Profil CEO
Luki Wanandi: Berbisnis Itu Berkreasi
Penulis : Abun Sanda | Senin, 10 September 2012 | 08:08 WIB
Kompas/Abun Sanda
Luki Wanandi
Oleh
Abun Sanda
Pada
tahun 1999, usahawan Sofjan Wanandi merasa sudah cukup lama berkiprah
sebagai pebisnis. Sofjan, yang ketika itu berusia 58 tahun, ingin aktif
di organisasi amal dan bisnis, sambil mengawal anak-anaknya menjadi
pimpinan puncak grup usaha. Ia pun memanggil Luki Wanandi, salah seorang
anaknya, untuk menjadi chief executive officer grup Santini dan Pakarti
Yoga.
Luki yang saat itu berusia 29 tahun terkejut oleh keputusan
ayahnya. Ia tidak menyangka ayahnya akan secepat itu mengalihkan grup
usaha yang dibangunnya puluhan tahun kepada anak-anaknya.
Akan
tetapi, Luki, yang pernah bekerja tiga tahun di luar negeri dan
bertahun-tahun digembleng ayah-ibunya di perusahaan, menerima dengan
penuh tanggung jawab. Kakaknya, Wandi Lestarto, juga mendapat tanggung
jawab menjadi CEO untuk sejumlah usaha.
Berikut petikan wawancara
dengan Luki di Vin Plus, Jakarta, Sabtu (8/9). Derai tawa penuh ria acap
terdengar mengiringi wawancara dengan lulusan Nanyang Technological
University ini.
Enak dong jadi anak seorang usahawan besar. Tahu-tahu menjadi CEO.
Eit,
nanti dulu. Ayah saya tidak gampangan memberi tanggung jawab kepada
anak-anaknya. Saya disuruh kerja dulu di luar negeri selama tiga tahun.
Memulai segalanya dari bawah. Sesudah itu, bekerja di perusahaan ayah
mulai dari bawah. Dipandang bisa kerja, diberi jabatan asisten manajer,
lalu manajer, terus naik menjadi asisten direktur, direktur, lalu CEO.
Kalau berbuat salah, ya, dihardik juga.
Mengapa peralihan generasi itu terkesan cepat sekali?
Saya
juga berpikir seperti itu. Namun, seiring dengan berjalannya waktu,
saya menyadari bahwa ayah bermaksud mengawal kami. Saya dan kakak
diminta menjadi CEO agar beliau bisa membantu dari belakang, meluruskan
kami kalau kami berjalan tidak lurus. Memberi tahu kami kalau kebijakan
kami menyimpang. Ayah ingin kami belajar memikul tanggung jawab besar.
Anda merasa berhasil memikul tanggung jawab itu?
Susah
menilai diri sendiri. Namun, karena ayah tidak pernah menegur saya
dengan keras, perusahaan berjalan sangat baik, bahkan makin berkembang,
saya merasa tidak mengecewakan ayah.
Perusahaan yang langsung di
bawah kendali saya cukup banyak, di antaranya perusahaan produsen
komponen otomotif, penyedia komponen industri, pertambangan dan jasa,
media cetak, perhotelan, dan kebun anggrek. Kami juga menjalankan bisnis
aki (Yuasa), Aica Aibon, baja cor, membuat silinder, dan asuransi
Wahana Tata.
Saya lega, selama menjadi CEO, perusahaan berkembang
baik. Hotel misalnya, menjadi empat. Ada konsesi pertambangan, kafe, dan
produksi sepeda motor merek Minerva. Tidak hebat banget penjualan
sepeda motor itu, tetapi, ya, sebulan terjual lebih kurang 3.000 unit,
berarti memang ada pasarnya. Minerva menggunakan teknologi Jerman,
tampilan motor sport, 250 cc, harga lima belas jutaan rupiah.
Ada kesan grup usaha Anda jauh dari publisitas. Mengapa demikian?
Ayah
pesan demikian. Bagi ayah, kami bekerja saja sebaik-baiknya, dengan
fokus penuh. Kalau baik, pasti akan kelihatan, demikian sebaliknya. Ayah
hampir tidak pernah memuji. Kalau pekerjaan kami baik, ia diam saja.
sebab, bagi dia, berprestasi sudah lumrah. Sebaliknya, kalau keliru,
pasti ditegur.
Ini persis ketika kami bersekolah. Kalau rapor kami
sangat bagus, ayah cuma memberi seulas senyum. Tak ada kata-kata
pujian. Suatu ketika, ibu kami bertanya, mengapa, sih, ayah pelit
memuji. Ayah menjawab enteng, bersekolah memang untuk menjadi anak
pintar dan berakhlak baik. Terus di mana istimewanya? Iya, benar juga,
sih. Kami saja yang aneh, kok, berharap pujian.
Apa yang Anda pelajari dari ayah?
Banyak
hal, terutama disiplin, nyali, setia kawan, cara bersikap, dan
sebagainya. Dari ibu, saya pelajari ketenangan menghadapi masalah,
loyalitas, dan kasih sayang kepada sesama. Ayah dan ibu adalah paduan
yang penuh harmoni. Saya belajar bagaimana ayah menjalankan perusahaan
sehingga jarang ada karyawan pindah kerja. Karyawan grup kami umumnya
bekerja sampai tua.
Ada garis kebijakan yang tegas?
Kami,
misalnya, mengembangkan bisnis-bisnis jangka panjang, bukan bisnis
mengail sekali lalu pergi. Kami selalu memandang jauh ke depan, menyusun
tim kerja yang solid, cerdas, dan harmonis. Dengan gaya bisnis seperti
ini, kami jelas menghendaki suatu bisnis yang memiliki masa depan dan
daya tahan yang amat kuat.
Saya, juga kakak saya, sebagai generasi
kedua, sangat menyadari bahwa kami meneruskan sebuah bisnis berskala
besar. Tugas kami mengokohkan landasan, mengembangkan bisnis itu menjadi
sangat berkembang. Lalu generasi berikutnya mengembangkannya lebih maju
lagi.
Ayah Anda amat keras dan disiplin. Bagaimana sikap kepada anak-istri?
Tentu
berbeda sebab zaman juga berbeda. Saya juga menegakkan disiplin, tetapi
dengan langgam berbeda, sesuai era sekarang. Empat anak saya, Lexi,
Lea, Lesta, Lizzy, tidak bandel seperti saya dan Wandi dulu. Ini
terutama karena istri saya, Lala, hebat mengatur rumah tangga. Saya
tidak mampu sebaik dia. Tanpa istri, saya pasti kedodoran. Lala, seorang
produser film, bisa care kepada anak, jago masak, pandai mengurus
rumah, dan cerdas ngajarin anak. Saya pasti tidak sanggup. Kalau,
misalnya, ada yang tanya bagaimana kalau ganti posisi, Lala yang bekerja
seperti saya dan saya yang mengurus rumah tangga, saya pasti menyatakan
tidak mampu.
Ini juga yang membuat saya selalu rindu rumah. Semua
keletihan akibat bekerja seketika lesap begitu saya masuk rumah. Sorot
mata anak-anak dan istri selalu penuh ria dan cinta. Persis mata ayah
dan ibu saya. Rasanya saya merasa sangat beruntung diberi begitu banyak
rahmat oleh Allah. Saya hendak bergegas pulang ke rumah. Istri saya,
Lala, sudah siap mencukur rambut saya yang terlihat mulai panjang.
Editor :
Nasru Alam Aziz
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/09/10/08085335/Luki.Wanandi.Berbisnis.Itu.Berkreasi