Thursday, July 5, 2012

Ardiansyah, Tawarkan Bisnis Kebab dengan Kemitraan Syariah

Views :189 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 05 Juli 2012 08:41
Salah satu peluang hisnis yang tak pernah akan habis penggemarnya, pastinya adalah bisnis kuliner atau makanan. Beragam inovasi menu dan variasi bumbu, menjadi alasan mengapa bisnis ini terus tumbuh subur di masyarakat. Dengan strategi pemasaran prodak yang prima, bukan mustahil bisnis makanan bisa mendatangkan untung yang berlipat. Salah satu jenis kuliner yang sedang populer dan memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan adalah bisnis kebab.

Ardiansyah1011Kebab merupakan sebutan untuk bermacam hidangan daging panggang atau bakar. Sajian ini umum ditemui dalam masakan Laut Tengah, Kaukasus, Asia Tengah, Asia Selatan hingga masakan beberapa negara Afrika. Daging yang umum diolah menjadi kebab adalah daging domba dan daging sapi.

Terkadang mereka juga memakai daging kambing, daging ayam, ikan, atau kerang. Kelezatan dagingnya yang dikombinasi dengan aneka sayuran segar membuat kebab banyak disukai masyarakat dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Cita rasa yang mampu disesuaikan dengan lidah masyarakat Indonesia menjadi salah satu keunggulan makanan bergizi tersebut. Berbagai varian menu kebab makin bertambah menarik ketika para pelaku usaha memberikan sentuhan produk dengan bahan yang bervariasi. Di Timur Tengah, kebab dibuat dari bahan baku daging kambing atau domba, sementara di Indonesia kebab berhasil dikreasi dengan daging sapi, ayam, maupun seafood.

Meski bukan jenis makanan baru, kebab tetap menjadi pilihan menarik untuk kudapan. Inilah yang mendorong Ardiansyah Murdiawan  membuka Corner Kebab pada 2007 di daerah Jakarta Selatan. Dari berbagai riset, ia menyimpulkan, prospek bisnis kebab cukup cerah di Indonesia.

Usianya baru 29 tahun, tapi Ardiansyah Murdiawan Saputra berhasil menggaet 150 mitra ikut nimbrung berbisnis kebab. Kesuksesan dirintis sejak kuliah di ITS Surabaya. Saat di bangku kuliah, Ardiansyah memenangi lomba pembuatan proposal bisnis. Sejak itu, cakrawala bisnis Ardiansyah semakin terbentang.

Sejak memulai bisnis ini, Ardiansyah kini menjadi juragan Corner Kebab yang memiliki 150 mitra di seluruh Indonesia. Rata-rata setiap mitra mencatat omzet Rp 10 juta per bulan, atau sekitar Rp 1,5 miliar untuk 150 gerai. Setelah dikurangi biaya produksi, operasional serta bagi hasil dengan mitra, Ardiansyah membawa pulang profit kotor sebesar Rp 92,5 juta sebulan.

Darah bisnis Ardiansyah agaknya mewarisi mental bisnis sang ayah. Bapaknya adalah pedagang kelontong, sementara ibunya berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Nah, sedari kecil, Ardiansyah sudah terbiasa membantu orangtuanya berjualan kelontong.  Selepas tamat dari bangku SMA, Ardiansyah melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik Elektro Institut Teknologi 10 November, Surabaya (ITS). Bangku kuliah agaknya berperan besar mengasah mental pebisnis Ardiansyah. Sebab, semasa kuliah itu, Ardiansyah bertekad untuk Mandiri dan tak mau membebani orangtuanya.

Sebagai seorang enterepreneur muda, Ardiansyah terus melakukan inovasi produk. Ia menyediakan menu chicken sozzis, beef sozzis, chicken syawarma hingga fish finger kebab. Harganya, mulai Rp 8.000 sampai Rp 12.000 per porsi. Setelah setahun membuka usaha, Ardiansyah berani menawarkan kerja sama kemitraan. Hingga saat ini mitra Corner Kebab telah mencapai 150 outlet, tersebar di Pulau Jawa dan Kalimantan. Corner Kebab menawarkan dua jenis waralaba: tipe outdoor gerobak dengan investasi awal sebesar Rp 36 juta dan tipe outdoor booth dengan investasi awal senilai Rp 46 juta.

Selain menjelaskan perbedaan teknis, Ardi mengatakan, bisnis kebabnya menjalankan sistem pengembangan yang ‘tidak umum’. Mulai tahun 2010, ia menawarkan sesuatu yang berbeda kepada para calon mitra. Yakni, sistem kemitraan bagi hasil secara syariah. Menyasar calon mitranya yang super sibuk, sistem bagi hasil secara syariah ini teknisnya adalah dengan cara mengirimkan karyawan sebagai operator dengan sistem penggajian berupa bagi hasil.Tawaran ini ternyata cukup menyedot minat calon mitra Ardiansyah.

Walaupun optimistis, Ardiansyah mengaku memiliki tantangan dalam melakukan ekspansi. Salah satunya adalah penutupan keran impor daging sapi dari Australia. Saat ini, Ia belum bisa memperkirakan dampaknya penghentian impor sapi itu bagi usahanya. Ia khawatir, penghentian impor sapi dari Australia itu membuat harga daging di dalam negeri kian mahal.

Namun, ancaman kenaikan harga daging itu membuat otak bisnis Ardiansyah bekerja. Ia sekarang sedang mempersiapkan strategi untuk meningkatkan promosi kebab ikan di semua gerai miliknya. Ia mengaku tidak bisa mengurangi komposisi daging pada menu kebab di Corner Kebab. "Kalau saya kurangi daging, maka itu akan merusak kepercayaan pelanggan kepada kami," ungkap Ardiansyah, seperti dikutip dari Kontan Online.

Hal lain yang bisa menghambat ambisi Ardiansyah adalah kepopuleran kebab pada masyarakat. Ia khawatir muncul kemitraan atau waralaba kebab yang menawarkan harga kemitraan atau waralaba yang lebih murah. Tapi, Ardiansyah mengaku ada beberapa teknik cara mempertahankan diri dari gempuran kompetitor. Antara lain, menerapkan program garansi membeli gerai kembali, menerapkan sistem syariah, dan menggunakan peralatan yang berkualitas. "Saya tidak seperti kemitraan yang lain yang hanya menjual putus," tegas Ardiansyah.

Meski sudah berhasil menggandeng 150 mitra kerja, Ardi memilih ambisi untuk paling tidak merangkul hingga 300 mitra hingga akhir tahun2011.  Untuk mencapai target tersebut. Ardiansyah juga mempersiapkan strategi berani, yakni dengan  cara memberikan garansi membeli kembali gerobak gerai kebab yang kontrak kemitraannya telah berakhir. Ia yakin dengan starteginya memberikan garansi pembelian gerobak kembali, menerapkan sistem syariah, dan menggunakan peralatan yang berkualitas, bakal cukup ampuh menahan gempuran kompetitor.

Bagi Ardiansyah, dalam mengambangkan bisnis, modal yang paling penting adalah kejujuran, sedangkan modal merupakan nomor dua. "Kejujuran menghasilkan kepercayaan dan dengan kepercayaan orang akan mau berbisnis dengan kita. Jika kepercayaan hilang, maka tidak satupun orang mau berteman apalagi untuk kerja sama bisnis," tegas Ardiansyah.  (*/AS)

http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/18284-ardiansyah-tawarkan-bisnis-kebab-dengan-kemitraan-syariah.html

Nanik Heri, Sulap Daun Kering Jadi Laba

Views :190 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 05 Juli 2012 08:50
Daun kering jika diolah dengan metode tertentu ternyata dapat menjadi kerajinan yang menarik. Untuk itu, Nanik Heri mendirikan Bengkel Kriya yang khusus membuat kerajinan daun kering.

bengkelkriyaUntuk membuat kerajinan ini, pertama daun direbus kemudian dibilas. Pengeringannya melalui penyetrikaan. Media kerajinan tersebut, dibuat dari karton kemudian dilem. Terakhir adalah menempel daun berdasarkan gradasi warna.

Nanik mengaku senang dengan usahanya ini karena selain menambah koleksi juga yang penting adalah bisa membuka peluang kerja. Hal ini diakui Ida Yuliasih, salah satu karyawan. "Kebanggan saya di sini selain bisa berkarya juga dapat membantu perekonomian keluarga," kata Ida.

Nanik menjelaskan, selain mempunyai nilai artistik, kerajinan ini bisa bermanfaat untuk lukisan, souvenir, dan interior. Produk usaha yang dikerjakan Nanik ini, kini sudah merambah ke mancanegara, di antaranya Jerman, Prancis, Inggris, Belanda, dan Australia. Bahkan ke Inggris kerjasamanya sudah menginjak tahun ke tujuh. Produk yang dikirim ke negara itu, adalah tempat penyimpanan abu jenazah karena yang pesan adalah pengusaha peti mati. "Ini karena kami selalu menjaga kualitas dan mutu," ujar Nanik.

Usaha yang dilakoni Nanik ini sudah berjalan selama 16 tahun. Kunci keberhasilan Bengkel Kriya hingga bertahan lama adalah menjaga kualitas sehingga para pelanggan merasa puas. "Kalau pelanggan puas dimanapun kita pasti akan dicari," kata Nanik yang bercita-cita suatu saat ingin punya galeri sendiri, dan produknya jadi ciri khas kota Surabaya, Jawa Timur. (*/liputan6.com)

http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/wanita/18285-nanik-heri-sulap-daun-kering-jadi-laba.html

Agar Pebisnis Perempuan Tak Mudah Gagal

Views :267 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 05 Juli 2012 09:13
woman_biz0312Perempuan punya potensi besar untuk berwirausaha karena punya banyak ide dan punya karakter multitasking yang didapati dalam dirinya secara alami. Namun, sikapi dengan bijak dua kelebihan ini karena jika salah langkah, bisnis pun bisa mandek bahkan bisa berisiko seperti kegagalan bisnis.

Lantaran punya banyak ide, dan mampu menjalankan beberapa aktivitas dalam satu waktu, perempuan pun merasa tertantang ketika mendapatkan tawaran bisnis baru. Padahal, saat itu, ia sedang merintis bisnis lainnya.

Kondisi seperti ini banyak ditemui pada perempuan wirausaha, yang memiliki banyak usaha dengan pertumbuhan yang melambat. Sebabnya, perempuan tidak fokus dan mudah tergoda dengan berbagai tawaran kerjasama yang menjanjikan keuntungan.

Wulan Ayodya, pakar UKM, mengungkapkan perempuan mudah tergoda dengan berbagai tawaran bisnis yang menurutnya bisa menguntungkan, atau memberikan pendapatan ekstra. Alhasil, perempuan tak menekuni bidang bisnis yang spesifik, sehingga usahanya cenderung stagnan tidak mengalami perkembangan yang signifikan.

Jika ingin memiliki bisnis yang berkembang pesat dan bertumbuh lebih besar, fokuslah pada bidang bisnis yang Anda minati atau pahami, saran Wulan.

"Memilih fokus usaha penting untuk positioning. Dengan begitu, Anda bisa menguatkan merek untuk memberikan ingatan kepada konsumen, sehingga penjualan pun bagus, karena ketika ingat kebutuhan tertentu, konsumen akan langsung ingat kepada merek Anda," jelasnya saat talkshow wirausaha bagian dari program Sekar Womenpreneur Awards (SWOMA) di Jakarta Convention Center beberapa waktu lalu.

Menurut Wulan, menemukan ide bisnis memang penting dan merupakan langkah awal untuk berwirausaha. Namun jika ingin usahanya sukses, perempuan harus memilih salah satu ide bisnis dan fokus mengembangkannya hingga besar.

Setelah bisnis utama bertumbuh pesat, Anda boleh mengembangkan bisnis baru lainnya. Artinya fokuslah pada penguatan bisnis yang Anda rintis dari nol hingga konsumen telah mengenal baik merek Anda. Setelah itu, bangun lagi bisnis lain dari awal secara bertahap, bukan dengan menjalankannya sekaligus namun membuat Anda kewalahan dan menyebabkan merek usaha Anda tak melekat kuat dalam diri pelanggan. (*/Kompas.com)

http://ciputraentrepreneurship.com/component/content/article/122-peluang-bisnis-perempuan/18287-agar-pebisnis-perempuan-tak-mudah-gagal.html

Wednesday, July 4, 2012

Rahasia Sukses Coffee Toffee Beromzet Rp140 Juta

Views :682 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 04 Juli 2012 14:25
coffetoffeMenyeruput kopi hampir menjadi kegemaran masyarakat di kala senggang. Selain itu kopi bisa menjadi teman setia mengobrol selama berjam-jam. Kopi pun kini tak ubahnya menjadi gaya hidup kaum urban seperti kota besar Jakarta.

Dari filosofi itulah maka kedai kopi Coffee Toffee didirikan. Kedai yang awalnya dibuka hanya dengan niat iseng belaka itu kini sudah menjamur hampir di seluruh kota besar di Indonesia. Namun, meski diawali dengan iseng pemiliknya tetap punya mimpi untuk menjadikan kedai kopi ini sebesar Starbuck Coffee yang sudah lebih dulu mendunia.

Sang pendiri, Obi Anindito sendiri adalah orang yang sudah akrab dengan kopi sejak masih kuliah di negeri Kangguru Australia. Ia pun juga sempat bekerja di salah satu kedai kopi yang terkenal di sana. Dan pada masa itulah muncul gagasan kenapa bukan orang Indonesia saja yang harusnya membuka kedai kopi ini toh, kopinya juga berasal dari Indonesia.

Berangkat dari ide yang menggelitik tersebut, Obi lantas mulai merintis usaha kedai kopinya di tahun 2006. Kedai itu ia beri nama Coffee Toffee. Sembari merintis usaha itu, Obi juga memutuskan untuk belajar mengenai seluk beluk kopi. Dari mulai bertandang ke PT Perkebunan Nusantara 12, serta berkeliling mencari biji kopi pilihan.

Modal awalnya kala itu bisa dibilang besar untuk ukuran mahasiswa. Modal yang diperoleh dari pinjaman sana sini tersebut akhirnya terkumpul sebanyak Rp5 juta. "Awal banget modal Rp5 juta. Karena di awal kan hanya berbentuk gerai dengan konsep take away, take away," katanya.

Ternyata, sistem take away tersebut tidak berlaku di kultur Indonesia yang menikmati kopi sambil santai dan ngobrol. Pada 2008, menjadi tahun terberat bagi Coffee Toffee lantaran penjualan yang merosot bahkan selama tiga bulan berturut-turut tidak mampu menggaji para pegawainya. Selain itu, banyak gerai yang berangsur-angsur tutup karena sepinya pembeli. Berangkat dari situ, manajemen mulai berfikir, apa yang harus dilakukan.

"Kita tahu, bukan kopi Indonesia yang salah. Tapi kita yang terlalu idealis bikin sistem take away. Akhirnya kita buatlah tipe baru," ujarnya.

Manajemen mulai berbenah diri memperbaiki keadaan. Dibukanya gerai-gerai dengan gaya coffee shop atau dine in coffee shop. Siapa sangka, ternyata ide baru ini menuai apresiasi dari pecinta kopi. "Dan sekarang, sudah 114 gerai yang kita buka. Kalau dihitung dengan awal yang sudah pernah buka lalu tutup ada sekira 148 gerai," akunya lagi.

Untuk mendapatkan kopi nikmat yang disajikannya, Coffee Toffee memang tidak perlu susah-susah. Banyak wilayah di Indonesia yang menghasilkan biji kopi pilihan seperti Bali, Sumatera, Jawa serta Sulawesi. Menurutnya, gerai kopi impor yang saat ini menjamur juga menggunakan kopi yang sama. Namun, dia berani bertaruh, dengan rentang harga yang jauh, namun rasanya mirip.

"Kalau untuk resep kita tidak meniru, karena kan mereka punya hak paten. Kita coba-coba sendiri," tuturnya.

Kini, Coffee Toffee sudah memiliki 33 minuman kopi andalan, dari awalnya  yang hanya memiliki 16 minuman kopi andalan. Omzet yang diterima juga tidak main-main setiap bulannya. "Kalau untuk gerai paling kecil Rp60 juta-Rp140 juta per bulan. Padahal dulu hanya Rp200 ribu per hari atau sekira 15 pelanggan saja," katanya.

Nama Coffee Toffee makin berkibar karena mereka membangun bisnis kedai kopi ini dengan cara waralaba. Coffee Toffee yang sudah resmi menjadi Perusahaan pada 2011 lalu dengan nama PT Coffee Toffee Indonesia ini menawarkan harga Rp250 juta untuk setiap gerai dengan ukuran paling kecil. "Saat ini yang kita punya sendiri ada empat di Surabaya dan satu lagi di Jakarta," katanya.

Tidak hanya di dalam negeri, Coffee Toffee juga merambah luar negeri. "Malaysia dan Singapura sudah minta dari 2011. Singapura dari Singapore tourism board. Tapi diawal kita tujuannya emang bikin orang Indonesia negrasain kopi sendiri," tuturnya menjelaskan.

Namun demikian, Obi mengatakan, penambahan gerainya itu akan berhenti di gerai ke-250. Pasalnya itu adalah titik jenuh Coffee Toffee di pasaran. "Riset kita jenuhnya di 250. Dan saat ini gerai kita sudah mencapai 114 unit," tandasnya. (asm)

http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/18272-rahasia-sukses-coffee-toffee-beromzet-rp140-juta.html

Ini Tips Menghindari Investasi Berjangka "Abal-abal"


Penulis : Dimasyq Ozal | Rabu, 4 Juli 2012 | 16:07 WIB

SHUTTERSTCOK.COM ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com — Saat ini banyak modus penipuan yang dilakukan dengan baik oleh perusahaan pialang yang berkedok investasi berjangka. Mereka menjaring nasabah dengan cara mengundang melalui e-mail, situs, iklan di koran, atau menggunakan marketing hingga event organizer yang cukup dikenal. Acaranya pun berlangsung di suatu hotel, ruangan kantor yang berkapasitas 25-100 orang.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Kepala Bappebti) Syahrul R Sempurnajaya saat dihubungi Kompas.com di Jakarta, Rabu (4/7/2012).
Ia menjelaskan, mula-mula undangan tersebut menawarkan investasi properti, multi-level marketing (MLM), investasi emas, dan lain-lain. Setelah berbagai penawaran produk investasi disampaikan, lalu mereka menawarkan investasi berjangka.
Syahrul menyebutkan, dalam investasi berjangka normal, setiap perusahaan pialang akan mengundang dan mempromosikan iklan semua produk komoditas berjangka, baik itu multilateral (kakao, olein, CPO, emas, timah) maupun produk derivatif (valas berjangka, indeks). Semua prosedur tersebut juga harus sepengetahuan dan seizin Bappebti, seperti brosurnya, lalu kalimat yang tertera di iklan dan juga materi promosinya.
"Itu semua harus disampaikan dahulu ke KPU Bappebti untuk mendapatkan persetujuan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan, seperti lokasi undangan, waktunya, kapasitas yang hadir, lalu siapa yang memberikan materi investasi, apakah yang bersangkutan ahli dalam produk multilateral atau produk derivatif dari dalam dan luar negeri," tuturnya.
Berikut tujuh tips yang dipaparkannya guna menghindari penipuan berkedok investasi berjangka:
1. Pelajari latar belakang perusahaan yang menawarkan investasi.
2. Pelajari tata cara transaksi dan penyelesaian perselisihan.
3. Pelajari kontrak berjangka komoditas yang diperdagangkan.
4. Pelajari wakil pialang, apakah mendapatkan izin dari Bappebti.
5. Pelajari dokumen perjanjian investasi tersebut.
6. Pelajari risikonya.
7. Jangan mudah percaya dengan janji-janji keuntungan dan bunga yang ditawarkan perusahaan pialang.
"Yang terpenting ialah pengaduan dari masyarakat pada Bappebti mengenai kebenaran penawaran yang dilakukan perusahaan pialang melalui iklan di media cetak maupun internet," imbuhnya.
 
Editor :
Erlangga Djumena

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/07/04/16070991/Ini.Tips.Menghindari.Investasi.Berjangka.Abal-abal

Kapan Waktunya Ganti Logo Usaha?


Penulis : Christina Andhika Setyanti | Rabu, 4 Juli 2012 | 16:13 WIB
Kapan waktu yang tepat untuk ganti logo usaha?
KOMPAS.com - Logo perusahaan bukan dibuat sekadar untuk menampilkan gambar atau tulisan cantik tanpa makna, melainkan juga untuk menunjukkan ciri khas usaha dan menggambarkan harapan dari usaha. "Logo tidak harus cantik, yang penting bermakna. Karena logo merupakan doa yang tergambar," tukas Jessica Diana Kartika, SSn, ahli feng shui untuk logo dalam talkshow "Pentingnya Feng Shui untuk Logo" di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Jessica menambahkan bahwa logo juga berfungsi sebagai identitas perusahaan yang akan melekat dalam persepsi masyarakat. Namun sekalipun logo usaha sudah akrab dan dikenal masyarakat, bukan berarti Anda tidak bisa mengganti logo usaha Anda. Ada beberapa kondisi yang memungkinkan Anda untuk mengubah logo ini agar membawa keberhasilan untuk Anda.
1. Perubahan visi dan misi
Dalam menjalankan bisnis, visi dan misi usaha memang sangat dibutuhkan sebagai penunjuk jalan mencapai tujuan usaha. Visi dan misi perusahaan  secara tak langsung akan memengaruhi pergerakan usaha. Menurut feng shui, logo usaha seharusnya menggambarkan visi, misi, dan tujuan usaha yang disesuaikan dengan perhitungan China.
Maka ketika mengubah visi dan misi perusahaan, sebaiknya logo perusahaan juga ikut diubah. "Karena beda visi-misinya, maka feng shui dan keberuntungannya juga akan berbeda," jelasnya.
2. Perubahan struktur organisasi
Ketika membuat sebuah logo usaha berdasar feng shui, salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah karakter si pemilik dan partnernya. "Karakter, bakat, dan potensi setiap orang itu berbeda. Dibutuhkan adanya perhitungan karakter untuk memaksimalkan sisi positif pemilik usaha agar bisa jalan bersama untuk sukses," katanya.
Ia mengungkapkan bahwa setiap orang dengan karakter yang berbeda sangat memengaruhi logo yang akan dibuat. Sebaiknya, ketika mengadakan perubahan struktur organisasi pemilik utama usaha, logo dibuat kembali agar sesuai dengan karakter partner atau pemilik usaha yang baru.
3. Usaha baru
Perluasan bidang usaha rasanya menjadi impian banyak pengusaha. Namun, jika membuat usaha baru sebagai anak perusahaan dengan konsep, visi, dan misi yang berbeda, sebaiknya buat logo tersendiri. Beda bidang usahanya, maka peruntungan keberhasilannya juga akan berbeda. "Setiap bidang usaha punya warna dan tipikal logo sendiri untuk peruntungan dan kesuksesan usahanya," katanya.
Sekalipun masih berada dalam satu perusahaan dan manajemen, namun ketika membuat sebuah usaha baru yang bidangnya jauh berbeda, ciptakan logo yang berbeda dari logo usaha awal.
4. Perubahan jaman
Pergantian logo untuk mengikuti perkembangan zaman memang kerap dilakukan untuk meremajakan citra perusahaan. Dalam perjalanannya, agar lebih diterima masyarakat perubahan memang perlu dilakukan. Sekalipun visi, misi, dan konsep perusahaan tidak berubah sejak awal usaha, namun pembaharuan dalam logo perusahaan diharapkan mampu memberi angin segar dan harapan baru bagi perusahaan.
"Beberapa perusahaan besar di Indonesia yang sudah puluhan tahun berdiri juga banyak yang mengubah logo perusahaannya agar lebih eye catching dan memberi harapan baru dalam usahanya," pungkas Jessica.
Editor :
Dini

http://female.kompas.com/read/2012/07/04/1613026/Kapan.Waktunya.Ganti.Logo.Usaha

8 Kesalahan Saat Berbisnis Kuliner

Hits : 2130 PDF Cetak E-mail
Rabu, 04 Juli 2012 15:20
CE-logoBisnis kuliner termasuk yang menjadi pilihan banyak orang, karena dianggap jenis bisnis yang lebih mudah dilakukan daripada bisnis lainnya. “Padahal bisnis kuliner termasuk bisnis yang tergolong rumit karena membutuhkan banyak inovasi dan kreativitas yang berkelanjutan,” tukas Ali Bagus Antra, pemilik usaha Bebek Garang, saat talkshow ”Kiat Sukses Wirausaha dalam Menghadapi Persaingan” dalam acara Sedap Mighty Culinary di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Anggapan enteng mengenai bisnis kuliner membuat banyak pengusaha gulung tikar karena tak mampu menghadapi persaingan bisnis. Ali mengungkapkan, ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan para pelaku bisnis kuliner:

1. Tidak fokus

Para pemilik usaha sering terlena setelah merasa bisnisnya sudah sukses. Kesuksesan pada tahap awal ini membuat Anda mulai tak fokus pada pengembangan usaha, dan malah berusaha membangun usaha sampingan lainnya. Ali mengungkapkan, adalah hal yang wajar untuk memiliki lebih dari satu bisnis. Namun, jangan terburu-buru untuk memiliki banyak cabang dalam waktu dekat, atau membangun bisnis lain dalam saat yang bersamaan, karena hanya akan membuat perhatian terpecah.

2. Konsumtif

Usaha yang sukses akan memberikan penghasilan yang lumayan. Namun, penghasilan sering membuat Anda jadi lebih konsumtif. “Uang yang didapat dari usaha sering dianggap sebagai bonus dan upah kerja keras Anda, sehingga uang lalu digunakan untuk memanjakan diri,” paparnya.

Sifat konsumtif ini akan sangat berbahaya untuk Anda, terutama untuk perkembangan bisnis. Ali menambahkan, sampai saat ini banyak orang yang lebih memilih menghabiskan penghasilan usahanya untuk kepuasan diri seperti membeli gadget, dan lain-lain, ketimbang menginvestasikan uangnya kembali untuk memperbaharui alat atau investasi untuk cabang baru.

3. Tak mau berbagi kepemilikan

Salah satu cara untuk mengembangkan usaha adalah dengan berbagi kepemilikan usaha dengan orang lain. Misalnya melalui penanaman saham, ataupun dengan model waralaba. Namun banyak orang yang takut untuk melakukan hal ini. Mereka berpikir bahwa berbagi kepemilikan akan membuat keuntungan Anda berkurang, atau membuat Anda rugi. Padahal jika dilakukan dengan sistem yang tepat dan kuat, pembagian kepemilikan akan membuat usaha lebih besar.

4. Berhenti berinovasi

Dalam bisnis kuliner, inovasi dan kreativitas merupakan salah satu syarat wajib. Ketika produk usaha kuliner yang dijual sudah mendapatkan respons yang memuaskan dan menghasilkan keuntungan besar, orang cenderung lalai untuk terus berinovasi. Jika ingin sukses berbisnis, sebaiknya selaris apapun usaha Anda jangan berhenti berinovasi dengan berbagai cara. Ingatlah bahwa persaingan akan selalu ada, dan jika tak ingin kalah dalam persaingan sebaiknya tetap kreatif untuk menciptakan inovasi menu baru yang unik.

5. Tidak komersil

Makanan kesukaan seringkali jadi inspirasi bagi seseorang untuk menjadikannya sebuah ladang usaha. Hanya aja, perlu diingat bahwa tak semua makanan yang Anda sukai juga akan disukai orang lain. “Banyak orang yang punya selera berbeda tentang makanan. Sekalipun makanan itu adalah makanan kesukaan Anda, namun tetap sesuaikan dengan selera pasar dan konsumen,” sarannya.

Jangan ragu untuk melakukan survei pasar sebelum menentukan produk yang akan dijual. Kesalahan memilih produk akan berakibat produk Anda tidak komersil dan tidak laku.

6. Persaingan harga

Dalam menjalankan usaha, persaingan memang tak mungkin dihindari. Persaingan ini tidak hanya terlihat dalam persaingan barang dagangan yang sama, tapi juga persaingan harga. “Persaingan harga adalah hal yang harus diantisipasi. Karena seringkali kompetitor Anda akan menjual barang yang sama dengan harga yang lebih murah, untuk menarik pelanggan,” bebernya.

Usahakan untuk menjual produk yang murah namun rasa dan kualitasnya tetap baik. Untuk menghasilkan harga jual yang murah dan kualitas yang baik, tekan sedikit keuntungan Anda. Lebih baik jangan terlalu banyak menargetkan pengambilan keuntungan dari produk yang dijual.

7. Tidak profesional

Menjalankan bisnis bukan sekadar seperti berinvestasi atau menanam modal semata. Banyak orang yang hanya mempertimbangkan masalah modal, dan hanya ingin menikmati hasil keuntungannya saja. Padahal bisnis juga merupakan sebuah proses pembelajaran, serta buah dari pemikiran dan kerja keras yang dilakukan oleh berbagai pihak. Ali mengungkapkan, dalam bisnis sekecil apapun kita tetap membutuhkan sikap profesional dalam menjalankan bisnis, perencanaan keuangan, sampai pemilihan karyawan.

8. Fondasi tidak kuat

Buatlah sebuah perencanaan yang matang di awal bisnis Anda. Sebuah business plan akan sangat diperlukan sebagai bentuk kesiapan usaha. Perencanaan dan fondasi usaha yang kuat akan membuat usaha Anda tidak mudah hancur, karena sudah memiliki berbagai bekal sebagai antisipasi kegagalan.

Selain itu, fondasi usaha juga sangat dibutuhkan sebelum memutuskan membuka sebuah cabang baru. “Cabang yang banyak memang bisa menjadi strategi bisnis yang menguntungkan, hanya saja buat fondasi dan sistem usaha yang stabil terlebih dulu agar cabang selanjutnya bisa sesukses cabang pertama,” sarannya. (*/Kompas.com)

http://www.ciputraentrepreneurship.com/amankan-bisnis/18277-8-kesalahan-saat-berbisnis-kuliner.html