Showing posts with label profil. Show all posts
Showing posts with label profil. Show all posts

Monday, November 12, 2012

Ini Tips Menjadi Pengusaha Sukses dari Salah Satu Orang Terkaya RI


Ramdhania El Hida - detikfinance
Senin, 12/11/2012 13:15 WIB
Jakarta - Pengusaha Chairul Tanjung menyebutkan satu kunci kesuksesan yang menjadi acuan bisnisnya. Kunci sukses tersebut adalah membeli masa depan dengan harga sekarang. Maksudnya, seorang pengusaha harus bisa membaca tren masa depan.

Demikian disampaikan Chairul dalam acara Global Enterpreneurship Week di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (12/11/2012).

"Setelah lebih 20 tahun jadi pengusaha, saya bisa memberi tahu satu hal untuk sukses. Anda akan sukses kalau anda bisa beli masa depan dengan harga sekarang. Caranya harus mengetahui tren apa yang akan terjadi, kalau mengetahui tren dan membelinya sekarang maka akan sukses," ujar Bos CT Corp ini.

Chairul mengambil contoh, Tirto Utomo, pemilik merek air mineral Aqua.

"Tahun 70-an, air minum tidak diperjualbelikan. Tirto Utomo, percaya air akan diperjualbelikan, dia jual air lebih mahal dari bensin. Hari itu orang pikir dia orang gila. Sekarang, mau beli air mineral di warung saja bilangnya Aqua, walaupun yang dikasih merek lain," ceritanya.

Untuk itu, pengusaha yang masuk jajaran orang terkaya di Indonesia versi Forbes ini mengatakan dengan melihat perkembangan ekonomi di mana pendapatan per kapita masyarakat akan mencapai US$ 10 ribu, gaya hidup masyarakat akan berubah. Para wirausaha harus mampu memperkirakan perubahan gaya hidup ini untuk menentukan bisnis yang akan dijalani.

"Jadi nanti jangan jual beras, nanti orang makin kaya, konsumsi beras kurang, karena takut makin gemuk, makin cepet mati, takut dia, tapi jual daging karena konsumsinya nanti akan meningkat," tandasnya.




(nia/dru)
http://finance.detik.com/read/2012/11/12/131050/2089214/4/ini-tips-menjadi-pengusaha-sukses-dari-salah-satu-orang-terkaya-ri

Empat Tips Kelola Bisnis Pemula ala Ciputra


Penulis : Didik Purwanto | Senin, 12 November 2012 | 14:11 WIB

Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS Ciputra

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengusaha kawakan Ciputra memberikan tips mengelola bisnis, khususnya untuk pebisnis pemula. Seperti apa?
"Saya ini memang lahir sebagai pengusaha dulu, baru profesional. Saya sekarang jadi sadar bahwa bisnis itu perlu dikelola agar bisa semakin maju," kata Ciputra saat memberikan tips bisnis di Global Entrepreneurship Week di Gedung Bank Indonesia (BI) Jakarta, Senin (12/11/2012).
Menurut Ciputra, mengelola bisnis itu tidak ada kata baku bahwa pengusaha ini harus bertindak seperti ini dan seperti itu. Yang lebih penting adalah bagaimana mengelola setiap hambatan bisnis menjadi sebuah peluang bisnis di masa depan.
Ciputra memberikan tipsnya dalam berbisnis. Pertama, barang atau jasa yang ditawarkan itu tidak harus baru, tetapi yang lebih penting lagi adalah unik. Dengan keunikan ini, orang akan melihat apa yang kita tawarkan dan orang akan tertarik untuk membeli.
Kedua, menciptakan merek (brand) sendiri. Buatlah merek yang khas dan gampang diingat oleh konsumen. Dengan merek yang gampang diingat, pembeli juga akan gampang mengingatnya dan selalu ingin untuk membelinya. "Tapi merek ini bisa diciptakan dari sebuah produk yang dibuat oleh orang lain. Misalnya kita sudah membeli kaus dari orang lain, lalu mereknya dibuat oleh kita sendiri. Itu tidak apa-apa," katanya.
Ketiga, pasarkan secara online. Sekarang ini sudah marak berbisnis via dunia maya. Dengan cara ini, produk atau jasa bisa langsung tersebar ke pelosok. Keempat, tinggalkan cara bisnis konvensional. Pakailah agen. Di sini bisa saja barang atau jasa itu dijual melalui agen-agen penjualan. Ini akan lebih mempercepat penjualan bisnis.
Lebih dahsyat lagi, kata Ciputra, bila bisnis yang kita kelola bisa diciptakan model bisnis secara waralaba (franchise).
 
Editor :
Erlangga Djumena
 
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/11/12/1411509/Empat.Tips.Kelola.Bisnis.Pemula.Ala.Ciputra

Tuesday, September 18, 2012

Rahasia Pengelolaan Kekayaan Barack Obama


Metta Pranata - detikfinance
Senin, 17/09/2012 07:59 WIB
 

img
Jakarta - Cukup mudah melacak dan membuat daftar sumber harta kekayaan Presiden Amerika Serikat, termasuk Barack Obama. Pertama, Obama telah menerbitkan salinan formulir pajak penghasilannya, jadi kita bisa membuat perhitungan kasar berapa penghasilan yang didapat Presiden AS ini.

Kekayaan Obama juga didapat dari strategi investasi yang dinilai jauh lebih koheren dibanding Paul Ryan, calon Wakil Presiden dari Partai Republik yang menjadi lawannya dalam pemilu nanti. Sumber harta kekayaan Ryan berasal dari sumber daya alam, tanah, saham yang semuanya diinvestasikan pada mutual funds dan kemitraan terbatas.

Sementara sumber kekayaan Obama lebih sedikit. Dia menginvestasikan dan menyimpannya dengan cara yang cukup mengejutkan, dan sekaligus mudah dilacak. Informasi mengenai laporan keuangan pribadi dan formulir pajak penghasilan Obama bisa diperoleh dari Center for Responsive Politics.

Berikut ini, akan diungkap kisah perjalanan keuangan seorang Barack Obama mulai dari kelas menengah hingga menjadi jutawan, seperti dilansir dari Daily Finance (17/9/2012):
 

1. Awal-awal karir

img
Saat Obama masih jadi senator Illinois, sang istri Michelle juga bekerja. Dalam pernyataan finansial 2004, Obama mengindikasikan mempunyai tiga sumber penghasilan. Salah satunya adalah gaji dari Senat Illionis sebesar US$ 80.287.
Sumber penghasilan kedua, gaji sebesar US$ 32.144 dari University of Chicago Law School, tempat Obama mengajar selama masih menjadi Senat. Sementara penghasilan ketiga berasal dari gaji Michelle yang bekerja sebagai administrator di University of Chicago Hospitals.

2. 'Dreams from My Father'

img
Obama menyimpan uang yang dia peroleh dari penjualan buku 'Dreams from My Father' pada 1995 dan serta dari karirnya di bidang hukum. Pertama, di Illinois State Senate Pension Fund disebutkan investasi Obama bernilai sekitar US$ 50.000-US$ 100.000.
Sisanya dialokasikan di perusahaan manajemen investasi, Vanguard. Obama berinvestasi di Vanguard Wellington Fund yang menurut nilai ditaksir sekitar US$ 100.000-US$ 200.000. Wellington Fund merupakan mutual fund yang portofolio investasinya terdiri dari 60%-70% saham dan 30%-40% obligasi.
Pasangan Obama dan Michelle juga punya berinvestasi sekitar US$ 50.000-US$ 100.000 di Vanguard Wellesley Fund. Portofolio investasi di perusahaan ini lebih condong ke obligasi sebanyak 75% dan sisanya saham.

3. 'The Audacity of Hope'

img
Dalam kongres tahun 2004 untuk sebagai kandidat senator, Obama membuat pidato bertema 'The Audacity of Hope' yang membuat popularitas Obama melejit beberapa tahun sebelum kampanye presidennya.
Obama pun menandatangani beberapa kontrak buku dengan Random House. Inilah yang memberinya berpundi-pundi uang. Obama meluncurkan dua buku non-fiksi dan satu buku anak. Salah satu buku non-fiksi tersebut merupakan versi sambungan dari pidatonya 'The Audacity of Hope'.
Setelah Januari 2005, Obama menerima pembayaran US$ 1,9 juta dari 'The Audacity of Hope'. Kontrak buku tersebut menyebutkan,  Obama akan mendapat 15% dari harga jual versi hardcover, 7% dari harga jual versi trade paperback, 8% dari harga jual 150.000 edisi pertama versi paperback yang dijual di pasaran, dan 10% dari harga jual cetakan berikutnya.
Obama juga mendapat 10% dari penjualan audio book. Random House juga menerbitkan ulang buku Obama terbitan 1995 berjudul 'Dreams of My Father' yang memberinya tambahan 'uang jajan'.

 

4. Kawan Politik 'Putus-Nyambung', JPMorgan Chase

img
Begitu dapat uang, Obama tidak mengendapkan uangnya begitu saja, tapi langsung diinvestasikan. Obama punya rekening Private Client Asset Management JPMorgan Chase bernilai ratusan ribu dolar AS. Rekening gironya di Northern Trust juga bernilai sekitar US$ 250.000-US$ 500.000. Obama juga mempunyai rekening di UBS.
Selain itu juag disebutkan, Royalti dari Dystel & Goderich, agen literatur untuk 'Dreams from My Father', memberi Obama US$ 378.237. Sementara Random House memberinya US$ 847.167. Hingga saat ini, kekayaan Obama bernilai sekitar US$ 1,1 juta-US$ 2,5 juta.

5. Menginvestasikan royalti

img
Selama dua tahun sebelum mencalonkan diri sebagai presiden, Obama mengendapkan harta kekayaannya. Pada 2006, dia mendapat US$ 147.490 untuk 'Dreams from My Father' dan US$ 425.000 dari Random House untuk 'The Audacity of Hope'. DI 2007, ketika Obama berhasil jadi Presiden, penjualan bukunya pun melesat. Dia mendapat tambahan US$ 815.971 untuk 'Dreams from My Father' dan US$ 3,28 juta untuk 'The Audacity of Hope'.
Uang ini dipecah-pecahnya ke dalam berbagai produk finansial. Obama membeli U.S. Treasury Notes (surat berharga pemerintah AS) bernilai sekitar US$ 500.000-US$ 1 juta. Dia memindahkan uang dari dua rekening Vanguard Wellington Mutual Funds ke Vanguard FTSE Social Index Fund yang investasinya berdasarkan kriteria sosial, hak asasi manusia, dan lingkungan.

6. Berinvestasi di Keluarga

img
Di 2007, Obama membeli dua produk investasi pendidikan berbasis usia dari Bright Directions. Satu untuk Sasha, satu lagi untuk Malia (dua anaknya). Hasil investasi produk ini akan membiayai pendidikan kuliah kedua putrinya. Tidak diketahui jenis portofolio apa yang dia pilih. Apakah itu balanced, growth, atau aggressive. Tapi dipastikan, nilai investasi kedua produk itu berkisar US$ 50.000-US$ 100.000. Di 2010, kedua portofolio itu sudah bernilai masing-masing US$ 100.000-US$ 200.000.

7. Terus Menabung di Produk Yang Dipercaya

img
Di 2007, saat pencalonan dirinya sebagai presiden, Obama membeli U.S Treasury Bills bernilai jutaan dolar. Tidak terpengaruh dengan kompetisi politik, Obama tidak melakukan perubahan besar selain menambah terus investasinya dalam U.S Treasury Bills.
Saat dilantik sebagai Presiden, U.S Treasury Bills yang dimiliki Obama bernilai sekitar US$ 1,1 juta-US$ 5,1 juta, menyumbang porsi terbesar dari seluruh harta kekayaannya. Asetnya yang lain bernilai sekitar US$ 411.000-US$ 915.000.

8. Hadiah Nobel Prize

img
Ketika Obama mendapat Nobel Peace Prize pada 2009, dia meminta panitia untuk membagi-bagikan uang hadiahnya ke beberapa lembaga amal berikut ini:
- Sebesar US$ 250.000 ke Fisher House, yang menyediakan tempat tinggal gratis bagi veteran dan pengobatan pada anggota keluarga militer
- Sebesar US$ 200.000 dan sisa uang yang belum teralokasikan ke Clinton-Bush Haiti Fund of the Clinton Foundation, sebuah lembaga pendanaan yang membantu membangun ulang Haiti setelah bencana gempa bumi yang meluluhlantakkan negara itu
- Sebesar US$ 125.000 ke American Indian College Fund, yang memberi beasiswa bagi suku pribumi Amerika
- Sebesar US$ 125.000 ke Appalachian Leadership & Education Foundation, yang memberi beasiswa ke rumah tangga berpendapatan rendah di area Appalachia.
- Sebesar US$ 125.000 ke College Summit, organisasi yang bertujuan meningkatkan jumlah pendaftaran masuk perguruan tinggi
- Sebesar US$ 125.000 ke United Negro College Fund, yang memberi beasiswa ke murid berdarah Afro-American
- Sebesar US$ 125.000 ke Hispanic Scholarship Fund, yang memberi beasiswa ke murid berdarah Latin
- Sebesar US$ 100.000 ke Africare, organisasi yang membangun sumur dan pengobati penyakit di Afrika
- Sebesar US$ 100.000 ke Central Asia Institute yang fokus pada pendidikan, kesehatan umum, khususnya gadis-gadis di Asia Tengah

9. Gaji

img
Selain 'penghasilan sampingan' yang sudah disebutkan sebelumnya, Obama mendapat kompensasi dari pekerjaan sehari-harinya sebagai Presiden. Gaji seorang Presiden AS adalah US$ 400.000 per tahun.
Hingga saat ini, Obama sudah menerima US$ 1,6 juta (Rp 15,2 miliar) untuk periode pertama. Sebagai Senator AS, Obama mendapat penghasilan US$ 174.000 per tahun. Dia menghabiskan empat tahun di sana dan mengumpulkan sekitar US$ 696.000 selama masih aktif menjabat.
Jika ditotal, selama mengabdi di pemerintahan federal, berarti Obama telah mengumpulkan US$ 1,1 juta sebelum pajak. Perkiraan nilai kekayaan bersihnya pada 2010 adalah US$ 2,8 juta hingga US$ 11,8 juta. Jika dirupiahkan sekitar Rp 25,3 miliar-Rp 106,2 miliar.
 
http://finance.detik.com/read/2012/09/17/075952/2021234/4/rahasia-pengelolaan-kekayaan-barack-obama

Wednesday, September 12, 2012

INSPIRASI ANAS FAESOL

INSPIRASI ANAS FAESOL

Anas sukses produksi tas batok khas Blitar (1)

Anas sukses produksi tas batok khas Blitar (1)
Kerajinan batok kelapa atau kerajinan tempurung kelapa telah menjadi salah satu ciri khas Kota Blitar, Jawa Timur. Bentuk kerajinan tangan ini bermacam-macam.
Dari sekian banyak produk kerajinan, yang cukup menonjol adalah kerajinan tas batok kelapa. Kerajinan ini salah satunya ditekuni oleh Anas Faesol yang mengusung brand Tas Bathok Koi.
Pria kelahiran Blitar, 30 September 1974 ini telah menekuni usaha pembuatan tas batok kelapa sejak awal tahun 2009. Selain tas batok, ia juga memiliki bisnis penjualan aneka suvenir aromatherapy dengan brand Harum Aromatic di Bali.
Dari usahanya ini, Anas bisa meraup rata-rata omzet antara Rp 120 juta hingga Rp 150 juta per bulan, dengan laba sekitar 10%. Anas tertarik membuat tas wanita dari batok karena bentuknya lebih natural. Apalagi, Blitar amat kaya tanaman kelapa.
Menurut Anas, motif tas yang terbuat dari batok kelapa lebih original dan bisa menjadi aksesoris. Maklum, hampir semua kerajinan dari bahan limbah ini memang dibiarkan memiliki warna seperti aslinya.
Kendati menjanjikan dan banyak peminatnya, sukses yang diraih Anas tidak didapat dalam waktu singkat. Ia mengaku, telah menghabiskan waktu setahun penuh untuk melakukan percobaan guna mencari bentuk tas yang benar-benar pas.
Proses pembuatannya juga memerlukan waktu dan kesabaran. Sebab, batok kelapa yang digunakan harus dipotong-potong dengan ukuran 3 x 4 centimeter (cm), dan 4,7 x 4,7 cm.
Batok kelapa yang sudah dipotong kemudian diamplas sampai halus dan disortir dengan aneka modifikasi sampai mengkilap. Setelah itu dilakukan penjemuran.
Lalu potongan-potongan batok tadi ditempel dan dijahit dengan benang nilon ke kardus secara manual. Kerja kerasnya ini mulai membuahkan hasil di tahun kedua. Produk tas yang dibanderol mulai Rp 20.000 - Rp 190.000 per pieces ini mulai dilirik banyak orang.
Ia mengaku, banyak konsumen menjadikan tas batok sebagai suvenir khas Blitar. Dalam sebulan, ia memproduksi 3.300 pieces tas dengan aneka ukuran. "Paling banyak saya memproduksi 4.000 pieces,"jelasnya
Fulus ratusan juta rupiah per bulan pun mengalir ke kantongnya. Untuk membuat tas dari batok ini, Anas dibantu 50 karyawan. Ia juga memiliki empat showroom di Blitar yang berfungsi sebagai tempat pemasaran.
Selain lewat showroom, ia juga menjual tasnya kepada para pedagang di Yogyakarta. Oleh pedagang, tasnya dipasarkan ke sejumlah wilayah di Indonesia. Bahkan, sampai ke mancanegara, seperti Singapura, Malaysia dan Italia.

Anas mengawali bisnis sebagai pedagang (2)

Sejak tahun 2009 Anas Faesol sukses menekuni usaha pembuatan tas batok kelapa di Blitar, Jawa Timur. Selain di dalam negeri, kerajinan tas batok kelapanya juga sudah dipasarkan hingga ke mancanegara, seperti Singapura, Malaysia dan Italia.
Sebelum sukses menjadi pengrajin tas batok, Anas juga sudah sukses menekuni usaha penjualan produk-produk aromaterapi dan spa di Bali.
Profesinya sebagai penjual produk aromaterapi sudah ditekuninya sejak tahun 1999. Di Pulau Deawata itu ia membuka toko khusus aromaterapi dengan brand Harum Aromatic.
Di toko itu ia menjual aneka produk aromaterapi, seperti massage oil, lulur aromaterapi, sabun aromaterapi, dan produk garam mandi. Harga produknya ini beraneka ragam, mulai dari Rp 10.000 sampai ratusan ribu rupiah per pieces.
Selain lewat toko, ia juga memasarkan produk-produknya itu lewat internet. "Saya membuat website khusus untuk menawarkan produk aromaterapi," katanya.
Selama hampir tujuh tahun menekuni usaha ini, bisnisnya terus bertumbuh. Namun, ia tidak cepat berpuas diri dengan sukses yang sudah diraihnya.
Naluri bisnisnya justru bangkit untuk merambah bidang usaha lain. Makanya, ketika ia meilai bisnis aromaterapinya sudah benar-benar sukses, ia memutuskan untuk meninggalkan usaha ini.
Maka, pada tahun 2006, Anas pun menyerahkan toko aromaterapinya untuk dikelola orang profesional. Lalu, ia memilih pulang ke kampung halamannya di Blitar untuk memulai bidang usaha baru.
Ketika pulang ke Blitar, ia tidak langsung menekuni usaha pembuatan tas batok kelapa. Namun, ia mengawali bisnis di kampung halamannya ini dengan menjadi penjual alat-alat kerajinan di lokasi makam Bung Karno. Sementara bisnis di Bali tetap berjalan dan tetap dipantaunya.
Ia memilih berjualan di lokasi pemakaman sang proklmator karena ramai wisatawan. Di lokasi ini, ia membuka empat toko khusus penjualan produk-produk kerajinan khas Blitar.
Produk-produk yang dijualnya seperti tas dan dompet yang terbuat dari batik, eceng gondokm, dan batok kelapa. Selain itu, ada juga hasil kerajinan kayu jati, seperti lampu petromak, tempat payung, dan jam dinding.
Produk-produk kerajinan itu diambil langsung dari sejumlah perajin di Blitar.Selain melayani penjualan ritel, tokonya juga melayani penjualan grosir dengan harga lebih miring.
Selama berjualan, ia terus mencermati minat konsumen terhadap produk kerajinan yang dijualnya. Ia mengaku, salah satu produk yang paling banyak oeminatnya adalah tas batokn kelapa.
Dari situlah, Anas kemudian terdorong untuk memproduksi sendiri tas tersebut. Pada tahun 2009, ia pun mulai merintis pembuatan tas batok kelapa dengan brand Tas Bathok Koi.
Agar bisnisnya terus berkembang, ia rajin melakukan perjalanan ke luar kota untuk membuka relasi dengan para pengusaha lainnya. Dari situlah, produk tasnya bisa merambah berbagai daerah di Indonesia. 

Anas berambisi dirikan toko oleh-oleh terbesar (3)

Sunday, September 9, 2012

Luki Wanandi: Berbisnis Itu Berkreasi

Profil CEO
Luki Wanandi: Berbisnis Itu Berkreasi
Penulis : Abun Sanda | Senin, 10 September 2012 | 08:08 WIB

Kompas/Abun Sanda Luki Wanandi
Oleh Abun Sanda
Pada tahun 1999, usahawan Sofjan Wanandi merasa sudah cukup lama berkiprah sebagai pebisnis. Sofjan, yang ketika itu berusia 58 tahun, ingin aktif di organisasi amal dan bisnis, sambil mengawal anak-anaknya menjadi pimpinan puncak grup usaha. Ia pun memanggil Luki Wanandi, salah seorang anaknya, untuk menjadi chief executive officer grup Santini dan Pakarti Yoga.
Luki yang saat itu berusia 29 tahun terkejut oleh keputusan ayahnya. Ia tidak menyangka ayahnya akan secepat itu mengalihkan grup usaha yang dibangunnya puluhan tahun kepada anak-anaknya.
Akan tetapi, Luki, yang pernah bekerja tiga tahun di luar negeri dan bertahun-tahun digembleng ayah-ibunya di perusahaan, menerima dengan penuh tanggung jawab. Kakaknya, Wandi Lestarto, juga mendapat tanggung jawab menjadi CEO untuk sejumlah usaha.
Berikut petikan wawancara dengan Luki di Vin Plus, Jakarta, Sabtu (8/9). Derai tawa penuh ria acap terdengar mengiringi wawancara dengan lulusan Nanyang Technological University ini.
Enak dong jadi anak seorang usahawan besar. Tahu-tahu menjadi CEO.
Eit, nanti dulu. Ayah saya tidak gampangan memberi tanggung jawab kepada anak-anaknya. Saya disuruh kerja dulu di luar negeri selama tiga tahun. Memulai segalanya dari bawah. Sesudah itu, bekerja di perusahaan ayah mulai dari bawah. Dipandang bisa kerja, diberi jabatan asisten manajer, lalu manajer, terus naik menjadi asisten direktur, direktur, lalu CEO. Kalau berbuat salah, ya, dihardik juga.
Mengapa peralihan generasi itu terkesan cepat sekali?
Saya juga berpikir seperti itu. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya menyadari bahwa ayah bermaksud mengawal kami. Saya dan kakak diminta menjadi CEO agar beliau bisa membantu dari belakang, meluruskan kami kalau kami berjalan tidak lurus. Memberi tahu kami kalau kebijakan kami menyimpang. Ayah ingin kami belajar memikul tanggung jawab besar.
Anda merasa berhasil memikul tanggung jawab itu?
Susah menilai diri sendiri. Namun, karena ayah tidak pernah menegur saya dengan keras, perusahaan berjalan sangat baik, bahkan makin berkembang, saya merasa tidak mengecewakan ayah.
Perusahaan yang langsung di bawah kendali saya cukup banyak, di antaranya perusahaan produsen komponen otomotif, penyedia komponen industri, pertambangan dan jasa, media cetak, perhotelan, dan kebun anggrek. Kami juga menjalankan bisnis aki (Yuasa), Aica Aibon, baja cor, membuat silinder, dan asuransi Wahana Tata.
Saya lega, selama menjadi CEO, perusahaan berkembang baik. Hotel misalnya, menjadi empat. Ada konsesi pertambangan, kafe, dan produksi sepeda motor merek Minerva. Tidak hebat banget penjualan sepeda motor itu, tetapi, ya, sebulan terjual lebih kurang 3.000 unit, berarti memang ada pasarnya. Minerva menggunakan teknologi Jerman, tampilan motor sport, 250 cc, harga lima belas jutaan rupiah.
Ada kesan grup usaha Anda jauh dari publisitas. Mengapa demikian?
Ayah pesan demikian. Bagi ayah, kami bekerja saja sebaik-baiknya, dengan fokus penuh. Kalau baik, pasti akan kelihatan, demikian sebaliknya. Ayah hampir tidak pernah memuji. Kalau pekerjaan kami baik, ia diam saja. sebab, bagi dia, berprestasi sudah lumrah. Sebaliknya, kalau keliru, pasti ditegur.
Ini persis ketika kami bersekolah. Kalau rapor kami sangat bagus, ayah cuma memberi seulas senyum. Tak ada kata-kata pujian. Suatu ketika, ibu kami bertanya, mengapa, sih, ayah pelit memuji. Ayah menjawab enteng, bersekolah memang untuk menjadi anak pintar dan berakhlak baik. Terus di mana istimewanya? Iya, benar juga, sih. Kami saja yang aneh, kok, berharap pujian.
Apa yang Anda pelajari dari ayah?
Banyak hal, terutama disiplin, nyali, setia kawan, cara bersikap, dan sebagainya. Dari ibu, saya pelajari ketenangan menghadapi masalah, loyalitas, dan kasih sayang kepada sesama. Ayah dan ibu adalah paduan yang penuh harmoni. Saya belajar bagaimana ayah menjalankan perusahaan sehingga jarang ada karyawan pindah kerja. Karyawan grup kami umumnya bekerja sampai tua.
Ada garis kebijakan yang tegas?
Kami, misalnya, mengembangkan bisnis-bisnis jangka panjang, bukan bisnis mengail sekali lalu pergi. Kami selalu memandang jauh ke depan, menyusun tim kerja yang solid, cerdas, dan harmonis. Dengan gaya bisnis seperti ini, kami jelas menghendaki suatu bisnis yang memiliki masa depan dan daya tahan yang amat kuat.
Saya, juga kakak saya, sebagai generasi kedua, sangat menyadari bahwa kami meneruskan sebuah bisnis berskala besar. Tugas kami mengokohkan landasan, mengembangkan bisnis itu menjadi sangat berkembang. Lalu generasi berikutnya mengembangkannya lebih maju lagi.
Ayah Anda amat keras dan disiplin. Bagaimana sikap kepada anak-istri?
Tentu berbeda sebab zaman juga berbeda. Saya juga menegakkan disiplin, tetapi dengan langgam berbeda, sesuai era sekarang. Empat anak saya, Lexi, Lea, Lesta, Lizzy, tidak bandel seperti saya dan Wandi dulu. Ini terutama karena istri saya, Lala, hebat mengatur rumah tangga. Saya tidak mampu sebaik dia. Tanpa istri, saya pasti kedodoran. Lala, seorang produser film, bisa care kepada anak, jago masak, pandai mengurus rumah, dan cerdas ngajarin anak. Saya pasti tidak sanggup. Kalau, misalnya, ada yang tanya bagaimana kalau ganti posisi, Lala yang bekerja seperti saya dan saya yang mengurus rumah tangga, saya pasti menyatakan tidak mampu.
Ini juga yang membuat saya selalu rindu rumah. Semua keletihan akibat bekerja seketika lesap begitu saya masuk rumah. Sorot mata anak-anak dan istri selalu penuh ria dan cinta. Persis mata ayah dan ibu saya. Rasanya saya merasa sangat beruntung diberi begitu banyak rahmat oleh Allah. Saya hendak bergegas pulang ke rumah. Istri saya, Lala, sudah siap mencukur rambut saya yang terlihat mulai panjang.
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Nasru Alam Aziz
 
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/09/10/08085335/Luki.Wanandi.Berbisnis.Itu.Berkreasi

Monday, September 3, 2012

Berfokus pada Pekerjaan

Profil CEO Metropolitan Land Nanda Widya

Penulis : Abun Sanda | Senin, 3 September 2012 | 09:39 WIB

KOMPAS/ABUN SANDA Nanda Widya

JAKARTA, KOMPAS.com - Pekerja yang diam. Begitu sapaan yang melekat pada Chief Executive Officer Metropolitan Land Nanda Widya. Sapaan itu lahir karena Nanda lebih suka bertarung habis-habisan di lapangan dan di meja lobi daripada berceloteh hal-hal yang dinilainya tidak produktif.
Itu sebabnya Nanda mempunyai ruang sendiri di panggung para eksekutif puncak perusahaan properti nasional. Ia selalu fokus pada pekerjaan  dan menekuninya sampai  detail.
Sejak lulus kuliah teknik sipil,  Nanda langsung bekerja  di lapangan. Bekerja di perusahaan kontraktor, ia terjun langsung di lapangan, ikut menyekop semen dan menyusun program kerja untuk para pekerja di lapangan. Setahun kemudian secara kebetulan ia bertemu arsitek sekaligus pengembang terkenal, Ciputra. Pertemuan yang terjadi secara kebetulan itu langsung mengubah jalan berpikir Nanda.
Ujar Ciputra kepadanya, ”Kalau dikau bekerja sebagai kontraktor, dikau tergantung orang lain sebab hanya menerima order dan mengerjakan order itu. Tetapi, sebagai pengembang, lain urusannya. Engkau mengkreasi proyek, membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada, tidak tergantung orang lain.”
Ucapan Ciputra menerobos jauh ke dalam pikiran Nanda. Ia kemudian bekerja di perusahaan pengembang sampai akhirnya menjadi CEO Metropolitan Land Tbk. Mungkin kalau tidak bertemu Ciputra, sampai hari ini ia masih sebagai kontraktor.
Metropolitan Land seperti apa yang Anda inginkan?
Menjadi perusahaan yang sangat terkemuka dan dipercaya. Kami berjuang  mewujudkan asa ini sebab kita tahu, dipercaya dan terkemuka bukan urusan mudah. Perlu ikhtiar optimal.
Ketika Agustus 2012 kami memperoleh best company untuk kategori di bawah satu miliar dollar AS versi Forbes Asia, kami merasa ini sebuah lompatan sangat bagus. Kami layak bangga karena dari begitu banyak perusahaan dari Indonesia yang masuk kategori ini, hanya tujuh perusahaan yang masuk, di antaranya, Metropolitan Land Tbk.
Tahun depan, kami akan ikut seleksi lagi. Kami akan berjuang meraih predikat itu lagi. Semoga kami mampu melaksanakannya. Sambil meneruskan perjuangan itu, kami pun berusaha melebarkan sayap usaha agar kami dapat naik kelas, misalnya ke ruang lebih besar dan dengan jumlah pemain properti yang lebih sedikit. Di kelas yang baru ini, pemain yang ada sungguh pemain senior, berpengalaman, dan modalnya luar biasa kuat. Itu artinya kami harus menunjukkan kinerja lebih baik dan menambah ukuran bisnis. Penambahan ukuran ini dilakukan karena kami ingin masuk dalam enam besar perusahaan berskala besar. Di wilayah ini bermain perusahaan raksasa, di antaranya BSD,  Lippo, Grup Ciputra, Grup Agung Podomoro, dan Summarecon.
Ada kesan, Anda suka dengan gelar-gelaran itu?
Tidak juga. Gelar itu, jujur saja bagus untuk kami sebab menambah kredibilitas. Salah satu parameter bahwa perusahaan itu dipercaya adalah meraih nilai yang baik di mata publik. Gelar itu tidak akan datang kepada kami seandainya kami tidak bisa dipercaya.
Karyawan siap dengan program itu?
Saya kira iya karena selalu kami tanamkan kepada mereka. Kami pun ingin para staf atau karyawan melihat masalah ini dengan kacamata terang, tidak rumit. Itu sebabnya semua instruksi atau penjabaran dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami. Para staf, supervisor ke atas, diajak menyampaikan pikirannya dengan sederhana, tidak dengan bahasa sulit. Logo kami, Metland, lihatlah, juga sederhana.
Kalau mereka mempunyai masalah pelik, saya ajak mereka bicara dan menerangkan dengan langgam serta pikiran-pikiran sederhana. Saya tidak mau mereka  jadi bingung. Wah, saya ingin yakinkan Anda bahwa tidak mudah mengajak orang lapangan terbiasa dalam pikiran sederhana. Namun, sejalan dengan berjalannya waktu, pelan tetapi pasti, karyawan mengerti bagaimana menyederhanakan pikiran dan menyederhanakan masalah rumit. Namun, jangan keliru, menyederhanakan masalah di sini jangan ditafsirkan menggampangkan masalah. Tidak begitu.
Beberapa teman menyebutkan bahwa kami membawa genre baru dalam pekerjaan. Bisa jadi iya, tetapi yang jelas kami terbantu dengan terbiasa tidak bersulit-sulit.
Ada penekanan lain?
Saya minta semua staf di semua lapisan untuk selalu fokus pada apa yang dikerjakan. Fokus lalu susun skala prioritas, kerjakan semuanya secara berurut sesuai skala prioritas.
Bukankah kita terbiasa dengan skala prioritas ketika kita duduk di bangku sekolah. Kalau mengerjakan soal, kita memilih soal paling mudah  dikerjakan lebih dulu, baru yang sulit. Benar 60 persen saja kita sudah lulus ujian, apalagi kalau benar 90 persen. Paham seperti ini yang diajarkan kepada staf.
Metropolitan Land bermain di area apa saja?Kami bermain di banyak bidang atau proyek. Misalnya, Metropolitan dan Grand Metropolitan di Bekasi, Horison Bekasi dan Seminyak, Menteng, Transyogi, Tambun, dan sebagainya. Kami menjadi pelopor beberapa proyek besar di Bekasi.
Kami bahagia dapat melakukan beberapa hal ini sebab kehadiran kami terasa manfaatnya. Misalnya, kami membangun beberapa mal, yang kemudian kita ketahui, luar biasa ramai. Ada yang menyatakan, kami menimbulkan kemacetan, wah ya, rasanya tidak begitu?
Kemacetan itu bisa dilihat dari beberapa aspek, di antaranya infrastruktur yang belum mendukung. Aspek lain dampak kemajuan ekonomi.
Mal, misalnya, tidak banyak di antara kita yang mau melihatnya dengan perspektif arif. Berapa banyak warga bisa bekerja di mal itu? Bukankah ribuan orang? Ini belum termasuk orang-orang yang bekerja untuk menunjang kebutuhan bisnis di mal. Artinya, kehadiran mal menciptakan lapangan kerja baru.
Aspek tenaga kerja ini yang mesti kita lihat kalau kita membangun sentra hunian, apartemen, perkantoran. Berapa besar lapangan kerja yang tersedia?
Di keluarga sendiri bagaimana?Dalam keluarga, saya menekankan beberapa hal pokok, di antaranya  harmoni, kasih sayang, dan pendidikan. Karena anak hanya dua, Geraldy Widya (24) dan Andriani (20),  maka saya dan istri lebih bisa menjalin komunikasi. Saya kira kita semua sepakat untuk memiliki keluarga yang penuh kasih sayang. Saya boleh letih bekerja, tetapi kalau sudah kembali ke rumah, saya segera meraih kenyamanan dan ketenteraman yang sulit dilukiskan. Keletihan menguap begitu kita menatap wajah istri dan anak-anak. Mereka adalah orang-orang yang mencintai kita dengan segenap hati dan pikiran mereka.
Bayangkanlah kalau Anda bercengkerama dengan anak istri untuk soal sederhana, misalnya hal-hal lucu yang anak-anak alami di kampus atau pengalaman istri tentang organisasi dan sebagainya. Hidup jadi penuh warna dan derai tawa.
 
Editor :
Rusdi Amral
 
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/09/03/09395055/Berfokus.pada.Pekerjaan

Friday, August 24, 2012

INSPIRASI SUNARTO


INSPIRASI SUNARTO

Sunarto sukses menjadi juragan kue nopia (1)

Berawal dari bisnis kecil-kecilan skala rumah tangga, kini usaha camilan yang ditekuni Sunarto sejak 10 tahun lalu sukses berkembang pesat.
Memproduksi camilan khas daerah Banyumas bernama nopia, Sunarto kini memasok sejumlah minimarket modern, seperti Alfamart dan Indomaret di seluruh Indonesia. Selain minimarket, produk nopia buatannya juga dipasarkan ke sejumlah toko camilan di Jawa Tengah.
Di bawah bendera usaha Prima Langgeng, Sunarto memproduksi nopia sebanyak 1 ton per hari. Omzet usahanya mencapai sekitar 20 juta per hari. "Produksi saya masih di bawah permintaan," kata Sunarto.
Mungkin, tak banyak yang tahu dengan camilan nopia ini. Makanan khas Banyumas ini terbuat dari tepung terigu dengan tekstur yang keras dan renyah. Bagian dalam nopia kosong dan diisi lapisan gula merah di bagian dinding dalam nopia.
Bentuk nopia bulat seperti telur. Rasanya pun perpaduan antara gurih dan manis gula merah. Nopia biasa juga disebut telur gajah atau di Banyumas disebut endog gludhug.
Sunarto mengawali usahanya ini tahun 2002. Saat itu, ia baru saja keluar dari tempatnya bekerja di sebuah perusahaan camilan bernama Gita Snack.
Di perusahaan ini, ia telah bekerja selama 13 tahun sejak 1989. Lokasi tempat kerja yang jauh dari rumah dan keluarganya membuat Sunarto memutuskan berhenti dari pekerjaannya.
Setelah keluar, ia langsung membuka usaha sendiri. Pengalaman bekerja di Gita Snack sangat membantunya dalam merintis usaha ini. "Kebetulan di Gita Snack saya bekerja di bagian produksi," ujarnya.
Pilihannya jatuh pada nopia karena pemainnya belum banyak. Selain itu, ia juga ingin mengenalkan makanan khas daerahnya ini ke berbagai kalangan. Lantaran relasi dengan bosnya di Gita Snack masih berjalan dengan baik, maka di tahun 2003, Sunarto diajak bekas bosnya itu untuk bekerja sama.
Ia pun dipinjami modal usaha sebesar Rp 5 juta untuk membesarkan usahanya. Sejak itu, hampir seluruh produksi Sunarto dibeli langsung dan dipasarkan oleh Gita Snack dengan label nama Gita Snack. "Saya berterima kasih kepada bos saya bernama Pak Iwan karena sudah membantu bisnis saya," ujar Sunarto.
Sunarto tak mempersoalkan jika camilannya kini lebih dikenal dengan nama Gita Snack. Selain menjual dalam partai besar ke Gita Snack, Sunarto juga meladeni pembelian partai kecil yang datang langsung ke rumahnya.
Untuk partai kecil ini, ia menggunakan merek dagang Prima Langgeng. Sunarto menjual nopia dengan harga sekitar Rp 15.000 hingga Rp 18.000 per kilogram (kg), tergantung jumlah pembelian. "Omzet kotor saya per hari biasanya di atas Rp 20 juta," jelas Sunarto.
Dalam menjalani usaha ini, ia dibantu sebanyak 54 karyawan. Dengan karyawan sebanyak itu, ia mampu memproduksi minimal 30 ton nopia dalam sebulan. "Saya sendiri tidak pernah menyangka bisnis saya ini bisa sampai sukses dan maju seperti sekarang ini," ujar Sunarto.
Ia meyakini modal utama dalam kesuksesan berusaha adalah kesabaran dan keuletan bekerja.

Sunarto sukses setelah dapat pinjaman uang (2)

Sunarto mulai merintis usaha di tahun 2002 ketika usianya sudah menginjak 40 tahun. Saat itu, ia baru saja keluar dari pekerjaannya sebagai staf produksi di perusahaan camilan bernama Gita Snack. Kendati usianya sudah memasuki kepala empat, ia tidak ragu untuk merintis sebuah bisnis baru.
Keputusannya ini memang cukup berisiko. Terlebih, saat itu ia sudah melepas pekerjaannya di tempat lama. "Tapi tekad saya sudah bulat untuk terjun ke dunia bisnis demi menghidupi keluarga," katanya.
Sebagai mantan staf produksi di Gita Snack, pilihan bisnisnya saat itu tidak jauh-jauh dari makanan. Pilihannya jatuh pada camilan khas daerah Banyumas bernama nopia.
Di tahun pertama menekuni usaha ini, Sunarto baru mampu memproduksi 80 kilogram (kg) nopia per minggu. Produksinya masih kecil karena ia kesulitan modal untuk memproduksi dalam jumlah besar.
Selain itu, pemasarannya juga masih belum terlalu kuat. Untungnya, Sunarto masih menjalin hubungan baik dengan mantan bosnya dulu di Gita Snack. Pada tahun 2003, mantan bosnya itu menawari pinjaman sebesar Rp 5 juta. "Sejak itu, produksi saya naik menjadi 250 kg per minggu, hingga sekarang menjadi 1 ton per hari," jelas Sunarto.
Semenjak produksinya terus meningkat, Sunarto tak berhenti berinovasi untuk mengembangkan nopia. Selain gula merah, ia juga membuat nopia rasa cokelat, vanilla, stroberi, pandan, dan durian.
Bahkan, ia juga meladeni pesanan nopia rasa khusus yang diinginkan konsumen.Selain produk, Sunarto juga terus berusaha meningkatkan efisiensi produksi.
Misalnya, dengan mengganti sebagian pekerjaan karyawan dengan mesin. Pada tahun 2005, ia membuat mesin khusus untuk menghaluskan adonan menjadi lentur dan mudah dibentuk menjadi nopia.
Dengan adanya mesin, karyawannya bisa dialihkan untuk pekerjaan lain. Namun, efisiensi tak lantas membuat Sunarto menurunkan kualitas nopia.
Sebagai contoh, untuk memanggang nopia, ia tetap memakai tungku bakar. Sunarto pernah memakai oven otomatis, tapi ternyata hasilnya kurang maksimal.
Menurutnya, jika dengan tungku, bagian bawah nopia akan sedikit gosong. Sementara bagian atasnya matang karena udara panas dalam gentong. Hal ini yang tidak bisa digantikan oven. Tungku bakar ini terbuat dari tanah liat berbentuk gentong yang dilapisi pasir dan anyaman bambu agar panas tetap terjaga. Satu persatu adonan nopia ditempelkan pada dinding tungku tersebut.
Semua upaya yang dilakukannya ini akhirnya membuahkan hasil juga. Terbukti, permintaan nopia terus meningkat. Bahkan, sampai melampaui kapasitas produksinya.
Untuk meningkatkan produksi, akhirnya Sunarto membeli beberapa usaha kue milik temannya. "Ada tiga usaha kue yang saya beli," ujarnya.
Seluruh usaha kue itu dijadikan satu dan semuanya memproduksi nopia. Dengan menggabungkan seluruh perusahaan, kini total karyawannya mencapai 54 orang.

Sunarto sukses karena terbuka dan jujur (3)

Bersikap terbuka dan jujur diyakini menjadi kunci sukses bisnis bagi Sunarto. Ia pun tak segan berbagi ilmu dan informasi kepada siapapun yang ingin berwirausaha. Salah satu yang dilakukannya adalah memberi kelas magang. Sunarto berharap, usahanya bisa semakin besar, bahkan ia berencana merambah ke bisnis lain.
Meski telah sukses, Sunarto tak takut dengan persaingan yang tumbuh. Setelah beberapa lama ia menggeluti usaha pembuatan nopia, sejumlah warga desanya pun ikut menjadi pembuat nopia. Bagi Sunarto, itu tak menjadi masalah. Malah, ia tak segan membagi ilmunya dengan warga desa yang ingin tahu bagaimana proses pembuatan nopia dan tips-tips membuat nopia yang enak.
Kini, sudah cukup banyak warga desanya menjadi pembuat nopia. "Sekarang hampir semua saya kasih tahu. Kalau ada orang yang mau ngobrol dan tanya-tanya nopia, saya bilang silakan saja datang ke sini," tutur Sunarto.
Ia meyakini, keterbukaan adalah salah satu unsur yang membawanya pada sukses. "Kalau kita terbuka dan jujur, rezeki pasti datang dengan sendirinya," tutur Sunarto.
Menurut Sunarto tak ada ruginya jika berbagi tips dan informasi bisnis. Bahkan, mengenai harga serta keuntungan yang ia dapatkan, Sunarto juga terbuka. Ia berharap warga di desanya pun bisa memperoleh sukses sepertinya.
Sunarto juga membuka kelas magang bagi anak muda di desanya. Kelas magang ini rutin dibuka dalam dua hingga tiga bulan. Sekali proses magang, ia menerima hingga lima anak muda. Dalam kelas magang ini, mereka diajarkan proses pembuatan nopia dari awal hingga akhir. Harapan Sunarto, anak-anak muda di desanya nantinya punya modal untuk bekerja atau membuka usaha sendiri.
Pria paruh baya ini juga berharap, usaha nopianya bisa berkembang pesat. "Permintaan terus meningkat, sehingga saya harus terus menambah pegawai dan tempat usaha," ujar Sunarto.
Dalam waktu dekat, ia berencana untuk memperluas tempat usahanya. Saat ini, lokasi usaha Sunarto sendiri masih seluas 300 meter persegi. Itu di luar tiga tempat usaha yang telah ia ambil alih. Toh, produksi dari tiga tempat usaha tersebut belum bisa memenuhi permintaan yang masuk.
Ia yakin masih bisa mengembangkan skala usahanya hingga dua kali lipat dari produksi saat ini. "Kemungkinan nantinya saya bisa produksi sampai dua ton nopia per hari," ujar Sunarto.
Produksi digenjot, karena pertumbuhan minimarket yang menjadi pasar penjualan nopia juga semakin menjamur.
Agar produksi nopia meningkat, Sunarto berniat mengambil alih lagi tempat usaha baru untuk dijadikan cabang pembuatan nopianya. Di luar itu, ia juga berencana mencari kreativitas rasa baru untuk camilannya di luar rasa yang sudah ada.
Sunarto juga berencana mencoba menggeluti usaha lain. Salah satunya adalah usaha rumah makan dengan menu komplit. Ia melihat ada peluang besar di sana. "Sekaligus usaha ini saya buat supaya ada yang dijalankan anak saya nanti," ujar Sunarto.

(Selesai)
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sunarto-sukses-menjadi-juragan-kue-nopia-1/2012/08/22
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sunarto-sukses-setelah-dapat-pinjaman-uang-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sunarto-sukses-karena-terbuka-dan-jujur-3


Tuesday, June 26, 2012

Liem Sioe Liong, Entrepreneur Besar yang Pernah Dimiliki Indonesia

Views :526 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 26 Juni 2012 15:49
liem06Om Liem--sapaan akrab Liem Sioe Liong--menjadi salah satu pengusaha nasional yang berhasil merealisasikan kepercayaan yang diberikan pemerintah. Ia mewariskan banyak perusahaan yang tangguh.

Sulit menafikan guratan jejak bisnis Liem Sioe Liong dalam peta perekonomian Indonesia. Pria kelahiran Fuqing, Fujian, Cina, yang bersulih nama menjadi Sudono Salim dan akrab disapa Om Liem itu berhasil mendirikan sejumlah perusahaan yang kontribusinya begitu nyata bagi kehidupan masyarakat. Hampir semua orang di republik ini pernah merasakan mi instan buatan Salim Group.

Bak pengelana yang ingin selalu mencari kehidupan lebih baik, itulah awal petualangan Om Liem mencari tanah yang baru. Dalam buku Kisah Sukses Liem Sioe Liong karya Eddy Soetriyono ditulis bahwa pergolakan politik dan invasi Jepang ke Cina makin mendorong Om Liem untuk meninggalkan tanah kelahirannya. Kondisi ekonomi yang buruk dan tidak menentu telah memotivasi Om Liem untuk meninggalkan ibu dan adiknya, Liem Sioe Kong.

Anak kedua dari tiga bersaudara buah kasih pasangan petani yang sejak anak-anak ditinggal mati ayahnya ini berniat sekali menyusul kakaknya, Liem Sioe Hie, yang sudah sembilan tahun berhasil mengadu nasib di Kudus, Jawa Tengah. Setelah sebulan lebih meninggalkan Pelabuhan Hai Kou, Futsing, Fukien, Cina, pada 1938, Om Liem akhirnya mendarat di Pelabuhan Belawan, Medan. Empat hari lamanya ia tertahan di pelabuhan karena pihak imigrasi tidak membolehkannya keluar dari area pelabuhan.

Begitu kakak yang menjemputnya datang, tantangan kehidupan baru mulai ditapaki Om Liem. Dari Medan, pada umur 22 tahun, Om Liem langsung ke Kudus. Kebijakan penjajah Belanda yang tidak mengizinkan perantau Cina memiliki tanah telah mengondisikan para perantauan dan peranakan Cina menjadi tukang membuat produksi makanan rumahan dan pedagang perantara.

Selain belajar dari kakaknya, Om Liem muda juga belajar dari dua pamannya, Liem Kim Tjai dan Liem Ban Hong, yang telah lebih dulu berdagang. Kudus sebagai kota perniagaan ketika itu sudah dikenal sebagai jantung industri rokok kretek. Ada 150 lebih pabrik rokok berdiri ketika itu. Bersama adiknya, Liem Sioe Kong yang dua tahun kemudian menyusul ke Kudus, mereka bertiga berhasil dalam berdagang hasil-hasil bumi, seperti beras, jagung, dan kedelai.

Ketika Jepang menaklukkan Hindia Belanda pada 1942, semua urusan perdagangan dikendalikan Jepang. Separuh lebih perkebunan yang ada diganti dengan tanaman jarak untuk menghasilkan minyak pelumas bagi mesin perang Jepang. Meskipun masih berjalan, usaha dagang Om Liem ikut terempas. Beruntung, masih ada stok barang yang diperdagangkan.

Jepang kalah perang dan hengkang pada Agustus 1945. Saat itu Om Liem masih memiliki beberapa karung uang Jepang. Namun, seperti diceritakan dalam buku tulisan Eddy Soetriyono, uang Jepang menjadi tidak laku. Pemerintah mengeluarkan uang baru dan setiap orang mendapat satu rupiah. ''Wah, edan, uang kok tidak laku,'' Om Liem mengenang.

Meskipun sudah merdeka, Belanda tetap ingin menjajah dan bercokol di tanah Air. Dalam kancah perang kemerdekaan inilah, Om Liem secara langsung membantu pejuang yang lari dari kejaran intel Belanda. Buku Kisah Sukses Liem Sioe Liong menceritakan bagaimana organisasi pedagang Cina yang disebut Siang Boe lebih bersimpati pada perjuangan tentara Republik. Nah, Kudus yang dikuasai Republik menjadi tempat pelarian seorang pejuang yang sedang dikejar-kejar intel Belanda.

Siang Boe yang melindungi pejuang itu memilih rumah Liem Sioe Liong sebagai tempat persembunyian. Om Liem dipilih karena karakternya yang pendiam, tidak menonjol, rendah hati, jujur, dan keras dalam memegang kepercayaan orang lain. Om Liem tidak pernah ingin tahu latar belakang tamunya itu. Om Liem berhasil menjaga kepercayaan itu.

Di kemudian hari, Om Liem tahu bahwa tamu yang lama bersembunyi di rumahnya itu adalah Hassan Din, tokoh Muhammadiyah, ayah Fatmawati dan mertua Presiden Soekarno. Melalui Hassan Din, kemudian Om Liem dikenalkan kepada sejumlah pimpinan tentara Republik. Sejak itu, jalinan dengan tentara Republik makin erat seiring dengan usahanya dalam memasok kebutuhan militer, seperti obat-obatan dan kebutuhan pokok.

Sebagai pedagang tulen, Om Liem terus menunjukkan kemampuannya berbisnis, baik pada masa sulit ketika Belanda masih bercokol maupun ketika pergi. Saat tata niaga cengkeh hancur, Om Liem melalui jaringan perdagangan yang ada di Singapura mengisi kekosongan cengkeh untuk industri rokok dengan mengimpornya dari Zanzibar dan Madagaskar.

Pada 1952, Om Liem dengan sang istri, Lie Las Nio --yang biasa dipanggil Lilani-- dan anak-anaknya pindah ke Jakarta untuk memulai usahanya lebih menasional. Di Jakarta, Om Liem mulai lebih berani mengubah usaha dagangnya yang hanya berdasarkan uang ke usaha yang menghasilkan suatu produk atau atas dasar barang. Dari pengalaman memproduksi tekstik kasar dengan PT Muliatex di Kudus, Om Liem mendirikan PT Inimex dan PT Purabaya serta pabrik pemintalan dan finishing PT Tarumatex di Bandung. Usaha Om Liem di bidang tekstil ini tidak terlalu mencorong.

Kemudian, untuk memajukan usaha dagangnya, terutama ekspor-impor, Om Liem mendirikan CV Waringin dan PT Permanent. Pada 7 Maret 1968, CV Waringin diubah menjadi perseroan terbatas dengan nama baru PT Waringin Kencana. Di Waringin Kencana, Om Liem tidak sendirian. Ia bermitra dengan Djuhar Sutanto asal Fukien, dengan Ibrahim Risjad asal Sigli, Aceh, yang pada 1965-1968 sudah menjadi direktur di CV Waringin, dan dengan Sudwikatmono asal Wuryantoro, Wonogiri. PT Waringin Kencana merupakan awal usaha patungan Om Liem yang besar dalam perdagangan kopi, karet, kopra, dan lada, serta impor beras dan gula.

Sebelumnya, pada 1954, Om Liem mendirikan Bank Windu Kentjana untuk mendukung dunia pembiayaan. Begitu pentingnya sektor perbankan, sehingga pada 1957 Om Liem juga merintis berdirinya Bank Central Asia (BCA). BCA makin moncer ketika Om Liem cocok berpartner dengan Mochtar Riady. Kini BCA menjadi bank swasta terbesar di Indonesia.

Selain mendirikan pabrik tepung PT Bogasari pada 1971 dan pabrik semen PT Indocement pada 1975, Om Liem juga mendirikan perusahaan perumahan PT Metropolitan Development. Di perusahaan ini, Ciputra bergabung kemudian. Metropolitan dikenal dengan proyek perumahan elite Pondok Indah dan Bumi Serpong Damai. Di bidang otomotif, Om Liem berkibar dengan bendera PT Indomobil pada 1971, yang awalnya mengageni sedan mewah merek Volvo, lalu pada era 1980-an terus berkembang mengageni merek Suzuki, Hino, Mazda, dan Nissan.

Untuk ekspansi di luar negeri, Om Liem melalui tangan First Pacific International Ltd di Hong Kong, yang sebagian sahamnya dimiliki olehnya, terus melakukan sejumlah investasi di sektor industri dan telekomunikasi di sejumlah negara. Total, hingga menjelang krisis ekonomi 1998, Salim Group memiliki 200 lebih perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan, finansial, kontraktor-real estate, otomotif, logam, makanan, tekstil, kimia, kehutanan, semen, kertas, farmasi, pakan ternak, transportasi, barang elektronik, kaca, plastik, tambang, dan lain-lainnya.

Berkat bisnisnya, Om Liem masuk daftar 100 orang terkaya dunia versi Forbes. Namun krisis 1998 membuat konglomerasi bisnis Om Liem terpuruk. Namun berkat tangan dingin anak dan menantunya, kerajaan bisnis keluarga Soedono Salim kembali berkibar.

Sejak krisis 1997 itu, kendali bisnis Salim Group perlahan dialihkan kepada Anthoni Salim, anak ketiga Om Liem. Om Liem yang sebelumnya tinggal rumahnya, Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pindah ke Singapura. Hingga kemudian ia meninggal di sana pada Minggu 10 Juni 2012 dalam usia 96 tahun. Om Liem dimakamkan di Choa Chu Kang, Singapura, Senin 18 Juni lalu. (*/Gatra)

http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/18033-liem-sioe-liong-entrepreneur-besar-yang-pernah-dimiliki-indonesia.html

Thursday, June 21, 2012

Suryadi, Sang Eksportir Kerajinan Bambu

Views :262 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 20 Juni 2012 14:40
Berawal dari berjualan besek, tenggok, dan tampah, Suryadi berhasil menjadi eksportir barang-barang kerajinan ke Amerika Serikat. Dalam setahun, perajin bambu tradisional asal Yogyakarta itu mengekspor 18 kontainer dengan nilai masing-masing Rp 120 juta.

kerajinan_bambu098Langkah pertama kerajinan ini adalah memotong bambu sesuai ukuran yang diinginkan. Bambu kemudian dibelah dalam bentuk yang lebih kecil, sebuah proses yang dinamakan diirat-irat. Potongan bambu pun diwarnai, lalu dianyam berdasarkan desain pesanan. Setelah dipasangi frame, kerajinan bambu siap dilempar ke pasar.

"Ilmunya memang simpel. Produk kita adalah produk dari natural fiber yang sifatnya kuat, namun bila dibuang dapat terurai tanah," tutur Suryadi.

Usaha keluarga milik Suryadi lebih terfokus pada ekspor. Alasannya, jumlah pesanan jauh lebih besar dari pasar lokal. Sembilan puluh persen produksinya dijual ke luar negeri, sedangkan sisanya untuk kebutuhan domestik.

Dalam sebulan, Suryadi mampu mengirim satu hingga dua kontainer ke pasar dunia. Satu kontainer bernilai antara Rp 80 juta hingga Rp 120 juta. Negara tujuan ekspor terbesar adalah Amerika Serikat dan sejumlah negara lain di Eropa.

"Usaha ini membuka lapangan pekerjaan bagi tenaga kerja di daerah ini, tanpa syarat pendidikan atau latar belakang keilmuan," ungkap Suryadi.

Untuk ke depannya, ia berharap pihak perbankan dapat mempermudah proses peminjaman modal, mengingat terus meningkatnya jumlah pesanan. (*/liputan6.com)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/17854-suryadi-sang-eksportir-kerajinan-bambu.html

Saturday, May 5, 2012

Raymondo Hansiever: Dulang Rupiah dari Lukisan Kayu


Views :205 Times PDF Cetak E-mail
Sabtu, 05 Mei 2012 11:31
Dari melukis kayu, Raymondo raup Rp 85 jutaMelukis di atas kayu memang membutuhkan keahlian tersendiri. Supaya lukisannya laku, pelukis juga harus mampu membaca selera konsumen. Itulah yang dilakukan Raymondo Hansiever yang sukses menekuni bisnis ini.

Menekuni kerajinan wood painting sejak tahun 2000, Raymond Hansiever kini sukses meraup omzet tebal dari ceruk usaha ini. Dalam sebulan, omzetnya mencapai Rp 85 juta dengan laba bersih lebih dari 25%.

Usaha ini mulai dirintisnya di Bandung, Jawa Barat dalam skala kecil. Kala itu, setiap lukisan yang dibuatnya ditawarkan ke teman-teman terdekatnya. "Responsnya cukup bagus, banyak teman-teman yang pesan," ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, pesanan yang diterimanya semakin banyak. Demi kelancaran usahanya, di bulan Februari 2011, ia mendirikan galeri di Bandung. Di galeri tersebut, ia memajang hasil-hasil karyanya.

Hingga saat ini, ia sudah memiliki jaringan pemasaran di beberapa kota, seperti Jakarta, Bandung, Makassar, Bali dan Palembang. "Lukisan saya digemari banyak orang," klaimnya.

Ia membanderol lukisan kayu tersebut mulai dari Rp 55.000 untuk ukuran kecil sampai Rp 5 juta untuk ukuran besar. Selain ukuran, harganya juga tergantung kerumitan dan material yang digunakan.

Sebagian besar karya lukisnya merupakan pesanan pelanggan. Umumnya, mereka memesan gambar khusus dengan desain eksklusif untuk dijadikan hadiah kepada orang terdekat. (Kontan.co.id)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/intrapreneur/16584-raymondo-hansiever-dulang-rupiah-dari-lukisan-kayu.html

Monday, March 26, 2012

12 Wirausahawan paling berhasil di dunia

PENGUSAHA SUKSES

12 Wirausahawan paling berhasil di dunia (1)

12 Wirausahawan paling berhasil di dunia (1)

NEW YORK. Segalanya terwujud karena berawal dari mimpi. Kisah sejati para pengusaha ini awalnya hanya berupa ide-ide saat mereka bekerja dengan orang lain atau saat menempuh pendidikan. Tapi dengan segala pengetahuan dan kejituan membidik peluang bisnis, para pemimpi berhasil menjadi raja di zaman ini.
Fortune Magazine, mengurutkan 12 nama pengusaha besar yang perusahaannya sangat populer saat ini. Berikut adalah urutannya :
1. Steve Jobs
Ia mengawal Apple dengan penjualan tahun lalu mencapai US$ 108,2 miliar. Market value Apple mencapai US$ 546 miliar. Memiliki 63.300 karyawan, Steve Jobs memiliki prinsip yang cukup ampuh untuk membesarkan perusahaannya yakni : Katakan tidak untuk fokus pada group dan riset pasar.
Meskipun ia bisa menjadi sangat kasar dan kejam pada para pekerja, Jobs telah menjadi pengusaha klasik generasi saat ini. Fortune menilainya memiliki berbagai kelebihan seperti, seorang visioner, menginspirasi, brilian, bebas dan cepat.
Hal menakjubkan tentang pandangannya, fokus grup dan riset pasar hanya membatasi kemampuan seseorang untuk berinovasi. Ketika ditanya berapa banyak penelitian yang dilakukan saat Apple mengawal iPad, ia menjawab "Tidak ada. Itu bukan pekerjaan konsumen untuk tahu," tukas Jobs, saat masih hidup.
Sebaliknya, iPad tercipta melalui intuisi Jobs sendiri. Sama halnya ketika ia meluncurkan Macintosh, seorang reporter dari Popular Science bertanya, apa jenis penelitian yang Apple lakukan untuk memastikan ada pasar untuk produk komputer.
Dengan nada yang sedikit tersinggung, Jobs membalas dengan pertanyaan "Apakah Alexander Graham Bell melakukan riset pasar sebelum ia menemukan telepon?," demikian tukasnya.
2. Bill Gates
Ia menjalankan Microsoft hingga berhasil mencatat penjualan sebesar US$ 69,9 miliar dengan market value US$ 273,5 miliar. Memiliki jumlah karyawan 90.000 orang, motonya dalam bekerja adalah : Temukan orang yang sangat cerdas dan ciptakan tim yang kecil.
Bill Gates bisa digambarkan sebagai salah satu pengusaha yang luar biasa dan memiliki kesempatan mengubah dunia dua kali dalam satu masa kehidupan.
Pertama, sebagai orang yang sangat berpengaruh di dunia khususnya teknologi informasi, ia menciptakan revolusi komputer pribadi. Saat ini ia menjadi seorang yang sangat dermawan dan memiliki perhatian besar di masalah kesehatan dan dunia pendidikan.
Fokusnya adalah memburu orang cerdas untuk dijadikan sebuah tim kecil yang akan memecahkan masalah besar. "Dalam hal IQ, anda harus menjadi seorang yang pemilih siapa saja yang layak mengembangkan perangkat lunak," ucap Gates.
Lalu pada siapa pilihannya jatuh? orang-orang yang dianggap cerdas adalah yang bisa memetik. Maksudnya, pilihan Gates jatuh pada teman-teman dekatnya seperti Paul Allen dan Steve Ballmer.
"Sangat penting memiliki seseorang yang benar-benar anda percaya, berkomitmen total, bisa berbagi visi namun memiliki keterampilan yang berbeda yang bisa melengkapi sesuatu pada diri kita," ulasnya.
Berdiskusi dengan teman yang cerdas, dalam pandangannya tak hanya membuat bisnis lebih menyenangkan tetapi sekaligus membuahkan banyak keberhasilan.
3. Fred Smith
Meski pengusaha paling menakjubkan urutan pertama dan kedua dikuasai di bidang IT, Fred Smith menjadi sosok berbeda di urutan ketiga. Bersama FedEx, jaringan perusahaannya sudah berakar hingga ke berbagai benua.
Tahun lalu, pendapatan FedEx mencapai US$ 39,3 miliar dengan market value sebesar US$ 30 miliar. Memiliki 255.573 karyawan, Smith memiliki prinsip "Kesuksesan berada di level manajer utama".
Kisah Smith sejatinya muncul dari sebuah gagasan Federal Express dalam sebuah makalah yang dibuatnya di Universitas Yale. Sayang makalah yang berisi gagasannya mengirimkan barang secepat kilat justru dinilai tak masuk akal.
Tak peduli, ia justru makin giat mengukir mimpinya dalam sebuah perusahaan pengiriman. Walhasil, FedEx saat ini menguasai hampir separuh pangsa pasar jasa pengiriman di dunia.
"Semuanya saya pelajari saat berada di korps marinir zaman perang Vietnam," ujarnya.
4. Jeff Bezos
Siapa yang tak kenal dengan Amazon? Bezos merupakan pencetus situs jual beli secara online ini. Dengan total pendapatan US$ 48,1 miliar, tahun lalu Amazon punya market value US$ 84 miliar. Memiliki 56.200 karyawan, prinsip bisnis Bezos adalah Take regular mini-retreats.
Awalnya ia adalah vice president di sebuah hedge fund New York yakni D.E Shaw. Saat berdiskusi dengan bosnya mengenai peluang bisnis ecommerce, ia hanya mendapatkan tanggapan "Sebuah ide yang bagus, namun bagus dijalankan bagi seseorang yang belum memiliki posisi yang bagus seperti mu,".
Mengabaikan pendapat sang bos, ia memutuskan berhenti dan melanglang ke Seattle. Setelah meluncurkan Amazon 1994, jatuh bangun mewarnai usahanya. Butuh waktu hingga enam tahun bagi Amazon untuk mencetak untung di kuartal pertama.
Pria berusia 48 tahun ini sebenarnya tak memiliki keyakinan penuh terhadap temuannya. "Tapi, semuanya dimulai di sini dan berakhir di situ, yakinlah sebuah kegagalan berawal saat anda lupa akan x, y dan z kemudian anda melangkah mundur. Akan berhasil jika mengakuinya dan mulai bangkit untuk membangun," ujarnya.

Sumber:
http://internasional.kontan.co.id/news/12-wirausaha-paling-berhasil-di-dunia-1/?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Wednesday, March 21, 2012

Dari Nol Bangun Bisnis Kuliner

Views :320 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 21 Maret 2012 09:06
oceanresto0312Orang boleh bermimpi menjadi pengusaha sukses dan kaya. Tapi, jika tidak dibarengi keuletan, kerja keras, berdoa, serta keyakinan mimpi itu tak bakal menjadi kenyataan. Cerita pasangan suami-istri Jovinus Kusumadi dan Angely Chaery bisa jadi referensi bagaimana merintis usaha dari bawah, dan mewujudkan mimpi itu.

Pemilik restoran terkenal Oceans Resto, Kedai Mamad, Selat Makasar, Sop Konro, dan Waroeng Ijo ini baik di Balikpapan maupun kota-kota besar lain di Kalimantan, benar-benar merintis usaha dari nol besar. Keduanya merasakan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Jovinus berperan sebagai pemilik mimpi, istri tercintanya mendampingi, memberi semangat, serta membantu mewujudkannya bersama-sama. Pasangan ini pertama kali merantau ke Balikpapan 2002 silam dari Makassar. Jovinus merupakan warga keturunan Hongkong yang sudah lama menetap di Makasar, begitu pun pula Angely.

Jovinus yang selama ini bekerja sebagai penyortir ikan laut, rela sehari semalam duduk di tepi pantai Losari Makassar, menunggu ikan segar kemudian dibawa ke tempat dia bekerja. Setelah itu, perusahaan tempatnya mencari nafkah mengekspor ke Hongkong. Selama bekerja di perusahaan itu, dia punya mimpi, suatu saat akan membuka restoran dengan menu ikan segar.

“Suami saya bercerita punya mimpi ingin buka restoran di Balikpapan. Padahal, bagi kami berdua itu merupakan hal yang baru. Membuka restoran dengan ikan-ikan segar. Setelah dipikirkan, kami berdua pun merantau ke Balikpapan tanpa memiliki keluarga dan teman. Suami berhenti bekerja di perusahaan tadi,” katanya, mengenang.

Dengan usaha tekad, keuletan serta tak pernah mengeluh, restoran akhirnya bisa berdiri. “Suami saya bertugas di lapangan, saya lebih banyak adminitrasi serta urusan di rumah tangga saya sendiri,” tuturnya saat ditemui di Ocean Resto, ruko Bandar, Jalan Jendral Sudirman, Balikpapan.

Jovinus menceritakan, ide membuka restoran, awalnya  selain keluarganya ga ada yang setuju juga sang istri. “Semua tidak setuju karena saya tidak ada back ground bidang kuliner. Tapi saya tetap menjalani visi saya,” imbuhnya.

Angley yang pernah dua tahun bekerja di salah satu bank swasta di Makassar dan melanjutkan studinya di Curtin University di Australia ini, ilmunya dimanfaatkan untuk mendukung usaha suaminya. Sebab, untuk seukuran restoran beromzet puluhan juta setiap hari, dibutuhkan ketelitian serta manajemen pengelohan yang baik dan profesional.

Tahun-demi tahun kemajuan pun tak terduga, Angley dan suami bisa membuka empat cabang lagi dan memiliki ratusan karyawan serta manajer-manajer handal. Dia pun setiap harinya harus mampu mengatur waktu mengurus seluruh kebutuhan hingga mengawasi karyawan.  Tak kalah penting, dia juga menjalankan peran sebagai istri dan ibu ketiga anak-anaknya.

“Inspirasi dari suami saya, jangan pernah mengeluh capek saat bekerja dan punya keyakinan pasti bisa berhasil. Ini juga saya terapkan pada ketiga anak saya,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Seiring waktu berjalan membangun  usaha, banyak suka dan dukanya. Dukanya, waktu untuk berdua menjadi bekurang. Sebab, Angley punya aktivitas sendiri, berbelanja memenuhi kebutuhan restoran, mengantar anak sekolah serta menemani belajar. (*/Kaltimpost.co.id)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/15416-dari-nol-bangun-bisnis-kuliner.html

Prayitno, Raup Untung dari Olahan Lele


Views :202 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 21 Maret 2012 11:14
Setiap bagian tubuh ikan lele ternyata bisa diolah menjadi aneka pangan yang enak dan bergizi. Produk olahan ini diharapkan mampu meningkatkan citra ikan lele hingga setara nila dan ikan konsumsi harian lainnya. Pecel lele, siapa tak kenal? Harga ikan lele yang murah dibanding ikan konsumsi lainnya membuat pecel lele menjadi santapan populer yang mudah ditemui di warung-warung tenda pinggir jalan di seluruh Indonesia.

keripik_leleNamun, apa yang kami temui di pameran Adikriya Indonesia 2012 di Jakarta Convention Center (JCC) belum lama ini, sungguh berbeda. Dalam pameran tersebut, ikan lele tersaji dalam bentuk aneka camilan gurih dan renyah. Sebut saja keripik lele, keripik kulit lele, keripik sirip lele (crispy fin), dan abon lele dengan pilihan rasa pedas, manis atau gurih. Aneka olahan serba lele ini dapat ditemui di stan Usaha Kecil Menengah (UKM) bernama ”alang-alang 37”.

”Kami asalnya dari Desa Tegalrejo, Boyolali,” ujar Prayitno, sang pemilik stan yang juga pembudidaya lele di Boyolali, Jawa Tengah.

Menurut Prayitno, di Tegalrejo banyak terdapat tambak atau kolam ikan lele lantaran sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pembudidaya lele. Tak heran, tahun 2006 desa ini dinamai Kampung Lele oleh Mardiyanto, gubernur Jawa Tengah saat itu.

Setahun kemudian, Kampung Lele juga mendapat kunjungan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Prayitno yang memulai budidaya lele sejak 1994 mengaku sulit menghilangkan citra lele sebagai ikan kotor yang senang hidup di air kotor atau berlumpur. Dengan citra itu, sulit bagi ikan berpatil ini untuk menembus konsumen pasar modern, restoran besar, apalagi hotel.

Karena itu, salah satu cara agar pamor lele bisa naik kelas adalah melalui produk olahan berbahan dasar ikan lele. ”Pameran seperti Adikriya ini sangat bermanfaat agar aneka produk olahan lele lebih dikenal luas, sehingga citra lele sebagai ikan kotor pelan-pelan hilang. Intinya, kami ingin supaya lele naik kelas seperti nila dan ikan lainnya,” tandasnya.

Menurut Prayitno, produk olahan lele lebih menguntungkan karena harganya lebih stabil dibanding harga lele segar yang naik-turun.

Pihaknya selaku produsen lele olahan juga turut membantu para pembudidaya lele dengan menampung lele-lele segar yang tidak bisa dijual ke agen lantaran ukurannya tidak sesuai untuk konsumsi. ”Lele segar yang ditujukan untuk konsumsi langsung, misalnya untuk pecel lele, biasanya ukurannya tertentu. Jadi, ikan lele yang ukurannya terlalu besar atau kecil kami tampung untuk diolah menjadi berbagai macam produk,” beber Prayitno yang bersama keluarga besarnya mengelola 600 kolam ikan lele.

Prayitno juga tidak sendirian dalam menjalankan roda bisnis ”alang-alang 37”. Sang istri, Tri Wahyuni, yang justru sejak awal membidani aneka produk olahan lele, sementara dirinya berfokus pada budi daya ikan lele. Tri Wahyuni mengungkapkan, awal mula ia menggeluti produksi makanan olahan serbalele pada Maret 2007. Produk perdananya adalah abon ikan lele. ”Kami ingin membuat abon yang tanpa meninggalkan citra ikan itu sendiri. Kami pelajari proses pembuatannya secara autodidak, lalu dipraktikkan. Jadilah abon lele dengan citarasa enak,” ujarnya.

Sukses dengan abon dari lele, Tri mengembangkan produknya dengan memanfaatkan semua bagian tubuh lele. Mulai daging, kulit, dan sirip lele yang diolah menjadi keripik renyah hingga duri lele yang dijadikan tepung ikan. Ada pula produk terbaru, yakni ikan lele asap. Selain penambahan produk, kemasan produk pun terus berkembang. Bermula dari kemasan plastik polos, meningkat menjadi plastik tebal yang disablon, lalu berkembang menjadi kemasan karton dan aluminium foil.

Persyaratan seperti nomor izin produksi, POM, label halal, hingga komposisi dan informasi nilai gizi juga tercantum lengkap di kemasan. ”Saya bersama kelompok perajin wanita yang menekuni usaha pengolahan ikan selama ini banyak mendapat penyuluhan dari dinas terkait setempat, termasuk soal pengemasan produk. Dari LIPI juga pernah melakukan uji kandungan gizi produk olahan lele kami,” tuturnya.

Perbaikan kemasan produk lele olahan itu juga sebagai upaya menarik konsumen menengah ke atas. Alhasil, jika awalnya Tri hanya memasarkan produknya dengan cara menitipkan di warung dan toko terdekat, kini produk olahan lele ”alang-alang 37” sudah bisa ditemui di supermarket modern seperti Carrefour dan Hypermart di berbagai kota, mal besar seperti Grand Indonesia di Jakarta, hingga toko oleh-oleh di Bandara Adisumarmo, Solo.

Dengan dibantu 12 karyawan, saat ini ”alang-alang 37” mampu memproduksi olahan lele hingga 1,6 ton per bulan. Proses produksi dilakukan di dua lokasi workshop, yakni di Desa Tegalrejo dan Ringinsari, Boyolali. Omzet pun perlahan meningkat menjadi sekitar Rp30 juta–40 juta per bulan. (*/Harian Seputar Indonesia)

http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/15423-prayitno-raup-untung-dari-olahan-lele.html

Wednesday, March 14, 2012

Umar Gunawan, Sukses Kembangkan Agrobisnis Durian Montong

Views :312 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 14 Maret 2012 11:22
durianmontongPepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya cocok disematkan pada sosok Umar Gunawan. Betapa tidak, usaha durian montong warisan orangtuanya berhasil dikembangkan. Kini dia menghasilkan omzet Rp 3 miliar per bulan.

Setiap harinya pengunjung silih berganti datang menawar di Jalan Urif Sumoharjo, tepat di seberang jalan depan rumah Sakit Awal Bros Makassar. "Usaha ini saya jalani sejak SMA," kata Umar memulai kisahnya dalam menggeluti dunia usaha durian montong.

Meski usaha yang dijalani bapak satu anak itu terbilang usaha yang dia lanjutkan dari orang tuanya, namun berkat kegigihan dan keuletannya dia bisa mengembangkan dengan menjadi suplai durian montong pada hampir semua tokoh buah di Makassar. Termasuk mensuplai durian untuk mal.

Saat ini alumni Fakultas Ilmu Sisial dan Politik Unhas itu mampu membukukan omzet hingga ratusan juta bahkan miliaran rupiah setiap bulan. "Kalau panen tidak terganggu, omzet bisa mencapai sampai Rp 3 miliar setiap bulan," bebernya.

Di Sinjai tepatnya di Kelurahan Mannanti Kecamatan Tellu Limpoe Umar membudidayakan durian montongnya itu. Di atas tanah seluas delapan hektare keluarga Umar menanam lebih dari 1.000 pohon durian montong.

"Kami juga membudidayakan dan menyediakan bibit durian montong yang sudah mendapat sertifikat primatiga dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultra Sulsel. Durian kami bebas kimia," jelasnya.

Umar mengakui, jurusan yang selama ini digeluti semasa kuliah memang bertentangan dengan usaha yang dia jalani saat ini. Namun semua itu bukan tantangan. Baginya, sepanjang ada kemauan dan usaha serta niat yang ikhlas maka apapun yang dilakukan pasti mendatangkan berkah.

Dalam perjalanan karirnya, Umar bahkan sempat terlibat penuh di dunia hiburan. Dia sempat menetap beberapa bulan di Jakarta dan meninggalkan usaha durian montongnya. Tapi karena jiwa usaha yang sudah melekat, dunia band yang dia geluti itu tidak dia lanjutkan dan kembali ke Makassar menjalankan usaha durian montongnya.

Umar berharap, usaha durian montongnya ini bisa terus dikembangkan. Bahkan dia punya mimpi untuk mengolaborasikan usaha durian montongnya itu dengan makanan khas Makassar seperti Pallubasa dan sebagainya.

"Yang pastinya saya akan bertahan dengan usaha ini karena durian memiliki pecandu yang banyak," pungkasnya. (*/Fajar.co.id/AS)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/15222-umar-gunawan-sukses-kembangkan-agrobisnis-durian-montong.html

Friday, February 17, 2012

Kisah Sukses Suroto Kembangkan Padi Organik

Views :621 Times PDF Cetak E-mail
Jumat, 17 Februari 2012 10:24
Ketertarikan Suroto, warga Desa Sumberngepoh, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur menekuni padi organik bermula pada 1999, saat harga pupuk (kimia) melambung tinggi dan tidak terjangkau petani kecil. Dari situ kesadaran Suroto bangkit untuk mencoba mengembangkan pertanian organik tanpa butuh pupuk kimia.

padi_organik0212"Saya berpikir bahwa orang zaman dulu dalam bertani tanpa menggunakan pupuk kimia dan panennya padi melimpah. Buktinya beras pada zaman Kerajaan Majapahit menjadi komoditas penting hingga dikirim ke luar Jawa," ujarnya.

Semangat kembali ke alam itu lantas ditindaklanjuti Suroto dengan menggali informasi dari sesepuh desa tentang kearifan lokal dalam mengolah lahan. "Sawah itu sudah membawa pupuk sendiri. Contohnya damen (jerami) harus dikembalikan ke sawah," ujar Suroto menirukan saran dari sesepuh desa.

Petuah selanjutnya, pemilik sawah harus memiliki rojo koyo (hewan ternak berupa sapi, kerbau atau kambing). Sebab kotoran rojo koyo tersebut bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik.

Penjelasan sesepuh desa tersebut dijadikan Suroto sebagai bahan masukan yang sangat berharga. Tidak cukup dari situ, Suroto mencari informasi tambahan dengan mengikuti berbagai kepelatihan pengelolaan lahan ramah lingkungan yang diselenggarakan lembaga swasta maupun Pemerintah Kabupaten Malang.

Setelah semua informasi dipadukan, ia mengajak empat rekannya, yakni Sutarji, Buang, Supi'i, dan Mistono untuk memulai pertanian organik di sawah masing-masing. Pertanian organik akhirnya diterapkan lima petani yang memiliki lahan di lereng bukit atau kawasan paling atas di desa itu seluas 5 ha.

Mengawali sesuatu yang tidak lazim memang tidaklah mudah. Panen padi pertama kali yang dilakukan Suroto dan kelompoknya lewat metode pertanian organik hasilnya masih jeblok.

Sawah seluas 1,7 ha miliknya hanya menghasilkan 2,4 ton gabah. Padahal hasil panen sawah yang digarap dengan metode nonorganik bisa mencapai 7-9 ton.

Saat melihat kenyataan itu, Suroto tidak lantas putus asa. Musim tanam selanjutnya dia tetap menerapkan metode organik. Dan hasil panen yang kurang optimal itu dia sempat rasakan sampai tujuh kali musim tanam pada 1999-2003.

"Awalnya saya gagal. Banyak warga mencibir dan mencemooh. Mereka mengatakan bahwa saya petani bandel karena mengolah sawah tidak mau keluar modal," kenangnya.
Cibiran dan cemoohan tersebut tidak lantas membuat Suroto minder. Ia terus belajar untuk menimba teknik pertanian tradisional.

Selain ingin membuktikan kepada teman seprofesinya bahwa metode organik lebih berwawasan lingkungan dan hasilnya lebih bagus daripada nonorganik, Suroto punya tujuan agar petani di desanya bisa melepaskan diri dari belenggu ketergantungan pupuk kimia.

Hingga akhirnya memasuki 2003, sawah yang digarap Suroto sukses menghasilkan 9 ton gabah. Suroto semakin optimistis bahwa pertanian ramah lingkungan sangat efektif sekaligus menguntungkan.

Pasalnya hasil panen padi organik setelah dijual dalam bentuk beras langsung terserap pasar. Selain itu, karena pamor beras organik yang semakin tinggi, harganya di pasaran jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan padi nonorganik.

Ia mengisahkan, pada 2003 harga beras organik Rp3.600 per kg. Terus mengalami kenaikan harga sejak mahasiswa dan dosen Universitas Brawijaya, Malang, datang ke Desa Sumberngepoh untuk praktik kerja lapangan. Waktu itu, beras organik hasil panen Suroto terserap dengan harga Rp3.800 per kg. "Para dosen di Unibraw sekarang menjadi pelanggan tetap beras organik," ujarnya. Bahkan saat ini harga beras organik di pasaran bisa mencapai lebih Rp11 ribu per kg.

Keberhasilan Suroto mengembangkan padi organik itu pada akhirnya mendapat perhatian petani lainnya yang sebelumnya bersikap mencemooh. Hal tersebut dimanfaatkan Suroto untuk melakukan sosialisasi lewat pertemuan-pertemuan arisan antarpetani.

"Dari sinilah petani di Desa Sumberngepoh mulai tertarik dan yang mengembangkan pertanian organik bertambah dari lima orang menjadi 10 orang dengan total lahan seluas 11 ha. Jumlah petani organik di desa kami terus bertambah," ujarnya.

Manfaat lain, pertanian organik yang dirintis Suroto tersebut juga mengundang perhatian berbagai pihak. Bahkan sudah ada mahasiswa asal Jerman yang melakukan penelitian di Desa Sumberngepoh.

Kini desa yang dulunya tidak dikenal orang mulai dikenal berbagai kalangan dari daerah lain hingga mancanegara. Petani di Desa Sumberngepoh pun merasakan manfaatnya. Paling tidak padi organik produksi mereka dengan cepat terserap pasar dengan harga yang bagus. Dengan mengembangkan padi organik tersebut, para petani di desa tersebut juga mengakui bahwa pendapatan mereka meningkat dan tidak pusing memikirkan harga pupuk kimia yang harganya tidak menentu dan terlalu mahal. (*/mediaindonesia.com)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/14479-kisah-sukses-suroto-kembangkan-padi-organik.html