Showing posts with label pionir. Show all posts
Showing posts with label pionir. Show all posts

Tuesday, September 13, 2011

Abhimantra, Reseller Berusia 13 Tahun

PDF Cetak E-mail
Senin, 12 September 2011 09:01
Masih ingat dengan Abhimantra? Ia adalah peserta tercilik dalam ajang “Speed Networking” yang digelar Indonesian Technopreneur Community dan International Design School pada 22 Juni lalu. Meski masih sangat belia, kala itu Abhimantra tak terlihat canggung sama sekali berada di tengah-tengah entrepreneur yang didominasi oleh orang dewasa. Kepercayaan diri yang ditunjukkan bocah berusia 13 tahun itu lahir berkat jiwa entrepreneur yang begitu kuat.

AbhimantraPemilik nama lengkap Abhimantra Ilham Suryomurtjito ini menyalurkan jiwa entrepreneur-nya sebagai seorang reseller toko online yang menawarkan aneka jenis produk, mulai dari jasa sampai furnitur. Debut pertama berbisnis bermula pada tanggal 7 Juni 2010 saat dirinya hendak menjual handphone bekasnya di sebuah toko online TokoBagus.com.

Feedback positif yang lantas diterimanya membangkitkan passion untuk terjun dalam dunia bisnis. Tak lama sesudah itu, tepatnya pada 23 September 2010, remaja kelahiran Jakarta, 13 April 1998 ini mulai serius menekuni usahanya dengan membuat user yang berbeda-beda di beberapa toko online. Memakai waktu luangnya, Abhimantra mencoba menciptakan peluang dengan menawarkan beragam produk yang sekiranya diminati konsumen.

Seperti penjelasannya kepada CiputraEntrepreneurship.com (CE) melalui surat elektronik, customer entrepreneur remaja yang duduk di kelas 8 ini mayoritas adalah para pecinta sepeda fixie. Karena itu, tak heran bila produk yang paling laris dijualnya yaitu sepeda yang terkenal dengan warna-warna yang cukup mencolok tersebut. Diceritakannya lebih lanjut, anak bungsu dari tiga bersaudara ini memeroleh profit sebesar 5 sampai 20 persen dari harga jual produk. Penghasilannya itu lalu disimpannya dan hanya digunakan bila dibutuhkan.

Dalam hal pemasaran, Abhimantra menggunakan media internet. Ia memasarkan produk yang dijualnya kepada teman dan para calon pelanggan dengan cara men-share-nya ke berbagai situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter serta Blog. Sementara untuk menarik pelanggan baru, bocah yang mengidolakan Ir. Ciputra serta Basrizal Koto (pengusaha asal Sumatra Barat) itu memanfaatkan mesin pencari yang beredar di jagat maya seperti Google, Yahoo, Bing, dan lainnya.

Usahanya sudah hampir memasuki usia setahun. Selama perjalanannya itu, ia mengaku tak pernah menerima komplain dari para pelanggannya. Ketika ditanya bila kelak menemui komplain langkah apa yang akan dilakukannya, pelajar SMPN 13 Jakarta ini menjawab, “Berusaha untuk menemukan pokok masalah dan menyelesaikannya. Misalkan pelanggan komplain tentang warna, segera saja diiluruskan agar tak terjadi kesalahpahaman.”

Mengenai rencana ke depannya, bocah yang bermimpi menjadi entrepreneur sukses namun tetap bersikap sederhana ini berniat menambah jumlah pelanggan sebanyak-banyaknya serta memiliki website sendiri dan jika usahanya sudah berkembang pesat, ia juga ingin membuka lapangan pekerjaan dengan menerima sejumlah karyawan.

Meski bisnis yang dijalani Abhimantra masih seumur jagung dan berkonsep sederhana tapi kemauannya untuk menjadi entrepreneur patut diacungi jempol. Melalui passion-nya yang besar, entrepreneur cilik itu sangat mampu meraih sukses seiring perjalanan usahanya. Membagi sejumlah motonya dalam berbisnis kepada CE, Abhimantra  membeberkan beberapa kiat dalam mengelola bisnis yakni memulai dengan penuh keyakinan, jeli melihat peluang dan mencari barang yang unik dengan harga terjangkau. (*/ely)

Sumber:
 http://www.ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/remaja/11053-abhimantra-reseller-berusia-13-tahun.html

Saturday, August 20, 2011

Nuraeni, perempuan pejuang di tengah nelayan miskin


Peluang Usaha

 
Jumat, 19 Agustus 2011 | 15:19  oleh Ragil Nugroho
SOCIAL ENTREPRENEUR NURAENI
Nuraeni, perempuan pejuang di tengah nelayan miskin

Tidak kuasa menyaksikan kemiskinan, membuat hati Nuraeni terketuk membantu warga. Melalui Yayasan Fatimah Az-Zahrah, sarjana ilmu politik itu mengajarkan istri para nelayan membuat produk makanan laut dari ikan hasil tangkapan suami mereka. Hingga kini, omzet istri-istri nelayan itu bisa mencapai Rp 80 juta per bulan.

Prihatin menyaksikan kondisi sosial masyarakat terkadang bisa menyentuh orang untuk berbuat kebajikan. Seperti dialami Nuraeni, perempuan asal Makassar, ini prihatin melihat kehidupan sosial nelayan yang menetap di pesisir Pantai Makassar tak jauh dari rumahnya.

Perempuan yang lahir 6 Agustus, 42 tahun lalu itu mengaku tidak bisa berdiam diri melihat kemiskinan melanda para nelayan itu. Lebih sedih lagi, ketika ia menyaksikan kaum perempuan isteri nelayan yang hidupnya terlilit utang.

Melihat kondisi itu, Nuraeni pun nekat menyingsingkan lengan baju untuk membantu warga. Meskipun ia menyandang gelar sarjana politik dari Universitas Hasanuddin, tidak membuat Nuraeni malu bergaul dengan nelayan miskin. "Ilmu saya justru terpakai untuk membantu mereka," kata Nuraeni.

Mulai 2007, Nuraeni mendirikan Yayasan Fatimah Az-Zahrah, tepatnya di kelurahan Pati Ngaloang, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Lewat yayasan itulah, Nuraeni mengajar warga memproduksi makanan laut seperti: abon ikan tuna, bandeng tanpa tulang, bandeng presto, kerupuk jintang hingga kue-kue tradisional. "Yang saya ajari adalah istri-istri nelayan," terang Nuraeni.

Hingga kini, ada sekitar 20 istri nelayan yang berkreasi di bawah binaan yayasan. Produk mereka sudah merambah hingga ke Timika, Palu, bahkan sampai Jakarta. "Sebulan warga mampu meraih omzet hingga Rp 80 juta," kata Nuraeni yang menetap tak jauh dari kampung nelayan itu.

Dengan omzet puluhan juta itulah, sebagian keluarga nelayan berangsur bebas dari lilitan utang para punggawa atau akrab disebut dengan tengkulak. Para istri nelayan itu juga bisa membantu suami mereka mencari nafkah untuk keluarga.

Sebelum ada yayasan, banyak keluarga nelayan terlilit utang kepada tengkulak. Mereka terpaksa meminjam uang kepada tengkulak dengan bunga mencekik leher karena tak ada pilihan lain. Itulah yang membuat Nuraeni kesulitan berhadapan dengan mereka. Agar tidak berhadapan langsung dengan para tengkulak itu, Nuraeni hanya mau memberdayakan istri nelayan saja.

Tidak mudah bagi Nuraeni mengandeng istri nelayan itu. Ia mesti melakukan penyuluhan terlebih dahulu. Hingga kemudian, satu per satu istri nelayan itu sadar dan ingin terlepas dari jeratan kemiskinan.

Setelah itu, Nuraeni mengajak mereka mengolah hasil melaut suami merek. "Saya ajarkan mengolah hasil tangkapan menjadi barang yang lebih bernilai," ujar Nuraeni.

Selain mengembangkan ekonomi warga, Nuraeni juga mengajak istri nelayan untuk peduli dengan lingkungan mereka. "Warga juga menyisihkan dana untuk membiayai warga yang sudah lanjut usia," perinci Nuraeni yang juga menjabat sebagai Ketua RT itu.

Dalam hal produksi, mereka tidak mengalami kesulitan bahan baku. Sebab, hampir 60% warga di Kelurahan Pati Ngaloang itu berprofesi sebagai nelayan. Setiap tangkapan laut, bisa mereka olah kemudian dipasarkan lewat bantuan yayasan.

Saat ini, setiap bulan istri para nelayan itu bisa memproduksi 800 kilogram (kg) abon ikan tuna dan 1.600 ikan bandeng tanpa tulang. Sekarang tinggal menghitung berapa omzet istri para nelayan itu kalau harga abon ikan tuna Rp 100.000 per kg, sedangkan ikan bandeng tanpa tulang dijual Rp 15.000 per ekor.

Seiring dengan larisnya produk olahan ikan, para istri nelayan itu pun berinisiatif membuat koperasi, tempat mereka bisa menyimpan dan meminjam uang.

Setelah koperasi berdiri, warga mulai meninggalkan tengkulak dan beralih menyimpan dan meminjam uang lewat koperasi. "Sekarang saja ada 200 warga lagi yang ingin mendaftar jadi anggota baru," tutur Nuraeni.

Agar usaha warga kian berkembang, Nuraeni mengajak mereka ikut pameran, baik pameran makanan, usaha kecil hingga usaha kreatif. "Aturannya ikut pameran secara bergiliran," imbuh Nuraeni.

Nuraeni bilang, saat ini para istri nelayan itu tidak lagi diam di rumah menikmati melihat kemiskinan. Kini mereka sudah giat dan dengan gagah berani melawan kemiskinan.

Keprihatinan dalam hidup memang sudah menjadi bagian dalam diri Nuraeni. Sebab, ia sudah hidup sendiri sejak tujuh tahun lalu setelah suaminya meninggal dunia. Sejak itu, Nuraeni berjuang sendiri menafkahi tiga putranya termasuk membimbing warga supaya mandiri.

Meskipun sarjana, Nuraeni tidak berkecil hati berdampingan nelayan. Ia bahkan bangga menyimpan ijazahnya di lemari dan menerapkan ilmunya langsung ke masyarakat. "Pemberdayaan warga itu juga bagian dari ilmu politik," katanya.

Selain 20 orang istri nelayan yang aktif bersama yayasan, Nuraeni juga mengajak 200 warga dalam hal distribusi makanan laut hasil produksi istri nelayan itu.

Dalam usahanya untuk kemandirian ekonomi warga itu, Nuraeni sempat risau dengan ulah tengkulak yang tidak senang dengan kehadiran dia. Beruntung, tengkulak tidak memiliki alasan kuat melawan Nuraeni. "Hidup itu risiko, kalau tidak dilalui kapan lagi warga bisa mengubah hidup mereka?" tegas Nuraeni.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/75779/Nuraeni-perempuan-pejuang-di-tengah-nelayan-miskin

Sunday, August 14, 2011

Bagaimana Menjual Seperti Steve Jobs

Bagaimana Menjual Seperti Steve Jobs Cetak
steve-jobsBagaimana menjual seperti seorang Steve Jobs? Sebetulnya sederhana saja. Tidak ada trik-trik yang pelik dan membuat kening berkerut.

Lalu apa saja komposisi yang dibutuhkan dalam sebuah penawaran yang tidak bisa ditolak? Untuk bisa mengubah pembaca situs/ blog Anda menjadi pembeli produk/ jasa Anda, Anda harus bisa menyediakan:
  1. Benefit/ manfaat yang relevan, realistis tetapi menakjubkan
  2. Alasan mengapa mereka akan merekomendasikannya ke orang lain


Jika Anda bisa memberikan prospek Anda alasan mengapa mereka membutuhkan/ menginginkan/ mengharapkan utnuk memiliki produk Anda, sebuah percakapan “penjualan” yang hangat dan krusial akan tercipta dengan alami.

Banyak orang gagal menjual karena hanya mencakup sebagian dari formula tersebut. Amatilah bagaimana piawainya Steve Jobs meramu semuanya, satu persatu produknya terjual laris manis.

Mungkin Anda tidak terpikir untuk memiliki iPad tetapi saat Anda melihat seseorang memakainya. Hei, ia terlihat keren! Logika Anda bisa saja menyangkal dengan berbagai alasan yang realistis seperti harus menabung untuk masa depan, ekonomi yang sulit, bisnis yang masih belum profitable, atau semata takut dengan omelan pasangan Anda yang khawatir cicilan rumah terpakai untuk membeli perangkat ini.

Mungkin kebanggaan menjadi pemilik iPad terdengar terlalu mengada-ada. Anda mengurungkan niat. Namun, bukan Steve Jobs jika ia berhenti begitu saja.

Rahasianya? Dengan memberikan detil spesifik yang realistis mengenai produk. Dengan kata lain, ia menggunakan produk sebagai iklan itu sendiri. Pengunjung situs Apple tidak akan dibanjiri kata-kata indah yang persuasif nan ‘memaksa’ tetapi hanya sederet kalimat-kalimat yang menampilkan fakta produk bersangkutan.

Dalam hal ini, ada dua hal yang patut diperhatikan. Pertama, sisi emosional manusia. Aspek ini sudah bukan barang baru lagi, tetapi memang begitulah adanya. Membeli adalah sebuah proses emosional. Membeli seperti proses menggadaikan uang (yang notabene adalah hasil pengorbanan waktu dan tenaga kita) dengan sebuah produk. Saat penjual berhasil mengetuk emosi seorang calon pembeli, ia berpeluang lebih besar untuk menuntaskan proses menjadi satu pembelian yang sukses.

Laman penjualan di situs Apple menggunakan sejumlah strategi untuk ‘memprovokasi’ reaksi emosional dalam diri pembaca, termasuk membuat mereka seolah merasakan memiliki produk, keistimewaan menjadi anggota ‘eksklusif’ dalam suatu komunitas/ kelompok pemilik produk, dan membuat orang lebih penasaran dengan produk tersebut.

Hal kedua ialah kekuatan untuk meyakinkan. Setelah merebut hati calon pembeli, kini tugas lain menghadang, yaitu bagaimana memberikan sisi yang lebih bijak dan mungkin bagi pihak lain di sekitar diri calon pembeli itu.

Tidak seorang pun ingin membuat kesalahan dan tentu calon pembeli ingin memastikan bahwa mereka tidak membuat keputusan yang salah. Tugas penjual yang andal ialah mengatakan apa yang membuat produk berbeda dari yang lainnya, berikan detil/ karakteristik fisik, dan buat calon pembeli penasaran dengan istilah-istilah ‘canggih’ yang belum sepenuhnya mereka pahami.

Emosi yang ditimbulkan dalam diri calon pembeli sering menjadi alasan utama bagi mereka untuk membeli. Namun dibutuhkan deskripsi teknis, karakteristik fisik dan deskripsi rasional lainnya untuk membuat mereka benar-benar membeli produk.

Adalah sifat manusia untuk menekan emosi dan menonjolkan sisi praktis saat membenarkan pembelian bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Hal ini ialah prinsip psikologis yang kuat yang di banyak kasus tidak bisa disebut sebagai kebohongan.
sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/component/content/article/92-how-to/9670-bagaimana-menjual-seperti-steve-jobs.html

Thursday, May 19, 2011

Suparyoto, Sang Pencetus Kopi Organik

PDF Cetak E-mail
Rabu, 18 Mei 2011 09:27
Saat sebagian pihak masih berkutat dengan upaya peningkatan produksi, Suparyoto sudah berupaya memperbaiki kualitas produksi kopi. Saat pasar dunia meributkan dampak budidaya pertanian berbahan kimia, dia telah berpikir untuk menghasilkan produk pertanian ramah lingkungan.

kopi_lampungSeluruh upaya itu terwujud dalam bentuk budidaya pertanian kopi robusta organik di Desa Gunung Terang, Kecamatan Way tenong, Lampung Barat. Kawasan berudara sejuk dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut ini berbatasan dengan kawasan hutan lindung Register 45B Bukit Rigis.

Suparyoto adalah Ketua Gabungan Kelompok Tani Hulu Hilir Desa Gunung Terang, Kecamatan Way Tenong, Lampung Barat. Maka, pada waktu-waktu tertentu ia mengadakan pertemuan dengan sejumlah pengurus kelompok tani tersebut. Misalnya, ketika mereka memutuskan menggunakan mesin pemotong rumput untuk membasmi rumput yang banyak tumbuh di bawah tanaman kopi. "Mesin itu diharapkan bisa menjadi pengganti obat kimia pembasmi rumput," ujar Suparyoto, atau Pak Par, panggilannya.

Dari Semarang, Jawa Tengah, Suparyoto datang ke Gunung Terang pada 1994, menyusul orangtuanya yang menjadi petani. Di sini ia mendapati penghidupan warga desa yang umumnya miskin. Mereka menggantungkan hidup dari hutan karena kopi hanya dipanen sekali setahun. Akibatnya, daya dukung hutan terus menurun. Dia lalu membentuk kelompok tani. "Dalam pikiran saya, kelompok tani akan memampukan petani di Gunung Terang untuk mengakses pasar dan sarana pertanian," ujar Suparyoto yang juga mengajari warga menanam pisang di antara tanaman kopi, selain menanam sayuran atau empon-empon, untuk menambah pendapatan.

Pada September 2000 terbentuk kelompok tani Tunas Enggal dan dua kelompok hutan kemasyarakatan (HKm).Kelompok HKm dibentuk untuk merespons surat keputusan Menteri Kehutanan mengenai pengelolaan hutan bersama masyarakat. Lewat HKm, warga setempat diizinkan mengelola hutan Bukit Rigis yang rusak, sekaligus untuk menyelamatkannya. Sedangkan Tunas Enggal dibentuk untuk mempermudah akses pasar dan memperkuat kelembagaan petani. "Saat itu kami mendapat pendampingan dari Watala, lembaga pendampingan masyarakat yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan," ujarnya.

Pendorong untuk beralih pada budidaya organik muncul ketika pada tahun 2003-2004 petani kesulitan mendapatkan pupuk kimia. Bersama Watala, Suparyoto mengajak warga memakai kotoran kambing dan kompos sebagai ganti pupuk kimia.

Petani yang tergabung dalam HKm dan Tunas Enggal lalu diajari membuat pupuk organik dari kotoran kambing dan dedaunan. Suparyoto menjadikan kebun kopinya sebagai contoh kebun organik. Menggunakan pupuk organik, mendorong dia membuat perbandingan sebagai evaluasi sekaligus daya tarik. Bila menggunakan pupuk kimia campuran, petani membutuhkan 1,5 ton-2 ton pupuk per tahun. Ditambah biaya tenaga kerja, petani harus mengeluarkan ongkos lebih dari Rp 5 juta per tahun. Sedangkan dengan pupuk organik, petani bisa menghemat biaya pemeliharaan kebun hingga 30 persen.

Namun, dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia yang kecil jumlahnya, petani membutuhkan setidaknya 6 ton pupuk organik per hektar per tahun. Beruntung ada bantuan kambing dari Heifer Internasional Indonesia, Watala, dan Dinas Peternakan Lampung Barat untuk memenuhi kebutuhan bahan pupuk organik. Kebun kopi yang dikelola dengan pupuk kimia bisa menghasilkan 1,5 ton biji kopi per hektar, sedangkan kebun kopi organik pada tahun pertama hanya menghasilkan 900 kilogram per hektar. "Sayangnya, petani tidak berpikir, pupuk kimia membuat tanah bergantung pada obat penyubur itu. Coba tidak dipupuk selama empat tahun berturut-turut, tanah pasti tidak produktif. sedangkan pupuk organik dapat menjaga tingkat kesuburan dan unsur hara tanah," ujarnya.

Meski begitu, Suparyoto terus memberikan pengertian kepada petani. Soal penurunan produksi hingga 60 persen dari produksi normal dengan pupuk kimia, misalnya, ia berusaha meyakinkan bahwa itu hanya produksi awal. "Ini bentuk adaptasi tanah dan tanaman. kalau pupuk kandang digunakan terus-menerus, produksi kembali normal." Perlahan usahanya menampakkan hasil. Bidang tanah yang diberi ppuk organik bertambah menjadi sekitar 8 hektar. Produksi pun meningkat sampai 1,2 ton per hektar. Suparyoto juga mengajari petani melakukan pascapanen dengan benar, misalnya dengan petik merah dan penjemuran di lantai jemur atau terpal. "Ini menjadikan cita rasa kopi lebih enak dan terjaga," ujarnya.

Dari sekitar 900 petani kopi, baru puluhan orang yang mengerjakan tanahnya dengan pupuk organik. Suparyoto berharap, seiring dengan berjalannya waktu, jumlah petani kopi organik terus bertambah. Salah satu upaya dia adalah memberikan penjelasan tentang dampak kopi organik bagi kesahatan. "Saya bilang kepada teman-teman, kopi yang dibudidayakan secara organik itu tak mengandung residu obat kimia tinggi," katanya.

Di sini, yang beruntung tak hanya petani, tetapi juga konsumen, dan dalam jangka panjang lingkungan pun tidak tercemar. Dengan pemikiran itu, Suparyoto yakin suatu hari nanti kopi organik Gunung Terang dapat memenuhi syarat perdagangan kopi internasional, yakni ramah lingkungan. "Saya ingin menjadikan Gunung Terang sebagai kawasan kopi organik. almpung adalah etalase kopi nasional, kenapa tidak ada kekhususan pada produk kopinya supaya bisa dikenal seperti kopi toraja atau kopi gayo," ujarnya.

Sayang eksportir kopi lampung umumnya masih mengandalkan peningkatan produksi, belum kualitas. Itulah salah satu sebab harga jual kopi organik sama dengan kopi yang memakai pupuk kimia. Untuk mengatasinya, Gabungan Kelompok Tani Hulu Hilir bekerja sama dengan Watala mendirikan Warung Organik sebagai upaya pemasaran sendiri. Melalui warung ini, sebanyak 5-7 ton kopi organik Gunung Terang setiap tahun diproses, dikemas, dan dipasarkan ke Bandar Lampung, Medan, sampai Bogor, Jawa Barat. Selain itu, upaya Suparyoto menghasilkan kopi organik juga dipelajari oleh petai kopi dari Bengkunat, Lampung Barat, Ulu Belu Tanggamus dan Tanjung Raja, Lampung Utara, serta Sendang Agung dan Sendang Asih, Lampung Tengah. (*/Kompas Cetak)
Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/8286-suparyoto-sang-pencetus-kopi-organik.html