dapat memenuhi kehidupan keluarga.

“Sebenarnya yang paling membuat orang tidak berdaya adalah mental,” ujar motivator dan wirausahawan Tung Desem Waringin.

Sikap mental ini sangat terkait erat dengan masa lalu seseorang. Dia bercerita, ada pegawai negeri yang sebenarnya hendak memulai berwirausaha, tetapi tidak berani memulainya. Selidik punya selidik, ayahnya yang pegawai pernah berwirausaha tetapi ditipu mitra bisnisnya dan akhirnya bangkrut. Sejak saat itu ayahnya mengatakan bahwa berwirausaha itu penuh risiko dan tidak menyenangkan, lebih baik menjadi pegawai karena akan menerima gaji tetap.

“Apa yang dia dengar, dia lihat dan dia rasakan sangat melekat pada benaknya. Sikap mental ini selalu menghambat dia untuk melangkah menjadi wirausahawan. Bagaimanapun dia mengikuti pelatihan, tidak akan membuatnya menjadi berubah menjadi wirausahawan sebelum hambatan mental itu dibongkar,” kata Tung lagi.

Bagaimana membongkar sikap mental ini ? Perubahan memang memerlukan proses. Proses ini berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. “Tetapi, perubahan itu akan terjadi jika ada alasan yang sangat kuat,” kata Tung.

Berbincang Dengan Diri Sendiri

Perbincangan dengan diri sendiri (self talk) juga berpengaruh terhadap sikap mental seseorang. Jika salah mengarahkan, akan menjadi negatif dan malahan membuat tembok halangan menjadi lebih tebal lagi.

Pertanyaan seperti “Bagaimana kalau berusaha lalu bangkrut ?” itu merupakan pertanyaan yang biasa diajukan ketika seseorang mau berwirausaha. Pertanyaan ini dapat diubah menjadi “Apa ruginya jika tidak memulai bisnis dari sekarang ?” atau “Apa untungnya jika memulai bisnis dari sekarang ?” “Itu bisa dijawab, kalau memulai dari sekarang, jika bisnis gagal maka masih ada waktu untuk memperbaikinya, keuntungannya, jika bisnis berhasil, kesempatan untuk menikmatinya juga lebih panjang,” kata Tung yang juga pernah menutup beberapa bisnisnya karena prospeknya tidak baik.

Dia juga menekankan, sesama wirausahawan sebaiknya tidak menganggap wirausaha lain sebagai saingan yang harus dijegal. Sebaliknya, wirausaha lain harus dirangkul dan diajak bekerja sama untuk bersama-sama maju.

“Kesalahan yang sering saya amati adalah para wirausahawan ingin cepat mendapatkan untung dalam jangka pendek. Padahal, berusaha itu merupakan proses dan harus dilihat dalam jangka panjang. Orang yang sukses berbisnis mampu melihat keuntungan jangka panjang ketimbang jangka pendek,” kata Tung lagi. (*kompas.com)

http://www.ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/47-memulai-bisnis/20462-mulai-berwirausaha-dengan-sikap-mental-berbeda-.html

Thursday, September 27, 2012

Berwirausaha Harus Ditanamkan Sejak Dini


Hits : 289 PDF Cetak E-mail
Selasa, 25 September 2012 14:08
anak0912
Wirausaha bukan hanya dunianya orang dewasa, tapi juga bisa menjadi bagian dari dunianya anak-anak. Bedanya, wirausaha pada anak-anak tak bisa dijalankan sendirian, namun membutuhkan bimbingan dan dukungan dari orang dewasa, orangtua maupun guru.

Anak-anak yang mengenal dunia wirausaha sejak dini, akan mendapati manfaat untuk bekal masa depan kelak. Pada tahapan usia yang terbilang belia, anak-anak yang belajar menumbuhkan jiwa wirausaha, akan tumbuh menjadi pribadi yang kreatif.

Kreativitas yang terlatih sejak dini, termasuk melalui berbagai ajang dan kegiatan kewirausahaan, menjadi modal utama produktivitas dan kemandirian anak kala ia dewasa.

Salah satu ajang wirausaha yang memberi kesempatan pada anak untuk berkreasi dan berani membuat terobosan serta mepresentasikannya, adalah Kidpreneur.

Menjadi pribadi kreatifBagi psikolog anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto, Kidpreneur diikuti oleh anak-anak yang kreatif dan berani mencoba, dengan berbagai terobosannya. Selain melatih anak untuk kreatif sejak dini, kegiatan ini juga menjadi salah satu cara mengenalkan profesi entrepreneur pada anak-anak.

"Entrepreneur di Indonesia masih tergolong sedikit. Kalau mau negara sukses, harus perbanyak entrepreneur. Kalau semua bercita-cita menjadi pegawai, beban negara berat. Anak-anak bisa belajar kreatif sejak dini. Anak-anak pun harus percaya diri untuk menjadi entrepreneur," jelasnya di sela acara Kidpreneur Award 2012 di fX Sudirman Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kak Seto menjelaskan, setiap anak yang dihargai dengan berbagai kelebihannya ia akan percaya diri dan bisa mengembangkan potensinya. Dengan begitu anak pun siap menjadi entrepreneur yang punya gagasan orisinal, mampu memecahkan masalahm dan bisa memberikan terobosan.

Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar berbisnis (berwirausaha) sejak kecil bukan berorientasi mencari uang. Melainkan lebih untuk melatih kemandirian, dengan mengandalkan kreativitasnya. Kak Seto menolak anggapan bahwa anak yang belajar bisnis sejak kecil, akan menjadi "mata duitan". Tujuan melatih kewirausahaan sejak dini lebih untuk memberikan kesempatan pada anak untuk tumbuh menjadi pribadi kreatif.

"Dengan kreativitas anak bisa menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada," jelasnya.

Untuk bisa kreatif, anak harus tumbuh dalam suasana yang aman dan bebas secara psikologis. Aman berarti anak tidak banyak dicela atau dikritik berlebihan oleh orangtuanya. Bebas dalam arti anak diberi kesempatan untuk melontarkan ide, membuat terobosan baru.

Produktif dan tidak konsumtifPada kesempatan yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar mengatakan, Kidpreneur merupakan bentuk kepedulian untuk memberikan kesempatan pada anak agar kreatif sejak dini. Melalui kegiatan ini anak-anak mendapatkan dukungan dan akses untuk mengasah kreativitasnya.

"Melalui ajang ini, sejak dini anak-anak dididik supaya lebih produktif dan tidak konsumtif, dengan dukungan keluarga. Ajang ini menunjukkan bagaimana satu keluarga kompak, solid, dan ada kasih sayang dengan pemahaman bahwa kegiatan wirausaha merupakan prasyarat untuk anak Mandiri ke depan. Kegiatan ini penting dan strategis dampaknya bagi proses tumbuh kembang anak," jelasnya.

Menurut Linda, jiwa kewirausahaan harus ada pada individu. Ia menambahkan, perlu ada upaya untuk mempertajam pemahaman jiwa wirausaha. Pada anak-anak, hal ini bisa dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah atau bisa belajar dari kegiatan berkoperasi misalnya. Juga melalui berbagai kegiatan yang memberikan akses dan kesempatan pada anak untuk mengasah kreativitasnya.

"Anak-anak sekarang juga hidup dalam masa lebih banyak akses dan kesempatan, dan mereka sudah semestinya memanfaatkan kesempatan tersebut," tuturnya. (*/Kompas.com)

http://www.ciputraentrepreneurship.com/training/serba-serbi/165-entrepreneurship/20350-berwirausaha-harus-ditanamkan-sejak-dini.html

Tuesday, September 11, 2012

Pentingnya Berwirausaha Sejak Dini


Penulis : Wardah Fazriyati | Senin, 10 September 2012 | 13:25 WIB
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar berdialog dengan peserta Kidpreneur Award 2012 di Jakarta.
KOMPAS.com - Wirausaha bukan hanya dunianya orang dewasa, tapi juga bisa menjadi bagian dari dunianya anak-anak. Bedanya, wirausaha pada anak-anak tak bisa dijalankan sendirian, namun membutuhkan bimbingan dan dukungan dari orang dewasa, orangtua maupun guru.

Anak-anak yang mengenal dunia wirausaha sejak dini, akan mendapati manfaat untuk bekal masa depan kelak. Pada tahapan usia yang terbilang belia, anak-anak yang belajar menumbuhkan jiwa wirausaha, akan tumbuh menjadi pribadi yang kreatif.

Kreativitas yang terlatih sejak dini, termasuk melalui berbagai ajang dan kegiatan kewirausahaan, menjadi modal utama produktivitas dan kemandirian anak kala ia dewasa.

Salah satu ajang wirausaha yang memberi kesempatan pada anak untuk berkreasi dan berani membuat terobosan serta mepresentasikannya, adalah Kidpreneur.

Menjadi pribadi kreatif

Bagi psikolog anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto, Kidpreneur diikuti oleh anak-anak yang kreatif dan berani mencoba, dengan berbagai terobosannya. Selain melatih anak untuk kreatif sejak dini, kegiatan ini juga menjadi salah satu cara mengenalkan profesi entrepreneur pada anak-anak.

"Entrepreneur di Indonesia masih tergolong sedikit. Kalau mau negara sukses, harus perbanyak entrepreneur. Kalau semua bercita-cita menjadi pegawai, beban negara berat. Anak-anak bisa belajar kreatif sejak dini. Anak-anak pun harus percaya diri untuk menjadi entrepreneur," jelasnya di sela acara Kidpreneur Award 2012 diadakan PermataBank dan Berani Mag, di fX Sudirman Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kak Seto menjelaskan, setiap anak yang dihargai dengan berbagai kelebihannya ia akan percaya diri dan bisa mengembangkan potensinya. Dengan begitu anak pun siap menjadi entrepreneur yang punya gagasan orisinal, mampu memecahkan masalahm dan bisa memberikan terobosan.

Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar berbisnis (berwirausaha) sejak kecil bukan berorientasi mencari uang. Melainkan lebih untuk melatih kemandirian, dengan mengandalkan kreativitasnya. Kak Seto menolak anggapan bahwa anak yang belajar bisnis sejak kecil, akan menjadi "mata duitan". Tujuan melatih kewirausahaan sejak dini lebih untuk memberikan kesempatan pada anak untuk tumbuh menjadi pribadi kreatif.

"Dengan kreativitas anak bisa menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada," jelasnya.

Untuk bisa kreatif, anak harus tumbuh dalam suasana yang aman dan bebas secara psikologis. Aman berarti anak tidak banyak dicela atau dikritik berlebihan oleh orangtuanya. Bebas dalam arti anak diberi kesempatan untuk melontarkan ide, membuat terobosan baru.

Produktif dan tidak konsumtif

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar mengatakan, Kidpreneur merupakan bentuk kepedulian untuk memberikan kesempatan pada anak agar kreatif sejak dini. Melalui kegiatan ini anak-anak mendapatkan dukungan dan akses untuk mengasah kreativitasnya.

"Melalui ajang ini, sejak dini anak-anak dididik supaya lebih produktif dan tidak konsumtif, dengan dukungan keluarga. Ajang ini menunjukkan bagaimana satu keluarga kompak, solid, dan ada kasih sayang dengan pemahaman bahwa kegiatan wirausaha merupakan prasyarat untuk anak mandiri ke depan. Kegiatan ini penting dan strategis dampaknya bagi proses tumbuh kembang anak," jelasnya.

Menurut Linda, jiwa kewirausahaan harus ada pada individu. Ia menambahkan, perlu ada upaya untuk mempertajam pemahaman jiwa wirausaha. Pada anak-anak, hal ini bisa dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah atau bisa belajar dari kegiatan berkoperasi misalnya. Juga melalui berbagai kegiatan yang memberikan akses dan kesempatan pada anak untuk mengasah kreativitasnya.

"Anak-anak sekarang juga hidup dalam masa lebih banyak akses dan kesempatan, dan mereka sudah semestinya memanfaatkan kesempatan tersebut," tuturnya.

Editor :
wawa.
http://female.kompas.com/read/2012/09/10/13250447/Pentingnya.Berwirausaha.Sejak.Dini

Friday, January 27, 2012

TAWARAN KEMITRAAN KURSUS WIRAUSAHA

Peluang Usaha

 
Jumat, 27 Januari 2012 | 14:36  oleh Fahriyadi
TAWARAN KEMITRAAN KURSUS WIRAUSAHA
Menggaet laba dari para calon pengusaha
Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sudah terbukti tahan terhadap krisis ekonomi. Makanya, banyak orang yang ingin menjadi pengusaha mikro, kecil, dan menengah.

Tapi, banyak orang yang masih bingung dari mana mereka harus memulai. Melihat peluang ini, CV Tristar yang berlokasi di Surabaya sejak 1998 lalu mendirikan Kursus Tristar, yakni sebuah pelatihan kilat untuk seseorang yang ingin memulai berbisnis.

Juwono Saroso, pemilik Tristar, mengatakan bahwa Kursus Tristar bertujuan untuk mengorbitkan para pengusaha lokal yang potensial sehingga mampu memiliki daya saing yang kuat di pasar nasional. "Kami melihat, minat untuk memulai usaha cukup besar, tapi sayang minim pengetahuan dan penyuluhan," ucapnya.

Setelah melihat begitu besarnya minat dan antusias publik terhadap Kursus Tristar, akhirnya pada 2008, lelaki 44 tahun ini memutuskan untuk mewaralabakan usaha pelatihannya itu. "Kini, kami telah memiliki empat mitra di Jakarta, Solo, Bandarlampung, dan Balikpapan," ungkap Juwono.

Tujuan Juwono mewaralabakan usaha pelatihannya, yang ia klaim sudah mencetak ribuan pengusaha kecil dan menengah, bukan semata untuk ekspansi bisnis. Tetapi juga, untuk menampung keinginan masyarakat soal bagaimana caranya memulai usaha yang kebanyakan datang dari daerah.

Menurut Juwono, Kursus Tristar sejauh ini telah berhasil mengembangkan pelatihan usaha di bidang makanan, kerajinan, pertanian, pelapisan logam, dan pembuatan kosmetik, yang tidak butuh modal besar dan bersifat home industry atau industri rumahan

Juwono mengungkapkan, keunikan Kursus Tristar ketimbang pelatihan UMKM lainnya adalah materi yang sesuai dengan kebutuhan pasar. "Setiap waktu materi selalu berubah menyesuaikan tren bisnis yang sedang berkembang," katanya.

Anda berminat menjadi mitra Kursus Tristar? Siapkan saja dana sebesar Rp 500 juta. Dari nilai investasi itu, mitra akan mendapat perlengkapan pelatihan mengajar senilai Rp 300 juta, seperti proyektor plus layar, sound system, dan alat-alat pelatihan yang disesuaikan dengan praktik bisnis yang akan diajarkan, serta fasilitas promosi. Sedang sisa investasi sebanyak Rp 200 juta untuk franchise fee selama lima tahun.

Untuk menjaga kualitas pengajaran, Tristar akan mengirim tenaga pengajar yang kompeten di setiap bidang usaha. Tapi, Juwono memberikan kebebasan kepada mitranya untuk membuka kelas tentang berbagai macam usaha yang potensial di daerahnya. "Kekuatan kami adalah selalu menampung keinginan dari publik tentang bisnis yang potensial untuk digeluti," imbuhnya.

Yang tak kalah penting, Juwono membeberkan, Kursus Tristar selalu mengedepankan sisi praktik ketimbang teori. Pasalnya, usaha membutuhkan lebih banyak praktik di lapangan bukan sekadar hitung-hitungan di atas kertas.

Dengan menggaet 40-50 peserta kursus untuk dua kelas dengan dua materi usaha berbeda, mitra bisa mengantongi omzet Rp 100 juta per bulan. Biaya Kursus Tristar mulai Rp 300.000 hingga Rp 5 juta per peserta untuk dua sampai lima kali pertemuan setiap bulan. Setiap pertemuan berlangsung selama lima jam.

Juwono berharap, ke depan Kursus Tristar bisa bercokol di Yogyakarta dan Denpasar. "Karena daerah itu potensial," tuturnya.

Peluang bisnis kursus menjadi pengusaha kecil dan menengah di Indonesia juga masih terbuka lebar. Soalnya, pesaingnya belum banyak. Namun, Juwono mengakui, cara mempromosikan usaha ini tak semudah kursus bahasa Inggris atau bimbingan belajar. "Makanya, kami menarik royalty fee sebagai bagian dari biaya promosi bersama," ujarnya.

Amir Karamoy, Ketua Dewan Pengarah Waralaba dan Lisence Indonesia (Wali) menilai, kursus pelatihan usaha merupakan bisnis yang cukup menarik. Tapi memang harus diakui pengelolaannya tak segampang kursus komputer atau bahasa Inggris. "Hal yang paling mendasar adalah sulitnya mencari tenaga pengajar yang kompeten di bidang usaha," beber dia.

Jadi, Amir berpesan, jika ingin usaha ini maju, berikan bukti kepada calon mitra bahwa sudah banyak anak didiknya yang menjadi pengusaha sukses.


Kursus Tristar
Jl. Rungkut Mapan Utara CA-24 Surabaya
Telp. 031-8794764-65
Fax. 031-8722794
Hp. 0857 31051010

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/menggaet-laba-dari-para-calon-pengusaha

Friday, August 5, 2011

Usaha Jagung Bakar, Omzet-nya Bisa Rp 12 Juta

Usaha Jagung Bakar, Omzet-nya Bisa Rp 12 Juta
Dini | Kamis, 4 Agustus 2011 | 11:45 WIB

Jagung bonanza sangat diperlukan untuk membuat jagung bakar, terutama yang manis.
KOMPAS.com - Salah satu usaha yang dapat dilaksanakan adalah dengan menggunakan jagung sebagai bahan baku usaha jagung bakar. Pemahaman akan jagung bakar sangat diperlukan karena jagung bakar yang akan dijual tidak sembarang jagung. Menurut beberapa penjual, jagung bakar bonanza sangat diperlukan, terutama yang manis. Kualitas jagung tergantung kesegaran.

Sebaiknya, penjual hanya membeli jagung untuk keperluan dua hari, yaitu hari ini dan hari esok. Jagung dapat dibeli di pasar seharga Rp 1.500 hingga Rp 2.200 per buah.

Selanjutnya, penjual jagung harus membeli bumbu jagung yang sudah tersedia di pasar dan dibeli per satu paket dengan harga sekitar Rp 40.000 hingga Rp 60.000. Jenis bumbu yang tersedia, yaitu bumbu rasa untuk manis dan bumbu pedas. Bumbu ini dapat dipergunakan untuk sekitar 100 jagung.

Bumbu tersebut dioleskan ke jagung setelah jagung dianggap sudah matang pada pemanggangan. Setelah dioleskan, jagung kelihatan menarik dan siap untuk disantap konsumen.

Penjual jagung bakar harus memiliki pemanggang jagung dan menggunakan arang batok kelapa untuk memanggang jagung. Arang batok kelapa bisa dibeli dari beberapa tempat dan bisa dipersiapkan untuk beberapa hari. Satu bungkus arang batok kelapa dapat dibeli senilai Rp 10.000 untuk 50 jagung. Pemanggangan jagung dibuat sedemikian rupa sehingga api batok kelapa bisa mengenai jagung. Berdasarkan pengamatan dari penjual jagung bakar, jarak bara arang batok kelapa dengan jagung sekitar 2 sentimeter. Ketika jagung dibakar sedemikian rupa, penjual melakukan pengipasan terhadap arang batok kelapa sehingga mempunyai bara/api dan jagung diputar agar mempunyai pemangggangan yang merata.

Penjual jagung harus mempunyai gerobak dorong untuk menjajakan jagung. Pada umumnya biaya pembuatan gerobak ini sekitar Rp 400.000 sampai dengan Rp 750.000 serta sekitar Rp 25.000 untuk peralatan pembakaran jagung. Penjualan jagung bakar tersebut selayaknya dilakukan pada malam hari sehingga memerlukan lampu petromaks untuk penerangan setiap hari dan merupakan ciri khas penjual jagung bakar.

Penjualan jagung bakar dapat dilakukan sendiri oleh pihak yang ingin berusaha, tetapi juga bisa dilakukan pegawai. Bila dilakukan sebagai usaha, pemodal bisa mempekerjakan beberapa penjual yang menerima gaji harian. Diberikan juga bonus atas penjualan jagung berdasarkan jumlah jagung yang terjual, tetapi harus mendapatkan jumlah minimum yang terjual setiap harinya.

Penjual bisa menjajakan jagung bakar keliling kompleks perumahan. Hindari keberadaan beberapa penjual jagung dalam satu kompleks. Penjual jagung bisa berkeliling kompleks atau mangkal di tempat strategis. Bila tempat mangkal menetap, harus dipikirkan biaya mangkal atau biaya hubungan sosial. Pemilik bisa melakukan survei ke kompleks tempat penjualan jagung untuk lebih paham akan bisnis yang dilakukan. Bila perlu, pemilik melakukan penjualan untuk satu hari dan tahu persis penjualan tersebut.

Penjual jagung bakar dapat menjual jagung bakar seharga Rp 8.000 sampai dengan Rp 11.000 per satu jagung. Penjual jagung harus bisa melakukan penjualan jagung paling sedikit 40 jagung. Dari penjualan 40 jagung tersebut, omzet minimumnya bisa sekitar Rp 400.000 per hari (atau bisa menjadi Rp 12 juta dalam sebulan). Keuntungan yang diperoleh pemilik atas penjualan jagung tersebut sekitar Rp 3.000 sampai Rp 6.000 per jagung tergantung harga penjualan jagung. Besar keuntungan yang diperoleh masih tergantung jumlah yang terjual.
Pada sisi lain, kebersihan atas gerobak dan peralatan serta jagung yang dijual merupakan faktor penting. Dengan demikian, pemilik atau penjual perlu memeriksa kebersihan sebelum berangkat menjual atau menjajakan jagung bakar.

Risiko
Risiko yang dihadapi pengusaha jagung bakar, antara lain, kualitas jagung yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan. Jagung yang didapat di pasar bukan jagung bonanza yang manis, tetapi jagung yang biasa rasanya sehingga tidak memuaskan konsumen. Akibatnya, konsumen tidak datang kembali untuk membeli. Ketidakdatangan konsumen mengakibatkan penjualan atau pendapatan menurun sehingga akan menimbulkan kemungkinan kerugian.

Risiko lain, tidak adanya konsumen yang membeli jagung bakar karena konsumen tidak tahu ada penjual jagung bakar dan lokasi penjualan. Informasi penjualan jagung bakar sangat perlu dilakukan oleh penjual. Tempat yang strategis menjadi pilihan yang harus dlakukan oleh penjual agar konsumen datang.

Risiko berikutnya, yaitu risiko cara pelayanan. Penjual jagung bakar melayani konsumen tidak sesuai dengan harapan konsumen.

Salah satu faktor penting yang harus diperhatikan penjual jagung bakar, yaitu cara penjual melayani konsumen. Rasa hormat dan sikap santun kepada pembeli jagung bakar sangat diperlukan agar pembeli mau datang berulang kali.
(Adler Haymans Manurung, pakar investasi dan keuangan)

Sumber: Kompas Cetak
http://female.kompas.com/read/2011/08/04/11454933/Usaha.Jagung.Bakar..Omzet-nya.Bisa.Rp.12.Juta