Showing posts with label kertas bekas. Show all posts
Showing posts with label kertas bekas. Show all posts

Friday, September 23, 2011

PELUANG BISNIS BAKI TELUR

PELUANG USAHA

 
Kamis, 22 September 2011 | 15:56  oleh Handoyo
PELUANG BISNIS BAKI TELUR
Simsalabim, kertas bekas berubah jadi tambang emas

Bisnis baki telur atau egg tray ternyata punya pangsa pasar yang menggiurkan. Terbuat dari limbah kertas dan kardus, produsen egg tray mampu memproduksi hingga 3 juta-5 juta lembar egg tray per bulan. Selain melayani permintaan peternak ayam petelur di dalam negeri, produsen egg tray kini juga sedang melirik peluang ekspor.

Berkembangnya usaha peternakan unggas, khususnya ayam petelur, membawa berkah bagi pengusaha baki telur atau dikenal dengan nama egg tray. Semakin banyak produksi telur semakin laris pula egg tray yang terbuat dari kertas dan kardus bekas ini.

Salah satu perusahaan yang memproduksi egg tray adalah PT Cendana Putri Lestari milik Hidajat Chang di Medan, Sumatra Utara. Perusahaan yang beroperasi sejak 1994 itu memproduksi egg tray dari kardus bekas. "Potensi pasarnya cukup besar," kata Hidajat.

Walaupun sudah memproduksi egg tray sejak 17 tahun silam, Hidajat mengaku usahanya masih mencatat pertumbuhan. "Permintaan egg tray tahun ini naik 6%-7%," kata Hidajat.

Kini Hidajat tidak hanya melayani permintaan egg tray untuk peternak ayam di Medan. Ia juga melayani permintaan egg tray dari peternak ayam di berbagai kota di Sumatra, seperti Payakumbuh, Padang hingga Palembang.

Walaupun sudah memiliki banyak pelanggan di Sumatra, tidak membuat Hidajat berhenti untuk melakukan ekspansi usaha. Baru-baru ini, Hidajat sedang melakukan penjajakan untuk mengekspor produknya ke Malaysia, Australia, dan juga Filipina. "Saat ini kami masih melakukan tahap negosiasi," ungkap Hidajat.

Untuk menjual produk egg tray di dalam negeri, Hidajat tak perlu repot. Sebab, ia memiliki lebih dari 100 pelanggan yang saban bulan rutin membeli produknya. Pelanggan Hidajat tidak hanya pengusaha peternakan skala besar saja, tapi juga ada pengusaha peternakan skala kecil. "Kami juga menerima pembelian partai kecil," jelas Hidajat.

Hidajat sudah memiliki tujuh mesin pres untuk memproduksi egg tray dengan berat 80 gram-90 gram dan bisa menampung 30 butir telur. Dalam sebulan, mesin itu memproduksi 3 juta - 5 juta lembar egg tray. Hanya saja, Hidajat merahasiakan rapat-rapat omzet perusahaannya.

Yang jelas, Hidajat menjual setiap lembar egg tray seharga Rp 350- Rp 400. Jika seluruh produksi Hidajat terjual, bukan tidak mungkin ia bisa mendulang omzet lebih dari Rp 1,5 miliar per bulan.

Bagi Hidajat memproduksi egg tray ini cukup mudah. Hidajat tak pernah khawatir kekurangan bahan baku. Maklum, setiap hari banyak pengumpul barang bekas yang menjual kardus bekas ke pabriknya.

Selain itu PT Cendana Putera Lestari juga mendapatkan pasokan kardus bekas dari supermarket dan toko grosir yang ada di sekitar Medan. Untuk setiap kilogram kardus bekas itu, Hidajat biasanya membeli
Rp 1.500-Rp 2.000.

Untuk mendapatkan keuntungan, Hidajat mengaku mengutip laba 5% laba dari setiap lembar egg tray yang terjual. Walaupun laba itu terbilang kecil, tapi Hidajat bisa menjual egg tray dengan jumlah yang banyak. "Margin memang kecil, tapi produksi kami, kan, banyak," tutur Hidajat.

Manisnya laba dari pembuatan egg tray juga dirasakan Santoso Prasetyo, pemilik PT Sekawan Abadi Perindo, asal Tangerang, Jawa Barat. Sejak tahun 2009 lalu, Santoso juga mengaku ada kenaikan permintaan egg tray hingga 30%. "Tahun ini juga naik," terangnya.

Dengan kapasitas produksi 2.000 lembar per hari, Santoso menjual egg tray itu kepada para peternak ayam di wilayah Jabodetabek dan juga pedagang egg tray di Tangerang.

Berbeda dengan egg tray buatan Hidajat, Santoso memproduksi egg tray untuk menampung 10 butir telur dengan harga jual Rp 1.200 per lembar. Santoso pun kini lagi menjajaki pasar ekspor egg tray ke Australia.

Untuk urusan bahan baku kertas bekas maupun kardus bekas, sama mudahnya dengan mencari di Medan. Santoso juga membeli kertas bekas dan kardus bekas itu seharga Rp 2.000 - Rp 3.000 per kilogram.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/78073/Simsalabim-kertas-bekas-berubah-jadi-tambang-emas

Thursday, August 11, 2011

Biarpun kertas bekas, untungnya tetap berkelas


PELUANG USAHA
 
Rabu, 10 Agustus 2011 | 13:03  oleh Ragil Nugroho, Bambang Rakhmanto, Fahriyadi
GREEN BUSINESS KERAJINAN KERTAS BEKAS
Biarpun kertas bekas, untungnya tetap berkelas
 
Isu pemanasan global dan semakin sadarnya masyarakat akan produk ramah lingkungan membuat kerajinan daur ulang kertas banyak diminati. Tak hanya pernak-pernik seperti gantungan kunci, kartu nama, magnet kulkas, ataupun pigura, bubur kertas bekas juga bisa dijadikan panel hiasan dinding dengan harga jual tinggi.

Limbah kertas tak hanya bisa digunakan sebagai bungkus makanan. Koran bekas, majalah bekas, ataupun limbah kertas yang lain bisa dibuat berbagai kerajinan dan hiasan dinding bernilai ekonomi tinggi.

Salah seorang perajin kertas bekas adalah Yunita Adistira di Bekasi, Jawa Barat. Menggeluti usaha kerajinan kertas bekas sejak tahun 2007, Yunita mengaku usahanya berawal dari kegiatan iseng mengisi waktu luang. Apalagi saat itu, dia banyak sekali menemukan kertas-kertas terbuang yang akhirnya dibakar sia-sia.

Ia pun akhirnya membuat berbagai pernak-pernik kerajinan dari bubur kertas, seperti gantungan kunci, tempat kartu nama, gantungan handphone, dan magnet kulkas.

Dengan harga jual Rp 5.000 - Rp 25.000 per produk, Yunita saat ini mengaku mampu mengantongi omzet Rp 11 juta hingga Rp 15 juta per bulan. "Saat ini saya juga membuat patung, wayang, dan boneka salju dari bubur kertas," katanya.

Pemilik CV Bintang Emas ini membuat patung dan boneka beragam ukuran tergantung pesanan. Dengan harga bervariasi mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 200.000, mahal murahnya tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Menurut Yunita, patung atau boneka dengan tinggi 10 cm - 20 cm paling banyak dipesan. "Margin labanya sekitar 40%," ujarnya.

Tak hanya menyasar individu, produk daur ulang kertas milik Yunita juga banyak diminati wedding organizer dan perusahaan yang peduli dengan alam. Kepedulian mereka biasanya ditunjukkan dengan membeli produk dari bahan yang ramah lingkungan. Konsumen produk daur ulang kertas bekas tidak hanya di Pulau Jawa, tapi sudah merambah Kalimantan dan Sumatera. Khusus untuk Sumatera, 40% permintaan datang dari Pekanbaru.

"Di Pekanbaru tren produk daur ulang sedang meningkat," katanya. Menurut Yunita, masyarakat tertarik untuk membeli kerajinan daur ulang kertas karena unik dan menarik.

Tak hanya produk Yunita saja yang diminati masyarakat. Sebab, produk hiasan dari bubur kertas bekas milik Sumarsono juga sedang naik daun. Lelaki asal Cilebut, Jawa Barat ini memanfaatkan bahan bubur kertas untuk dijadikan panel atau hiasan dinding.

"Kerajinan kertas bekas prospeknya bagus karena didukung isu pemanasan global," katanya. Ia mengaku telah membuat berbagai kerajinan berbahan baku kertas bekas sebelum ada isu pemanasan global.

Dengan semakin meningkatnya kepedulian lingkungan, maka nilai penjualan produk daur ulang meningkat. Saat ini, untuk setiap hiasan dinding berukuran 45 cm x 45 cm dijual dengan harga Rp 150.000. Dengan harga tersebut, Sumarsono mengaku mampu mengantongi omzet per bulan mencapai Rp 60 juta.

Omzet yang didapat oleh Sumarsono termasuk besar, sebab harga kertas bekas yang dibutuhkan untuk membuat satu produk tidak lebih dari Rp 20.000. "Keuntungan saya mencapai 50% dari omzet," kata pemilik usaha Laxsvin Art ini.

Omzet itu selain didapatkan dari penjualan hiasan dinding berukuran sedang 45 cm x 45 cm, juga didapatkan dari penjualan hiasan ukuran 85 cm x 120 cm dengan harga Rp 1,6 juta. Hiasan dinding ukuran 45 cm x 45 cm lebih diminati karena lebih simple dan mudah dibawa kemana-mana. "Sebanyak 90% pembeli saya datang dari konsumen rumah tangga," katanya.

Walau saat ini baru melayani pasar wilayah Jabodetabek, ke depan Sumarsono berharap mampu menjual hasil kerajinannya ke pasar luar negeri. Tak hanya itu, ia juga bertekad untuk menularkan keterampilannya kepada orang lain. Oleh sebab itu selain sibuk dengan usahanya, Sumarsono juga aktif memberikan bimbingan bagi masyarakat yang mau belajar membuat panel kertas bubur.

Lain dengan Yunita dan Sumarsono, Adang Ganda Permana, pemilik Paper Explorer di Jakarta mengolah kertas bekas menjadi paper bag, kartu nama, dan pigura. Memulai usaha sejak tahun 1999, Adang membutuhkan banyak bubur kertas untuk kemudian dijadikan produk kerajinan jadi.

Dalam sebulan kapasitas produksi bubur kertas Adang mencapai 10 ton. "Dari bubur kertas akan dicetak sesuai pesanan," ujarnya. Jumlah bubur kertas itu mampu memenuhi pesanan paper bag mencapai 3.000 unit, dengan harga satuan sekitar Rp 5.000.

Adang mengaku, hanya dari penjualan paper bag, ia mampu memperoleh omzet per bulan mencapai Rp 15 juta. Nilai omzetnya berlipat jika ditambah dengan penjualan kartu nama dan pigura dari bahan baku bubur kertas bekas.

Menurutnya, pembuatan produk kerajinan dari bubur kertas bekas tidaklah sulit. Untuk yang sudah sering membuat, bahkan bisa menyelesaikannya dalam waktu sehari. Yang terpenting, menurut Adang, adalah proses perendaman kertas. Proses perendaman penting untuk mendapatkan bubur kertas yang memiliki elastisitas baik sehingga mudah dibentuk.

Proses pembuatan yang cukup mudah juga dikemukakan oleh Yunita. Ia mengaku mendapat ilmu kerajinan bubur kertas bekas secara otodidak. "Ternyata tidak begitu sulit mengolahnya," katanya.

Bahan baku utama yang dibutuhkan adalah kertas bekas, air dan lem putih atau lem kayu. Selain itu juga dibutuhkan cat poster dan vernis, blender, kain untuk menyaring, dan cetakan.

Pertama, kertas bekas disobek-sobek dan direndam dalam air selama satu hari sampai tiga hari. Kedua, setelah proses perendaman selesai, kertas diblender sampai halus. Ketiga, kertas blender disaring dengan kain. Penyaringan dilakukan untuk membuang air, sehingga diperlukan pemerasan sampai agak kering. Keempat, ampas atau bubur kertas tadi kemudian dicampur, diaduk rata dengan lem putih. Kelima, adonan siap dicetak sesuai dengan keinginan.
"Setelah dicetak lalu dijemur dan diberi cat poster dan vernis agar lebih kuat," katanya. Untuk menghadirkan tekstur menarik, bisa dicampurkan pewarna dan serat dari pelepah pisang atau jahe.