Showing posts with label sepatu. Show all posts
Showing posts with label sepatu. Show all posts

Wednesday, December 5, 2012

Sentra Sepatu Terate

SENTRA PENJUALAN SEPATU KULIT DI JALAN TERATE, BANDUNG

Sentra Sepatu Terate: Jual sepatu Cibaduyut (1)

Sentra Sepatu Terate: Jual sepatu Cibaduyut (1)
Nama Cibaduyut sudah tidak asing lagi sebagai daerah penghasil sepatu kulit terbesar di Jawa Barat. Nama daerah ini akrab di telinga lantaran memasok kebutuhan sepatu hingga ke pelbagai daerah di Indonesia.
Di Jawa Barat sendiri, banyak terdapat sentra penjualan sepatu hasil karya para pengrajin Cibaduyut. Salah satunya ada Jalan Teratai, Kosambi, Bandung.
Sentra penjualan sepatu kulit di Jalan Teratai ini tidak jauh dari Pasar Kosambi, Bandung. Berdiri sejak tahun 1960-an, sentra sepatu ini diramaikan sekitar 35 kios.
Masing-masing kios rata-rata berukuran sekitar 2 meter persegi. Kios-kios sepatu ini dibangun di sisi kiri dan kanan Jalan Teratai. Sebagian besar sepatu dipajang, baik di dalam maupun di depan kios.
KONTAN sempat menyambangi sentra penjualan sepatu ini pada Sabtu (10/11) bulan lalu. Masing-masing kios nampak memajang aneka sepatu kulit dengan pelbagai model, seperti pantofel, boots, dan lain-lain.
Pilihan warnanya juga beragam. Mayoritas sepatu yang dijual merupakan sepatu pria. Semua sepatu boots, misalnya, diproduksi untuk para pria.
Sementara sepatu boots untuk wanita tidak banyak, bahkan tidak dipajang di sentra ini. "Sepatu boots untuk wanita kami sediakan kalau ada yang pesan saja," ujar Bobiec, salah seorang pedagang sepatu di sentra ini.
Bobiec bilang, sentra penjualan sepatu yang berdiri sejak tahun 1960-an ini sudah cukup dikenal, baik di Kota Bandung maupun luar Bandung. Makanya, hampir setiap hari ada saja pengunjung yang menyambangi sentra ini.
Selain sepatu kulit, pedagang juga menjual sepatu olah raga, seperti sepatu bola dan futsal. Bobiec membanderol harga sepatu kulit mulai Rp 200.000 - Rp 350.000 per pasang. Sementara, sepatu futsal dan bola mulai Rp 50.000 - Rp 300.000 per pasang.
Menurut Bobiec, sentra sepatu di Jalan Teratai ini sering dilewati banyak orang. Dalam sehari, ia bisa menjual sekitar tiga hingga lima pasang sepatu dengan omzet Rp 500.000 hingga Rp 1 juta.
Sepatu yang dijual di sini juga bisa ditawar. Kalau pelanggan membeli dalam jumlah banyak, harganya bisa lebih murah.
Mohamad Padli, pedagang lainnya mengatakan, sebagian besar konsumennya adalah warga Bandung yang melintas di Jalan Teratai. Mereka umumnya lebih banyak membeli sepatu futsal dan olahraga.
Tapi menurut Padli, peminat sepatu kulit juga tetap tinggi. Biasanya warga Bandung membeli sepatu kulit secara eceran.
Dalam sehari, Padli bisa menjual rata-rata tiga pasang sepatu dengan omzet Rp 500.000. Sepatu kulit yang dijualnya kebanyakan jenis boots ketimbang pantofel.
Padli bilang, banyak pelanggan lebih tertarik membeli sepatu booth daripada pantofel. Namun, kadang ada juga pelanggan yang mencari pantofel. "Biasanya pantofel dibeli untuk kerja," paparnya.
Eko, pelanggan di sentra ini bilang, sering datang membeli sepatu kulit di Jalan Teratai karena harganya bisa ditawar. "Selain itu, pilihan sepatunya juga banyak," kata Eko.

Sentra Sepatu Terate: Awalnya sepatu bekas (2)

Sentra Sepatu Terate: Awalnya sepatu bekas (2)
Di awal pendirian sekitar tahun 1960-an, sentra penjualan sepatu di Jalan Terate, Bandung, ini hanya menjual sepatu-sepatu bekas. Walau bekas, kondisi sepatu itu masih bagus dan tahan lama lantaran terbuat dari kulit.
Dalam perjalanan berikutnya, penjualan sepatu bekas di Jalan Terate masih marak hingga tahun 1980-an. Setelah itu, banyak pedagang mulai beralih ke sepatu kulit keluaran Cibaduyut yang masih baru.
Bobiec, pedagang sepatu di sentra ini bilang, sampai sekarang, masih ada pedagang yang berjualan sepatu bekas. Tapi, jumlahnya hanya segelintir.
"Pedagang sekarang kurang tertarik menjual sepatu kulit bekas lantaran barangnya sulit didapat dan harganya juga sudah mahal. Jadi, lebih baik menjual sepatu baru," terangnya.
Mohamad Padli, pedagang lainnya menambahkan, penjualan sepatu olahraga di sentra ini mulai marak di sekitar tahun 1999. Hal itu dilakukan untuk mendongkrak perolehan omzet.
Soalnya, penjualan sepatu kulit tidak selancar tahun-tahun sebelumnya. Di sisi lain, saat itu sepatu olahraga mulai banyak peminat. "Banyak anak-anak sekolah yang mencari dan harganya juga tidak semahal sepatu kulit," kata Padli.
Sepatu olahraga yang dijual di tempat ini dipasok langsung dari pabrikan di Tangerang dan Jakarta. Meski demikian, bagi para pedagang, penjualan sepatu olahraga itu lebih sekadar pelengkap saja.
Dagangan utamanya tetap sepatu kulit. "Sepatu kulit masih menjadi produk utama yang diandalkan para pedagang,"
tutur Padli.
Padli mengaku tidak tertarik berjualan sepatu bekas. Selain peminatnya tidak banyak, mendapatkan sepatu bekas berkualitas bagus juga semakin sulit.
Padli membandingkan kondisi ketika dulu orang tuanya yang termasuk salah pedagang, berjualan sepatu bekas di Jalan Terate pada tahun 1960-an.
"Waktu itu, orang tua saya dan pedagang lainnya hanya menjual sepatu kulit bekas, baik sepatu pantofel maupun sepatu boots," katanya. Sepatu-sepatu bekas itu di peroleh dari daerah di sekitar Bandung.
Sama dengan Padli, Bobiec fokus berjualan sepatu baru. Ia juga meneruskan usaha orang tuanya yang juga berjualan sepatu bekas di Terate dari awal. "Berjualan sepatu bekas sudah susah di zaman sekarang," ujarnya.
Herman juga termasuk pedagang yang mulai meninggalkan sepatu kulit bekas. Ia berjualan sepatu baru lantaran banyak konsumen tidak tertarik dengan sepatu bekas. "Sekarang, sebagian besar pelanggan lebih tergiur membeli sepatu baru," katanya.
Herman bilang, berjualan sepatu di tempat ini menguntungkan lantaran ongkos membuka kios tidak terlalu mahal. Dengan begitu, ia bisa menjual sepatu dengan harga lebih murah dibandingkan di Cibaduyut sebagai pusat produksi sepatu kulit.

Sentra Sepatu Terate: Andalkan pembeli borongan (3)

Sentra Sepatu Terate: Andalkan pembeli borongan (3

Sentra penjualan sepatu kulit di Jalan Terate, Bandung, sudah terkenal sejak tahun 1960-an. Tidak hanya warga Bandung, tempat ini juga ramai dikunjungi oleh warga dari kota lain.
Bahkan, belakangan ini, banyak pedagang mengandalkan pengunjung dari luar kota sebagai konsumen mereka. Pasalnya, banyak konsumen dari luar kota yang membeli sepatu dalam partai besar atau secara borongan.
Sebagian besar pelanggan dari luar kota berasal dari Cirebon, Kuningan, Riau, dan Kalimantan. Mereka membeli sepatu dalam jumlah banyak untuk dijual lagi di daerahnya masing-masing.
Sebagai pedagang di daerah, mereka rutin berbelanja sepatu di Jalan Terate. Bobiec, salah seorang pedagang sepatu di sentra ini bilang, pelanggan dari luar kota pasti memesan sepatu kulit darinya minimal sekali dalam sebulan.
Bulan Oktober lalu, misalnya, Bobiec mendapat pesanan sebanyak 240 pasang sepatu kulit dari konsumen di Kalimantan. "Berkat mereka, pendapatan kami juga bisa naik," ujar Bobiec, salah seorang pedagang di sentra ini.
Mayoritas konsumen dari daerah ini memesan sepatu kulit. Karena membeli dalam jumlah banyak, Bobiec menjualnya dengan harga grosir.
Harga eceran sepatu di tempat ini dibanderol mulai Rp 200.000-Rp 350.000 per pasang. Sementara, untuk pembelian grosir, harganya di bawah Rp 200.000 per pasang.
"Harga persisnya rahasia karena tidak enak kepada konsumen kami nantinya kalau semua tahu harga beli yang sebenarnya," ujar Bobiec.
Bobiec memberikan harga grosir lantaran konsumen masih mengeluarkan biaya lagi buat pengiriman ke daerahnya. Dengan harga grosir, diharapkan mereka masih mendapat keuntungan. "Kalau untung, mereka bisa datang lagi," katanya.
Pedagang lain, Mohamad Padli juga memiliki sejumlah pelanggan dari luar kota, seperti Cirebon dan Kuningan. Mereka biasanya membeli sepatu kulit dalam jumlah banyak. "Biasanya mereka membeli berlusin-lusin," paparnya.
Padli juga memberikan harga khusus bagi mereka yang sudah menjadi pelanggannya. Selain pelanggan, ia juga kerap didatangi konsumen dari luar kota yang kebetulan sedang berada di Bandung.
Meskipun bukan pedagang, mereka biasanya membeli sepatu kulit secara borongan untuk dibawa ke daerah asal mereka. "Mungkin untuk dijadikan oleh-oleh kepada saudara-saudara mereka," kata Padli.
Herman, pedagang lainnya, mengatakan, pelanggan dari luar kota suka membeli sepatu boots ketimbang sepatu pantofel dan sepatu futsal atau bola. Menurutnya, sepatu boots di sentra ini diminati pelanggan dari luar kota, karena bentuknya yang unik dan bahannya yang terbuat dari kulit.
Selain itu, harga sepatu juga lebih murah ketimbang di tempat lain. "Apalagi, di sini juga banyak pilihan jenis dan warna sepatunya," ungkapnya.
Hampir seluruh pasokan sepatu ditempat ini berasal dari para pengrajin sepatu di Cibaduyut, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Pasokan memang bukan dari langsung dari pengrajin. Melainkan, pedagang mendapatkan dari para pemasok. Setiap bulan, para pemasok ini rutin mengirim sepatu ke Jalan Terate.  

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-sepatu-terate-jual-sepatu-cibaduyut-1/2012/12/03
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-sepatu-terate-awalnya-sepatu-bekas-2/2012/12/04
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-sepatu-terate-andalkan-pembeli-borongan-3

Monday, January 9, 2012

INSPIRASI AGNES TANDIA

Peluang Usaha

 
Senin, 09 Januari 2012 | 14:36  oleh Hafid Fuad
INSPIRASI AGNES TANDIA
Agnes mengolah kain perca batik menjadi sepatu unik
Dengan usia yang relatif masih muda, Agnes Tandia, 23 tahun, berhasil menemukan ide sekaligus memproduksi sepatu berbahan batik. Selain memasarkan produk sepatunya di dalam negeri, Agnes juga punya jaringan pemasaran sepatu hingga ke Malaysia. Saban sebulan, Agnes meraup omzet lebih dari Rp 60 juta.
Jika kebanyakan kaum perempuan hanya bisa membeli sepatu buatan orang lain, lain halnya dengan Agnes Tandia di Bandung. Ia justru lebih banyak memakai sepatu buatannya sendiri.
Bahkan keahlian Agnes membuat sepatu itu telah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan baginya. Kini, Agnes mampu memproduksi hingga 500 pasang sepatu wanita per bulan dengan omzet lebih dari Rp 60 juta.
Agnes pertama kali membuat sepatu wanita pada 2008, saat ia berusia 19 tahun. Ide itu muncul saat ia melihat banyak sisa kain pembuatan jaket berserakan di konveksinya. Maklum, sebelum memproduksi sepatu, Agnes sudah memproduksi jaket batik.
Dari bahan batik sisa jaket itulah Agnes mendesainnya menjadi sepatu. "Sayang jika bahan batik itu terbuang percuma," terang Agnes.
Ketika itu, Agnes belum punya keinginan membuat sepatu untuk keperluan komersial. Dia hanya ingin membuat sepatu buat dirinya sendiri. Tapi ternyata, banyak koleganya tertarik dengan sepatu dengan tampilan unik itu. "Bahan batik menjadi lapisan luar dari sepatu," terang Agnes.
Karena banyak yang berminat, Agnes memutuskan memproduksi sepatu yang dia beri merek Kulkith itu. Bahkan, agar produknya ini terkenal, ia membawa sepatu itu pada ajang pameran. Pada tahun 2009 itu, Agnes mengikuti pameran kerajinan Inacraft di Jakarta Convention Center (JCC). "Saya membawa dua lusin sepatu motif batik yang saya produksi dengan modal Rp 2 juta," terangnya.
Dari pameran itu, hatinya makin mantap berbisnis sepatu batik lantaran punya pasar potensial. Hampir seluruh sepatu itu habis terjual. Agnes pun pulang dengan membawa duit sekitar Rp 8 juta. "Dari dua lusin yang saya bawa, yang tersisa hanya lima pasang," kenang Agnes.
Dengan usia yang tergolong muda, Agnes kini sudah memiliki toko sepatu sendiri di Bandung, Jawa Barat. Ia juga sudah memiliki agen penjualan sendiri di Jakarta. Tak hanya itu, Agnes juga memiliki agen pemasaran hingga ke Malaysia. Namun begitu, penjualan sepatu batiknya masih mengandalkan pasar Jabodetabek.
Keunggulan sepatu produksi Agnes terletak pada penggunaan bahan baku. Agnes membuat sepatu dengan memadukan kain batik dengan bahan baku kulit. "Penggunaan bahan batik inilah ciri khas sepatu kami," terang Agnes.
Dengan mematok harga jual Rp 130.000 sampai Rp 250.000 per pasang, Agnes membidik segmen pasar kalangan perempuan muda yang berusia 15 tahun sampai usia 25 tahun.
Alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB itu mengaku sengaja memproduksi sepatu batik untuk kaum perempuan. Sebab, dari penilaiannya, kaum perempuan lebih peduli akan desain sepatu ketimbang kaum pria. "Maka itu setiap bulan saya selalu merilis tiga desain baru agar tetap bisa mengikuti tren pasar sepatu," jelas Agnes.
Demi kepuasan pelanggannya, Agnes tidak mau menjual sepatu dengan harga mahal. Alasan dia, konsumen bakal jarang berbelanja jika harga jual sepatu itu terlalu berat bagi kantong. "Jika harganya murah, mereka akan sering berbelanja," terang Agnes.
Walaupun harga sepatu itu terbilang murah, tetapi Agnes tidak mau menyepelekan masalah produksi. Ia tetap membuat sepatu dari bahan baku batik berkualitas dan bahan kulit yang bermutu. "Pemilihan corak batik juga penting agar cocok dibuat sepatu," kata dia.
Dalam bisnis ini, keluhan Agnes hanya satu: susahnya mencari tenaga kerja. Sebab, bisnis ini butuh tenaga kerja yang terampil, handal, serta kreatif. "Faktor tenaga kerja sangat penting karena sepatu kami ini buatan tangan atau hand made," katanya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/87093/Agnes-mengolah-kain-perca-batik-menjadi-sepatu-unik-

Monday, October 17, 2011

PELUANG BISNIS SEPATU HANDMADE

 
Senin, 17 Oktober 2011 | 13:58  oleh Fitri Nur Arifenie
PELUANG BISNIS SEPATU HANDMADE
Laba berjalan dari sepatu khusus wanita buatan tangan
Agar tampil trendi, kaum wanita berusaha menggunakan sepatu pilihan yang cenderung berbeda dan unik. Kesempatan itu dilirik produsen sepatu buatan tangan yang membuat sepatu berdesain eksklusif dan unik. Bisnis ini bisa mendatangkan omzet Rp 165 juta per bulan.

Keinginan untuk tampil cantik bagi kaum wanita menjadi pasar yang empuk bagi produsen kosmetik dan fesyen. Tak hanya baju, produsen sepatu juga berlomba menciptakan produk yang menawan dan berbeda.

Seperti yang dilakukan oleh Lulu Sayyidatu. Dia membuka bisnis pembuatan sepatu buatan tangan atau handmade shoes khusus wanita. Berbeda dengan sepatu kebanyakan, Lulu banyak memakai motif bunga untuk produknya.

Dengan merek sepatu Katia Flowershoes, Lulu menggunakan bahan kanvas sebagai bahan baku sepatunya. Kini ia punya delapan jenis model sepatu dengan lima warna untuk setiap jenisnya. "Pilihan banyak supaya pembeli tak bosan," katanya.

Delapan jenis sepatu yang ditawarkan Lulu adalah flat shoes, sling sandals, ballet, flat slingback, slingback wedges, wedges toe, dan pump. Total seluruh varian sepatu itu ada 40 varian.

Untuk memulai usaha, Katia Flowershoes membidik segmen pasar kalangan muda dan ibu muda yang ingin tampil trendi. Berkat segmen pasar itulah Lulu berhasil mendulang omzet hingga Rp 165 juta per bulan.

Untuk sepasang sepatu Katia Flowershoes itu Lulu menjualnya dengan harga beragam, mulai dari harga Rp 165.000 hingga Rp 195.000 per pasang.

Contoh, harga sepatu flat slingback dibanderol harga Rp 165.000 per pasang. Dari delapan jenis sepatu milik Lulu itu, jenis sepatu yang terlaris adalah jenis flat shoes dan wedges.

Untuk memasarkan produk, Lulu hanya mengandalkan pemasaran lewat blog di dunia maya. Dalam blog itulah Lulu melayani aneka pembelian mulai, mulai pembelian ritel hingga pembelian partai besar. "Kami juga melayani paket distributor dan juga paket reseller," terang Lulu.

Untuk pembelian paket distributor, Lulu menawarkan paket harga sepatu senilai Rp 50 juta. Adapun untuk reseller, ia menawarkan paket harga Rp 2 juta. "Untuk distributor harga sepatunya harga pabrik, kalau reseller harganya cuma diskon 20%," jelas Lulu yang menetap di Bandung itu.

Selain Lulu, ada Mieke Erawati di Surabaya yang juga berbisnis sepatu buatan tangan. Lewat merek dagang Alexis Anthony, Mieke sudah menjalani bisnis sepatu buatan tangan itu sejak lebih empat tahun lalu.

Mieke menawarkan harga sepatunya mulai dari Rp 150.000 per pasang. "Keunggulan produk kami tidak diproduksi secara massal agar nilai eksklusifnya tetap terjaga," kata perempuan berusia 46 tahun itu.

Saat memulai usaha, Mieke hanya mengandalkan modal Rp 500.000. Modal itu untuk membeli bahan baku pembuatan sepatu. Namun kini, omzetnya sudah mencapai Rp 2 juta - Rp 2,5 juta per hari atau sekitar Rp 60 juta hingga Rp 75 juta per bulan. "Keuntungannya bisnis ini 25% dari omzet," terang Mieke yang menggandeng perajin untuk memproduksi sepatunya.

Mieke memasarkan sepatu itu lewat toko miliknya di Surabaya. Selain itu Mieke juga sering ikut pameran sepatu di Jakarta. Pameran sepatu yang rutin ia ikuti ada di pusat perbelanjaan di Plaza Semanggi, Plaza Pondok Gede, dan Cilandak Town Square.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/80186/Laba-berjalan-dari-sepatu-khusus-wanita-buatan-tangan-

Friday, September 23, 2011

Kisah Sukses Edward Forrer Berbisnis Sepatu

PDF Cetak E-mail
Jumat, 23 September 2011 13:41
Di antara para produsen sepatu domestik yang dikenal, ada nama Edward Forrer. Berangkat dari usaha yang dijual door-to-door, kini Edward menjadi salah satu produsen sepatu dalam negeri yang namanya populer hingga mancangara.     

edward_0911Sekilas namanya memang bukan orang pribumi. Edo –panggilan Edward Forrer—memang tidak banyak dikenal kalau dibandingkan dengan brand produk sepatunya yang kini dikenal di mancanegara.

Edo memang menjual merek Edward Forrer yang tak lain adalah namanya sendiri. Persisnya merek produk sepatu dan tas untuk pria dan wanita.

Mengawali bisnis sepatu ini sejak 1989, Edo mulai merambah pasar negeri tetangga seperti Australia pada tahun 2003. Tiga tahun kemudian (26 November 2006) masuk ke Malaysia. Untuk menangani pasar internasional itu pula, sebuah kantor cabang dibuka di Kuala Lumpur.

Namun sebelum melanglang ke mancanegara, produk ini sudah menyebar ke kota-kota besar di Indonesia. Edward kini memiliki paling sedikit 47 gerai di sejumlah kota di Indonesia.

“Saya memulai usaha ini memulai segalanya dengan modal tekad, plus sebuah mesin jahit pinjaman serta sepeda kayuh,” ujar Edo.

Ia terus mengibarkan semangat, terlebih ia menjadi tulang punggung keluarga yang harus membiayai tiga adik. "Saya harus berhasil karena Ibu dan adik-adik menjadi tanggung jawab saya. Saya melakukan pekerjaan apa saja demi menyambung hidup,"  ujar pria kelahiran 25 Oktober 1966 ini.

Jangan bayangkan Edo berangkat dari keluarga berada. Kehidupannya jauh dari cukup. Edo bercerita ia amat trenyuh pada suatu malam, adiknya terbangun dari tidur, karena seharian mereka belum makan, ibunya hanya bisa menyuruh adiknya minum. Tapi beruntung saat itu ada tetangga Edo yang datang membawa beras dan telor. Akhirnya tengah malam Edo dan keluarganya bisa makan. Kondisi serba kekurangan inilah, Edo tergerak menyelesaikan SMA-nya dan langsung kerja di pabrik sepatu di bagian gudang.

Mula-mula Edo muda bergabung dengan sebuah perusahaan sepatu. Di tempatnya bekerjanya inilah, Edo menimba pengalaman dan keahlian membuat sepatu.

Edo yang punya hobi menggambar berusaha mendisain sepatu dan diajukan ke kantornya, tapi ditolak. Sejak itu, Edo berusaha keras untuk bisa membuat sepatu sendiri dari disainnya. Mulai dari membuat pola dan menjahit. Tentu saja sulit sekali, karena harus belajar sendiri. Tapi setelah bisa, Edo mengundurkan diri.

Pada pertengahan September 1989, Edo keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan memberanikan diri merintis bisnis sendiri. Ia nekat keluar dari perusahaan sepatu yang selama bertahun-tahun menjadi tempat menggantungkan hidup.

Dengan modal sebuah mesin jahit pinjaman, Edo memulai usahanya. Ia berkeliling mengayuh sepeda, dari pintu ke pintu, menawarkan jasa membuat sepatu. Di tas gendongnya selalu tersedia beberapa contoh sepatu. Konsumen dapat memesan sepatu sesuai contoh atau menurut selera konsumen sendiri.

Edo sendiri memiliki memiliki kemampuan menggambar yang memungkinkannya mampu membuat sketsa sepatu langsung di hadapan pemesan. Semua sepatu yang dihasilkannya diberi label sesuai namanya: Edward Forrer.

Karena dijual dengan cara yang dianggap ‘aneh’, tak jarang Edo sering mendapat cemoohan daripada order. Perlakuan buruk pun sering diterimanya.  Bahkan ia menceritakan dirinya sempat diusir karena dicurigai hendak berbuat jahat. Diusir dengan tidak sopan dan kata-kata kasar sudah jadi santapan. Sebagai manusia Edo juga punya batas kesabaran. “Saya sempat merasa putus asa,” ujarnya.   

Namun ia mencoba tegar kembali. Sambil membuat sepatu, Edo berusaha bertahan dengan memberikan les matematika dan renang. Namun dari kegiatannya inilah Edo justru semakin dikenal melalui sepatunya.

Dari para orangtua murid yang diberi les, Edo mulai menerima pesanan. Perlahan langganannya bertambah. Seminggu, Edo menerima lima order sepatu. Ia menangani sendiri seluruh lini usahanya, dari membeli bahan kulit, membuat pola, menjahit, menempel sol, hingga mengantarkannya ke pemesan. Dari para pemesan, produk Edo mulai menyebar. Dari hanya lima order seminggu, Edo mulai menerima lima pesanan sehari.

Ia pun mencari tenaga tambahan. Pada Agustus 1992, Edo mulai membuka toko kecil di Gang Saad, Kota Bandung. Ia mempekerjakan 16 perajin sepatu dan dua pegawai toko. Konsumen tak perlu lagi memesan karena Edward Forrer, begitu Edo menamai tokonya, menyediakan beragam sepatu pria dan wanita. Meski stok tersedia, Edo tetap menerima pesanan.  Dari sini ia mengetahui model sepatu yang digemari masyarakat. Model itu lantas dikembangkan untuk desain produknya.

Dalam beberapa tahun, produk sepatu bikinan Edo semakin dikenal. Buktinya banyak wisatawan, baik dari dalam maupun dari luar negeri yang berkunjung ke Bandung, bila ingin berbelanja sepatu, selalu menyempatkan mampir ke gerai Edo.

Pada saat krisis moneter datang tahun 1997, bisnis sepatu buatan Edo justru tidak terimbas malah sebaliknya, semakin melambung. Ini lantaran Edo telah memiliki stok bahan baku untuk beberapa tahun.

Berbeda dari para kompetitornya yang terpaksa menyesuaikan harga, Edo malah bertahan dengan harga lama. Harga jual produk Edo saat itu antara Rp 100.000 dan Rp 400.000.

Di saat-saat itu, penjualan Edward Forrer pun melesat. Edo sampai membuka tiga gerai baru khusus di Bandung demi memenuhi permintaan konsumen.

Tahun-tahun berikutnya menjadi masa kejayaan Edward Forrer. Pada 2003, Edward Forrer beralih dari perusahaan perorangan menjadi perseroan terbatas. Hasilnya, pada semester pertama tahun 2003, Edward Forrer telah memiliki 16 gerai. Tujuh di antaranya berada di Bandung dan dua gerai di Bali. Sisanya menyebar di Jakarta, Jogjakarta, Medan, Surabaya, Makassar, Semarang, dan Malang.

Tepat, 17 Agustus 2003, pertama kali Edward Forrer membuka gerai di luar negeri. Tepatnya di 333 George Street, Sydney, Australia. Dua tahun kemudian, pada awal 2005, Edward Forrer mulai membuka sistem waralaba. Dengan model bisnis seperti ini, gerai Edward Forrer pun bertambah kian cepat. Termasuk membuka kantor di Kuala Lumpur, tahun 2006. Hingga saat ini, Edo sudah memperkerjakan sekitar 200 karyawan.

Edo memiliki pandangan, seorang wiraswastawan sejati akan selalu tegar, meski jalan menuju sukses tak selalu mulus. “Jika pembeli sudah kenal dengan produk yang dijual, bukan berarti kerja keras berakhir. Meski jalan usaha sudah terbuka dengan adanya pesanan, rintangan yang dihadapi masih besar,” ujarnya. Persoalan apapun yang dihadapi dalam berbisnis akan bisa diatasi dengan keyakinan, kreativitas, dan keuletan. (*/dari berbagai sumber)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/11366-kisah-sukses-edward-forrer-berbisnis-sepatu.html