Showing posts with label bimbel. Show all posts
Showing posts with label bimbel. Show all posts

Thursday, December 20, 2012

Gurita bisnis bimbel berhitung

TAWARAN KEMITRAAN

Gurita bisnis bimbel berhitung

Bisnis bimbingan belajar (bimbel) kian semarak. Banyak pemain bisnis ini menawarkan waralaba dan kemitraan. Salah satu pengusaha bimbel yang sedang getol menawarkan kemitraan adalah Sofan Kudlori yang mengusung merek Sempoa Kreatif di Sidoarjo, Jawa Timur.
Sempoa Kreatif sudah berdiri sejak tahun 2001 dan mulai menawarkan kemitraan pada tahun 2003. Saat ini, Sempoa Kreatif sudah memiliki 60 cabang yang tersebar di beberapa daerah, seperti Surabaya, Gresik,  Tuban, Tulungagung, Madiun, Ngawi, Solo, Bekasi, Cirebon, Pekanbaru, Aceh, dan Banjarmasin.
Paket kemitraan yang ditawarkan Sempoa Kreatif hanya satu dengan biaya investasi sebesar Rp 6 juta. Biaya itu sudah mencakup biaya kerja sama selama dua tahun sebesar Rp 2 juta. Terkait fasilitas, mitra akan mendapat sistem operasional, pelatihan guru, dan banner untuk promosi.
Dalam sebulan, mitra diperkirakan bisa mengantongi omzet Rp 4 juta dengan laba bersih 40% . “Mitra bisa balik modal setelah lima bulan beroperasi,” katanya.
Kata Sofan, mitra diperbolehkan membayar uang muka sebesar 50% dari total investasi. Uang muka itu digunakan untuk sarana promosi dan perlengkapan cabang. Setelah itu, mitra bisa melakukan pelunasan.
Setiap siswa yang belajar di Sempoa Kreatif diwajibkan membayar uang pendaftaran Rp 175.000. Selain itu, ada juga biaya pendidikan sebesar Rp 120.000 per bulan. Satu cabang minimal bisa menampung sebanyak 30 siswa.
Dalam kerjasama ini, Sofan memungut biaya royalti 5% dari omzet bulanan. Ia menargetkan, dalam sebulan bisa menggaet minimal empat mitra baru. Setelah wilayah Sumatra dan Kalimantan, ia berharap bisa menjangkau mitra usaha di daerah Sulawesi dan sekitarnya.
Di Sempoa Kreatif, siswa dilatih berhitung menggunakan sempoa bayangan. Sehingga, siswa lebih cepat menguasai berhitung cepat tanpa tergantung dengan alat sempoa.

Thursday, September 6, 2012

Ayo, belajar bisnis dari bimbingan belajar

TAWARAN KEMITRAAN PENDIDIKAN: BIMBINGAN BELAJAR

Ayo, belajar bisnis dari bimbingan belajar

Peluang bisnis bimbingan belajar (bimbel) masih menjanjikan. Itu juga yang mendorong lembaga bimbel Sinau asal Surabaya menawarkan kemitraan usaha. Dengan investasi Rp 75 juta - Rp 150 juta, mitra bisa mengantongi omzet mulai Rp 20 juta - Rp 50 juta per bulan.

Bisnis lembaga bimbingan belajar (bimbel) nampaknya masih menjanjikan. Peluang bisnis ini masih menganga lebar seiring terus meningkatnya standar kelulusan siswa sekolah dari tahun ke tahun.

Maklum, demi memenuhi tuntutan itu, banyak siswa mengikuti program belajar tambahan atau mengambil les di bimbel. Lantaran menjanjikan, banyak pengelola bimbel memutuskan untuk menawarkan kemitraan atau waralaba.

Salah satunya adalah lembaga bimbel Sinau asal Surabaya. Berdiri tahun 2004, bimbel Sinau menawarkan kemitraan akhir tahun 2009.

Nurita, Direktur Operasional Sinau bilang, kini lembaga bimbelnya telah memiliki 10 cabang yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Banyuwangi, dan Bandung. "Tiga di antaranya milik sendiri," katanya.

Sinau merupakan bimbel untuk anak didik mulai play group, TK, SD, SMP, SMA, hingga persiapan masuk perguruan tinggi. Bimbel ini memberikan bimbingan seluruh mata pelajaran yang masuk dalam materi ujian nasional. Selain itu, ada bimbingan belajar bahasa Jepang dan Mandarin.

Siswa dipungut biaya mulai Rp 150.000 Rp 200.000 per bulan. Durasi pertemuan 90 menit dalam dua sampai tiga kali per minggu.

Nurita mengklaim, selama bertahun-tahun, bimbel Sinau sudah terbukti sukses meluluskan para siswa dalam ujian nasional (UN) dan tes masuk perguruan tinggi. "Sistem belajar kami aktif dan kreatif serta komunikatif," ujarnya.

Hal itu ditunjang oleh kurikulum yang selaras dengan tuntutan kelulusan UN dari tahun ke tahun. Sinau menawarkan kemitraan Rp 75 juta untuk wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Di luar tiga wilayah itu, biaya investasinya Rp 150 juta. "Biaya investasi lebih tinggi karena biaya operasional, transportasi, dan izin mendirikan bimbel di luar tiga daerah itu lebih tinggi," jelas Nurita.

Dengan investasi sebesar itu, mitra akan mendapatkan masa kontrak lima tahun, plus peralatan mengajar, seperti meja, kursi, AC, komputer, materi, dan pelatihan guru.

Ia menjanjikan, estimasi omzet mitra per bulan senilai Rp 20 juta-Rp 50 juta. Dengan laba 50%-70%, mitra bisa balik modal mulai enam bulan sampai dua tahun. "Tapi ada juga mitra yang sudah balik modal empat bulan," ucapnya.

Dalam kerjasama ini, mitra bisa memilih sebagai investor aktif atau pasif. Bila aktif, mitra ikut terlibat dalam mengelola bisnis dengan pembagian laba 70% untuk mitra dan 30% untuk kantor pusat. Tapi bila pasif, pembagian profitnya 50% untuk pusat, dan 50% sisanya untuk mitra.

Pengamat wirausaha, Khoerussalim Ikhsan menilai, kemitraan bisnis bimbel masih prospektif. Pasalnya, kebutuhan akan pendidikan terus meningkat. Namun, mitra harus mempelajari setiap tawaran kemitraan bimbel.

Hal utama yang harus diperhatikan adalah manajemen pengelolaannya dan sistem pemasaran. "Kalau pengelolaan tidak bagus, butuh waktu lama untuk balik modal," ujar Khoerussalim.

Reputasi lembaga bimbel juga terlihat dari jumlah siswanya. "Jumlah siswa harus banyak, minimal 200 orang sehingga dalam sebulan bisa dapat Rp 40 juta," ujarnya.

Graha Sinau Surabaya
Jl. Bulka Rukem Timur 2/69, Surabaya, Jawa Timur
Telepon: 085211166410, 081289262888

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/ayo-belajar-bisnis-dari-bimbingan-belajar

Tuesday, August 28, 2012

Peluang bisnis dari kursus matematika


TAWARAN KEMITRAAN BIMBEL

Peluang bisnis dari kursus matematika

Mata pelajaran matematika masih menjadi momok bagi para siswa. Buat mereka pelajaran matematika itu sulit. Agar menguasai pelajaran hitung-hitungan ini, banyak orang tua mengikutkan anaknya kursus matematika. Hal ini membawa dampak positif bagi penyelenggara kursus matematika. Lembaga bimbingan belajar (bimbel) Sinau di Depok, Jawa Barat juga merasakan berkah itu.
Lembaga kursus matematika ini berdiri tahun 2011. Saat itu juga Sinau langsung menawarkan kemitraan. Meski baru, jumlah mitranya sudah lumayan banyak. "Total mitra kami sudah 10," kata Eko Mujianto, pemilik Bimbel Sinau. Adapun total gerai Sinau ada 15. Sebanyak lima gerai milik sendiri. Semua gerai berlokasi di Jabodetabek.
Eko mengklaim, bimbelnya diminati karena menawarkan metode yang mudah dalam belajar matematika. Ia menyebutnya sebagai metode matematika gasing. Ia mengklaim, metode ini mudah dan menyenangkan para siswa.
Sinau fokus mengajar anak-anak usia kelas satu hingga kelas enam sekolah dasar (SD). Biaya kursus mulai Rp 200.000 per bulan per siswa. Durasi pertemuan dua kali seminggu dengan waktu 90 menit. Sementara pertemuan dengan durasi lima kali seminggu dipungut bayaran Rp 500.000 per bulan per siswa.
Dalam kerjasama kemitraan ini, Eko menawarkan tiga paket investasi. Pertama, paket silver senilai Rp 75 juta. Mitra akan mendapatkan semua peralatan belajar mengajar, seperti modul, komputer, alat peraga, dan training. Estimasi omzet per bulan Rp 12 juta dengan laba 41%.
Kedua, paket golf senilai Rp 100 juta. Mitra mendapatkan peralatan yang sama. Hanya jumlahnya lebih banyak. Estimasi omzet per bulan Rp 15 juta dengan laba 50%.
Ketiga, paket platinum senilai Rp 125 juta. Mitra akan mendapatkan peralatan mengajar dalam jumlah lebih banyak dari sebelumnya. Estimasi omzetdalam sebulan Rp 30 juta dan laba 40%-50%.
Untuk ketiga paket kemitraan ini, Eko menjanjikan mitra balik modal dalam waktu 1,5 tahun. Dalam kerjasama ini, operasional bimbel langsung berada di bawah kendali pusat. Karyawan dan tenaga pengajar juga didatangkan dari pusat. Namun, untuk gajinya tetap tanggungan mitra.
Ketua Dewan Pengarah Waralaba dan Lisence Indonesia, Amir Karamoy menilai, peluang bisnis pendidikan masih menjanjikan. Asalkan memiliki metode belajar dan sistem operasional yang baik, peluang sukses cukup besar. "Hal yang perlu ditonjolkan adalah keunikan sistem belajarnya. Kalau tidak punya keunggulan metodologis akan sulit berkembang," ujar Amir.
Selain metode, pemilik bimbel juga harus punya rekam jejak yang baik. Caranya, mencetak siswa yang berprestasi di bidang matematika.

Bimbel Sinau Jln. Raya Sawangan No 10C Rangkapan Jaya, Pancoran Mas, Depok HP: 087878862133

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/peluang-bisnis-dari-kursus-matematika

Saturday, July 14, 2012

Peluang kemitraan bimbel Aqila

TAWARAN KEMITRAAN

Peluang kemitraan bimbel Aqila

Tak diragukan lagi bisnis bimbingan belajar (bimbel) masih menjanjikan. Bisnis ini terus berkembang karena peminatnya tak pernah surut. Peluang itu juga yang dibaca lembaga bimbel bernama Aqila Course di Magelang, Jawa Tengah. Berdiri tahun 2009, lembaga bimbel ini resmi menawarkan kemitraan sejak 2011 lalu.
Dalam kerjasama ini, Aqila menjual manajemen, sistem, dan modul kepada para mitra usahanya. Modul pembelajaran yang dijual mulai untuk siswa sekolah dasar (SD), sekolah menengah tingkat pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA). Modul pembelajaran itu dalam bentuk acrobat reader (pdf).
Selain itu, ada juga sistem administrasi dan buku panduan menjalankan bimbel dalam bentuk microsoft word dan excel. Modul tersebut tidak hanya dijual kepada bimbel yang baru buka, tapi juga bagi bimbel yang sudah lama beroperasi tapi ingin memakai modul Aqila. "Jadi yang kami jual modulnya saja," kata Herlina Bayu Purbosari, pengelola Aqila Course.
Untuk modul SD, Aqila memiliki modul berisi mata pelajaran IPA, matematika, IPS dan bahasa Inggris. Sementara untuk SMP terdiri dari IPA, matematika, dan bahasa Inggris. Pilihan modul SMA meliputi fisika, kimia, matematika, dan bahasa Inggris.
Dalam kemitraan, Aqila menawarkan tiga paket kerjasama. Pertama, paket lisensi satu dengan biaya Rp 2,8 juta. Mitra akan mendapatkan modul, brand Aqila Course, dan sistem pengelolaan bimbel atau SOP.
Kedua, paket lisensi dua senilai Rp 6, 2 juta. Mitra mendapat fasilitas sama dengan lisensi satu plus training satu kali. Terakhir, paket lisensi tiga senilai Rp 1,5 juta.
Dalam paket ini, mitra hanya mendapatkan modul dan tidak terikat. "Untuk lisensi satu dan dua, mitra oleh memakai nama Aqila Course selama lima tahun masa kerjasama," jelas Herlina.
Saat ini, Aqila sudah memiliki 40 mitra yang tersebar di sejumlah kota, seperti Makassar, Surabaya, Lumajung, Gresik, Jakarta, dan Kalimantan. Selain itu, ada juga 15 mitra yang hanya memakai modul dan tidak memakai nama Aqila.
Kelebihan Aqila, siswa dijamin lulus ujian nasional. Jika tidak, 50% biaya bimbel akan dikembalikan. Siswa juga ditargetkan bisa menghitung cepat dalam 12 kali pertemuan.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/peluang-kemitraan-bimbel-aqila

Monday, June 18, 2012

TAWARAN KEMITRAAN PENDIDIKAN

TAWARAN KEMITRAAN PENDIDIKAN: BIMBINGAN BELAJAR MATEMATIKA

Menghitung laba dari kursus matematika


Menghitung laba dari kursus matematika

Agar si buah hati lebih mahir menguasai pelajaran matematika, banyak orang tua mengikutkan anaknya kursus matematika. Terlebih, pelajaran ini menjadi salah satu penentu kelulusan pada ujian akhir nasional untuk segala tingkatan sekolah.

Hal ini membawa dampak positif bagi penyelenggara kursus matematika. Lembaga bimbingan belajar (bimbel) Math Monkey Indonesia yang berkantor pusat di Jakarta Utara, juga merasakan berkah tersebut.

Lembaga kursus matematika asal Amerika Serikat (AS) ini membuka bisnis di Indonesia sejak 2010. Nah, mulai awal tahun ini, Math Monkey Indonesia resmi menawarkan waralaba. Saat ini, Math Monkey sudah memiliki tiga cabang yang semuanya di Jakarta.

Dari tiga cabang itu, dua milik mitra dan satu milik sendiri. Metode mengajar di bimbel ini murni mengandalkan kemampuan otak tanpa alat bantu, seperti jari, kalkulator, dan kertas. Selain hitung cepat, metode ini juga melatih memori dan konsentrasi.

Handayani Lim, Managing Director Math Monkey Indonesia mengatakan, kegiatan belajar di tempatnya menggunakan metode menghitung cepat secara mentally. "Jadi tidak perlu lagi tergantung dengan jari atau pun coretan," ujar Handayani.

Math Monkey fokus mengajar anak-anak usia 3 tahun sampai 12 tahun. Biaya kursus per bulan sebesar Rp 360.000 per bulan. Dengan biaya tersebut, anak-anak mendapatkan pelajaran satu kali pertemuan dalam seminggu dengan durasi 90 menit.

Math Monkey menawarkan kemitraan dengan biaya investasi Rp 140 juta. Dengan investasi sebesar itu, mitra akan mendapat sejumlah peralatan, seperti papan tulis, meja kursi, biaya marketing, dan grand opening.

Biaya itu juga sudah mencakup franchise fee lima tahun, training, dan support fee selama setahun. Jadi, dalam kerja sama ini mitra tinggal menyediakan tempat saja.

Handayani memperkirakan, omzet mitra Rp 58 juta per bulan. Asumsinya, mitra bisa menjaring siswa sebanyak 360 orang. Adapun laba bersihnya sekitar 30% dari omzet. Dengan royalti fee 20% dari omzet bulanan, mitra bisa balik modal dalam waktu satu sampai dua tahun.

Pengamat wirausaha Khoerussalim Ikhsan menilai, prospek bisnis lembaga kursus matematika cukup menjanjikan. Menurutnya, lembaga kursus ini tetap dibutuhkan karena banyak anak kesulitan mempelajari matematika. "Sehingga perlu bimbingan belajar," ujar Khoerussalim.

Math Monkey
Jl. Pluit Samudra No 9
Jakarta Utara, 14450
HP: 081614 98 225
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/menghitung-laba-dari-kursus-matematika/?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Thursday, May 3, 2012

Usaha bimbel masih menggiurkan

TAWARAN KEMITRAAN PENDIDIKAN: BIMBINGAN BELAJAR

Usaha bimbel masih menggiurkan



Usaha bimbel masih menggiurkan

Berdasarkan wawancara KONTAN dengan beberapa pengelola bisnis bimbel, prospek bisnis di dunia pendidikan sepertinya masih cerah. Namun, bisnis ini harus disertai dengan kreativitas dan kualitas pengelolaannya.

KONTAN mengulas tiga bimbel yang bergerak di bisnis ini. Dari tiga pemain tersebut, dua bimbel mengalami pertumbuhan mitra dan kemajuan usaha. Namun satu stagnan, alias tidak mengalami kemajuan. Berikut beberapa ulasannya.


Bimbel GalanUI

Waralaba Bimbel GalanUI sudah berdiri sejak Agustus 2008. Kemudian baru pada Juni 2010, GalanUI mulai membuka tawaran kemitraan Bimbel GalanUI.

Berdasarkan catatan KONTAN, sampai Januari 2011, GalanUI telah memiliki empat mitra. Setelah setahun lebih berselang, GalanUI mengalami perkembangan.

Menurut pendiri GalanUI, Ikhsan Muttaqin, saat ini bimbel yang dikelolanya ini sudah memiliki sembilan mitra yang tersebar di daerah Pasar Rebo, Pekayon, Cibubur, Matraman, dan Depok. Sementara pada bulan Juni mendatang,

GalanUI akan memiliki sebanyak 12 mitra. "Kami targetkan tahun ini mitra bisa bertambah sebanyak tiga hingga empat mitra," jelasnya.

Karena mengalami kemajuan dan minat dari masyarakat, saat ini GalanUI juga meningkatkan biaya bimbel. Jika sebelumnya, GalanUI mematok biaya kursus sebesar Rp 135.000 per siswa dalam sebulan, maka saat ini meningkat menjadi Rp 150.000 per bulan untuk siswa SD, dan Rp 160.000 per bulan untuk siswa SMP. Untuk menarik perhatian siswa, GalanUI membatasi jumlah siswa maksimal 10 orang per kelas.

GalanUI juga menaikkan biaya investasi awal. Jika sebelumnya sebesar Rp 25 juta, saat ini menjadi Rp 40 juta. Adapun untuk royalty fee, GalanUI memberikan kelonggaran selama enam bulan pertama mitra tidak usah membayar royalti. Namun pada bulan ketujuh harus membayar biaya royalti sebesar 10% dari omzet per bulan.

Ikhsan optimistis bisnis bimbel miliknya terus mengalami kemajuan. Soalnya, GalanUI ketat dalam mencari calon pengajar, tujuannya supaya kualitas pelajaran tetap terjaga.

Guna meningkatkan jumlah mitra dan lebih dikenal masyarakat, GalanUI rajin mengikuti pameran. Ikhsan bilang, tiap tahun pihaknya selalu mengikuti pameran dari Wirausaha Muda Mandiri. "Selain itu, kami juga aktif di komunitas-komunitas," ujarnya.


Bimbel Salemba

Bimbel Salemba berdiri sejak tahun 2003. Bimbel yang berbasis di Bintaro, Tangerang Selatan itu, telah memiliki 40 mitra. Mitra Bimbel Salemba tersebar di daerah Jabodetabek, Padang, Medan, Lampung hingga Semarang.

Jumlah mitra Bimbel Salemba ini lumayan meningkat pesat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, saat diulas KONTAN pada 2010, Bimbel Salemba baru memiliki sekitar 10 mitra. Salah satu daya tarik bimbel ini ialah karena membidik segmen khusus yakni pelajar SMA atau yang ingin sukses mengikuti seleksi masuk Universitas Indonesia. "Tapi, kami tetap menyediakan paket bimbel tingkat SD dan SMP. Hanya saja, kami mengutamakan untuk yang SMA atau baru lulus SMA untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi," ujar Kaeran, Manager Pengembangan dan Bisnis Bimbel Salemba.

Secara umum jumlah siswa di tiap cabang Bimbel Salemba berkisar antara 50 orang hingga 150 orang, dengan tarif paket bimbel antara Rp 4 juta hingga Rp 7 juta per siswa. Alhasil omzet setiap tahun ajarannya bisa mencapai Rp 200 juta - Rp 600 juta.

Adapun laba bersih bisa mencapai 35% dari total omzet. Dengan demikian setiap mitra diperkirakan bisa balik modal antara 1 - 2 tahun.

Adapun paket investasi yang ditawarkan Bimbel Salemba semakin mahal. Bila dulu investasi untuk biaya lisensi yang dikutip sekitar Rp 25 juta, kini ada dua paket investasi yang tawarkan. Pertama, individual lisensi senilai Rp 33 juta. Kedua, master lisensi seharga Rp 60 juta. Keduanya untuk kerja sama selama lima tahun.

Kedua paket ini mendapatkan layanan yang sama, mulai dari pelatihan sumber daya manusia dan promosi. Namun, untuk individual lisensi hanya membolehkan investor membuka satu gerai saja. Sedangkan master lisensi memungkinkan investor membuka sejumlah gerai termasuk bekerja sama dengan pihak ketiga untuk membuka gerai lain di satu kota.

Kaeran menambahkan, prospek bisnisnya ini masih terbilang bagus dan tetap diminati sejumlah investor. Namun, investor memang perlu menyiapkan lokasi yang sangat strategis, terutama yang dekat dengan sekolah sekaligus perumahan. "Sekitar minggu kemarin ya baru pembukaan mitra yang di Aceh dan Bali," tandasnya.


Tiara Bimbel

Kalau Bimbel Salemba dan GalanUI yang berbasis di Jakarta bisa tumbuh pesat, Tiara Bimbel, asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tidak demikian. Tiara Bimbel justru tidak bisa berkembang.

KONTAN pernah mengulas bisnis ini pada April 2011 silam. Pada saat itu, bimbel yang didirikan pada tahun 2004 ini memiliki tujuh cabang, dua di antaranya milik mitra dan lima yang lain merupakan milik sendiri.

Setelah setahun berselang, bisnis Tiara Bimbel tidak mengalami kemajuan. Bimbel yang mulai menawarkan kemitraan pada tahun 2010 ini tidak kunjung bertambah mitranya. Pemilik Tiara Bimbel, Rusydi mengatakan, bimbel miliknya tersebut memang tidak mengalami perkembangan signifikan sejak 2011. "Jadi kami sekarang sedang konsolidasi internal," jelasnya.

Ia bilang, sebagian besar calon mitra tidak begitu berminat dengan tawaran kemitraan dari Tiara Bimbel. Padahal sebelumnya sudah ada calon mitra dari Batam dan Jakarta, namun, karena tidak cocok tempat, akhirnya mereka mengurungkan niat mereka untuk bermitra.

Tiara Bimbel fokus pada bimbingan anak TK dan SD. Tiara Bimbel memberikan materi pelajaran seperti baca tulis, berhitung, sempoa, IPA, IPS, matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tiara Bimbel memungut biaya pendaftaran dari siswa sebesar Rp 300.000 dan biaya kursus Rp 300.000 sampai Rp 400.000 per siswa, untuk delapan kali pertemuan dalam sebulan.

Tiara Bimbel menawarkan tiga paket waralaba. Paket A dengan investasi Rp 25 juta dan biaya royalti 8,9% dari omzet per bulan. Paket B bernilai investasi Rp 22,5 juta dengan biaya royalti 19,8%. Paket C Rp 20 juta dengan biaya royalti 40% sebulan.

Dengan investasi awal hanya Rp 25 juta, terwaralaba mendapatkan perlengkapan senilai Rp 7 juta, renovasi Rp 5 juta, dan biaya survei untuk wilayah Jakarta Rp 3 juta. Di luar itu, terwaralaba harus membeli modul, lembar kerja anak, baju, dan tas.

Tiara Bimbel meminta para terwaralaba memilih lokasi di pinggir jalan yang mudah dijangkau. Tempat tersebut bisa berbentuk rumah atau ruko dengan ukuran 70 meter persegi. Lokasi Bimbel pun sebaiknya memiliki halaman luas sebagai tempat parkir serta arena bermain.

Nah, apakah Anda masih tertarik menjajal bisnis bimbingan belajar?
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/usaha-bimbel-masih-menggiurkan

Wednesday, April 4, 2012

TAWARAN KEMITRAAN PENDIDIKAN: BIMBINGAN BELAJAR


Laba dari siapkan siswa ikut ujian nasional


Laba dari siapkan siswa ikut ujian nasional


Ada yang ingin anaknya bisa semakin menguasai mata pelajaran di sekolah. Ada pula yang menginginkan buah hatinya bisa lebih siap menghadapi ujian nasional. Melihat tingginya animo masyarakat itu, tak heran, bisnis bimbel kian menjamur termasuk berbagai tawaran waralaba maupun kemitraan bimbel.

Salah satu pemain di bisnis ini adalah Gama Exact. Lembaga bimbel yang sudah berdiri sejak tahun 2000 ini mulai menawarkan waralaba pada 2007 lalu. Saat ini, Gama Exact sudah memiliki 10 cabang di Jakarta dan Bekasi. Dari jumlah itu, tiga di antaranya milik mitra dan tujuh sisanya kepunyaan sendiri.

Anto Sarwanto, Kepala Cabang Gama Exact, bilang bahwa prospek usaha bimbel sekarang ini cukup cerah karena telah menjadi kebutuhan dasar setiap orang dan berlangsung terus-menerus.

Anda tertarik bermitra dengan Gama Exact? Gama Exact menawarkan paket investasi dengan franchise fee sebesar Rp 50 juta selama lima tahun. Dengan biaya ini, mitra sudah mendapat peralatan operasional awal, seperti sarana belajar dan spanduk, serta pendampingan selama satu tahun. Mitra juga memperoleh training guru dan strategi pemasaran.

Namun, di luar itu, mitra juga perlu menyiapkan biaya sewa tempat dan pengadaan sarana belajar, semisal meja, kursi, dan papan tulis. Perkiraannya, biaya sewa tempat dan sarana belajar ini mencapai Rp 100 juta. Sehingga, total investasinya adalah Rp 150 juta. "Tempatnya bisa berupa ruko dengan minimal empat kelas," jelas Anto.

Mitra bisa balik modal dalam waktu setahun. Dengan catatan, mitra bisa mendapatkan 250 siswa dengan biaya bimbel mulai Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta per orang per tahun. "Tergantung program yang diambil," katanya.

Dengan jumlah siswa sebanyak itu, mitra bisa mengantongi omzet hingga Rp 60 juta. Dari penghasilan itu, Gama Exact akan memungut royalty fee 10% setiap bulan.

Gama Exact menyasar siswa mulai dari SD hingga SMA. Di lembaga bimbel ini, siswa dapat mengambil mata pelajaran bahasa Inggris, bahasa Indonesia, matematika, ilmu pengetahuan alam (IPA), dan ilmu pengetahuan sosial (IPS). Khusus siswa SMA, disediakan juga program bimbel untuk mengikuti ujian nasional. Selain itu, Gama Exact juga melayani siswa yang mau mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi negeri (PTN).

Menurut Levita Supit, Ketua Waralaba dan Lisensi Indonesia, prospek usaha bimbel masih cukup bagus. Tapi, bisnis ini sudah disesaki banyak pemain termasuk pemain lama yang sudah populer.

Sebuah bimbel cepat mendapat kepercayaaan masyarakat bila tingkat kelulusan siswa yang dibinanya tinggi. "Misalnya, siswa yang masuk perguruan tinggi negeri banyak," imbuh Levita.

Gama Exact
Gedung Sanggar Pramuka
Kompleks TNI AL Dewa Kembar
Jl. Kebantenan Raya 45 Cilincing, Jakarta Utara
Telp. (021) 98282221

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/laba-dari-siapkan-siswa-ikut-ujian-nasional

Wednesday, December 21, 2011

Raup Laba dari Metode Bimbingan Belajar Membaca

Views :127 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 21 Desember 2011 13:10
Seringnya ditemukan kasus anak didik yang belum bisa membaca walaupun sudah berada di kelas cukup tinggi, kerap mengusik hati Khristanto. Pria berusia 58 tahun yang berprofesi sebagai guru SD itu merasa galau. Sebab kemampuan membaca adalah modal utama agar anak didik dapat menyerap ilmu pengetahuan secara maksimal.

Khristanto1Ia merasa risau karena kasus keterlambatan kemampuan anak didik dalam membaca tidak hanya terjadi di sekolah tempatnya mengajar di beberapa SD di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tetapi juga banyak SD lainnya. Karena kerisauannya itu, akhirnya ia menjadi terpicu dan mendorong kreativitasnya untuk menemukan metode mengajar membaca yang pas sehingga proses belajar membaca dapat berlangsung efektif dan efisien.

"Membaca Langsung Menggunakan Metode Bunyi Huruf", demikian Khristanto menamai metode pembelajaran membaca temuannya itu. Awalnya diujicobakan kepada kedua anaknya yang saat itu masih balita dan bersiap masuk SD. Hasilnya sangat menggembirakan. Dua buah hatinya sudah fasih membaca sebelum masuk SD. Bahkan untuk penanganan anak keduanya, pembelajaran membaca dilakukan oleh sang istri, Endang Susilowati, yang sebelumnya telah diajari cara pengajaran belajar membaca dengan metode temuannya.

Khristanto sendiri, setiap kali dipercaya mengajar siswa kelas satu, selalu mengaplikasikan metodenya. Tidak menggunakan sistim eja maupun metode pembelajaran membaca lainnya yang lazim digunakan di banyak sekolah. Hasilnya juga sangat menggembirakan karena di setiap kelas yang dipegangnya, kemampuan membaca siswanya jauh di atas rata-rata sekolah lainnya.

Sayangnya, kendati Khristanto telah berusaha menularkan dan mengajarkan metodenya kepada banyak guru lain, apresiasi yang diterimanya jauh dari harapan. Pemerintah daerah dan instansi yang membidangi pendidikan pun tidak menganggap metode temuan Khristanto sebagai bentuk terobosan dalam pembelajaran membaca yang pantas digali dan dikembangkan. Hingga akhirnya, di luar jam mengajar di sekolah, Khristanto bersama sang istri memutuskan membuka kursus bimbingan belajar membaca bernama "Griya Baca" untuk anak-anak di rumahnya di Jalan Cendana, Kompleks Kota Baru Raya, Kota Brebes sejak tiga tahun terakhir.

"Saat ini tercatat lebih dari seratus siswa yang tengah mengikuti kegiatan bimbingan belajar membaca. Kalau yang sudah lulus bimbingan, saya rasa sudah lebih dari 300 anak," kata Khristanto kepada ciputraentrepreneurship.com, Rabu (21/12).

Mereka yang menjadi peserta bimbingan belajar membaca di "Griya Baca" adalah anak-anak TK tingkat B atau yang hendak bersiap masuk SD. Bahkan tidak sedikit siswa SD yang telah duduk di kelas 2 dan 3 ikut bimbingan di "Griya Baca" karena di sekolahnya tertinggal dalam hal kemampuan membaca. "Pengajarnya, selain saya dan istri saat ini dibantu oleh 4 orang guru yang kami rekrut dan dilatih untuk menguasai metode yang saya kembangkan," tandas Khristanto.

Menyinggung tentang metode pembelajaran membaca yang dikembangkannya, kata Khristanto, tekniknya berbeda dengan metode-metode pembelajaran membaca yang telah ada. Awalnya anak dikenalkan pada huruf vokal a, i, u, e dan o sekaligus cara membunyikannya. Setelah hafal bentuk dan cara membunyikannya dengan berbagai variasi gabungan huruf vokal yang diajarkan, anak-anak mulai diperkenalkan dengan huruf-huruf konsonan yang dianggap memiliki bunyi murni yakni huruf m, n, l, s dan r. Alhasil pada pertemuan kelima, peserta bimbingan belajar membaca di "Griya Baca" rata-rata sudah bisa membaca kalimat cukup panjang seperti, "Marni minum susu murni" atau "Marno malas minum susu" dan berbagai kalimat yang bisa dibentuk dari paduan huruf a, i, u, e, o dan m, n, s, l, r.

Perkembangan kemampuan membaca anak yang menjadi peserta bimbingan membaca "Griya Baca" memang relatif cepat dan dapat diikuti perkembangannya dari tahap ke tahap. Hingga banyak orang tua yang mempercayakan anak-anaknya untuk mengikuti bimbingan belajar membaca di "Griya Baca". "Di tempat kami rata-rata peserta berhasil menyelesaikan program bimbingan ini dalam waktu tiga bulan atau 27 kali pertemuan. Bahkan ada juga anak-anak yang mampu menyelesaikan belajarnya dalam 20 hingga 24 pertemuan," ujar Khristanto menambahkan.

Melihat animo masyarakat dan efektvitas metode temuannya, Khristanto berharap lembaga bimbingan belajar membaca yang dirintisnya dapat dikembangkan sebagai bisnis jasa di sektor pendidikan. Sebab kendati telah banyak lembaga sejenis didirikan dan dikembangkan di berbagai kota, kebanyakan tidak memiliki metode spesifik dan hanya mengadopsi atau mengembangkan metode yang telah ada hingga hasilnya kurang maksimal dan masa pembelajarannya menjadi sangat panjang.

Sementara di "Griya Baca", kata Khristanto, hampir dipastikan dalam 27 kali pertemuan dan bahkan kurang, rata-rata anak telah bisa membaca. Hanya, untuk masuk ke bisnis jasa pendidikan profesional, diyakini Khristanto dibutuhkan dana cukup besar sebagai modal investasi. Karenanya untuk mewujudkan keinginannya tersebut, Khristanto yang di tahun 2012 mendatang hendak memasuki masa pensiun, mulai merintis dengan membuat buku dan alat-alat peraga yang menjadi pendukung pengembangan lembaga bimbingan belajar membaca yang dikelolanya. (sis)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/bisnis/jasa/13609-menangguk-untung-dari-temuan-metode-bimbingan-belajar-membaca.html

Sunday, September 25, 2011

Penjual Es Keliling yang Sukses Membangun Bimbel

PDF Cetak E-mail
Sabtu, 24 September 2011 12:10
Hidup tidak selamanya berjalan mulus, dan kesuksesan harus diperoleh dengan perjuangan. Banyak kisah sukses diawali dengan jatuh bangun, seperti kisah sukses Muh Yusuf Ismail, Direktur Utama PT Gadjahmada Indonesia.

MUH_YUSUF_ISMAILMasa kecil Yusuf tidak terlalu menyenangkan, dia harus membantu orang tuanya, Ismail Daeng Meleng dan Hj Hafsah. Ayahnya adalah seorang pedagang kaki lima yang berpindah dari satu pasar ke pasar lainnya. Bakat bisnis ayahnya turut diwarisi Yusuf. Kelas satu Sekolah Dasar, Yusuf menjual es keliling membantu dagangan ibunya. Yusuf mengaku tidak merasa malu dengan teman-temannya pada saat itu, mengingat kondisi hidup mereka yang memang serba pas-pasan. "Bahkan saya merasa bangga dengan apa yang saya kerjakan," ujarnya.

Duduk di bangku kelas tiga SD, Yusuf juga membantu kakaknya, H Abd Karim berjualan buku dengan menggunakan gerobak keliling. Pada saat itulah, dia benar-benar merasakan spirit bisnis mengalir dalam dirinya. Karena dekat dengan buku pulalah, sehingga Yusuf kemudian menjadi seorang "kutu buku".

Dia mengoleksi ratusan buku dari berbagai penulis terkenal. Hingga sekarang ini, dia mengaku masih keranjingan membaca buku, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan diri dan manajemen.

Berkarier di dunia pendidikan, memang sudah menjadi pilihan Yusuf. Ayah satu anak ini, pernah labil untuk menentukan langkah, namun, akhirnya dia sadar bahwa Lembaga Bimbingan Belajar Gadjahmada sudah menjadi bagian hidupnya yang harus dia besarkan. Di sini, dia kemudian bisa sukses dan mendirikan cabang di beberapa daerah.

Yusuf melihat, banyak orang yang ingin mencapai kesuksesan dengan cara instan. Mereka enggan meraih kesuksesan itu dengan kerja keras. Kondisi ini sering membuat Yusuf prihatin, hingga kemudian melalui LBB Gadjahmada yang dia didirikan, dia banyak memotivasi karyawan-karyawannya yang sebagian besar mahasiswa untuk tidak cepat puas.

Suami Fitria Syahid ini, senantiasa berbagi spirit wirausaha dengan generasi-generasi muda yang sedang merangkak mencapai kesuksesan. Pilihannya untuk bergelut dalam dunia pendidikan, tidaklah lahir begitu saja, namun memiliki catatan proses yang panjang ketika Yusuf baru duduk di bangku kelas dua SMA Negeri 5 Makassar.

Ia merasakan gairah dan bersemangat ketika bisa mentransfer ilmunya kepada orang lain. Pada saat duduk di SMAN 5, Yusuf sering mengajar privat bahasa Inggris. Bahkan, terkadang dia rela mengajar di sekolah-sekolah terpencil, seperti di daerah Sidenreng Rappang.

Pada saat semester dua di Jurusan Teknik Sipil Universitas Hasanuddin, Yusuf kemudian bergabung menjadi tentor di salah satu lembaga bimbingan belajar. Selain memuaskan hobinya untuk mengajar, dia juga memperoleh tambahan biaya untuk kuliahnya, bahkan, dia sempat menyisihkan untuk ibunya.

Delapan tahun dia bergelut di lembaga bimbingan belajar tersebut. Sebuah pekerjaan tentunya memiliki konsekuensi, dan konsekuensi yang dialami Yusuf, dia agak terlambat menyelesaikan kuliahnya, sembilan tahun. Setahun setelah menyelesaikan kuliahnya, tepatnya pada 1998, Yusuf bersama empat temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) Gadjahmada.

Modal awal pendirian LBB Gadjahmada adalah pinjaman dari paman seorang teman Yusuf, termasuk gedung dan semua kelengkapan belajar mengajarnya. "Kami benar-benar tak memiliki modal sedikitpun, selain keyakinan dan kepercayaan diri," ujarnya.

Awal pendirian lembaga bimbel ini, dirasakan Yusuf dan rekan-rekannya sebagai masa-masa yang sulit. Terkadang kata Yusuf, gaji karyawan dan tentor tertunda selama tiga bulan. Perlatan belajar mengajar juga terbatas, apalagi jika harus melakukan try out ke luar daerah. Menghadapi kondisi tersebut, Yusuf tetap berikrar untuk membayar gaji karyawannya tepat waktu setiap tanggal satu. "Alhamdulillah, komitmen itu selalu saya tepati," lanjutnya.

Pada 2000, semua temannya hengkang dari LBB Gadjahmada, sehingga tinggal dia sendiri. Yusuf tetap bertahan karena kecintaanya dengan dunia ajar mengajar. Dia melewati masa-masa sulit dengan segala keterbatasan. Pernah dia jenuh dan nyambi sebagai supervisor di sebuah perusahaan percetakan. Namun, akhirnya kemudian dia sadar bahwa dirinya harus fokus di lembaga bimbel yang dia dirikan dengan susah payah.

Tahun 2006 merupakan masa titik balik, usahanya berkembang dan Yusuf akhirnya memutuskan keluar dari perusahaan percetakan dan dia fokus pada lembaganya. LBB Gadjahmada pun kemudian berkembang dan mulai dibanjiri peminat. Kini, Yusuf sudah mendirikan 14 cabang, 9 di Makassar dan lima di daerah. (*/Fajar)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/11381-penjual-es-keliling-yang-sukses-membangun-bimbel.html

Friday, August 12, 2011

INSPIRASI SISWADI


Peluang Usaha

INSPIRASI
Selasa, 09 Agustus 2011 | 14:11  oleh Bambang Rakhmanto
INSPIRASI SISWADI
Siswadi, bekas pengamen yang sukses membuka bimbel (1)
 
Siswadi, pemilik Bimbingan Belajar Solusi, ternyata sudah hidup di jalanan sejak usia 8 tahun. Ia pernah mengamen di Semarang dan di terminal Pulo Gadung, Jakarta. Dari hasil mengamen, ia bisa menyelesaikan sekolah hingga SMU. Kini, ia sudah memiliki 45 cabang bimbel di Jabodetabek dengan omzet Rp 400 juta per bulan.

Salah satu cita-cita setiap orang tua adalah memberikan pendidikan yang terbaik bagi buah hati mereka. Karena itu, para orang tua rela merogoh kocek lebih dalam agar anaknya memperoleh pelajaran tambahan di luar sekolah lewat bimbingan belajar (bimbel).

Siswadi melihat perilaku para orang tua itu sebagai peluang bisnis. Ia mendirikan usaha bimbingan belajar (bimbel) bernama Solusi di Matraman, Jakarta, pada tahun 2008 silam.

Saat ini, bimbel Solusi terus berkembang dan memiliki 45 cabang yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Dari seluruh cabangnya tersebut, Siswadi mampu meraih omzet hingga Rp 400 juta per bulan.

Memiliki usaha bimbel yang sukses belum membuat Siswadi puas. Keuntungan bisnis bimbel ia putar di bisnis restoran. Kini, Siswadi sudah mempunyai tujuh restoran dengan laba bersih Rp 49 juta per bulan.

Namun, semua kesuksesan itu bukan jatuh dari langit. Bisnis bimbel dan restoran Siswadi juga bukan bisnis warisan, lo. Laki-laki kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah, ini membutuhkan waktu panjang untuk membangun bisnis bimbel dan restoran.

Siswadi lahir dan besar dari keluarga yang serbakekurangan. Tapi, Siswadi yang ditinggal pergi begitu saja oleh ayahnya pada usia lima tahun itu memiliki semangat besar untuk mengubah nasib.

Sewaktu duduk di kelas III SD, Siswadi sempat berusaha mencari ayahnya ke Semarang. Karena tidak punya kerabat, Siswadi telantar dan menjadi pengamen untuk mendapatkan sesuap nasi di kota itu.

Sembari mengamen, Siswadi tetap mencari kabar tentang sang ayah. Tapi, akhirnya, ia menyerah dan kembali ke Purwodadi.

Setelah beberapa lama di rumah, Siswadi memutuskan untuk merantau ke Jakarta dengan naik kereta api. "Karena tak mempunyai tiket, saya diturunkan di sawah," kenang Siswadi.

Tidak patah arang, Siswadi berjalan kaki menyusuri sawah hingga bertemu dengan terminal bus. Dengan modal mengamen, Siswadi sampai di terminal Pulo Gadung, Jakarta. "Agar tetap hidup, saya mengamen di terminal itu," jelas Siswadi.

Hidup di jalanan membuat Siswadi berkenalan dengan banyak orang. Ia bahkan pernah ikut demonstrasi di tahun 1998 demi mendapatkan sebungkus nasi.

Karena sering demonstrasi, Siswadi terdampar di markas kelompok mahasiswa proreformasi bernama Forum Kota (Forkot).

Siswadi pun akhirnya menetap di markas Forkot itu sembari ikut sekolah kejar Paket A, setara dengan SD. Setelah lulus, Siswadi meninggalkan Forkot dan melanjutkan sekolah ke SMP.

Karena tidak punya tumpuan, Siswadi kembali mengamen untuk mencari sesuap nasi dan juga biaya sekolah. Terkadang, ia meminta uang secara paksa kepada murid lain. "Untungnya kepala sekolah berbaik hati dan membebaskan saya dari SPP," kata dia.

Ketika ia duduk di bangku SMU, Siswadi juga bekerja keras di sebuah persewaan game untuk membiayai sekolah. Selain itu, ia aktif di kegiatan nasyid SMU, bahkan sempat menjadi juara antar-SMU. "Sejak itu, saya mulai tenang dan tidak nakal," ungkap Siswadi.

Lulus SMU, Siswadi sempat kuliah di Universitas Bhayangkara. Tapi, kemudian, ia memutuskan bekerja sebagai tenaga marketing di sebuah lembaga bimbel.

Di tempat bimbel itulah Siswadi belajar seluk-beluk usaha bimbel. Berbekal pengalaman itu, ia mengajak teman-temannya membuka bimbel sendiri pada 2008.

Dengan memanfaatkan rumah salah seorang temannya, Siswadi mengeluarkan kocek Rp 300.000 untuk perlengkapan bimbel. "Saya dapat murid 95 siswa saat itu," kata Siswadi.

Dua siswa dari seluruh siswa didikannya itu lolos seleksi program pertukaran pelajar Indonesia-Jerman. Setelah itulah, bimbel Solusi diincar banyak siswa. Apalagi dari sisi bayaran, bimbel Solusi menawarkan paket hemat yang terjangkau bagi kalangan bawah.

Dalam waktu tiga tahun, bimbel Solusi berkembang menjadi 45 cabang dengan jumlah karyawan 500 orang. Setelah bimbel berjalan, Siswadi menyempatkan diri meneruskan kuliah di universitas yang berbeda. 

Rabu, 10 Agustus 2011 | 14:55  oleh Bambang Rakhmanto
INSPIRASI SISWADI
Siswadi tawarkan bimbel murah untuk menengah bawah (2)
 
Dengan segmen menengah ke bawah, bimbel Bintang Solusi Mandiri berusaha menarik biaya belajar yang murah. meski murah, Siswadi tetap memberikan standar yang tinggi untuk kurikulum dan pelajaran yang diberikan. Karena itu, Solusi terus berkembang dan tak hanya diminati kelas bawah saja.

Tekad untuk terus maju dan berhasil membuat Siswadi tak pernah menyerah. Setelah menyerap pengalaman dan ilmu dari pekerjaannya sebagai tenaga pemasaran di sebuah bimbingan belajar, ia memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

Dia lalu mengajak lima orang temannya membuka bisnis bimbingan belajar (bimbel) di daerah Matraman, Jakarta. Tekad Siswadi membentuk bimbel sendiri tak sekadar untuk mencari penghasilan. Siswadi juga ingin membuktikan bahwa bimbel itu hak semua murid dari semua status sosial.

Itulah sebabnya, dalam mengelola bimbel, Siswadi berusaha menjangkau murid SD dan SMP dari kalangan menengah bawah dengan menawarkan biaya murah.

Tapi perjuangan itu memang tak mudah. Lihat saja bagaimana, Siswadi mengaku kesulitan dalam mencari tempat usaha di saat awal mendirikan bimbel. Keterbatasan modal membuatnya tidak bisa menyewa tempat strategis. Siswadi pun harus puas bimbel dibuka di rumah kosong milik temannya di bilangan Matraman.

Ketika awal buka, sebanyak 98 murid SD menjadi siswa pertama bimbel Solusi. ”Alhamdulillah semuanya lulus masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), bahkan dua di antaranya berhasil ikut pertukaran pelajar ke Jerman,” kenangnya.

Dia banyak menggunakan insting dalam memilih pelajaran. Dan ternyata insting Siswadi memang jitu. Sebab banyak siswa yang mengatakan bahwa yang diajarkan di Solusi banyak yang keluar saat ujian. "Yang menurut saya soalnya sulit dan kompleks kita ajarkan ke siswa," jelasnya.

Tapi itu dulu. Setelah bisnis kian membesar, Siswadi tak mau lagi menggunakan insting untuk membantu belajar anak didiknya. Solusi kini sudah punya tenaga kurikulum yang menyusun soal dan materi pelajaran yang dia seleksi dengan ketat.

Alhasil, dengan kurikulum yang tersusun baik dan banyaknya bukti kurikulum itu sukses, membuat Solusi semakin terkenal. Jika pada awalnya Solusi mentargetkan anak didik dari kalangan menengah ke bawah, saat ini siswa yang bergabung juga banyak dari kalangan atas.

"Tiga tahun lalu kami memang fokus anak kurang mampu, sekarang kami juga menjangkau kalangan kelas atas," kata Siswadi.

Walau sudah merambah segmen menengah atas, Siswadi tetap mematok tarif murah Rp 500.000 per semester. "Itu menjadi daya tarik tersendiri, sebab walaupun murah namun materi yang diajarkan berkualitas," klaim Siswadi.

Dengan tarif yang terjangkau, siswa juga akan mendapatkan modul belajar, buku pengembangan, serta tempat belajar ber-AC. Siswa juga memperoleh training atau seminar motivasi yang berlangsung di tengah atau akhir semester.

Siswadi menjamin bahwa kualitas pembelajaran di Solusi terstandar dengan baik. Dengan menerapkan konsep belajar team best learning plus setiap kelas hanya berisi 10 siswa. Modul pembelajaran yang diberikan juga ringkas dan mudah dimengerti.

Beragam strategi itu juga menggiring Siswadi jadi penerima penghargaan penyelenggara bimbel terbaik versi majalah bisnis nasional pada 2009 silam. Penghargaan itu didapatkan berkat peningkatan jumlah siswa yang mencapai 100% tiap semester.

Agar bisnis bimbelnya terus berkembang, Siswadi kemudian mewaralabakan Solusi. "Kami ingin mengembangkan bimbel Solusi ke seluruh Indonesia," katanya.

Saat ini bimbel Solusi telah memiliki 45 cabang dan mitra di seluruh Indonesia dengan total murid sekitar 7.000 orang. Karyawan yang bekerja di Solusi juga sudah mencapai 470 orang. Dengan jumlah cabang tersebut, omzet yang diperoleh setiap bulan bisa mencapai Rp 400 juta.

Namun demikian, sukses yang diraih Siswadi tidak menghilangkan kenangan saat dia harus berjuang menjadi pengamen di jalanan. Sebagai wujud syukur atas segala suksesnya sekarang ini, saat ini Siswadi memberikan kursus gratis bagi anak yatim piatu. "Di balik kesuksesan pasti ada hak orang lain," katanya.

 
Kamis, 11 Agustus 2011 | 13:06  oleh Bambang Rakhmanto
INSPIRASI SISWADI
Siswadi merambah kuliner setelah sukses bisnis bimbel (3)
 
Sukses mendirikan 45 cabang bimbingan belajar membuat Siswadi kian getol mengembangkan bisnisnya. 2010 lalu, ia membuka restoran Rest Door yang membidik pasar mahasiswa dan karyawan. Hanya dalam jangka setahun, ia berhasil membuka tujuh cabang Rest Door dengan omzet Rp 420 juta per bulan.

Setelah sukses membangun usaha bimbingan belajar (bimbel) Solusi Bintang Mandiri, tidak membuat Siswadi berpuas diri. Mantan pengamen jalanan di Terminal Pulo Gadung itu bahkan kian getol mencari peluang bisnis baru. Bidang usaha baru yang dilirik Siswadi adalah bisnis kuliner.

Bersama lima orang temannya, pada 2010 lalu, Siswadi membuka restoran dengan modal Rp 50 juta. Pertama kali, ia membuka restoran itu di Ciputat, Banten, tidak jauh dari kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Begitu dibuka, restoran tersebut ternyata mampu menggaet banyak pelanggan yang kebanyakan berstatus mahasiswa. Tidak hanya menjadi tempat makan saja, restoran Siswadi juga sering menjadi tempat nongkrong mahasiswa.

Karena pasarnya mahasiswa, Siswadi sengaja menyajikan menu murah seperti laiknya mengudap di warung tegal (warteg). Dengan isi kantong Rp 5.000 saja, pelanggan sudah bisa makan dengan kenyang. Namun, demi kenyamanan Siswadi menerapkan layanan kelas restoran.

Tengok saja ruang restoran yang terkesan mewah karena ber-AC dan dilengkapi dengan teve layar datar. Tak hanya itu, restoran yang diberi nama Rest Door itu dilengkapi perangkat audio yang tak henti bersenandung saat pelanggan melahap hidangan. "Konsep ini memadukan warteg dengan restoran berbintang," kata Siswadi.

Perkawinan warteg dengan restoran itu pun menjadi kunci sukses bisnis restoran Siswadi. "Warteg punya keunggulan yaitu murah, ini penting untuk diadopsi," kata Siswadi.

Tidak cukup setahun, Siswadi memutuskan menambah cabang. Kali ini, ia melirik segmen lain selain mahasiswa. "Ada peluang untuk karyawan perkantoran," kata Siswadi.

Untuk melayani urusan perut para karyawan kantoran itu, Siswadi lantas membuka cabang Rest Door di Jalan Gatot Subroto. Tak hanya itu, ia juga membuka enam gerai lagi yang tersebar di Pamulang, Pondok Gede, dan di beberapa tempat di wilayah Jabodetabek lainnya. "Total ada tujuh cabang yang saya buka dalam setahun," kata Siswadi

Dewi Fortuna memang lagi berpihak pada Siswadi. Pendapatan tujuh restoran itu sesuai dengan harapan Siswadi. Walaupun keuntungan yang ia kutip relatif kecil, Siswadi berharap perputaran uang dari banyaknya pelanggan. "Harga murah serta tempat yang nyaman akan membuat orang kembali lagi makan ke tempat kami," jelas Siswadi.

Dari setiap restoran, Siswadi bisa mendulang omzet minimal Rp 2 juta per hari. Artinya, dalam sebulan tujuh restoran itu bisa mendatangkan omzet hingga Rp 420 juta.

Setelah usaha bimbel dan restoran menemukan jalan terang, Siswadi mengaku tidak mau muluk-muluk. Tahun ini, ia hanya ingin fokus mengembangkan bisnis yang ada. "Restoran ini baru setahun, kami kembangkan dulu" kata anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Dalam mengembangkan bisnis, Siswadi memiliki satu niat yaitu membahagiakan sang ibu. Ia bilang, perjalanan hidup yang ia alami selama ini tidak lepas dari motivasi yang diberikan oleh sang Ibu. “Sumber semangat bisnis itu paling utama adalah keluarga," kata Siswadi yang sedari kecil ditinggal pergi oleh sang Ayah.

Selain sukses bikin usaha sendiri, pria yang berusia 27 tahun itu sukses menyelesaikan kuliah. Dengan meraih gelar sarjana, ia juga bisa merealisasikan cita-cita keluarga. "Sebelumnya di keluarga saya tidak ada satu pun yang bisa melanjutkan kuliah," tutur Siswadi.

Kebahagian Siswadi juga tercukupi saat ia berhasil menemukan sang Ayah yang telah meninggalkan dia sejak ia berusia lima tahun. Siswadi mendapat informasi tentang keberadaan sang Ayah dari salah seorang tetangga di kampung halaman. "Saya langsung mencari ke lokasi untuk membuktikan kebenaran informasi itu," kata Siswadi.

Ternyata, ayah Siswadi menetap tidak jauh dari desa. Saat ditemui Siswadi, sang ayah sudah uzur. “Alhamdulillah, saya bisa menemukan beliau," kata Siswadi yang kini bercita-cita ingin membahagiakan kedua orang tuanya itu.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1312873864/75000/Siswadi-bekas-pengamen-yang-sukses-membuka-bimbel-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1312962953/75104/Siswadi-tawarkan-bimbel-murah-untuk-menengah-bawah-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/75185/Siswadi-merambah-kuliner-setalah-sukses-bisnis-bimbel-3