Showing posts with label kerajinan. Show all posts
Showing posts with label kerajinan. Show all posts

Tuesday, August 7, 2012

Merangkai aneka kreasi unik dari stik es krim

PELUANG BISNIS KREASI DARI STIK ES KRIM

Merangkai aneka kreasi unik dari stik es krim

Merangkai aneka kreasi unik dari stik es krim

Merangkai stik es krim menjadi sebuah produk kerajinan yang memiliki nilai jual memang bukan pekerjaan mudah. Butuh perpaduan antara kreativitas, ketelatenan, juga daya seni dan imajinasi untuk bisa menghasilkan karya yang indah dipandang mata tersebut.

Membuat kerajinan cantik dan unik tidak harus menggunakan bahan baku yang mahal. Stik es krim pun bisa disulap menjadi beragam kreasi unik dan cantik. Dengan sentuhan tangan kreatif, stik es krim yang sederhana bisa diubah menjadi aneka bentuk kerajinan, seperti miniatur rumah atau lampu hias.

Salah satu perajin yang memanfaatkan stik es krim sebagai bahan baku adalah Hamam Hamiqii. Di bawah brand usaha VIP Desain, perajin asal Lowokwaru, Malang, Jawa Timur ini, fokus membuat aneka miniatur gedung kuno dari stik es krim.

Aneka miniatur yang dibuat Hamiqii itu seperti miniatur Balai Kota Malang, masjid-masjid kuno di Malang, Gereja-gereja kuno Malang, dan gedung-gedung antik yang sudah berusia di atas lima puluh tahun. "Saya membuat miniatur gedung-gedung kuno karena sudah menjadi ciri khas Kota Malang," kata Hamiqii.

Ia membanderol miniatur tersebut Rp 100.000 per buah. Dari bisnis ini, Hamiqii bisa meraup omzet sekitar Rp 10 juta - Rp 15 juta per bulan.

Sebagian besar miniatur yang dibuat Hamiqii dijual di tempat penjualan suvenir khas Malang. Setiap turis yang berkunjung ke Malang, menjadi pangsa pasarnya. Selain itu, Hamiqii juga membuat miniatur berdasarkan pesanan dari pelanggan.

Membuat miniatur gedung dari stik es krim ini tak gampang. Selain jiwa seni tinggi juga butuh kesabaran dan ketelatenan.

Hamiqii biasanya terlebih dahulu membuat pola gambar dan ukuran produk yang hendak dibuat. Setelah itu, stik es krim dipotong berdasarkan ukuran bentuk dari gambar tersebut, lalu disusun menggunakan lem perekat. "Kalau dalam satu miniatur dibuat dengan bentuk yang berbeda-beda, maka proses pembuatannya semakin sulit dan lama," jelasnya.

Rata-rata waktu pembuatan satu miniatur gedung membutuhkan waktu satu sampai dua minggu. Soalnya, pembuatan pintu dan jendela pada miniatur gedung tersebut membutuhkan detail dan ketelitian karena ukurannya yang mungil.


Lampu hias

Pelaku usaha kreatif lain dari bahan baku stik es krim ini adalah Tosin, pemilik PD Stik Lamp Indonesia di Jakarta. Berbeda dengan Hamiqii, Tosin menyulap stik es krim menjadi aneka lampu hias. Ia menekuni usaha pembuatan lampu dari stik es krim ini sejak setahun lalu.

Tosin mengaku tertarik membuat lampu dari stik es krim karena melihat peluang bisnis serta termasuk salah satu produk unik yang tak banyak ditemukan dipasaran. "Modelnya unik dan saya yakin pembeli suka," kata dia.

Lelaki 32 tahun ini membuat dua jenis lampu dari stik es krim yakni jenis standar berukuran kotak, segitiga, ataupun lonjong, serta jenis custom atau sesuai keinginan pelanggan.

Menurut Tosin, waktu pembuatan lampu hias dari stik es krim ini bervariasi. Proses pembuatan lampu sederhana, hanya menghabiskan beberapa jam saja. Tapi, lampu hias yang lebih rumit atau lampu jenis custom bisa memakan waktu dua hingga tiga hari.

Bahan stik es krim yang digunakan harus berkualitas bagus, kuat, tebal, dan tak mudah patah. "Untuk lampu standar biasanya kami hanya menggunakan tak kurang 100 stik es krim, sedangkan bentuk yang lebih rumit bisa 300-500 stik es krim bahkan lebih," tambahnya.

Dalam sebulan, Tosin memproduksi minimal 50 unit lampu hias berbagai bentuk dan ukuran, dengan harga jual sekitar Rp 45.000-Rp 100.000 per unitnya. Omzet yang ia raih, sekitar Rp 7 juta-Rp 8 juta dengan laba sekitar 50%. 
 
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/merangkai-aneka-kreasi-unik-dari-stik-es-krim

Furtakos, sukses dari bisnis kerajinan

PELUANG BISNIS: Furtakos, sukses dari bisnis kerajinan

Compact_ukm__5_
FURTAKOS sadar betul kalau jiwa seni yang ada pada dirinya menjadi salah penentu keberhasilannya berbisnis kerajian (handycraft)

Acos, begitu dia akrab disapa hafal betul seluk-beluk ukiran topeng Yogyakarta yang menjadi salah satu barang terlaris di tokonya Andong di Blok M Square, Jakarta Selatan.

Dengan lugas dia menjelaskan perbedaan topeng tokoh pewayangan Jawa tersebut, mulai dari kualitas kayu, ukiran, harga, hingga minat konsumen terhadap benda seni tersebut.

Topeng Yogyakarta itu terdiri dari banyak ragam dan ukuran. Walaupun sekilas tampak mirip, tapi belum tentu antara dan lainnya itu serupa, terutama dalam hal harga.

Kalau para pencicip wine itu kuat dengan mengandalkan rasa, Acos bergerak berdasarkan insting seni yang dibangun dari kerja keras dan kemauan untuk belajar.

Ayah dari Fifin Octaviani tersebut saat ini sudah terhitung sukses di bidangnya, mempunyai tiga toko handycraft dengan omzet sekitar Rp200 juta per bulannya.

Kesuksesan laki-laki asal Lampung tersebut tidak datang dengan sendirinya, apalagi dia hanya bermodal dengkul ketika mulai berbisnis.

Acos mulai usaha pada 1993 dengan membuka empat toko handycraft secara bersamaan di Pasar Raya. Hebatnya, saat itu dia memulai usaha dengan tanpa modal.

Anak bungsu dari tujuh bersaudara tersebut memutuskan berbisnis handycraft dengan alasan sudah mengenal seluk-beluk berjualan cendera mata.

Sebelumnya, Acos bekerja sebagai staf di Pasar Raya selama 4 tahun.

Dari sana lah ilmu mengenai handycraft didapatnya. Mulai dari bagaimana memilah barang yang diminati pasar, membuka kerja sama dengan konsumen potensial, hingga mengelola bisnis agar terus tumbuh. Insting seninya pun mulai terasah.

Saat mulai berbisnis, sarjana ekonomi lulusan salah satu universitas swasta di Lampung itu mulai memberanikan diri mencari pernak-pernik untuk barang dagangan.

Kota yang dituju antara lain Yogyakarta karena banyak benda seni yang dihasilkan di sana.

Lagi-lagi, Acos 'nekat', pergi mencari barang ke Yogyakarta dengan dana pas-pasan alias tidak ada uang untuk belanja barang.

"Saya berangkat dengan keyakinan. Intinya meyakinkan perajin kalau saya mampu membayar barang yang dibeli," katanya kepada Bisnis, Selasa (7/8).

Lobi-lobi Acos akhirnya membuahkan membuahkan hasil. Dari belanja perdananya ke Yogyakarta itu, dia bisa membawa pulang tujuh dus rokok ukuran besar yang isinya cendera mata menggunakan kereta api kelas ekonomi.

Belum habis penderitaan di KA ekonomi, Acos juga harus bersusah payah menyewa angkutan kota untuk mengangkut barang bawaannya itu sesampainya di Jakarta dengan tarif sewa Rp50.000.

Lambat laun, bisnis handycraf di keempat tokonya mulai berjalan. Walaupun awalnya sulit dan 'bersaing' dengan mantan bos nya sendiri, bisnis di empat toko tersebut terus berjalan.

Acos mulai bisa menemukan pola bisnis yang pas, hingga akhirnya bisa berkenalan dengan konsumen asal Jepang yang menawarkan ekspor.

Bukan kepalang senangnya ketika mendapat tawaran ekspor perdana. Memang jumlahnya tidak banyak, paling hanya beberapa dus yang berisi cendera mata dengan nilai Rp65 juta.

Acos makin percaya diri setelah ekspor perdananya sukses. Dia berambisi terus memperluas usaha yang sekaligus menjadi pilihan hidupnya.

Dia sudah mempunyai 10 pemasok tetap yang selalu siap memenuhi permintaannya. Barangnya macam-macam, antara lain topeng, ukiran kayu, patung, dan aksesori.

Namun, cita-cita tidak berbanding lurus dengan kemampuan finansial. Apa daya, Acos harus merelakan sertifikat rumahnya demi mendapatkan pinjaman dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

"Kredit yang cair pertama senilai Rp50 juta dan semuanya digunakan untuk modal usaha," katanya.

Dapat injeksi dana segar, Acos makin agresif mengembangkan usaha. Pada tahun lalu, dia memutuskan menutup dua tokonya di Pasar Raya dan membuka satu toko di Blok M Square.

Perkenalan Acos dengan BRI membawa berkah untuk bisnisnya. Setidaknya Acos sudah beberapa kali ikut pameran yang difasilitasi bank pelat merah tersebut.

Terakhir, Acos ikut pameran produk di Belanda selama 10 hari. Di sana, dia bisa mengasah insting bisnisnya lebih dalam termasuk menjajaki peluang ekspor.

Pulang ke Indonesia, ayah dua anak tersebut semakin mematangkan impiannya mempunyai supermarket handycraft.

"Peluang bisnis handycraft sangat terbuka, apalagi permintaannya yang tidak pernah padam. Sebagian besar konsumen kami saat ini ialah warga negara asing," ujarnya.

Acos juga punya impian lain, yaitu ekspansi dengan membuka toko handycraft di Batam. Alasannya, pangsa pasar di sana cukup cerah terlihat dari tingginya mobilitas WNA. (Bsi)

http://www.bisnis.com/articles/peluang-bisnis-furtakos-sukses-dari-bisnis-kerajinan

Wednesday, June 27, 2012

SENTRA KERAJINAN KULIT MANDING, YOGYAKARTA

SENTRA KERAJINAN KULIT MANDING, YOGYAKARTA

Melongok sentra kerajinan kulit Manding (1)

Melongok sentra kerajinan kulit Manding (1)
Kendati tidak sepopuler Jalan Malioboro, sentra kerajinan kulit di Dusun Manding, Desa Sabdodadi, Bantul, Yogyakarta, layak masuk dalam daftar tempat yang harus Anda kunjungi selama berada di Yogyakarta. Berbeda dengan Malioboro yang menjadi pusat penjualan aneka produk, sentra di Manding lebih fokus menjual produk kerajinan dari kulit.

Di sini ada sekitar 30 kios yang menjajakan aneka produk dari kulit, seperti tas, jaket, sepatu, sandal, dompet, ikat pinggang, dan berbagai produk lainnya. Lokasi Manding cukup strategis karena berada jalur utama Yogyakarta-Parangtritis.

Bila sedang berwisata ke Pantai Parangtritis, Anda bisa mampir sejenak ke dusun ini. Lokasi persisnya berada di Jalan Parangtritis kilometer (km) 11. Dari kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, jaraknya hanya sekitar 2 km.

Selain dapat diakses dengan bus trayek Yogya-Parangtritis, juga dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi. Tak perlu bingung mencari tempat ini karena terdapat gapura besar di barat jalan bertuliskan "Sentra Kerajinan Manding".

Dari mulut gapura itu, Anda sudah bisa melihat deretan kios di sisi kanan dan kiri jalan. Setiap kios tampak memajang aneka produk berbahan dasar kulit.

Produk yang mereka pajang merupakan hasil kerajinan warga Manding. Di dusun ini terdapat sekitar 100-an perajin kulit,

KONTAN sempat mengunjungi sentra ini sekitar sebulan lalu. Tidak nampak kesibukan yang berarti di sentra tersebut. Rata-rata pedagang hanya terlihat duduk santai sambil mengawasi satu dua pengunjung.

Salah seorang pedagang bernama Dwi Astuti mengaku, sudah berjualan sejak 2002. Menurutnya, tren penjualan cenderung meningkat dibanding tahun lalu. "Setiap tahun meningkat 5%-10%," kata Dwi.

Selain melayani penjualan di kios, ia juga melayani order dari luar daerah, seperti Jakarta dan Kalimantan. Menurutnya, produk seperti tas, jaket, sepatu, dan dompet termasuk yang paling banyak peminatnya. Produk itu dibanderol mulai Rp 100.000-Rp 1,5 juta. Dwi mengaku, omzet kiosnya mencapai Rp 2 juta per hari. "Untuk labanya 30%-40%," ucapnya.

Pedagang lainnya adalah Angga Pamungkas. Pemilik Toko Harti ini bergabung di sentra Manding sejak 2004. Ia mengaku, prospek usaha ini cukup bagus. "Apalagi sekarang Manding makin dikenal," ujarnya.

Berbeda dengan Dwi, Angga belum melayani pesanan dari luar daerah. Maklum, di sentra ini, ia masih tergolong pemain kecil. Selain stok terbatas, ia belum memiliki relasi yang kuat ke daerah-daerah.

Ia mengaku, omzetnya dalam sehari rata-rata Rp 500.000. Tapi saat akhir pekan mencapai Rp 1 juta. Pasalnya, saat hari libur banyak turis mengunjungi sentra ini.

Sentra kerajinan kulit Manding ada sejak 1958 (2)

Sentra kerajinan kulit Manding ada sejak 1958 (2)

Dusun Manding, Desa Sabdodadi, Bantul, Yogyakarta sudah terkenal sebagai sentra kerajinan kulit sejak tahun 1970-an. Kerajinan kulit di dusun ini dipelopori oleh tiga pemuda setempat sejak 1958. Belakangan, banyak warga tertarik mengikuti jejak mereka. Sementara toko mulai bermunculan di dusun ini tahun 1980-an.

Dusun Manding, Desa Sabdodadi, Bantul, Yogyakarta sudah terkenal sebagai sentra kerajinan kulit sejak tahun 1970-an. Kerajinan kulit di desa ini dipelopori oleh tiga pemuda setempat, yaitu Prapto Sudarmo, Ratno Suharjo, dan Wardi Utomo.

Keahlian mengolah kulit mereka dapat, ketika bekerja di sebuah perusahaan kulit di Kota Yogyakarta pada tahun 1947. Pada tahun 1958, mereka memutuskan untuk pulang kampung dan mendirikan usaha sendiri dengan memproduksi tas, jaket, dan lain-lain.

Dwijo Hadi Suyono, pemilik Toko Selly Kusuma mengisahkan, sejak ketiga orang itu merintis usaha kerajinan kulit di Manding, banyak warga yang tertarik mengikuti jejak mereka. Lambat laun banyak warga setempat yang berprofesi sebagai perajin kulit. Pada tahun 1970-an, dusun ini pun mulai menjelma sebagai sentra kerajinan kulit.

Keahlian mengolah kulit mereka dapat secara turun-temurun. Namun di tahun 1970-an itu, belum ada toko atau showroom untuk memasarkan hasil produksi para perajin kulit. "Toko mulai bermunculan di dusun ini sekitar tahun 1980-an," kata pria yang akrab disapa Yono ini.

Toko-toko bermunculan seiring semakin dikenalnya Manding di kalangan para pelancong, baik dari Yogya maupun luar daerah. Sejak saat itu, Manding menjadi ramai. Saat akhir pekan, banyak pengunjung datang ke kampung ini.

Lantaran ramai pengunjung, jumlah toko pun semakin banyak. Saat ini, tercatat sekitar 30 kios yang menjual aneka produk dari kulit, seperti tas, jaket, sepatu, sandal, dan dompet. "Hingga saat ini, hubungan antara pedagang dan perajin tetap terjalin dengan baik," kata Yono.

Awalnya, jumlah kios belum sebanyak sekarang. Di tahun 2000-an, jumlah kios baru ada sekitar 10-an. "Kalau tidak salah, kios saya termasuk yang kesepuluh," kenang Yono yang membuka kios di tahun 2000.

Yono bilang, jumlah kios tumbuh pesat di tahun 2007-2008 atau setahun setelah bencana gempa yang melanda wilayah Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 2006 silam. Setelah gempa tersebut, banyak lahan di pinggir-pinggir jalan yang disewakan.

Saat itu, hampir setiap bulan muncul toko baru. "Kebanyakan yang membuka gerai adalah anak, saudara, atau kerabat para perajin kulit," ucap Yono yang menjabat Ketua Pengurus Dusun Perajin Manding ini.

Dwi Astuti, pengelola Toko Maylia, bilang bahwa menjamurnya kios itu memang membuat Manding semakin terkenal sebagai sentra kerajinan kulit. Namun di sisi lain, persaingan sesama pedagang juga semakin ketat. Soalnya, produk yang dijual juga serupa. "Yang membedakan mungkin corak atau motif dan modelnya. Kalau jenis produknya si sama," ujarnya.

Walaupun persaingan semakin ketat, tidak ada pedagang yang saling menjegal. Menurut Dwi, setiap pedagang sudah memiliki pelanggan sendiri.

Untuk menjaring pelanggan baru, biasanya setiap toko sudah tahu apa yang harus dilakukan tanpa mencurangi toko lainnya. "Yang dilakukan masih dalam taraf wajar, seperti mendekorasi outlet hingga memenuhi toko dengan beragam produk ," ujarnya.

Serbuan impor (3)

Sentra kerajinan kulit Manding: Serbuan impor (3)

Dari tahun ke tahun perkembangan bisnis di sentra kerajinan kulit di Dusun Manding, Desa Sabododadi, Bantul, Yogyakarta terus meningkat. Sentra kerajinan kulit ini juga menjadi salah satu tujuan wisata belanja para turis yang mampir ke Yogyakarta.

Tetapi bukan berarti, bisnis para perajin kulit di Manding tak pernah seret. Tahun 2010 lalu misalnya, omzet para perajin kulit anjlok. Gara-garanya, erupsi Gunung Merapi yang terjadi September 2010.

Meski Dusun Manding lokasinya jauh dari Gunung Merapi, tapi bisnis mereka terganggu karena banyak turis yang takut berkunjung ke Kota Gudeg. Toh, para perajin tak sampai menghentikan proses produksi kerajinan kulit.

Dwijo Hadi Suyono, pemilik Toko Selly Kusuma di sentra ini, menuturkan, kala itu para pedagang hanya berharap pada pengunjung dari Yogyakarta dan sekitarnya. "Daerah ini mungkin tak terkena dampak Merapi secara fisik tetapi dengan sepinya pengunjung menjadi pukulan telak buat pedagang," ujar lelaki yang kerap disapa Yono ini.

Hal senada dikatakan Angga Pamungkas pemilik Toko Harti. Bahkan, ia sempat khawatir dampak erupsi Gunung Merapi itu akan berkepanjangan sehingga mengganggu bisnis mereka. "Banyak hasil produksi yang menumpuk karena tak laku terjual," kenangnya.

Namun, belakangan sentra kerajinan kulit Manding kembali menggeliat. Pembeli kembali berdatangan dan pesanan terus mengalir. Meski belum menyamai geliat penjualan pada tahun 2007-2009, setidaknya para pedagang sudah bisa kembali tersenyum. "Bahkan beberapa pedagang mulai kembali menggarap pasar ekspor ke Singapura, Taiwan dan negara lain meski dalam skala kecil," jelas Yono.

Ia bilang, butuh waktu untuk bisa membuat sentra Manding kembali ramai. Karena di sekitar Yogyakarta juga banyak berdiri toko modern yang menjual berbagai produk kulit. "Produk kulit impor pun sudah mulai membanjiri pasar Yogyakarta lewat toko modern yang banyak berdiri," ujar Yono.

Namun Yono tak gentar, karena sebenarnya secara kualitas kerajinan Manding tak kalah dengan produk impor yang ada di pasaran. Ia justru merisaukan harga bahan baku kulit sapi yang terus naik.

Angga juga mencemaskan kenaikan harga kulit sapi dan domba karena bisa menambah ongkos produksi. "Tahun ini kenaikan harga bahan baku kulit sudah lebih dari 10% ," ungkapnya.

Supaya bisa terus bertahan, para pedagang di Manding akan membuat paguyuban. "Lembaganya semacam koperasi yang akan menampung aspirasi para pemilik toko serta menjembatani jika ada masalah yang muncul," ujar Yono.

Dwi Astuti, pengelola Toko Maylia mengatakan, pendirian koperasi ini memang dibutuhkan sebab, kerajinan kulit menjadi mata pencarian bagi banyak orang di Manding. Bukan hanya pemilik toko, tetapi juga para perajin menggantungkan hidupnya dari penjualan kerajinan kulit. Para pedagang dan perajin kulit berharap tren penjualan terus meningkat.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/melongok-sentra-kerajinan-kulit-manding-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-kerajinan-kulit-manding-ada-sejak-1958-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-kerajinan-kulit-manding-serbuan-impor-3

Thursday, June 21, 2012

Suryadi, Sang Eksportir Kerajinan Bambu

Views :262 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 20 Juni 2012 14:40
Berawal dari berjualan besek, tenggok, dan tampah, Suryadi berhasil menjadi eksportir barang-barang kerajinan ke Amerika Serikat. Dalam setahun, perajin bambu tradisional asal Yogyakarta itu mengekspor 18 kontainer dengan nilai masing-masing Rp 120 juta.

kerajinan_bambu098Langkah pertama kerajinan ini adalah memotong bambu sesuai ukuran yang diinginkan. Bambu kemudian dibelah dalam bentuk yang lebih kecil, sebuah proses yang dinamakan diirat-irat. Potongan bambu pun diwarnai, lalu dianyam berdasarkan desain pesanan. Setelah dipasangi frame, kerajinan bambu siap dilempar ke pasar.

"Ilmunya memang simpel. Produk kita adalah produk dari natural fiber yang sifatnya kuat, namun bila dibuang dapat terurai tanah," tutur Suryadi.

Usaha keluarga milik Suryadi lebih terfokus pada ekspor. Alasannya, jumlah pesanan jauh lebih besar dari pasar lokal. Sembilan puluh persen produksinya dijual ke luar negeri, sedangkan sisanya untuk kebutuhan domestik.

Dalam sebulan, Suryadi mampu mengirim satu hingga dua kontainer ke pasar dunia. Satu kontainer bernilai antara Rp 80 juta hingga Rp 120 juta. Negara tujuan ekspor terbesar adalah Amerika Serikat dan sejumlah negara lain di Eropa.

"Usaha ini membuka lapangan pekerjaan bagi tenaga kerja di daerah ini, tanpa syarat pendidikan atau latar belakang keilmuan," ungkap Suryadi.

Untuk ke depannya, ia berharap pihak perbankan dapat mempermudah proses peminjaman modal, mengingat terus meningkatnya jumlah pesanan. (*/liputan6.com)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/17854-suryadi-sang-eksportir-kerajinan-bambu.html

Wednesday, December 14, 2011

Gunawan, Menuai Laba dari Kerajinan Batok Kelapa


Views :180 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 14 Desember 2011 15:21
Sepak terjang Gunawan dalam merintis usaha kerajinan dari batok kelapa berawal dari mengikuti jejak orangtua yang telah menjadi pengrajin selama 14 tahun. Semula ayah Gunawan membuat kerajinan bunga kering kemudian beralih membuat suvenir pensil berhias boneka dengan memanfaatkan buah “nyamplug” sebagai kepalanya. Tahun 2005, Gunawan mulai terpikir untuk menciptakan kreasi baru agar dapat bersaing. Kemudian muncul ide untuk membuat suvenir celengan berbentuk binatang dan lainnya dari batok kelapa.

batok-kelapaPada awalnya, pengolahan bahan mentah mulai dari memetik kelapa, membersihkan batok kelapa, mengamplas, menggambar motif hingga finishing menggunakan kuas, semuanya itu dikerjakan sendiri secara manual oleh Gunawan. Lamban laun, dari hasil usahanya, ia mampu membeli mesin amplas dan mesin kompresor untuk finishing. Namun demikian, keterbatasan tempat dan kekurangan daya listrik masih tetap menjadi kendala.

Awal tahun 2009, Gunawan menjadi mitra binaan Bank Mandiri melalui PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) dan mendapat pinjaman penambah modal usaha. Dana tersebut dipakainya untuk menambah mesin serta daya listrik sehingga 2 hingga 3 orang dapat bekerja dalam waktu bersamaan. Selain itu, Gunawan juga membeli lebih banyak bahan baku batok dari para pemasoknya yaitu industri-industri kecil penghasil minyak kelapa dan geplak dengan dana pinjaman tersebut.

Setelah dua kali diikutsertakaan dalam Pameran PKBL dan pameran Kerajinan di Jakarta, wilayah pemasaran produk yang semula hanya meliputi pasar Beringharjo, Malioboro dan Kasongan, saat ini Gunawan telah mendapat pelanggan dari Bali serta mampu menjual produknya di pasar Sukowati, Bali. Jumlah pegawaipun meningkat, yang semula 20 orang menjadi 30 orang.

Seperti bisnis lainnya yang takkan pernah bisa lepas dari persaingan, bisnis yang dilakoni Gunawan juga terjerat persaingan. Setelah melakoni bisnis kerajinan dari batok kelapa ini, kompetitor-kompetitor mulai bermunculan. Kebanyakan di antaranya bahkan ada yang pernah bekerja dengan Gunawan sebelumnya. Lalu bagaimana reaksi Gunawan? Baginya, hal itu takkan pernah menjadi masalah asalkan dirinya dapat mempertahankan kualitas produk. Untuk mengatasi persaingan itu, Gunawan melakukan sejumlah inovasi seperti membuat model-model baru yang tak mudah ditiru serta menerapkan motif batik dalam produknya.

“Buat saya munculnya pesaing yang dulunya mitra kerja tidak merisaukan. Saya justru bersyukur dapat membangkitkan gairah wirausaha di desa saya dan membantu masyarakat memeroleh penghasilan,” kata Gunawan ketika ditanya cara ia menyikapi munculnya pesaing yang meniru produknya.

Ke depannya, Gunawan akan terus berkarya dan menyimpan serangkain keinginan lain demi kepentingan dan kemajuan usahanya seperti memiliki gudang sebagai tempat penyimpanan persediaan produk dengan berbagai model dan motif, menambah jumlah mesin, daya listrik dan tenaga kerja. Ia juga berharap, produknya bisa menembus pasar Semarang dan Jakarta. (*ely/dari berbagai sumber)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/13449-gunawan-menuai-laba-dari-kerajinan-batok-kelapa.html

Thursday, September 8, 2011

Merangkai untung dari kerajinan cangkang kerang

Peluang Usaha

Kamis, 08 September 2011 | 12:31  oleh Fahriyadi
PELUANG BISNIS KERAJINAN CANGKANG TELUR
Merangkai untung dari kerajinan cangkang kerang
Cangkang kerang ternyata bisa dibuat menjadi aneka bentuk kerajinan yang indah dan bernilai seni tinggi. Selain ramah lingkungan, kerajinan tangan dari cangkang kerang juga bisa mendatangkan rupiah. Peminat kerajinan cangkang kerang ini pun tidak hanya pasar domestik saja, tetapi juga sampai ke Eropa.

Cangkang kerang bila tidak dimanfaatkan hanya menjadi limbah atau sampah yang berserakan mengotori jalan atau pekarangan. Namun berkat sentuhan tangan nan terampil, cangkang kerang itu bisa berubah menjadi kerajinan yang cantik dan indah.

Tak hanya itu, kerajinan dari cangkang kerang ini pun mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Seperti yang dilakukan oleh I Darmaya, pemilik PT Caspla Bali yang bermarkas di Denpasar, Bali.

Darmaya menangkap peluang untuk mengolah cangkang kerang itu menjadi kerajinan yang bernilai tinggi. Ia mulai mengolah cangkang kerang itu pada 2002 lalu. Saat itu, ia melihat banyak cangkang kerang berserakan terbuang di wilayah pesisir pantai Bali.

Melimpahnya cangkang kerang itu membuat Darmaya berpikir untuk menjadikan cangkang kerang menjadi kerajinan yang bermutu dan bernilai seni. Lantas, ia membentuk cangkang itu menjadi aneka kerajinan seperti kalung, cincin, gelang, pigura, meja, kursi, vas bunga dan masih banyak lagi. "Selain mengurangi volume limbah, cangkang kerang merupakan bahan baku berkualitas untuk kerajinan," kata Darmaya.

Karena unik, kerajinan cangkang kerang itu banyak digemari hingga ke pasar mancanegara. Alhasil, Darmaya sukses meraup laba dari kerajinan cangkang kerang yang sebelumnya tak berguna itu.

Darmaya bilang, kulit kerang memiliki karakter material yang keras dan berkilau. Inilah yang menjadi daya tarik utama kerajinan cangkang kerang ketimbang kerajinan dari bahan lain seperti kayu atau batu.

Sejak menekuni usaha kerajinan cangkang itu, Darmaya kini telah mendesain lebih dari 5.000 motif. Salah satu desain Darmaya yang terkenal adalah bingkai foto berukuran 10 sentimeter (cm). "Selain bingkai, banyak bentuk kerajinan yang bisa dibuat dari cangkang," kata pria asli Bali itu.

Untuk menjaga produksi, Darmaya membeli cangkang dari pengepul seharga Rp 20.000 - Rp 50.000 per kilogram (kg), tergantung kualitas dan ukuran cangkang.

Darmaya memang mengincar cangkang unggulan yang berukuran besar dan memiliki warna menarik karena dia sengaja membidik pasar kelas atas. Ia memasarkan kerajinan cangkang itu melalui toko aksesori yang ada Denpasar dan beberapa kota lain di Bali. Tak hanya itu, ia juga memenuhi pesanan dari hotel-hotel yang bertebaran di Pulau Dewata.

Soal harga, Darmaya menjual produk kerajinan itu mulai harga Rp 5.000 hingga Rp 1 juta per pieces. Khusus untuk bingkai foto, Darmaya menjualnya mulai dari harga Rp 50.000 hingga Rp 8 juta per buah.

Hingga kini, Darmaya mampu memproduksi hingga ribuan produk kerajinan cangkang. Selain menjualnya di Bali, Darmaya juga memasarkan produknya di toko aksesori di Lombok. Untuk menambah pelanggan Darmaya tak keberatan membuat kerajinan cangkang dengan desain dari pemesan kerajinan.

Dengan ketekunan dan keuletan mengolah cangkang kerang itu, Darmaya bisa mendulang omzet hingga Rp 300 juta per bulan. Penjualan Darmaya bahkan bisa naik 400% saat ada pesanan dari Eropa yang biasanya datang di bulan September hingga November. "Saya eskpor enam kontainer, dengan nilai US$ 50.000 per kontainer," terang Darmaya.

Kerajinan milik Darmaya banyak digemari orang Eropa karena bentuknya yang unik sehingga dinilai cocok untuk suvenir Natal.

Pengusaha lain yang mengolah cangkang kerang menjadi kerajinan menarik itu adalah Teguh Adi Prabowo, Pemilik Puspa Guna di Surabaya. Teguh menjadi perajin cangkang kerang sejak 1997 lalu.

Laki-laki berusia 37 tahun itu mengaku tergiur mengolah cangkang kerang karena melihat potensi pasarnya yang besar dari kalangan wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Teguh mempunyai ciri khas produk kerajinan cangkang kerang berupa hiasan dinding. Dalam sehari, mantan petani rempah itu menjual hingga 70 buah kerajinan yang dibanderol mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 300.000 per buah.

Salah satu produk unggulan Teguh adalah hiasan dinding cangkang yang membentuk desain batik. Untuk membuat desain seperti itu, Teguh mengaku memilih sendiri cangkang kerang yang keras dan memiliki karakter warna yang menarik. "Cangkang itu harus dipilah, karena tidak semua cangkang kerang keras dan kuat," jelasnya.

Selain itu, cangkang kerang tersebut mesti dibersihkan untuk menghilangkan bau amis yang kadang-kadang masih menempel di cangkang.

Selain menjual kerajinan hiasan dinding itu ke pasar domestik, Teguh sempat melayani pasar ekspor. Tercatat pada tahun 2000 hingga 2010, ia rutin mengirim 300 buah kerajinan tangannya itu ke Eropa. "Tapi sejak tahun 2011 ekspor turun karena Eropa lagi terkena krisis," keluh Teguh.

Sewaktu Teguh masih rutin ekspor ke Eropa itu, omzet Teguh berkisar antara Rp 40 juta-Rp 60 juta per bulan. Setelah ekspor terhenti, omzet Teguh turun menjadi Rp 20 juta per bulan."Kami harap pasar pesanan kerajinan cangkang kembali bergairah ke Eropa," ujar Teguh.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/76924/Merangkai-untung-dari-kerajinan-cangkang-kerang

Merangkai laba dari kerajinan bambu

Peluang Usaha

 
Kamis, 08 September 2011 | 12:43  oleh Ragil Nugroho, Bambang Rakhmanto
PELUANG BISNIS KERAJINAN BAMBU
Merangkai laba dari kerajinan bambu 
 
Pohon bambu bukan tanaman asing bagi orang Indonesia. Dengan jumlah yang berlimpah, batang bambu bisa digunakan untuk memenuhi beragam kebutuhan. Selain bahan baku mebel, bambu bisa disulap menjadi berbagai alat musik barat, bahkan rangka sepeda.

Tanaman bambu memiliki sejuta manfaat. Selain bisa digunakan untuk bahan baku mebel, atau bahan untuk mempercantik interior dan eksterior rumah, bambu juga bisa disulap menjadi alat musik dan alat transportasi, berupa sepeda.

Sebagai bahan alternatif pengganti kayu, bambu semakin menjadi andalan usaha kerajinan di Indonesia. Apalagi bahan baku bambu dengan mudah ditemui di mana saja.

Lihat saja pengalaman Supardi dan Dasep Arifin bergelut dengan bambu. Supardi yang berasal dari Bandung sejak 2005 lalu telah membuat aneka lampu hias, kursi, dan meja bambu dengan merek Bamboo's Craft. Dengan merek yang sama, pada 2010 lalu dia juga berkreasi membuat sepeda onthel alias sepeda angin dari bambu.

Tentu saja, sepeda bambu yang dibuat oleh Supardi dijual lebih mahal. Jika produk lampu hias dan furnitur bambu dijual dengan harga antara Rp 100.000 sampai Rp 500.000 per unit, sepeda bambu dia banderol seharga Rp 20 juta per unit.

Dibantu oleh 4 karyawan, Supardi membuat sepeda bambu ukuran tinggi 165 cm dan panjang 120 cm dalam waktu 20 hari. "Meski baru, produk sepeda bambu saya mulai disukai konsumen, terutama di Jabodetabek dan Semarang," ujar dia.

Supardi rata-rata bisa menjual dua sepeda bambu per bulan. Dengan penjualan tersebut, dia mengaku mendapat omzet total hingga Rp 50 juta per bulan dari seluruh penjualan kerajinan bambu. Dari omzet senilai itu, Supardi bisa menarik margin hingga 15%.

Dengan permintaan yang terus naik dalam dua tahun terakhir, Supardi bertekad akan lebih fokus membuat sepeda bambu. "Prospeknya sangat bagus," katanya.

Prospek yang bagus itu didukung oleh kondisi geografis dan demografis Indonesia. Polusi, kemacetan, dan mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, memicu gerakan bike to work sehingga memicu permintaan sepeda lebih tinggi.

Menurut Supardi, sepeda bambu adalah solusi paling tepat untuk menyelamatkan lingkungan. Selain materialnya murah dan mudah didapatkan, juga mudah didaur ulang. "Proses pembuatannya pun tidak menimbulkan polusi karbon," kata Supardi, bersemangat.

Tak hanya itu, ia juga mengklaim, sepeda bambu buatannya nyaman digunakan. Sebab, bambu yang digunakan sebagai rangka sepeda itu ulet alias tak mudah patah, lentur, tetapi kuat. Kelenturan inilah yang menjadikan sepeda bambu mampu meredam getaran sehingga nyaman digunakan di jalan bergelombang dan tidak rata.

Namun, untuk memproduksi sepeda bambu yang nyaman, kuncinya ada di bahan baku. "Diperlukan kejelian memilih bambu. Sebab, tidak semua bambu bisa digunakan," katanya.

Supardi sendiri memilih bambu kuning China sebagai "bahan baku" pembuatan sepeda. Bambu ini lebih kuat dibanding bambu jenis yang lain.

Selain pemilihan bambu, perajin juga harus menguasai teknik pengeringan dan pemanasan bambu. Proses ini sangat penting untuk membuat bambu lebih ulet dan mencegah keretakan bambu. Menurut Supardi, teknik pengeringan dan pemanasan tak sulit namun butuh ketekunan. "Teknik penyambungan juga harus benar agar rangka tidak patah," katanya.

Penyuka bahan baku bambu yang lain adalah Dasep Arifin, warga Sentul, Bogor, Jawa Barat. Namun, Dasep tidak membuat sepeda seperti Supardi. Dia lebih memilih bambu untuk dijadikan alat musik seperti biola, kecapi, suling, dan, tentu saja, angklung. “Walaupun terbuat dari bahan yang mudah ditemui, biola saya tidak kalah dengan buatan luar negeri,” ujar pria berusia 65 tahun ini. Menurut Dasep, banyak orang yang menyukai produk biola bambu karena unik.

Berlatar belakang seniman karawitan, Dasep tertarik untuk mengembangkan alat musik bambu karena ingin mengembangkan kesenian yang digelutinya. Apalagi dia melihat pohon bambu sangat banyak ditemui di mana saja. “Saya selalu berpikir untuk mengembangkan kesenian Indonesia asli,” tuturnya.

Ide untuk membuat biola bambu hadir ketika dia menyadari bahwa alat musik dari bambu saat ini kebanyakan hanya angklung dan suling. KArena itu, sejak 2009 lalu, Dasep pun mulai merealisasikan pembuatan biola bambu tersebut.

Selama dua tahun itulah, Abah berusaha mencari bentuk dan suara yang pas untuk biola bambunya. Selama itu pula, dia berusaha menemukan jenis bambu yang cocok untuk biola. Akhirnya dia menggunakan bambu gombong karena memiliki ukuran besar.

Dengan panjang 12 m dan diameter 10-15 cm, bambu gombong mudah di bentuk sesuai dengan keinginan. “Tidak semua bambu bisa menghasilkan bunyi, ada karakteristik bambu yang bisa digunakan dan biasanya insting saya yang bermain dalam pemilihan bambu,” ujar Dasep.

Setelah menemukan jenis bambu yang tepat, yang dilakukan Dasep adalah membuat motif yang sesuai dengan bentuk biola. Setelah motif terbentuk sesuai dengan keinginan, bambu diberi warna dan dipernis agar corak bambu keluar sekaligus mengkilap.

Walau sudah menghabiskan waktu dua tahun, Dasep mengaku biola bambunya masih jauh dari sempurna. Selain belum menghasilkan suara yang maksimal, bentuknya juga belum sesuai dengan yang dia harapkan. "Kalau boleh saya bilang baru 70%, karena bentuknya masih cukup besar,” kata Dasep.

Namun, meski kondisi kesempurnaan biola baru 70%, Dasep mengaku biola buatannya sudah banyak dipesan. Mayoritas pembeli biola, kecapi dan alat musik adalah seniman atau yang cinta dengan musik.

Dari biola dan berbagai alat musik dari bahan baku bambu tadi, Dasep mengaku belum bisa mendapatkan duit yang lumayan. Dengan harga satu unit biola bambu mencapai Rp 600.000, per bulan dia hanya mampu mengantongi omzet mencapai Rp 10 juta. Omzet itu nantinya untuk membeli bahan baku termasuk membayar empat karyawan.

Menurut Dasep, omzet itu masih minim karena dia belum mampu memproduksi dalam jumlah banyak dan cepat. “Kendala memang masih berkutat pada soal modal dan tenaga kerja. Apalagi semua kerajinan itu diproses dengan bantuan mesin.

Karena itu, dia berharap ada investor yang tertarik untuk memodali usahanya nan langka ini.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/76927/Merangkai-laba-dari-kerajinan-bambu-

Wednesday, September 7, 2011

Kilap laba kerajinan berbahan kaca

Peluang Usaha

 
Rabu, 07 September 2011 | 12:25  oleh Ragil Nugroho, Fahriyadi
PELUANG BISNIS KERAJINAN KACA
Kilap laba kerajinan berbahan kaca
 
Kaca bisa menjadi produk kerajinan yang bernilai seni tinggi. Selain unik dan menarik, kerajinan kaca juga terkesan mewah. Oleh karena itulah, kerajinan ini banyak diburu oleh kolektor benda seni termasuk hotel-hotel berbintang. Selain domestik, pasar ekspor juga terbuka.

Produk berbahan baku kaca sangat beraneka ragam. Selain untuk kebutuhan bangunan, kaca juga bisa dijadikan produk kerajinan seperti cenderamata dan suvenir yang menarik dan terkesan mewah.

Salah satu perajin kaca adalah Medi Rahma Lukri, pemilik Inti Art Glass di Semarang, Jawa Tengah. Memulai usaha sejak 2007, Medi menggunakan pecahan kaca bekas untuk membuat berbagai kerajinan unik.

Pecahan kaca bekas yang dikumpulkan dilebur dengan proses pembakaran selama 10 jam bertemperatur 1.200 derajat celsius. "Awalnya saya hanya ingin memanfaatkan kaca-kaca yang tidak terpakai," ujar Medi. Dengan menggunakan produk daur ulang, biaya pembelian bahan baku semakin murah.

Kaca yang meleleh kemudian dicetak sesuai dengan bentuk yang diinginkan, seperti vas atau tempat lilin. Setelah terbentuk, proses penyempurnaan dilakukan dengan memberikan motif ukiran menggunakan gerinda.

Dibantu 12 pegawai, Inti Art Glass bisa memproduksi sekitar 500 kerajinan kaca ukir berbagai ukuran. Produk-produk tersebut kemudian dijual dengan harga mulai Rp 10.000 hingga Rp 1 juta per produk. "Yang paling mahal berbentuk patung atau tokoh," katanya.

Tak hanya vas bunga, tempat lilin atau patung, Medi juga membuat ukiran dari berbagai barang dari kaca seperti botol anggur dan stoples kaca. Hanya saya, media kaca untuk ukirannya tidak sembarangan karena harus memiliki unsur unik dan antik.

Dari seluruh hasil produksinya, Medi mengaku bisa mengumpulkan omzet penjualan mencapai Rp 25 juta perbulan. Dari hasil itu, keuntungan bersih yang didapat sebesar 20% omzet atau sekitar Rp 5 juta.

Pesanan produk kerajinan kaca itu sebagian besar dipesan oleh hotel-hotel di Bali, Jakarta dan Surabaya. Selain pasar domestik, ia juga sering mendapat pesanan dari Swiss, Australia dan Jepang.

Menurut Medi, nilai penjualan produknya selalu meningkat pada Juni hingga September mencapai 30%. Kenaikan itu disebabkan banyaknya hari libur sehingga produknya manis laris. Dengan peningkatan tersebut, Medi yakin prospek kerajinan kaca masih akan cerah ke depan. Apalagi para pemain di bidang ini belum begitu banyak. Untuk menggenjot peningkatan penjualan, inovasi produk harus tetap dilakukan.

Ia menambahkan, kerajinan berbahan baku kaca memiliki karakteristik tersendiri dibanding kerajinan dari material lain seperti batu atau kayu. Kaca selain lebih unik juga memiliki sifat elegan dan mewah. "Itulah kenapa kolektor benda seni atau hotel sangat berminat," katanya.

Senada diungkapkan oleh Gus Nanda, perajin kaca sekaligus pemilik PT Aulia Bali Craft di Badung, Bali. Ia mengatakan, kerajinan dari kaca laris diburu oleh kolektor benda seni tak hanya lokal namun mancanegara. Selain sebagai koleksi pribadi, kerajinan kaca juga bisa menjadi suvenir.

Memulai usaha sejak 2006, Nanda yang saat ini berumur 37 tahun mengaku memperoleh keterampilan membuat kerajinan kaca setelah bekerja di galeri seni milik orang asing di Bali. Selain memproduksi kerajinan kaca, Nanda juga membuat kerajinan dari batu.

Berbagai bentuk wadah unik dan menarik seperti gelas dan botol dibuat. Selain itu, dia juga membuat lampu hias kaca. "Selain memproduksi massal, kami juga memproduksi sesuai permintaan," ujarnya.

Agar terlihat unik dan menarik, Nanda dalam proses pembuatan selalu mengedepankan unsur kerajinan tangan atau handmade. Mesin hanya digunakan untuk mempercepat dan mempermudah proses produksi. Ia menyebutkan, 60% proses adalah handmade dan 40% mesin. Mesin biasanya digunakan saat proses finishing dan pemotongan kaca.

Penggunaan mesin dalam proses produksi membuat Aulia Bali Craft mampu memproduksi hingga 100 produk gelas dan botol dengan aneka bentuk, warna, dan motif per hari. Jika konsumen ingin produk yang berbeda atau sesuai keinginan, dibutuhkan waktu sekitar 3 hari hingga seminggu penyelesaian.

Bahkan, untuk pemesanan lebih dari 1.000 dengan desain sesuai dengan permintaan diperlukan waktu lebih lama. "Untuk 1.000 pieces produk custom, kami mengerjakan sekitar 10 hari hingga 2 minggu," jelasnya.

Harga jual tiap produk buatan Nanda berkisar antara Rp 10.000 sampai Rp 50.000 untuk gelas dan botol. Adapun untuk produk hiasan lampu Rp 100.000 per unit. Tiap bulan rata-rata 1.500 sampai 2.000 produk dengan omzet Rp 40 juta didapatkan.

Selain untuk memenuhi permintaan berbagai hotel di Bali, Nanda juga melakukan ekspor ke pasar Eropa dan Amerika Serikat. Namun, memasuki tahun 2011, ia mengatakan, pasar ekspor cenderung sepi dan pasar domestik tak stabil. "Karena kerajinan bukan produk prioritas, sehingga jika ada guncangan ekonomi akan terasa imbasnya," paparnya.

Akibat krisis ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika Serikat, Nanda mengaku mengalami kemerosotan omzet mencapai 20% sampai 30%. Untuk itu, ia berharap kondisi ekonomi dunia kembali membaik guna meningkatkan omzet usaha seperti sebelumnya.

Menurutnya, produk kerajinan adalah perpaduan antara ide, konsep, ketelitian, dan kreativitas. Namun begitu, keberadaan pasar yang mampu menyerap juga sangat penting. "Di awal, kami bingung harus mendistribusikan ke mana. Akan sisa-sia jika produksi tidak ada peminat," katanya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/76808/Kilap-laba-kerajinan-berbahan-kaca

Thursday, August 11, 2011

Biarpun kertas bekas, untungnya tetap berkelas


PELUANG USAHA
 
Rabu, 10 Agustus 2011 | 13:03  oleh Ragil Nugroho, Bambang Rakhmanto, Fahriyadi
GREEN BUSINESS KERAJINAN KERTAS BEKAS
Biarpun kertas bekas, untungnya tetap berkelas
 
Isu pemanasan global dan semakin sadarnya masyarakat akan produk ramah lingkungan membuat kerajinan daur ulang kertas banyak diminati. Tak hanya pernak-pernik seperti gantungan kunci, kartu nama, magnet kulkas, ataupun pigura, bubur kertas bekas juga bisa dijadikan panel hiasan dinding dengan harga jual tinggi.

Limbah kertas tak hanya bisa digunakan sebagai bungkus makanan. Koran bekas, majalah bekas, ataupun limbah kertas yang lain bisa dibuat berbagai kerajinan dan hiasan dinding bernilai ekonomi tinggi.

Salah seorang perajin kertas bekas adalah Yunita Adistira di Bekasi, Jawa Barat. Menggeluti usaha kerajinan kertas bekas sejak tahun 2007, Yunita mengaku usahanya berawal dari kegiatan iseng mengisi waktu luang. Apalagi saat itu, dia banyak sekali menemukan kertas-kertas terbuang yang akhirnya dibakar sia-sia.

Ia pun akhirnya membuat berbagai pernak-pernik kerajinan dari bubur kertas, seperti gantungan kunci, tempat kartu nama, gantungan handphone, dan magnet kulkas.

Dengan harga jual Rp 5.000 - Rp 25.000 per produk, Yunita saat ini mengaku mampu mengantongi omzet Rp 11 juta hingga Rp 15 juta per bulan. "Saat ini saya juga membuat patung, wayang, dan boneka salju dari bubur kertas," katanya.

Pemilik CV Bintang Emas ini membuat patung dan boneka beragam ukuran tergantung pesanan. Dengan harga bervariasi mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 200.000, mahal murahnya tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Menurut Yunita, patung atau boneka dengan tinggi 10 cm - 20 cm paling banyak dipesan. "Margin labanya sekitar 40%," ujarnya.

Tak hanya menyasar individu, produk daur ulang kertas milik Yunita juga banyak diminati wedding organizer dan perusahaan yang peduli dengan alam. Kepedulian mereka biasanya ditunjukkan dengan membeli produk dari bahan yang ramah lingkungan. Konsumen produk daur ulang kertas bekas tidak hanya di Pulau Jawa, tapi sudah merambah Kalimantan dan Sumatera. Khusus untuk Sumatera, 40% permintaan datang dari Pekanbaru.

"Di Pekanbaru tren produk daur ulang sedang meningkat," katanya. Menurut Yunita, masyarakat tertarik untuk membeli kerajinan daur ulang kertas karena unik dan menarik.

Tak hanya produk Yunita saja yang diminati masyarakat. Sebab, produk hiasan dari bubur kertas bekas milik Sumarsono juga sedang naik daun. Lelaki asal Cilebut, Jawa Barat ini memanfaatkan bahan bubur kertas untuk dijadikan panel atau hiasan dinding.

"Kerajinan kertas bekas prospeknya bagus karena didukung isu pemanasan global," katanya. Ia mengaku telah membuat berbagai kerajinan berbahan baku kertas bekas sebelum ada isu pemanasan global.

Dengan semakin meningkatnya kepedulian lingkungan, maka nilai penjualan produk daur ulang meningkat. Saat ini, untuk setiap hiasan dinding berukuran 45 cm x 45 cm dijual dengan harga Rp 150.000. Dengan harga tersebut, Sumarsono mengaku mampu mengantongi omzet per bulan mencapai Rp 60 juta.

Omzet yang didapat oleh Sumarsono termasuk besar, sebab harga kertas bekas yang dibutuhkan untuk membuat satu produk tidak lebih dari Rp 20.000. "Keuntungan saya mencapai 50% dari omzet," kata pemilik usaha Laxsvin Art ini.

Omzet itu selain didapatkan dari penjualan hiasan dinding berukuran sedang 45 cm x 45 cm, juga didapatkan dari penjualan hiasan ukuran 85 cm x 120 cm dengan harga Rp 1,6 juta. Hiasan dinding ukuran 45 cm x 45 cm lebih diminati karena lebih simple dan mudah dibawa kemana-mana. "Sebanyak 90% pembeli saya datang dari konsumen rumah tangga," katanya.

Walau saat ini baru melayani pasar wilayah Jabodetabek, ke depan Sumarsono berharap mampu menjual hasil kerajinannya ke pasar luar negeri. Tak hanya itu, ia juga bertekad untuk menularkan keterampilannya kepada orang lain. Oleh sebab itu selain sibuk dengan usahanya, Sumarsono juga aktif memberikan bimbingan bagi masyarakat yang mau belajar membuat panel kertas bubur.

Lain dengan Yunita dan Sumarsono, Adang Ganda Permana, pemilik Paper Explorer di Jakarta mengolah kertas bekas menjadi paper bag, kartu nama, dan pigura. Memulai usaha sejak tahun 1999, Adang membutuhkan banyak bubur kertas untuk kemudian dijadikan produk kerajinan jadi.

Dalam sebulan kapasitas produksi bubur kertas Adang mencapai 10 ton. "Dari bubur kertas akan dicetak sesuai pesanan," ujarnya. Jumlah bubur kertas itu mampu memenuhi pesanan paper bag mencapai 3.000 unit, dengan harga satuan sekitar Rp 5.000.

Adang mengaku, hanya dari penjualan paper bag, ia mampu memperoleh omzet per bulan mencapai Rp 15 juta. Nilai omzetnya berlipat jika ditambah dengan penjualan kartu nama dan pigura dari bahan baku bubur kertas bekas.

Menurutnya, pembuatan produk kerajinan dari bubur kertas bekas tidaklah sulit. Untuk yang sudah sering membuat, bahkan bisa menyelesaikannya dalam waktu sehari. Yang terpenting, menurut Adang, adalah proses perendaman kertas. Proses perendaman penting untuk mendapatkan bubur kertas yang memiliki elastisitas baik sehingga mudah dibentuk.

Proses pembuatan yang cukup mudah juga dikemukakan oleh Yunita. Ia mengaku mendapat ilmu kerajinan bubur kertas bekas secara otodidak. "Ternyata tidak begitu sulit mengolahnya," katanya.

Bahan baku utama yang dibutuhkan adalah kertas bekas, air dan lem putih atau lem kayu. Selain itu juga dibutuhkan cat poster dan vernis, blender, kain untuk menyaring, dan cetakan.

Pertama, kertas bekas disobek-sobek dan direndam dalam air selama satu hari sampai tiga hari. Kedua, setelah proses perendaman selesai, kertas diblender sampai halus. Ketiga, kertas blender disaring dengan kain. Penyaringan dilakukan untuk membuang air, sehingga diperlukan pemerasan sampai agak kering. Keempat, ampas atau bubur kertas tadi kemudian dicampur, diaduk rata dengan lem putih. Kelima, adonan siap dicetak sesuai dengan keinginan.
"Setelah dicetak lalu dijemur dan diberi cat poster dan vernis agar lebih kuat," katanya. Untuk menghadirkan tekstur menarik, bisa dicampurkan pewarna dan serat dari pelepah pisang atau jahe.

Tuesday, August 9, 2011

Merangkai untung dari hasil menenun lidi menjadi taplak meja


PELUANG USAHA
 
Senin, 08 Agustus 2011 | 14:19  oleh Handoyo
GREEN BUSINESS KERAJINAN TENUNAN LIDI
Merangkai untung dari hasil menenun lidi menjadi taplak meja
 
Seluruh bagian pohon kelapa memang bernilai guna. Selain buah, daun dan batang, lidi atau tulang daun kelapa bisa diolah menjadi kerajinan bernilai ekonomis. Lidi bisa ditenun menjadi tikar, suvenir, boks pakaian, dan juga taplak meja yang laku di pasar luar negeri. Perajin tenun lidi bahkan mampu meraup omzet hingga Rp 150 juta per bulan.

Produk lidi ternyata tidak hanya bisa diolah menjadi sapu atau tusuk satai saja. Lidi atau tulang daun kelapa itu juga bisa disulap menjadi kerajinan menarik yang unik, dan diminati konsumen di pasar domestik maupun internasional.

Namun, untuk membuat kerajinan menarik dari lidi itu butuh kreativitas, seperti yang dilakukan Eko Rudiyanto. Lewat bendera KREA di Yogyakarta, Eko mengubah lidi menjadi aneka kerajinan tenun nan unik.

Pria asal Bantul, Yogyakarta itu mengolah lidi menjadi aneka bentuk, seperti kotak CD, kotak pakaian, souvenir pernikahan, placemates atau taplak meja, kotak pensil, tas, tikar lidi, bahkan juga bingkai cermin. "Saat ini, saya fokus produksi taplak meja dan tikar lidi," terang Eko.

Eko sudah melakoni usaha pembuatan kerajinan lidi sejak 2002 lalu. Berkat ketekunan dan keuletannya, Eko bisa memasarkan produk itu hingga ke Belanda, Prancis, Italia, Arab, Qatar, Turki, Malaysia, dan Singapura.

Dalam memproduksi, Eko menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) tradisional. Alat itulah yang kemudian mengantarkan Eko mampu mendapatkan omzet hingga Rp 150 juta per bulan.

Omzet itu ia peroleh dari pengiriman 8.000-10.000 unit placemates dan tikar lidi tiap minggu ke berbagai negara. Harga jual dari setiap produk itu mulai dari Rp 3.500 per unit sampai Rp 55.000 per unit, tergantung dari besar kecilnya ukuran dan tingkat kerumitan dari masing-masing produk.

Produk yang paling murah dibuat oleh Eko adalah jenis taplak meja ukuran 35 centimeter (cm) x 45 cm. Sedangkan untuk produk yang paling mahal adalah tikar lidi berukuran 45 cm x 10 meter (m).

Dengan mempekerjakan 170 orang, dalam seminggu Eko bisa memproduksi 10.000 placemates serta 300-350 roll tikar. Eko menghitung, untuk pengerjaan satu unit tikar, dibutuhkan satu karyawan yang bekerja dalam satu hari.

Dengan mempekerjakan 170 karyawan itu, Eko berharap bisa berbagi rezeki dengan masyarakat lingkungan tempat ia menetap. "Kebanyakan karyawan saya adalah perempuan," kata Eko.

Eko sengaja memilih karyawan perempuan lantaran kaum hawa ini lebih teliti dan lebih sabar dalam merangkai kerajinan tenun dari lidi.

Proses pengerjaan placemates itu mirip dengan cara menenun kain biasa. Tahap pertama adalah melakukan pemintalan benang menjadi gulungan yang besar.

Selanjutnya batang lidi yang telah kering dibersihkan dari sisa-sisa daun yang masih menempel. "Kalau tidak dibersihkan, efeknya lidi mudah busuk," jelas Eko.

Setelah batang lidi bersih, maka lidi yang sudah halus itu ditenun dengan benang yang telah dipintal sesuai dengan ukuran dan permintaan konsumen.

Dalam mendapatkan bahan baku, Eko mendatangkannya dari Ciamis, Jawa Barat. Setiap ikat lidi, Eko membelinya seharga Rp 1.100 - Rp 1.200. Dalam sebulan, Eko menghabiskan 17.000 ikat. "Jumlahnya itu bisa dua sampai tiga truk dengan panjang lidi rata-rata 60 cm-70 cm," jelas Eko.

Selain Eko, perajin tenun lidi yang lain adalah Dwi Santoso. Dwi memulai usaha menenun lidi sejak 2000 lalu. Saat itu ia mengolah limbah lidi yang banyak berserakan di sekitar tempat tinggalnya. "Dari iseng akhirnya menjadi kerajinan tenun," ujar Dwi pemilik Lya Craft di Sleman Yogyakarta.

Berawal dari iseng itulah Dwi sukses membuat tenun lidi secara massal. Namun, karena kebutuhan lidi kian banyak, Dwi memutuskan membeli lidi dari daerah Cilacap dan juga Ciamis.

Setiap minggu, Dwi membeli 1.000 hingga 2.000 ikat lidi dengan harga Rp 1.000 per ikat. Lidi-lidi itulah yang kemudian ia olah menjadi kerajinan tenun berupa placemates dan tikar lidi.

Setidaknya, dalam sepekan Dwi mampu memproduksi 3.000 hingga 5.000 unit produk kerajinan. Hasil produksi sebanyak itu dikerjakan oleh 25 karyawannya yang bekerja di bengkel kerajinan.

Soal harga, Dwi membanderol aneka kerajinan itu dengan harga yang berbeda, yakni mulai harga Rp 2.000 per unit hingga Rp 50.000 per unit, tergantung dari besar kecilnya ukuran kerajinan tersebut.

Selain membentuk lidi menjadi lembaran yang ditenun, Dwi juga membuat stik lidi dengan hiasan manik-manik seharga Rp 10.000 per unit. Dari bisnis pembuatan tenun lidi ini, Dwi bisa mengantongi omzet hingga Rp 100 juta per bulan.

Untuk proses produksi, Dwi membaginya dengan dua pilihan. Pertama, pilihan tenun dengan warna alami. Kedua adalah tenun pilihan warna tambahan.

Untuk membuat tenun lidi dengan warna tambahan, membutuhkan proses pewarnaan tersendiri. Setidaknya dibutuhkan dua ons pewarna kayu untuk satu tenun lidi. Agar mendapatkan warna cerah seperti ungu ataupun hijau, hasil tenunan itu direbus selama 10-15 menit.

Sedangkan untuk mendapatkan warna gelap seperti biru dan hitam, perebusan butuh waktu lebih lama, hingga satu jam. Setelah direbus, batang-batang lidi dijemur di bawah sinar matahari langsung selama setengah hari. "Pengeringan bisa dengan oven khusus kayu dengan suhu 80 derajat," papar Dwi.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/74881/Merangkai-untung-dari-hasil-menenun-lidi-menjadi-taplak-meja

Wednesday, August 3, 2011

GREEN BUSINESS KERAJINAN DAUN PANDAN


PELUANG USAHA
 
Selasa, 02 Agustus 2011 | 12:40  oleh Ragil Nugroho
GREEN BUSINESS KERAJINAN DAUN PANDAN
Wanginya laba kerajinan anyaman berbahan daun pandan
Tak hanya menjadi penambah aroma pada makanan, daun pandan juga bisa jadi bahan baku kerajinan. Setelah dianyam, daun pandan bisa dibentuk aneka jenis kerajinan, seperti tikar, tas, dan keranjang. Kerajinan daun pandan ini juga berprospek cerah. Selain harga bahan baku murah dan mudah didapat, pasarnya sudah meluas hingga ke luar negeri.

Daun pandan sudah lama dikenal sebagai penumbuh aroma pada produk makanan, produk kecantikan, hingga produk kesehatan. Namun, saat ini, daun pandan juga bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan tikar, tas, dan berbagai suvenir lainnya. Tentu saja, nilai ekonomis kerajinan pandan ini juga tinggi.

Ketersediaan bahan baku untuk usaha ini pun tak susah. Lihat saja, daun pandan gampang dibudidayakan sehingga sangat mudah diperoleh di Indonesia.

Tak percaya? Inilah pengalaman Rianni Herlina, pemilik CV Karya Bunda, salah satu perajin daun pandan. Sejak lima tahun lalu, wanita asal Deli Serdang, Sumatera Utara ini aktif membuat dan menjual aneka kerajinan tangan berupa tikar, tas, keranjang, dompet, sandal, kotak pensil dan kotak tisu dari anyaman pandan.

Dengan mengusung merek Karya Bunda, produk-produk anyaman pandan ini berhasil menembus pasar ekspor. Setiap bulan, Rianni mampu mengumpulkan omzet hingga Rp 40 juta.

Bagi wanita berusia 39 tahun ini, keahlian menganyam diperolehnya secara turun-temurun dari keluarga maupun lingkungan tempat tinggalnya. Dari dulu, keluarga Rianni sudah terampil menganyam rotan. Selain itu, sebagian besar perempuan di kampungnya punya pekerjaan sampingan sebagai penganyam.

Meski bukan pelopor kerajinan anyaman pandan, Rianni rajin menggerakkan perempuan di daerahnya untuk memanfaatkan daun pandan. "Saya melihat potensi pasar dengan banyaknya daun pandan di daerah kami," ujarnya.

Membiakkan pandan memang mudah. Pandan bisa tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi. Namun, tanaman pandan yang tumbuh di pinggir pantai memiliki karakteristik daun lebih tebal untuk mengurangi penguapan. Nah, daun pandan yang tebal inilah yang baik dijadikan bahan baku anyaman.

Saat ini, produk anyaman daun pandan yang menjadi andalan Rianni adalah tikar. Rianni menawarkan tiga jenis ukuran tikar, yakni tikar berukuran 1,5 meter x 2 meter dengan harga Rp 125.000. Kemudian tikar berukuran 2 meter x 2 meter yang dibanderol dengan harga Rp 150.000 dan tikar dengan ukuran 3 meter x 3,5 meter senilai Rp 350.000.

Tikar pandan ini pun sudah dikirim ke Malaysia dan Singapura. Dalam sebulan, Rianni mampu mengekspor 250 gulung tikar.

Tak hanya di dua negara itu. Mulai akhir 2011 ini, Rianni berencana memasok tikarnya secara rutin ke Arab Saudi. Sementara, untuk pasar dalam negeri, biasanya Rianni melempar produknya ke Jakarta, Bandung, dan Semarang.

Karena ia mengambil napas khas Melayu dalam kerajinan anyaman pandan ini, Rianni pun hanya menggunakan motif-motif Melayu. Bentuk motif Melayu ini antara lain, tiga dara, semut beriring, itik pulang petang dan sapu tangan.

Bagi Rianni, usaha ini mendatangkan banyak keuntungan. Selain bisa menjadi mata pencaharian para tetangganya, mereka juga bisa melestarikan kebudayaan Melayu.

Sejatinya, anyaman daun pandan tak hanya dari Deli Serdang saja. Kerajinan anyaman berbahan baku daun pandan terlihat pula di Bogor. Dengan mendirikan CV Pandan Lestari, Nurul Lestari pun terjun dalam usaha kerajinan anyaman pandan. Hanya saja, ia fokus pada dua produk, yakni tas perempuan dan keranjang.

Meski baru mulai berusaha sejak tiga tahun silam, Nurul sudah mampu menangguk omzet hingga Rp 20 juta per bulan. "Dari perolehan omzet itu, saya mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp 12 juta," tegasnya.

Ia bisa memperoleh margin keuntungan yang besar karena bahan baku daun pandan sangat murah. Nurul mendapatkan daun pandan dengan harga Rp 3.000 per kilogram.

Harga jual produk CV Pandan Lestari ini berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 200.000. "Yang paling diminati adalah tas perempuan," tambah Nurul.

Tas perempuan dari daun pandang ini, lanjut Nurul, banyak diminati oleh perempuan di kota-kota besar. Terutama, mereka yang memiliki kepedulian terhadap bahan baku ramah lingkungan. Nurul pun memberi jaminan, produknya awet. Bisa bertahan lebih dari tiga tahun lamanya.

Nah, untuk mendapatkan bahan pembuatan tas dan keranjang yang awet itu, sebelum dianyam, daun pandan harus diproses melalui beberapa tahapan. Setelah pandan dipanen kemudian dibersihkan dan dibuang duri-durinya. Kemudian, daun pandan dipotong sesuai ukuran anyaman, yakni mulai 1 sentimeter (cm) hingga 3 cm.

Potongan-potongan tersebut lantas direbus hingga 30 menit. Proses perebusan ini bertujuan untuk menghilangkan getah daunnya. Kemudian, daun pandan dikeringkan di tempat sejuk dan terhindar dari sinar matahari. "Jika tertimpa sinar, daun itu bisa menggulung," jelas Rianni.

Setelah didiamkan sekitar enam jam, baru daun itu dilemaskan dan direndam dalam air biasa selama empat jam. Baru kemudian dijemur di terik matahari hingga berwarna keputihan. Setelah itu, daun pandan itu siap diwarnai. Setelah proses pewarnaan yang berlanjut pengeringan selesai, daun pandan siap dianyam.

Bagi Rianni dan Nurul, bisnis pembuatan aneka kerajinan anyaman pandan memiliki prospek baik. Namun, perajin harus kreatif dalam pemasaran. Selain mengandalkan langganan dan pemesanan via dunia maya, mereka juga aktif mempromosikan lewat ajang pameran kerajinan.
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/74390/Wanginya-laba-kerajinan-anyaman-berbahan-daun-pandan

Tuesday, August 2, 2011

Menyulap Limbah Komputer Menjadi Produk Kerajinan

PDF Cetak E-mail
Senin, 01 Agustus 2011 10:03
Di sela-sela kesibukannya sebagai direktur operasional di sebuah perusahaan manufaktur, Steven Rodrig menyempatkan diri berkreasi mencipta karya seni bernilai tinggi. Menggunakan limbah dari komputer, pria kelahiran Havana, Kuba, ini membuat berbagai macam bentuk produk kerajinan ramah lingkungan yang mengesankan.

steven_rodrigSejak dua tahun lalu, Rodrig memanfaatkan PCB (printed circuit board) atau papan sirkuit dari komputer bekas sebagai bahan produk kerajinannya. Ayah tiga orang anak yang kini tinggal di New Jersey, Amerika Serikat, ini menjuluki karyanya sebagai kerajinan organik. Menurutnya, papan sirkuit yang tersembunyi di dalam mesin komputer bekas yang semula tak bernilai, bila dikreasikan dengan sedikit sentuhan imajinasi, bisa menghasilkan karya seni organik nan cantik. “Semua (kerajinan) berwujud organik, seperti tanaman dan hewan, bisa tercipta dari bahan-bahan inorganic. PCB ini contohnya,” tuturnya.

Dari mana ide Rodrig berasal? Inspirasinya timbul ketika Rodrig berniat membuatkan sarapan telur goreng untuk sang buah hati. Saat memecah telur dan melihat bagian putih dan kuning telur keluar dari cangkang, dia menghubungkan momen itu dengan DNA buatan manusia yang bersifat organik. “Telur mempunyai data di dalamnya, yakni kuning dan putih telur. Itu merupakan data organik. Jadi bagaimana bila saya menggunakan PCB sebagai bahan pengganti untuk menghasilkan data organik,” kenangnya.

Untuk mencari PCB tak terpakai, Rodrig rela hunting ke tempat penimbunan sampah elektronik atau menghubungi teman-temannya. Tak seperti bahan kerajinan lain yang lebih mudah dirakit, kerajinan organik miliknya mempunyai tingkat kesulitan saat memotong-motong PCB menjadi beberapa bagian. Rodrig menjelaskan kepada situs Wired, “Tak semua PCB sama, ada yang terlalu keras untuk dipotong dan ada yang mudah hancur. Kepuasan akan datang ketika potongan-potongan PCB ini dirangkai menjadi satu bagian berbentuk sesuatu yang organik.”

Selain tanaman dan hewan, Rodrig juga membuat kerajinan dari PCB berbentuk sepatu, desain sebuah kota yang diberi nama “Attempt at Transferring Data Into the Organic World V.9.” dan lain sebagainya. Karya-karya seninya itu dibanderol dengan kisaran ratusan ribu dolar Amerika per item-nya. (*/ely)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/internasional/bisnis/10145-menyulap-limbah-komputer-menjadi-produk-kerajinan.html