Showing posts with label agrobisnis. Show all posts
Showing posts with label agrobisnis. Show all posts

Tuesday, April 10, 2012

Raup Untung dari Bisnis Tokek


Views :150 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 10 April 2012 13:12
tokek0412Tokek bisa dijual dengan harga fantastis karena konon berkhasiat. Padahal, reptil berkulit yang tertutupi sisik-sisik granular bercampur bintil-bintil dengan jari-jari kaki melebar itu membuat bentuk fisik hewan itu menjijikkan. Namun toh banyak orang rela memelihara binatang itu bertahun-tahun. Banyak pula orang mencari tokek dari satu wilayah ke wilayah lain. Maklum, harga seekor tokek berukuran dan berat spesial bisa sangat mahal.

Itu pula yang mendorong Icuk S, misalnya, menekuni bisnis dan memelihara tokek. Warga Margerejo, Balapan, Surakarta, itu menuturkan ada tokek yang dijual ratusan juta rupiah. Sebagian besar peminat dari kota-kota besar, seperti  Surabaya dan Jakarta. Bahkan ada pihak yang menghubungkan dengan calon pembeli dari Malaysia, China, dan Jepang.

“Namun itu tokek dengan ukuran dan berat spesial. Misalnya, seberat 3 ons, 4 ons, dan 5 ons. Berat segitu bisa mencapai ratusan juta rupiah per ekor. Soal khasiatnya, setahu saya selama ini untuk dunia kesehatan karena dianggap bermanfaat luar biasa,” katanya.

Dia sudah bertahun-tahun menggeluti bisnis itu. Dia juga menyatakan pernah memiliki tokek seharga ratusan juta. Karena supermahal untuk satu ekor, dia harus menakar sang pembeli secara jelas. Bisnis itu rawan penipuan karena banyak broker atau makelar tokek yang terlibat.

“Apalagi mencari tokek pun sulit. Tidak setiap saat ada. Bahkan harus kontak-kontak dengan teman lain di luar daerah. Intinya, bisnis itu nyata. Ngapain kalau tidak benar terus saya geluti.” (*/Suaramerdeka.com)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/15943-raup-untung-dari-bisnis-tokek.html

Thursday, March 22, 2012

Prasetio, Raup Laba dari Ayam Organik

Views :118 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 22 Maret 2012 09:19
Budaya menyantap makanan organik kini sedang menjadi tren bagian dari gaya hidup sehat. Sebab, bahan makanan organik bebas dari berbagai jenis pestisida dan zat kimia yang bisa membahayakan tubuh. Sejauh ini, jenis makanan organik lebih banyak berupa sayur mayur dan tanaman organik seperti beras organik, cabai organik, hingga kangkung organik. Belakangan, tren organik meluas hingga ke bahan makanan yang berasal dari hewan ternak seperti ayam organik.

ayam_organicPrasetio Yuwono, salah satu pengusaha yang telah menekuni bisnis ayam organik sejak 2008. Dia melihat masyarakat membutuhkan pasokan ayam yang sehat dan bermanfaat bagi tubuh. Bersama Gina Dyah Miranti dan Agus Hanif, anak dan  menantunya, mereka melakukan penelitian dengan memelihara ayam tanpa antibiotik, vaksin, dan hormon sejak 2002.

Hasilnya, ayam organik yang dihasilkan oleh peternakannya di Desa Jeglong, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, telah lulus Laboratorium Pengujian Veteriner Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta Departemen Pertanian Ditjen Bina Produksi Peternakan. Ayam organik produksinya dinyatakan tidak mengandung residu antibiotik erytromycin, kanamycin, tetracyclin, penisilin, logam berat Arsen, Pb (timbal), maupun Cr (crom), serta bebas virus flu burung dan penyakit New Castle. "Seluruh proses produksi ayam bebas dari bahan kimia dan rekayasa genetika, mulai dari pengembangbiakkan sejak dari benih, lingkungan, hingga pengemasan," paparnya saat ditemui di gerai Healthy Chicken miliknya di Jalan Ngaglik Baru No  22.

Pada 2008, Prasetio mulai menjual ayam organik. Awalnya, dia hanya memasarkan ayam organik di Supermarket Gelael Citraland Mall. Kemudian secara bertahap, produksi ayam organiknya terus meningkat hingga mampu menghasilkan 1.200-an ekor ayam per minggu tiap kandang, dari enam kandang yang dimiliki. Kenaikan produksi itu diikuti peningkatan permintaan dari beberapa kota seperti Surabaya yang mencapai 2.000 ekor per minggu, Yogyakarta 250 ekor per minggu, Bandung 1.500 ekor per minggu, dan Semarang 1.500 ekor per minggu. Maklum, ayam  organik terbilang sehat dan tidak berisiko membawa penyakit. "Selain punya 5 gerai cabang di Semarang, kami sedang merintis pasar untuk Denpasar, Solo, dan Irian Barat," katanya.

Dari bisnis ini, Prasetio mengantongi omzet lumayan besar. Hitung saja, dia menjual ayam organik Rp 38.500 per ekor. Setiap minggu, dia sanggup memasok sekitar 1.200 ekor. Selama proses pemeliharaan, ayam diberi ramuan herbal agar sehat. Ini berbeda dari kebanyakan peternak lain yang menyuntikkan antibiotik agar ayam bebas penyakit. Tak hanya pantang dengan suntikan antibiotik dan makanan berunsur  kimia, ayam juga diberi minum air isi ulang untuk menghindari bakteri E Coli. "Kami memberikan ramuan dari 32 macam jenis herbal, yang mampu mencegah dan membasmi bakteri serta virus. Ramuan tersebut membuat ayam tahan penyakit, lebih lincah, tingkat kematian lebih rendah, dan nafsu makan bertambah dibanding ayam konvensional," paparnya.

Berdasarkan hasil penelitian, kadar lemak ayam organik hanya 9,9%. Ini lebih rendah dari ayam konvensional yang berkisar 25%. Sedangkan kadar proteinnya mencapai 70,8%, lebih tinggi dari ayam lain yang hanya 18,2%. (*/Suara Merdeka)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/15448-prasetio-raup-laba-dari-ayam-organik.html

Tuesday, March 20, 2012

Budidaya Belut yang Semakin Menguntungkan


Views :129 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 20 Maret 2012 14:51
Sebagian besar masyarakat Indonesia tidak asing lagi dengan belut. Hewan air tawar yang masuk dalam kelompok ikan berbentuk seperti ular ini digemari karena rasa dagingnya yang gurih. Belut boleh dibilang aman dikonsumsi oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Daging belut juga dipercaya dapat menambah vitalitas tubuh manusia.

belut0312Lantaran peminatnya cukup banyak, pasokan belut tidak cukup mengandalkan dari tangkapan alam. Makanya, belakangan banyak orang tertarik budidaya belut. Salah satu varian belut yang mulai banyak dibudidayakan adalah jenis belut super. Berbeda dengan belut pada umumnya, belut super memiliki ukuran lebih besar. Ukuran lingkar tubuhnya mencapai 6,5 cm dengan panjang sekitar 50 cm.

Herman Susilo, salah seorang pembudidaya belut super asal Malang, Jawa Timur, menyatakan, bobot tiga ekor belut super bisa mencapai 1 kg. Belut ukuran jumbo ini banyak dicari pengusaha restoran dan makanan ringan. "Kalau tidak budidaya, susah dapat belut super ini, padahal, pasarnya lebih menjanjikan," kata Herman.

Saat ini, Herman memiliki lima kolam lumpur tempat budidaya belut super. Setiap kolam berukuran sekitar 2x5 meter. Dengan pemberian pakan rutin, Herman bisa memanen belut setiap tiga atau empat bulan sekali. Jadi dalam setahun bisa empat kali panen.

Saat panen, setiap kolam bisa menghasilkan 250 kg belut super. Harga setiap kilonya sekitar Rp 30.000-Rp 35.000. Dengan harga tersebut, omzet yang didapatnya sekitar Rp 40 juta-Rp 50 juta setiap kali panen. Adapun laba bersihnya sekitar 50 persen dari omzet.

Biaya produksi yang dikeluarkan lebih banyak untuk pembibitan. Setiap satu kg bibit belut super ini dijual seharga Rp 40.000. "Sementara pakannya lebih banyak pakan alami, seperti kodok dan cacing," katanya. Ia menghindari pemberian pelet karena justru dapat menghambat pertumbuhan belut.

Pemain lainnya adalah Prabowo dari Yogyakarta. Ia membudidayakan belut super sejak 2010. Saat ini, ia fokus menjual bibit belut super seukuran 15-20 cm. “Karena kalau bibit setiap bulan bisa langsung jual, sementara kalau tunggu besar itu sampai tiga bulan,” ujarnya.

Bekerja sama dengan petani, ia membudidayakan belut ini di pinggiran sawah. Omzetnya dalam sebulan mencapai Rp 8 juta. Karena bekerja sama dengan pemilik sawah, laba yang didapatnya hanya 20 persen-30 persen. "Jadi saya berbagi dengan pemilik sawah," ujarnya.

Budidaya belut super belakangan semakin digandrungi. Maklum, selain tingginya permintaan pasar, budidaya belut ini juga tidak sulit. Herman Susilo, pembudidaya belut super dari Malang, Jawa Timur bilang, hal utama yang mesti diperhatikan adalah pemberian pakan.

Menurutnya, asupan pakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan belut. Ia menyarankan, sebaiknya belut super lebih banyak diberikan pakan alami, seperti keong, katak, atau cacing ketimbang pakan buatan. "Pakan alami membantu pertumbuhan lebih cepat," kata Herman.

Dengan pakan alami, belut super bisa lebih cepat dipanen karena pertumbuhannya juga menjadi lebih cepat. Jika diberi pakan buatan, belut super baru bisa dipanen dalam waktu enam hingga tujuh bulan sejak awal dipelihara. "Tapi dengan pakan alami bisa panen setiap tiga hingga empat bulan," jelasnya.

Selain itu, kecukupan pakan juga harus diperhatikan. Sebab, bila jumlah pakan kurang bisa menyebabkan terjadinya kanibalisme antar belut. Untuk itu, ia menyarankan pemberian pakan dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari.

Untuk metode budidayanya sendiri ada dua cara. Yakni, menggunakan media kolam lumpur dan menggunakan bubu bambu di sawah. Herman sendiri menggunakan media kolam lumpur. Langkah pertama yang harus dilakukan tentu menyiapkan kolamnya.  Kolamnya sendiri tak perlu terlalu lebar. Cukup dengan diameter 2x5 meter sudah bisa menampung 50 kilogram (kg) bibit belut. Saat panen, bibit sebanyak itu bisa menghasilkan bobot 250 kg.

Setelah kolam jadi, lalu masukkan gedebok pisang dan jerami. Lalu masukkan pupuk kandang untuk mempercepat pembusukan gedebok pisang dan jerami. "Ketika sudah membusuk bisa jadi santapan tambahan belut," katanya.

Setelah pakan tambahan siap, lalu lanjutkan dengan pemberian lumpur kering. Setelah itu, masukkan air dengan kedalaman minimal 15 centimeter (cm). "Proses pembusukan gedebok pisang dan jerami terjadi sekitar dua minggu setelah air masuk," jelasnya. Setelah terjadi pembusukan, maka benih siap dimasukkan.

Cara budidaya yang lain adalah memakai bubu yang ditaruh di sawah. Prabowo, pembudidaya belut dari Yogyakarta menggunakan cara ini. "Keunggulan cara ini tidak perlu lahan." ujarnya.

Ia hanya perlu bekerja sama dengan pemilik sawah. Dalam satu petak sawah, ia biasa menanam 20 hingga 50 bubu sebagai tempat belut bertelur. Untuk makanan, cukup menaruh cacing di sekitar bubu tersebut. Prabowo sendiri hanya fokus menjual bibit belut super ukuran 15 cm-20 cm. “Yang penting telaten perhatikan pakan,” ujarnya. (*/Kontan.co.id/ian)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/15405-budidaya-belut-yang-semakin-menguntungkan.html

Wednesday, March 14, 2012

Umar Gunawan, Sukses Kembangkan Agrobisnis Durian Montong

Views :312 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 14 Maret 2012 11:22
durianmontongPepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya cocok disematkan pada sosok Umar Gunawan. Betapa tidak, usaha durian montong warisan orangtuanya berhasil dikembangkan. Kini dia menghasilkan omzet Rp 3 miliar per bulan.

Setiap harinya pengunjung silih berganti datang menawar di Jalan Urif Sumoharjo, tepat di seberang jalan depan rumah Sakit Awal Bros Makassar. "Usaha ini saya jalani sejak SMA," kata Umar memulai kisahnya dalam menggeluti dunia usaha durian montong.

Meski usaha yang dijalani bapak satu anak itu terbilang usaha yang dia lanjutkan dari orang tuanya, namun berkat kegigihan dan keuletannya dia bisa mengembangkan dengan menjadi suplai durian montong pada hampir semua tokoh buah di Makassar. Termasuk mensuplai durian untuk mal.

Saat ini alumni Fakultas Ilmu Sisial dan Politik Unhas itu mampu membukukan omzet hingga ratusan juta bahkan miliaran rupiah setiap bulan. "Kalau panen tidak terganggu, omzet bisa mencapai sampai Rp 3 miliar setiap bulan," bebernya.

Di Sinjai tepatnya di Kelurahan Mannanti Kecamatan Tellu Limpoe Umar membudidayakan durian montongnya itu. Di atas tanah seluas delapan hektare keluarga Umar menanam lebih dari 1.000 pohon durian montong.

"Kami juga membudidayakan dan menyediakan bibit durian montong yang sudah mendapat sertifikat primatiga dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultra Sulsel. Durian kami bebas kimia," jelasnya.

Umar mengakui, jurusan yang selama ini digeluti semasa kuliah memang bertentangan dengan usaha yang dia jalani saat ini. Namun semua itu bukan tantangan. Baginya, sepanjang ada kemauan dan usaha serta niat yang ikhlas maka apapun yang dilakukan pasti mendatangkan berkah.

Dalam perjalanan karirnya, Umar bahkan sempat terlibat penuh di dunia hiburan. Dia sempat menetap beberapa bulan di Jakarta dan meninggalkan usaha durian montongnya. Tapi karena jiwa usaha yang sudah melekat, dunia band yang dia geluti itu tidak dia lanjutkan dan kembali ke Makassar menjalankan usaha durian montongnya.

Umar berharap, usaha durian montongnya ini bisa terus dikembangkan. Bahkan dia punya mimpi untuk mengolaborasikan usaha durian montongnya itu dengan makanan khas Makassar seperti Pallubasa dan sebagainya.

"Yang pastinya saya akan bertahan dengan usaha ini karena durian memiliki pecandu yang banyak," pungkasnya. (*/Fajar.co.id/AS)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/15222-umar-gunawan-sukses-kembangkan-agrobisnis-durian-montong.html

Friday, February 17, 2012

Kisah Sukses Suroto Kembangkan Padi Organik

Views :621 Times PDF Cetak E-mail
Jumat, 17 Februari 2012 10:24
Ketertarikan Suroto, warga Desa Sumberngepoh, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur menekuni padi organik bermula pada 1999, saat harga pupuk (kimia) melambung tinggi dan tidak terjangkau petani kecil. Dari situ kesadaran Suroto bangkit untuk mencoba mengembangkan pertanian organik tanpa butuh pupuk kimia.

padi_organik0212"Saya berpikir bahwa orang zaman dulu dalam bertani tanpa menggunakan pupuk kimia dan panennya padi melimpah. Buktinya beras pada zaman Kerajaan Majapahit menjadi komoditas penting hingga dikirim ke luar Jawa," ujarnya.

Semangat kembali ke alam itu lantas ditindaklanjuti Suroto dengan menggali informasi dari sesepuh desa tentang kearifan lokal dalam mengolah lahan. "Sawah itu sudah membawa pupuk sendiri. Contohnya damen (jerami) harus dikembalikan ke sawah," ujar Suroto menirukan saran dari sesepuh desa.

Petuah selanjutnya, pemilik sawah harus memiliki rojo koyo (hewan ternak berupa sapi, kerbau atau kambing). Sebab kotoran rojo koyo tersebut bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik.

Penjelasan sesepuh desa tersebut dijadikan Suroto sebagai bahan masukan yang sangat berharga. Tidak cukup dari situ, Suroto mencari informasi tambahan dengan mengikuti berbagai kepelatihan pengelolaan lahan ramah lingkungan yang diselenggarakan lembaga swasta maupun Pemerintah Kabupaten Malang.

Setelah semua informasi dipadukan, ia mengajak empat rekannya, yakni Sutarji, Buang, Supi'i, dan Mistono untuk memulai pertanian organik di sawah masing-masing. Pertanian organik akhirnya diterapkan lima petani yang memiliki lahan di lereng bukit atau kawasan paling atas di desa itu seluas 5 ha.

Mengawali sesuatu yang tidak lazim memang tidaklah mudah. Panen padi pertama kali yang dilakukan Suroto dan kelompoknya lewat metode pertanian organik hasilnya masih jeblok.

Sawah seluas 1,7 ha miliknya hanya menghasilkan 2,4 ton gabah. Padahal hasil panen sawah yang digarap dengan metode nonorganik bisa mencapai 7-9 ton.

Saat melihat kenyataan itu, Suroto tidak lantas putus asa. Musim tanam selanjutnya dia tetap menerapkan metode organik. Dan hasil panen yang kurang optimal itu dia sempat rasakan sampai tujuh kali musim tanam pada 1999-2003.

"Awalnya saya gagal. Banyak warga mencibir dan mencemooh. Mereka mengatakan bahwa saya petani bandel karena mengolah sawah tidak mau keluar modal," kenangnya.
Cibiran dan cemoohan tersebut tidak lantas membuat Suroto minder. Ia terus belajar untuk menimba teknik pertanian tradisional.

Selain ingin membuktikan kepada teman seprofesinya bahwa metode organik lebih berwawasan lingkungan dan hasilnya lebih bagus daripada nonorganik, Suroto punya tujuan agar petani di desanya bisa melepaskan diri dari belenggu ketergantungan pupuk kimia.

Hingga akhirnya memasuki 2003, sawah yang digarap Suroto sukses menghasilkan 9 ton gabah. Suroto semakin optimistis bahwa pertanian ramah lingkungan sangat efektif sekaligus menguntungkan.

Pasalnya hasil panen padi organik setelah dijual dalam bentuk beras langsung terserap pasar. Selain itu, karena pamor beras organik yang semakin tinggi, harganya di pasaran jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan padi nonorganik.

Ia mengisahkan, pada 2003 harga beras organik Rp3.600 per kg. Terus mengalami kenaikan harga sejak mahasiswa dan dosen Universitas Brawijaya, Malang, datang ke Desa Sumberngepoh untuk praktik kerja lapangan. Waktu itu, beras organik hasil panen Suroto terserap dengan harga Rp3.800 per kg. "Para dosen di Unibraw sekarang menjadi pelanggan tetap beras organik," ujarnya. Bahkan saat ini harga beras organik di pasaran bisa mencapai lebih Rp11 ribu per kg.

Keberhasilan Suroto mengembangkan padi organik itu pada akhirnya mendapat perhatian petani lainnya yang sebelumnya bersikap mencemooh. Hal tersebut dimanfaatkan Suroto untuk melakukan sosialisasi lewat pertemuan-pertemuan arisan antarpetani.

"Dari sinilah petani di Desa Sumberngepoh mulai tertarik dan yang mengembangkan pertanian organik bertambah dari lima orang menjadi 10 orang dengan total lahan seluas 11 ha. Jumlah petani organik di desa kami terus bertambah," ujarnya.

Manfaat lain, pertanian organik yang dirintis Suroto tersebut juga mengundang perhatian berbagai pihak. Bahkan sudah ada mahasiswa asal Jerman yang melakukan penelitian di Desa Sumberngepoh.

Kini desa yang dulunya tidak dikenal orang mulai dikenal berbagai kalangan dari daerah lain hingga mancanegara. Petani di Desa Sumberngepoh pun merasakan manfaatnya. Paling tidak padi organik produksi mereka dengan cepat terserap pasar dengan harga yang bagus. Dengan mengembangkan padi organik tersebut, para petani di desa tersebut juga mengakui bahwa pendapatan mereka meningkat dan tidak pusing memikirkan harga pupuk kimia yang harganya tidak menentu dan terlalu mahal. (*/mediaindonesia.com)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/14479-kisah-sukses-suroto-kembangkan-padi-organik.html

Wednesday, January 4, 2012

Siswanto, Juragan Apel di Lumbung Kopi

Views :135 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 04 Januari 2012 10:05
Awalnya banyak pihak pesimistis terhadap usaha Siswanto (51) membudidayakan apel di Aceh Tengah, negeri yang lebih dikenal sebagai lumbung kopi. Tapi penduduk Kampung Despot Linge, Kecamatan Linge, Aceh Tengah ini tetap optimistis bahwa apel juga cocok dikembangkan di negeri berhawa sejuk itu. Kini, keyakinannya terbukti. Sekali panen apel, ia bisa meraup omzet Rp 8 juta.

apel0112Beberapa jenis apel, di antaranya apel manalagi, ana, rome beauty, australi, dan wangling, kini tumbuh subur di kebun Siswanto yang berada di belakang rumahnya. 

Apel dari kebun Pak Sis--demikian ia biasa disapa--kini laris manis. Bahkan banyak warga yang sengaja menunggu-nunggu kapan jadwal panen. Saat panen tiba, pengunjung dipersilakan Pak Sis memetik sendiri apel yang ranum dari pohonnya. Mirip di Taman Buah Mekarsari, Jawa Barat. Tapi jika hendak dibawa pulang, Pak Sis membanderol apelnya dengan harga Rp 25 ribu per kilogram.

Kini konsumen apel Pak Sis bukan cuma dari Aceh Tengah, tetapi banyak juga yang berasal dari daerah lain. “Untuk kebun apel yang ada sekarang, sekali panen bisa menghasilkan duit sekitar Rp 8 juta. Tapi kendala yang kami hadapi saat ini adalah akses jalan kemari yang belum begitu bagus,” ungkap Siswanto seperti dikutip dari Serambi Indonesia.

Di tengah keterpakuan masyarakat Dataran Tinggi Gayo yang hanya mengandalkan tanaman kopi sebagai komoditas primadona, Pak Sis telah membuktikan bahwa budidaya apel pun bisa mendatang banyak duit di kabupaten berhawa sejuk ini.

Apel benar-benar telah menyumbangkan kesejahteraan bagi suami Sri Suyati ini. Ia sudah bisa membeli dua mobil. Tidak lagi hidup menumpang karena sudah mampu membangun rumah sendiri. “Kami sekeluarga juga bisa pulang pergi ke kampung halaman di Malang,” ujarnya.

Dari namanya, mudah ditebak kalau Siswanto bukan asli Aceh. Ia berasal dari Kabupaten Malang, Jawa Timur. Tapi Aceh adalah “tanah air” kedua baginya. Pak Sis sekeluarga awalnya menjadi transmigran di Despot Linge, Aceh Tengah pada 1995. Tapi saat eskalasi konflik berkecamuk menjelang akhir ‘90-an, ia terpaksa eksodus dari Aceh tahun 2000.

Pak Sis memboyong keluarganya ke tanah kelahirannya di Malang, Jawa Timur. Semua harta benda, termasuk kebun kopi dan rumah, terpaksa ia jual murah untuk ongkos pulang ke Jawa. Ia tak ingin menjadi korban konflik yang saat itu semakin tak tentu arah.

Sesampai di Malang, Pak Sis justru tak betah. Soalnya, bangun pagi cuma lihat dinding rumah tetangga. Kondisi itu hampir lima tahun dirasakan, lalu ia putuskan untuk kembali ke Aceh Tengah.

Ketika di Aceh diberlakukan darurat sipil, pada saat itulah, September 2004, Siswanto kembali ke Gayo bersama keluarganya. “Awal kedatangan kami yang kedua ke Despot Linge ini, saya dan keluarga menumpang lantaran tak punya rumah. Memulai hidup baru harus merintis lagi dari nol. Sambil menggarap kebun kopi, saya berjualan sayur dan pisang,” kenangnya.

Pria berkumis tebal ini juga coba-coba menanam apel. Awalnya hanya empat batang bibit apel yang ia bawa dari Malang. Setelah tampak tumbuh subur, barulah ditambah Pak Sis beberapa batang lagi. “Dengan modal pertama 16 batang apel, sekarang saya sudah punya lahan sekitar 1,5 hektare yang seluruhnya ditanami apel berbagai jenis,” kata Pak Sis.   

Tantangan terberat yang dia rasakan awalnya adalah sikap pesimis para tetangganya yang menganggap budidaya apel Pak Sis bakal berbuah kesia-siaan. Maklum, Gayo bukan Jepang, juga bukan Virginia atau Seattle di mana apel bisa hidup subur dan berbuah. Pak Sis hanya punya satu teori, kalau di Malang yang berhawa sejuk apel bisa berbuah, mengapa tidak jika ditanam di Takengon yang juga sejuk?

Tapi Pak Sis pernah sedih karena beberapa warga yang dia beri bibit apel, justru menjadikannya sebagai tanaman pagar karena menganggap tak bakal berbuah.  Kini anggapan itu terbantah. Pohon-pohon apel di belakang rumah Pak Sis mulai menghasilkan rupiah sebagai hasil penjualan apel miliknya. “Apel ini mulai banyak produksinya tahun 2008. Sampai sekarang terus berbuah. Dalam setahun dua kali panen,” katanya.

Kini Pak Sis menambah lagi 1,5 hektare luasan kebun apelnya. Sementara itu, puluhan pohon apel yang tumbuh subur di belakang rumahnya telah mendongkrak ekonomi keluarga Pak Sis, sehingga ia menjadi terkenal. “Ibu Bupati Aceh Tengah pernah datang kemari untuk membeli apel dari kebun saya,” ungkap Pak Sis.

Selain berkebun apel, ia juga memiliki kebun kopi. “Sekarang kebun kopi saya ada tiga hektare. Ditambah lagi dengan kebun apel yang baru ditanami seluas 1,5 hektare,” ujar Siswanto.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/13987-siswanto-juragan-apel-di-lumbung-kopi.html

Saturday, August 6, 2011

Raup Rupiah dari Tikus Putih

Raup Rupiah dari Tikus Putih PDF Cetak E-mail
Jumat, 05 Agustus 2011 10:15
Tikus atau binatang pengerat sebagian besar dinilai warga sebagai hewan menggelikan dan menjijikkan. Namun siapa sangka, di tangan seorang buruh tani di Kabupaten Malang, Jawa Timur, tikus ini bisa dijadikan kegiatan usaha yang mampu mendatangkan keuntungan hingga jutaan rupiah.

tikus_putihAdalah Singgih, buruh tani asal Desa Balesari Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang Jawa Timur, yang telah berhasil membudidayakan tikus putih. Atau dalam bahasa latin dikenal dengan nama Rattus Norvegicus.

Awalnya, pada 2010 lalu pria berusia 41 tahun itu tertarik berternak tikus putih usai melihat pameran budidaya hewan di balai desa. Singgih tertarik berternak tikus putih, karena selain bibit mudah didapat, tikus putih juga jarang sakit.

Dengan modal awal hanya 80 ekor tikus putih, dalam waktu satu tahun, tikus putihnya telah berkembang hingga mencapai 2.700 ekor tikus.

Menurut Singgih, tikus putih tergolong hewan pemakan segala sehingga pakan mudah didapat, seperti pelet burung, ubi-ubian, rumput, dan sayuran.

Namun tikus putih ini tergolong hewan pengerat doyan makan, karena dalam satu bulan mampu menghabiskan empat karung pelet burung, dengan biaya sekira Rp1 juta.

Sementara itu, dalam satu bulan, peternak bisa menjual 500 ekor tikus putih yang berusia mulai 25 hari dengan harga Rp1.500 per ekor. Sementara tikus putih dewasa berukuran sedang dijual mulai Rp3 ribu-Rp4 ribu per ekornya.

Dalam satu bulan, peternak mampu meraup keuntungan hingga Rp2 juta dari penjualan tikus putih ini di beberapa kota besar seperti Surabaya dan Jakarta. Umumnya, tikus putih ini diminati oleh pecinta reptil sebagai pakan dan sebagai sarana penelitian biomedis, pengujian, dan pendidikan.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/10278-raup-rupiah-dari-tikus-putih.html