Thursday, May 3, 2012

Menjajal Bisnis Ayam Goreng Khas Padang


| Erlangga Djumena | Kamis, 3 Mei 2012 | 12:08 WIB

KONTAN/ DOK RIMBOZZ

KOMPAS.com - Tawaran waralaba atau kemitraan di bisnis kuliner olahan ayam masih terus bermunculan. Tawaran terbaru datang dari Rimbozz Chicken & Burger yang berbasis di Padang, Sumatera Barat. Nilai investasinya mulai Rp 4,9 juta-Rp 50 juta. Sementara omzet mulai Rp 9 juta-Rp 30 juta.

Bisnis kuliner berbahan baku ayam agaknya masih belum jenuh. Buktinya, pemain di usaha ini terus bertambah. Bahkan tak sedikit yang menawarkan usaha ini lewat jalur kemitraan atau waralaba.

Nah, tawaran waralaba terbaru usaha ayam goreng datang dari Rimbozz Chicken & Burger yang berbasis di Padang, Sumatera Barat. Berdiri sejak 2007, Rimbozz Chicken & Burger resmi menawarkan waralaba di awal tahun ini.

Faisal Ichal, pemilik Rimbozz Chicken & Burger mengaku, saat ini sudah ada dua calon terwaralaba yang berminat bekerja sama dengannya. "Sekarang sedang kami proses," ujarnya.

Saat ini, Faisal sudah memiliki lima gerai milik sendiri di Padang. Ia mengklaim, kelima gerai berkonsep resto itu beromzet Rp 1 juta-Rp 1,5 juta per hari. Dengan laba 30 persen, rata-rata gerai milik Faisal bisa balik modal di bulan keempat. "Karena kinerja bagus itu, saya berani menawarkan waralaba," ujarnya.

Faisal menawarkan tiga paket waralaba. Pertama, paket kios dengan konsep gerobak senilai Rp 4,9 juta. Dalam paket ini, terwaralaba mendapatkan booth, peralatan masak, seragam, banner promosi, serta bahan baku senilai Rp 500.000.

Dalam paket ini, omzet terwaralaba ditargetkan mencapai Rp 300.000 per hari atau Rp 9 juta per bulan. Dengan laba 25 persen-30 persen, mitra bisa balik modal di bulan kedua. "Khusus paket ini tak ada biaya royalti," ujarnya.

Kedua, paket corner senilai Rp 35 juta. Paket ini mengusung konsep restoran mini dengan luas 16 meter persegi. Terwaralaba akan mendapat instalasi booth dan peralatan tambahan, seperti kulkas, meja, dan kursi.

Selain itu, mereka juga akan mendapatkan bahan baku senilai Rp 1 juta. Omzet paket ini diperkirakan Rp 775.000 per hari atau Rp 23,2 juta per bulan. Dengan laba 25 persen-30 persen, mitra balik modal sekitar tujuh hingga delapan bulan. Di paket ini ada biaya royalti 4 persen dari omzet.

Terakhir, paket restoran senilai Rp 50 juta. Kriteria luas gerainya mencapai 50 meter persegi. Paket ini sudah termasuk desain interior ruangan dan tambahan meja kasir. Omzet mitra yang mengambil paket ini ditargetkan Rp 1 juta per hari atau Rp 30 juta per bulan.

Adapun masa balik modal diperkirakan terjadi di bulan ke sembilan hingga bulan ke-12. Dalam paket ini dikenakan biaya royalti 5 persen.

Selain ayam goreng dan burger, Rimbozz Chicken menawarkan menu lain, seperti chicken teriyaki dan chicken steak. Harganya Rp 9.000-Rp 14.000 per porsi. Semua menu disajikan dengan bumbu tradisional khas Padang.

Erwin Halim, konsultan waralaba dari Proverb Consulting menilai, tawaran waralaba dari Rimbozz Chicken & Burger cukup menarik, khususnya di wilayah Sumatera. Apalagi paket yang ditawarkan cukup murah sehingga bisa terjangkau mitra berkantong tipis.

Namun, jika ingin menggandeng mitra di Jakarta, sebaiknya Rimbozz melakukan tes pasar dulu. Soalnya, selain persaingan ketat, mereka juga perlu membangun kepercayaan konsumen bahwa produknya sesuai selera pasar. “Sebaiknya, buka cabang dulu di Jakarta. Kalau sukses, mitra pasti datang,” ujarnya. (Eka Saputra/Kontan)
--------------------------------------------------------
Rimbozz Chicken & Burger
Jl. By pass Tanjung Sabar No.8 Lubuk Begalung,
Padang , Sumatra Barat
Telp: 0751.977 3 977
Hp. 0812 6666 6777
Email : info@rimbozz.com
 
Sumber :
KONTAN




Usaha bimbel masih menggiurkan

TAWARAN KEMITRAAN PENDIDIKAN: BIMBINGAN BELAJAR

Usaha bimbel masih menggiurkan



Usaha bimbel masih menggiurkan

Berdasarkan wawancara KONTAN dengan beberapa pengelola bisnis bimbel, prospek bisnis di dunia pendidikan sepertinya masih cerah. Namun, bisnis ini harus disertai dengan kreativitas dan kualitas pengelolaannya.

KONTAN mengulas tiga bimbel yang bergerak di bisnis ini. Dari tiga pemain tersebut, dua bimbel mengalami pertumbuhan mitra dan kemajuan usaha. Namun satu stagnan, alias tidak mengalami kemajuan. Berikut beberapa ulasannya.


Bimbel GalanUI

Waralaba Bimbel GalanUI sudah berdiri sejak Agustus 2008. Kemudian baru pada Juni 2010, GalanUI mulai membuka tawaran kemitraan Bimbel GalanUI.

Berdasarkan catatan KONTAN, sampai Januari 2011, GalanUI telah memiliki empat mitra. Setelah setahun lebih berselang, GalanUI mengalami perkembangan.

Menurut pendiri GalanUI, Ikhsan Muttaqin, saat ini bimbel yang dikelolanya ini sudah memiliki sembilan mitra yang tersebar di daerah Pasar Rebo, Pekayon, Cibubur, Matraman, dan Depok. Sementara pada bulan Juni mendatang,

GalanUI akan memiliki sebanyak 12 mitra. "Kami targetkan tahun ini mitra bisa bertambah sebanyak tiga hingga empat mitra," jelasnya.

Karena mengalami kemajuan dan minat dari masyarakat, saat ini GalanUI juga meningkatkan biaya bimbel. Jika sebelumnya, GalanUI mematok biaya kursus sebesar Rp 135.000 per siswa dalam sebulan, maka saat ini meningkat menjadi Rp 150.000 per bulan untuk siswa SD, dan Rp 160.000 per bulan untuk siswa SMP. Untuk menarik perhatian siswa, GalanUI membatasi jumlah siswa maksimal 10 orang per kelas.

GalanUI juga menaikkan biaya investasi awal. Jika sebelumnya sebesar Rp 25 juta, saat ini menjadi Rp 40 juta. Adapun untuk royalty fee, GalanUI memberikan kelonggaran selama enam bulan pertama mitra tidak usah membayar royalti. Namun pada bulan ketujuh harus membayar biaya royalti sebesar 10% dari omzet per bulan.

Ikhsan optimistis bisnis bimbel miliknya terus mengalami kemajuan. Soalnya, GalanUI ketat dalam mencari calon pengajar, tujuannya supaya kualitas pelajaran tetap terjaga.

Guna meningkatkan jumlah mitra dan lebih dikenal masyarakat, GalanUI rajin mengikuti pameran. Ikhsan bilang, tiap tahun pihaknya selalu mengikuti pameran dari Wirausaha Muda Mandiri. "Selain itu, kami juga aktif di komunitas-komunitas," ujarnya.


Bimbel Salemba

Bimbel Salemba berdiri sejak tahun 2003. Bimbel yang berbasis di Bintaro, Tangerang Selatan itu, telah memiliki 40 mitra. Mitra Bimbel Salemba tersebar di daerah Jabodetabek, Padang, Medan, Lampung hingga Semarang.

Jumlah mitra Bimbel Salemba ini lumayan meningkat pesat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, saat diulas KONTAN pada 2010, Bimbel Salemba baru memiliki sekitar 10 mitra. Salah satu daya tarik bimbel ini ialah karena membidik segmen khusus yakni pelajar SMA atau yang ingin sukses mengikuti seleksi masuk Universitas Indonesia. "Tapi, kami tetap menyediakan paket bimbel tingkat SD dan SMP. Hanya saja, kami mengutamakan untuk yang SMA atau baru lulus SMA untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi," ujar Kaeran, Manager Pengembangan dan Bisnis Bimbel Salemba.

Secara umum jumlah siswa di tiap cabang Bimbel Salemba berkisar antara 50 orang hingga 150 orang, dengan tarif paket bimbel antara Rp 4 juta hingga Rp 7 juta per siswa. Alhasil omzet setiap tahun ajarannya bisa mencapai Rp 200 juta - Rp 600 juta.

Adapun laba bersih bisa mencapai 35% dari total omzet. Dengan demikian setiap mitra diperkirakan bisa balik modal antara 1 - 2 tahun.

Adapun paket investasi yang ditawarkan Bimbel Salemba semakin mahal. Bila dulu investasi untuk biaya lisensi yang dikutip sekitar Rp 25 juta, kini ada dua paket investasi yang tawarkan. Pertama, individual lisensi senilai Rp 33 juta. Kedua, master lisensi seharga Rp 60 juta. Keduanya untuk kerja sama selama lima tahun.

Kedua paket ini mendapatkan layanan yang sama, mulai dari pelatihan sumber daya manusia dan promosi. Namun, untuk individual lisensi hanya membolehkan investor membuka satu gerai saja. Sedangkan master lisensi memungkinkan investor membuka sejumlah gerai termasuk bekerja sama dengan pihak ketiga untuk membuka gerai lain di satu kota.

Kaeran menambahkan, prospek bisnisnya ini masih terbilang bagus dan tetap diminati sejumlah investor. Namun, investor memang perlu menyiapkan lokasi yang sangat strategis, terutama yang dekat dengan sekolah sekaligus perumahan. "Sekitar minggu kemarin ya baru pembukaan mitra yang di Aceh dan Bali," tandasnya.


Tiara Bimbel

Kalau Bimbel Salemba dan GalanUI yang berbasis di Jakarta bisa tumbuh pesat, Tiara Bimbel, asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tidak demikian. Tiara Bimbel justru tidak bisa berkembang.

KONTAN pernah mengulas bisnis ini pada April 2011 silam. Pada saat itu, bimbel yang didirikan pada tahun 2004 ini memiliki tujuh cabang, dua di antaranya milik mitra dan lima yang lain merupakan milik sendiri.

Setelah setahun berselang, bisnis Tiara Bimbel tidak mengalami kemajuan. Bimbel yang mulai menawarkan kemitraan pada tahun 2010 ini tidak kunjung bertambah mitranya. Pemilik Tiara Bimbel, Rusydi mengatakan, bimbel miliknya tersebut memang tidak mengalami perkembangan signifikan sejak 2011. "Jadi kami sekarang sedang konsolidasi internal," jelasnya.

Ia bilang, sebagian besar calon mitra tidak begitu berminat dengan tawaran kemitraan dari Tiara Bimbel. Padahal sebelumnya sudah ada calon mitra dari Batam dan Jakarta, namun, karena tidak cocok tempat, akhirnya mereka mengurungkan niat mereka untuk bermitra.

Tiara Bimbel fokus pada bimbingan anak TK dan SD. Tiara Bimbel memberikan materi pelajaran seperti baca tulis, berhitung, sempoa, IPA, IPS, matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tiara Bimbel memungut biaya pendaftaran dari siswa sebesar Rp 300.000 dan biaya kursus Rp 300.000 sampai Rp 400.000 per siswa, untuk delapan kali pertemuan dalam sebulan.

Tiara Bimbel menawarkan tiga paket waralaba. Paket A dengan investasi Rp 25 juta dan biaya royalti 8,9% dari omzet per bulan. Paket B bernilai investasi Rp 22,5 juta dengan biaya royalti 19,8%. Paket C Rp 20 juta dengan biaya royalti 40% sebulan.

Dengan investasi awal hanya Rp 25 juta, terwaralaba mendapatkan perlengkapan senilai Rp 7 juta, renovasi Rp 5 juta, dan biaya survei untuk wilayah Jakarta Rp 3 juta. Di luar itu, terwaralaba harus membeli modul, lembar kerja anak, baju, dan tas.

Tiara Bimbel meminta para terwaralaba memilih lokasi di pinggir jalan yang mudah dijangkau. Tempat tersebut bisa berbentuk rumah atau ruko dengan ukuran 70 meter persegi. Lokasi Bimbel pun sebaiknya memiliki halaman luas sebagai tempat parkir serta arena bermain.

Nah, apakah Anda masih tertarik menjajal bisnis bimbingan belajar?
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/usaha-bimbel-masih-menggiurkan

Mebel anak: Anak senang, keuntungan datang

PELUANG BISNIS MEBEL ANAK

Mebel anak: Anak senang, keuntungan datang


Mebel anak: Anak senang, keuntungan datang

Bisnis seputar produk kebutuhan anak seolah tiada matinya. Selain menjadi tren, produk mebel khusus anak juga menjadi peluang usaha yang menarik. Margin keuntungan yang didapat dari usaha ini sekitar 30% dan bisa balik modal dengan cepat.

Semakin beranjak besar, orang tua biasanya membiasakan anak mandiri. Salah satunya dengan menyediakan kamar dengan desain dan motif yang disesuaikan dengan selera anak, lengkap dengan perabotnya. Inilah yang membuat bisnis yang menyasar anak tetap menjanjikan.

Sejak tiga tahun–empat tahun terakhir, misalnya, permintaan mebel khusus anak semakin meningkat. Ranjang, aneka rak, meja belajar, sofa, ataupun lemari dengan nuansa anak-anak makin diburu. “Awalnya saya bermain di mebel umum, tapi sejak dua tahun terakhir saya fokus menggarap mebel khusus anak,” kata Achmad Zainudin, pemilik Mebel Anak di Jepara, Jawa Tengah.

Langkah ini juga yang diambil oleh Sisca Sada yang membuka usaha mebel khusus anak bernama Petite Elle sejak dua setengah tahun silam. “Ibu-ibu muda sekarang cukup antusias untuk mempercantik kamar buah hati mereka. Mereka juga cenderung latah karena lingkungan mereka banyak menggunakan mebel anak,” jelasnya.

Sisca mengaku, penjualan mebel khusus anak di Petite Elle mencapai 15 unit per bulan. Harganya mulai Rp 1,2 juta hingga Rp 8,9 juta per unit.

Achmad bilang, menjalankan usaha mebel anak ternyata menguntungkan. “Awalnya pelanggan hanya memesan ranjang anak. Tapi, setelah melihat produk yang lain, mereka memesan perabot lain,” katanya. Saat ini penjualan mebel khusus anak di Mebel Anak mampu menghasilkan omzet sekitar Rp 30 juta per bulan.

Stepanus Sriwijaya, pemilik usaha Furnitur Anak di Yogyakarta, menambahkan, keuntungan yang didapat dari usaha menggarap mebel anak cukup lumayan dan bisa balik modal dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. “Per bulan, rata-rata usaha kami bisa menghasilkan omzet antara Rp 30 juta–Rp 40 juta. Margin keuntungannya bisa mencapai 30%,” ungkapnya.

Baik Achmad, Sisca, dan Stepanus punya cara sama untuk memperluas pasar. Mereka mengandalkan internet guna memasarkan produk. Achmad, misalnya, menggunakan layanan iklan online. Stepanus memanfaatkan jejaring Facebook dan website. Adapun Sisca menggunakan blog dan jejaring sosial untuk memperkenalkan produknya. “Saya juga sedang menyiapkan website khusus,” katanya.


Pemasaran online

Achmad bilang, jurus pemasaran online merupakan senjata ampuh untuk menjangkau sasaran. “Segmen usaha ini, kan, rata-rata menengah atas dan ibu-ibu muda. Mereka biasa mengandalkan internet untuk mencari informasi,” katanya. Apalagi, kebanyakan konsumen yang membutuhkan mebel anak berada di kota besar. Mereka biasa mengakses internet.

Stepanus menguatkan hal ini. Menurut dia, selama ini, pembeli dari Yogyakarta hanya sekitar 2% sampai 3% sedangkan dari Jakarta mencapai 80%. “Sisanya dari luar Jawa,” tuturnya.

Bahkan, belakangan ini, permintaan dari luar Jawa cukup banyak. Ia sudah melayani pesanan hingga ke Indonesia Timur seperti Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Biasanya, pembeli dari luar Pulau Jawa cukup royal. Mereka tidak peduli ongkos kirim yang mahal. Alasannya, pembeli di luar Jawa tidak menemukan usaha mebel yang bisa secara khusus mengerjakan mebel anak. Lihat saja, ongkos kirim ke luar Jawa bisa mencapai Rp 2 juta sementara harga mebel anak mencapai Rp 8 juta sampai Rp 9 juta per set.

Karena mengandalkan media online sebagai sarana pemasaran, Anda harus menampilkan contoh karya mebel untuk memberikan gambaran pada calon pembeli. Selain itu, Anda perlu mencantumkan nomor kontak dan alamat jelas untuk membangun kepercayaan pada calon pembeli.


Butuh pengalaman

Untuk terjun ke bisnis mebel anak, Anda juga harus memiliki pengalaman di bidang mebel sebelumnya. “Tak cukup mengandalkan tukang yang ahli, tapi kita juga harus bisa mendesain dan mengaplikasikan desain tersebut,” kata Achmad.

Rata-rata, pengusaha mebel anak melayani desain sesuai permintaan. Bila Anda tidak memiliki pengalaman, sulit menangkap kemauan pembeli. Selain itu, Anda perlu mengikuti dunia desain yang berkaitan dengan anak yang sedang tren. “Modal utama usaha ini pengalaman,” kata Stepanus.

Sisca bilang, selain mengikuti atau melayani permintaan desain dari pembeli, pengusaha mebel anak juga harus mampu menciptakan inovasi desain. “Supaya produk tidak monoton dan tidak pasaran, lebih bagus bila mebel itu mempunyai spesialisasi karakter desain mebel anak yang beda dari yang lain,” jelasnya. Misalnya, karakter tokoh kartun atau film anak, atau sekadar tampilan desain dengan permainan warna yang khas.


Modal relatif

Modal yang Anda siapkan untuk membuka usaha ini selain pengalaman juga jaringan tukang. Anda bisa mencari kenalan di daerah seperti di Jepara untuk mendapatkan tukang berpengalaman, baik dalam mengolah kayu maupun mengecat mebel. Untuk ini, Anda perlu waktu mendapatkan tukang yang cocok dengan selera dan desain Anda. Sebaiknya Anda punya satu tukang utama yang bertugas mengecek kualitas dan proses pengerjaan.

Modal untuk membuka usaha ini rata-rata sekitar Rp 30 juta hingga Rp 40 juta. Sebagian besar untuk memberi peralatan pertukangan. Lantaran mengandalkan media online untuk pemasaran, Anda juga harus memiliki komputer yang memiliki koneksi internet unggulan. Kantor bisa sederhana, tapi sedapat mungkin punya bengkel untuk memproduksi perabot. “Bisa menggunakan rumah sendiri,” kata Achmad.

Achmad bilang untuk belanja kayu, cat, pernis, ampelas paling tidak membutuhkan dana Rp 15 juta per bulan. “Saya pekerjakan beberapa karyawan dengan pengeluaran Rp 6 juta per bulan,” katanya. Selebihnya adalah biaya operasional seperti listrik, air, dan telepon. Oh, iya, biaya promosi hanya dikeluarkan kalau sedang perlu.
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/mebel-anak-anak-senang-keuntungan-datang

Wednesday, May 2, 2012

Yopie raup omzet miliaran dari mesin nomor antrean

INSPIRASI YOPIE HUTAHAEAN

Yopie raup omzet miliaran dari mesin nomor antrean


Yopie raup omzet miliaran dari mesin nomor antrean

Optimisme yang dibarengi ketekunan akan membuahkan kesuksesan. Itulah yang dilakukan Yopie Hutahaean dalam merintis usaha manufaktur bernama PT Rekavisitama. Meski diawali kepahitan, pada akhirnya Yopie menuai buah nan manis.

Meski terlihat sepele, mesin mencetak nomor antrean sudah menjadi alat wajib bagi banyak perusahaan jasa yang berhubungan langsung dengan konsumen. Produk ini biasa ada di bank, perusahaan asuransi, pembiayaan, kantor pajak, dan kantor layanan konsumen lain. Salah satu produsen alat ini adalah PT Rekavisitama, milik Yopie Hutahaean.

Yopie memang salah satu dari sedikit produsen alat nomor antrean yang sudah digunakan oleh banyak perusahaan. Alatnya dipakai oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN), Taspen, Bank Mandiri, BRI, BNI, BTPN, kantor pajak, BCA, PDAM, PLN, dan PT Bussan Auto Finance. Selain itu, ada juga lembaga kesehatan seperti rumahsakit, klinik, dan puskesmas.

Melalui bendera PT Rekavisitama, Yopie memproduksi dua produk, yaitu mesin antrean dan perangkat laboratorium (lab) bahasa digital. Selain menjaring klien perusahaan lokal, produk dan desain laboratorium Rekavisitama sudah dikirim ke Arab Saudi. Perangkat laboratorium bahasa digital biasanya terdiri dari satu unit komputer, master console pada sisi instruktur, dan panel siswa sampai 48 unit.

Mesin nomor antrean Rekavisitama rata-rata dihargai Rp 20 juta hingga Rp 50 juta per unit. Sementara, produk dan desain laboratorium bahasa digital dihargai Rp 80 juta–Rp 90 juta. “Pendapatan kami per tahun masih kecil dibanding perusahaan manufaktur yang sudah raksasa,” kata dia. “Kecil“ versi Yopie berarti masih kurang dari Rp 20 miliar per tahun, lo.

Menurut Yopie, permintaan mesin antrean dan perangkat laboratorium bahasa cukup rutin per bulan. “Kami sering ikut tender pengadaan perangkat laboratorium bahasa di sekolah-sekolah yang biasanya pada akhir tahun,” kata suami Ruth Merlyn Sidauruk ini.

Walau merasa masih kecil, bisnis Yopie saat ini sudah jauh lebih baik dari masa-masa lampau. Dia pernah membuka usaha jual beli komputer sekaligus menjadi karyawan di perusahaan mebel. Lulus kuliah jurusan elektronika di Universitas Brawijawa, Malang, pada tahun 2000, ia dimodali sang ayah untuk membuka usaha. “Saat itu usaha jalan, tapi saya merasa kurang dalam ilmu manajemen,” ujar pria kelahiran Medan, 20 Oktober 1974 ini. Akhirnya, setahun kemudian ia kuliah S-2 jurusan manajemen.

Sambil kuliah dan berwiraswasta, Yopie bekerja sebagai supervisor di perusahaan mebel. “Ternyata menjalankan tiga kesibukan sekaligus tidak mudah,” kata ayah dari Lionel Hutahaean ini. Tahun 2002, usaha komputernya gulung tikar. Sementara itu, kariernya sebagai karyawan stagnan. Dia pun memilih hengkang dari perusahaan mebel pada Januari 2005.

Yopie memutuskan membuka usaha desain produk elektronik pada Maret 2005. Bersama keempat rekan, yaitu Tomi Yahya, Jimmy Handoyo, F. Lado, dan Windiarso, ia membentuk usaha Rekavisitama dengan modal Rp 30 juta, berbasis di Malang. “Tidak semudah yang kami bayangkan, kami berlima hanya memiliki keahlian elektronika tapi tidak memiliki keahlian mengelola perusahaan,” ujar Yopie.


Modal terbatas

Yopie merasa modal yang ada kurang besar sehingga tidak mampu membuat produk secara massal. Dia lantas mencari pinjaman ke bank karena tertarik dengan tawaran iklan kredit tanpa agunan (KTA). Tapi setelah mencari informasi dari satu bank ke bank lain, tak ada satu pun bank yang melayani KTA. “Saya merasa tertipu iklan bank, tak ada kredit tanpa agunan,” katanya.

Modal semakin tergerus, selama setahun lebih tak ada order besar yang masuk. Setahun, Rekavisitama hanya bisa menjual 20 unit produk sistem pembelajaran mikrokontroler seharga Rp 100.000 per unit. “Telepon yang masuk banyak, tapi tak sampai memesan produk,” kenangnya. Ia tidak mendapat gaji selama setahun karena habis untuk operasional.

April 2006, perusahaan mebel tempat Yopie sempat bekerja menawari bergabung kembali dengan tawaran posisi strategis. “Bingung juga, menolak rezeki atau mencoba bersabar,” katanya. Yopie memutuskan menolak tawaran itu. Berkat kesabarannya, pada Juni 2006 ada pesanan laboratorium bahasa di Aceh. Ia pun terbang ke Serambi Mekah.

Kala itu, jasa warung telepon alias wartel masih banyak. Yopie mencoba menghubungi kembali calon klien yang dulu sempat menanyakan produk-produknya melalui wartel di Aceh. “Saya sengaja telepon lewat wartel supaya kode area Aceh muncul di telepon para calon klien yang dulu sempat menghubungi kami agar mereka percaya produk kami mulai digunakan di Aceh,” jelasnya. Benar juga, selang sebulan dari proyek Aceh, klien lain berdatangan. “Proyek dan klien saya tampilkan di website untuk membangun kepercayaan calon klien,” katanya.

Sejak itu, produk unik Rekavisitama semakin banyak dikenal mereka yang butuh.
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/yopie-raup-omzet-miliaran-dari-mesin-nomor-antrean/?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Inilah Keuntungan dan Risiko Berinvestasi Obligasi

Views :398 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 02 Mei 2012 08:52
obligasi0412Saat ini masyarakat mengenal obligasi sebagai salah satu instrumen investasi yang memiliki imbal balik yang tinggi. Secara ringkas, obligasi merupakan utang tetapi dalam bentuk sekuriti. Penerbit obligasi adalah merupakan debitur bisa dilakukan oleh pemerintah ataupun perusahaan BUMN atau swasta. Penerbitan obligasi ini biasanya dilakukan untuk memperoleh pembiayaan pemerintah atau negara dengan sumber dana dari luar.

Obligasi mempunyai beberapa keuntungan, yakni memberikan pendapatan tetap (fixed income) berupa kupon. Hal ini merupakan ciri utama obligasi, di mana pemegang obligasi akan mendapatkan pendapatan bunga secara rutin selama waktu berlakunya obligasi. Bunga yang ditawarkan obligasi umumnya lebih tinggi daripada bunga yang diberikan deposito atau SBI.

Di samping penghasilan berupa kupon, pemegang obligasi juga dapat memperjualbelikan obligasi yang dimilikinya. Karena itu, bila Anda menjual lebih tinggi dibandingkan dengan harga saat Anda membelinya, maka Anda sebagai pemegang obligasi memperoleh selisih yang disebut dengan capital gain.

Meski begitu, obligasi juga mempunyai risiko. Berikut beberapa risiko yang melekat pada obligasi

Risiko likuiditas

Risiko ini melekat pada semua obligasi, baik obligasi pemerintah dan obligasi korporasi. Risiko ini timbul dari kemungkinan tidak likuidnya suatu obligasi diperdagangkan atau tidak mudahnya menjual suatu obligasi di pasar sekunder. Pasar sekunder obligasi tidak seramai pasar sekunder saham. Jika di pasar saham saja ada saham yang tidak likuid, apalagi dalam pasar obligasi. Untuk dua obligasi yang sama karektiristiknya kecuali yang satu likuid dan yang satunya lagi tidak likuid, investor akan meminta tambahan tingkat bunga untuk obligasi yang tidak likuid atau premium risiko likuiditas. Suatu obligasi menjadi likuid di pasar sekunder jika permintaan beli untuk obligasi itu cukup banyak atau memang ada pihak yang berperan sebagai "market maker" yang salah satu fungsinya adalah sebagai pembeli dan penjual obligasi tersebut.

Risiko maturitas

Risiko ini juga ada pada semua obligasi tetapi terutama pada obligasidan berkaitan dengan masa jatuh tempo obligasi. Secara umum, semakin lama jatuh tempo suatu obligasi, semakin besar tingkat ketidakpastian sehingga semakin besar risiko maturitas.

Risiko default

Risiko default hanya ada pada obligasi korporasi. Berbeda dengan ORI dan SUN yang dijamin pemerintah sebagai pengutang, obligasi korporasi tidak dijamin pemerintah. Investor yang membeli obligasi korporasi harus menyadari bahwa investasinya bisa tidak kembali jika sebelum obligasi jatuh tempo, korporasi itu bangkrut. Risiko korporasi bangkrut sehingga obligasi dan bunganya menjadi gagal dibayar inilah yang dimaksud dengan risiko default. (*/AS)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/182-investasi/16496-inilah-keutungan-dan-risiko-berinvestasi-obligasi.html

Ubah Karyawan Jadi Pembela Perusahaan

Views :179 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 02 Mei 2012 09:44
office0512Para pekerja yang setia dan memiliki passion memberikan manfaat bagi sebuah perusahaan sebagaimana yang dilakukan oleh pelanggan yang berdedikasi. Mereka ini bertahan lebih lama, bekerja dengan lebih kreatif, dan mau memberikan lebih. Jadi bagaimana Anda mengubah pegawai menjadi pembela perusahan dan pekerjaannya?
  • Singkirkan survei pegawai tahunan: Survei ini merepotkan dan kurang bisa dipercaya. Lakukan survei pada pegawai dengan frekuensi lebih sering tetapi gunakan pertanyaan yang lebih sederhana. Cobalah tanyakan: Seberapa mungkin Anda akan merekomendasikan perusahaan ini kepada teman sebagai tempat bekerja? Seberapa mungkin Anda akan merekomendasikan produk atau layanan perusahaan ini kepada pelanggan potensial?
  • Berikan masukan pelanggan yang tidak tersaring pada karyawan: Saat pegawai frontline mendengar secara langsung dari pelanggan, mereka akan memberi tanggapan. Masukan positif menginspirasi mereka untuk menjaga performa kerja. Kritik sering memotivasi mereka untuk meningkatkan kinerja. (Rob Markey/*AP)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/183-hrd/16501-ubah-karyawan-jadi-pembela-perusahaan.html

Pikirkan Sebelum Anda Merombak

Views :117 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 02 Mei 2012 09:51
CE-logoPara manajer suka merombak, melakukan reorganisasi tetapi hanya sedikit yang bersedia untuk dirombak. Perubahan struktural mendorong munculnya kecemasan dan kebingungan. Sebelum Anda memutuskan untuk melakukan perombakan dalam struktur perusahaan, pertimbangkan dua hal berikut ini:
  • Masalah apa yang Anda coba untuk pecahkan? Apakah Anda mencoba untuk fokus pada pelanggan? Apakah Anda ingin mengurangi biaya? Apakah struktur perusahaan sudah menjadi begitu kompleks sehingga membuat kinerja terhambat? Mungkin akan ada sejumlah alasan yang siginifikan maknanya tetapi sebelum Anda memutuskan untuk melakukannya, perjelas tujuan yang akan dicapai.
  • Apakah perombakan merupakan solusi satu-satunya? Perombakan mungkin menjadi solusi banyak permasalahan tetapi sangat jarang menjadi satu-satunya solusi. Pertimbangkan berbagai alternatif terlebih dahulu, terutama alternatif-alternatif yang membutuhkan biaya dan risiko. (Roy Ashkenas/*AP)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/177-manajemen/16502-pikirkan-sebelum-anda-merombak.html