Showing posts with label singkong. Show all posts
Showing posts with label singkong. Show all posts

Thursday, October 20, 2011

Gatot Paristiwahono, Sukses Naikkan Derajat Singkong

Views :168 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 20 Oktober 2011 08:49
Singkong sudah lama digemari oleh masyarakat Indonesia namun kerap dipandang sebelah mata derajatnya. Namun seiring semakin banyaknya inovasi produk olahan berbahan dasar asli Indonesia ini membuat derajat singkong semakin terangkat bahkan bisa meraup rupiah.

sii-juuGatot Paristiwahono yang mulanya hanya hobi memakan makanan renyah asal singkong, kripik singkong, ini melihat celah bisnis yang cukup potensial dari makanan kesukaannya itu. Akhirnya terpikir untuk mencoba jualan dengan membuka satu gerai di daerah Cempaka Putih Raya. Gatot menamai singkong buatannya Sii Juu (Singkong Keju).

“Karena selama ini singkong itu kan identik dengan makanan kelas bawahan, dan keju itu makanan kelas atas. Jadi saya kombain biar kasta si singkong ikut naik,” jelas Gatot seperti dikutip dari Sindonews.

Minggu pertama saat berjualan Gatot hanya membawa satu kuintal singkong per harinya untuk dijadikan kripik dijual, diminggu-minggu berikutnya bahan bakunya yang dibawa gatot terus meningkat karena begitu besar antusias dari para pembelinya.

Dengan mendapat respon yang begitu bagus dari para pembelinya, Gatot tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, maka pada Juni 2008 setelah empat bulan berjualan Gatot memberanikan diri untuk mewaralabakan usahanya.

“Banyak yang menayakan resep ke saya buat jadi untuk mengembangkan bisnis saya frenchise-kan pada Juni 2008, dengan ketentuan mitra yang akan bergabung akan mendapat gerobak baru, akan mendapatkan training secara komprehensif mulai dari cara memilih singkong, mengupas singkong, mengerok, memotong, menggoreng, menyajikan ke pelanggan hingga tempatnya,” jelasnya.

Jenis singkong yang digunakan pria asal kudus ini sebagai bahan bakunya adalah jenis singkong Mangu atau singkong Roti. Saat ini untuk menjadi mitra dari Sii Juu Gatot mematok harga sebesar Rp35 Juta dengan net profit 20 persen bagi simitra.

“Untuk investasi awal itu sebesar Rp35 juta dengan net profit 20 persen untuk mitra dan mitra tidak usah repot mulai dari karyawan, tempat dan segala-galanya kami yang menyiapkan. Bahkan belum lama ini ada mitra kami yang sudah menaruh kepercayaan besar ke Sii Juu. Dia ada di luar kota tetapi gerai Sii Juu nya ada di Jakarta,” tutur Suami dari Ratna Sukamdari ini.

Sementara itu  bagi mitra yang tidak mempunyai modal awal Gatot pun memberikan kemudahan bagi para calon mitranya melalui kerjasama yang dijalaninya dengan BTN Syariah saat ini melalui 80 gerai yang tersebar di kawasan Jakarta dan Surabaya. Adapun saat ini omzet yang dapat dihasilkan per gerainya mencapai Rp12 juta per bulan.

“Penghasilan per bulan Sii Juu Rp9-12 juta pergerainya, untuk keselurahan gerainya silakan dikalikan saja,” ujar pria 48 tahun ini sambil tertawa.

Tidak sedikit rasa yang ditawarkan Gatot bagi para penggemar kripik singkong ini. 18 rasa disajikan dengan pilihan rasa barbeque, balado, selada Ambon dan lain-lain. Harga yang ditawarkan juga tidak terlalu merogoh kocek terlalu dalam yaitu hanya dengan Rp10 ribu singkong keju sudah dapat dinikmati.

“Ada 18 varian mulai dari barbeque, balado, selada ambon dll. Harganya semula Rp8 ribu, tetapi awal November ini diperkirakan akan mengalami kenaikan jadi Rp10 ribu karena harga singkong sudah mulai mahal dan khusus untuk di daerah Pluit harganya Rp12 ribu,” ungkap ayah 3 anak ini.

Gatot menargetkan pada awal tahun ini Sii Juu akan mulai merambah mal-mal yang ada di sekitaran Jakarta dan Surabaya.

“Mudah-mudahan awal Januari nanti kita akan masuk ke mal-mal karena saya telah mencoba di sana dan mendapat respon yang cukup bagus, dan untuk rencana ke depannya kami akan membuat konsep cafĂ© untuk Sii Juu,” tutupnya.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/12102-gatot-paristiwahono-sukses-naikkan-derajat-singkong.html

Wednesday, September 7, 2011

INSPIRASI SISWANTO

Peluang Usaha

PELUANG USAHA
INSPIRASI

 
Senin, 05 September 2011 | 12:52  oleh Fahriyadi
INSPIRASI SISWANTO
Siswanto, produsen keripik singkong harga premium (1)
 

Siswanto tak pernah membayangkan, usaha kecil-kecilan membuat keripik singkong berkembang pesat dengan omzet ratusan juta rupiah. Padahal, pemilik perusahaan keripik singkong Citra Rasa di Bekasi ini tetap memilih jalan tradisional dalam membangun usaha keripik tanpa mau "melibatkan" mesin perajang singkong.

Siapa yang tak kenal keripik singkong? Ya, penganan ringan atau snack ini, dengan berbagai variannya, memang menu yang populer. Apalagi di hati sanubari Siswanto, pemilik pabrik keripik singkong Citra Rasa di Bekasi sejak 1998 lalu.

Betapa tidak, berkat irisan tipis singkong tersebut lelaki paruh baya ini sampai pada gerbang kesuksesan. Di tengah padatnya pasar keripik singkong, khususnya di Jabodetabek, Siswanto mampu bersaing dan bahkan mampu keluar sebagai pemenang dalam persaingan.

Berbeda dengan produsen keripik singkong skala UKM kebanyakan yang menyasar segmen menengah ke bawah, Citra Rasa justru bermain segmen premium. Meski Siswanto ogah didaulat sebagai penghasil keripik singkong kelas atas, nyatanya keripik singkong buatannya dijual dengan harga dua kali lipat dari kebanyakan keripik singkong yang dipasarkan di pasar tradisional. "Jika kebanyakan keripik singkong pasar tradisional dijual
Rp 12.000 per kilogram, kami menjual Rp 24.000 per kilogram," tuturnya.

Meski begitu, keripik singkong buatan Siswanto justru digemari dan mampu mengungguli keripik singkong lainnya, dengan harga lebih murah sekalipun. "Itu menandakan, soal camilan harga bukan tolok ukur satu-satunya," tandasnya.

Pria asal Magelang ini beralasan kenapa ia berani menjual harga keripik jauh di atas harga pasar. "Bahan baku singkong yang kami gunakan berkualitas prima. Selain tentunya aspek kesehatan menjadi nomor satu," ucapnya penuh semnagat.

Siswanto mengungkapkan, keripik singkong Citra Rasa menggunakan singkong jenis manggu yang dibelinya dengan harga Rp 1.200-
Rp 1.500 per kilogram (kg) dari petani singkong manggu di Sukabumi. "Adapun singkong yang lazim digunakan pengusaha keripik lain umumnya singkong biasa seharga Rp 700-Rp 800 per kg," ujarnya.

Lelaki 50 tahun ini menuturkan, dari berbagai pengalaman memilih singkong untuk bahan keripik, singkong manggu adalah jenis terbaik yang enak dan lezat untuk dibuat keripik. Singkong ini mempunyai karakteristik: permukaan yang agak kasar dengan warna lebih putih ketimbang singkong pada umumnya.

Namun, Siswanto mengakui, singkong manggu tak bisa bertahan lama, sehingga suplai bahan bakunya ini disesuaikan dengan kapasitas produksi. "Singkong ini biasanya datang sore dan malam hari, paginya mulai diproduksi dan selalu habis," ungkapnya

Untuk menjaga cita rasa, Siswanto masih mempertahankan pengolahan dengan cara-cara tradisional. Dia sengaja menghindari penggunaan mesin meski pemotongan singkong dengan mesin bisa memproduksi keripik lebih banyak. Siswanto lebih suka merajang singkong setipis-tipis dengan menggunakan tenaga-tenaga terampil.

Dengan sistem yang lebih "padat karya" itu, Siswanto mengaku mulai dari pemilihan singkong, pengupasan, penggorengan, hingga pengemasan hanya mengandalkan karyawannya yang kini berjumlah 12 orang.

Tak hanya itu, ia juga menggunakan minyak goreng dan plastik khusus untuk makanan yang sesuai dengan standar Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). "Jadi, untuk ongkos produksi saja memang lebih besar ketimbang keripik singkong lain," akunya.

Meski digarap tanpa mesin, ia mengaku, saban hari dapat memproduksi 500 kg singkong untuk diolah menjadi 300 kg keripik. Dengan menjual dalam kemasan berukuran 125 gram dengan harga jual Rp 3.000, ia mengaku tiap hari hasil produksinya selalu ludes tak bersisa. Omzet Siswanto pun mencapai Rp 7 juta per hari atau Rp 140 juta per bulan.

Sejauh ini, keripik singkong Citra Rasa buatan Siswanto tak hanya menghiasi pasar tradisional, tapi juga minimarket dan swalayan yang berada di Jabodetabek, Banten, dan kota-kota di Jawa Barat.
Siswanto merasa tak pernah gentar menghadapi persaingan dengan bermain di pasar premium. Ia tak khawatir pasarnya tergerus harga keripik yang lebih murah. "Beberapa saat mungkin orang jenuh pada keripik singkong, tapi tak lama kemudian mereka mencari lagi," ungkapnya.
Selasa, 06 September 2011 | 12:31  oleh Fahriyadi
INSPIRASI SISWANTO
Siswanto berjodoh dengan singkong sejak kecil (2)
 
Siswanto sudah berjodoh dengan singkong sejak kecil. Kesulitan ekonomi membuatnya banyak mengonsumsi singkong sebagai pengganti nasi. Setelah dewasa, ia juga bekerja di pabrik keripik singkong. Dari pabrik singkong itu pula, Siswanto punya pengetahuan bagaimana mengolah dan memasarkan keripik singkong.

Dibesarkan dari keluarga pedagang kecil di sebuah desa wilayah Kabupaten Magelang, Siswanto yang kini berumur 50 tahun ini mengenang, saat kecil keluarganya jarang mengonsumsi nasi. "Makan singkong jadi alternatif, jika beras sulit dicari dan mahal harganya," cerita Siswanto.

Itulah sebabnya Siswanto sudah sedemikian akrab dengan singkong. Bahkan ketika dia beranjak dewasa, keakrabannya dengan singkong tak pernah luntur. Bahkan, karena singkong pula, hidup Siswanto kini berubah.

Pada 1979, Siswanto hijrah ke Bekasi untuk membantu usaha pembuatan keripik singkong yang dikelola sang kakak. Dari situlah Siswanto belajar mengolah dan berbisnis keripik singkong. Selain belajar soal proses produksi, Siswanto juga belajar tentang karakteristik singkong.

Tak puas hanya membantu usaha kakak, setelah bekerja selama hampir dua dekade, pada 1997, ia memutuskan untuk mandiri. "Saya ingin menjajal usaha sendiri," katanya.

Hasil belajarnya tak sia-sia, Siswanto jadi paham aneka karakteristik singkong. Ia bahkan sampai pada kesimpulan, dari ratusan jenis singkong di Indonesia, tak semuanya cocok dibuat keripik.

Siswanto mengaku butuh waktu sekitar 10 tahun untuk menemukan jenis singkong yang benar-benar pas untuk dibuat keripik. "Jika keliru dalam memilih singkong dapat berakibat fatal," tegasnya.

Apalagi ada beberapa jenis singkong yang hanya layak untuk campuran pakan ternak. Selain itu, singkong bukanlah komoditas yang awet untuk disimpan. Jumlah pasokan singkong harus disesuaikan dengan produksi untuk menghindari kerusakan singkong. Maklum, usia singkong untuk bisa dikonsumsi tak lebih dari tiga hari.

Berbekal pengetahuan ini, Siswanto pada 1998 mulai merintis usaha keripik singkong Citra Rasa. Keterbatasan modal dan peralatan tak menyurutkan langkahnya untuk berwirausaha. "Modal saya cuma tabungan hasil kerja bersama kakak," ujarnya tanpa mau menyebut besarnya modal.

Setelah dua tahun merintis usaha, akhirnya keripik singkong Citra Rasa mulai berkembang dan membuahkan hasil. Perkembangan ini membuat Siswanto mulai memproduksi keripik singkong berbagai rasa, seperti balado, jagung bakar, dan barbeque.

Dengan harga Rp 750 per 125 gram kala itu, lelaki yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD) ini mulai melaju dengan mengguyur pasar-pasar tradisional di berbagai wilayah Bekasi dan Cirebon.

Usaha keripik singkongnya terus berkembang. Pada 2005 ia bahkan berani menginvestasikan dana tak kurang dari Rp 60 juta untuk menyewa puluhan hektare tanah di wilayah Sukabumi, Jawa Barat. Tanah itu digunakan untuk budidaya singkong untuk menjamin pasokan bahan baku. Dari hasil kebun itu, Siswanto bisa memproduksi keripik singkong hingga 1,2 ton per hari.

Namun, upayanya untuk mengamankan bahan baku tak berhasil. Pada 2007 atau pascapanen kedua permasalahan muncul. Petani setempat yang menggarap lahan tak lagi mensuplai singkong ke Siswanto. Mereka malah menjual secara sepihak ke pasar atau pabrik tapioka. "Itu jadi pelajaran bagi saya agar lebih hati-hati," kenang Siswanto.

Ia menyesal kenapa sistem sewa lahan untuk bertanam singkong itu tidak ia ikuti dengan pengawasan. Dia hanya menyandarkan kepercayaan pada petani penggarap saja.

Kejadian itu membuat Siswanto kembali membeli singkong dari petani untuk pasokan bahan baku. "Cara ini lebih efektif," ucap bapak dua anak ini.

Namun, kegagalan itu tidak membuat Siswanto menyerah. Ia makin rajin meracik keripik singkong yang layak dijual di supermarket. Bahkan, setelah memperoleh izin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), dia mulai berpikir untuk mempromosikan produknya dengan konsep keripik sehat.

Dengan menggunakan jargon keripik singkong sehat, Siswanto mengaku bisa menjual keripik singkong sedikit lebih tinggi ketimbang kompetitor di pasar tradisional maupun di supermarket.  

Rabu, 07 September 2011 | 14:16  oleh Fahriyadi
INSPIRASI SISWANTO
Siswanto terempas kenaikan bahan baku singkong (3)
 
Sesaknya pasaran dengan keripik singkong rasa dan kenaikan harga bahan baku singkong mangu membuat usaha Siswanto goyah. Dia pun terpaksa mengambil strategi dengan tidak lagi memproduksi keripik singkong rasa. Tak hanya itu, dia juga harus mengurangi total produksi tinggal setengahnya dan menaikkan harga produk.

Maraknya aneka produksi keripik singkong di awal 2009, membuat usaha Siswanto meriang. Berbagai strategi dilakukan agar Citra Rasa yang dibangunnya selama 11 tahun bisa bertahan. "Keputusan yang tepat dan cepat harus dilakukan," kata Siswanto.

Saat itu, berbagai tawaran keripik singkong rasa bermunculan. Dengan kemasan modern yang menarik, penjualan keripik singkong aneka rasa mulai menyebar ke berbagai supermarket hingga pasar tradisional.

Siswanto menyadari betul, kalau dia tetap bermain di ceruk pasar yang sama, perlahan namun pasti, usahanya bakal tinggal kenangan. Itulah sebabnya, Siswanto langsung banting setir dengan mengurangi produksi keripik singkong rasa.

Bahkan menurut Siswanto, persaingan produk keripik singkong rasa yang ketat, membuat potensi keripik singkong tradisional dengan rasa asin gurih kembali naik. Strategi ini juga dilakukan untuk menyiasati harga bahan baku singkong mangu yang terus melambung, dari Rp 1.000 per kg menjadi Rp 1.300 per kg.

Akibat kenaikan harga singkong mangu itu Siswanto terpaksa menurunkan kapasitas produksi dari 1,2 ton singkong mentah per hari menjadi 1 ton singkong mentah per hari. "Dari 1 ton, saya hanya mampu memperoleh sekitar 750 kg keripik per hari," ucapnya.

Analisis Siswanto benar. Keripik singkong tradisional, mendapat sambutan positif di masyarakat. Setelah sebulan diedarkan ke pasar, penjualan terus naik. "Bisa jadi karena mereka jenuh dengan keripik singkong rasa," tuturnya.

Berkat strateginya itu, dia berhasil mempertahankan 12 karyawannya. Walaupun usahanya goyah, dengan memproduksi keripik asin, dia bisa mengurangi biaya produksi sehingga tidak jatuh terlalu dalam.

Namun, Siswanto belum bisa bernapas lega. Harga singkong mangu yang telah naik Rp 1.300 per kg, naik lagi menjadi Rp 1.800 per kg pada 2011. Kenaikan gila-gilaan ini dibarengi melambungnya harga kemasan plastik dan minyak goreng kemasan.

Benturan yang bertubi-tubi itu membuat Siswanto tak punya pilihan lain kecuali menaikkan harga jual. "Sebenarnya naik bertahap semenjak 2009, sembari melihat respons pasar," tuturnya. Saat ini harga keripik singkong Citra Rasa kemasan 125 gram sebesar Rp 3.500, naik dari harga Rp 2.500 pada 2009.

Tak hanya menaikkan harga jual, Siswanto juga menurunkan produksi hingga tinggal 500 kg keripik sejak Mei 2011 lalu. "Mengurangi kualitas bahan baku untuk menutupi kenaikan harga bukan pilihan. Masih ada cara lain yang bisa dipilih," katanya. Dan Siswanto memilih tetap mempertahankan singkong mangu sebagai bahan baku utama.

Karena itu, tak ada yang lebih diharapkan oleh Siswanto saat ini selain penurunan harga singkong mangu. Dengan harga yang terjangkau, dia bisa menurunkan harga sehingga penjualan keripiknya bisa naik lagi.

Kondisi ini sempat membuat usahanya berhenti beroperasi selama 3 minggu pada Juli lalu. Sebab, ia melihat stok keripik singkong Citra Rasa masih melimpah di pasaran. Walaupun begitu, Siswanto tetap optimistis badai yang menerpa bisnisnya akan berlalu. Bagi Siswanto, meski keuntungan menipis, bukanlah masalah. Yang penting, ia tetap bisa menggaji karyawannya.

Kini, Siswanto mulai berpikir untuk mencari pasokan singkong mangu yang lebih murah. Salah satunya dengan mencari mitra pengusaha keripik singkong lain untuk membuka atau menyewa lahan untuk bertanam singkong sebagai sumber bahan baku. Pengalaman tak enak empat tahun lalu ketika menyewa lahan sendiri, membuat Siswanto lebih hati-hati.

Melihat kondisi umur yang semakin tua, dia juga mulai sedikit demi sedikit menyerahkan pengembangan usaha keripik singkong Citra Rasa kepada sang anak. Ia mengaku telah mentransfer semua ilmu dan pengetahuan kepada putranya. "Bekal yang saya berikan sudah cukup. Sekarang tinggal bagaimana ia mengembangkannya sendiri," tutupnya.

sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1315201970/76604/Siswanto-produsen-keripik-singkong-harga-premium-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1315287087/76706/Siswanto-berjodoh-dengan-singkong-sejak-kecil-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/76824/Siswanto-terempas-kenaikan-bahan-baku-singkong-3