Thursday, April 26, 2012

10 Ide Startup yang Ramah Lingkungan


Views :218 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 25 April 2012 10:11
Bagi Anda yang sedang mencari ide-ide startup atau usaha baru yang sedang tren sekarang ini dan lebih tahan krisis, pertimbangkanlah semua hal yang berhubungan dengan penghematan energi, pelestarian lingkungan atau solusi untuk masalah pemanasan global. Ini sangat potensial bagi para entrepreneur Gen-Y (millenial, mereka yang lahir 1980 dan seterusnya) yang memiliki passion atau setiap generasi muda yang ingin memulai bisnis, atau bahkan generasi baby boomer yang masih ingin berkarya dan berkontribusi di perjalanan karirnya yang sudah lama.

Di Amerika Serikat yang perekonomiannya masih belum pulih benar, celah peluang bisnis di sektor energi seperti ini mendapatkan perhatian yang relatif lebih banyak. Para investor sangat memperhatikan startup-startup yang mampu memberikan inovasi dalam berbagai masalah energi penduduk dunia saat ini. Di Indonesia, masalah penghematan energi juga telah menjadi isu yang krusial. Sehingga Anda sebagai entrepreneur Indonesia perlu juga mencermati peluang bisnis di sektor energi ini. Melakukan hal yang benar harus juga mendatangkan untung dan kompetitif jika nantinya ingin menjadi sebuah usaha yang berkelanjutan, tak hanya melejit sekarang tetapi meredup dan lenyap setelah tren menghilang.


Berikut ini merupakan 10 tema besar yang bisa menjadi ide bisnis yang menguntungkan bagi Anda selain juga menyelamatkan bumi dan masa depan umat manusia.

1. Kurangi, gunakan kembali, daur ulang: Pikirkan bagaimana mendaur ulang agar menguntungkan secara ekonomi berbagai barang yang kita pakai sehari-hari, seperti gadget yang sudah tidak digunakan lagi, dan sebagainya. Temukan cara yang bertanggung jawab untuk mengolah sampah obat-obatan yang sudah lama dan kadaluarsa. Hasilkan energi dari barang yang Anda daur ulang.

2. Pertanian yang berkelanjutan: Singkirkan bahan beracun dari pembunuh serangga, pemusnah rerumputan liar dan produk -produk lainnya yang digunakan dalam pertanian kita dan kurangi bahan kimia berbahaya dalam berbagai bahan makanan kita. Kesadaran masyarakat akan bahaya residu bahan kimia dalam makanan yang mereka konsumsi juga makin meningkat akhir-akhir ini. Ini menjadi sebuah peluang baru.

3.Konservasi sumber daya alam dan margasatwa: Tanam kembali lahan yang gundul untuk meningkatkan kualitas air, dan mengembalikan hutan alami. lindungi hewan yang terancam oleh manusia untuk mengembalikan seleksi alam alami dan keseimbangan lingkungan seperti semula.

4. Energi terbarukan: Hasilkan listrik dari sumber energi terbarukan yang lebih sedikit mengotori lingkungan untuk menggerakkan setiap kegiatan kita sebagai manusia modern, jual energu terbarukan tersebut kepada masyarakat atau perusahaan yang membutuhkannya dan bangun impian hunian yang ramah lingkungan, minimalkan penggunaan bahan bakar fosil dan sebagainya.

5. Transportasi alternatif: Alternatif di sini bisa berupa kendaraan bertenaga baterai yang dihasilkan angin hingga kendaraan bertenaga nuklir, bertenaga gelombang, bertenaga air pasang, bertenaga panas bumi , bertenaga sinar matahari untuk berbagai kegunaan berbeda di seluruh dunia.

6. Peralatan yang super efisien: Teknologi dalam rumah bisa juga dirancang untuk lebih hemat energi. Bayangkan sebuah pemanas air dan pompa air, pendingin udara, lampu rumah, dan peralatan rumah tangga lainnya yang bisa menghemat konsumsi energi hingga separuhnya atau lebih dari itu. Orang kini lebih menyukai peralatan yang awet dan hemat energi meski harganya relatif lebih tinggi karena mereka makin sadar penghematan energi merupakan investasi jangka panjang.

7. Makanan organik: Ini bsia dilakukan baik dalam bentuk bisnis besar hingga lahan pertanian yang relatif kecil dan membantu masyarakat utnuk bisa lebih Mandiri dalam hal pangan dan lebih mencintai produk pangannya sendiri daripada pangan impor.

8. Makanan cepat saji yang lebih sehat: Restoran cepat saji memiliki reputasi buruk selama ini karena kandungan gizi makanan mereka yang kurang seimbang. Ini bisa Anda anggap sebagai celah peluang yang harus dimanfaatkan. Anda bisa mendirikan sebuah rumah makan atau restoran waralaba yang menyajikan makanan cepat saji yang lebih menyehatkan, meski tak sepenuhnya sehat seperti makanan segar. Satu produsen mie instan misalnya menangkap sinyalemen kecemasan masyarakat terhadap keamanan mengkonsumsi mie instan dengan mengeluarkan produk yang berbahan dasar lebih sehat dan cara pengolahan yang lebih baik. Dan produk tersebut mulai mendapat tempat di hati masyarakat.

9. Selamatkan lingkungan hidup di bumi: Pemanasan global, polusi air dan udara, dan pengurangan konsumsi energi hanya beberapa di antaranya.

10. Bangunan berkonsep hijau: Banyak ide yang berkaitan dengan upaya menjadikan hunian kita makin hemat energi dan ramah lingkungan, dari perbaikan kecil seperti pemilihan cat yag dipakai hingga yang besar seperti bagaimana memilih dan memasang panel surya penghasil listrik.

Terdapat banyak program di luar sana untuk membantu perusahaan-perusahaan menanamkan konsep hemat energi dan ramah lingkungan dalam setiap kegiatannya yang pada dasarnya mampu menggenjot keuntungan jangka panjang. (*AP)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/ide/16324-10-ide-startup-yang-ramah-lingkungan.html

7 Alasan Para Eksekutif Korporat Gagal dalam Startup

Views :238 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 26 April 2012 11:37
ceoEksekutif jajaran atas atau menengah dalam perusahaan yang terbiasa bekerja dalam perusahaan besar sering memandang iri para entrepreneur yang bekerja untuk stratup dan bermimpi betapa mudah dan menguntungkannya mengelola sebuah startup kecil tempat Anda bisa melihat gembaran keseluruhannya dan tampaknya Anda memiliki kendali penuh. Di dalam kenyataannya, sangat sedikit sekali pekerja profesional yang berprestasi atau eksekutif sukses yang dulunya bekerja di korporasi besar yang berhasil berkembang maksimal dalam lingkungan startup terutama yang berada pada tahap awal perintisan.

Pekerjaan seorang eksekutif perusahaan besar sangat berbeda dari pekerjaan eksekutif dalam perusahaan skala kecil. Budaya kerjanya berbeda, ketrampilan yang dibutuhkan juga berbeda, dan pengalaman dari satu pihak bisa berbeda jauh dari pengalaman pihak lain.

Michael Frank dalam sebuah artikel Harvard Business  Review yang ditujukan bagi para eksekutif mengemukakan 7 masalah yang harus dihadapi oleh eksekutif korporasi besar yang ingin sukses berwirausaha dalam startup/ usaha baru.

Ketrampilan yang tidak diperlukan
Dalam perusahaan besar, kemampuan untuk menjalin dan membangun pengaruh untuk mengarahkan sumber daya yang ada ke tempat yang diperlukan dianggap penting. Namun tak demikian halnya dalam startup kecil. Ketrampilan ini ‘membunuh’ Anda dalam perusahaan yang lebih kecil karena sumber daya yang terlalu banyak bisa berakibat negatif.

Lupakan staf dan pengawal
Satu hal yang harus disadari oleh para mantan eksekutif korporasi besar jika ingin bertahan dalam lingkungan startup ialah kenyataan bahwa mereka awalnya harus nyaman untuk mengerjakan semua hal sendirian. Dari tukang sapu kantor hingga direktur, semua posisi itu bisa disandang oleh satu orang dalam sebuah startup baru.

Jika Anda mengeluhkan ketiadaan staf atau pegawai yang bisa membantu meringankan beban pekerjaan, risikonya bisa jadi pembengkakan biaya dan pengeluaran yang mengalihkan ushaa dari penciptaan nilai yang lebih krusial.

Jangan pernah menyembunyikan kesalahan
Dalam perusahaan besar, menyembunyikan kesalahan kita dengan melimpahkannya pada bawahan atau rekan kerja bisa menjadi ‘solusi’ saat keadaan memburuk. Namun di startup, tidak demikian keadaannya. Saat Anda melakukan kesalahan, tak peduli posisi Anda, Anda harus mengakuinya dengan ksatria karena kejujuran dan keberanian untuk mengakui kesalahan sendiri akan memupuk iklim kerja yang penuh kepercayaan dan persatuan, apalagi jika Anda memiliki rekan kerja dalam startup tersebut.

Tak ada waktu untuk kelambanan
Dalam perusahaan besar, kecepatan dalam melangkah tidak terlalu menjadi masalah krusial dalam menentukan keberhasilan. Ini karena korporasi besar umumnya memiliki lapisan birokrasi yang banyak dan keuangan yang lebih mantap, tetapi di startup yang jauh lebih kecil, Anda tidak bisa melakukannya. Anda harus tetap melaju cepat di depan perusahaan-perusahaan besar tersebut jika tidak ingin terlindas oleh ‘mesin-mesin’ raksasa mereka.

Bersikap selektif dalam pemecahan masalah
Para manajer dalam perusahaan besar sering mendapatkan peluang untuk memikirkan tantangan di masa depan jika keadaan sedang stabil. Di startup, entrepreneur hanya memiliki sedikit waktu untuk itu, hanya ada sedikit sekali waktu untuk melakukan perencanaan masa depan seperti itu.

Membiasakan diri dengan penyusunan anggaran yang berubah-ubah
Perusahaan besar biasanya beroperasi dengan anggaran yang disusun setahun sekali, dan sering penyusunan anggaran itu sudah dilakukan berbulan-bulan sebelum mulainya tahun fiskal.  Dalam startup, keuangan tidak dijalankan berdasarkan sebuah anggaran tahunan yang sudah dibuat sebelumnya. Bisa jadi anggaran itu terus berubah seiring keadaan, atau dibuat dalam jangka waktu yang lebih pendek, misalnya bulanan.

Pahami bahwa pengaruh harian Anda besar pada bisnis
Sebagai entrepreneur, perlu disadari adanya tanggung jawab yang lebih besar. Jika keputusan Anda salah, semua usaha bisa runtuh. Jika Anda membuat keputusan yang benar, usaha Anda akan melaju lebih kencang dan meraup lebih banyak untung. Banyak keputusan hidup-mati yang harus dihadapi oleh entrepreneur dalam sebuah startup, ini jarang dihadapi oleh eksekutif dalam perusahaan besar. (*AP)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/47-memulai-bisnis/16362-7-alasan-para-eksekutif-korporat-gagal-dalam-startup.html

Wednesday, April 25, 2012

Tujuh 'Dosa Besar' dalam Berinvestasi

Rabu, 25/04/2012 07:13 WIB

Metta Pranata - detikFinance


Jakarta - Sebagai seorang investor, siapakah musuh terbesar Anda? Jawabannya, diri Anda sendiri. Mengapa? Karena Anda mudah tergoda dan jatuh ke dalam godaan.

Entah Anda itu termasuk investor yang terlalu sering bertransaksi, atau investor yang underperform dalam pengelolaan dana investasi. Disiplin diri dalam berinvestasi merupakan aset terbaik, sebaliknya kekurangan disiplin diri merupakan resiko terbesar Anda.

Ada tujuh dosa dalam berinvestasi dan mungkin Anda pernah melakukan ketujuhnya. Anda ingin berubah jadi investor yang lebih baik di masa depan? Inilah tujuh hal yang harus Anda hindari menurut penulis Motley Fool - Harvey Jones, dilansir dari Sydney Morning Herald, Rabu (25/4/2012).

1. Kemarahan
Emosi menutup kejernihan penilaian. Saat marah, Anda tidak bisa melihat hal lain dengan jernih. Banyak alasan dan penyebab investor emosi. Mungkin Anda baru saja mengalami perceraian yang mahal, membeli produk investasi terburuk atau melewatkan kesempatan bagus.

Anda marah dan untuk menutupi kerugian, Anda memutuskan lebih agresif. Jadi Anda melakukan hal-hal gila seperti trading valas, logam mulia atau mempertaruhkan uang Anda untuk penambang spekulatif beresiko tinggi. Selalu ada waktu dan tempat untuk investasi agresif, tapi ingat segalanya harus dilakukan dengan kepala dingin.

2. Serakah
Inilah dosa terberat investor. Serakah membuat Anda melepaskan investasi jangka panjang dengan imbal hasil layak untuk sebuah investasi saham fluktuatif. Keserakahan membuat beban investasi Anda semakin berat dengan berbagai potongan dan pajak karena Anda 'lari-lari' ke berbagai sektor investasi dan jenis saham.

Serakah itu tidak baik dan sejarah jadi bukti bahayanya keserakahan. Anda harus mampu mengekang insting manusia paling dasar ini jika ingin jadi investor sukses jangka panjang.

3. Lamban
Mungkin lamban merupakan salah satu dosa yang paling ringan. Investor lamban punya beberapa keuntungan. Mereka bisa menghemat biaya perantara dan pajak. Mereka menghindari membuat keputusan yang tergesa-gesa, misalnya menjual atau membeli saham buru-buru.

Tapi lamban berinvestasi bukan strategi pintar jika Anda tidak memanfaatkan waktu itu untuk riset baik buruknya produk investasi sebelum membeli. Atau terlalu malas hingga pengelolaan dana Anda terus-terusan underperform. Mau tetap lamban atau tumbuh, pilihan ada di tangan Anda.

4. Angkuh
Jika Anda pikir keberuntungan mengalir di dalam darah Anda, punya rahasia untuk kaya raya dari modal receh atau bisa menaklukkan pasar setiap tahunnya tanpa kegagalan, bersiaplah untuk terpuruk. Pasar modal itu kejam, tidak ada orang yang tahu segalanya. Jadi apa yang membuat Anda spesial dan merasa paling hebat?

5. Nafsu
Pasti Anda pernah merasakan ini ketika mendengar investasi yang menjanjikan pertumbuhan 10%, saham yang sedang ngetren, tambang emas baru atau dana yang bisa menghasilkan imbal dua kali lipat. Berinvestasilah dengan cerdas. Ingat, itu hanya nafsu sesaat.

6. Iri
Memangnya kenapa jika ada orang yang bisa membeli emas seharga US$ 600 per ons atau untung banyak karena sahamnya sedang naik? Setiap orang harus bisa mendapat penghasilan dari investasinya. Tunggu saja jika belum berhasil, kali ini bukan giliran Anda. Sabar, jangan iri atau buru-buru mengikuti strategi mereka. Nanti juga akan tiba giliran Anda.

7. Rakus
Pasar modal menawarkan berbagai pilihan yang menggiurkan. Dari yang menjanjikan imbal hasil tinggi, eksotisnya minyak, hingga logam mulia yang menyilaukan. Anda harus memilih dengan cermat. Pilih yang sesuai dengan selera investasi Anda dan yang benar-benar Anda mengerti. Lalu tinggal fokus untuk mengembangkannya. Tidak ada yang suka dengan orang rakus.

(ang/ang)
Sumber:
http://finance.detik.com/read/2012/04/25/071353/1900731/479/tujuh-dosa-besar-dalam-berinvestasi

Bisnis Florist, Risiko Tinggi dengan Laba Besar

Views :253 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 25 April 2012 09:13
florist0412Sekilas bisnis florist tampaknya berisiko tinggi bagi pemula. Sifat bunga yang cepat layu jadi penyebabnya, padahal belum tentu ada pesanan datang.

Tapi risiko ini sebenarnya cukup sepadan jika melihat keuntungannya. Harga karangan bunga yang paling murah sudah mencapai Rp500.000. Padahal nilai bahan bakunya tidak sampai lebih dari Rp100.000.

Untuk memulai usaha di kios, bahan baku berupa bunga harus tersedia untuk meyakinkan konsumen. Namun beda lagi jika usaha sudah dipasarkan secara online. Pengusaha florist online dapat membeli bunga jika pesanan sudah datang.

Pengusaha florist biasanya memulai usaha dengan menyetor uang secara periodik pada agen bunga. Mereka hampir dipastikan bisa cepat balik modal karena harga produk florist yang tinggi dan pesanan yang terus berdatangan. (*/dari berbagai sumber/AS)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/bisnis-mikro/16320-bisnis-florist-risiko-tinggi-dengan-laba-besar.html

Mengapa Harus Menyusun Business Plan?

Views :331 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 25 April 2012 11:02
business-analysisMayoritas entrepreneur atau calon entrepreneur setidaknya pernah mencoba untuk menyusun sebuah business plan yang baik. Namun, apakah mereka pernah mempertanyakan alasan penyusunan sebuah business plan? Apakah Anda sendiri sebagai entrepreneur telah memahami alasan penulisan sebuah business plan? Apakah Anda juga sadar konsekuensi apa yang bisa terjadi jika Anda memulai bisnis tanpa sebuah business plan yang tersusun rapi?

Sebuah ungkapan menarik dikemukakan oleh Dwight E. Eisenhower , presiden ke 34 Amerika Serikat, bahwa rencana itu tidak memiliki harga atau manfaat tetapi perencanaan adalah segalanya. Kita bisa simpulkan dari pernyataan Esienhower pula bahwa sebaik apapun rencana yang sudah kita susun tidak akan ada gunanya jika tidak diiringi eksekusi yang baik dan perencanaan juga penting artinya jika Anda menginginkan sebuah bisnis yang berkelanjutan, yang langgeng.

Mari kita menelaah lebih lanjut sejumlah alasan mengapa business plan mesti disusun. Dengan demikian Anda menyadari pentingnya business plan dan jika Anda memutuskan untuk tidak membuat, Anda juga menyadari konsekuensinya kelak. Apapun yang Anda pilih, membuat atau tidak membuat business plan, pastikan itu merupakan pilihan yang sadar, bukan karena mengikuti formalitas belaka atau menuruti kemalasan untuk berpikir ke depan. Berikut merupakan uraian yang disampaikan oleh Joseph Hadzima dari MIT Sloan School.

Pemahaman atas bisnis sendiri
Aneh tetapi nyata, tetapi kita kadang menjumpai seorang entrepreneur yang bahkan kebingungan saat ia harus menjelaskan usaha yang ia jalankan sehari-hari. Dengan menyusun business plan yang baik, ternyata seorang entrepreneur ‘dipaksa’ untuk memahami bisnisnya sendiri sebelum membuat orang lain paham dan tertarik dengan bisnis tersebut.

Kebutuhan untuk pendanaan
Pendanaan atau investasi memerlukan sebuah naskah tertulis untuk bisa ducermati oleh pihak yang ingin berinvestasi. Mungkin pihak tersebut bisa juga mewawancarai Anda secara langsung tetapi keterbatasan waktu dan tempat kadang memaksa mereka untuk membuat keputusan beradasarkan business plan yang mereka baca.

Kemitraan strategis
Saat ingin bermitra, hal pertama yang bisa Anda lakukan adalah menyodorkan kontak berupa kartu nama tentunya, tetapi kadang itu belum cukup. Calon mitra Anda membutuhkan sesuatu yang bisa mereka teliti agar mereka membuat keputusan yang tepat dan tidak menyesal di kemudian hari. Di sini, salinan business plan bisa Anda serahkan pada mereka.

Penjelasan kepada pemasok/ pelanggan
Seringkali keseriusan seorang pebisnis dalam menjalankan usaha ditentukan apakah ia melakukan perencanaan dalam bisnisnya atau tidak. Bagi para pemasok dan pelanggan, business plan dapat mencerimnkan tingkat kseriusan Anda dalam berbisnis. Mereka tidak mungkin berbisnis dengan perusahaan yang terkesan abai dengan perencanaan masa depannya sendiri. ini karena apa yang terjadi pada Anda bisa juga berpengaruh pada mereka kelak.

Upaya menarik sosok penting
Figur penting seperti Venture Capitalist (VC), mentor, dan sebagainya biasanya merupakan sekumpulan orang-orang sibuk dengan waktu yang terbatas untuk sekadar berbincang mengenai bisnis seseorang. Business plan memudahkan mereka untuk memahami pandangan Anda, visi dna misi bisnis, dan lain sebagainya. (*AP)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/174-rencana-bisnis/16328-mengapa-harus-menyusun-business-plan.html

Mengenal Hak yang Melekat pada Properti


Views :112 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 25 April 2012 10:44
rumah_mungil0312Ketika menyebutkan hak apalagi dalam properti, bisa diartikan properti tersebut merupakan “kepunyaan” seseorang, baik pribadi maupun kelompok. Lewat hak pula, si pemilik properti dapat terjamin melakukan segala sesuatu terkait propertinya.

Ada lima jenis hak yang melekat pada suatu properti, yakni hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, hak pakai, dan hak pengelolaan. Simak pemaparannya berikut ini:

Hak milik

Hak milik, seperti yang tercantum dalam pasal 20 ayat 1 UU Pokok Agraria, adalah hak turun termurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah dengan mengingat semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial.

Karakteristik dari hak milik antara lain, hak induk terhadap hak-hak kebendaaan yang lainnya, hak selengkap-lengkapnya ditinjau dari kuantitas, hak yang sifatnya tetap tidak hilang karena hak-hak lainnya, hak yang mengandung inti dari semua hak yang lainnya.

Terkait hak milik, jangka waktunya tidak dibatasi. Obyek hak adalah tanah pertanian dan bukan pertanian (peruntukan). Subyek hak adalah perorangan warga negara Indonesia. Badan hukum yang ditunjuk antara lain bank pemerintah. Hak milik dapat beralih dan dialihkan serta dapat dibebani dengan hak tanggungan sebagai jaminan utang.

Hak guna bangunan

Menurut UU Pokok Agraria, pasal 35 ayat 1, hak guna bangunan (HGB) adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri. Obyek hak ini adalah tanah untuk mendirikan bangunan, subyeknya adalah hak perorangan WNI dan badan hukum Indonesia.

Hak guna bangunan atas tanah negara diberikan dengan keputusan pemberian oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau pejabat yang ditunjuk. Biasanya jangka waktu yang diberikan selama 30 tahun dan dapat diperpanjang paling lama 20 tahun. Permohonan perpanjangan atau pembaruan hak harus diajukan selambat-lambatnya dua tahun sebelum berakhirnya jangka waktu HGB tersebut.

Hak guna usaha

Hak guna usaha (HGU) menurut pasal 28 ayat 2 UU Pokok Agraria, adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara. Obyek hak adalah tanah yang diusahakan dalam bidang pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan dengan luas minimum 5 hektar. Sementara untuk perseorangan maksimum 25 hektar. Untuk badan usaha luas maksimum ditetapkan oleh menteri.

Subyek dari hak ini adalah WNI dan badan hukum Indonesia. Jangka waktu penggunaannya adalah maksimum 35 tahun, serta dapat diperpanjang 25 tahun. Permohonan perpanjangan atau pembaruan hak harus diajukan selambat-lambatnya dua tahun sebelum berakhirnya jangka waktu HGU tersebut.

Hak guna usaha dapat beralih dan dialihakan, serta dapat dibebani dengan hak tanggungan sebagai jaminan utang.

Hak pakai

Menurut pasal 41 dalam UU Pokok Agraria, hak pakai merupakan hak menggunakan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara. Atau tanah milik orang lain yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dngena pemilik tanah.

Subyek dari hak pakai adalah WNI dan Warga Negara Asing (WNA) yang berkedudukan di Indonesia, badan hukum Indonesia, badan hukum asing yang berkantor di Indonesia, perwakilan asing serta badan-badan pemerintah.

Jangka waktu hak pakai atas tanah paling lama 25 tahun dan dapat diperpanjang maksimum 20 tahun.

Hak pengelolaan

Hak pengelolaan memiliki jangka aktu yang tidak terbatas. Obyeknya adalah tanah untuk pertanian dan bukan pertanian. Subyek hak ini adalah pemerintah daerah, BUMN, dan BUMD. (*/Kompas.com)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/component/content/article/164-umum/16326-mengenal-hak-yang-melekat-pada-properti.html

Tiga Jalan Mengumpulkan Modal Usaha

Views :380 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 25 April 2012 14:36
modal0412Salah satu faktor penting yang diperlukan untuk membuka usaha adalah modal. Modal yang diperlukan untuk usaha biasanya terbagi menjadi tiga: Modal investasi awal, Modal kerja, dan modal operasional. Namun setelah mengetahui hal ini, beberapa orang malah makin pusing. "Menghitung modal sih memang gampang. Masalahnya sekarang, gimana caranya supaya modalnya bisa terkumpul?" begitu mungkin yang Anda pikirkan.

Ini memang bahasan menarik, karena banyak orang kesulitan mengumpulkan modal usaha. Sebagai contoh, kalau seseorang ingin buka usaha laundry dengan memiliki mesin cuci sendiri, dan ia membutuhkan modal dana sebesar Rp 20 juta, sementara dananya sendiri baru Rp 3 juta, dari mana ia bisa mengumpulkan modal?

Ada tiga jalan untuk mengumpulkan modal usaha:

1. Modal sendiri

Pertama jelas, kalau Anda ingin membuka usaha, Anda bisa memakai modal sendiri. Caranya bisa dengan mengambil dari simpanan yang Anda miliki sekarang, entah dari tabungan atau deposito, atau dengan menjual aset yang Anda punya. Sebagai contoh, banyak orang yang menjual sepeda motornya untuk dijadikan modal usaha, atau menjual perhiasan yang dimiliki.

Menjual barang untuk menambah modal usaha adalah hal yang biasa. Yang paling penting, jangan merasa terlalu sayang untuk menjual beberapa aset Anda untuk menambah modal usaha. Contohnya, kalau Anda tidak mempunyai uang untuk modal usaha dan harus menjual perhiasan Anda, ya jual saja. Kelak bila usaha Anda sudah berhasil, Anda toh bisa membeli lagi perhiasan yang lebih bagus.

2. Meminjam

Meminjam uang untuk modal usaha juga sering dilakukan orang. Dengan meminjam, seringkali usaha yang memang Anda impikan bisa lebih cepat terwujud. Hal ini lebih baik daripada menunggu hingga modal terkumpul. Hanya saja, karena modal itu Anda dapatkan dengan meminjam, Anda betul-betul harus memperhatikan arus kas Anda. Ini karena Anda pasti harus mengembalikan uang yang Anda pinjam. Entah dengan mengembalikannya secara bulanan, enam bulanan, atau mungkin tahunan.

Dalam hal meminjam, bahwa banyak orang yang seringkali terlalu fokus kepada bagaimana mereka bisa mendapatkan pinjaman, tetapi tidak memikirkan apa yang bisa mereka lakukan untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Jadi, ketika meminjam, cobalah untuk memikirkan bagaimana caranya Anda bisa mengembalikan pinjaman tersebut.

Tipsnya, ketika Anda memikirkan caranya, jangan terlalu optimistis bahwa pendapatan dari usaha Anda pasti bisa langsung besar di bulan-bulan pertama. Kalau perlu, buatlah perkiraan sepesimis mungkin. Dari perkiraan yang pesimistis tersebut, Anda pasti bisa melakukan penilaian apakah pengembalian yang akan Anda lakukan nantinya bisa lancar atau tidak.

3. Kerja sama

Daripada Anda memakai dana milik Anda sendiri semuanya, atau daripada Anda meminjam, mengapa tidak mencoba menjalin kerja sama dengan orang lain? Dengan menjalin kerja sama, maka risiko usaha Anda bisa lebih kecil karena harus dibagi bersama teman-teman Anda. Cuma, keuntungan yang Anda dapatkan tentu juga harus dibagi. Artinya, risiko dibagi, keuntungan juga harus dibagi.

Sekarang masalahnya, adakah orang yang mau kerjasama dengan Anda? Itu tergantung apakah Anda bisa dengan baik menawarkan keuntungan yang masuk akal pada usaha yang Anda tawarkan. Tetapi, tawaran keuntungan saja belum cukup lho. Anda juga harus bisa memberikan pendekatan yang baik, tidak sombong pada orang-orang yang ingin Anda ajak kerjasama.

Selain itu, bila memungkinkan, penjelasan yang Anda berikan juga harus masuk akal, seadanya, dan tidak melulu memaparkan keuntungan pada orang yang ingin Anda ajak kerjasama.

Nah, sekarang, Anda sudah tahu bagaimana mengumpulkan modal untuk membuka usaha. Mudah-mudahan dari tiga pilihan tersebut di atas, Anda bisa menentukan pilihan mana yang terbaik.

*) Disarikan dari tulisan Safir Seduk, perencana keuangan yang dipublikasikan di Harian Kompas.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/47-memulai-bisnis/16338-tiga-jalan-mengumpulkan-modal-usaha.html