Showing posts with label risiko. Show all posts
Showing posts with label risiko. Show all posts

Tuesday, October 9, 2012

Mengenali Risiko Berinvestasi

Hits : 228 PDF Cetak E-mail
risikoinvestasi0912
Investasi menjadi sebuah kebutuhan bagi setiap orang saat ini. Sebab, kesuksesan bukanlah sesuatu yang abadi, saat ini materi tercukupi tapi bisa saja di hari tua justru kehilangan kekayaan yang dimiliki.

Dalam berinvestasi setiap orang juga harus memperhatikan segala risikonya. Hati-hati menentukan pilihan jenis investasi apa yang akan dipilih. Karena, bisa saja setiap saat harta yang diinvestasikan tidak kembali karena sesuatu hal yang sulit dijelaskan. Kasus yang menjerat Koperasi Langit Biru di Cikasungka, Banten, adalah contoh nyata di mana sekitar 4.000 nasabah menjadi korban penipuan.

Pengenalan risiko berinvestasi patut diketahui bagi kalangan yang baru pertama kali melakukannya. Investor harus berhati-hati dan pandai mengatur pendapatan dan pengeluaran agar masa depan keluarga tidak disulitkan masalah keuangan. Risiko berinvestasi bisa dilakukan dengan mengetahui jenis investasi yang akan dipilih.

Senior Vice President Retail Investment & Consumer Treasury Head Citi Indonesia Harsya Prasetyo mengatakan, pilihan yang lebih baik bagi yang ingin berinvestasi adalah dengan berdisiplin menaruh tabungannya, apakah setiap bulan, tiga bulan, atau satu tahun sekali. Metode ini biasanya disebut dollar cost averaging(DCA).

“DCA adalah metode investasi dengan menginvestasikan uang dengan teratur secara bulanan tanpa mengindahkan kondisi pasar. Metode ini memberikan manfaat berlapis bagi investor,” kata Harsya seperti dikutip dari Harian Seputar Indonesia.

Strategi investasi ini bisa meminimalisasi risiko yang terjadi di kemudian hari. Metode ini menghindarkan investor dari godaan dari mencoba-coba masuk di harga yang terendah dan menjual di harga yang tertinggi (timing the market) dan nilai investasi yang berlebihan( over trading).

Selain itu, metode ini membantu investor menerapkan disiplin investasi sambil mengurangi harga rata-rata pembelian unit di saat pasar sedang bergejolak. Pentingnya untuk mengenali risiko berinvestasi juga diungkapkan President Director First State Investments Indonesia Hario Soeprobo. Hal pertama yang wajib dilakukan dalam berinvestasi adalah menentukan profil risiko dan tujuan investasi bagi yang berinvestasi pertama kalinya.

“Karena, hal itu bertujuan agar memiliki pengetahuan yang baik mengenai keadaan pasar, menentukan komposisi aset yang tepat dalam portofolio investasi, melakukan review portofolio secara berkala, serta disertai disiplin dan kesabaran dalam berinvestasi akan membantu mewujudkan imbal hasil portofolio yang maksimal,” ungkapnya.

Beberapa hal yang dapat menimbulkan risiko bagi investasi yaitu berkurangnya nilai unit, risiko kredit, risiko likuiditas, dan risiko politik dan ekonomi dalam negeri. Risiko berkurangnya unit biasanya dipengaruhi situasi makro ekonomi dan keamanan dalam negeri. Kondisi politik dan ekonomi dalam negeri berpengaruh jika situasi tersebut berujung pada perubahan undang-undang yang berkaitan dengan dunia usaha, terutama perbankan.

Sementara, perencana keuangan Safir Senduk mengatakan, ada dua cara yang bisa dilakukan bagi yang ingin memulai berinvestasi secara aman dan menghasilkan. Pertama, berinvestasi secara periodik. Strategi yang pertama ini berarti harus dilakukan mereka yang ingin berinvestasi secara rutin.

Cara ini bisa dilakukan misalnya satu bulan sekali, dua bulan sekali atau satu tahun sekali. Yang penting adalah rutinitasnya. ”Tidak pasti ada yang berinvestasi setiap satu atau dua minggu sekali. Yang menjadi keharusan adalah ini dilakukan secara rutin dan teratur. Dengan begitu, cara ini seperti menumpuk kekayaan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit,” kata Safir.

Strategi investasi pertama ini dinilai efektif bagi pemula. Pasalnya, bagi yang ingin berinvestasi tidak perlu memiliki uang banyak untuk memulai ini. Dengan menaruh dana sedikit dari sisa pendapatan hasil kerja setiap bulan pada sebuah produk investasi tertentu, maka lama-lama akan terkumpul jumlah saldo lebih besar dibanding sebelumnya. Selanjutnya, cara ini dilakukan secara berkelanjutan dan dinamis.

Kedua, berinvestasi sekali saja (lump sum). Cara investasi ini cukup dilakukan sekali saja. Uang yang akan diinvestasikan dimasukkan ke produk investasi tertentu atau didepositokan selama beberapa tahun. Uang yang diendapkan ini secara teratur juga akan mendapatkan bunga sendiri. “Kedua cara ini memiliki nilai investasi yang sama berarti. Namun, lebih pas jika menggunakan cara yang pertama,” kata Safir.

http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/182-investasi/20652-mengenali-risiko-berinvestasi.html

Saturday, September 1, 2012

Cara Yakinkan Orang Lain untuk Terima Risiko

Hits : 625 PDF Cetak E-mail
Jumat, 31 Agustus 2012 14:02
Resesi yang terjadi dalam perekonomian dunia menyebabkan orang berfokus pada apa yang mereka harus relakan untuk dilepas, daripada memikirkan apa yang harus mereka peroleh. Namun tanpa mengambil risiko, tidak akan ada inovasi atau pertumbuhan yang diraih oleh perusahaan Anda. Untuk membantu orang di sekitar Anda menerima risiko, ajukan gagasan dalam pengertian yang mudah mereka mengerti.

Tunjukkan pada mereka kesalahan yang besar yang bisa mereka hindari jika mereka mau menerima gagasan Anda untuk menerima risiko yang tersembunyi. Tempatkan pengambilan risiko sebagai suatu hal yang tidak boleh ditinggalkan tetapi juga tidak perlu untuk digembor-gemborkan. Orang sekarang ini tidak akan melakukan tindakan jika mereka tidak ditunjukkan akibat yang harus ditanggung jika mereka tidak bertindak. (AP)

Sumber gambar: icashblog.com

http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/37-advise/19672-cara-yakinkan-orang-lain-untuk-terima-risiko.html

Tuesday, August 14, 2012

Cara Mengambil Risiko yang Aman

Hits : 582 PDF Cetak E-mail
Entrepreneur, jangan ambil jalan yang ‘aman’! Tapi apa itu jalan yang ‘aman’? Jalan yang aman biasanya ialah sebuah jalur yang sudah dilalui banyak orang, diyakini menjadi jalan paling baik untuk mencapai tujuan dengan risiko yang paling minimal.

play_riskNamun, menurut Greg Waldorf (CEO eHarmony) jalan yang ‘aman’ bukan jalan yang akan membawa kita menjadi seorang entrepreneur unggul. Seorang entrepreneur sejati tahu jalur mana yang harus ia tempuh, yang belum dilalui banyak orang dan pada saat yang sama. Dia memiliki sebuah proyeksi dan insting bahwa apa yang ia lalui membimbingnya menuju tujuan yang ditetapkan sebelumnya

Di akhir masa studi kita (jika masih kuliah), akan ditanya tentang apa yang akan dilakukan saat kita telah lulus kelak. Dibutuhkan keberanian ekstra untuk mengatakan dan menjalani pilihan karir yang tidak biasa atau alternatif karir yang kurang lazim karena dipandang lebih berisiko bagi banyak orang.

Waldorf menceritakan kisah sukses beberapa temannya yang berani mengambil risiko dengan cerdas.  Greg, seorang teman kuliah Waldorf di tahun 1994 menerima lowongan kerja di sebuah perusahaan baru yang tidak terkenal bernama Mosaic Communications. Keputusan itu disayangkan oleh orang-orang di sekitarnya karena sebenarnya ia bisa diterima di sebuah perusahaan yang jauh lebih besar dan terkenal. Namun, keputusan teman Waldorf itu terbukti tidak patut disesali karena Mosaic kemudian menjelma menjadi salah satu perusahaan kunci dalam perkembangan awal internet; Netscape. Dalam kasus ini, Greg mengambil sebuah keputusan yang tepat untuk bisa terjun dalam bisnis dan bekerja dengan entrepreneur terkenal di Netscape meski pada awalnya usaha yang ditekuni Mosaic dianggap terlalu berisiko oleh masyarakat pada umumnya.

“Jangan pernah menerima peluang yang datang hanya karena kita khawatir akan tertinggal dari prestasi teman-teman sebaya kita”, tukas Waldorf dengan keyakinan penuh. Sebaiknya tidak usah menghiraukan apa yang telah dicapai orang lain. Berfokuslah pada diri sendiri. Temukan motivasi dan gairah Anda sendiri, bukan hanya untuk memenangkan persaingan dari orang lain di sekitar Anda. (*/Akhlis)
http://www.ciputraentrepreneurship.com/amankan-bisnis/16356-cara-mengambil-risiko-yang-aman.html

Monday, June 4, 2012

Bagaimana Mengelola Risiko Investasi? Ini Triknya

Views :485 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 04 Juni 2012 11:26
CE-logoInvestor perlu mengelola risiko investasi dengan tepat untuk mengelola portofolionya. Terlebih dalam kondisi pasar modal yang tengah menurun seperti saat ini.

Senior Vice President Retail Investment and Consumer Treasury Head, Citi Indonesia, Harsya Prasetyo, membagi tips untuk para investor agar bisa mengelola risiko.

Pertama, menyisihkan dana likuid berupa deposito atau tabungan sebesar 12 bulan biaya hidup sebagai dana darurat. Dana ini di luar dana yang akan diinvestasikan.

Kedua, menerapkan cara investasi yang lebih sistematis seperti Dollar Cost Averaging dan melakukan diversifikasi. Yang dimaksud Dollar Cost Averaging yaitu teknik investasi yang dilakukan secara teratur atau bertahap.

Cara ini juga memberikan kesempatan lebih tinggi bagi investor untuk meraih keuntungan, karena investor mendapatkan harga rata-rata investasi per unit yang lebih rendah dibanding cara investasi bukan melalui teknik ini.

"Manfaat lainnya, investor tak perlu mengira-ngira waktu yang tepat untuk investasi atau mengikuti keputusan investasi orang lain, karena investasi dilakukan secara berkala," ujar Harsya.

Sementara itu, cara yang lain yaitu melakukan diversifikasi. Meski terlihat sederhana, konsep ini tidak mudah untuk diterapkan. Hal ini disebabkan oleh faktor psikologi yang cenderung untuk melakukan overtrading.

Investor sebaiknya mendiversifikasi portofolio ke berbagai jenis aset dengan komposisi yang sesuai dengan profil risikonya. "Dengan diversifikasi yang sesuai, investor memiliki kemungkinan lebih besar untuk mencapai tujuan investasinya," ujarnya. (*/VIVAnews)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/182-investasi/17370-bagaimana-mengelola-resiko-investasi-ini-triknya.html

Tuesday, May 22, 2012

Bagaimana Menimbang Risiko dalam Memulai Bisnis?

Selasa, 22/05/2012 11:24 WIB
Bagaimana Menimbang Risiko dalam Memulai Bisnis? 
Tung Desem Waringin - detikFinance




Jakarta - Pengusaha kawakan Bob Sadino pernah memberikan kiat sederhana bagi seorang pemula yang ingin memulai bisnis. Ternyata kuncinya sangat simple, namun pelaksanaanya tak mudah.

Menurut Bob banyak orang akhirnya tak memulai-mulai usaha walaupun sudah memiliki modal uang. Menurutnya setidaknya ada tiga hal penghalang utama seseorang memulai usaha, yaitu terlalu banyak rencana, menunggu moment yang pas, dan takut menghadapi risiko bisnis.

Terkait dengan risiko, menurutnya bisnis hanya bisa dijalankan bila ada keberanian menerima risiko. Intinya yang paling penting, hilangkan rasa takut, jangan takut. Seseorang tidak mungkin memulai bisnis bila dia tidak memiliki kemauan yang kuat, tekad, berani mengambil peluang, tahan banting, dan tidak lupa untuk bersyukur dan ikhlas.

Terkait hal tadi, berikut ini ulasan singkat mengenai menakar risiko bagi pemula untuk memulai bisnis. Kali ini motivator marketing ternama Tung Desem Waringin mencoba memberikan poin-poin penting bagi anda yang ingin memulai bisnis.

Bagaimana menimbang risiko dalam memulai bisnis?

Dalam memulai suatu Bisnis, yang paling menghambat seseorang bukan modal ataupun ilmu tetapi adalah rasa takut menghadapi risiko. Apabila kita mau memulai bisnis harus belajar yang namanya menimbang risiko, dimana kita dapat tahu dan menilai berapa besar resiko yang akan kita hadapi ketika memulai bisnis tersebut.

Sering kali seseorang ingin memulai bisnis, yang menghambat mereka bukan karena kurang ilmunya, pengetahuan, atau bahkan kurang modal, melainkan rasa takut. Rasa takut yang menghambat mereka untuk memulai bisnis, kalau kita mau mulai belajar bisnis alangkah baiknya kita mengenal satu yang namanya 'risiko'.

Risiko dengan beresiko adalah berbeda, Perbedaan risiko dan berisiko adalah risiko ada 2 unsur, yaitu: pertama besar kecil kemungkinan terjadinya, yang kedua adalah besar kecil akibatnya, bisa itu positif atau negatif.

Sedangkan berisiko apabila kita sudah menimbang risikonya, yaitu besar kecil kemungkinan terjadinya besar kecil akibat negative dan positifnya. Ternyata risikonya tidak bisa kita terima, berarti bisnis tersebut beresiko.

Mari kita tes dengan angka, misalnya Anda mulai bisnis dengan kemungkinan berhasil 1:9. Maksudnya adalah Anda bisnis 10 kali berhasilnya cuma sekali, yang kesepuluh bangkrut. Kira-kira Anda mau atau tidak? Tentu saja Anda berbicara tidak mau, Kenapa tidak mau? Karena Anda merasa kemungkinan gagalnya jauh lebih besar dan Anda tidak mau terjadi hal seperti itu. Anda lupa menimbang apa yang perlu Anda timbang? Yaitu besar kecilnya akibatnya kalau terjadi.

Misalnya begini, kalau bisnis Anda gagal, Anda cuma bayar satu, tetapi kalau berhasil Anda dapat 50 kali. Mari sekarang kita hitung lagi, saya ulangi sekali lagi. Kalau Anda tidak berhasil efeknya paling buruk Anda bayarnya cuma satu.Tetapi sekali berhasil Anda dapat 50 risikonya, bisa Anda terima.

Mari kita hitung usaha Anda, 10 kali berhasilnya cuma 1. Berarti Anda gagalnya 9 kali dan Anda bayar satu, satu saja. Tetapi kalau Anda berhasil dapatnya 50 kira-kira mau tidak? Jawabannya sudah pasti Mau, berapa kali. Anda pasti mau sebanyak-banyaknya bisnis dengan kemungkinan berhasil 10 persen. Karena kalau sekali berhasil Anda dapat 50 kali lipat di banding kalau Anda gagal sekali. Sekarang ketika mulai bisnis kita akan selalu menimbang akan hal ini.

Kemungkinan berhasilnya berapa persen dan kemudian yang kedua adalah akibatnya apa? Kalau saya berhasil saya dapat apa? Tetapi kalau saya tidak berhasil saya bayar berapa. Berarti tergantung juga satu unsur lagi dari kondisi keuangan Anda.

Kalau kondisi keuangan Anda hari ini misalnya 20, Anda mainnya berapa? Misalnya Anda mainnya dua,dua,dua. Atau Anda mainnya satu,satu. Atau mainnya sepuluh, sepuluh dan Anda cuma main dua kali saja. Kalau kemungkinan berhasilnya 1:9 atau 10 persen, Anda cuma punya uang 20 Anda harus main dan mainnya satuan saja. Misalnya Rp 20.000.000 Anda mainnya Rp 1.000.000, Rp.1.000.000. Tetapi kalau Rp 100.000.000 Anda main Rp10.000.000 ,Rp10.000.000 .

Karena rasio keberhasilannya 1:9 main 10 kali 9 kali gagal dan 1 kali berhasil. Mungkin tidak ternyata luput Anda main Rp20.000.000 dan ikut Rp 1.000.000.Kalau sampai kalah 15 kali pun tidak masalah. Begitu ke 16 kali menang dan dapat Rp50.000.000 baru seru. Dengan demikian ketika memulai bisnis Anda mulai tanya, resikonya apa.

Resiko yang paling buruk, misalnya resiko paling buruk saya kehilangan sejumlah uang sekian. Saya sudah rela, kemudian kemungkinan berhasilnya 50:50. Dan kalau saya berhasil dapatnya 'Lima kali lipat'.Yang paling penting saya bisa main 3 kali sampai 4 kali. Sekali menang saya dapat 5 kali lipat.

Dengan memanage risiko seperti ini kita gali pertanyaan lagi. Misalnya, ketika mau mulai bisnis, akibatnya kalau saya bisnis ini saya kehilangan Rp100.000.000 , dan Rp100.000.000 masih bisa saya terima. Tetapi lebih baik Anda tanya lagi supaya kalau Rp 1.000.000 kemungkinan risikonya jauh lebih kecil. Ini bisa tidak pakai istilah bagi hasil. Tidak harus keluar modal terlebih dahulu, modalnya bisa dari orang lain terlebih dahulu atau dari supplier Anda.

Sehingga Anda tidak pakai modal dan kemungkinan Anda ruginya jauh lebih nol lagi karena sudah tanpa modal sama sekali. Kemudian Anda bisa 'Konsinyasi' terlebih dahulu, akibatnya kalau Anda tidak laku Anda bisa kembalikan saja.

Pertanyaan kedua supaya kemungkinan berhasilnya jauh lebih besar setelah Anda mulai menimbang risiko Anda jangan lupa tanya kedua hal ini. Karena supaya akibatnya jauh lebih kecil, bisa tidak konsinyasi dulu atau bisa tidak ada garansinya.Supaya kemungkinan untung jauh lebih besar, saya harus belajar dengan siapa. Ketika Anda menimbang seperti ini, hidup Anda akan jauh lebih berani dalam mengambil risiko. Karena resiko selalu ada dan bisa terjadi dimana-mana.

Misalnya, Bisa jadi rumah Anda di tabrak pesawat terbang dan Anda mati, mungkin tidak? Itu mungkin sekali dan pertanyaannya itu risiko dan ini kemungkinannya kecil.

Atau bisa juga saat ini jika Anda nonton ramai-ramai bersama saudara Anda mungkin tidak kemungkinannya dapat terjadi, atau risiko ini terjadi tetapi akibatnya kecil. Misalnya orang yang seruangan Anda kentut, pasti kan ada efeknya. Ya efeknya itu bau, kemungkinan terjadinya besar dan itu bisa kita abaikan. Sesuatu hal yang kita timbang ini kita tidak mampu menerimanya berarti resiko.

Anda mulai usaha dengan modal Rp 10 Miliar, duit Anda cuma Rp 2 Miliar. Yang Rp 8 Miliar Anda utang dengan cara Anda gadaikan rumah dan sebagainya, bahkan Anda hutang kepada mafia dan mafianya kejam sekali. “Awas ya saya tahu anak mu sekolah dimana kalau ada apa-apa nanti saya incar anakmu”. Kemudian Anda kerja sama dengan orang yang baru Anda kenal, dan orang tadi baru 2 bulan keluar dari penjara.

Bagi Anda bisnisnya berisiko tidak, tetapi dengan kondisi yang sama dan dengan kepemilikan hartanya lebih banyak. Misalnya Bill Gates modalnya Rp 10 Miliar kemungkinan berhasilnya hampir nol karena partnernya habis keluar dari penjara dan dia bergelut di dunia yang baru. Bagi Bill Gates itu berisiko atau tidak berisiko. Saya simpulkan kalau Anda mau bisnis atau investasi pertimbangkan risiko atau berisiko.

Kalau risikonya ada dan Anda terima kemungkinan berhasil dan bisa Anda terima. Kalau Anda kena resiko lebih kecil maka akibatnya kecil. Dan juga siapa yang bisa bantu saya saya harus joint sama siapa dan sudah Anda timbang semua ternyata masih bisa terima risiko dengan misi kekayaan Anda.

Apalagi kemungkinan kalau menang dapatnya banyak.'Why not'. Makanya saya Tung Desem Waringin saya sering buka dan tutup perusahaan karena sudah menimbang risiko, kalau tidak jadi tutup dan kalau jadi meledak lebih besar.

Semoga bermanfaat saya Tung Desem Waringin mengucapkan salam Dahsyat.


(hen/hen) Sumber:
http://finance.detik.com/read/2012/05/22/112437/1921554/480/bagaimana-menimbang-risiko-dalam-memulai-bisnis

Thursday, April 26, 2012

Mengatasi Risiko Bisnis


Views :1242 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 26 April 2012 10:40
biz_risk1Banyak orang berpendapat, bahwa salah satu ciri entrepreneur yaitu berani mengambil risiko. Seorang entrepereneur dapat melihat risiko jika ia keluar dari zona nyaman, dan masuk ke dalam zona baru yang penuh dengan ketidakpastian. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa seorang entrepreneur sukses bukanlah orang yang hanya sekadar berani mengambil risiko. Lebih dari itu, mereka juga harus bisa mengelola segala risiko menjadi sebuah peluang baru yang menguntungkan.

Memulai usaha memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Dibutuhkan keberanian dan strategi bisnis yang matang, sebelum akhirnya masuk ke zona yang serba tak pasti ini. Semua peluang bisnis memang memiliki risiko, walaupun tingkat risiko yang dimiliki berbeda-beda. Ada usaha yang berisiko besar, dan ada pula yang risikonya kecil, namun bukan berarti risiko-risiko tersebut tidak bisa diatasi dan diminimalisasi. Bagaimana cara mengatasi atau mengurangi risiko bisnis? Berikut langkah-langkah yang perlu Anda perhatikan.

1. Sebelum memulai usaha, sebaiknya Anda melakukan riset mengenai hambatan-hambatan yang mungkin akan muncul di tengah perjalanan usaha. Dengan begitu Anda dapat menyiapkan strategi sedini mungkin, untuk mengantisipasi hambatan di masa depan. Salah satu risiko yang sering menghambat adalah risiko peningkatan persaingan bisnis.

2. Pilihlah peluang bisnis sesuai dengan skil dan minat yang Anda miliki. Jangan sampai Anda memulai usaha hanya karena ikut-ikutan tren yang ada. Dengan memulai usaha sesuai dengan skil dan minat, setidaknya Anda memiliki bekal pengetahuan dan keahlian untuk mengurangi dan mengatasi segala risiko yang muncul di tengah perjalanan Anda. Hindari peluang usaha yang tidak Anda kuasai, ini dilakukan agar Anda tidak kesulitan dalam mengatasi segala risikonya.

3. Carilah informasi mengenai kunci kesuksesan bisnis Anda. Hal tersebut bisa membantu Anda untuk menentukan langkah-langkah yang dapat membuat usaha Anda berkembang, dan langkah apa saja yang tidak perlu dilakukan untuk mengurangi munculnya risiko yang tidak diinginkan.

4. Sesuaikan besar modal usaha yang Anda miliki dengan risiko usaha yang Anda ambil. Jangan terlalu memaksakan diri untuk mengambil peluang usaha yang berisiko besar, jika modal usaha yang Anda miliki juga masih terbatas.

5. Kesuksesan bisnis bisa dibangun dengan adanya keteguhan hati yang didukung kreativitas. Dengan keteguhan hati serta kreativitas mencipta ide-ide baru, kesuksesan usaha akan mudah dicapai. Jika Anda mampu memenuhi syarat ini, segala risiko yang muncul, akan bisa Anda atasi dengan baik.

6. Carilah informasi tentang prospek bisnis tersebut sebelum mengambil sebuah risiko. Saat ini banyak peluang usaha yang tiba-tiba booming, namun prospek bisnisnya tidak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan bulan saja, bisnis tersebut surut seiring dengan bergantinya tren pasar. Sebaiknya Anda menghindari jenis peluang usaha seperti itu, karena risikonya cukup besar.

7. Ketahui tingkat kebutuhan masyarakat akan produk Anda. Semakin besar tingkat kebutuhan konsumen akan sebuah produk, maka risiko bisnis akan semakin kecil, setidaknya risiko dalam memasarkan produk.

Dari informasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa semua risiko bisnis dapat diatasi dengan kejelian, ketekunan dan kreativitas. Oleh karena itu, tingkatkan kemampuan dan pengetahuan Anda dalam menjalankan usaha, agar segala risiko yang muncul di tengah perjalanan tidak sampai merugikan bisnis Anda. (*/dari berbagai sumber/AS)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/amankan-bisnis/16357-mengatasi-risiko-bisnis.html

Tuesday, February 21, 2012

Perkecil Risiko Transaksi Bisnis Dunia Maya

Pengelolaan
Perkecil Risiko Transaksi Bisnis Dunia Maya
Josephus Primus | Josephus Primus | Selasa, 21 Februari 2012 | 17:55 WIB


shutterstock
Meski sudah berintegrasi dengan bank sebagai sarana pembayaran, namun penjual juga harus paham tata cara transaksi online
KOMPAS.com — Data pada 2010 menunjukkan transaksi finansial di dunia maya di Indonesia berada di posisi 3,4 miliar dollar AS. Banyak kalangan percaya, angka ini akan terus meningkat. Pasalnya, di Tanah Air, jumlah pengguna internet makin menjulang.
Menurut informasi yang diterima pada Minggu lalu, total transaksi jual-beli di dunia maya di Indonesia akan meningkat 20 persen. Tantangannya kemudian, sebagaimana pandangan Chief Executive Officer PT Indonesia Payment Solution Ivan Sebastian, ada kebutuhan untuk meminimalisasi risiko kerugian. Pasalnya, transaksi jenis semacam ini membuat pembeli cuma bisa melihat gambar dan penjelasan spesifikasi barang. Sementara itu, penjual tidak bisa mengetahui iktikad baik atau buruk calon pembeli.
Berangkat dari sinilah, sejak beroperasi pada 3 Oktober 2011, Ivan menerangkan, pihaknya memperkenalkan sistem jual-beli dunia maya bernama Inapay kepada publik. Menurutnya, untuk dapat menikmati layanan Inapay, baik pembeli maupun penjual harus terlebih dahulu sepakat melakukan transaksi jual-beli dengan melakukan pembayaran proses itu melalui Inapay.

Secara teknis, tahapannya adalah sebagai berikut. Setelah terjadi kesepakatan transaksi antara pembeli dan penjual, pembeli mengirimkan uang pembayaran barang kepada Inapay dan mengonfirmasikannya melalui sistem Inapay. Kemudian, Inapay akan melakukan verifikasi bahwa dana sudah masuk di rekening Inapay. Selanjutnya, sistem Inapay akan mengonfirmasikan kepada penjual bahwa pembeli telah melakukan pembayaran.
Setelah itu, penjual mengirimkan barang kepada pembeli. Sekaligus, penjual mengonfirmasikan pengiriman barangnya kepada pembeli melalui sistem Inapay. Pengiriman barang (delivery) dilakukan oleh jasa pengiriman yang sistemnya bisa dilacak, seperti TIKI, Pos Indonesia, dan JNE. 
Jika telah menerima barang, maka pembeli mengonfirmasi penerimaan barang tersebut lewat sistem Inapay, dan selanjutnya Inapay akan melakukan pembayaran kepada penjual. Para pengguna bisa melihat lebih lengkap sistem ini di tautan https://inapay.com/index.php/procedure
Saat ini, sampai waktu yang belum ditentukan, baik penjual maupun pembeli tidak dikenakan biaya apa pun alias gratis dalam menggunakan layanan Inapay.

Sumber:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/02/21/1755393/Perkecil.Risiko.Transaksi.Bisnis.Dunia.Maya

Tuesday, January 24, 2012

Entrepreneur Sukses Harus Berani Ambil Risiko


Views :361 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 24 Januari 2012 15:09
business-communityVisi merupakan faktor terpenting dalam mengarungi dunia entrepreneurship dan terus belajar adalah hal penting dalam bisnis. Di dalam sebuah lingkup perekonomian yang sedang berkembang, keberhasilan entrepreneurship juga turut ditunjang oleh ekosistem serta kebijakan yang sesuai. Entrepreneurship, inovasi dan kreatifitas hanya dapat tumbuh di sebuah lingkungan yang beratmosfirkan kebebasan.

Demikianlah beberapa cuplikan observasi yang dihasilkan pada hari pertama pembukaan ajang Global Competitiveness Forum (GCF) ke-6 yang terselenggara selama tiga hari, yakni 23 – 25 Januari di Riyadh.

Dari rilis yang diterima Reuters, Senin 23 Januari 2012, GCF 2012 khusus mengambil tema entrepreneurship. “Kami memilih tema ini karena entrepreneurship merupakan kunci utama untuk meningkatkan daya saing dalam ekonomi nasional dan meningkatkan kinerja pemerintah serta sektor swasta,” jelas CEO GCF Abdullah Al Uzaib di acara pembukaan GCF ke-6 tersebut.

Bertajuk “The Entrepreneurship Imperative”, acara itu dihadiri sekitar 2.000 delegasi plus ratusan pebisnis dari penjuru dunia yang pada rencananya akan berbagi mengenai pendapat serta wawasannya di dunia entrepreneurship.

Di hari pertama, seperti dilansir dari laman Arab News, Senin 23 Januari 2012, ada beberapa pebisnis serta entrepreneur sukses yang berbagi resep seputar entrepreneurship. Mereka adalah :

George Buckley, pimpinan dan CEO 3M menyatakan bahwa cara terbaik untuk bisa bertahan dari persaingan adalah melalui inovasi. “Tidak ada medali perak untuk posisi kedua dalam dunia yang penuh dengan “gelar juara”. Anda harus berubah lebih cepat dari kompetitor. Cara terbaik untuk memproyeksikan masa depan adalah dengan menciptakannya. Inovasi memang berisiko tapi sangat penting. Jika tidak berinovasi, Anda tidak akan pernah memenangi pertarungan kompetitif seberapapun besarnya Anda berusaha. Anda harus berinovasi untuk bias bertahan. Tidak ada data di masa depan—inovasi adalah apa yang kita butuhkan. Anda tidak bisa berinovasi tanpa rasa optimistik.”

Anna Dutra, CEO Korn/Ferry Leadership and Talent Consulting menyatakan bahwa entrepreneur yang sukses haruslah yang berani. “Entrepreneur besar mampu melihat kesempatan (peluang) di mana orang lain tak melihatnya. Mereka memiliki kemampuan ini untuk memantau kondisi ekonomi, pangsa pasar dan peluang serta mengambil risiko. Mereka berhasil dengan tantangannya. Mereka mengambil risiko. Mereka berani. Dengan hal-hal itulah mereka bisa sukses.”

Fadi Ghandour, pendiri dan CEO Aramex menambahkan, “Kita harus membangun budaya entrepreneurial sejak dini dan memperkenalkannya sebagai karir sarat risiko yang diinginkan. Kita tidak butuh modal asing, Anda membutuhkan wawasan mereka untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang sangat dibutuhkan saat ini.”

Magatte Wade, entrepreneur, pendiri dan CEO The Tiosanno Tribes berpendapat bahwa setiap orang bisa membangun semangat entrepreneurial. “Apapun hal yang paling menyebalkan dalam hidup Anda, itu adalah sebuah kesempatan untuk bertindak dan membangun sesuatu.” (*/ely)

 Sumber:
 http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/37-advise/14587-entrepreneur-sukses-harus-berani-ambil-risiko.html

Wednesday, August 3, 2011

Kenali Tiga Risiko Sebelum Membeli Perusahaan

PDF Cetak E-mail
Selasa, 02 Agustus 2011 14:45
Tak sedikit calon entrepreneur mempunyai keterbatasan ide atau waktu dalam mencipta usaha baru sehingga mereka tertarik untuk membeli bisnis atau perusahaan yang telah eksis. Mengelola bisnis baru, terutama yang sudah stabil memang low risk tapi bukan berarti tak ada risiko sama sekali. Nah, agar tak menyesal, kenali terlebih dahulu tiga risiko membeli perusahaan yang sudah berdiri.

risiko_membeli_perusahaanMasalah tak terduga
Ketika memasuki sebuah lingkungan yang terbilang baru, Anda perlu beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada untuk mengenal lingkungan tersebut. Demikian pula ketika membeli perusahaan baru. Walaupun posisi Anda sebagai owner yang memegang kendali penuh tapi di perusahaan itu Anda tetaplah orang baru yang memegang tanggung jawab besar terhadap perkembangan perusahaan. Karena itu, proses penyesuaian diri perlu dilakukan.

Permasalahan tak terduga bisa saja muncul kala Anda membuat kebijakan baru. Karyawan lama yang telah terpercaya dan sudah mengabdikan diri bertahun-tahun demi kemajuan perusahaan mungkin tak setuju dengan kebijakan tersebut sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri. Momen ini yang kerap kali memunculkan masalah tak terduga. Si karyawan lama dengan pengalaman serta jam terbang tinggi dan telah mengenal seluk beluk perusahaan mungkin saja pindah ke perusahaan pesaing Anda.

Sementara itu, di sela-sela membuat business plan, perhatian serta waktu Anda terbagi untuk melakukan rekrutmen pegawai baru serta memikirkan strategi jitu agar lolos dari persaingan.

Perubahan aturan
Perubahan aturan yang ditetapkan pemerintah setempat bisa menjadi risiko yang perlu diwaspadai saat membeli perusahaan baru. Misal, pelarangan taman hijau di tengah kota untuk kawasan bisnis yang ditetapkan beberapa tahun lalu oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta, berimbas pada penutupan sejumlah SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) yang telah beroperasi lama.

Investor
Kejelian dalam mengenal perusahaan yang akan Anda beli sangat krusial. Selidiki siapa sang owner, ada berapa macam bisnis grupnya, dan siapa investor di balik kestabilan bisnis tersebut. Mengapa ini penting? Sebab bisa berdampak pada proses pengambilan keputusan. Memegang saham yang mencukupi, sang investor tentu dapat memengaruhi pengambilan keputusan yang Anda buat.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/47-memulai-bisnis/10192-kenali-tiga-risiko-sebelum-membeli-perusahaan.html