Showing posts with label sentra usaha. Show all posts
Showing posts with label sentra usaha. Show all posts

Friday, January 11, 2013

Sentra Tape Ketan Kuningan

SENTRA PEMBUATAN TAPE KETAN DI DESA CIBEUREUM, KUNINGAN

Sentra Tape Ketan Kuningan: Berdiri sejak 1970 (1)

Sentra Tape Ketan Kuningan: Berdiri sejak 1970 (1)
Tape ketan terkenal sebagai salah satu makanan khas Kuningan. Hampir semua toko yang menjual makanan khas Kota Kuningan  menjajakan tape ketan.
Dikemas dalam sebuah ember plastik berwarna hitam, tape ketan bisa Anda bawa pulang sebagai oleh-oleh khas Kuningan. Sebagian besar tape ketan yang dijual di Kuningan berasal dari Desa Cibeureum, Kecamatan Cibeureum.
Desa ini terletak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Kuningan. Di kampung ini ada belasan pelaku usaha tape ketan. Oyoh, salah satu pengusaha tape ketan, bilang, sebagian warga desanya sudah mebuat tape ketan sejak 1970-an silam.
Oyoh sendiri sudah menekuni usaha ini mulai 1980-an. Sebagai pemain lama, ia termasuk pengusaha tape ketan besar di Desa Cibeureum. "Saya sudah 25 tahun membuat tape ketan," ungkap dia.
Menurut Oyoh, permintaan tape ketan khas Kuningan masih tinggi hingga saat ini. Makanya, selama puluhan tahun ia terus menggantungkan hidup dari usaha ini.
Dalam sehari, Oyoh memproduksi satu kuintal tape ketan. Tape ketan itu dia kemas dalam 50 ember ukuran besar dan kecil
Sebelum ditaruh di dalam ember, tape ketan sudah dibungkus dengan daun jambu. Untuk ember kecil, harganya Rp 40.000, sedang ember besar  Rp 50.000.
Selain dijual dalam ember, Oyoh juga menjual dalam kemasan plastik bening berbentuk kotak. Dengan jumlah produksi sebanyak itu, ia bisa meraup omzet rata-rata Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per hari.
Pemain lainnya, Elis yang rumah produksinya berjarak sekitar 20 meter dari rumah produksi tape ketan milik Oyoh mengaku telah menekuni usaha pembuatan tape ketan sejak 1970-an.
Dalam sehari, ia memproduksi satu kuintal tape ketan dan menghabiskan biaya bahan baku sebanyak Rp 1,25 juta, dengan asumsi harga beras ketan per kilogram sebesar Rp 11.500.
Namun, "Biaya bahan baku itu baru kami bayar setelah produk kami terjual," paparnya. Sama dengan Oyoh, tape ketan buatan Elis berbanderol harga Rp 40.000 untuk ember kecil dan Rp 50.000 untuk ember besar.
Menurut Elis, semua tape ketannya ia kemas dalam ember yang mencapai 100 buah. Dalam sehari, dia berhasil menjual semua ember tape ketannya. "Semua saya masukkan ke ember dan jarang dimasukan dalam kotak plastik," ujarnya.
Berkat usahanya ini, Elis bisa meraup omzet sekitar Rp 3 juta hingga Rp 4 juta  per hari. Kendati omzetnya gede, ia mengeluarkan biaya produksi yang juga besar.
Selain biaya pengadaan bahan baku ketan, dia pun mesti membayar tenaga karyawannya. "Saya memiliki delapan karyawan," tambah Elis.
Ia menggaji setiap karyawannya sebesar Rp 25.000 per orang per hari. Para karyawannya bekerja mulai dari pagi hingga menjelang sore hari.
Senada dengan Oyoh, Lilik, pengusaha tape ketan lainnya, mengatakan, permintaan tape ketan asal Desa Cibeureum masih tinggi. Apalagi, sebagian besar sudah memiliki pelanggan tetap. Lilik sendiri memproduksi setengah kuintal tape ketan per hari dengan omzet Rp 2 juta.

Sentra Tape Ketan Kuningan: Berebut karyawan (2)

Sentra pembuataan tape ketan di Desa Cibeureum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Selama puluhan tahun, sentra ini menjadi rujukan pedagang tape ketan di hampir seluruh wilayah Kabupaten Kuningan dan luar kota.
Tak heran, bila perajin tape ketan di desa tak pernah sepi pembeli. Bahkan, pada musim-musim tertentu, seperti menjelang Lebaran, Natal dan tahun baru, serta liburan panjang, mereka harus melipat gandakan jumlah produksi.
Di musim-musim itu, mereka kerap berebut tenaga kerja. Ibu Oyoh, salah seorang perajin tape ketan mengatakan, tidak semua orang memiliki keahlian membuat tape ketan.
Pasalnya, membuat tape ketan perlu keterampilan khusus. Makanya, perlu belajar dulu sebelum membuat tape ketan. "Sementara pada musim Lebaran, permintaan tape ketan cukup tinggi,” imbuhnya.
Jika pada hari biasa, Oyoh memproduksi sebanyak satu kuintal tape ketan, tapi menjelang lebaran, produksinya bisa mencapai tiga kuintal tape per hari.
Tentu, untuk meningkatkan jumlah produksi itu butuh tambahan tenaga kerja hingga tiga kali lebih banyak dari hari biasa. Persoalannya, hampir semua perajin juga menggenjot produksinya.
Sementara tidak semua warga desa memiliki keahlian membuat tape. Ahasil, sebagian perajin kerap kekurangan tenaga pekerja.
Untuk mengantisipasi kekurangan karyawan, Oyoh biasanya membujuk keluarga karyawan yang setiap hari bekerja di tempatnya untuk bergabung. Dengan demikian, Oyoh bisa mencapai target produksi saat Lebaran tiba.
Kesulitan tenaga kerja saat permintaan sedang tinggi juga dirasakan Elis, pemilik rumah produksi tape katan lainnya. Ia bilang, rebutan tenaga kerja sudah menjadi persoalan klasik menjelang Lebaran.
Pasalnya, setiap kali menjelang Lebaran, banyak pelanggan yang tiba-tiba memesan tape ketan dalam jumlah banyak.
Selain itu, toko-toko penjual tape ketan di Kuningan meningkatkan jumlah pesanan mereka.
Pesanan tape ketan melonjak saat Lebaran karena banyak warga asal Kuningan yang mudik alias pulang kampung. Nah, banyak dari mereka yang membawa tape ketan sebagai oleh-oleh khas Kuningan saat pulang kembali ke kota tempatnya bermukim.
Saat lebaran, Elis bisa memproduksi dua kuintal tape ketan per hari. Jumlah itu meningkat dua kali lipat dibandingkan hari biasa yang hanya satu kuintal.
Permintaan tape ketan juga meningkat menjelang perayaan Natal dan tahun baru juga. "Namun, peningkatannya memang tidak setajam Lebaran," ujar Elis.
Lilik, perajin tape ketan lainnya mengakui, sulitnya mendapatkan karyawan menjelang hari-hari besar. Penyebab utamanya, jumlah perajin tape di Cibeureum cukup banyak. "Sudah pasti rebutan kalau jelang Lebaran," ujarnya.

Sentra Tape Ketan Kuningan: Modal terbatas (3)

Sentra produksi tape ketan di Desa Cibeureum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sudah kesohor. Selain dari Kota Kuningan sendiri, para produsen tape di desa ini kerap mendapat order dari luar kota, seperti Cirebon.
Oyoh, salah seorang produsen tape di Desa Cibeureum mengaku kerap mendapat pesanan dari luar kota. Bahkan, saking banyaknya order, ia kerap kewalahan melayaninya.
Soalnya, kapasitas produksi tape ketan Oyoh terbatas. Dalam sehari, ia hanya mampu memproduksi satu kuintal tape ketan. Sementara permintaan jauh di atas itu. Makanya, tak jarang ia menolak pesanan, terutama dari luar kota.
Kebanyakan konsumen luar kota ini merupakan pedagang makanan juga. "Melayani pesanan pelanggan yang ada di daerah Kuningan saja, saya sudah kewalahan," kata Oyoh.
Selain pemilik toko kue, pedagang makanan di pasar-pasar tradisional di Kuningan juga banyak yang menjadi pelanggannya.
Sebenarnya, Oyoh sangat ingin menaikkan kapasitas produksinya.
Namun, karena keterbatasan modal, sulit baginya untuk menggenjot produksi. Oyoh mengaku, selama ini, dukungan pemerintah daerah juga sangat minim.
"Padahal, bila dikembangkan, produk ini bisa menjadi salah satu pendorong perekonomian di Kabupaten Kuningan," ujarnya.
Sampai saat ini, untuk permodalan, Oyoh memilih meminjam ke bank. Selain itu, ia juga menjalin kerjasama dengan para pedagang beras ketan di daerah Kuningan.
Dalam kerjasama ini, ia boleh mengambil beras ketan dan membayarnya setelah produksi tapenya terjual. Elis, produsen tape ketan lainnya bilang, kesulitan permodalan dialami hampir oleh semua produsen tape di Cibeureum.
Selain dari kocek sendiri, sebagian besar perajin juga mengandalkan modal dari pinjaman bank. "Termasuk saya juga, walaupun bunganya cukup tinggi," ujarnya.
Elis mengakui, selama ini, usaha tape ketan di Cibeureum minim dukungan pemerintah. Seingatnya, pernah sekali pemerintah memberi bantuan permodalan. "Saat itu, masih di zaman Presiden Soeharto," ujarnya.
Setelah Orde Baru tumbang, Elis dan para produsen tape ketan lainnya tidak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah lagi.
Agar tetap bertahan, mereka memilih meminjam ke bank atau berutang bahan baku beras ketan ke pedagang. "Setelah tape ketan terjual, baru kami melunasi," katanya.
Namun, untuk bahan baku lainnya, seperti daun jambu atau ragi, produsen harus membayar di muka. Untuk daun jambu, misalnya, mereka membeli seharga Rp 3.000 per 100 lembar.
Perajin lainnya, Lilik juga mencari pinjaman di bank buat modal usaha. Ia juga mengaku, tak pernah mendapat perhatian atau bantuan dari pemerintah daerah. "Jadi, kami semua mandiri," ujarnya.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-tape-ketan-kuningan-berdiri-sejak-1970-1/2013/01/02
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-tape-ketan-kuningan-berebut-karyawan-2/2013/01/03
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-tape-ketan-kuningan-modal-terbatas-3

Friday, December 28, 2012

Sentra Kain Cirebon

SENTRA PENJUALAN KAIN DI PASAR KANOMAN CIREBON

Sentra Kain Cirebon: Jual aneka bahan celana (1)

Sentra Kain Cirebon: Jual aneka bahan celana (1)
Sejak tahun 1970-an, Pasar Kanoman dikenal sebagai pusat penjualan kain terbesar di Cirebon, Jawa Barat. Tidak saja menjual kain untuk bahan membuat pakaian, pasar ini juga menjual aneka kain batik khas Cirebon.
Pasar ini makin tenar sejak pemerintah setempat membangun gedung baru sebagai lokasi pasar sejak tahun 1998. Sebelumnya, para pedagang masih berbaur dengan pedagang lainnya.
"Sejak dipindah ke lantai dua, banyak pedagang baru bermunculan," kata Rahmat, pedagang kain yang sudah berjualan di Pasar Kanoman sejak tahun 1996.
Kini hampir seluruh lantai dua menjadi lokasi penjualan kain. Setelah pedagang bertambah, pengunjung pun semakin ramai.
Saat ini, terdapat sekitar 70 pedagang yang memenuhi lantai dua gedung Pasar Kanoman.
Mereka menjajakan aneka kain khas Cirebon hingga kain buat bahan pakaian, sepertu katun, wol, brokat, dan lain-lain.
Selain produknya lengkap, harganya juga tergolong murah. Makanya, hampir setiap hari, Pasar Kanoman ramai dikunjungi pembeli.
Akses jalan menuju pasar ini tidak terlalu sulit. Bila dari Jalan Siliwangi, Anda tinggal terus saja menyusurinya. Sampai di ujung jalan lalu belok ke kiri masuk ke Jalan Kanoman. Letak pasar ini berada persis di sebelah Keraton Kanoman.
Di kiosnya, Rahmat menjual aneka kain batik dan kain untuk bahan pakaian, seperti wool, polyster, hingga jet black.
Kain di tempatnya dibanderol mulai harga Rp 12.000 per meter.
Yang paling mahal kain jet black yang dibanderol Rp 45.000 per meter. "Kain ini paling bagus untuk celana," tutur Rahmat.
Kain jet black ini merupakan produk andalan Rahmat. Menurutnya, para pedagang lain juga memiliki kain jenis-jenis khusus sebagai produk andalan.
Rahmat mengaku memiliki banyak pelanggan tetap yang sudah puluhan tahun berlanggan kain dengannya. Dalam sebulan, omzet yang dikantonginya mencapai Rp 60 juta.
Pedagang lainnya adalah Eni. Ia telah berjualan kain di pasar ini selama 14 tahun. Eni sendiri termasuk pedagang yang baru bergabung saat gedung baru mulai beroprasi tahun 1998.
Eni melihat prospek yang bagus untuk berdagang di pasar tersebut. Di pasar ini, ia fokus berjualan jenis kain katun. "Saya menjual segala jenis katun, mulai katun rayon, katun Jepang, sampai katun Paris," katanya.
Eni membanderol harga kain mulai Rp 15.000 per meter untuk katun standar, hingga Rp 45.000 per meter untuk katun Paris. Kain katun, menurutnya, sangat banyak dicari dan biasa digunakan untuk kebutuhan busana sehari-hari.
Dalam sebulan, ia mengantongi omzet sekitar Rp 20 juta. Pedagang lain yang juga bisa meraih omzet puluhan juta dari sentra ini adalah Yahya Mohamad yang juga mulai berjualan sejak 1998.
Yahya fokus berjualan kain brokat dan satin yang banyak dicari kaum wanita untuk membuat kebaya.
Harga termurah mulai Rp 10.000 per meter.
Sementara paling mahal Rp 75.000 per meter. "Omzet saya Rp 50 juta per bulan," katanya.

Sentra Kain Cirebon: Panen jelang hari raya (2)

Sentra penjualan kain di Pasar Kanoman, Cirebon, Jawa Barat, sudah kesohor hingga ke pelbagai daerah, baik di Jawa Barat maupun di Jawa Tengah. Di antara pembeli yang datang ke sentra ini, sebagian di antaranya berasal dari Tegal, Indramayu, Majalengka, maupun Brebes.
Selain para pedagang kain, konsumen dari luar Cirebon itu juga banyak sebagai pengguna langsung (end user). Khusus konsumen pengguna, biasanya mereka ramai menyambangi pasar ini saat ada liburan panjang atau menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Saat itu, pedagang kain di Pasar Kanoman bakal memperoleh omzet berlipat. Eni, salah seorang pedagang di Pasar Kanoman mengaku, banyak memiliki pelanggan dari luar Kota Cirebon, seperti Tegal, Indramayu, dan Majalengka.
Menurut Eni, sentra kain di Pasar Kanoman terhitung lengkap dan banyak pilihan. Dengan begitu, banyak orang tertarik belanja di tempat ini.
Menurut Eni, pelbagai jenis kain bisa ditemukan di Pasar Kanoman. Ia sendiri khusus menjajakan kain katun. Kain ini biasa dibeli para ibu untuk pelbagai kebutuhan rumah tangga, seperti membuat baju anak, sprei, sarung bantal, hingga gorden. "Musim ramai pas hari libur dan menjelang hari raya," ujarnya.
Pada saat itu, banyak konsumen yang meluangkan waktu dan sengaja berkunjung ke Cirebon buat berburu kain. Ia mengaku, saat sedang musim ramai seperti itu, omzetnya bisa dua kali dari omzet di hari biasa.
Pedagang lainnya, Rahmat, juga banyak memiliki pelanggan dari luar Cirebon, seperti Sumedang, Kuningan, dan Indramayu. Konsumennya ini banyak pedagang kain di daerahnya masing-masing.
Selain pedagang kain, ada juga yang membuka usaha penjahitan. Nah, biasanya mereka berbelanja bahan di Pasar Kanoman untuk stok usaha.
Rahmat khusus menjual kain batik dan bahan celana, seperti wol, polyester, dan jet black. Menurutnya, sebetulnya setiap hari, sentra kain ini tetap ramai dikunjungi pembeli. "Di sini, alhamdulillah tidak pernah sepi, selalu ada saja pembelinya," tutur Rahmat.
Namun, memang ada musim-musim ramai saat omzet pedagang melonjak. Contohnya, selain saat Hari Raya Idul Fitri, masa itu adalah menjelang Lebaran Haji. "Itu masa panen buat pedagang kain," katanya.
Rahmat juga sering kebanjiran order saat masuk musim nikah. Saat itu, jenis kain yang banyak diborong konsumen untuk membuat seragam adalah batik.
Mengenai pasokan barang, Rahmat biasanya memperoleh dari pabrik kain di daerah Bandung atau Jakarta. Dalam seminggu, beberapa kali sales kain menyambangi toko-toko dan menawarkan kain.Â
"Setelah saya pilih, nanti mereka akan mengirim barang," ujar Rahmat. Jika sedang ramai, dalam seminggu, ia bisa dua kali meminta dikirimi kain.
Beda dengan Rahmat, Eni mengaku mendapatkan pasokan kain dari kawasan Tegal Gubug, Cirebon. Ia sendiri yang belanja dan membawa kain tersebut dari Tegal Gubug.
Dengan membeli sendiri, Eni mengaku lebih bebas memilih motif dan warna dalam partai kecil. Beda bila membeli dari sales yang harus belanja dalam partai besar.

Sentra Kain Cirebon: Kompetisi tetap sehat (3)

Sentra penjualan kain di Pasar Kanoman, Cirebon, diramaikan lebih dari 70 pedagang. Kendati jumlah pedagang sudah berjubel, mereka mengaku persaingan usaha di antara sesama pedagang masih sehat.
Pasalnya, setiap pedagang yang menghuni lantai dua pasar tersebut sudah memiliki pasarnya masing-masing. Apalagi, masing-masing pedagang memiliki spesifikasi kain yang dijual.
Yahya Mohammad, salah seorang pedagang, bilang, setiap pedagang biasanya hanya memasarkan satu sampai tiga jenis kain dengan merek dan jenis bahan tertentu. "Jadi, kami tidak berebut pembeli," katanya.
Yahya sendiri khusus menjual kain brokat dan kain satin untuk membuat kebaya. Otomatis, pelanggannya terbatas hanya yang membutuhkan kain brokat dan satin.  "Memang ada pedagang lain yang menjual brokat, tapi persaingannya tidak terlalu sengit," ujarnya.
Sementara, pedagang lain, seperti Rahmat mengkhususkan diri menjual kain batik dan bahan celana. Rahmat juga tak merasa persaingan terlalu ketat.
Selain menjual produk yang spesifik, "Masing-masing pedagang juga sudah memiliki pelanggan tetap," katanya. Menurut Rahmat, bila sudah sreg, pelanggan biasanya enggan berpindah-pindah ke tempat lain.
Ia mengaku memiliki pelanggan yang sudah bertahun-tahun menjadi langganannya. Untuk menjaga loyalitas pelanggan, Rahmat selalu menjaga kualitas kain yang dijual.
Bagi pelanggan lama ini kadang diberikan juga potongan harga, terutama bagi mereka yang membeli dalam jumlah banyak.
Sementara bagi pelanggan baru, Rahmat biasanya mengutamakan kualitas layanan.
Misalnya, jika ada pelanggan yang mencari penjahit celana yang bagus setelah membeli kain di tempatnya, ia akan merekomendasikan penjahit yang menurutnya paling baik.
Di lantai dua Pasar Kanoman tersebut memang terdapat beberapa penjahit. "Selain itu, saya pastikan kelengkapannya saja. Jadi, kalau cari bahan celana apa, saya usahakan ada semua di sini," tutur Rahmat.
Pedagang lainnya, Eni, juga memiliki cara sendiri untuk menggaet pasar. Eni yang fokus berjualan kain katun memilih target pasar menengah bawah. Makanya, produk kain yang dijualnya tergolong murah.
Kain paling mahal dibanderol seharga Rp 20.000 per meter. "Kalau menjual yang di atas harga itu, sering tidak terjangkau sama banyak orang," tutur Eni.
Menurut Eni, lebih baik menjual kain dengan harga terjangkau namun banyak pembeli. Dengan begitu, perputaran uang akan lebih cepat.
Untuk menarik minat konsumen, Eni juga menyediakan banyak sekali pilihan motif kain. Demi memperbanyak motif, biasanya ia hanya mengambil setengah bal kain dari pemasok untuk satu motif. "Dengan begitu motif yang tersedia banyak," ujarnya.
Tidak sekadar memperbanyak motif, Eni juga rajin mengikuti perkembangan motif yang sedang ngetren di masyarakat. Seperti saat ini, misalnya, kain dengan motif bunga yang sedang diminati dan banyak dicari.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-kain-cirebon-jual-aneka-bahan-celana-1/2012/12/25
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-kain-cirebon-panen-jelang-hari-raya-2/2012/12/26
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-kain-cirebon-kompetisi-tetap-sehat-3

Thursday, December 27, 2012

Sentra Rotan Jepara

SENTRA KERAJINAN ROTAN DI DESA TELUK WETAN, JAPARA

Sentra Rotan Jepara: Sentra rotan sejak 1970 (1)

Sentra Rotan Jepara: Sentra rotan sejak 1970 (1)
Selain terkenal sebagai pusat kerajinan mebel kayu, Kabupaten Jepara juga memiliki sejumlah sentra usaha lainnya. Salah satunya adalah sentra kerajinan rotan.
Sentra kerajinan rotan ini berada di Desa Teluk Wetan, Kecamatan Welahan. Di desa ini Anda bisa mendapatkan pelbagai produk kerajinan rotan, mulai dari suvenir hingga mebel rotan.
Desa Teluk Wetan berada di bagian selatan Kabupaten Jepara, dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Demak. Dari arah Semarang, sentra ini berjarak sekitar 5 kilometer (km) setelah melewati Kabupaten Demak menuju Jepara.
Letaknya relatif sulit dijangkau karena tidak berada di pinggir jalan. Anda harus melewati pasar Welahan lebih dahulu untuk menemukan plang bertuliskan "Sentra Anyaman Rotan dan Bambu".
Subhi, salah satu pengusaha rotan di Teluk Wetan, mengatakan, sentra kerajinan rotan ini sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Namun, saat itu pemerintah daerah Jepara belum meresmikan Teluk Wetan sebagai pusat kerajinan berbasis rotan.
Baru di tahun 1990-an, pemerintah meresmikan Desa Teluk Wetan sebagai sentra kerajinan rotan. Saat ini, hampir 90% warga desa berprofesi sebagai perajin rotan. "Ada sekitar 50 kios rotan di desa ini," kata Subhi.
Pria berumur 40 tahun ini khusus menjual suvenir berbahan baku rotan, seperti lampu, cermin, dan parsel. Aneka suvenir itu dijual mulai Rp 70.000 hingga Rp 300.000 per unit.
Subhi bisa menjual minimal 450 buah suvenir sebulan.  Dari penjualan tersebut, dia bisa meraih omzet mencapai di atas Rp 100 juta.
Pengusaha kerajinan rotan yang lainnya, Adi Sutanto mengatakan, ada tiga orang warga yang merintis kerajinan rotan di desa ini. Kata Adi, pada tahun 1970-an, ketiga warga desa Teluk Wetan itu mendapat kesempatan mengikuti pelatihan di Filipina.
Di Filipina mereka belajar seluk beluk kerajinan rotan. Sekembalinya ke Jepara, mereka kemudian menyebarkan ilmu yang mereka dapatkan kepada warga Desa Teluk Wetan. "Sejarahnya, tiga orang inilah yang mengajarkan warga desa bagaimana membuat anyaman rotan," kisahnya.
Adi Sutanto khusus membuat mebel dari rotan, seperti meja dan kursi makan, serta meja dan kursi tamu. Dia menjual karyanya Rp 700.000 hingga Rp 3 juta per unit.
Tiap bulan, Adi bisa meraup omzet sekitar Rp 100 juta dari penjualan mebel rotannya. Suryo, perajin rotan lainnya juga fokus membuat mebel rotan. Ia membuat pelbagai produk mebel berbahan baku rotan, seperti meja, kursi, dan lemari.
Produk mebelnya dijual  dengan kisaran harga mulai Rp 500.000 hingga Rp 4 juta per set. "Omzet saya bisa sampai Rp 80 juta sebulan," ucap dia.
Menurut Suryo, mayoritas pengusaha di Desa Teluk Wetan memiliki fokus usaha tersendiri. Ada yang spesialis produsen suvenir, ada juga yang berfokus mebel.
Hal itu sudah menjadi semacam perjanjian tidak tertulis di antara mereka. Mereka pun bisa berbagi rezeki karena segmen pasar masing-masing pengusaha berbeda-beda.

Sentra Rotan Jepara: Beralih ke rotan sintetis (2)

Sentra kerajinan rotan di Desa Teluk Wetan, Kecamatan Welahan, Jepara sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Mayoritas warga desa ini memiliki keterampilan menganyam rotan.
Keahlian itu mereka dapat secara turun-temurun. Subhi, salah satu contohnya. Salah satu pengusaha rotan di Teluk Wetan ini mengaku sudah bisa menganyam rotan sejak masih anak-anak. Keterampilan menganyam rotan itu diajari langsung oleh orang tuanya.
Saat ini, Subhi juga mulai mengajari anak laki-lakinya menganyam rotan. “Menganyam sudah menjadi keahlian yang diturunkan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Tahun 1970-an, para perajin rotan di Teluk Wetan masih memakai rotan alam. Namun kini banyak perajin yang beralih menggunakan bahan baku kerajinan dari rotan sintetis.
Toh, Subhi masih setia memanfaatkan rotan alam. Sebab, rotan alam lebih murah daripada rotan sintetis. Dia membeli bahan baku dari depo rotan di Welahan yang saat ini seharga antara Rp 20.000-Rp 25.000 per kilogram (kg).
Dalam sebulan, Subhi bisa mengeluarkan biaya hingga Rp 27 juta untuk membeli  rotan bahan baku pelbagai kerajinan. Sebagai gambaran, satu tempat lampu bisa menghabiskan 3 kg rotan.
Asal tahu saja, tahun sebelumnya dia masih bisa membeli rotan alam seharga Rp 15.000-Rp 17.000 per kg. Dengan kata lain, tahun ini harga rotan alam naik sekitar 33%-66%. Kenaikan harga bahan baku itu menjadi alasannya untuk menaikkan harga jual produk kerajinannya sekitar 30%.
Selain kenaikan harga bahan baku, Subhi juga mengeluhkan pasokan rotan alami yang mulai menipis. Selama ini, pasokan rotan yang dibelinya di depo berasal dari Kalimantan.
Di sisi lain, permintaan rotan alam dari berbagai sentra produksi mebel di Jawa terus meningkat. Mereka pun harus berebut bahan baku berupa rotan alam. Alhasil, sesuai hukum pasar, harga rotan alam pun meningkat pesat.
"Harga rotan juga makin mahal karena ongkos kirim dari Luar Jawa meningkat," katanya. Ini juga yang mengakibatkan banyak perajin rotan beralih menggunakan rotan sintetis.
Salah satu yang beralih ke rotan sintetis adalah Adi Sutanto. Alasannya, rotan sintetis lebih mudah didapat.
Memang, harga rotan sintetis lebih mahal ketimbang rotan alam, yakni  mencapai Rp 45.000 per kg.
Namun, selain mudah didapat, rotan sintetis lebih tahan lama dari rotan alami sehingga bisa dibuat aneka ragam produk. "Rotan sintetis bisa untuk bahan baku mebel luar ruangan karena tahan air," ujarnya.
Rotan sintetis juga dibuat sesuai ukuran mebel dan tak ada sambungan antar rotan.  Produk yang dihasilkan pun tampak lebih rapi

Sentra Rotan Jepara: Ramai pembeli asing (3)

Sentra kerajinan rotan di Desa Teluk Wetan, Jepara, ternyata sudah terkenal hingga ke luar negeri. Banyak turis asing yang melancong ke Indonesia, menyemat diri mengunjungi sentra ini.
Subhi, salah satu perajin rotan, mengatakan kiosnya sering dikunjungi warga asing, terutama dari Jepang. Tujuan utama mereka datang ke Jepara kebanyakan mencari mebel ukir.
Namun, ketika mendengar tentang kerajinan rotan di desa  Teluk Wetan, biasanya mereka tidak melewatkan kesempatan untuk mampir sekaligus belanja.
Bahkan pada tahun 1990-an, Subhi pernah menjalin kerja sama dengan pengusaha asal Jepang. Saat itu, ada pengusaha Jepang yang menanam modal di showroom milik Subhi dan menjadi pembeli tetap produknya.
Namun, kerjasama tersebut putus sekitar lima tahun belakangan. "Ya, seiring dengan adanya pasar global, persaingan kan semakin ketat, enggak bisa bertahan, sehingga kerjasama putus," ujarnya.
Sejak itu, bisnis rotan Subhi mengalami kemunduran. Kalau dulu, ia mempunyai 450 karyawan, kini jumlah karyawannya tinggal tersisa 50 orang saja.
Selain dari Jepang, dulu ia juga sering kedatangan pembeli dari Amerika Latin dan Eropa. Kebetulan, mereka menaruh minat yang tinggi terhadap suvenir berbahan alami, termasuk suvenir berbahan rotan.
Jadi, kalaupun ada suvenir yang sudah peot, mereka masih mau beli karena bahannya asli. "Suvenir-suvenir dengan rotan asli itu yang justru menarik bagi mereka," kata dia.
Selain dari luar negeri, Subhi juga melayani pesanan untuk pasar dalam negeri. Namun, kata Subhi, penjualan di pasar domestik sangat sedikit dan hanya ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Medan.
Adi Sutanto, perajin lainnya juga sering mendapatkan pesanan mebel untuk dikirim ke berbagai negara di kawasan Asia dan Eropa. Ia menjaring konsumen dari luar negeri lewat pemasaran internet. "Kebetulan saya suka melakukan promosi di internet," ujarnya.
Namun, Adi tidak mengekspor mebel itu secara langsung. Biasanya, pembeli yang mendatangi showroom-nya, kemudian mengirimkan pesanannya melalui perusahaan ekspedisi di Jakarta.
Menurutnya, sentra kerajinan rotan di Teluk Wetan sempat mencapai puncak kejayaan ketika krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1997. Saat itu, kurs dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah melonjak tinggi.
Alhasil harga rotan pun turut melonjak yang tentunya mengerek omzet para pelaku usaha di sentra itu. "Mirip seperti yang terjadi di sentra-sentra lainnya, terutama sentra ukir," katanya.
Pemain lainnya, Suryo mengatakan, persaingan usaha di sentra kerajinan rotan cukup ketat. Pasalnya, harga produk di satu showroom dengan showroom lainnya hampir sama. Makanya, Suryo mengutamakan kualitas, terutama dari segi kerapian dan kerapatan anyaman.
Jadi, meskipun ada mebel rotan yang harganya jauh di bawah produknya, ia tidak takut kalah bersaing. "Biasanya pembeli tidak mengutamakan harga, tapi kualitas anyaman," ujar dia.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-rotan-jepara-sentra-rotan-sejak-1970-1/2012/12/26
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-rotan-jepara-beralih-ke-rotan-sintetis-2/2012/12/27
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-rotan-jepara-ramai-pembeli-asing-3

Thursday, December 20, 2012

Sentra Sepeda Bekas

SENTRA SEPEDA BEKAS DI JALAN MALABAR, BANDUNG

Sentra Sepeda Bekas: Berburu sepeda murah (1)

Sentra Sepeda Bekas: Berburu sepeda murah (1)
Selain mal dan pusat perbelanjaan besar, di Kota Bandung, juga banyak terdapat pasar loak yang menjual aneka barang bekas. Salah satunya adalah pusat penjualan sepeda bekas di Jalan Malabar.
Pusat penjualan sepeda bekas ini tak jauh dari Pasar Kosambi, Bandung. Kendati tidak begitu besar, sentra sepeda bekas ini sudah kesohor hingga keluar kota.
KONTAN sempat menyambangi sentra sepeda bekas ini pada Sabtu (10/11). Para pedagang menata rapi sepeda di sepanjang trotoar jalan.
Jenis sepeda yang dijual cukup beragam. ada sepeda ontel yang ukurannya besar, sepeda khusus anak-anak, sepeda remaja, hingga sepeda santai. "Di sini, kami menjual sepeda, mulai yang paling terbaru hingga yang paling kuno," ujar Asep Tohamusli, salah seorang pedagang sepeda di sentra ini.
Asep bilang, sentra penjualan sepeda bekas di Jalan Malabar sudah sangat tua. Seingatnya, sentra ini sudah ada sejak tahun 1948. Saat itu, jumlah pedagang hanya ada dua orang sampai tiga orang.
Kebetulan, salah seorang dari mereka adalah orang tua Asep sendiri. Menurut Asep, tahun 1948-an, sepeda termasuk jenis kendaraan yang sedang ngetren.
Sebab, saat itu, kendaraan roda dua lain, seperti sepeda motor, masih belum begitu dikenal. Kalau pun ada, harganya sangat mahal dan hanya dimiliki oleh kalangan menengah atas.
Asep sendiri mulai berjualan sepeda sejak tahun 1972. Awalnya, lokasi jualannya bukan di Jalan Malabar. Baru pada tahun 1990-an, ia mulai berjualan sepeda di Jalan Malabar.
Dalam sehari, Asep bisa menjual sebanyak lima hingga sepuluh unit sepeda, dengan omzet sekitar Rp 1,5. Asep menjual mulai sepeda anak-anak hingga orang dewasa. Harganya juga beragam, mulai Rp 100.000 hingga di atas Rp 1 juta.
Bahkan, ada sepeda yang harganya Rp 3 juta, tapi jumlahnya tidak banyak. Selain itu, harga sepeda di tempat ini masih ditawar.
Pedagang lainnya, Yayan, sudah berjualan sepeda di Jalan Malabar sejak tahun 1990-an. Selain sepeda bekas, ia juga menjual sepeda baru. Sepeda tersebut dibanderol mulai harga Rp 300.000 hingga Rp 1 juta per unit.
Dalam sehari, Yayan bisa menjual sebanyak tiga hingga lima sepeda, dengan omzet mencapai Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. "Di sini, selalu ada konsumen," ujarnya.
Yayan bilang, harga sepeda di sentra ini tergolong murah dibandingkan tempat lainnya. Makanya, banyak orang tertarik datang dan mencari sepeda di kawasan ini. Apalagi, sentra sepeda di Jalan Malabar ini memang sudah kesohor sejak dulu.
Eko Gunarto, salah seorang konsumen mengaku suka mencari sepeda di Jalan Malabar karena harganya cukup miring. Bila dibandingkan di toko sepeda, selisih harganya bisa lebih murah sekitar 30%.
Selain murah, pilihan sepedanya juga banyak. "Saya lagi mencari sepeda mini buat anak saya," ucapnya.       

Sentra Sepeda Bekas: Teliti sebelum membeli (2)


Sentra penjualan sepeda bekas di Jalan Malabar, Bandung, sudah dikenal sejak 1948. Sentra ini bertahan lama meskipun hanya menggunakan trotoar jalan sebagai tempat jualan.
Selain sepeda bekas, sejak tahun 2000, para pedagang juga mulai menjual sepeda baru. Kendati begitu, bagi para pedagang, penjualan sepeda baru itu lebih sekadar pelengkap.
Dagangan utama pedagang tetap sepeda bekas. "Penjualan sepeda bekas masih menjadi andalan kami," kata Asep Tohamusli, salah satu pedagang di sentra ini.
Para pedagang mendapatkan pasokan sepeda bekas dari bengkel-bengkel sepeda di sekitar Bandung. Selain itu, ada juga yang didapat dari hasil tukar tambah dengan konsumen.
Biasanya, mereka ingin menukar sepedanya dengan model terbaru. Pasokan juga didapat dari pemilik sepeda yang memang berniat menjual sepedanya.
Namun, tidak semua pedagang mau membeli sepeda yang ditawarkan. Apalagi, bila asal usul sepeda itu tidak jelas. Misalnya, penjual menyembunyikan identitasnya.
Pedagang tak mau mengambil risiko jika ada yang mengklaim sebagai pemilik asli sepeda itu. Makanya, identitas penjual harus jelas, termasuk alamat rumahnya. "Terkadang, kami survei ke rumah untuk memastikan alamat si penjual," katanya.
Pedagang lainnya, Yayan juga menerima sepeda bekas dari konsumen. Tapi, sama dengan Asep, ia akan meminta kelengkapan identitas penjual, seperti kartu tanda penduduk (KTP), alamat rumah, dan surat pembelian sepeda.
"Semua surat-surat sepeda itu harus lengkap, baru saya mau membeli," ujarnya. Selain dari pemilik sepeda langsung, Yayan juga banyak mendapat pasokan sepeda bekas dari bengkel-bengkel sepeda.
Namun, ia biasanya hanya mau membeli sepeda yang kondisinya masih bagus. Yayan bilang, kendati kondisinya masih bagus, harga sepeda bekas tetap lebih murah ketimbang baru. Setelah diperbaiki, nilai jualnya akan kembali tinggi.
Selain sepeda bekas, Yayan juga menjual sepeda keluaran terbaru dengan harga lebih murah ketimbang harga di toko. Soalnya, di sentra ini, para pedagang tidak dikenai biaya sewa tempat atau pajak besar, seperti kalau membuka gerai di mal atau toko.
Andik Riki, pedagang lainnya mengaku, rutin mendapat pasokan sepeda bekas dari jaringan teman-temannya yang ada di Kota Bandung.
Dulu, ia sebenarnya memiliki penyalur tetap yang rutin memasok sepeda. "Tapi sekarang sudah jarang mendatangi saya," ujarnya.
Untungnya, ada teman-temannya tadi. Meskipun yang memasok sepeda temannya, Andik tetap meminta kelengkapan surat sepeda tersebut. "Surat-surat itu penting sebagai jaminan bahwa sepeda itu bukan hasil curian," katanya.
Sama dengan pedagang lainnya, Andik juga menjual sepeda keluaran terbaru untuk memenuhi permintaan sebagian pelanggannya.
Menurutnya, sepeda baru di Jalan Malabar masih banyak dicari konsumen, lantaran harganya jauh lebih murah ketimbang membeli di toko sepeda.  

Sentra Sepeda Bekas: Diserbu pedagang daerah (3)



Sentra penjualan sepeda bekas di Jalan Malabar, Bandung, selalu ramai diserbu pembeli. Selain dari Bandung, sentra ini juga ramai dikunjungi konsumen dari kota-kota lain di Jawa Barat.
Kebanyakan dari mereka ini merupakan pedagang sepeda di Cirebon, Subang, Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Karawang, dan Bekasi. Mereka rutin belanja sepeda di tempat ini, minimal dua kali dalam seminggu.
"Banyak pelanggan dari luar kota Bandung mengincar sepeda bekas di sini," kata Asep Tohamusli, pedagang sepeda di Jalan Malabar.
Para pedagang sepeda dari luar kota ini bisa memborong puluhan sepeda sekali belanja. Di tempat Asep, mereka bisa memborong 10 sepeda-20 sepeda.
Lantaran membeli banyak, Asep memberikan harga grosir yang lebih rendah dari harga satuan. Untuk mengangkut sepeda sebanyak itu, mereka sudah membawa mobil sendiri.
Selain mengandalkan pedagang dari luar kota, para pedagang biasanya ketiban rezeki pada hari-hari libur. Pasalnya, masyarakat yang berburu sepeda di akhir pekan selalu lebih banyak dibanding hari biasa. "Bahkan ada pembeli dari Jakarta," ujar Asep.
Asep mengaku, pendapatannya di akhir pekan meningkat hingga 60% dari hari biasa. Di periode ini, ia bisa mendapatkan omzet Rp 2,5 juta sehari. Sementara pada hari biasa, pendapatannya sekitar Rp 1,5 juta.
Andik Riki, pedagang lainnya mengakui, jumlah pengunjung di akhir pekan lebih banyak ketimbang hari kerja. Ia bilang, pada hari Sabtu dan Minggu, pengunjung dari luar kota tidak selalu pedagang sepeda.
Tapi, banyak juga pemakai langsung. "Mungkin mereka baru punya waktu pada akhir pekan saja," paparnya.
Pedagang lainnya, Yayan juga kerap didatangi pedagang sepeda dari luar Kota Bandung. "Minggu lalu, mereka membeli 20 sepeda dari saya," ujarnya senang.
Menurut Yayan, banyak pedagang dari luar kota yang mencari sepeda di Jalan Malabar karena harganya murah. Selain itu, pilihan sepedanya juga banyak. Tak heran bila mereka kerap berburu sepeda di tempat ini.
Namun demikian, jumlah pembeli dari luar kota ini cenderung menurun dibanding tahun 1990-an. Yayan merasakan penurunan jumlah pembeli dari luar kota terasa sejak tahun 1999, saat masih terasa krisis ekonomi.
Untuk mendongkrak omzet, sejak itu pedagang mulai menjajakan sepeda keluaran terbaru. Kendati begitu, bagi para pedagang, penjualan sepeda baru itu lebih sekadar pelengkap.
Dagangan utama mereka tetap sepeda bekas. Menurut Yayan, sepeda bekas lebih diminati lantaran harganya jauh lebih murah dibandingkan sepeda baru.
Selain persoalan harga, ada juga yang gemar berburu sepeda bekas karena hobi mengoleksi barang antik. "Tapi, biasanya yang dicari adalah sepeda kuno dan unik," paparnya.   

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-sepeda-bekas-berburu-sepeda-murah-1/2012/12/17
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-sepeda-bekas-teliti-sebelum-membeli-2/2012/12/18
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-sepeda-bekas-diserbu-pedagang-daerah-3

Friday, December 7, 2012

Sentra Buku Bekas Cikapundung

SENTRA BUKU DAN MAJALAH BEKAS DI CIKAPUNDUNG BARAT, BANDUNG

Sentra Buku Bekas Cikapundung: Sejak tahun 1970 (1)

Sentra Buku Bekas Cikapundung: Sejak tahun 1970 (1
Bila Anda gemar berburu buku-buku kuno dan langka, ada baiknya menyambangi pusat penjualan buku dan majalah bekas di Jalan Cikapundung Barat, Bandung. Tempat ini diramaikan sekitar 30 pedagang yang menjajakan aneka buku dan majalah bekas.
Tempat ini cukup mudah dijangkau, hanya 10 menit jalan kaki dari Museum Asia Afrika ke arah alun-alun Bandung. Letaknya berada tepat di depan Gedung Bale Sumur Bandung atau kantor PLN Bandung.
Memasuki kawasan ini, Anda akan menemukan deretan penjual buku dan majalah bekas yang mangkal di sepanjang trotoar Jalan Cikapundung Barat.
Di trotoar jalan, mereka membuka lapak semi permanen dan menata rapi buku-buku dan majalah yang dijualnya. Ada banyak buku langka yang dijual di sini, seperti buku sejarah, filsafat, teknik kimia, fisika, ekonomi, dan kesehatan.
Banyak juga novel-novel asing yang ditulis dalam bahasa Inggris. Buku-buku itu sebagian besar terbitan tahun 1920-an.
Tidak hanya buku, tempat ini juga menjual majalah bekas, baik lokal maupun asing. Tema majalahnya beragam, seperti arsitek, desain grafis, dan interior.
Salah seorang pedagang, Bambang Gopes bilang, sentra penjualan buku dan majalah bekas ini sudah ada sejak tahun 1970-an. Dari 30 pedagang di kawasan ini, yang aktif berjualan sekitar 21 pedagang.
"Pedagang yang tidak aktif kadang berjualan di tempat lain juga," kata Bambang yang juga koordinator para pedagang buku di sentra ini.
Di lapaknya, Bambang menjual aneka buku dan majalah bekas. Harga buku dan majalah di sini sangat bervariasi antara Rp 10.000 hingga ratusan ribu, tergantung jenis buku,kualitas, dan kelangkaannya.
Bambang mengaku, setiap harus selalu ada saja pembeli yang berburu buku dan majalah bekas. Mereka adalah mahasiswa dan masyarakat umum.
Selain itu, ada juga kolektor buku dan majalah kuno. Dalam sehari, Bambang bisa menjual puluhan buku dengan omzet Rp 200.000 - Rp 500.000. Ia sudah mulai membuka lapak di sentra ini sejak tahun 1981.
Syamsari Arifin, pedagang lainnya bilang sudah berjualan sejak 1999. Beda dengan Bambang, ia lebih fokus menjual majalah bekas, seperti majalah Bobo, Populer, artistik, interior, desain grafis, dan lainnya.
Majalah itu kebanyakan terbitan tahun 2000 sampai 2011. Harga jualnya bervariasi, mulai mulai dari Rp 2.000 sampai Rp 25.000 per buah. "Mayoritas konsumen saya adalah mahasiswa dan pelajar," katanya.
Dalam sehari, Syamsari bisa menjual puluhan majalah dengan omzet sekitar Rp 200.000. Bila sedang ramai, omzetnya bisa mencapai Rp 500.000.
Uung, pedagang lainnya juga memilih fokus berjualan majalah bekas. Namun demikian, ia tetap memasarkan beberapa buku bekas. Cuma jumlahnya tidak sebanyak majalah. Dalam sehari, ia bisa meraup omzet sekitar Rp 300.000.

Sentra Buku Bekas Cikapundung: Dipasok agen (2)

Sentra buku dan majalah bekas di Jalan Cikapundung Barat, Bandung, sudah dikenal sejak tahun 1970-an. Sentra ini merupakan tempat favorit para mahasiswa dan masyarakat umum yang ingin berburu buku dan majalah bekas dengan harga murah.
Memang, hampir semua buku yang dijual di tempat ini terbitan lama dan bekas pakai. Namun, ada juga beberapa majalah terbitan terbaru.
Bambang Gopes, pedagang di sentra ini bilang, sebagian besar buku dan majalah yang dijual berbahasa Indonesia dan Inggris. Di luar itu, ada juga yang berbahasa Jerman, Jepang, dan Prancis, meski jumlahnya sedikit, hanya sekitar 20%.
Para pedagang mendapatkan buku-buku tersebut dari para penyalur atau agen yang biasanya mendapatkannya dari penduduk di sekitar kota Bandung. Kebanyakan buku tersebut peninggalan orang tua mereka.
Namun, karena tidak terawat dan sudah tidak diperlukan, mereka biasanya menjualnya. "Selain itu, ada juga yang didapat dari orang-orang yang pindah dan tidak mau repot mengangkut buku tua mereka," ujar Bambang.
Selain dari agen, kadang pedagang di kawasan ini juga mendapat buku langsung dari warga. Namun, tidak semua buku yang biasanya ditawarkan langsung ke pedagang langsung terbeli.
Menurut Bambang, pedagang hanya membeli buku tua yang banyak diminati konsumen. "Jadi kami seleksi. Yang menurut kami bagus akan kami beli, tapi kalau tidak, ya kami tolak," ujarnya.
Menurut Bambang, buku-buku sejarah nasional yang berkisah tentang Soekarno, Mohamad Hatta, dan pahlawanya lainnya biasanya banyak peminat.
Sama halnya dengan buku, pasokan majalah bekas di sentra ini juga didapat dari para penyalur atau agen. Pedagang lain, Syamsuri Arifin bilang, setiap saat, selalu ada agen yang menawarkan majalah bekas ke tempatnya.
Syamsuri juga tetap menyeleksi majalah bekas yang akan dibelinya. "Saya memilih majalah yang suka dibeli pelanggan, selebihnya saya tolak," ucapnya.
Beda lagi dengan Uung, pedagang lain di sentra ini. Ia sering mendapat pesanan dari pelanggan untuk dicarikan buku atau majalah tertentu. Ia lantas meneruskan pesanan pelanggannya itu kepada para agen. "Jika buku itu kami dapatkan, harganya lebih mahal dari biasa," ujar Uung.
Menurut Uung, saat ini semakin sulit mencari buku-buku tua dan langka yang masih dalam kondisi bagus. Sebagian besar rusak atau cacat. Padahal, peminat buku-buku kuno itu masih cukup banyak.
Umumnya, buku tua yang sering dicari konsumen adalah buku-buku terbitan tahun 1920-an dan 1930-an. Bila buku tua itu langka dan banyak dicari oleh kolektor, harganya juga semakin mahal.
Bahkan, ada buku tua yang harganya mencapai jutaan. Biasanya itu buku sejarah atau filsafat dan dibuat oleh penulis terkenal. 

Sentra Buku Bekas Cikapundung: Digilas internet (3)

Suasana ramai dan hiruk pikuk pedagang dan pembeli buku di Cikapundung kini tak lagi terasa seperti 10 tahun atau 15 tahun silam. Kini, hanya beberapa pengunjung yang datang dan suasana lebih lengang.
Bambang Gopes, salah seorang pedagang buku yang sudah puluhan tahun berdagang di sentra ini mensinyalir, minat membaca buku telah tergerus oleh informasi yang didapat dari internet, juga maraknya buku elektronik atawa e-book.
Maklum, saat ini, jaringan internet merambah hampir ke seluruh pelosok daerah. "Dulu, pada tahun 1980-an hingga tahun 1990-an, sentra ini sangat ramai. Tapi, sekarang mulai sepi pembeli," keluhnya.
Sejak internet booming, jumlah pelanggan buku dan majalah bekas di sentra ini merosot drastis. Pelanggan yang selama ini suka mencari buku di sentra ini beralih mencarinya di internet. Pasalnya, hampir semua yang ingin dicari ada di internet.
Sepinya pembeli di sentra ini mulai terasa sejak tahun 2000-an hingga saat ini. Akibatnya, omzet para pedagang juga mengalami anjlok lebih dari 50% dari tahun-tahun sebelumnya.
Syamsuri Arifin, pedagang lainnya, mengeluhkan hal yang sama. Ia bilang, sejak penggunaan internet meluas, peminat majalah bekas tidak seramai dulu. Ia bercerita, pamannya sudah jualan majalah bekas di sentra sejak tahun 1970-an.
Awalnya, pamannya bisa menjual sekitar 30 majalah hingga  50 majalah per hari. Tapi, beberapa tahun terakhir, penjualannya tinggal separonya.
Syamsuri menggambarkan, sebelumnya ada banyak pedagang buku di sentra ini. Tapi, sejak tahun 2000-an, beberapa pedagang gulung tikar dan membuka usaha lain. Mahasiswa dan pelajar yang semula mencari referensi dari buku-buku bekas, belakangan lebih banyak riset lewat internet.
Uung, pedagang lainnya mengatakan, dulu ada banyak pedagang di sentra ini berjualan sampai malam hari. Saking banyaknya, para pedagang harus berbagi tempat.
Jadi ada sebagian yang berjualan pada siang hari sampai sore, dan sebagian lagi membuka lapak dagangan mulai sore sampai pukul 10.00 malam. "Tapi, saat ini hanya beberapa orang saja yang mau berjualan sampai malam," katanya.
Selain itu, saat ini, tidak ada lagi pembagian jam berdagang seperti sebelumnya. Jadi, setiap pedagang bisa terus membuka lapak sampai malam, meski kebanyakan kawasan ini lengang selepas maghrib.
Kini, sentra buku Cikapudung hanya ramai di akhir pekan. Pengunjung di sentra bisa melonjak sampai dua kali lipat dari hari-hari biasanya. Sebagian besar mereka adalah orang Jakarta dan luar kota Bandung.
Agar bisa menarik pembeli, Bambang aktif mencari buku-buku kuno. Saat ini, pelanggan banyak yang mencari buku seperti ini yang tak bisa didapat dari internet. Misalnya, buku tentang sejarah, ekonomi dan filsafat.
Pembelinya kebanyakan berasal dari Jakarta, dengan tujuan untuk dikoleksi. Selain itu, ia juga selalu meminta nomor kontak para pelanggan agar bisa memberikan informasi jika ia punya buku baru yang bagus.
Pedagang juga merambah acara pameran untuk menjemput pembeli. Entah sampai kapan bisa bertahan.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-buku-bekas-cikapundung-sejak-tahun-1970-1/2012/11/22
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-buku-bekas-cikapundung-dipasok-agen-2/2012/11/25
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-buku-bekas-cikapundung-digilas-internet-3

Wednesday, December 5, 2012

Sentra Sepatu Terate

SENTRA PENJUALAN SEPATU KULIT DI JALAN TERATE, BANDUNG

Sentra Sepatu Terate: Jual sepatu Cibaduyut (1)

Sentra Sepatu Terate: Jual sepatu Cibaduyut (1)
Nama Cibaduyut sudah tidak asing lagi sebagai daerah penghasil sepatu kulit terbesar di Jawa Barat. Nama daerah ini akrab di telinga lantaran memasok kebutuhan sepatu hingga ke pelbagai daerah di Indonesia.
Di Jawa Barat sendiri, banyak terdapat sentra penjualan sepatu hasil karya para pengrajin Cibaduyut. Salah satunya ada Jalan Teratai, Kosambi, Bandung.
Sentra penjualan sepatu kulit di Jalan Teratai ini tidak jauh dari Pasar Kosambi, Bandung. Berdiri sejak tahun 1960-an, sentra sepatu ini diramaikan sekitar 35 kios.
Masing-masing kios rata-rata berukuran sekitar 2 meter persegi. Kios-kios sepatu ini dibangun di sisi kiri dan kanan Jalan Teratai. Sebagian besar sepatu dipajang, baik di dalam maupun di depan kios.
KONTAN sempat menyambangi sentra penjualan sepatu ini pada Sabtu (10/11) bulan lalu. Masing-masing kios nampak memajang aneka sepatu kulit dengan pelbagai model, seperti pantofel, boots, dan lain-lain.
Pilihan warnanya juga beragam. Mayoritas sepatu yang dijual merupakan sepatu pria. Semua sepatu boots, misalnya, diproduksi untuk para pria.
Sementara sepatu boots untuk wanita tidak banyak, bahkan tidak dipajang di sentra ini. "Sepatu boots untuk wanita kami sediakan kalau ada yang pesan saja," ujar Bobiec, salah seorang pedagang sepatu di sentra ini.
Bobiec bilang, sentra penjualan sepatu yang berdiri sejak tahun 1960-an ini sudah cukup dikenal, baik di Kota Bandung maupun luar Bandung. Makanya, hampir setiap hari ada saja pengunjung yang menyambangi sentra ini.
Selain sepatu kulit, pedagang juga menjual sepatu olah raga, seperti sepatu bola dan futsal. Bobiec membanderol harga sepatu kulit mulai Rp 200.000 - Rp 350.000 per pasang. Sementara, sepatu futsal dan bola mulai Rp 50.000 - Rp 300.000 per pasang.
Menurut Bobiec, sentra sepatu di Jalan Teratai ini sering dilewati banyak orang. Dalam sehari, ia bisa menjual sekitar tiga hingga lima pasang sepatu dengan omzet Rp 500.000 hingga Rp 1 juta.
Sepatu yang dijual di sini juga bisa ditawar. Kalau pelanggan membeli dalam jumlah banyak, harganya bisa lebih murah.
Mohamad Padli, pedagang lainnya mengatakan, sebagian besar konsumennya adalah warga Bandung yang melintas di Jalan Teratai. Mereka umumnya lebih banyak membeli sepatu futsal dan olahraga.
Tapi menurut Padli, peminat sepatu kulit juga tetap tinggi. Biasanya warga Bandung membeli sepatu kulit secara eceran.
Dalam sehari, Padli bisa menjual rata-rata tiga pasang sepatu dengan omzet Rp 500.000. Sepatu kulit yang dijualnya kebanyakan jenis boots ketimbang pantofel.
Padli bilang, banyak pelanggan lebih tertarik membeli sepatu booth daripada pantofel. Namun, kadang ada juga pelanggan yang mencari pantofel. "Biasanya pantofel dibeli untuk kerja," paparnya.
Eko, pelanggan di sentra ini bilang, sering datang membeli sepatu kulit di Jalan Teratai karena harganya bisa ditawar. "Selain itu, pilihan sepatunya juga banyak," kata Eko.

Sentra Sepatu Terate: Awalnya sepatu bekas (2)

Sentra Sepatu Terate: Awalnya sepatu bekas (2)
Di awal pendirian sekitar tahun 1960-an, sentra penjualan sepatu di Jalan Terate, Bandung, ini hanya menjual sepatu-sepatu bekas. Walau bekas, kondisi sepatu itu masih bagus dan tahan lama lantaran terbuat dari kulit.
Dalam perjalanan berikutnya, penjualan sepatu bekas di Jalan Terate masih marak hingga tahun 1980-an. Setelah itu, banyak pedagang mulai beralih ke sepatu kulit keluaran Cibaduyut yang masih baru.
Bobiec, pedagang sepatu di sentra ini bilang, sampai sekarang, masih ada pedagang yang berjualan sepatu bekas. Tapi, jumlahnya hanya segelintir.
"Pedagang sekarang kurang tertarik menjual sepatu kulit bekas lantaran barangnya sulit didapat dan harganya juga sudah mahal. Jadi, lebih baik menjual sepatu baru," terangnya.
Mohamad Padli, pedagang lainnya menambahkan, penjualan sepatu olahraga di sentra ini mulai marak di sekitar tahun 1999. Hal itu dilakukan untuk mendongkrak perolehan omzet.
Soalnya, penjualan sepatu kulit tidak selancar tahun-tahun sebelumnya. Di sisi lain, saat itu sepatu olahraga mulai banyak peminat. "Banyak anak-anak sekolah yang mencari dan harganya juga tidak semahal sepatu kulit," kata Padli.
Sepatu olahraga yang dijual di tempat ini dipasok langsung dari pabrikan di Tangerang dan Jakarta. Meski demikian, bagi para pedagang, penjualan sepatu olahraga itu lebih sekadar pelengkap saja.
Dagangan utamanya tetap sepatu kulit. "Sepatu kulit masih menjadi produk utama yang diandalkan para pedagang,"
tutur Padli.
Padli mengaku tidak tertarik berjualan sepatu bekas. Selain peminatnya tidak banyak, mendapatkan sepatu bekas berkualitas bagus juga semakin sulit.
Padli membandingkan kondisi ketika dulu orang tuanya yang termasuk salah pedagang, berjualan sepatu bekas di Jalan Terate pada tahun 1960-an.
"Waktu itu, orang tua saya dan pedagang lainnya hanya menjual sepatu kulit bekas, baik sepatu pantofel maupun sepatu boots," katanya. Sepatu-sepatu bekas itu di peroleh dari daerah di sekitar Bandung.
Sama dengan Padli, Bobiec fokus berjualan sepatu baru. Ia juga meneruskan usaha orang tuanya yang juga berjualan sepatu bekas di Terate dari awal. "Berjualan sepatu bekas sudah susah di zaman sekarang," ujarnya.
Herman juga termasuk pedagang yang mulai meninggalkan sepatu kulit bekas. Ia berjualan sepatu baru lantaran banyak konsumen tidak tertarik dengan sepatu bekas. "Sekarang, sebagian besar pelanggan lebih tergiur membeli sepatu baru," katanya.
Herman bilang, berjualan sepatu di tempat ini menguntungkan lantaran ongkos membuka kios tidak terlalu mahal. Dengan begitu, ia bisa menjual sepatu dengan harga lebih murah dibandingkan di Cibaduyut sebagai pusat produksi sepatu kulit.

Sentra Sepatu Terate: Andalkan pembeli borongan (3)

Sentra Sepatu Terate: Andalkan pembeli borongan (3

Sentra penjualan sepatu kulit di Jalan Terate, Bandung, sudah terkenal sejak tahun 1960-an. Tidak hanya warga Bandung, tempat ini juga ramai dikunjungi oleh warga dari kota lain.
Bahkan, belakangan ini, banyak pedagang mengandalkan pengunjung dari luar kota sebagai konsumen mereka. Pasalnya, banyak konsumen dari luar kota yang membeli sepatu dalam partai besar atau secara borongan.
Sebagian besar pelanggan dari luar kota berasal dari Cirebon, Kuningan, Riau, dan Kalimantan. Mereka membeli sepatu dalam jumlah banyak untuk dijual lagi di daerahnya masing-masing.
Sebagai pedagang di daerah, mereka rutin berbelanja sepatu di Jalan Terate. Bobiec, salah seorang pedagang sepatu di sentra ini bilang, pelanggan dari luar kota pasti memesan sepatu kulit darinya minimal sekali dalam sebulan.
Bulan Oktober lalu, misalnya, Bobiec mendapat pesanan sebanyak 240 pasang sepatu kulit dari konsumen di Kalimantan. "Berkat mereka, pendapatan kami juga bisa naik," ujar Bobiec, salah seorang pedagang di sentra ini.
Mayoritas konsumen dari daerah ini memesan sepatu kulit. Karena membeli dalam jumlah banyak, Bobiec menjualnya dengan harga grosir.
Harga eceran sepatu di tempat ini dibanderol mulai Rp 200.000-Rp 350.000 per pasang. Sementara, untuk pembelian grosir, harganya di bawah Rp 200.000 per pasang.
"Harga persisnya rahasia karena tidak enak kepada konsumen kami nantinya kalau semua tahu harga beli yang sebenarnya," ujar Bobiec.
Bobiec memberikan harga grosir lantaran konsumen masih mengeluarkan biaya lagi buat pengiriman ke daerahnya. Dengan harga grosir, diharapkan mereka masih mendapat keuntungan. "Kalau untung, mereka bisa datang lagi," katanya.
Pedagang lain, Mohamad Padli juga memiliki sejumlah pelanggan dari luar kota, seperti Cirebon dan Kuningan. Mereka biasanya membeli sepatu kulit dalam jumlah banyak. "Biasanya mereka membeli berlusin-lusin," paparnya.
Padli juga memberikan harga khusus bagi mereka yang sudah menjadi pelanggannya. Selain pelanggan, ia juga kerap didatangi konsumen dari luar kota yang kebetulan sedang berada di Bandung.
Meskipun bukan pedagang, mereka biasanya membeli sepatu kulit secara borongan untuk dibawa ke daerah asal mereka. "Mungkin untuk dijadikan oleh-oleh kepada saudara-saudara mereka," kata Padli.
Herman, pedagang lainnya, mengatakan, pelanggan dari luar kota suka membeli sepatu boots ketimbang sepatu pantofel dan sepatu futsal atau bola. Menurutnya, sepatu boots di sentra ini diminati pelanggan dari luar kota, karena bentuknya yang unik dan bahannya yang terbuat dari kulit.
Selain itu, harga sepatu juga lebih murah ketimbang di tempat lain. "Apalagi, di sini juga banyak pilihan jenis dan warna sepatunya," ungkapnya.
Hampir seluruh pasokan sepatu ditempat ini berasal dari para pengrajin sepatu di Cibaduyut, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Pasokan memang bukan dari langsung dari pengrajin. Melainkan, pedagang mendapatkan dari para pemasok. Setiap bulan, para pemasok ini rutin mengirim sepatu ke Jalan Terate.  

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-sepatu-terate-jual-sepatu-cibaduyut-1/2012/12/03
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-sepatu-terate-awalnya-sepatu-bekas-2/2012/12/04
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-sepatu-terate-andalkan-pembeli-borongan-3

Monday, December 3, 2012

Sentra Percetakan Kramat Jati

SENTRA PERCETAKAN DI KRAMAT JATI, JAKARTA TIMUR

Sentra Percetakan Kramat Jati: Layanan lengkap (1)

Sentra Percetakan Kramat Jati: Layanan lengkap (1)
Walau sudah era paperless, jasa percetakan tetap dibutuhkan hampir di setiap lini usaha dan kegiatan. Tak heran bila aktivitas percetakan ini masih sangat menjanjikan.
Di wilayah Jakarta sendiri, ada banyak pusat bisnis ini. Salah satu yang cukup terkenal berada di daerah Kramat Jati, Jakarta Timur. Sentra percetakan di daerah ini sudah ada sejak belasan tahun silam. Saat ini, tidak kurang dari 30 kios meramaikan pusat percatakan ini.
Lokasi persis sentra ini berada di Jalan Raya Bogor Kilometer 20. Bila dari arah Taman Mini Indonesia Indah (TMII), sentra ini berada di sisi kiri jalan setelah pertigaan Hek. Lokasinya tak sampai 1 kilometer (km) dari Pasar Kramat Jati.
Pusat percetakan di Kramat Jati menyediakan hampir segala macam jasa layanan di bidang percetakan. Di antaranya, jasa cetak kartu undangan, brosur, spanduk, kartu nama, dan kuitansi, dan lain-lain.
Bahkan, ada juga yang menyediakan jasa pembuatan stempel dan neon box. "Di wilayah sekitar Jakarta Timur dan Bekasi, sentra ini sudah terkenal, " kata Ricky Azhari, pemilik CV Karya Maju, salah satu kios percetakan di Kramat Jati.
Ricky mulai membuka kios percetakan di wilayah ini sejak tahun 2008. Awalnya, ia membantu orangtuanya yang memiliki usaha percetakan di Senen, Jakarta Pusat.
Ia mengaku, tertarik untuk membuka usaha sendiri karena melihat peluang bisnis ini menjanjikan. Dari segi lokasi, kawasan Kramat Jati juga prospek dikembangkan sebagai pusat percetakan. Maklum, di kawasan ini banyak terdapat perkantoran.
Saat ini, Ricky bisa memperoleh omzet sebesar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta per bulan. Ia mengaku, banyak menerima order mencetak kartu undangan pernikahan.
Biaya jasa cetak ini dibanderol mulai harga Rp 5.000 hingga Rp 12.000 per kartu undangan. "Harga segitu dengan minimal pesanan sebanyak 500 undangan dan bahannya hard cover," ujarnya.
Sementara, kartu undangan dari bahan kertas biasa dibanderol seharga mulai Rp 2.500 hingga Rp 4.000 per piece. Selain mendapat order dari daerah Jabodetabek, ia juga kerap menerima pesanan dari pelanggan luar kota. Bahkan, ia pernah melayani pesanan dari Kalimantan dan Sumatra.
Pelanggan biasanya datang saat sedang berlibur atau pas ada kegiatan lain. Ada pula yang memesan secara online. Setelah barang yang dipesan selesai dikerjakan, Ricky akan mengirimkannya melalui jasa pengiriman.
Kios lain adalah Percetakan Nabila yang sudah berdiri sejak 2002. Setiawan, pengelola kios ini bilang, setiap bulan, omzet kiosnya berkisar Rp 20 juta. Selain kartu undangan, ia juga kerap mendapat order pembuatan stempel.
Tarif jasa pembuatan stempel mulai Rp 25.000-Rp 35.000 dengan kualitas standar. Jika ingin stempel warna, banderol harganya mulai Rp 50.000-Rp 60.000. "Kami punya banyak agen, bukan cuma konsumen eceran," ujarnya.

Sentra Percetakan Kramat Jati: Adu strategi (2)

Kios percetakan di Jalan Raya Bogor Km 20, Kramat Jati, Jakarta Timur kian menjamur dalam beberapa tahun terakhir. Di sepanjang jalan ini berderet 30 kios percetakan. Deretan toko ini memenuhi sisi kiri jalan hingga panjangnya mencapai 1 kilometer (km).
Lantaran menawarkan produk serupa, hampir tidak ada pembeda antara satu kios dengan yang lainnya. Tak heran, bila persaingan sesama pemilik kios percetakan cukup ketat.
Di tengah persaingan yang ketat, mereka pun tak bisa sembarang menaikkan harga. Itu sebabnya, ongkos cetak di sentra percetakan ini relatif sama antara satu kios dengan yang kios lainnya.
Contoh, biaya cetak kartu undangan jenis hard cover. Hampir semua kios menetapkan ongkos cetak sebesar Rp 5.000 per buah. Begitu juga dengan ongkos cetak kartu nama standar yang dibanderol dengan harga Rp 45.000 per box.
"Tak bisa lebih karena pelanggan bisa lari," kata Ricky Azhari, pemilik CV Karya Maju, salah satu kios percetakan di sentra percetakan ini.
Untuk menarik pelanggan, masing-masing kios biasanya menawarkan fasilitas-fasilitas lain. Ricky, misalnya, menyediakan kartu nama full color dengan kertas tebal dan lapisan laminating. Harganya tentu lebih mahal, mencapai Rp 145.000 per box.
Untuk meyedot konsumen, Ricky juga kerap memberikan jasa desain gratis, baik untuk kartu undangan, spanduk, atau kartu nama. "Pelanggan cukup membawa tulisan saja," imbuh sarjana desain grafis ini.
Ricky sendiri memiliki ratusan pilihan desain dan masih bisa diedit sesuai keinginan konsumen. Selain itu, Ricky juga melengkapi kiosnya dengan mesin cetak. "Biasanya, orang lebih pilih ke sini karena melihat ada mesin cetaknya," ujar dia.
Lantaran mencetak sendiri, pelanggan akan menilai harga di tempat Ricky lebih murah ketimbang kios yang tidak memiliki mesin cetak. Sebab, kios yang tak punya mesin cetak sendiri akan meng-order lagi pesanan konsumen ke tempat lain.
Dan, tidak semua kios di sentra ini memiliki mesin cetak sendiri. Kios Nabila termasuk yang tak punya mesin cetak. Dalam memenuhi pesanan, kios ini bekerjasama dengan beberapa tempat percetakan yang menjadi rekanannya.
"Kami punya banyak rekanan percetakan besar, hampir semua produk kami pesan ke mereka kecuali stempel" kata Setiawan, pengelola percetakan Nabila.
Kendati diserahkan ke percetakan lain, Setiawan mengklaim, harga tetap bisa bersaing dengan kios yang memiliki mesin cetak sendiri. Selain itu, ia menjamin  proses pengerjaan pesanan di tempatnya lebih cepat.
Soalnya, percetakan yang menjadi rekanannya memiliki banyak karyawan. "Di tempat kami pembuatan kartu undangan hanya butuh waktu satu minggu," ujarnya.
Kelebihan lainnya, Setiawan juga menerima pesanan satuan. Menurutnya, jarang ada kios yang mau menerima pesanan satuan.

Sentra Percetakan Kramat Jati: Pesanan ramai (3)

Sentra percetakan di Jalan Raya Bogor, Km 20, Kramat Jati, Jakarta Timur selalu ramai diserbu pembeli. Namun, tidak seluruh produk percetakan bisa laku dalam waktu yang sama. Biasanya, ada musim-musim tertentu di mana satu produk lebih laku dari produk yang lain.
Saat musim nikah, misalnya, order kartu undangan yang paling laris. "Habis Idul Adha, biasanya banyak yang nikah, jadi permintaan kartu undangan lebih laris," kata Ricky Azhari, pemilik kios percetakan di Kramat Jati.
Ricky bilang, omzetnya di musim nikah itu bisa naik dua kali lipat dari hari biasa. Begitu pula saat musim libur anak sekolah. Lantaran banyak anak yang dikhitan selama libur sekolah, permintaan kartu undangan khitanan juga meningkat.
Biasanya, order percetakan agak sepi di awal tahun. Saat sepi order ini, Ricky kerap mengisi kesibukan dengan melakukan promosi dan menyebar iklan.
Selain melalui internet, ia juga menyebarkan pamflet di toko-toko kertas tempatnya mengambil bahan baku percetakan.
"Biasanya titip pamflet ke toko kertas tempat saya ambil bahan baku, dari situ kadang ada yang mencari juga, misalnya untuk cetak majalah atau yang lain," ujarnya.
Berkat promosi itu, saat ini Ricky mendapat pesanan rutin mencetak sejumlah majalah komunitas yang terbit setiap bulan.
Setiawan, pengelola Percetakan Nabila menuturkan, permintaan jasa percetakan ada musim-musim ramai dan sepinya.
Sama seperti Ricky, omzet kiosnya juga melonjak saat musim nikah. "Itu musim-musimnya orang ramai memesan undangan pernikahan," kata Setiawan.
Sementara, saat Hari Raya Idul Fitri, permintaan ucapan kartu Lebaran gantian marak. Menurut Setiawan, perkantoran masih membutuhkan kartu Lebaran karena dianggap lebih resmi.
Biasanya, perkantoran akan memesan pada percetakan dengan desain dan format kartu sesuai selera perusahaan atau kantor yang memesan. Selain kartu ucapan Lebaran, pada masa-masa itu, pesanan stempel kantor juga akan meningkat.
Selama musim Lebaran ini, Setiawan lebih banyak mengandalkan pesanan dari perkantoran ketimbang perorangan. "Untung dari pesanan dari perusahaan lebih besar," tuturnya.
Kendati begitu, Setiawan tetap memberikan potongan harga bagi perusahaan yang memesan di tempatnya. Syaratnya, pesanan harus dalam partai besar.
Potongan harga juga berlaku bagi pembeli perorangan. Namun, Setiawan akan melihat dulu pembelinya, termasuk kelas menengah atas atau bawah. Jika terlihat cukup mampu, ia akan mematok harga lebih tinggi.
"Misalnya, kita buka harga berbeda untuk pesanan spanduk buat jual nasi uduk dibanding spanduk untuk perusahaan besar," tuturnya. Bagi konsumen kelas bawah, tetap diberikan potongan kendati pesannya satuan.           

(Selesai)

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-percetakan-kramat-jati-layanan-lengkap-1/2012/11/26
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-percetakan-kramat-jati-adu-strategi-2/2012/11/27
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-percetakan-kramat-jati-pesanan-ramai-3

Wednesday, November 21, 2012

Sentra Konveksi Jepara

SENTRA KONVEKSI SENDANG, JEPARA, JAWA TENGAH

Sentra Konveksi Jepara: Berdiri sejak 1970 (1)

Sentra Konveksi Jepara: Berdiri sejak 1970 (1)
Jepara tidak hanya populer sebagai daerah penghasil mebel. Kabupaten ini juga terkenal sebagai daerah penghasil konveksi. Tepatnya di Desa Sendang, Kalinyamatan. Kampung ini terletak sekitar 20 kilometer arah Timur Kota Jepara.
Saat memasuki sentra penghasil pelbagai jenis pakaian, suasananya tampak sepi. Tapi jangan salah, ternyata memang di desa ini tidak ada warga yang menjadi penjual eceran konveksi.
Sehingga, tidak terlihat satu pun showroom atau ruang pamer yang menampilkan pakaian untuk dijual. Makanya, tak terlihat aktivitas jual beli.
Namun, jika masuk ke rumah-rumah yang ada di Desa Sendang, baru akan terlihat kegiatan seperti menjahit pakaian.
Eniseh Minarti, salah satu pelaku usaha konveksi di sentra ini, mengatakan, hampir setiap warga di Desa Sendang memiliki penghasilan dari usaha konveksi. Jika dihitung, lebih dari 100 penduduk yang menjadi pelaku usaha di bidang konveksi.
Menurut Eniseh, sentra konveksi di kampungnya sudah ada sejak 1970-an silam. Sentra ini semakin terkenal dan berkembang mulai 1989. Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Jepara meresmikan Desa Sendang sebagai sentra konveksi.
Sejak itu pula, "Perkembangan usaha konveksi di desa kami maju pesat," kata Eniseh. Sentra konveksi di Sendang, Eniseh menjelaskan, memang merupakan salah satu program Pemerintah Jepara untuk meningkatkan penghasilan penduduk desa ini.
Pasalnya, keberadaan sentra konveksi ini membuka lapangan kerja bagi ratusan warga Sendang dan kampung-kampung sekitar. Eniseh sendiri mulai menjalankan usaha konveksi pada 2003 lalu bersama dengan suaminya.
Ia memasarkan produk berupa baju olahraga dan celana training dengan merek Elfa's. Dalam sebulan, Eniseh mengaku bisa memproduksi 5.000 baju olahraga dan celana training. Ia menjual produknya dengan kisaran harga Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per potong.
"Kalau omzet, ya, minimal Rp 50 juta," ujarnya. Pelaku usaha konveksi lainnya, Subekan menambahkan, bisnis konveksi memang menjadi sandaran ekonomi utama warga Sendang.
Selain celana training, Subekan juga memproduksi celana dalam khusus pria. Setiap bulan, dengan dibantu sembilan pekerja, dia membuat 6.000 celana dalam dan celana training. Ia mematok harga jual Rp 9.500 per potong untuk celana dalam dan Rp 13.500 untuk celana training.
Rita, pengusaha konveksi lainnya, mengungkapkan, modal untuk memulai bisnis ini tidak besar. Wanita yang mulai usaha konveksi sejak 1990 lalu ini hanya mengeluarkan modal ratusan ribu rupiah untuk membeli mesin jahit dan bahan baku.
Kini, Rita punya belasan pekerja dengan 10 mesin jahit. Omzetnya pun menanjak, dari ratusan ribu menjadi Rp 30 juta per bulan.      

Sentra Konveksi Jepara: Bisnis turun-temurun (2)

Sentra Konveksi Jepara: Bisnis turun-temurun (2)

Sentra konveksi di Desa Sendang, Jepara, Jawa Tengah sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Puluhan warga desa ini menggantungkan hidupnya dari usaha konveksi ini.
Semua kegiatan konveksi, seperti menjahit, dipusatkan di rumah-rumah warga. Sebagai tempat produksi, hampir semua rumah di desa ini penuh dengan tumpukan kain siap jahit.
Menurut cerita warga setempat, usaha konveksi di desa ini merupakan usaha turun-temurun yang diwariskan oleh para orang tua. "Saya sendiri meneruskan usaha orang tua sejak tahun 2003," kata Eniseh Minarti, salah satu pelaku usaha di sentra konveksi ini.
Selain Eniseh, kedua saudara kandungnya juga memiliki usaha konveksi mengikuti jejak orang tua mereka. Eniseh menyatakan sudah mahir menjahit pakaian sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).
Sejak usaha konveksi ini jatuh ke tangannya, Eniseh pun memindahkan seluruh kegiatan produksi ke rumah yang ditempatinya. Dalam mengelola usaha ini, ia berbagai tugas dengan suaminya. Ia bertugas menjahit, sementara suaminya memotong kain.
Eniseh fokus memproduksi baju olahraga dan celana training. Awalnya, produksi konveksinya belum banyak. “Saya cuma bisa produksi 500 potong baju dan celana waktu itu,” ujarnya.
Seiring makin dikenalnya desa ini sebagai sentra konveksi, order yang diterimanya semakin banyak. Dengan dibantu sembilan karyawan, kini ia mampu memproduksi hingga ribuan kaos olahraga dan celana training.
Kendati jumlah karyawannya sudah lumayan banyak, Eniseh kadang masih kewalahan memenuhi permintaan pembeli. "Beberapa kali saya bekerja sama dengan saudara saya untuk melayani orderan dari pembeli," ujarnya.
Pelaku usaha lainnya, Subekan juga mendapat keahlian di bidang konveksi dari kedua orang tuanya. Bedanya, ia tidak mewarisi usaha konveksi orang tuanya. Subekan merintis sendiri usaha ini sejak tahun 2009.
Ia tidak kesulitan menekuni usaha ini lantaran banyak pelanggan orang tuanya kini juga menjadi pelanggannya. Saat ini, Subekan rutin memasok produk konveksi ke beberapa pasar di Jawa Tengah. “Mereka biasa membeli baju dan celana ke saya karena memang sudah kenal orang tua saya,” katanya.
Pemain lainnya, Rita juga rutin memasok konveksi ke beberapa pedagang pasar di Jawa Tengah. Selain dari para pedagang, ia juga sering mendapat order dari sekolah-sekolah untuk menyediakan seragam olahraga. "Hampir semua sekolah di Jepara, mulai SD hingga SMA memesan seragam olahraga ke Desa Sendang," ujarnya.
Menurut Rita, produk konveksi Sendang sulit untuk menembus pasar luar Jawa. Sebab, dari segi kualitas masih kalah dengan produk dari daerah lain.      

Sentra Konveksi Jepara: Mayoritas bikin kaos (3)

Sentra Konveksi Jepara: Mayoritas bikin kaos (3)

Sebagian besar warga Desa Sendang, Jepara, menekuni usaha konveksi. Kendati pemainnya cukup banyak, produk konveksi yang mereka hasilkan relatif sama.
Hampir semua pelaku usaha konveksi di desa ini memproduksi baju olahraga dan celana training. "Selain bahan bakunya gampang diperoleh, pembuatannya juga mudah," kata Eniseh Minarti, salah satu pelaku usaha konveksi di Sendang.
Membuat baju olahraga dan celana training tidak sulit karena modelnya selalu sama. Hanya warna dan motif yang diganti sesuai selera pemesan.
Para produsen gampang mendapatkan bahan baku. Eniseh bilang, sudah ada pemasok tetap bahan kain untuk kaos dan celana training buat memenuhi kebutuhan produsen.
Biasanya dalam seminggu, Eniseh menghabiskan satu bal kain bahan kaos. Bobot satu bal kain itu mencapai 25 kilogram (kg). Bahan sebanyak itu bisa menghasilkan sekitar 100 kaos olahraga, 150 celana training pendek, dan 100 celana training panjang.
Pakaian olahraga hasil produksi Eniseh diberi merek Elfas. Pemberian merek itu bertujuan sebagai pembeda dari produk serupa yang dihasilkan pengusaha konveksi lainnya. Ia juga berharap pemberian merek itu bisa mengangkat pamor kaos buatannya.
"Dengan adanya merek, konsumen tahu harus mencari merek apa ketika membeli produk di pasar," ujarnya. Selain merek sendiri, Eniseh juga kerap memproduksi baju olahraga dan celana training yang diberi label branded, seperti Nike, Adidas, dan Converse.
Merek-merek terkenal itu dipakai berdasarkan permintaan para pelanggannya. "Biasanya mereka kasih contoh gambar kepada saya dan minta dibuatkan dengan memakai merek yang sama dengan gambar," ujarnya.
Pengusaha konveksi lainnya, Subekan, juga memproduksi kaos olahraga dan celana training dengan merek terkenal. Ia mengaku, permintaan akan kaos dan celana dengan label branded ini terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Agar tidak dibilang produk palsu, Subekan tidak meniru model dari versi aslinya. Ia hanya mencantumkan merek saja. Menurutnya, harga produk tiruan ini sama dengan produk yang tidak memakai merek branded.
Rita, pelaku usaha lainnya menambahkan, selain kaos olahraga dan celana training, ada juga pelaku usaha yang fokus memproduksi celana pendek pria.
Bahkan, menjelang Lebaran, banyak juga pelaku usaha yang memproduksi baju koko atau busana muslim lainnya. Namun, sifatnya hanya musiman. Setelah Lebaran, permintaan cenderung menurun.
Rita menilai, perlu dilakukannya diversifikasi produk. "Kalau hanya mengandalkan pakaian olahraga, susah untuk menaikkan omzet," katanya. Sayangnya, diversifikasi produk juga tidak mudah  di tengah maraknya produk impor di Indonesia.       

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-konveksi-jepara-berdiri-sejak-1970-1/2012/11/19
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-konveksi-jepara-bisnis-turun-temurun-2/2012/11/20
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-konveksi-jepara-mayoritas-bikin-kaos-3