Friday, December 14, 2012

Mentalitas Never Grateful

KIAT MANAJEMEN: Mentalitas Never Grateful

Compact_gratefull ---Mereka tidak mau memberi, tetapi selalu ingin menerima. Akibatnya, orang ini selalu komplain tatkala menerima hal yang kurang daripadanya

Pembaca, mungkin Anda pernah membaca kisah ini. Ada seorang gadis buta yang setiap hari selalu berkeluh kesah soal kondisi dirinya. Ia amat membenci cacatnya. Ia tidak hanya membenci kondisinya tapi juga membenci orang-orang disekitarnya. Mengutuk nasibnya.

Beruntungnya gadis buta ini punya seorang kekasih yang amat mencintainya. Kekasihnya itu, selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Akhirnya, si kekasih itu berjanji bahwa si gadis itu akan dinikahinya, tatkala gadisnya itu sudah bisa melihat.

Dan suatu hari, gadis itu mendapat berita gembira bahwa ada seseorang yang berbaik hati mendonorkan sepasang mata kepadanya. Dan berkat donor itulah, singkat kata, kebutaan gadis itu bisa disembuhkan. Akhirnya, si gadis itupun bisa melihat dunia kembali. Saat itu, untuk pertama kalinya pula ia bisa melihat wajah kekasihnya.

Namun,  betapa kagetnya ia, karena kekasihnya itu ternyata buta. Lebih-lebih lagi si kekasihnya berkata, “Sayangku, sekarang kamu sudah bisa melihat. Bersediakah engkau menikahiku?” Si gadis itu sangat tergoncang hatinya dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa si pacarnya ternyata buta. Akhirnya, si gadis itu menolak mentah-mentah kekasihnya dan menyuruhnya pergi.

Lalu dengan sedih si kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata. Namun, sebelum akhirnya kakekasihnya pergi, tidak lupa ia menitipkan sebuah surat, “Sayangku, aku sudah bersiap-siap seandainya kamu tidak bisa menerima keadaanku yang sekarang. Tetapi, tolonglah kamu jaga baik-baik kedua bola mataku yang telah aku berikan kepadamu.”

Gadis itupun hanya bisa menangis menyadari kebodohannya. Ia sadar, betapa besar pengorbanan kekasihnya selama ini. Tapi, kekasihnya telah pergi selamanya dan ia menyesal telah melukai hati kekasihnya.

Begitulah kisah yang mungkin pernah Anda baca. Namun, tahukah Anda ada versi lain kisah tersebut? Di akhir kisahnya yang dicetak tebal, ada lagi versi yang bunyinya begini: Gadis itupun membaca lebih teliti suratnya kekasihnya. Kaget sebentar tatkala ia menyadari kejadian yang sesungguhnya. Namun, selanjutnya ia.....meremas-remas surat kekasihnya itu dan membuangnya ke tong sampah!

Versi kisah pertama adalah versi yang banyak diceritakan dalama kisah-kisah inspirasional. Saya teringat bagaimana saya terisnpirasi dengan kisah pertama tersebut. Namun kenyataannya, dunia sehari-hari yang kita saksikan bukanlah dunia yang selalu bersikap manis terhadap kebaikan. Bahkan, kebaikan yang kita lakukan justru dilihat sebagai kelemahan dan justru dimanfaatkan.

Bahkan dalam konteks pekerjaan, ada seorang pebisnis yang berkisah, “Beberapa tahun yang lampau. Ada seorang managerku. Saat itu, aku menerimanya karena ia sedang jobless karena PHK besar-besaran. Ia tidak mengerti sama sekali bidang pekerjaan ini. Maka, dari nol saya mengajarinya. Beberapa tahun bekerja, ia sudah jadi pintar dan mengerti seluk-beluknya. Setelah itu dengan berbagai alasan ia mulai bertingkah dan akhirnya iapun keluar dari perusahaan ini. Lebih parah lagi, customer kami dibawanya kabur dan ia pun mendirikan perusahaan tandingan. Sungguh tidak tahu berterima kasih”. Pebisnis itupun bertanya kepada saya, “Mengapa ada manusia yang demikian?”

Antiklimaks

Mengapa ada manusia yang demikian? Tentu saja ada dan jumlahnya pun bisa jadi, cukup banyak. Nah, satu-satunya cara untuk memahami orang yang sulit berterima kasih ini adalah mencoba membedah kondisi psikologis mereka. Biasanya, pertama, manusia yang demikian dibesarkan dalam lingkungan yang sulit untuk berterima kasih. Mereka pun biasanya, sangat lumrah melihat dalam kehidupannya, orang-orang yang tidak tahu berterima kasih, orang-orang yang seringkali membalas air susu dengan air tuba bahkan kerapkali menyaksikan penghianatan dalam kehidupan mereka.

Tak heran, mentalitas seperti inipun menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Dan parahnya, secara sadar bisa saja orang-orang seperti ini mengutuk perilaku begitu, tetapi dalam kondisi kepepet biasanya orang seperti ini tidak akan punya rasa penghargaan bahkan mampu mengkhianati orang yang berbuat baik padanya.

Selanjutnya kepada si pebisnis itu saya menceritakan sebuah fakta menarik tentang kehidupan orang-orang yang tidak tahu berterima kasih ini. Cobalah kita salami bagaimana tuntutan dan kondisi mental mereka? Pertama-tama, orang seperti ini akan terus-menerus menuntut dan mengharapkan hal-hal yang baik terjadi dalam hidup mereka.

Mereka tidak mau memberi, tetapi selalu ingin menerima. Akibatnya, orang ini selalu komplain tatkala menerima hal yang kurang daripadanya. Realitanya, tidak semua orang akan berbuat baik kepadanya. Merekapun menjadi marah dan menuntut. Dan kehidupanpun, ternyata tidak berlangsung seperti harapannya. Nilai kehidupan orang seperti inipun diantara minus hingga nol.

Artinya, yang ada hanyalah komplain dan tuntutan. Tatkala orang berbuat baik baginya, nilaipun hanya nol. Dan, ia terus-merus menuntut lagi dari orang-orang dan lingkungannya. Maka, orang yang demikian tidak pernah ada puas-puasnya dan tidak punya rasa bahagia atas apa yag diterimanya. Sungguh, akhirnya kita melihat orang yang perlu dikasihani.

Si pebisnis saya saya ceritakan, hanya tersenyum lantas berkata, “Iya betul juga sih Pak. Toh akhirnya bisnis yang dijalankan hanya begitu-begitu saja setelah bertahun-tahun lewat, dan beberapa pelanggan yang diambilnya, akhirnya kembali juga kepada kami”.

Jangan Ter-demotivasi

Ibu Teresa Calcuta pernah punya satu puisi panjang yang diantaranya berbunyi, “Meskipun ada orang tidak pernah mengatakan terima kasih atas apa yang kamu lakukan, tetaplah lakukan kebaikan”. Dan menurut saya pun, dorongan melakukan hal yang baik, tidak perlu terpupus hanya gara-gara manusia tidak tahu berterima kasih yang hidup di sekitar kita.

Mau tahukah Anda, bagaimana kira-kira kehidupan si kekasih yang buta matanya setelah mendonorkan matanya? Alkisah, si pemuda itu kemudian mendirikan sebuah yayasan untuk menolong orang-orang buta, bahkan akhirnya ia pun menikah dan punya sebuah keluarga yang amat menyayanginya. Dan si pemudi itu, ia akhirnya menikah dengan suami yang sangat ganteng dan kaya raya, tetapi kemudian harus puas dengan hanya menjadi istri yang kesekian!  Tuh kan? (msb)

http://www.bisnis.com/articles/kiat-manajemen-mentalitas-never-grateful

Mencicipi gurihnya laba kemitraan sushi

TAWARAN KEMITRAAN

Mencicipi gurihnya laba kemitraan sushi

Masakan khas Jepang sudah lama populer di kalangan pencinta kuliner di Indonesia. Salah satunya adalah sushi. Buktinya, gerai makanan Jepang yang menjadikan sushi sebagai menu utama kini semakin gampang ditemukan, mulai di mal hingga pinggir jalan.
Lantaran banyak peminat, bisnis kuliner khas Negeri Sakura ini tak pernah sepi dari pemain baru. Salah satu pemain di bisnis ini adalah Ade Yoga yang mengusung merek usaha Yumiko Sushi di Pondok Pinang, Jakarta Selatan.
Berdiri tahun ini, Yumiko Sushi langsung menawarkan kemitraan. Lantaran baru, Yoga masih belum memiliki mitra usaha. "Tapi tahun depan, kami optimistis bisa mendapatkan mitra yang produktif dan bisa mengembangkan usaha ini," katanya.
Usaha yang mengusung konsep kios dan kafe ini menyediakan menu sushi dengan 15 varian rasa. Selain sushi, juga tersedia menu Jepang lainnya, seperti bento, sabu-sabu, dan yakiniku.
Aneka makanan Jepang ini dibanderol seharga mulai Rp 12.000 hingga Rp 30.000 per porsi. Dalam kerjasama kemitraan ini, Yumiko Sushi menawarkan dua paket investasi. Pertama, paket dengan investasi Rp 50 juta.
Paket ini belum termasuk bahan baku awal. Mitra akan mendapatkan satu unit booth dan peralatan lengkap untuk membuat sushi. "Model paket ini seperti kios cake," ujar Yoga.
Dengan paket ini, Yoga menjanjikan omzet mitra sekitar Rp 1,5 juta per hari, atau Rp 45 juta per bulan. Gerai ini hanya menjual sushi.
Kedua, paket dengan investasi Rp 75 juta. Paket ini mengusung konsep kafe. Mitra akan mendapatkan booth yang ukurannya lebih besar dan peralatan lengkap. Sama dengan paket pertama, paket ini juga belum termasuk bahan baku awal.
Namun, menu jualannya lebih lengkap. Selain sushi, juga ada bento, sabu, dan yumiko. Yoga menargetkan omzet mitra Rp 2 juta per hari, atau Rp 60 juta per bulan.
Dalam kemitraan ini, Yoga tidak memungut royalty fee. Tapi, jika mitra menyerahkan pengelolaan manajemen usahanya kepada kantor pusat, ada biaya manajemen (management fee) sebesar 5% dari omzet.
Untuk kedua paket ini, Yoga menjanjikan laba bersih mitra sebesar 20%-30% dari omzet. Dengan laba tersebut, mitra bisa balik modal dalam waktu enam bulan hingga satu tahun setelah beroperasi.
"Kami akan menambah variasi menu makanan sekali tiga bulan agar pelanggan tidak bosan," ungkapnya.
Khoerussalim Ikhsan, pengamat waralaba dari Entrepreneur College, menilai bisnis makanan Jepang masih menjanjikan di Indonesia. Makanan khas Jepang ini banyak peminat, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.
Penyuka makanan Jepang ini kebanyakan berasal dari masyarakat kelas menengah ke atas dan pekerja kantoran.
Namun, bila usaha ini masih baru dan belum memiliki mitra, saran Salim, sebaiknya pemilik Yumiko Sushi memperbanyak cabang sendiri dulu. "Hal itu penting untuk menguji tingkat kelayakan usaha ini," katanya.
Bila sudah terbukti sukses, usaha ini akan lebih mudah menawarkan kemitraan.     

Yumiko Sushi
Jl Haji Saikin Gg. Babsel
No 25 Pondok Pinang,
Jakarta Selatan
Hp: 0857-8167-0818

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/mencicipi-gurihnya-laba-kemitraan-sushi

Ini Trik Pemasaran 'Gatot Kaca' ala Hermawan Kartajaya


Zulfi Suhendra - detikfinance
Kamis, 13/12/2012 20:11 WIB
Jakarta - CEO Markplus Hermawan Kertajaya memiliki trik khusus dalam mengembangkan dan memasarkan suatu produk, baik itu barang atau jasa. Hermawan menyebutnya sebagai trik Marketing 'Gatot Koco'.

"Untuk orang marketing ini apa yang harus dilakukan, harus jadi Gatot Koco, Gatot Koco ini simbol marketing dan innovation. Dia bisa terbang itu pakai teknologi, tapi teknologi zaman dulu, tapi tetap manusia," ungkap Hermawan saat ditemui detikFinance di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Kamis (13/12/2012).

Dia memaparkan, teknologi memang sangat dibutuhkan saat ini, khususnya untuk sebuah trik pemasaran. Dia merinci, ada 13 poin penting yang harus dilakukan seorang yang hendak memasarkan sesuatu.

Poin ke-1 menurut Hermawan ialah konektivitas. Seorang marketer harus memiliki hubungan yang baik dengan semua orang, karena menurut Hermawan, itulah poin penting dalam strategi pemasaran.

"Kalau marketer nggak terhubung mau bagaimana. Yang ke-2 carilah community atau bentuklah community, lalu ke-3 buatlah supaya anda diterima, itu adalah confirmation," paparnya.

Dia melanjutkan, poin ke-4 adalah klarifikasi (clarification). Dia menjelaskan, seorang marketer harus menjelaskan siapa diri dia sebenarnya agar lebih dikenal. Ke-5 ialah modification atau memiliki perbedaan daripada yang lain.

"Ke-5 modification, harus betul-betul punya perbedaan yang otentik, seperti Santika itu punya hotel betul-betul orang Indonesia," katanya.

Poin ke-6 menurut Hermawan adalah dapat memberikan kesempatan atau lapangan kerja bagi orang lain. Kemudian Ke-7 adalah currency (mata uang, valuta). Ke-8 adalah communal activation, maksud Hermawan di sini ialah memanfaatkan jaringan, tempat, dan komunitas yang ada.

"Ke-9 adalah conversation (percakapan), jangan promosi," tegasnya yang juga seorang motivator marketing ini.

Hermawan melanjutkan, poin ke-10 adalah komersialisasi. Lalu ke-11 adalah hal yang wajib untuk membuat sebuah karakter produk atau jasa yang ditawarkan. Menurutnya, merek bukanlah hal yang begitu penting, yang penting adalah sebuah karakter.

Ke-12 dikatakan Hermawan adalah care (kepedulian). Kemudian yang terakhir ialah collaboration, menurutnya sebuah trik pemasaran jika dikerjakan sendiri hasilnya tak akan maksimal. Oleh karena itu harus melibatkan orang lain.

"Kalau ke 13 poin itu bisa dilakukan semua, akan konkret marketing itu. Intinya yang menggunakan teknologi," cetusnya.



(zul/dnl)
http://finance.detik.com/read/2012/12/13/201152/2118102/4/ini-trik-pemasaran-gatot-kaca-ala-hermawan-kartajaya

Tips Agar Pelanggan Anda Tetap 'Lengket'



Klinik UKM
Iim Rusyamsi, S.T.
Pakar Usaha Kecil Menengah
Chairman UKMSukses.com
Co-Founder Komunitas TDA
Wakil Ketua Komtap UKM KADIN Indonesia
Koordinator Wilayah Tengah

Tips Agar Pelanggan Anda Tetap 'Lengket'

Iim Rusyamsi - detikfinance
Jumat, 14/12/2012 10:45 WIB
Jakarta - Saya mempunyai bisnis jasa yang sangat erat dengan kepercayaan pelanggan. Kami sering sekali melakukan kesalahan dalam berkomunikasi dengan pelanggan sehingga pelanggan tidak percaya lagi dengan kami dan sulit kami hubungi kembali.

Bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan pelanggan agar bisnis kami bisa kembali mendapatkan kepercayaan pelanggan.


Salam
Mira Suprapti
Surabaya

Jawab:

Menjaga hubungan komunikasi dengan pelanggan adalah penting. Dan kesuksesan kita dalam berkomunikasi dengan pelanggan akan membawa kesuksesan pada bisnis kita. Apalagi untuk bisnis jasa, yang sangat perlu dijaga kepercayaan pelanggannya.

Beberapa tips agar pelanggan bisa terus berkomunikasi dan menjaga kepercayaan bisnis dengan kita:

1.Pelanggan bukanlah target penjualan anda. Membangun hubungan yang baik dengan pelanggan adalah lebih penting dibanding menjadikan mereka target penjualan anda. Jika hubungan kita baik maka apapun yang kita tawarkan, mereka akan lebih membeli dari kita.

2.Berkomunikasi dengan pelanggan tidak harus selalu berjualan. Batasi percakapan dengan selalu menawarkan produk/jasa anda. Bercakaplah hal-hal yang memberikan pelanggan anda mendapatkan manfaat untuk mereka. Percakapan yang berarti dan memberikan solusi kepada pelanggan, membuat pelanggan akan percaya dan melirik untuk membeli produk/jasa anda.

3.Jadikan pelanggan anda sahabat. Persahabatan yang bermanfaat akan menghasilkan kepercayaan yang tinggi. Berhubungan dengan pelanggan sebaiknya menjadikan mereka sahabat dan teman anda, yang memberikan solusi untuk mereka.

4.Jadilah pendengar terbaik. Berkomunikasi dengan pelanggan, 90% adalah mendengarkan apa yang mereka sampaikan. Pelanggan akan bercakap apa yang mereka hadapi dan butuhkan. Selebihnya anda hanya memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhannya.

5.Namun perlu diingat, dalam memberikan solusi, anda bukanlah orang satu-satunya yang dapat memberikan solusi kepada pelanggan. Pelanggan tentu juga akan mempertimbangkan dan mencari pembanding. Tetaplah menjaga komunikasi dan utamakan “emotional benefit” yang bisa anda berikan kepada pelanggan anda.

6.Menjaga komunikasi yang terbaik adalah dengan memberikan apa yang anda janjikan. Berikanlah apa pun yang telah anda janjikan, sedikit ingkar janji kepada pelanggan, fatal akibatnya untuk bisnis anda.

Semoga bermanfaat.




(hen/hen)
http://finance.detik.com/read/2012/12/14/104053/2118418/1340/tips-agar-pelanggan-anda-tetap-lengket 

4 Trik Promosi Efektif

Hits : 2751 PDF Cetak E-mail
Jumat, 14 Desember 2012 10:10
adv1211Promosi merupakan kegiatan yang sangat penting untuk kelangsungan usaha Anda. Pasalnya, promosi merupakan suatu kegiatan untuk menginformasikan dan mempengaruhi calon konsumen sehingga tertarik untuk mengunakan produk barang ataupun jasa kita. Dengan banyaknya orang yang tertarik, tentunya akan membuat tingkat pendapatan perusahaan meningkat.

Dalam promosi diperlukan strategi khusus agar dapat berjalan efektif dan efisien. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan promosi yang disarikan dari entrepreneur.com:

1. Target pasar

Tentukan siapa sebenarnya target pasar yang akan disasar. Dengan penentuan yang tepat, peluang Anda mendapatkan konsumen baru akan semakin besar.

2. Tempat promosi

Setelah mengetahui target pasar, selanjutnya tentukan di mana target tersebut beraktivitas ataupun bersosialisasi. Di sana Anda dapat memasang iklan atau membagikan brosur.

3. Kekuatan produk

Tawarkan produk atau jasa yang yang menjadi solusi kebutuhan target pasar. Semakin solusi yang ditawarkan sama dengan kebutuhan target pasar maka akan banyak transaksi yang Anda dapatkan.

4. Keunggulan dibanding pesaing

Pastikan produk Anda memiliki nilai tambah dibanding produk sejenis. Misalnya, pelayanan yang diberikan oleh karyawan penuh dengan suasana kekeluargaandan ada jaminan penggantian apabila produk yang dibeli bermasalah.

Dengan menerapkan empat hal di atas, akan berpengaruh positif terhadap penjualan Anda. Selamat mencoba!

http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/175-penjualan-dan-pemasaran/13600-trik-promosi-efektif.html

Thursday, December 13, 2012

Cara Menghadapi "Interview" Dadakan


Penulis : Christina Andhika Setyanti | Kamis, 13 Desember 2012 | 08:46 WIB

Saat wawacara jangan lupakan tanggal Anda melamar pekerjaan dan tanggal hari ini. Ini bisa jadi bukti keseriusan Anda bekerja.
KOMPAS.com - Saat masih mencari pekerjaan, Anda dituntut untuk selalu siap menghadapi panggilan wawancara. Toh, biasanya panggilan wawacara dijadwalkan untuk beberapa hari ke depan. Anda pun masih punya waktu untuk mempersiapkan segala keperluannya. Tetapi bagaimana jika Anda menerima panggilan wawancara secara mendadak?

1. Pastikan CV selalu siap
CV dalam bentuk fisik (hard copy) akan selalu dibutuhkan ketika Anda datang ke wawancara pekerjaan. Tak masalah kalau Anda masih punya waktu untuk mencetak CV di rumah. Tetap ketika panggilan wawancara dadakan datang tiba-tiba, atau Anda diminta walk in interview, ada kemungkinan Anda tak sempat menyiapkan berkas-berkas CV dalam bentuk fisik.

Kebanyakan orang hanya menyimpan CV di komputer. Agar lebih efektif, biasakan untuk selalu menyimpan CV Anda dalam bentuk soft copy dan menyimpannya dalam flashdisk pribadi Anda. Cara ini akan memudahkan Anda jika sewaktu-waktu mendapat panggilan wawancara mendadak.

2. Siapkan pakaian cadangan

Anda tak akan pernah tahu kapan akan mendapat panggilan wawancara kerja. Bisa jadi hari itu juga Anda dipanggil wawancara. Kalau sudah begini, Anda harus siap sedia untuk memberi performa yang maksimal. Tak hanya siap dengan berkas-berkas CV dan menjawab pertanyaan dari pewawancara, tapi juga menunjukkan penampilan yang meyakinkan.

Walaupun Anda ada di rumah dan lebih bebas pilih pakaian, kadang panggilan wawancara yang mendadak bisa membuat Anda kebingungan memilih busana yang pantas dikenakan dan mewakili siapa diri Anda. Segera siapkan busana yang mencerminkan profesionalitas -business attire- yang akan digunakan untuk wawancara, mulai baju sampai celana dan tasnya. Akan lebih baik jika Anda punya cadangan lebih dari satu pasang baju.

3. Buat daftar perusahaan

Saat membuat aplikasi pekerjaan, seringkali Anda hanya membuatnya saja tanpa mengingat kemana saja surat lamaran telah Anda kirimkan. Buatlah daftar pekerjaan dan perusahaan yang sudah Anda kirimi lamaran pekerjaan, dari nama perusahaan, alamat, jabatan yang dilamar, dan kapan Anda mengirimkannya. Daftar ini berguna untuk membantu Anda mengingatkan kembali posisi yang Anda tuju, dan segala hal yang harus Anda persiapkan.

4. Riset
Sekalipun dadakan, bukan berarti Anda bisa datang begitu saja untuk wawancara. Selalu lakukan riset tentang jenis pekerjaan yang Anda lamar. Gunakan aplikasi dari ponsel Anda untuk mencari tahu semua informasi yang Anda butuhkan tentang perusahaan tersebut. Pengetahuan dasar tentang job description pekerjaan yang Anda incar dan latar belakang perusahaan yang bersangkutan akan sangat membantu Anda dalam wawancara.

5. Ingat tanggal
Saat sedang panik dan tegang bisa jadi Anda justru melupakan banyak hal, termasuk tanggal Anda melamar pekerjaan. Sebaiknya, lirik sebentar resume yang pernah dikirim untuk mengetahui kapan Anda melamar suatu pekerjaan. Mungkin hal ini terlihat sangat sepele, tapi bagi pewawancara bisa menunjukkan antusiasme, keseriusan, dan juga daya ingat Anda.


Sumber: The Daily Muse
Editor :
Dini

http://female.kompas.com/read/2012/12/13/08461724/Cara.Menghadapi.Interview.Dadakan.

CEO Berjiwa Sosial, Cukupkah?

KIAT MANAJEMEN: CEO Berjiwa Sosial, Cukupkah?

Compact_sosial ---- CEO yang memiliki jiwa sosial tinggi juga memiliki standar yang lebih tinggi dari rekan kerjanya di perusahaan.

Pertanyaan yang sering muncul di benak banyak pihak adalah seberapa penting jiwa sosial dari seorang CEO terhadap kesuksesan dari implementasi program CSR perusahaan. Memang, beberapa literatur dan seminar seputar peran CEO dalam CSR menunjukkan bahwa buy-in CEO terhadap program CSR dinilai penting.

Kesuksesan program CSR hanya bisa terjadi ketika CEO memberikan lampu hijau untuk penyelenggaraannya. Sejumlah literatur akademik pun juga bernada sama. Agle et.al (1999) misalnya, mengemukakan bahwa nilai (values) yang dianut oleh CEO memiliki peran yang cukup signifikan terhadap performa perusahaan.

Sementara, Godoz-Diez et.al (2011) yang melakukan penelitian terhadap lebih dari 100 CEO di Spanyol juga menemukan karakteristik-karakteristik tertentu yang menunjukkan kontribusi CEO pada performa CSR perusahaan. Yang menarik, salah satu temuannya menunjukkan bahwa persepsi CEO memiliki peranan penting dalam tahapan desain program CSR.

Hubungan antara CEO dengan performa CSR ini pun juga tercermin dalam penelitian yang dilakukan oleh Margiono et.al (2012). Dari survei yang dilakukan kepada hampir 100 CEO dan manajer senior dari perusahaan dalam dan luar negeri di Indonesia, ditemukan adanya gap antara persepsi CEO seputar strategi dan visi dengan implementasi dan performa.

Jurang ini menunjukkan bahwa senior manajer dari banyak perusahaan di Indonesia sebetulnya cukup confident dengan integrasi sosial di tingkat strategi dan visi, tetapi agak gamang saat memasuki wilayah implementasi dan performa.

Temuan menarik ini sebetulnya berimplikasi pada dua hal: pertama, CEO nampaknya tidak memiliki perangkat yang meyakinkan untuk melakukan eksekusi strategi sosial perusahaan secara terukur; kedua, para manajer madya nampaknya tidak memiliki perangkat yang meyakinkan untuk memastikan bahwa mereka dapat menjalin target bisnis dengan aspek sosial.

Jika ini semua betul, maka yang dibutuhkan oleh perusahaan di Indonesia adalah sebuah perangkat yang terukur untuk melakukan eksekusi strategi sosial secara optimal.  Beberapa kajian yang dilakukan oleh beberapa pihak, misalnya Figge et.al. (2002), menganjurkan perusahaan untuk mengadopsi Sustainable Balance Scorecard. Selain perspektif finansial, customer, internal process, dan learning and growth, para perancang strategi eksekusi di dalam perusahaan harus mulai juga memasukkan perspektif non-market yang dinilai relevan.

Adopsi ini pun untuk alasan strategis. Di balik kisah sukses Jack Welch saat menjabat menjadi CEO General Electric, ada cerita kelam yang jarang disampaikan. Esty dan Simmons (2011) menggambarkan bahwa Welch adalah seorang CEO yang tidak peduli masalah lingkungan hidup.

Di masa kepemimpinannya, GE sering dikecam oleh para pegiat lingkungan hidup karena pabriknya dianggap mencemari sungai Hudson dan Housatonic di Amerika Serikat. EPA, lembaga pemerintah yang mengurusi masalah lingkungan hidup, pun mengawasi GE dengan sangat ketat.  GE, saat itu harus menerima konsekuensi pilihan ini dengan secara berlarut-larut harus menghadapi tuntutan hukum dan berbagai hal lainnya.

Sikap Welch yang keras dan tidak mau mengikuti aturan lingkungan hidup, demi pertumbuhan perusahaan semata, juga mempersulit semuanya. Para kandidat karyawan dengan talenta yang berkualitas kemudian menolak bergabung sebagai karyawan karena citra GE sebagai perusahaan yang buruk.

Hanya saat Jeff Immelt mengambil alih kepemimpinan GE pada 2001 berangsur-angsur masalah ini selesai. Bahkan saat ini, banyak pengamat yang memuji cara GE menangani masalah lingkungan hidup, melalui metrik dan instrumen yang terukur di sepanjang production line.

Kontribusi Perusahaan

Ilustrasi ini dan kajian akademik yang ada menunjukkan bahwa jiwa sosial CEO sedikit banyak berpengaruh kepada sikap dan kontribusi perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya.  Namun, apakah ini faktor tunggal? Nampaknya tidak. Analisis lanjutan dari survei CEO yang dilakukan di atas menunjukkan bahwa jiwa sosial ternyata bukan satu-satunya faktor yang menentukan.

Survei kepada sejumlah CEO dan manajer senior mengajukan pertanyaan seputar alasan mereka melalukan aktivitas CSR. Mengikuti Agle, et.al (1999), sejumlah pilihan yang ada dikategorikan menjadi self-interested dan other-interested.  Pilihan terakhir ini dianggap mewakili karakteristik jiwa sosial CEO.

Ternyata, hampir semua CEO yang memiliki jiwa sosial rendah (yang diwakili oleh pilihan self-interested) juga memiliki skor persepsi implementasi dan performa yang rendah.  Ini konsisten dengan ilustrasi anekdotal maupun temuan akademik lainnya. Namun, yang menarik untuk dilihat, kenyataannya tidak sedikit perusahaan yang memiliki CEO dengan jiwa sosial tinggi, ternyata rendah dalam persepsi implementasi dan performa.

Fakta ini bisa mengarah pada dua hal: pertama, CEO yang memiliki jiwa sosial tinggi juga memiliki standar yang lebih tinggi dari rekan kerjanya di perusahaan, sehingga meskipun performa CSR perusahaannya cukup baik, ia menganggap implementasi dan performa CSR perusahaannya rendah; kedua, CEO memiliki standar yang relatif sama dengan rekan kerjanya, dan secara aktual performa CSR perusahaannya memang rendah.

Walaupun ada persoalan derajat (a matter of degree) diantara dua hal di atas, tetapi sebetulnya ini semua mengarah pada satu hal: kurangnya perangkat yang jelas untuk merancang implementasi dan mengukur performa CSR. Kesimpulan kajian lanjutan ini memperkuat temuan pertama survei yang dilakukan.

Oleh karena itu, meskipun CEO yang berjiwa sosial punya kontribusi penting kepada perusahaan, langkah logis berikutnya adalah merancang standar yang jelas untuk implementasi dan mengembangkan alat ukur yang memadai untuk mengetahui dampak internal dan eksternal perusahaan.

Untuk ini, Henriques (2010) menyebutkan bahwa selain dampak untuk shareholder (dalam bentuk profit), perusahaan harus juga mulai mengukur dampak kepada stakeholder. Jejak dampak (footprint impact) di tengah-tengah stakeholder bisa diukur melalui dampak sosiologis, lingkungan hidup, dan bahkan ekonomi untuk sebuah kawasan. (msb)

*Faculty Member, Binus Business School
 http://www.bisnis.com/articles/kiat-manajemen-ceo-berjiwa-sosial-cukupkah