Thursday, August 25, 2011

Hindari Menunggu Kesempurnaan

PDF Cetak E-mail
Selasa, 23 Agustus 2011 09:11
Pemimpin harus mengejar kesempurnaan tetapi harus tetap waspada terhadap perfeksionisme. Lebih penting untuk mengeluarkan produk ke pasar dengan tepat waktu daripada menunggu sampai ada produk atau jasa yang disempurnakan.

leader-akhlis-2Manfaat dari perbaikan terakhir yang mungkin akan sangat sebanding dengan gagal untuk melepaskan sesuatu ketika pasar siap dan sebelum kompetisi bisa bergerak masuk.

Sir John Harvey-Jones, mantan ketua ICI, mengemukakan pendapatnya dengan sangat baik, "Ingatlah bahwa yang terbaik adalah relatif, bukan ukuran mutlak. Standar-standar yang terbaik ditetapkan oleh persaingan dan tujuan seseorang selalu melampaui mereka. Namun, seperti di banyak aspek lain dari manajemen bisnis yang terbaik, jika dicari secara absolut, adalah musuh yang baik. "

Penulis tema bisnis  Mike Southon dan Chris West menulis tentang perlunya perusahaan untuk mengadopsi lebih banyak lagi sikap dan teknik entrepreneur. Mereka memperingatkan kecenderungan (antara pengusaha, serta yang lain) terhadap kesempurnaan:"Banyak pengusaha adalah penjaga yang penuh gairah 'nilai merek'. Sementara mereka benar hingga ke titik tertentu, di luar itu mereka salah: menunggu kesempurnaan bisa menimbulkan penundaan yang fatal … Sebuah mentalitas berkembang. ‘Tunggu hingga kami berhasil memperbaiki masalah X’ yang membuat perusahaan lumpuh”.

Di dekade 1990-an, pabrikan raksasa manufaktur komputer mainframe IBM, berada dalam masalah. Komputer pribadi baru tengah merevolusi pasar saat itu dan IBM dianggap besar, birokratis, dan lambat dalam merespon. Perusahaan terobsesi untuk menyempurnakan produknya sebelum dirilis hingga menggagalkan pemasaran yang sukses. Sebuah lelucon orang-orang dalam pada saat itu ialah: “Produk tidak diluncurkan di IBM tetapi keluar begitu saja.”

Staf IBM John Patrick dan David Grossman memainkan peran penting dalam pengenalan IBM kepada manfaat potensial dunia web yang tengah bangkit. Mereka membangun apa yang dulu adalah situs terbesar di dunia untuk Olimpiade Musim Panas 1996, menghadapi penolakan besar dari sejumlah kolega senior mereka yang secara institusional menolak untuk mencoba hal baru secara publik. Namun dengan Internet, masalah bisa diatasi secara real time di server/ inang. Patrick dan Grossman memperkenalkan serangkaian prinsip baru untuk komunitas pengembang web IBM yang terus tumbuh, yang termasuk: Mulai dengan sederhana, tumbuh dengan cepat; Tapi jangan hirup dalam-dalam (udara pengap dari kekolotan); ambil risiko , buat kesalahan dengan cepat, perbaiki dengan cepat; Cukup saja bisa  dianggap bagus; Jangan terpaku (pada satu cara pemikiran tertentu saja).

Perusahaan harus merilis produk dan jasa di saat yang tepat yang cukup baik untuk menarik konsumen. Pemimpin harus mendorong sebuah budaya yang merangkul perubahan dan eksperimen: budaya “perfeksionis” memandang perubahan dan eksperimen sebagai risiko terhadap merek yang diidealkan.” Produk bisa dikembangkan dan ditingkatkan sepanjang waktu. Pengejaran kesempurnaan sebelum peluncuran bisa mengorbankan jendela peluang yang ideal. Pengejaran kesempurnaan tidak dibolehkan untuk mencegah eksperimen atau memperlambat perusahaan. (*/Akhlis)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/component/content/article/37-advise/10664-hindari-menunggu-kesempurnaan.html

Bisnis Perikanan Mulai Jadi Primadona untuk Memutar Uang

Selasa, 23/08/2011 17:47 WIB

Akhmad Nurismarsyah - detikFinance




Jakarta - Bisnis sektor perikanan perlahan-lahan mulai dilirik masyarakat untuk memutar uangnya. Hal ini pun diakui oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad yang mengatakan tren usaha di bidang perikanan semakin marak digeluti.

"Sekarang orang-orang sudah banyak yang bergerak di sektor perikanan," kata Fadel dalam acara Apel Siaga Nasional Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak Pendamping Kredit Usaha Rakyat (KUR) Kelautan dan Perikanan di kantornya, Jakarta, Selasa (23/8/2011).

Fadel juga bercerita, bahwa anak bungsu dari Menteri Perekonomian Hatta Rajasa juga berminat untuk menggeluti usaha bidang perikanan.

"Jadi waktu itu Pak Hatta cerita, kalau anaknya yang paling terakhir berminat dan berencana untuk menggeluti dunia usaha di perikanan," jelasnya.

Dilanjutkan oleh Fadel, bahwa insinyur-insinyur yang berasal dari ITB pun banyak yang berminat melakukan hal tersebut.

"Ini makin hari makin banyak yang usaha di sektor perikanan, apalagi yang bergerak di budidaya ikan, atau menggarap pengolahannya, hingga ada juga yang menjalankan restoran ikan," lanjut Fadel.

Ia berharap agar semakin banyak masyarakat yang bergerak untuk berusaha di bidang tersebut. Namun agar semakin berkembang, dirinya menilai perlu digalakkan adanya penyaluran Kredit Usaha Rakyat bagi masyarakat yang membutuhkan pendanaan dari perbankan untuk menjalankan usaha.

Fadel melanjutkan, pihak pemerintah menargetkan agar saluran KUR ke sektor hulu industri pertanian, perikanan, dan usaha kecil dapat mencapai 25%. Menurutnya, pemerintah bisa mengejar target penyerapan KUR hingga 25% untuk sektor terkait.

"KUR 2011 dari Januari sampai Juli kan baru mencapai Rp 16,39 triliun. Saya harap target Rp 20 triliun bisa tercapai. Tapi dominasinya diserap oleh perdagangan sebesar 60%," tutur Fadel.

(nrs/hen)

Sumber:
http://finance.detik.com/read/2011/08/23/174701/1709584/4/bisnis-perikanan-mulai-jadi-primadona-untuk-memutar-uang 

Seni Menjual Mimpi ala Guy Kawasaki

PDF Cetak E-mail
Kamis, 25 Agustus 2011 12:46
guy-kawasaki1
Menjual mimpi memiliki hubungan erat dengan evangelisme. Tak hanya berhubungan dengan keagamaan, menurut pemodal ventura dan pakar entrepreneurship terkemuka Guy Kawasaki, kata ‘evangelism’ ini berarti ‘membawa berita baik’. Jadi bisa dikatakan menjual mimpi adalah mengabarkan pada orang lain di sekitar kita tentang impian kita yang kita yakini akan menjadi kabar baik bagi mereka. Kabar baik ini bisa bermacam-macam isinya. Bila Anda seorang penggemar Apple, mungkin Anda akan memandang iOS dan Macintosh sebagai penyelamat hidup yang membuat Anda lebih produktif dan menikmati hidup.

Maka jika Anda memiliki sebuah produk atau jasa yang Anda anggap sebagai suatu berita baik untuk disebarluaskan ke sebanyak mungkin orang, kemudian dibutuhkan peran seorang ‘evangelist’ atau pembawa kabar. Pembawa kabar ini tidak selalu harus seseorang yang bermodal besar atau seseorang yang memiliki kedudukan kunci dalam sebuah korporasi besar. Mereka adalah semua orang yang meyakini bahwa produk atau jasa yang Anda tawarkan adalah salah satu hal yang bisa membuat dunia ini menjadi tempat untuk hidup yang lebih baik.

Dengan kata lain, cara untuk menjual impian Anda adalah dengan membuat orang lain yakin dengan apa yang Anda lakukan dan hasilkan. Dan buatlah mereka yakin bahwa Anda menjual semua itu bukan untuk semata-mata mengeruk keuntungan dari mereka tetapi menjadikan dunia ini lebih menyenangkan dan kehidupan menjadi  lebih baik untuk dijalani.

Pekerjaan rumah bagi semua entrepreneur di dunia sekarang adalah bagaimana membuat orang lain yakin dengan apa yang Anda yakini dan membuat perubahan positif di lingkungan Anda dengan melalui usaha yang Anda dirikan. (*/Akhlis)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/component/content/article/37-advise/10717-seni-menjual-mimpi-ala-guy-kawasaki.html

Siapkan Usaha Anda Hadapi Bencana Alam

Views :141 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Agustus 2011 15:14
bencana_0811Bencana alam menimpa tanpa peringatan. Gempa bumi, banjir, letusan gunung berapi, dan angin puting beliung sering melanda Tanah Air. Apalagi telah kita ketahui bersama bahwa kita berada di kawasan “Ring of Fire” yang lebih akrab dengan bencana gempa dan letusan vulkanik daripada belahan bumi lainnya. Untuk itulah kita harus selalu siaga.

Tak terkecuali Anda sebagai entrepreneur. Jangan abaikan keselamatan usaha Anda. Sebagai entrepreneur cerdas, Anda harus tahu bagaimana melindungi atau setidaknya memperkecil dampak bencana terhadap usaha yang menjadi sumber penghasilan Anda dan orang-orang terkasih.

Caranya? Siapkan jauh-jauh hari sebuah rencana bencana yang detail dan siap untuk dijalankan kapan saja bencana terjadi.

Kadang terasa sulit bagi pemilik usaha kecil menengah untuk memikirkan masa depan di tengah-tengah rutinitas bisnis  yang menghimpitnya. Namun, sedikit persiapan di masa sekarang bisa menyelamatkan usaha di masa darurat.

Berikut ialah beberapa kiat bagi usaha Anda untuk menghadapi bencana:
·   Buat dan simpan beberapa set dokumen ekstra yang Anda anggap penting seperti kebijakan asuransi dan catatan keuangan.
·   Pastikan detail informasi kontak karyawan dan pelanggan Anda diperbarui dan mudah diakses.
·   Bersiaplah untuk melakukan komunikasi secara rutin untuk mengantisipasi selama dan setelah terjadinya bencana kepada semua pemegang saham Anda.

Selalu dengarkan apa yang dihimbau oleh pemerintah setempat di mana Anda beroperasi. Jika memang mereka menyarankan dengan sangat untuk mengungsi, Anda tidak punya pilihan lain selain menghentikan usaha selama jangka waktu yang tidak bisa ditentukan demi keselamatan jiwa. (*/Akhlis)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/amankan-bisnis/10697-siapkan-usaha-anda-hadapi-bencana-alam-.html

Tuesday, August 23, 2011

Pipin, dari Pemandu Sukses Jadi Eksportir

Sosok
Pipin, dari Pemandu Sukses Jadi Eksportir
Erlangga Djumena | Senin, 22 Agustus 2011 | 07:50 WIB

KONTAN/DOK PRIBADI

KOMPAS.com - Jika tidak bermodal nekat, Manampin Girsang tidak akan pergi ke Bali dan sukses menjadi eksportir mebel. Bermodal Rp 1,5 juta dan bahasa Inggris, ia dipercaya mengelola bisnis mebel antik dan akhirnya sukses membuka bisnis sendiri.
Sukses sering berawal dari sebuah pertemanan atau kemitraan. Itu juga yang dialami Manampin Girsang. Berawal dari bekerja sama dengan seorang pedagang barang antik, kini pria kelahiran Brastagi, Sumatra Utara, ini berhasil menjadi eksportir mebel antik ke Eropa, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah.
Dengan menggunakan merek Gabe International, produk mebel Manampin sudah dikenal sebagian pengusaha hotel atau vila di luar negeri. Sejak 20 tahun silam, ia memasok mebel antik ke beberapa hotel dan vila mewah di Cayman Island, Kepulauan Fiji, Bahama, dan Mauritius. Tiap bulan, ia mengekspor setidaknya enam hingga delapan kontainer. Nilai tiap kontainer ukuran 40 kaki antara  20.000 dollar AS–25.000 dollar AS.
Saat ini, selain memiliki gerai mebel di Bali, Pipin, panggilan akrab Manampin, juga mempunyai galeri, workshop, dan pabrik di Jepara, Jawa Tengah. Maklum, beragam produk yang diekspornya, dari meja, bufet, kursi, hingga dipan, semuanya diukir, dipahat, dan dikerjakan para perajin di Jepara.
Semua produk itu rata-rata diekspor tanpa merek, terutama jika pemesannya adalah perusahaan. Berdasar informasi dalam situsnya, klien Pipin antara lain Soneva Hotel, Club Med, serta Great Bay Hotels and Casino. Selain korporat, pelanggan mebel Gabe adalah para pemilik rumah atau vila.
Pipin, kini berusia 42 tahun, tidak menyangka bakal menjadi eksportir mebel seperti sekarang. Sejak kecil, ayahnya yang bekerja di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengarahkannya untuk belajar teknik. Setelah masuk Sekolah Teknik Mesin (STM) di Brastagi, ia lantas kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia.
Tapi, sebenarnya, anak keempat dari tujuh bersaudara ini lebih menyukai bahasa ketimbang teknik. Saat masih sekolah di STM, ia senang memandu turis yang datang ke Brastagi. Nah, lantaran orientasinya berbeda, Pipin tidak lulus di UI. Alhasil, ia memilih merantau ke Bali pada tahun 1989. “Saya kabur karena drop out,” katanya.
Saat itu, dengan bekal duit Rp 1,5 juta dan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris, Pipin ingin mencari kerja di Bali. Sementara masih lontang-lantung, ia lebih banyak bergaul dengan para turis dan acap memandu mereka. Lewat seorang teman dari Kanada yang dikenal saat masih di UI, ia bertemu Giovanni, pria asal Italia yang berbisnis di Bali.
Nah, oleh Giovanni, Pipin ditawari menjual bikini aspal. Artinya, merek terkenal tapi palsu. Celakanya, usaha ini tidak berjalan lama. Dia ditangkap oleh petugas keamanan lantaran tidak menjadi anggota paguyuban penjual. “Karena saya bukan anggota mereka, saya dianggap ilegal,” katanya.
Akibatnya, Pipin masuk dalam daftar hitam untuk berjualan dan beroperasi di kawasan Kuta. Giovanni menawari Pipin bisnis lain, yakni berjualan barang antik. “Orang Italia memiliki selera yang bagus untuk seni,” ujarnya. Ia melihat kebutuhan mebel di Bali sangat besar. Giovanni langsung percaya, dan memberi modal kamera dan uang agar pria yang pernah ingin menjadi tentara angkatan laut ini bisa berburu mebel antik.
Berjualan mebel antik
Nah, naluri bisnis Pipin tidak meleset. Ia berburu mebel antik ke Madura dan Jepara. Produknya dijual di Indonesia maupun diekspor ke luar negeri. Sebelum dijual, kadang ia harus memoles, mengecat, dan memperbaiki sendiri mebel antik itu. Pipin mendapat bagian 10 persen dari hasil penjualan mebel itu.
Karena hasil kerjanya bagus, akhirnya, Pipin mendapat modal Rp 30 juta dari Giovanni untuk membangun workshop di Jepara. “Jepara memiliki banyak talenta dan mebelnya bagus,” katanya. Ia juga mendapat hak untuk mencari pembeli sendiri, di luar pelanggan Giovanni. Tahun 1991, ia resmi mendirikan Gabe International. “Gabe berasal dari nama malaikat, Gabriel,” katanya.
Untuk memperluas pemasarannya, Pipin membuat website. Ia rela merogoh kocek Rp 2,5 juta untuk menyewa jasa pembuat situs. Nah, dari situsnya itu, para pembeli (buyers) berdatangan, kebanyakan dari luar negeri. “Berbisnis lewat internet juga bisnis kepercayaan. Karena itu, saya menjaga kualitas mebel yang saya kirim,” kata Pipin yang sering terjun sendiri menjual produknya.
Mulai tahun 2003, Pipin mengembangkan bisnis sendiri, lepas dari Giovanni yang sedang terbelit masalah keuangan. Saat itu, ia tidak ada persoalan dengan modal lantaran punya simpanan dalam dollar AS yang setara dengan Rp 1,7 miliar. Berbekal itu, Pipin menggenjot penjualan lewat website.
Lantaran selalu menjaga kepercayaan pemesan, pelanggan mebel antik buatan Pipin semakin banyak. Hampir semuanya memesan lewat internet.
Saat ini permintaan ekspor mebel tetap bagus. Ia bahkan menargetkan, dalam beberapa tahun ke depan, nilai ekspornya mencapai Rp 1 triliun per tahun. “Saya juga ingin punya merek sendiri,” katanya. Maklum, ia ingin mengharumkan nama produk asal Indonesia. (Dian Pitaloka Saraswat/Kontan)
 
Sumber :
KONTAN
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/08/22/07504238/Pipin..dari.Pemandu.Sukses.Jadi.Eksportir

Berteman dengan Perubahan ala Richard Branson

PDF Cetak E-mail
Senin, 22 Agustus 2011 13:04
bransonDalam bisnis, perubahan kadang terjadi lebih cepat dari prediksi kita. Teknologi bergerak dengan dinamis dan ekonomi selalu naik turun. Mengatakan pada staf Anda untuk berkawan dengan perubahan dan menjadi kreatif tidak cukup. Namun, kita lupa bahwa sebenarnya perubahan adalah sebuah ancaman yang berpotensi akan membawa bisnis menuju kehancuran.

Pengalaman Sir Richard Branson dalam berbisnis tak perlu diragukan lagi. Menurut Branson, seperti dilansir dari Entrepreneur.com (22/8), selalu ada peluang yang tersembunyi di balik perubahan. Di sini ia ingin berbagi tentang bagaimana menghadapi perubahan yang mengancam keberlangsungan industri rekaman di tahun 1982. Kala itu resesi ekonomi menghimpit industri rekaman. Ini diperparah dengan mulai terjadinya pengunduhan ilegal yang marak di masyarakat penikmat musik (dengan kemampuan tape untuk merekam siaran radio atau menyalin piringan hitam).  Toko-toko rekaman juga tidak seramai biasanya. Ternyata CD mulai merangsek ke pasar.

Manfaat format baru berupa CD ini sangat jelas saat itu bagi konsumen. Bentuknya lebih ringkas, kualitas suara juga lebih murni.  Branson bertutur, “Buku catatan saya saat itu dipenuhi dengan pertanyaan tentang dampak potensial CD terhadap perusahaan kami. Apa yang akan terjadi pada kumpulan rekaman di berbagai penjuru negeri, apakah orang akan beralih dari piringan hitam ke CD?”

Pertama kali Virgin Megastores yang ia pimpin menempuh cara pembersihan gudang untuk menyambut persediaan baru dan memberikan diskon bagi konsumen yang ingin membeli piringan hitam. Mereka berhasil melakukan pergantian dari piringan hitam ke CD. Dan tak semua perusahaan rekaman bisa melakukan ini.


Virgin Megastores juga menjadi saksi atas fenomena munculnya bentuk ritel lainnya. Dua tahun setelah dikenalkannya komputer pribadi (PC) di tahun 1980, sudah ada hampir setengah juta unit mesin video game di seluruh Inggris. Segera setelah itu, Virgin Records merespon dengan menjual games dan film. Penjualan keduanya terbukti menjadi sumber pendapatan yang tidak kecil bagi perusahaan ini.

Di tahun 1986, Virgin Megastores terancam. HMV, musuh bebuyutannya, mengejar dengan membuka banyak toko besar. Beberapa tokonya bahkan mendekati  lokasi toko-toko Virgin. Seakan tak ingin ketinggalan, Virgin juga menggebrak dengan mendirikan toko terbesarnya di ibukota Irlandia, Dublin. Toko itu tak hanya menjual berbagai rekaman klasik, jazz, folk, dan rock tetapi juga video musik, games, dan software komputer. Branson melihatnya sebagai sebuah masa depan bagi usahanya. Toko itu juga dibuat sedemikian rupa agar menarik dan dinamis, dengan mengundang band-band untuk tampil dan memainkan lagu-lagunya di sana. Makin banyak orang tertarik berkunjung ke sini.

Berbekal semua penyesuaian tersebut, perubahan yang melanda industri musik tidak sampai mengguncang perusahaan Branson, bahkan mengangkatnya menuju puncak di dekade 1980-an dan 1990-an.
“Apakah semua itu akan membuat kami tahan banting di masa depan?” tanya Branson, “Tentu saja tidak.” Satu yang ia sesali ialah tidak menjual Virgin Records ke EMI lebih awal dari 1992.

Kini apakah unduhan digital membunuh industri musik? Branson berargumen, “Keadaan ekonomi produksi musik jauh lebih sehat saat ini daripada saat kami dalam masa keemasan Virgin sebagai perusahaan musik. Saat kami membangun studio, itu adalah suatu usaha penuh risiko, mahal dan membutuhkan banyak tenaga dan pikiran. Untuk menghasilkan keuntungan, kami harus menjual sebanyak mungkin album.

Namun kini sebuah album berkualitas tinggi bisa dihasilkan hanya dengan sebuah laptop dan bisa dikirimkan dalam bentuk file melalui Internet ke siapa saja, kapan saja, di mana saja. Promosi juga semudah membuat akun di jejaring sosial. Skala ekonomi tidak lagi berarti bagi para musisi muda berbakat meski mereka masih penting artinya bagi perusahaan rekaman dan pemegang sahamnya.

“Saya pikir perusahaan rekaman akan terus bertahan. Namun mereka harus lebih efisien dan ramping karena dalam dunia bisnis, kecil itu indah!” kata Branson. Perusahaan-perusahaan yang lebih kecil akan berpeluang menemukan orang-orang berbakat dengan lebih mudah, yang menjadi alasan mengapa banyak orang bersemangat memasuki dunia industri musik. (*Akhlis) Sumber: http://ciputraentrepreneurship.com/bina-usaha/54-sinyal-bahaya/10649-berteman-dengan-perubahan-ala-richard-branson.html

Sunday, August 21, 2011

Mengembangkan Transparansi dalam Perusahaan

Hits : 1118 PDF Cetak E-mail
Sabtu, 20 Agustus 2011 09:09
Untuk dapat berfungsi sebagai sebuah kelompok sosial, kami sering menghindari komunikasi langsung yang bisa menimbulkan konflik. Terdapat kecenderungan untuk mencapai konsensus sosial: mengabaikan atau mengacuhkan fakta-fakta sulit dan muncul dengan versi kenyataan yang tidak terlalu menantang untuk anggota kelompok.

keterbukaan0811Perusahaan tidak bisa membiarkan saja kecenderungan manusiawi ini menyamarkan kebutuhan akan tindakan radikal terhadap masalah-masalah yang penting. Para kolega harus didorong untuk bersikap terus terang, jujur dan ‘apa adanya’.

Pemimpin perusahaan yang mengembangkan ide keterbukaan dalam hubungan bisnis lebih dari siapapun juga ialah Jack Welch, pimpinan dan CEO General Electric dari tahun 1981 hingga 2001. Keterbukaan, tandas Welch, berkenaan dengan pertanyaan yang sukar. Daripada membicarakan tentang sulitnya lingkungan usaha dan mengucapkan selamat satu sama lainnya karena telah berhasil melewati saat-saat sulit dengan baik.

“Kini bayangkan sebuah lingkungan yang di mana Anda bertanggung jawab atas keterbukaannya. Anda akan menanyakan pertanyaan-pertanyan seperti: Adakah produk atau layanan baru dalam perusahaan Anda yang belum pernah terpikirkan oleh kami? Bisakah kita memulai bisnis secara lebih cepat dengan melakukan akuisisi? Bisnis ini menggunakan begitu banyak sumber daya. Mengapa kita tidak meninggalkannya saja?”

Welch yakin bahwa keterbukaan membawa lebih banyak orang terlibat dalam dialog yang akan menciptakan sebuah lingkungan yang kaya akan ide. Ini juga akan mempercepat jalannya berbagai hal:” Saat ide-ide disodorkan ke tiap orang, mereka bisa berdebat tentangnya secara cepat, mengembangkannya dan meningkatkannya serta bertindak atas ide tersebut.”

Meskipun banyak perusahaan menerima cara penyodoran gagasan ini dalam pelaksanaan bisnis, beberapa budaya nasional (dan banyak orang dalam budaya apapun) bersifat menahan pendekatan tersebut dan pemimpin harus mengingat hal ini.

Jun Tang, Presiden Microsoft China, menekankan kenyataan bahwa manajer bisa menyakiti hati dengan berbicara terlalu terus terang dan menimbulkan ketersinggungan. “Seseorang bisa menyakiti perasaan orang lain selamanya. Budaya Amerika sangat terus terang. Namun orang (China) lebih peka. Kepekaan ialah bagian dari budaya mereka yang berusia 5000 tahun."

Masalahnya tidak hanya tentang para manajer yang menyakiti hati anggota timnya. Para karyawan yang menunjukkan adanya masalah kepada seorang manajer bisa dianggap sebagai suatu usaha untuk menyiratkan sebuah kritik terhadap manajer. Ia berusaha menunjukkan pada manajer yang bersangkutan bahwa ia dalam tahapan tertentu bertanggung jawab atas masalah itu.

Perusahaan-perusahaan tidak bisa berfungsi dengan baik dengan mengandalkan tata cara sosial yang berlaku di kehidupan masa kini. Masalah harus diselesaikan dengan penuh keterbukaan dan kejujuran. Diskusi yang jujur dan terbuka tentang masalah bisnis harus membahas tentang inti permasalahan, menampilkan pilihan-pilihan yang tidak mengada-ada tetapi realistis dan mempercepat tanggapan perusahaan terhadap masalah.

Keterbukaan juga membuka debat yang bermanfaat dengan membuka dialog nyata tentang masalah yang muncul. Di dalam beberapa budaya dan bagi sebagian orang di semua budaya, terdapat resistensi terhadap prilaku yang terbuka ini, yang mengimplikasikan kritik dan pelimpahan kesalahan. Ajakan kepada kolega untuk berperilaku dengan “keterbukaan” yang nyata harus diberikan secara seksama diiringi dengan keyakinan bahwa pembicaraan yang terus terang tidak akan diberikan hukuman atau disalahartikan. Perbedaan budaya juga harus turut diperhitungkan. (*/Akhlis)

http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/174-rencana-bisnis/10357-mengembangkan-transparansi-dalam-perusahaan.html