Showing posts with label ayam goreng. Show all posts
Showing posts with label ayam goreng. Show all posts

Tuesday, September 11, 2012

Laba ayam goreng masih tetap renyah

TAWARAN KEMITRAAN

Laba ayam goreng masih tetap renyah

Ayam goreng merupakan salah satu kuliner yang sangat populer di Indonesia. Saking tenarnya makanan ini, hampir di setiap penjuru tempat kita bisa dengan mudah menemukan gerai ayam goreng.
Salah satunya adalah Rocket Fried Chicken (RFC) di Bandung, Jawa Barat. Berdiri tahun 2010 lalu, gerai yang berada di bawah naungan PT Bandung Era Sentrra Talenta ini menawarkan kemitraan mulai akhir tahun 2010.
Saat ini, gerai RFC sudah mencapai 70 outlet yang tersebar di pelbagai daerah. "Sebanyak 10 gerai milik sendiri dan sisanya milik mitra kami," kata Reno Safrudin, Marketing Franchise RFC.
Reno mengklaim, jumlah mitra usahanya tumbuh pesat karena RFC unggul dari segi konsep dan menu makanan. Dari segi konsep, RFC menawarkan paket food court, kios, ruko, mini kafe, dan restoran. Setiap paket dilengkapi internet gratis dan saluran TV kabel. "Dari segi menu, kami menyajikan bermacam-macam olahan ayam goreng yang lezat," promosi Reno.
Selain ayam, RFC juga menyediakan menu burger, nugget, nasi goreng, hotdog, spaghetti, chicken soup, chicken salad, dan kentang goreng. Harganya mulai Rp 7.000 - Rp 20.000 per porsi.
Sedang minumannya terdiri dari coklat, capucino, mocacino, milkshake, stroberi, vanilla latte, serta es krim. Harga jualnya nya mulai Rp 5.000 - Rp 15.000 per gelas.
Dalam kemitraan ini, RFC menawarkan lima paket investasi. Pertama, paket foodcourt dengan luas gerai 16 meter persegi (m2) dan investasi Rp 55 juta. Estimasi omzet Rp 15 juta per bulan. Dengan laba 26%, mitra bisa balik modal dalam 26 bulan.
Kedua, paket kios seluas 24 m2 dengan investasi Rp 65 juta. Dengan omzet Rp 24 juta per bulan, mitra bisa balik modal dalam 25 bulan. Ketiga, paket ruko seluas 40 m2 dengan investasi Rp 105 juta. Dengan omzet Rp 45 juta per bulan, mitra bisa balik modal dalam tempo 23 bulan.
Keempat, paket mini kafe seluas 80 m2 dengan investasi Rp 165 juta. Dengan omzet Rp 75 juta per bulan, mitra balik modal sekitar 21 bulan. Kelima, paket resto seluas 120 m2 dengan investasi Rp 225 juta. Estimasi omzet Rp 120 juta dan balik modal selama 19 bulan.
Semua paket menjanjikan laba bersih sekitar 28% - 29%. Dan, kelima paket juga sudah temasuk kontrak kerjasama selama lima tahun, peralatan, bahan baku awal, seragam untuk karyawan, desain interior, training masak, pelayanan, dan promosi. "Yang membedakan tiap paket hanya jumlahnya," ujar Reno.
Ketua Dewan Pengarah Asosiasi Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali) Amir Karamoy menilai, bisnis makanan olahan ayam masih menjanjikan. Pasalnya, banyak orang Indonesia menyukai makanan ini. Makanya, meski sudah ada banyak pemain besar, peluang pasarnya tetap terbuka. Selain pelayanan, kunci sukses bisnis ini ada pada kualitas rasa. "Konsumen ingin makanan itu enak sesuai dengan seleranya," jelasnya.
Tapi, Amir menambahkan, lokasi gerai juga harus strategis. Sebab, faktor lokasi gerai turut menentukan ramai atau tidaknya suatu usaha.

Rocket Fried Chicken Jl. PHH Mustofa Komplek Grand Surapati Core, Graha DFI Lt. 2, Bandung HP: 08811667121

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/laba-ayam-goreng-masih-tetap-renyah

Sunday, July 15, 2012

Peluang Bisnis Ayam Goreng Rasa Oriental

INSPIRASI USAHA
Peluang Bisnis Ayam Goreng Rasa Oriental
Sabtu, 14 Juli 2012 | 12:05 WIB

KONTAN/DOK HUNGRY BOY CHICKEN

KOMPAS.com - Tawaran waralaba di bisnis makanan olahan ayam tak ada habisnya. Paling baru adalah tawaran dari PT Tatacipta Megapelangi yang mengusung brand Hungry Boy Indonesia.
Tawaran yang mulai dirilis Agustus 2011 ini menawarkan ayam goreng krispi tanpa tulang sebagai menu utama. Yenni Tantono, Franchise Manager Hungry Boy mengatakan, tren makanan ini sedang menjamur, terutama di kota besar. "Pemainnya juga tak terlalu banyak dibandingkan fried chicken," katanya.
Yenni mengklaim, keunggulan gerainya terletak pada menu ayam tanpa tulang yang disajikan dengan bumbu oriental khas Taiwan, yang telah telah disesuaikan dengan lidah masyarakat Indonesia.
Awalnya, menu ayam goreng krispi tanpa tulang ini memang populer di Taiwan. Dalam penyajiannya, menu ayam yang telah dilumuri bumbu dikemas dalam kantong dan bisa langsung dinikmati sambil jalan. "Praktis dan tak repot," jelasnya.
Dalam kerjasama waralaba ini, Hungry Boy menawarkan dua paket investasi, yakni paket konter dan paket booth. Untuk paket konter nilai investasinya sekitar Rp 18,8 juta untuk konter di luar mal, dan Rp 28,8 juta untuk konter di dalam mal.
Sedangkan untuk paket booth dihargai Rp 48,8 juta, baik di dalam atau di luar mal. "Kami sangat merekomendasikan agar setiap mitra memilih mal sebagai lokasi berjualan," ujar Yenni.
Dengan harga jual Rp 12.000-Rp 15.000 per porsi, mitra bisa meraih omzet Rp 18 juta-Rp 23 juta per bulan paket konter, dan Rp 40 juta untuk paket booth. "Mitra bisa balik modal enam bulan," klaim dia.
Saat ini Hungry Boy telah memiliki 15 cabang yang semuanya milik mitra. Gerai tersebut berada di berbagai daerah, seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, Mataram, dan Manado.
Hingga akhir tahun Yenni menargetkan jumlah gerainya bisa mencapai 50 di seluruh Indonesia. "Kami berupaya untuk mencapai target tersebut, dan sejauh ini masih on the track," tuturnya.
Utomo Njoto, pengamat waralaba dari Franchise Technology mengatakan, menu ayam goreng krispi dengan bumbu oriental relatif masih baru di Indonesia. Selain itu, menu ini juga belum biasa dijadikan sebagai makanan camilan seperti ditawarkan oleh Hungry Boys. "Jadi masih harus dibuktikan keberadaannya di Indonesia," ujarnya.
Ia menyarankan, kepada calon mitra yang tertarik untuk melakukan penelusuran secara mendalam mengenai tawaran kemitraan ini. Kajian itu penting karena segmen pasar untuk jajanan seperti ini belum terbentuk di Indonesia. "Bisa mendatangi langsung outlet yang sudah ada untuk melihat respon pasarnya," jelasnya. (Fahriyadi/Kontan)
 
Sumber :
KONTAN
Editor :
Erlangga Djumena
 
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/07/14/12055924/Peluang.Bisnis.Ayam.Goreng.Rasa.Oriental

Monday, June 18, 2012

TAWARAN KEMITRAAN KULINER

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: AYAM GORENG

Menyantap gurihnya laba ayam jupe

Menyantap gurihnya laba ayam jupe

Bisnis makanan olahan ayam tak pernah surut. Itu pula yang mendorong artis Julia Perez membuka restoran cepat saji bernama Jupe Fried Chicken (JFC). Ia langsung menawarkan kemitraan senilai Rp 165 juta dan Rp 225 juta. Omzetnya mulai Rp 120 juta -Rp 200 juta per bulan.

Ayam telah menjadi menu favorit masyarakat kita sejak lama. Terbukti, banyak orang Indonesia hobi menyantap menu olahan ayam, seperti ayam goreng dan ayam bakar. Saking populernya makanan ini, banyak pengusaha kuliner yang menjadikan ayam sebagai ladang bisnis.

Usaha ini juga semakin marak dengan bermunculannya pemain yang menawarkan waralaba atau kemitraan. Tawaran kemitraan terbaru datang artis Julia Perez alias Jupe yang membuka usaha restoran cepat saji bernama Jupe Fried Chicken (JFC) di Bandung, Jawa Barat.

JFC merupakan pendatang baru di bisnis makanan olahan ayam. Gerai pertamanya resmi dibuka Selasa (29/5) lalu dan langsung menawarkan kemitraan, dengan beberapa menu unggulan semisal crispy fried chicken, burger, hotdog, spageti, chicken soup, dan chicken fried rice.

Harga jualnya mulai Rp 5.000 - Rp 20.000 per porsi. "Dengan harga itu kami membidik pasar keluarga dan mahasiswa," kata General Manager JFC Yuki Syarif.

Yuki mengklaim, menu restorannya memiliki kekhasan tersendiri lantaran diolah dengan bumbu pilihan serta disesuaikan dengan lidah masyarakat Indonesia.

Anda tertarik menjadi mitra? JFC menawarkan dua paket investasi. Pertama, mini kafe dengan investasi Rp 165 juta. Syarat mengambil paket ini, mitra harus menyediakan gerai atau outlet dengan luas 80 meter persegi.

Bila tempat sudah siap, mitra tidak perlu pusing memikirkan perlengkapan restoran. Sebab, investasi Rp 165 juta sudah termasuk perlengkapan. Perinciannya, 30% merupakan franchise fee dan sisanya yang 70% untuk promosi outdoor dan indoor, perlengkapan resto, peralatan memasak, serta peralatan makan dan minum. Mitra juga akan mendapat bahan baku awal dan seragam karyawan. "Kami juga memberikan training dan pendampingan kepada mitra," beber Yuki.

Omzet mitra yang mengambil paket ini diperkirakan sekitar Rp 4 juta per hari atau Rp 120 juta per bulan. Dengan laba bersih 30% dari omzet, mitra bisa balik modal selama 8 sampai 12 bulan.

Kedua, resto dengan investasi Rp 225 juta. Syarat mendapatkan paket ini, mitra harus memiliki gerai seluas 120 meter persegi. Fasilitas yang mitra peroleh sama dengan paket mini kafe, tapi jumlahnya lebih banyak. Untuk paket resto, omzet yang bisa masuk kantong mitra diperkirakan Rp 7 juta per hari atau Rp 210 juta per bulan. Laba bersih dan balik modalnya sama dengan paket mini kafe.

Kendati pendatang baru, JFC mengklaim telah memiliki sistem franchise yang sudah teruji, baik dari segi manajemen, keuangan, pemasaran, alur pasokan, dan pengelolaan sumber daya manusia. Selain itu, JFC juga akan terus mendukung mitra dengan cara melakukan survei lokasi, pelatihan karyawan, dan bimbingan operasional. "Nama Jupe yang sudah tersohor, turut mendukung promosi JFC kepada konsumen," jelas Yuki.

Ketua Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali) Levita Supit menilai, sebagai pendatang baru, bisnis JFC belum teruji. Memang, nama besar Jupe bisa turut mendongkrak pamor usaha ini. Tetapi, "Itu saja tidak cukup, kualitas rasa tetap yang utama," saran dia.

Menurut Levita, jika hanya menawarkan nama besar Jupe, kemungkinan bisnis itu hanya bertahan sementara. Awal buka bisa ramai karena banyak yang ingin mencoba. Namun, setelah tiga hingga enam bulan baru akan terlihat apakah direspons positif oleh masyarakat atau tidak. "Jika tidak direspons baik, bisnis bisa sepi," imbuhnya.

Makanya, calon mitra tidak perlu terburu-buru membeli tawaran kemitraan ini. Levita menyarankan, supaya mitra betul-betul mempertimbangkan kinerja JFC selama tiga tahun sejak usaha tersebut berdiri. "Dalam waktu tiga tahun akan terlihat, apakah bisnisnya berjalan lancar atau stagnan," kata dia.

Jupe Fried Chicken
Jalan Cieumbuleuit Blok 163-R7
Bandung
HP: 081903316969
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/menyantap-gurihnya-laba-ayam-jupe/?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Thursday, May 3, 2012

Menjajal Bisnis Ayam Goreng Khas Padang


| Erlangga Djumena | Kamis, 3 Mei 2012 | 12:08 WIB

KONTAN/ DOK RIMBOZZ

KOMPAS.com - Tawaran waralaba atau kemitraan di bisnis kuliner olahan ayam masih terus bermunculan. Tawaran terbaru datang dari Rimbozz Chicken & Burger yang berbasis di Padang, Sumatera Barat. Nilai investasinya mulai Rp 4,9 juta-Rp 50 juta. Sementara omzet mulai Rp 9 juta-Rp 30 juta.

Bisnis kuliner berbahan baku ayam agaknya masih belum jenuh. Buktinya, pemain di usaha ini terus bertambah. Bahkan tak sedikit yang menawarkan usaha ini lewat jalur kemitraan atau waralaba.

Nah, tawaran waralaba terbaru usaha ayam goreng datang dari Rimbozz Chicken & Burger yang berbasis di Padang, Sumatera Barat. Berdiri sejak 2007, Rimbozz Chicken & Burger resmi menawarkan waralaba di awal tahun ini.

Faisal Ichal, pemilik Rimbozz Chicken & Burger mengaku, saat ini sudah ada dua calon terwaralaba yang berminat bekerja sama dengannya. "Sekarang sedang kami proses," ujarnya.

Saat ini, Faisal sudah memiliki lima gerai milik sendiri di Padang. Ia mengklaim, kelima gerai berkonsep resto itu beromzet Rp 1 juta-Rp 1,5 juta per hari. Dengan laba 30 persen, rata-rata gerai milik Faisal bisa balik modal di bulan keempat. "Karena kinerja bagus itu, saya berani menawarkan waralaba," ujarnya.

Faisal menawarkan tiga paket waralaba. Pertama, paket kios dengan konsep gerobak senilai Rp 4,9 juta. Dalam paket ini, terwaralaba mendapatkan booth, peralatan masak, seragam, banner promosi, serta bahan baku senilai Rp 500.000.

Dalam paket ini, omzet terwaralaba ditargetkan mencapai Rp 300.000 per hari atau Rp 9 juta per bulan. Dengan laba 25 persen-30 persen, mitra bisa balik modal di bulan kedua. "Khusus paket ini tak ada biaya royalti," ujarnya.

Kedua, paket corner senilai Rp 35 juta. Paket ini mengusung konsep restoran mini dengan luas 16 meter persegi. Terwaralaba akan mendapat instalasi booth dan peralatan tambahan, seperti kulkas, meja, dan kursi.

Selain itu, mereka juga akan mendapatkan bahan baku senilai Rp 1 juta. Omzet paket ini diperkirakan Rp 775.000 per hari atau Rp 23,2 juta per bulan. Dengan laba 25 persen-30 persen, mitra balik modal sekitar tujuh hingga delapan bulan. Di paket ini ada biaya royalti 4 persen dari omzet.

Terakhir, paket restoran senilai Rp 50 juta. Kriteria luas gerainya mencapai 50 meter persegi. Paket ini sudah termasuk desain interior ruangan dan tambahan meja kasir. Omzet mitra yang mengambil paket ini ditargetkan Rp 1 juta per hari atau Rp 30 juta per bulan.

Adapun masa balik modal diperkirakan terjadi di bulan ke sembilan hingga bulan ke-12. Dalam paket ini dikenakan biaya royalti 5 persen.

Selain ayam goreng dan burger, Rimbozz Chicken menawarkan menu lain, seperti chicken teriyaki dan chicken steak. Harganya Rp 9.000-Rp 14.000 per porsi. Semua menu disajikan dengan bumbu tradisional khas Padang.

Erwin Halim, konsultan waralaba dari Proverb Consulting menilai, tawaran waralaba dari Rimbozz Chicken & Burger cukup menarik, khususnya di wilayah Sumatera. Apalagi paket yang ditawarkan cukup murah sehingga bisa terjangkau mitra berkantong tipis.

Namun, jika ingin menggandeng mitra di Jakarta, sebaiknya Rimbozz melakukan tes pasar dulu. Soalnya, selain persaingan ketat, mereka juga perlu membangun kepercayaan konsumen bahwa produknya sesuai selera pasar. “Sebaiknya, buka cabang dulu di Jakarta. Kalau sukses, mitra pasti datang,” ujarnya. (Eka Saputra/Kontan)
--------------------------------------------------------
Rimbozz Chicken & Burger
Jl. By pass Tanjung Sabar No.8 Lubuk Begalung,
Padang , Sumatra Barat
Telp: 0751.977 3 977
Hp. 0812 6666 6777
Email : info@rimbozz.com
 
Sumber :
KONTAN




Monday, April 9, 2012

Bisnis ayam goreng masih renyah

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: AYAM GORENG

Bisnis ayam goreng masih renyah


Bisnis ayam goreng masih renyah


Bisnis ayam goreng agaknya terus renyah. Maklum, ayam goreng sudah menjadi santapan yang semakin merakyat. Lantaran banyak orang yang gemar menyantap menu ini, usaha ayam goreng pun tumbuh subur.

Untuk membesarkan usahanya, banyak di antara pebisnis ayam goreng yang membuka tawaran kemitraan atau waralaba. KONTAN pun kerap menulis tawaran kemitraan usaha ayam goreng ini.

Guna mengetahui perkembangan usaha ini, KONTAN kembali me-review beberapa tawaran kemitraan ayam goreng yang sebelumnya sudah pernah diulas.

Beberapa di antaranya adalah Suga Chicken, Kane Fried Chicken, dan Rocket Chicken. Bagaimanakah kondisi usaha mereka saat ini? Berikut ulasannya.


? Suga Chicken

Mulai berdiri sejak 2005 di Bekasi, Jawa Barat, Suga Chicken resmi menawarkan kemitraan setahun kemudian. Agus Setiawan, pemilik usaha ini menyatakan, alasan membuka kemitraan karena banyak permintaan dari para pelanggannya.

Saat KONTAN mengulasnya pada Maret 2011 lalu, Suga Chicken memiliki 60 gerai, baik semi resto maupun resto. Untuk konsep semi resto investasinya sekitar Rp 29 juta dengan tambahan biaya furnitur sebesar Rp 15 juta. Adapun untuk resto nilai investasinya Rp 150 juta.

Biaya investasi sebesar itu belum termasuk sewa tempat. Dari paket tersebut, rata-rata mitra bisa memperoleh omzet Rp 52 juta saban bulan, dengan balik modal antara empat bulan sampai satu tahun.

Saat ini, Agus mengaku, jumlah gerainya sudah membiak menjadi 70 gerai, dan tiga diantaranya milik sendiri. Melihat pesatnya perkembangan kemitraan Suga Chicken, Agus pun menawarkan beberapa paket baru dalam kerja sama kemitraan ini.

Diantaranya paket silver senilai Rp 150 juta dan paket gold senilai Rp 190 juta. Selain itu, ada lagi konsep booth senilai Rp 12 juta. Pengembangan paket itu diimbangi dengan diversifikasi menu di luar ayam goreng, seperti burger, pasta, dan lainnya.

Dengan harga ayam berkisar Rp 10.000 per potong, omzet mitra yang mengambil paket silver dan gold bisa mencapai Rp 2 juta-Rp 5 juta per hari. Perkiraan balik modal satu sampai dua tahun.

Untuk royalty fee, pihaknya mengutip 5% dari total ayam yang terjual. Jadi bukan dari total omzet penjualan. Rencananya, dalam waktu dekat Suga Chicken bakal merambah negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Agus berharap, tahun ini sudah bisa membuka gerai berkonsep resto fast food di tiga negara tersebut. Di dalam negeri sendiri, Suga Chicken sudah menjangkau hampir semua wilayah, termasuk Papua. Ia menargetkan, setiap bulan ada penambahan tiga gerai baru.


? Kane Fried Chicken

Pada Juni 2011 yang lalu, KONTAN telah mengulas seputar tawaran kemitraan dari Kane Fried Chicken yang bermarkas di Cinere, Depok, Jawa Barat. Kala itu, Kane Fried Chicken sudah memiliki 25 mitra yang tersebar di Jakarta, Bandung dan Malang.

Setelah hampir satu tahun berselang, Kane Fried Chicken mengalami pertumbuhan signifikan. Jumlah mitranya sekarang sebanyak 40 mitra. "Pada awal tahun ini saya mendapat lima mitra di Surabaya," ujar Dwi Suswinarto, pemilik Kane Fried Chicken.

Dwi bilang, pertumbuhan jumlah mitra itu tak terlepas dari kerja keras Kane Fried Chicken mengenalkan produk mereka. "Kami juga mempertahankan kualitas dan memberikan harga yang terjangkau masyarakat luas," ujarnya.

Ia membanderol satu porsi yang terdiri dari sayap atau paha ayam beserta nasi Rp 7.000. Harga sepotong dada dan paha atas lengkap dengan nasinya Rp 8.000 per porsi.

Namun, dia berencana menaikkan harga tersebut kalau pemerintah jadi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi per 1 April 2012 nanti. Kenaikan harga berkisar Rp 500 per porsi.

Selain belum menaikkan harga produknya, Dwi juga belum menaikkan sewa tempat booth miliknya yang sebesar Rp 550.000–Rp 650.000 per bulan.

Sementara, untuk biaya investasi tipe outdoor sudah dinaikkan dari awalnya Rp 10 juta menjadi Rp 11,9 juta. Nilai investasi itu bisa dicicil 50% di awal, dan sisanya dilunasi sesudah fasilitas diberikan semua. Karena berkonsep kemitraan, Kane tidak memungut royalty fee dan franchise fee.Mitra akan mendapatkan antara lain satu unit booth ukuran 150 cm x 60 cm, bahan baku hari pertama, serta pendampingan manajemen.

Ke depan, Dwi berencana membuat paket indoor dengan perkiraan investasi sebesar Rp 17 juta. Tapi rencana itu masih belum final. "Kami masih menunggu kenaikan harga BBM. Kalau BBM jadi naik bisa mempengaruhi perkiraan investasinya," ujarnya.

Paket indoor ini nantinya akan menyasar kios-kios, ruko, dan mal. "Tapi sasaran utama kami kios dan tempatnya strategis," ungkap Dwi.


? Rocket Chicken

Sejak pertama kali berdiri tahun 2010 hingga sekarang, Rocket Chicken yang berbasis di Yogyakarta sudah memiliki 65 mitra dengan jumlah gerai mencapai 130 buah. Pemilik Rocket Chicken, Nurul Atik mengaku, jumlah gerainya itu tumbuh signifikan.

Bila sebelumnya gerainya banyak terdapat di wilayah Pulau Jawa, kini juga mulai merambah wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

"Belum lama ini kami juga baru membuka gerai di Martapura (Kalimantan Selatan) dan Palu (Sulawesi Tengah)," kata Nurul.

Saat diulas KONTAN pada April tahun lalu, gerai Rocket Chicken baru berjumlah 89 unit, dengan jumlah mitra sekitar 50-an mitra. Karena prospek bisnisnya bagus, banyak mitra yang membuka lebih dari dari satu gerai.

Menurut Nurul, pihaknya memang membuka kesempatan bagi mitra untuk memiliki lebih dari satu gerai. Namun, penambahan gerai itu tergantung hasil evaluasi pusat terhadap kinerja mitra.

Evaluasinya mencakup omzet, jarak antar gerai, maupun potensi daerah yang ingin ditambah gerainya. Ia sendiri saat ini sudah memiliki 18 gerai, yang mayoritas berada di kawasan Jawa Tengah.

Ia mengklaim, omzet setiap gerai rata-rata sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per hari. Sementara omzet dalam sebulan berkisar antara Rp 60 juta hingga Rp 150 juta.

Nurul mengaku, telah banyak melakukan inovasi demi mengambangkan usahanya itu. "Terutama inovasi terkait varian sambal. Sekarang kami menyediakan juga hidangan ala tradisional, seperti sambal penyet, sambal bawang, sambal teras, dengan terong, tahu, dan tempe," tukasnya.

Namun, terkait paket investasi belum banyak mengalami perubahan. Masih seperti awal, calon mitra yang ingin bergabung perlu menyiapkan biaya investasi sekitar Rp 150 juta-Rp 160 juta, dan itu belum termasuk tempat. Investasinya lumayan besar karena mengusung konsep resto.

Dalam paket investasi itu sudah disediakan perlengkapan masak dan makan, promosi, pelatihan karyawan, serta bahan baku awal. Jadi mitra cukup memikirkan soal tempat saja.

Investasi itu bisa bertambah terutama bagi mitra di luar Jawa. "Karena butuh biaya transportasi untuk mengangkut interior dan perlengkapan. Kemarin ke Lombok, misalnya, ada biaya tambahan transportasi sekitar Rp 18 juta," tukasnya.

Dengan perhitungan omzet Rp 60 juta per bulan, balik modal diperkirakan terjadi antara bulan keenam hingga 18 sejak usaha dimulai.
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/bisnis-ayam-goreng-masih-renyah/?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Friday, March 9, 2012

Meneropong Tawaran Kemitraan Kane Fried Chicken

Views :1147 Times PDF Cetak E-mail
Jumat, 09 Maret 2012 09:45
kane_chickenAyam menjadi favorit masakan bagi kebanyakan orang. Itulah sebabnya, usaha dengan menu andalan ayam tak pernah surut. Biarpun merek-merek asing terus berekspansi hingga pelosok, itu tak menyurutkan niat pebisnis lokal untuk menggeluti usaha berbahan ayam.

Salah satunya Dwi Suswinarno. Mengibarkan merek dagang Kane Fried Chicken. Dwi mendirikan usaha ayam cepat saji ini di Depok, Jawa Barat, pada awal tahun 2010. Dia yakin peluangnya masih besar lantaran ayam punya banyak penggemar. Makanya ia mantap berbisnis ayam goreng cepat saji.

Sadar akan ketatnya persaingan, Dwi mengklaim ayam goreng yang ditawarkan ini punya kualitas terjamin. Harga yang bersahabat dengan kantong menjadi jurus lainnya. Satu porsi yang terdiri dari sayap atau paha ayam serta seporsi nasi dia banderol dengan harga Rp 7.000. Harga sepotong dada dan paha atas lengkap dengan nasinya Rp 8.000 per porsi.

Dengan harga yang miring itu pula, Dwi mengaku menerima banyak permintaan dari konsumen untuk menjadi mitra dagangnya. Makanya, sejak Oktober 2010, Dwi memutuskan menawarkan kemitraan.
Hanya butuh waktu yang relatif singkat, Dwi sudah menjaring sekitar 25 mitra dan memiliki 48 unit rombong (booth) yang tersebar di Jakarta, Bandung dan Malang.

Ia sengaja memilih booth untuk berbisnis, agar mitra tidak perlu mengeluarkan dana besar untuk menyewa gedung atau toko. Mitra cukup menyewa tempat booth yang diperkirakan butuh biaya Rp 550.000–Rp 650.000 sebulan.

Bila tertarik menjadi mitra kerja Dwi, calon mitra hanya perlu menyediakan investasi awal Rp 10 juta. Nilai investasi itu bahkan bisa dicicil, 50% di awal, dan sisanya dibayarkan sesudah fasilitas diberikan semua. Karena berkonsep kemitraan, Kane tidak memungut royalty fee dan franchise fee.

Mitra akan mendapatkan antara lain: satu unit booth ukuran 150 cm x 60 cm, bahan baku hari pertama, serta pendampingan manajemen.

Dengan kualitas yang ditawarkan, Dwi yakin Kane Fried Chicken mampu bersaing dengan tawaran sejenis. Apalagi menu yang ditawarkan Kane juga sangat spesifik, yakni hanya ayam goreng tepung yang diyakini Dwi punya penggemar tak terbatas, dari orang tua hingga anak-anak.

Dengan hitungan punya penggemar banyak, Dwi berani menjanjikan keuntungan bersih mencapai Rp 3,5 juta tiap bulan dari bisnis ayam goreng renyah ini.

Keuntungan itu didapat dengan asumsi, mitra dapat menjual tujuh ayam dalam sehari agar omzet yang dicapai mitra Rp 13 juta per bulan. Bila itu konsisten diperoleh, Dwi mengklaim, si mitra mampu mengembalikan modal investasi tiga bulan.

Khoerussalim Ikhsan, konsultan wirausaha dan praktisi bisnis, mengakui bisnis makanan ayam goreng secara umum masih cerah. Namun, ketatnya persaingan dan bahan baku menjadi hal yang patut diperhatikan. Apalagi jika calon mitra jauh dari pusat. "Mitra harus menghitung biaya inefisiensi," katanya.

Dia menyarankan agar pasokan bahan baku juga bisa didapatkan langsung saja dari kota mitra. Selain itu, penentuan lokasi yang tepat serta variasi menu harus terus dilakukan si pemilik usaha. (*/Kontan.co.id)

Kane Fried Chicken
Jl. Koman Muin No. 86 Limo, Cinere,
Depok, Jawa Barat
Telp: 02198664098

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/bisnis-mikro/15081-meneropong-tawaran-kemitraan-kane-fried-chicken.html

Thursday, March 8, 2012

Berburu Untung Ayam Goreng dari Yogyakarta


| Erlangga Djumena | Kamis, 8 Maret 2012 | 08:18 WIB

KONTAN/DOK MELIA

KOMPAS.com - Bisnis makanan olahan ayam tak pernah surut. Hadir dengan berbagai variasi menu, makanan olahan ayam tetap diburu konsumen. Tak heran, bila pengusaha makanan ini terus bermunculan.

Bukan hanya di pusat belanja, gerai-gerai yang menawarkan menu ayam juga bermunculan di pinggir-pinggir jalan atau kompleks perumahan. Usaha ini semakin marak dengan bermunculannya pemain yang menawarkan waralaba atau kemitraan.

Tawaran kemitraan terbaru datang dari PT Melia Pilar Utama (Melia Group). Sebelumnya, Melia Group telah dikenal sebagai pewaralaba bisnis binatu. Sebagai pendatang baru di bisnis kuliner ayam, Melia Group menawarkan kemitraan gerai ayam goreng dan ayam bakar Taman Siswa (Tamsis) milik Gatot Agus Wahyono. "Tawaran kemitraan ini merupakan hasil kerja sama kami dengan Pak Gatot selaku pemilik ayam goreng dan ayam bakar Tamsis," kata Fen Saparita, pemilik Melia Group.

Fen berharap, kolaborasi Ayam Tamsis dan Melia Group yang berpengalaman di bidang masing-masing dapat memajukan gerai ayam berkonsep resto tersebut. Dalam kerja sama itu, Melia Group berperan sebagai pengelola waralaba.

Tawaran waralaba sendiri baru dibuka Januari lalu. Dan, saat ini sudah ada lima calon mitra yang serius ingin bekerja sama. "Di antaranya berada di Jakarta, Solo, dan Bali," ujar Fen.

Ia menargetkan, jumlah mitra tahun ini sebanyak 12 sampai 15 mitra. Kepada calon mitra yang berminat, Melia Group menyiapkan dua paket investasi. Yakni, paket resto Rp 365 juta dan mini resto senilai Rp 245 juta. Nilai investasi itu berlaku untuk masa kerja sama selama lima tahun.

Selain itu, mitra juga akan mendapat peralatan lengkap dan bahan baku awal. "Yang membedakan dua paket tersebut hanyalah ukuran gerai dan jumlah bahan baku yang disediakan, namun secara konsep dan menu sama," ungkapnya.

Untuk harga jual diserahkan pada mitra. "Kami persilakan mitra melakukan penyesuaian harga sesuai lokasi dan kota masing-masing," jelasnya.

Terkait dengan omzet juga bisa berbeda-beda, tergantung lokasi dan harga. Contohnya, gerai Ayam Tamsis di Yogyakarta. Selama ini gerai tersebut selalu ramai diserbu pembeli karena harga yang ditawarkan masih terjangkau di kisaran Rp 7.500-Rp 8.000.

Dalam sehari, gerai ayam Tamsis bisa menjual hingga 100 kilogram (kg) ayam, dengan omzet harian mencapai Rp 10 juta. Ia memperhitungkan, jika lokasi memungkinkan, maka mitra bisa memperoleh penghasilan serupa di kota lain.

Dengan omzet sebesar itu dan dipotong royalty fee 5 persen dari omzet, maka mitra bisa balik modal dalam waktu 1,5 tahun. "Untuk paket mini resto kami memperhitungkan omzet mitra Rp 7,5 juta per hari," ungkapnya.

Menurut Fen, kelebihan Ayam Tamsis terletak pada bumbu khas Yogyakarta yang memadukan rasa manis dan asin. Selain rasa, ayam bakar dan ayam goreng di gerai ini juga memiliki tulang empuk. "Kami berharap bisa membuat gebrakan baru di tengah persaingan yang ketat dalam bisnis kuliner ayam," harapnya.

Bije Widjajanto, pengamat Waralaba dari Ben WarG Consulting menilai, prospek usaha resto ayam goreng dan ayam bakar masih cukup baik. Namun ada banyak hal yang harus diperhatikan, termasuk brand. Menurutnya, brand Ayam Tamsis sudah lumayan kuat.

Sementara perkiraan omzet di atas Rp 5 juta per hari dinilainya masih wajar untuk ukuran resto. "Sisi positifnya secara brand sudah baik, namun hal itu bukan jaminan bakal langsung sukses," imbuh Bije.

Menurut Bije, mengembangkan gerai kedua dan seterusnya cenderung lebih sulit jika gerai pertama sudah telanjur sukses dan dikenal masyarakat dalam waktu lama. (Fahriyadi/Kontan)

Sumber:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/03/08/08184784/Berburu.Untung.Ayam.Goreng.dari.Yogyakarta

Thursday, November 17, 2011

PELUANG BISNIS TEPUNG BUMBU RENYAH

Peluang Usaha

 
Kamis, 17 November 2011 | 14:16  oleh Fahriyadi
PELUANG BISNIS TEPUNG BUMBU RENYAH
Ayam goreng renyah, tepung krispi laris

Banyaknya gerai yang menawarkan gorengan krispi menjadi ladang bisnis menarik para produsen tepung krispi curah. Mereka bisa mendulang omzet puluhan juta rupiah saban bulan. Produksi pun masih terus bertambah, karena usaha gorengan krispi, khususnya ayam goreng, masih terus berkembang, terutama di daerah dan Luar Jawa.

Menjamurnya usaha gorengan berbalut tepung, seperti pisang goreng, jamur hingga ayam goreng tepung, makin meramaikan bisnis tepung bumbu garing. Munculnya usaha-usaha baru yang memakai tepung ini sebagai salah satu bahan baku, melambungkan permintaan tepung berasa gurih ini.

Salah satu produsen tepung bumbu garing tersebut adalah Asmi Ramadhan. Pemilik CV Rizki Mas Sejati di Tangerang, Banten yang memproduksi tepung krispi dengan merek Tepung99 sejak tahun 2010.

Dia memiliki pabrik pengolahan tepung di Kedoya, Jakarta Barat, Asmi yang juga pendiri Perhimpunan Pengusaha Fried Chicken Indonesia (Percik) ini menghasilkan tiga jenis tepung bumbu krispi. Yakni, tepung siap pakai, biang tepung, dan marinasi atau tepung krispi yang juga berfungsi mengasinkan makanan.

Namun, dari ketiga produk ini, biang tepung adalah produk yang paling laris. "Karena, biang tepung bisa digunakan untuk olahan apa pun. Harganya juga lebih ekonomis," ucapnya. Sekadar informasi, satu kilogram (kg) biang tepung bisa dicampurkan ke dalam 10 kg tepung.

Untuk membuat tepung ini, Asmi memakai beragam bumbu dapur dan rempah-rempah. Seperti tepung marinasi yang berbahan dasar garam, lada serta cabai bubuk.

Sedangkan untuk membuat biang tepung, ia selalu menyertakan rempah bubuk alami seperti lada, gula, garam, baking soda dan rempah lainnya. "Kami sama sekali tak pakai pengawet dan semua bahan baku adalah rempah alami," tandasnya.

Menurut pemuda 25 tahun ini, yang perlu diperhatikan dalam pembuatan tepung bumbu ini adalah takaran yang tepat. "Sebenarnya tak ada bumbu rahasia, yang ada hanyalah tangan-tangan yang andal saat meraciknya," jelasnya.

Harga jual tepung ini cukup terjangkau. Tepung bumbu krispi siap pakai Rp 13.000 per kg. Sedangkan untuk biang tepung dan tepung marinasi harganya sekitar Rp 35.000 per kg.

Saban bulan, Asmi sanggup memproduksi hingga 2 ton tepung bumbu krispi tersebut. Ia pun bisa merengkuh omzet Rp 70 juta dengan margin keuntungan sekitar 25%. "Peluang bisnis ayam goreng renyah masih terbuka lebar, terutama di daerah-daerah. Prospek bisnis tepung pun ini masih cerah ke depan," tandasnya.

Senada dengan Asmi, Setiawan, produsen tepung bumbu krispi McCrispy asal Gresik, Jawa Timur menyatakan, tren permintaan tepung bumbu krispi terus meningkat dalam setahun terakhir. Ia yang semula hanya memproduksi tepung untuk keperluan internal usaha, tergerak untuk membuka produksi tepung sejak enam bulan silam.

Lebih dari lima tahun, Setiawan menggeluti usaha ayam goreng tepung. Suatu saat, ia pun mendapat pesanan untuk membuat tepung. "Awalnya permintaan datang dari wilayah Gresik tapi perlahan mulai meluas hingga Surabaya dan sekitarnya," tuturnya.

Dengan harga jual Rp 14.000 per kg, Wawan bisa menjual hingga 1,5 ton tepung bumbu per bulan. Ia pun bisa mendulang omzet hingga Rp 22 juta tiap bulan.

Menurutnya prospek usaha ini cukup besar, tak heran jika persaingan di usaha ini tambah ramai dari hari ke hari. Setiawan memanfaatkan jaringan internet untuk memasarkan tepungnya.

Tak hanya pengusaha ayam goreng, McCrispy juga membidik konsumen rumah tangga. Sayang, Setiawan masih sulit menembus pasar ini karena konsumen ini sudah loyal pada merek tepung bumbu tertentu. "Padahal secara kualitas dan rasa produk kami tak kalah dengan merek papan atas tersebut," jelasnya.

Ia pun menjamin, bumbu tepungnya aman karena tanpa bahan pengawet. "Tepung kami mampu menjaga kadar kerenyahan makanan hingga waktu yang cukup lama," jelasnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/82975/Ayam-goreng-renyah-tepung-krispi-laris-

Thursday, October 13, 2011

TAWARAN KEMITRAAN KULINER AYAM GORENG

Peluang Usaha

 
Kamis, 13 Oktober 2011 | 12:55  oleh Hafid Fuad, Dea Chadiza Syafina
TAWARAN KEMITRAAN KULINER AYAM GORENG
Hangatnya laba kedai cepat saji ayam goreng dari Yogyakarta
Makanan berbahan dasar ayam tak pernah ada matinya. Walaupun pesaing produk ini sudah sangat banyak, tawaran waralaba ataupun kemitraan makanan berbahan baku daging ayam tak kunjung surut.

Salah satu pengusaha yang menawarkan waralaba ayam goreng adalah Irawan Kusumo di Yogyakarta. Mengusung nama Dobbi Burger and Fried Chicken, Irawan memulai usaha ayam goreng sejak 2003 silam. "Jumlah daging ayam saat itu sangat banyak sehingga dimulailah usaha ayam goreng," ujar Sigit Wahyudi, Manajer Franchise PT Dobbi Mulia Sejahtera.

Irawan memang punya stok daging ayam yang melimpah. Maklum, sebelum berbisnis ayam goreng, dia sudah lebih dulu berkecimpung di usaha pemotongan ayam dan pemrosesan daging ayam. Bisnis ayam goreng Dobbi baru dimulai tahun 2003.



Variasi menu

Saat ini Dobbi telah memiliki 60 booth yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, sebanyak 30 restoran ayam goreng cepat saji juga telah dimiliki di Jawa Barat, Jawa Timur, Palembang, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Sebagian besar booth dan restoran cepat saji tersebut merupakan milik mitra.

Menurut Sigit, bentuk restoran cepat saji dipilih untuk menggantikan model booth yang ternyata tidak dijalankan secara serius oleh investor. "Dengan modal lebih besar diharapkan pengusaha bisa lebih serius," jelas Sigit.

Seperti pewaralaba di bisnis kuliner lainnya, Dobbi juga rajin menambah variasi menu untuk menambah jumlah pelanggan. Inilah sebabnya Dobbi tidak hanya menjual ayam goreng saja, tapi juga menyediakan burger dan hotdog. "Enam bulan sekali selalu ada menu baru," ujar Sigit.

Untuk menjadi terwaralaba, Dobbi Burger and Fried Chicken menawarkan berbagai paket pilihan. Pertama, paket silver dengan investasi Rp 140 juta untuk Pulau Jawa dan Rp 180 juta untuk wilayah luar Jawa. Kedua, paket gold dengan investasi Rp 280 juta. Ketiga, paket platinum senilai Rp 400 juta. Nilai investasi tersebut di luar biaya sewa tempat dan renovasi.

Selain membayar biaya investasi untuk mendapatkan peralatan usaha dan perlengkapan promosi, calon investor juga harus menyediakan tempat usaha. Untuk paket silver, setidaknya membutuhkan luas minimal 100 m­2, sedangkan paket gold 150 m² sampai 200 m² dan paket platinum dengan luas ruangan di atas 200 m². "Investor bisa mengembangkan usaha mulai dari paket silver," saran Sigit.

Jika Anda tertarik, pertama kali Anda bisa membayar commitment fee sebesar Rp 25 juta. Setelah survei lokasi, tim Dobbi akan membantu persiapan usaha mulai dari analisis usaha, penyediaan perlengkapan usaha, sampai training karyawan.

Setelah usaha berjalan, investor bisa mulai membayar royalti fee sebesar Rp 30 juta. Dengan estimasi penjualan per hari Rp 2,5 juta, Sigit menghitung balik modal akan dicapai dalam waktu 24 bulan untuk paket silver.

Endra Wijaya Kusuma adalah terwaralaba Dobbi di Samarinda, Kalimantan Timur. Dengan paket gold, Endra yang memulai usaha September 2009, kini telah mampu menjual 200-300 porsi dengan omzet hingga Rp 4,5 juta per hari. "Dobbi Burger jadi tempat nongkrong anak muda di sini," katanya.


Dobbi Mulia Sejahtera
Ruko Citra A1, Ring Road Utara, Gandok,
Sleman, Yogyakarta 55281
Telp: 02746411600

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/79900/Hangatnya-laba-kedai-cepat-saji-ayam-goreng-dari-Yogyakarta