Showing posts with label bambu. Show all posts
Showing posts with label bambu. Show all posts

Thursday, June 21, 2012

Suryadi, Sang Eksportir Kerajinan Bambu

Views :262 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 20 Juni 2012 14:40
Berawal dari berjualan besek, tenggok, dan tampah, Suryadi berhasil menjadi eksportir barang-barang kerajinan ke Amerika Serikat. Dalam setahun, perajin bambu tradisional asal Yogyakarta itu mengekspor 18 kontainer dengan nilai masing-masing Rp 120 juta.

kerajinan_bambu098Langkah pertama kerajinan ini adalah memotong bambu sesuai ukuran yang diinginkan. Bambu kemudian dibelah dalam bentuk yang lebih kecil, sebuah proses yang dinamakan diirat-irat. Potongan bambu pun diwarnai, lalu dianyam berdasarkan desain pesanan. Setelah dipasangi frame, kerajinan bambu siap dilempar ke pasar.

"Ilmunya memang simpel. Produk kita adalah produk dari natural fiber yang sifatnya kuat, namun bila dibuang dapat terurai tanah," tutur Suryadi.

Usaha keluarga milik Suryadi lebih terfokus pada ekspor. Alasannya, jumlah pesanan jauh lebih besar dari pasar lokal. Sembilan puluh persen produksinya dijual ke luar negeri, sedangkan sisanya untuk kebutuhan domestik.

Dalam sebulan, Suryadi mampu mengirim satu hingga dua kontainer ke pasar dunia. Satu kontainer bernilai antara Rp 80 juta hingga Rp 120 juta. Negara tujuan ekspor terbesar adalah Amerika Serikat dan sejumlah negara lain di Eropa.

"Usaha ini membuka lapangan pekerjaan bagi tenaga kerja di daerah ini, tanpa syarat pendidikan atau latar belakang keilmuan," ungkap Suryadi.

Untuk ke depannya, ia berharap pihak perbankan dapat mempermudah proses peminjaman modal, mengingat terus meningkatnya jumlah pesanan. (*/liputan6.com)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/17854-suryadi-sang-eksportir-kerajinan-bambu.html

Wednesday, November 30, 2011

Undagi Jatnika Nagamiharja, Gaungkan Potensi Bisnis Bambu

Views :84 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 30 November 2011 14:01
Jika diolah dengan tepat, melimpahnya kekayaan alam Indonesia bisa menghadirkan kesejahteraan yang layak bagi seluruh rakyatnya. Terlebih lagi juga sumber daya yang melimpah itu dipadukan dengan kreatifitas yang tinggi untuk diolah menjadi suatu karya yang menjual. Maka tak salah jika Indoneisa menjadi surga bagi para entrepreneur kreatif. Salah satu contohnya adalah Undagi Jatnika Nagamiharja. Dari bambu, Jatnika yang juga Ketua Yayasan Bambu Indonesia, mampu melanglang buana dari hampir ke seluruh wilayah Indonesia hingga mancanegara. Lelaki kelahiran Sukabumi, Jawa Barat ini populer dengan rumah bambu buatannya. Ia sudah membangun 3.441 rumah bambu di Indonesia dan negara lain.

jatnika1111Bambu sudah menjadi bagian hidup dari Undagi Jatnika Nagamiharja. Dari tanaman rumpun ini, namanya terkenal sampai ke mancanegara. Dari bambu pula, ia memperoleh sumber penghidupan. Jatnika memulai bisnis bambu sejak 1996. Dia mewarisi ilmu sang ayah yang berprofesi sebagai perajin anyaman dan mebel bambu. Pertama kali menjalankan usaha, Jatnika hanya membuat anyaman dan mebel bambu. Mebel-mebel bambu buatan Jatnika sudah menembus pasar ekspor, seperti Spanyol, Amerika Serikat, Taiwan, dan Jerman. Begitu juga dengan rumah bambu bikinannya.

“Saya masih memproduksi mebel untuk desain interior rumah bambu yang saya buat. Saya yakin ini bisnis yang cerah, karena selain pasar yang luas, pengrajin rumah bambu masih sedikit. Jadi jangan heran jika pesanan yang dating akan terus mengalir,” ucap Jatnika, seperti dikutip dari Kontan Online.

Sampai saat ini, Jatnika sudah membangun sedikitnya 3.441 rumah bambu di Indonesia dan negara lain. Mulai dari rumah tinggal, rumah peristirahatan, rumah makan, gazebo, sampai musala. Di pasar ekspor, rumah bambu buatan Jatnika sudah berdiri di Malaysia, Brunei Darusssalam, Arab Saudi, serta Uni Emirat Arab. Salah satu faktor yang menyebabkan banyak orang memesan rumah bambu ke Jatnika adalah daya tahan buatannya. Aneka rumah bambu buatan Jatnika bisa bertahan hingga 30 tahun.

Keawetan rumah bambu bikinan Jatnika berkat proses penebangan hingga perendaman bambu. Karakteristik rumah bambu yang tahan gempa juga menjadi alasan orang berminat memiliki bangunan tersebut. Setiap bulan, pesanan yang datang ke Jatnika sebanyak 20 rumah bambu. Namun, ia hanya mengerjakan dua pesanan setiap bulan. Tujuannya untuk menjaga kualitas rumah bambu buatannya.

“Kalau hanya memikirkan keuntungan, bisa saja saya ambil semuanya, tapi nanti kualitasnya tidak bagus,” ujarnya.

Jatnika memang tidak hanya mengejar keuntungan semata, namun juga kepuasan batin. Apalagi, sejak 1995, dia dipercaya menjadi Ketua Harian Yayasan Bambu Indonesia yang didirikan oleh istri mantan Wakil Presiden Try Sutrisno. Selain untuk melestarikan bambu, yayasan ini juga dibentuk untuk mengembangkan dan memanfaatkan bambu Indonesia. Para perajin pun dilatih untuk mengenal produk-produk kerajinan yang bisa dihasilkan dari bambu. (*/Gentur)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/13148-undagi-jatnika-nagamiharja-gaungkan-potensi-bisnis-bambu.html

Thursday, September 8, 2011

Merangkai laba dari kerajinan bambu

Peluang Usaha

 
Kamis, 08 September 2011 | 12:43  oleh Ragil Nugroho, Bambang Rakhmanto
PELUANG BISNIS KERAJINAN BAMBU
Merangkai laba dari kerajinan bambu 
 
Pohon bambu bukan tanaman asing bagi orang Indonesia. Dengan jumlah yang berlimpah, batang bambu bisa digunakan untuk memenuhi beragam kebutuhan. Selain bahan baku mebel, bambu bisa disulap menjadi berbagai alat musik barat, bahkan rangka sepeda.

Tanaman bambu memiliki sejuta manfaat. Selain bisa digunakan untuk bahan baku mebel, atau bahan untuk mempercantik interior dan eksterior rumah, bambu juga bisa disulap menjadi alat musik dan alat transportasi, berupa sepeda.

Sebagai bahan alternatif pengganti kayu, bambu semakin menjadi andalan usaha kerajinan di Indonesia. Apalagi bahan baku bambu dengan mudah ditemui di mana saja.

Lihat saja pengalaman Supardi dan Dasep Arifin bergelut dengan bambu. Supardi yang berasal dari Bandung sejak 2005 lalu telah membuat aneka lampu hias, kursi, dan meja bambu dengan merek Bamboo's Craft. Dengan merek yang sama, pada 2010 lalu dia juga berkreasi membuat sepeda onthel alias sepeda angin dari bambu.

Tentu saja, sepeda bambu yang dibuat oleh Supardi dijual lebih mahal. Jika produk lampu hias dan furnitur bambu dijual dengan harga antara Rp 100.000 sampai Rp 500.000 per unit, sepeda bambu dia banderol seharga Rp 20 juta per unit.

Dibantu oleh 4 karyawan, Supardi membuat sepeda bambu ukuran tinggi 165 cm dan panjang 120 cm dalam waktu 20 hari. "Meski baru, produk sepeda bambu saya mulai disukai konsumen, terutama di Jabodetabek dan Semarang," ujar dia.

Supardi rata-rata bisa menjual dua sepeda bambu per bulan. Dengan penjualan tersebut, dia mengaku mendapat omzet total hingga Rp 50 juta per bulan dari seluruh penjualan kerajinan bambu. Dari omzet senilai itu, Supardi bisa menarik margin hingga 15%.

Dengan permintaan yang terus naik dalam dua tahun terakhir, Supardi bertekad akan lebih fokus membuat sepeda bambu. "Prospeknya sangat bagus," katanya.

Prospek yang bagus itu didukung oleh kondisi geografis dan demografis Indonesia. Polusi, kemacetan, dan mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, memicu gerakan bike to work sehingga memicu permintaan sepeda lebih tinggi.

Menurut Supardi, sepeda bambu adalah solusi paling tepat untuk menyelamatkan lingkungan. Selain materialnya murah dan mudah didapatkan, juga mudah didaur ulang. "Proses pembuatannya pun tidak menimbulkan polusi karbon," kata Supardi, bersemangat.

Tak hanya itu, ia juga mengklaim, sepeda bambu buatannya nyaman digunakan. Sebab, bambu yang digunakan sebagai rangka sepeda itu ulet alias tak mudah patah, lentur, tetapi kuat. Kelenturan inilah yang menjadikan sepeda bambu mampu meredam getaran sehingga nyaman digunakan di jalan bergelombang dan tidak rata.

Namun, untuk memproduksi sepeda bambu yang nyaman, kuncinya ada di bahan baku. "Diperlukan kejelian memilih bambu. Sebab, tidak semua bambu bisa digunakan," katanya.

Supardi sendiri memilih bambu kuning China sebagai "bahan baku" pembuatan sepeda. Bambu ini lebih kuat dibanding bambu jenis yang lain.

Selain pemilihan bambu, perajin juga harus menguasai teknik pengeringan dan pemanasan bambu. Proses ini sangat penting untuk membuat bambu lebih ulet dan mencegah keretakan bambu. Menurut Supardi, teknik pengeringan dan pemanasan tak sulit namun butuh ketekunan. "Teknik penyambungan juga harus benar agar rangka tidak patah," katanya.

Penyuka bahan baku bambu yang lain adalah Dasep Arifin, warga Sentul, Bogor, Jawa Barat. Namun, Dasep tidak membuat sepeda seperti Supardi. Dia lebih memilih bambu untuk dijadikan alat musik seperti biola, kecapi, suling, dan, tentu saja, angklung. “Walaupun terbuat dari bahan yang mudah ditemui, biola saya tidak kalah dengan buatan luar negeri,” ujar pria berusia 65 tahun ini. Menurut Dasep, banyak orang yang menyukai produk biola bambu karena unik.

Berlatar belakang seniman karawitan, Dasep tertarik untuk mengembangkan alat musik bambu karena ingin mengembangkan kesenian yang digelutinya. Apalagi dia melihat pohon bambu sangat banyak ditemui di mana saja. “Saya selalu berpikir untuk mengembangkan kesenian Indonesia asli,” tuturnya.

Ide untuk membuat biola bambu hadir ketika dia menyadari bahwa alat musik dari bambu saat ini kebanyakan hanya angklung dan suling. KArena itu, sejak 2009 lalu, Dasep pun mulai merealisasikan pembuatan biola bambu tersebut.

Selama dua tahun itulah, Abah berusaha mencari bentuk dan suara yang pas untuk biola bambunya. Selama itu pula, dia berusaha menemukan jenis bambu yang cocok untuk biola. Akhirnya dia menggunakan bambu gombong karena memiliki ukuran besar.

Dengan panjang 12 m dan diameter 10-15 cm, bambu gombong mudah di bentuk sesuai dengan keinginan. “Tidak semua bambu bisa menghasilkan bunyi, ada karakteristik bambu yang bisa digunakan dan biasanya insting saya yang bermain dalam pemilihan bambu,” ujar Dasep.

Setelah menemukan jenis bambu yang tepat, yang dilakukan Dasep adalah membuat motif yang sesuai dengan bentuk biola. Setelah motif terbentuk sesuai dengan keinginan, bambu diberi warna dan dipernis agar corak bambu keluar sekaligus mengkilap.

Walau sudah menghabiskan waktu dua tahun, Dasep mengaku biola bambunya masih jauh dari sempurna. Selain belum menghasilkan suara yang maksimal, bentuknya juga belum sesuai dengan yang dia harapkan. "Kalau boleh saya bilang baru 70%, karena bentuknya masih cukup besar,” kata Dasep.

Namun, meski kondisi kesempurnaan biola baru 70%, Dasep mengaku biola buatannya sudah banyak dipesan. Mayoritas pembeli biola, kecapi dan alat musik adalah seniman atau yang cinta dengan musik.

Dari biola dan berbagai alat musik dari bahan baku bambu tadi, Dasep mengaku belum bisa mendapatkan duit yang lumayan. Dengan harga satu unit biola bambu mencapai Rp 600.000, per bulan dia hanya mampu mengantongi omzet mencapai Rp 10 juta. Omzet itu nantinya untuk membeli bahan baku termasuk membayar empat karyawan.

Menurut Dasep, omzet itu masih minim karena dia belum mampu memproduksi dalam jumlah banyak dan cepat. “Kendala memang masih berkutat pada soal modal dan tenaga kerja. Apalagi semua kerajinan itu diproses dengan bantuan mesin.

Karena itu, dia berharap ada investor yang tertarik untuk memodali usahanya nan langka ini.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/76927/Merangkai-laba-dari-kerajinan-bambu-