KIAT MANAJEMEN
Erik R. Peterson*
Kamis, 01 November 2012 | 15:42 WIB

----- Pada kenyataannya masih banyak perusahaan yang menempatkan perencanaan strategis sebagai prioritas kedua--
Kebutuhan akan sebuah perencanaan strategis yang berkelanjutan adalah
hal yang tidak terbantahkan, mengingat eksekutif-eksekutif bisnis saat
ini yang harus senantiasa melihat perkembangan, perubahan, kompleksitas
lingkungan bisnis, dan siklus pengambilan keputusan yang semakin pendek.
Masih jelas teringat oleh kita semua bahwa tidak banyak eksekutif
perusahaan maupun pengambil kebijakan ekonomi yang mampu meliha tren
tetang peristiwa pada 2008 yang membawa resesi di dunia. Bahkan bagi
mereka yang bisa memprediksinya, hanya sedikit yang bisa mengambil
strategi yang tepat dalam memitigasi resiko yang timbul.
Tidak mengejutkan apabila survei yang dilakukan oleh A.T. Kearney
Global Policy Council memperlihatkan bahwa lebih dari separuh eksekutif
dan pengambil kebijakan memberifokus yang lebih besar terhadap proses
dan
tools yang digunakan dalam perencanaan strategis paskaresesi 2008/2009.
Dua dari tiga CEO global mengatakan bahwa dunia menjadi sangat
berbeda paskaresesi.Satu-satunya hal yang tetap dimasa datang adalah
perubahan yang tiada henti. Perubahan harga energy I, kejadian-kejadian
tragis dan bencana alam, pergerakan politik dan sosial di berbagai
belahan dunia serta berbagai ketidakpastian lainnya akan senantiasa
mengintai di depan.
Faktor-faktor seperti itulah yang kemudian menuntut suatu proses
perencanaan yang benar-benar bersifat strategis ruang lingkupnya, global
dalam cakupan pandangannya, dan inovatif dalam desainnya, menjadi suatu
keharusan. Kecendrungan untuk mengoptimalkan
tools seperti skenario
analysis, war gaming, mitigasi resiko, dan
foresight analysis – semakin lazim digunakan untuk membantu para eksekutif dalam mengidentifikasi tren yang semakin kompleks.
Walau pada kenyataannya perusahaan melakukan investasi yang tidak
sedikit untuk meningkatkan kemampuan perencanaan strategisnya, pada
kenyataannya masih banyak perusahaan yang menempatkan perencanaan
strategis sebagai prioritas kedua.
Cukup banyak alasan yang bisa diberikan untuk menjelaskan mengapa hal
itu terjadi, tetapi yang kami amati adalah beberapa tekanan kepada para
eksekutif yang kemudian membatasi efektivitas suatu rencana strategis:
Budaya: dalam budaya seperti sekarang ini, para eksekutif mendapat
tekanan untuk berfokus dan bereaksi pada kejadian yang terjadi saat ini.
Prioritas: prioritas jangka pendek dan
urgent seringkali mendominasi pertimbangan-pertimbangan jangka panjang.
Strategi sebagai suatus pekulasi: perencanaan strategis seringkali
dianggap tidak empiris, beberapa metodologinya kurang konkrit dan sulit
dipahami
Perspektif jangka pendek: struktur insentif para eksekutif yang berat
pada jangka pendek, serta sulitnya untuk menghubungkan kinerja sekarang
dengan masa datang.
Dengan segala tekanan dan dinamika seperti ini, tidak mengherankan
jika perencanaan strategis menjadi fungsi yang dinomorduakan. Sangat
sering kita dapati dimana pada satu siklus perencanaan, perusahaan
memilih untuk melaksanakan pertemuan
off-site bagi para eksekutifnya, untuk menyepakati visi dan inisiatif-inisiatif yang dibutuhkan untuk mencapai hal tersebut.
Hasilnya –apa yang kami sebut sebagai strategi yang “terbelenggu” (
stranded strategy)
– adalah inisiatif-inisiatif jangka pendek yang sangat taktis dan mudah
dilupakan sebagai akibat sibuknya perusahaan berhadapan dengan
aktivitas bisnis sehari-hari. Akhirnya, investasi perusahaan yang cukup
besar untuk perencanaan strategis menjadi tidak ekonomis dan tidak
membuahkan hasil sebagaimana diharapkan.
Langkah Menjadi Strategis
Perusahaan mungkin mampu bertahan dengan proses perencanaan strategi
yang sederhana pada era-era sebelumnya, tetapi perubahan lingkungan
bisnis yang cepat saat ini menjadikan strategi yang hanya mengacu pada
kondisi titik waktu tertentu tidak akan pernah cukup.
Resep Perusahaan
A.T. Kearney menyarankan resep yang dapat dilakukan perusahaan untuk
membawa proses perencanaan strategisnya ke tahap lebih lanjut:
Membuka radar: adalah hal yang lazim bagi eksekutif untuk membuat
pemahaman dasar tentang tren global dan secara agresif memetakan
faktor-faktor dominan yang akan mempengaruhi lingkungan eksternal.
Pemahaman tentang bagaimana faktor- faktor tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi operasional bisnis. Melakukan
stress-test terhadap berbagai skenario. Cobalah untuk membuat skenario yang mungkin mengejutkan pada masa datang.
Melalui penggunaa
tools seperti
scenario planning, foresight analysis,
ataupun cara pandang yang non-tradisional terhadap suatu faktor – akan
membantu perencana untuk mengantisipasi berbagai kejadian, bahkan
membawa ide dan pandangan-pandangan baru pada proses perencanaan
strategis secara keseluruhan.
Secara menerus melakukan uji asumsi. Dalam era informasi dan pengetahuan seperti saat ini, hampir tidak mungkin untuk menjadi
update
atas setiap informasi. Seiring dengan penemuan dan pemahaman yang lebih
akan lingkungan, sangat perlu untuk melakukan kalibrasi ulang asumsi
yang ada.
Perhatikan “hal-hal yang belum diketahui”. Adalah sangat mengejutkan
apabila di era yang berubah dengan cepat ini, perencana strategis hanya
berfokus pada faktor-faktor yang sudah diketahuinya sejak lama yang
mempengaruhi bisnis.
Perencana strategis perlu melakukan
scanning
kemungkinan-kemungkinan baru dan mulai memasukkannya dalam perencanaan
bisnis. Pandangan yang lazim mengenai pasar, pesaing dan kondisi politik
di suatu Negara dimana perusahaan beroperasi sudah harus mulai
diperkuat dengan analisis-analisis terkait kondisi pasar, pesaing,
politik dan ekonomi global.
Membuat peringatan-peringatan dini. Fungsi perencana strategis harus
mampu mengembangkan parameter-parameter peringatan dini yang akan memicu
perusahaan agar secara proaktif melihat asumsi dan menentukan
langkah-langkah selanjutnya untuk mengantisipasi suatu perubahan.
Proses perencanaan yang terinstitusionalisasi dan terintegrasi agar
mampu merespon pada perubahan yang terprediksi maupun yang tidak
terprediksi. Sebuah strategi jitu sangat bergantung pada proses
masukannya yang konsisten. Proses perencanaan, dengan level-level detail
yang sesuai, haruslah terintegrasi disetiap dimensi perusahaan – dari
tingkat eksekutif hingga operasional.
Lakukan investasi pada proses. Perkuat kemampuan analis internal,
secara proaktif berhubungan dengan pakar-pakar eksternal, dan melakukan
inovasi dan adopsi
tools perencanaan strategi yang ada.
Pengalaman kami dalam memberikan advis pada perusahaan-perusahaan
terkemuka di dunia, langkah-langkah tersebut akan membantu perusahaan
untuk membuka simpul perencanaan strategis mereka yang selama ini
terikat sehingga mereka siap menghadapi situasi yang semakin tidak
menentu.
Perusahaan yang dilengkapi dengan kemampuan perencanaan strategi yang
kuat memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk bertahan dalam jangka
pendek dan menjadi pemenang pada jangka panjangnya.(msb)
*GBPC Managing Director A.T. Kearney, Washington, D.C
http://www.bisnis.com/articles/kiat-manajemen-membuka-simpul-proses-perencanaan