Showing posts with label kopi. Show all posts
Showing posts with label kopi. Show all posts

Wednesday, December 7, 2011

Bagaimana bedakan kopi kelas premium dan kelas abal-abal?

Industri

 
Selasa, 06 Desember 2011 | 20:07  oleh Dani Prasetya
Kualitas Kopi Indonesia
Bagaimana bedakan kopi kelas premium dan kelas abal-abal?
SIMALUNGUN. Kopi Indonesia terkenal dengan kualitas premium di pasar ekspor. Setiap biji kopi yang akan dikirim ke Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Timur Tengah wajib menjalani berbagai tes dan sortir. Biji kopi yang hanya berkualitas bagus merupakan pilihan bagi pasar ekspor. Sisanya? Menjadi konsumsi pasar lokal.

Konsultan Agribisnis International Finance Corporation (IFC) Zaenudin Toyib menuturkan, biji kopi berkualitas jelek yang diberi label grade 6 menjadi konsumsi pasar lokal. Biji kopi itu bisa disebut sortiran kualitas jelek (pangkal) yang berbiji pecah, hitam, dan banyak berkulit ari/tanduk. Tingkat kadar airnya pun melebihi batas kualitas ekspor sebesar 12%.

Penikmat kopi biasanya tahu ciri kopi kualitas jelek. Namun, para pemula bisa mendeteksi hal itu mulai dari biji hingga seduhan kopi. Saat masih berbentuk biji asalan (dikelupas dari kulit tanduk dan ari), kualitas jelek berwarna hijau pucat. Warna antar biji pada setiap sampling 300 gram pun tak seragam. "Defect (cacat) yang banyak masuk grade 6," ujarnya, di sela peresmian pusat pelatihan petani kopi di Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, Selasa (6/12).

Quality Control Officer PT Indo Cafco Anna Flora Silalahi ikut menambahkan, biji kualitas jelek memberi efek tingkat kekentalan yang tidak bagus pada seduhan air panas. Saat menghirup pun tercium aroma obat-obatan atau fermentasi yang merusak ciri kopi.

Saat merasakan di mulut pun, katanya, seduhan kopi akan terasa tidak bersih karena banyak ampas kayu dan kulit tanduk. "Aroma kopi pun kurang tajam karena banyak kulit dan kerikil," jelasnya.

Sumber:
http://industri.kontan.co.id/v2/read/industri/84581/Bagaimana-bedakan-kopi-kelas-premium-dan-kelas-abal-abal-

Wednesday, November 23, 2011

Bambang Sriono, dari Pegawai Hotel Menjadi Juragan Kopi

Bambang Sriono, dari Pegawai Hotel Menjadi Juragan Kopi Views :219 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 23 November 2011 14:15
Salah satu resep menjadi seorang entrepreneur sukses adalah memiliki mental yang tak pernah puas akan keadaan dan selalu bersemangat untuk terus belajar. Maka tak aneh jika banyak entrepreneur yang sukses menggawangi bisnisnya, meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bisnis yang dikelola. Seperti halnya Bambang Sriono, juragan kopi yang dulunya bekerja sebagai pegawai sebuah hotel.

bsrionoBermodalkan kebun seluas dua hektar, dan pengetahuan dari pelatihan, maka jadilah Bambang Sriono menjadi salah satu dari 14 pengusaha kopi bubuk di Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, yang terus bertahan hingga kini.

Bambang, yang juga Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Bondowoso, menyebutkan menjadi petani merupakan pekerjaan yang mendatangkan kesejahteraan dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya. Dan dengan menjadi seorang entrepreneur, Bambang yakin bahwa kehadiran usahanya akan membantu perekonomian warga, baik lokal hingga nasional.

"Jadi ilmu saya yang saya dapat dari Puslit (Pusat penelitian), saya terapkan. Ya, jadi modalnya kemauan. Kalau dilihat dari latar belakang pendidikan itu nggak ada. Saya dari teknik kimia. Sekarang petani kopi," ujar Bambang, seperti dikutip dari Kompas.com, Rabu (23/11).

Menurut pria yang juga Ketua Forum 'Ahli' Pertanian Madani (Rumah Tani) Bondowoso, ilmu dan sumber daya alam Indonesia, khususnya tanah, menjadi modal yang mahal bagi seorang entrepreneur. Selain itu, kemauan untuk belajar dan terus belajar mencari inovasi baru, menjadi modal yang tak kalah pentingnya. Ia pun percaya, kendala dana akan bisa terpecahi dengan kualitas produk yang terbaik juga kemauan tersebut menjadi modal awalnya baginya, sehingga ia merasa tidak terkendala oleh dana.

“Jika produk kita baik dan memiliki potensi jual yang tinggi, modal saya rasa bukan suatu kendala. Contohnya, seperti kucuran dana Bank Indonesia lewat CSR (Corporate Social Responsbility)-nya. Terus, dari Puslit, ilmu dan teknologinya," ujarnya.

Ia pun mulai bertani sejak tahun 2000. Selang enam tahun kemudian, ia pun mulai menelurkan merek Rajawali, untuk kopi bubuk arabika dan robusta. Dengan tampilan yang sederhana, ternyata kopi Rajawali mendapatkan respon yang sangat baik dari masyarakat. Dengan saran dan dukungan Bupati setempat, Bambang pun akhirnya merubah kemasan kopi produknya sehingga terlihat lebih menarik.

Perubahan kemasan kopi ternyata cukup mendorong penjualan kopi Rajawali. Dari hanya Rp 3.500 per 200 gram, kini harganya mencapai Rp 8000 per 160 gram untuk robusta, Rp 15.000 untuk arabika dengan satuan berat yang sama.

Ia mengaku bahwa dialah petani yang mengawali memanen kopi dengan "petik merah," dan proses menggunakan proses basah (wet process), di Bondowoso. Apa maksudnya petik merah? Ia menyebutkan selama ini panen yang dilakukan petani di wilayah tersebut, masih mencampur antara biji kopi yang berwarna merah, kuning, dan hijau pada saat panen. Petik merah baru dilakukan di lima kelompok tani, atau sekitar 152 petani kopi, mulai tahun 2011 ini, setelah mendapatkan binaan langsung dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.

"Nah, kalau kami sudah petik merah dari 2005. Jadi khusus yang buah merah segar dan sehat (BMSS), sebagai syarat untuk mendapatkan mutu berkualitas ekspor. Jadi saya yang pertama kali melakukan itu di tingkat petani di Bondowoso," sebutnya.

Menurut dia, sebenarnya  pada pelatihan yang dikirim oleh Dinas Perkebunan dan Kehutanan Bondowoso tersebut, ada beberapa petani yang juga dikirim selain dirinya. Tetapi hanya dia yang mengaplikasikannya sendiri. Adapun proses basah adalah pengolahan pasca-panen dengan menggunakan air. Media ini digunakan untuk memisahkan biji yang bagus untuk diolah lebih lanjut dengan biji yang tidak bagus.

Cara pengerjaan ini memang terbilang repot, dan butuh ketelatenan. Oleh karena itu, ia menyebutkan, mungkin ini menjadi alasan dari petani yang juga ikut dikirim bersama dengan dia, tidak menerapkannya. Sekarang banyak yang tertarik ikut melakukan proses ini, setelah melihat harga yang didapat lumayan besar.

"Kalau sekarang ini dengan didampingi Puslit, terus ada BI, terus semuanya komponen ada. Rupanya kita jadi tahu pasarnya. Jadi lewat eksportir, kita sudah tahu harganya dan jelas pasarnya," ungkapnya.

Sekarang memang sudah dibangun kluster kopi di Bondowoso, oleh sejumlah pihak seperti Pemerintah Daerah Kabupaten Bondosowoso, Bank Indonesia, Bank Jatim, ADN Perhutani, eksportir, serta APEKI, untuk mengembangkan produk. Saat ini, ia pun mempunyai lima pekerja dalam mengolah kopi bubuknya, dan mengelola kebunnya yang seluas dua hektar.

Pada tahun 2007, produk kopi bubuk Rajawali, baik arabika dan robusta, dipasarkan ke Sumatera, termasuk Jakarta, Semarang, dan Malang. Namun, pemasaran ke kota-kota tersebut masih kecil, dengan 10-20 kilogram per bulannya. Awalnya pemasaran ke kota-kota tersebut, tidak dilakukan secara resmi.

Saat ini, ekspor produk Rajawali ini pun belum dilakukan. Ekspor masih dalam bentuk biji bersama dengan kelompok tani lainnya, yang melakukan pemasaran internasional secara perdana ke Swiss pada November nanti, sebanyak 1 kontainer atau sekitar 18 ton.

Lagipula, lanjut dia, produksi kopi ini pun masih terbatas. Sehingga memenuhi permintaan pasar masih sering kewalahan. Apalagi menjelang Hari Raya Lebaran, di mana banyak pesanan parcel diisi dengan produk kopinya. Rencana ke depan, ia berkeinginan untuk memperluas lahannya. Selain perluasan lahan, Bambang pun akan mencoba diversifikasi produk kopi, seperti buat dodol kopi, dan permen rasa kopi.

"Kalau mau mencermati nggak ada sejarahnya kopi bubuk itu harganya turun. Maka saya pun heran, kalau ada pelaku usaha kopi bubuk yang kurang menekuni usahanya,” pungkas Bambang yakin. (*/Gentur)

Wednesday, October 5, 2011

Subagio Hadiwidjojo, Menuai Untung di Bisnis Donat dan Kopi


PDF Cetak E-mail
Selasa, 04 Oktober 2011 17:10
Menjalankan sebuah bisnis, apapun jenis bisnisnya, memang memerlukan perencanaan yang sangat matang. Dengan perencanaan yang matang pula, seorang entrepreneur bisa mengolah sebuah peluang bisnis yang ada, menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Konsep itulah yang selalu dipegang oleh B. Subagio Hadiwidjojo, seorang entrepreneur yang bergerak di bidang food and beverages untuk kategori Donuts and Coffee, dengan brand Double Dipps. Kini dengan sistem waralaba yang dikembangkannya, Double Dipps telah memiliki lebih dari 100 gerai diseluruh Indonesia, hanya dalam waktu tiga tahun saja!

subagio_picJalan hidup menjadi seorang entrepreneur memang sudah menjadi cita-cita pria yang lahir di Tulung Agung, Jawa Timur, tahun 1964. Menjadi anak laki-laki pertama dikeluarganya, membuat Subagio sudah merasakan tanggung jawab yang besar untuk menghidupi keluarga, terutama dua orang adiknya. Terlebih lagi saat ia harus kehilangan sang ayah saat ia menginjak kelas dua SMP.

“Saya harus berfikir tidak untuk diri saya saja, tetapi bagaimana saya bisa menghidupi keluarga saya. Kalau saya dulu kerja ikut orang, saya mungkin bisa menghidupi diri saya sendiri. Tapi kenyataannya, saya harus menghidupi juga adik-adik saya. Jadi tekat saya bulat untuk menjadi seorang entrepreneur. Lalu setelah SMA, saya ambil S1 tehnik sipil dan bekerja sebagai seorang kontraktor,” kenang Subagio, saat menceritakan masa mudanya.

Sebagai seorang kontraktor, Subagiopun sudah terbiasa bekerja dengan konsep dan perencanaan yang matang. Pria yang mengidolakan Ir. Ciputra inipun mulai merancang mimpinya menjadi seorang wirausahawan dengan memulai bisnis kecil kecilan dibidang property. Baginya, konsep yang matang dalam berbisnis adalah kunci sukses seorang enterepreneur dalam menjalankan bisnisnya, terlepas bisnis apapun yang ia jalankan.

“Saya melihat ini suatu peluang, kalau peluangkan tidak harus sama dengan latar belakang yang kita punya. Yang penting kita punya konsep yang tepat untuk menjalankannya. Dengan konsep yang kuat, kita bisa mempekerjakan tim yang tepat, agar bisnis kita bisa berjalan baik. Itu mengapa saya awalnya terjun di bisnis donat dan kopi, yang memang jauh dari latar belakang saya sebagai seorang kontraktor,” lanjut Subagio.

Dalam menjalankan bisnisnya, Subagio pun tak lepas dari sebuah kegagalan. Baginya bisnis memang perlu melewati prosestrial and error, sebelum akhirnya mencapai kesuksesan. “Kalau bicara kegagalan, itu sudah merupakan makanan sehari-hari. Untuk sukses, kita harus terlebih dahulu melalui beberapa fase yang bisa membuat diri kita lebih dewasa. kalau diawal, karena kita ga punya modal, kita harus tunjukan kepada orang bahwa kita punya keahlian dan kejujuran. dari kejujuran itu, orang akan mulai percaya kepada kita. dari sana kita harus bina networking kita agar makin banyak relasi yang mempercayai kita untuk bekerjasama,” ujarnya.

Dalam menjalani bisnis donatnya, Subagio tergolong cukup senior, karena ia memulai bisnis ini disaat telah menginjak usia 40 tahun. Namun, hal itu tak membuatnya merasa kalah dari pebisnis lain yang usianya jauh lebih muda darinya. Justru sebaliknya, ia merasa usianya adalah usia yang tepat baginya untuk bersaing di bisnis food and beverages.

Diusianya yang telah matang dan pengalaman 20 tahun dibisnis property, ia pun sudah siap secara mental dan jam terbang, sebagai seorang enterepreneur. Baginya, pengalmanannya sebagai kontraktor telah menempa mentalnya, dan memberinya networking yang luas dikalangan pebisnis. Baginya, sebagai wirausahawan, seseorang harus bisa menjadi orang yang bisa dipercaya baik secara kemampuannya berbisnis maupun kejujurannya dalam menjalankan usaha. Hal itu nantinya akan memudahkannya untuk bisa menjalankan bisnis apapun, dan melewati kesulitan yang beragam dalam menjaga kelangsungan bisnisnya.

“Saya bangga memulai usaha di atas kepala empat, karena track record saya sudah kelihatan di luar, nama baik saya sudah cukup dipercaya. Bagi saya itu faktor kunci yang tidak bisa ditukar dengan apapun,” ungkap Subagio.

Sebagai enterepreneur yang cukup senior, pria yang juga sedang mengembangkan waralaba dibidang property inipun ingin agar bisnisnya bisa memotifasi orang lain untuk bisa terjun menjadi wirausahawan. Diapun yakin, dengan makin berkembangnya bisnis waralaba di Indonesia, akan membuka mata banyak orang tentang peluang bisnis dibidang kewirausahaan. Baginya, sebagai seorang wirausahawan, tantangan terbesar adalah bagaimana dirinya bisa menciptakan entrepreneur-enterepreneur baru. Jadi bukan hanya fokus terhadap bisnis yang digeluti saja, tapi seorangentrepreneur pun harus bisa menumbuhkan jiwa kewirausahaan lewat produk yang ia pasarkan.

Bagi Subagio, menjadi pengusaha adalah sebuah mimpi yang harus diraih. “Untuk jadi pengusaha itu kita harus punya impian. Seorang pengusaha akan sukses jika memiliki visi yang jelas dari bisnisnya. Lalu kita harus punya hasrat, itulah yang akan membuat kita semangat untuk mengejar mimpi kita. Selanjutnya, kita harus kerja keras dengan semangat yang juga tinggi. Terakhir, jangan lupa berdoa karena bagaimanapun Tuhanlah yang memberi kita jalan yang terbaik,” ujarnya, menutup perbincangan. (*/Gentur)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/11697-subagio-hadiwidjojo-menuai-untung-di-bisnis-donat-dan-kopi.html

Tuesday, September 13, 2011

Menguak Kemitraan Kedai Kopi Luwak

Inspirasi Usaha
Menguak Kemitraan Kedai Kopi Luwak
Erlangga Djumena | Selasa, 13 September 2011 | 14:46 WIB

tribun lampung

KOMPAS.com — Kopi luwak terkenal sebagai kopi paling mahal di dunia. Kopi yang sejatinya berasal dari kotoran atau feses musang (Paradoxurus hermaphroditus) yang masih berbentuk biji kopi ini disuka lantaran mempunyai tingkat keasaman yang rendah.
Pamor kopi luwak yang sudah mendunia inilah yang membuat Mifta Khur Rokhman berani menawarkan usaha Mr Luwak Coffee kepada khalayak pada Maret 2011. Mifta sendiri baru membuka usaha kopi luwaknya ini pada Desember 2010. Kini Mifta sudah punya tiga gerai milik sendiri di Gresik, Surabaya, dan Malang.
Mifta mengaku, untuk tawaran kemitraan itu, dia sudah mendapat penawaran kerja sama dari beberapa calon di Batam, Bandung, Lumajang, dan Surabaya.
Walau menyuguhkan kopi luwak asli, Mifta tidak menempatkan Luwak Coffee sebagai minuman kelas atas. "Mr Luwak Coffee menyasar semua kalangan," ujarnya.
Bahan baku kopi Mr Luwak Coffe adalah kopi jenis arabika dari kotoran musang yang ditangkarkan di kawasan perkebunan kopi di Lampung Selatan. Menurut ahli kopi, kopi luwak hasil penangkaran tergolong sebagai kopi luwak kelas dua. "Yang kelas satu adalah kopi luwak dari musang yang masih liar," tutur Mifta.
Kopi luwak hutan menjadi kopi paling mahal karena rasanya paling enak. Namun, untuk mendapatkan kopi luwak hutan jelas sangat susah. Itulah sebabnya Mifta memilih memakai kopi luwak penangkaran. "Rasanya hampir mirip dengan kopi luwak asal hutan," klaimnya.
Untuk menjadi mitra Mr Luwak Coffee, Mifta menawarkan paket investasi senilai Rp 10 juta. Investasi itu di luar sewa tempat. Dengan investasi sebesar itu, calon mitra akan mendapatkan tempat berjualan, yaitu booth, paket promosi, perlengkapan dan peralatan, serta bahan baku untuk 210 cangkir kopi.
Karena mengusung konsep kemitraan, Mr Luwak Coffee tidak membebankan royalty fee kepada mitra. Mitra hanya diwajibkan untuk membeli bahan baku kopi luwak yang dikemas dalam bentuk saset. "Jadi, tinggal diseduh. Lebih praktis dan cepat," kata Mifta, berpromosi.
Mifta menjual satu pak kopi luwak isi 25 saset seharga Rp 250.000 plus gula Rp 100 per saset isi 3 gram. Mifta juga mengharuskan mitra membeli creamer seharga Rp 15.000 per botol untuk 50-100 cangkir.
Kepada mitra, Mifta mematok harga jual Rp 15.000 per cangkir. Harga itu memang jauh lebih murah dibandingkan dengan menikmati kopi luwak di restoran atau kafe lain.
Jika konsumen ingin menambah krim, dikenakan tambahan biaya Rp 1.000 per cangkir sehingga harganya menjadi Rp 16.000. Dengan target penjualan 30 cangkir per hari, omzet mitra diperkirakan sebesar Rp 450.000 sampai Rp 500.000 per hari. Jika target tercapai, mitra balik modal setelah empat bulan.
Menurut Ketua Dewan Pengarah Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali) Amir Karamoy, bisnis kopi luwak sangat menarik, bahkan bisa bagus di pasar ekspor. Namun, harga yang sangat murah malah akan menjadi bumerang karena bisa menjadi sumber keraguan keaslian kopi luwak. "Terkadang kopi luwak sudah dicampur dengan kopi lain sehingga nikmatnya berkurang," katanya. (Handoyo/Kontan)
Sumber :
KONTAN

Thursday, September 8, 2011

INSPIRASI ASWAN NASSER

Peluang Usaha

INSPIRASI 
 
Rabu, 07 September 2011 | 16:46  oleh Dea Chadiza Syafina
INSPIRASI ASWAN NASSER
Aswan merintis usaha bermodal duit pesangon (1)
 
Menjadi korban PHK tidak selamanya membuat nasib terpuruk. Justru setelah PHK, Aswan Nasser sukses berwirausaha di bidang perlengkapan bayi bermerek La Vindhy Children & Baby Wear. Kini Aswan mampu mencatat omzet sekitar Rp 100 juta per bulan. Bahkan dia sudah ekspor produknya itu ke Afrika Selatan.

Membangun usaha dari hasil jerih payah sendiri memang tak semudah membangun usaha hasil warisan. Hal itulah yang dirasakan Aswan Nasser, pemilik merek La Vindhy Children & Baby Wear yang merintis usaha perlengkapan bayi pada tahun 2004.

Walaupun sulit, Aswan membuktikan dengan kerja keras ia bisa membangun usahanya itu. Kini, Aswan sudah memiliki tiga gerai penjualan perlengkapan bayi di Bandung, Jawa Barat. Selain itu, Aswan juga memasok perlengkapan bayi ke sejumlah toko dan department store yang ada di Bandung hingga Jakarta.

Tak puas hanya menjadi produsen kelas lokal, sejak beberapa tahun silam, Aswan merintis ekspor perlengkapan bayi merek La Vindhy Children & Baby Wear ke Afrika Selatan dan Hongkong. "Butuh waktu juga untuk bisa ekspor itu," kata Aswan.

Namun dari semua cerita sukses itu, yang membuat Aswan senang adalah dia bisa memberi kesempatan kerja pada orang lain. Lihat saja, usahanya yang kini beromzet sekitar Rp 100 juta per bulan itu, telah mampu menampung sebanyak 32 pekerja.

Aswan mengungkapkan, sebelum terjun ke dunia bisnis, dia adalah karyawan Bank Exim sejak tahun 1987. Dia bekerja di bank milik pemerintah itu selama 13 tahun lamanya. Bahkan saat bank itu merger menjadi Bank Mandiri, Aswan menyandang jabatan Asisten Wakil Direktur Bank Exim.

Karena merger itu pula, Aswan pun harus rela kehilangan pekerjaan alias terkena PHK. "Jabatan itu ternyata tidak lama, karena saya keburu di PHK," kenang Aswan.

Setelah PHK, Aswan sempat kebingungan lantaran jadi pengangguran. Walaupun ada niat ingin bekerja tetapi krisis ekonomi membuat lowongan pekerjaan di perbankan menjadi terbatas. "Saya sempat kebingungan, saya itu mau ngapain," jelas pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah itu.

Karena terdesak kebutuhan ekonomi, Aswan memutuskan untuk berdagang. Dengan modal uang pesangon, Aswan memulai jualan seprai serta bed cover.

Bersama sang istri, Aswan menjajakan seprai kepada para kolega dan teman-temannya. Walaupun labanya menggiurkan, tetapi seprai itu hanya laris pada waktu tertentu saja alias musiman. "Penjualan ramai hanya bulan puasa saja," keluh Aswan.

Setahun lamanya Aswan bertahan dengan berjualan seprai. Hingga akhirnya, ia memutuskan banting setir menjual produk lain yang lebih menguntungkan dan lebih banyak peminat, yakni berjualan pakaian dan perlengkapan bayi. "Selama masih ada bayi yang lahir, selama itu juga pakaian dan perlengkapan bayi akan dibutuhkan," ungkap Aswan.

Agar fokus untuk berjualan pakaian bayi, Aswan memboyong keluarganya tinggal di kota Bandung. Tujuannya agar bisa lebih dekat dengan produsen perlengkapan bayi yang banyak terdapat di Kota Kembang itu.

Dengan modal sebesar
Rp 75 juta, sisa pesangon yang tersisa, Aswan pun serius menggarap usaha pakaian dan perlengkapan bayi itu. Aswan menjual perlengkapan bayi dengan cara memasarkannya dari toko ke toko hingga masuk ke department store.

Setelah mendapatkan langganan, Aswan mendapat batu sandungan. Produsen tempat ia mengambil perlengkapan bayi enggan memberikan barang kepadanya. "Pasokan barang sempat terhenti," ujar Aswan.

Demi menjaga nama baik kepada pelanggan, Aswan memutuskan untuk memproduksi pakaian bayi dengan membuka konveksi sendiri. Ia membeli mesin jahit dan mencari tenaga kerja terampil yang banyak di kota Bandung. "Saya nekat memproduksi perlengkapan bayi sendiri," kata alumni Universitas Diponegoro itu.

Bak gayung bersambut, keputusan Aswan memproduksi perlengkapan bayi mendapat sambutan baik dari sang istri tercinta Sri Gamawati. Kebetulan, Sri mahir menjahit pakaian tetapi bukan pakaian bayi.

Sembari belajar menjahit pakaian bayi, Sri mengkoordinir penjahit terampil asal Bandung untuk memproduksi aneka celana, baju, kaus kaki, dan sepatu untuk bayi. "Istri saya yang memproduksi, saya yang menjual," ungkap Aswan.  

Kamis, 08 September 2011 | 14:30  oleh Dea Chadiza Syafina
INSPIRASI ASWAN NASSER
Aswan menjadi sarjana dari penjualan kopi (2)
 
Pengalaman berdagang semasa kuliah menyelamatkan Aswan Nasser dari kesulitan akibat kena PHK. Dengan pengalaman jualan kopi saat kuliah, pria 44 tahun itu merintis usaha perlengkapan bayi La Vindy Children & Baby Wear di Bandung. Namun merintis usaha memang tak mudah.

Bekerja belasan tahun di perbankan ternyata tidak menghapus jiwa entrepreneur Aswan Nasser, produsen La Vindy Children & Baby Wear, produsen pakaian dan perlengkapan bayi di Bandung, Jawa Barat.

Bakat sebagai seorang wirausahawan itu justru semakin kentara ketika Aswan harus kehilangan pekerjaan. Awalnya memang tertatih-tatih, namun Aswan akhirnya mampu membangun bisnis pakaian dan perlengkapan bayi tersebut.

Sebenarnya, Aswan memang tak buta sama sekali tentang dunia usaha. Bagaimana pun, pengalamannya sebagai bankir tentu juga bersentuhan dengan dunia usaha. Apalagi Aswan punya pengalaman sebagai penjual kopi ketika dia masih kuliah di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. "Saat kuliah, saya sudah berjualan. Jadi sudah terbiasa," kata Aswan.

Saat menimba ilmu itu, Aswan sudah nyambi dengan menjadi penjual kopi bubuk produksi orang tua sahabatnya. Ketika itu, dia hanya bermodal semangat. Namun dengan semangat itu pula, Aswan mampu berjualan kopi hingga ke Tegal, Pekalongan hingga ke Cilacap.

Bahkan, dia mengaku keasyikan berjualan sehingga sempat melupakan kuliah. "Sampai-sampai kuliah kerap bolos," kata Aswan dengan tawa mengembang. Dari laba jualan kopi itulah, Aswan mendapatkan tambahan uang saku dan juga untuk ongkos kuliahnya.

Walaupun orang tua Aswan terbilang mampu, Aswan tidak ingin merepotkan mereka. "Awalnya cuma coba-coba ternyata menguntungkan," jelas Aswan.

Nah, setelah jadi pengangguran, Aswan benar-benar mensyukuri pengalamannya berjualan kopi di masa lalu itu. Dari pengalaman itu pula, Aswan kembali tegak berdiri menyongsong masa depannya. "Pengalaman itu menjadi bekal saya sekarang ini," imbuh Aswan.

Aswan mengakui memulai usaha itu memang berat. Bisnis sebagai produsen dan pedagang aneka produk perlengkapan bayi, memang tak selalu bisa berjalan mulus. Bahkan ketika usaha sudah mulai berkembang sekalipun.

Ketika itu, Aswan mengenang, sempat kehabisan stok barang akibat produsen pakaian dan perlengkapan bayi langganannya menghentikan pasokan barang kepadanya. Karena tidak punya produk yang bisa dijual, usaha Aswan pun sempat goyah.

Namun bagi Aswan, merenungi masalah tak akan menyelesaikan persoalan. Karena itu, dia justru mengubah masalah itu menjadi peluang.

Untuk menyelesaikan masalah pasokan tersebut, Aswan memutuskan memproduksi sendiri aneka perlengkapan bayi itu. "Masalah saya jadikan peluang," tegas Aswan.

Saat merintis produksi perlengkapan bayi itu, Aswan menyewa sebuah rumah di Bandung. "Saya dan istri belajar tiga bulan agar bisa membuat perlengkapan bayi itu," terang Aswan.

Pertama kali produksi, Aswan bersama istrinya dibantu seorang karyawan. Dalam sepekan, Aswan mampu memproduksi 40 lusin pakaian bayi. "Hasil produksi itu saya pasarkan ke department store," kenang Aswan.

Setelah produksi berjalan lancar, halangan usaha ternyata belum berhenti. Aswan mengenang, ketika itu ada seorang pembeli yang gagal bayar pesanan senilai Rp 14,4 juta.

Sedikitnya ada 20 lusin tas perlengkapan bayi yang ia produksi menumpuk di rumahnya karena pembeli membatalkan pemesanan. "Hal ini membuat putaran modal saya terhenti," kata Aswan mengenang. Tak hanya itu, Aswan sempat merugi karena pesanan produk yang telah diproduksi itu ternyata tidak sesuai dengan pesanan.

Demi menjaga kepercayaan pembeli pula, Aswan pun rela merugi dengan mengganti semua pesanan yang tak sesuai dengan keinginan pelanggan itu. "Daripada hilang pelanggan, lebih baik keuntungan berkurang," ungkap Aswan.

Menurut Aswan, untuk menjadi pengusaha tangguh pantang patah arang, halangan-halangan usaha seperti yang pernah dia alami adalah sesuatu yang biasa. Ia juga yakin rintangan itu juga bisa terjadi pada pengusaha lain.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/76940/Aswan-menjadi-sarjana-dari-penjualan-kopi-2

Sunday, July 10, 2011

Himawan Hendro, Sukses dengan Kopi "Joglo"


PDF Cetak E-mail
Sabtu, 09 Juli 2011 14:12
Apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata "Joglo"? Pasti langsung mengingat rumah adat Jawa dengan bentuknya yang khas. Namun ada juga yang menyatakan jika Joglo atau Rumah Joglo mempunyai artian tempat yang membuat kita ingin terus kembali lagi.

kafe_jogloNampaknya semboyan itulah yang membuat Himawan Hendro Pratisto memasukkan kata Joglo dalam bisnis minumannya, yaitu "Joglos Coffee". Filosofi kata Joglo ingin diterapkannya, yakni ingin orang yang sudah datang mencoba minuman racikannya, bisa selalu kembali lagi, lagi, dan lagi.

Bisnis yang sudah dirintisnya sejak 2005 ini memang tidak langsung bisa berkembang seperti sekarang. Pertama kali membuka outlet, Joglos coffee yang khas bernuansa hijau ini hanya mempunyai lima macam racikan minuman. Namun, saat ini sudah terdapat 18 menu yang menjadi andalan.

Untuk range harga, tidak perlu khawatir. Minuman yang disajikan dalam Joglos Coffee memang dikhususkan untuk kawula muda dan mahasiswa dengan harga yang super miring. Sang pemilik pun berkomitmen ingin menyajikan produk dengan harga oke serta kualitas yang bagus.

"Konsep awalnya sampai sekarang memang ingin menyajikan minuman yang berasal dari kopi dengan harga murah tapi kualitas bagus," jelas Himawan seperti dikutip dari Okezone.

Awalnya dia memang sempat berpikir untuk melebarkan sayap untuk segmen kantoran. Namun, hal ini berarti dirinya harus membuat konsep maupun harga yang lebih premium. Jelas hal tersebut tidak sesuai dengan konsep awal yang mengutamakan harga murah dan kualitas oke.

Dengan omset rata-rata Rp200 ribu per hari, dan enam outlet yang dimilikinya saat ini di kawasan Gresik, Banjarmasin, Tangerang, Solo, dan Depok, dirinya pun semakin mantap dalam merintis usaha minuman bercita rasa kopi, susu, dan teh ini. Alasannya, bisnis tersebut lebih menjanjikan daripada bekerja di kantoran yang terlalu monoton.

Himawan bercerita, sempat beberapa kali mencoba berbagai bisnis setelah dirinya memutuskan untuk keluar dari rutinitas kantoran, malang melintang mencoba bisnis baru nampaknya tidak membuatnya berhenti mencoba dan terus mencoba.

"Dulu kerja kantoran. Sebelumnya pernah usaha tapi gagal. Kebetulan saya nyemplung ke bisnis ingin mengembangkan usaha, mengembangkan kreativitas," bebernya.

Semua racikan minuman yang dibuatnya memang hasil learning by doing alias belajar ala kadarnya. Baik itu dari hasil membaca di majalah, berbagai macam buku, serta hasil lihat tontonan di televisi.

Dengan usahanya yang lumayan keras tersebut, akhirnya terciptalah beberapa minuman yang khas. seperti pure cream milk, dan yang paling banyak digemari adalah Coffe LLo. "Pure cream milk rasanya seperti vanila, tidak ada kopinya. Itu paling laku saat pertama kali saya jualan," paparnya.

Sementara minuman lainnya yang tidak kalah menarik adalah cococoffee, coffelatte, cappucino, creammy coffe dan masih banyak lagi. Masalah harga, tidak perlu khawatir karena cukup dengan merogoh kocek sekira Rp5 ribu kita sudah bisa menikmati minuman serba kopi, susu, maupun teh ala Indonesia. Menurutnya, kopi tersebut merupakan pioneer dari maraknya bisnis serupa di kawasan Depok.

Setiap jenis usaha pasti mempunyai kendala. Dirinya mencontohkan, ketika musim hujan misalnya, pembeli akan sedikit berkurang akibat cuaca yang kurang pas untuk minuman dingin seperti yang disajikannya. Sementara itu, tempat atau lokasi berjualan juga menjadi salah satu kendala. Kurang luasnya lahan atau terkadang tidak jarang outlet yang dibuka harus berurusan dengan preman setempat.

Dari usaha yang sudah ditekuninya selama lima tahun tersebut, dirinya bisa mempekerjakan beberapa karyawan yang semuanya berasal dari tetangga maupun kerabat dekat.

Dirinya pun berbagi tip, untuk memulai sebuah usaha, hendaknya semua itu dimulai dari hobi. Apa yang kita suka, sebaiknya sesering mungkin mencari tahu dan menggali terus potensi tersebut. Karena menurutnya, semua hal itu harus dimulai sejak dini. seperti motto hidupnya yaitu "bisnis itu mulailah dari hobi, mulai dari diri sendiri, dari yang kecil, dan dari sekarang."

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/9588-himawan-hendro-sukses-dengan-kopi-qjogloq.html

Thursday, May 19, 2011

Suparyoto, Sang Pencetus Kopi Organik

PDF Cetak E-mail
Rabu, 18 Mei 2011 09:27
Saat sebagian pihak masih berkutat dengan upaya peningkatan produksi, Suparyoto sudah berupaya memperbaiki kualitas produksi kopi. Saat pasar dunia meributkan dampak budidaya pertanian berbahan kimia, dia telah berpikir untuk menghasilkan produk pertanian ramah lingkungan.

kopi_lampungSeluruh upaya itu terwujud dalam bentuk budidaya pertanian kopi robusta organik di Desa Gunung Terang, Kecamatan Way tenong, Lampung Barat. Kawasan berudara sejuk dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut ini berbatasan dengan kawasan hutan lindung Register 45B Bukit Rigis.

Suparyoto adalah Ketua Gabungan Kelompok Tani Hulu Hilir Desa Gunung Terang, Kecamatan Way Tenong, Lampung Barat. Maka, pada waktu-waktu tertentu ia mengadakan pertemuan dengan sejumlah pengurus kelompok tani tersebut. Misalnya, ketika mereka memutuskan menggunakan mesin pemotong rumput untuk membasmi rumput yang banyak tumbuh di bawah tanaman kopi. "Mesin itu diharapkan bisa menjadi pengganti obat kimia pembasmi rumput," ujar Suparyoto, atau Pak Par, panggilannya.

Dari Semarang, Jawa Tengah, Suparyoto datang ke Gunung Terang pada 1994, menyusul orangtuanya yang menjadi petani. Di sini ia mendapati penghidupan warga desa yang umumnya miskin. Mereka menggantungkan hidup dari hutan karena kopi hanya dipanen sekali setahun. Akibatnya, daya dukung hutan terus menurun. Dia lalu membentuk kelompok tani. "Dalam pikiran saya, kelompok tani akan memampukan petani di Gunung Terang untuk mengakses pasar dan sarana pertanian," ujar Suparyoto yang juga mengajari warga menanam pisang di antara tanaman kopi, selain menanam sayuran atau empon-empon, untuk menambah pendapatan.

Pada September 2000 terbentuk kelompok tani Tunas Enggal dan dua kelompok hutan kemasyarakatan (HKm).Kelompok HKm dibentuk untuk merespons surat keputusan Menteri Kehutanan mengenai pengelolaan hutan bersama masyarakat. Lewat HKm, warga setempat diizinkan mengelola hutan Bukit Rigis yang rusak, sekaligus untuk menyelamatkannya. Sedangkan Tunas Enggal dibentuk untuk mempermudah akses pasar dan memperkuat kelembagaan petani. "Saat itu kami mendapat pendampingan dari Watala, lembaga pendampingan masyarakat yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan," ujarnya.

Pendorong untuk beralih pada budidaya organik muncul ketika pada tahun 2003-2004 petani kesulitan mendapatkan pupuk kimia. Bersama Watala, Suparyoto mengajak warga memakai kotoran kambing dan kompos sebagai ganti pupuk kimia.

Petani yang tergabung dalam HKm dan Tunas Enggal lalu diajari membuat pupuk organik dari kotoran kambing dan dedaunan. Suparyoto menjadikan kebun kopinya sebagai contoh kebun organik. Menggunakan pupuk organik, mendorong dia membuat perbandingan sebagai evaluasi sekaligus daya tarik. Bila menggunakan pupuk kimia campuran, petani membutuhkan 1,5 ton-2 ton pupuk per tahun. Ditambah biaya tenaga kerja, petani harus mengeluarkan ongkos lebih dari Rp 5 juta per tahun. Sedangkan dengan pupuk organik, petani bisa menghemat biaya pemeliharaan kebun hingga 30 persen.

Namun, dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia yang kecil jumlahnya, petani membutuhkan setidaknya 6 ton pupuk organik per hektar per tahun. Beruntung ada bantuan kambing dari Heifer Internasional Indonesia, Watala, dan Dinas Peternakan Lampung Barat untuk memenuhi kebutuhan bahan pupuk organik. Kebun kopi yang dikelola dengan pupuk kimia bisa menghasilkan 1,5 ton biji kopi per hektar, sedangkan kebun kopi organik pada tahun pertama hanya menghasilkan 900 kilogram per hektar. "Sayangnya, petani tidak berpikir, pupuk kimia membuat tanah bergantung pada obat penyubur itu. Coba tidak dipupuk selama empat tahun berturut-turut, tanah pasti tidak produktif. sedangkan pupuk organik dapat menjaga tingkat kesuburan dan unsur hara tanah," ujarnya.

Meski begitu, Suparyoto terus memberikan pengertian kepada petani. Soal penurunan produksi hingga 60 persen dari produksi normal dengan pupuk kimia, misalnya, ia berusaha meyakinkan bahwa itu hanya produksi awal. "Ini bentuk adaptasi tanah dan tanaman. kalau pupuk kandang digunakan terus-menerus, produksi kembali normal." Perlahan usahanya menampakkan hasil. Bidang tanah yang diberi ppuk organik bertambah menjadi sekitar 8 hektar. Produksi pun meningkat sampai 1,2 ton per hektar. Suparyoto juga mengajari petani melakukan pascapanen dengan benar, misalnya dengan petik merah dan penjemuran di lantai jemur atau terpal. "Ini menjadikan cita rasa kopi lebih enak dan terjaga," ujarnya.

Dari sekitar 900 petani kopi, baru puluhan orang yang mengerjakan tanahnya dengan pupuk organik. Suparyoto berharap, seiring dengan berjalannya waktu, jumlah petani kopi organik terus bertambah. Salah satu upaya dia adalah memberikan penjelasan tentang dampak kopi organik bagi kesahatan. "Saya bilang kepada teman-teman, kopi yang dibudidayakan secara organik itu tak mengandung residu obat kimia tinggi," katanya.

Di sini, yang beruntung tak hanya petani, tetapi juga konsumen, dan dalam jangka panjang lingkungan pun tidak tercemar. Dengan pemikiran itu, Suparyoto yakin suatu hari nanti kopi organik Gunung Terang dapat memenuhi syarat perdagangan kopi internasional, yakni ramah lingkungan. "Saya ingin menjadikan Gunung Terang sebagai kawasan kopi organik. almpung adalah etalase kopi nasional, kenapa tidak ada kekhususan pada produk kopinya supaya bisa dikenal seperti kopi toraja atau kopi gayo," ujarnya.

Sayang eksportir kopi lampung umumnya masih mengandalkan peningkatan produksi, belum kualitas. Itulah salah satu sebab harga jual kopi organik sama dengan kopi yang memakai pupuk kimia. Untuk mengatasinya, Gabungan Kelompok Tani Hulu Hilir bekerja sama dengan Watala mendirikan Warung Organik sebagai upaya pemasaran sendiri. Melalui warung ini, sebanyak 5-7 ton kopi organik Gunung Terang setiap tahun diproses, dikemas, dan dipasarkan ke Bandar Lampung, Medan, sampai Bogor, Jawa Barat. Selain itu, upaya Suparyoto menghasilkan kopi organik juga dipelajari oleh petai kopi dari Bengkunat, Lampung Barat, Ulu Belu Tanggamus dan Tanjung Raja, Lampung Utara, serta Sendang Agung dan Sendang Asih, Lampung Tengah. (*/Kompas Cetak)
Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/8286-suparyoto-sang-pencetus-kopi-organik.html