Showing posts with label kain perca. Show all posts
Showing posts with label kain perca. Show all posts

Monday, January 9, 2012

INSPIRASI AGNES TANDIA

Peluang Usaha

 
Senin, 09 Januari 2012 | 14:36  oleh Hafid Fuad
INSPIRASI AGNES TANDIA
Agnes mengolah kain perca batik menjadi sepatu unik
Dengan usia yang relatif masih muda, Agnes Tandia, 23 tahun, berhasil menemukan ide sekaligus memproduksi sepatu berbahan batik. Selain memasarkan produk sepatunya di dalam negeri, Agnes juga punya jaringan pemasaran sepatu hingga ke Malaysia. Saban sebulan, Agnes meraup omzet lebih dari Rp 60 juta.
Jika kebanyakan kaum perempuan hanya bisa membeli sepatu buatan orang lain, lain halnya dengan Agnes Tandia di Bandung. Ia justru lebih banyak memakai sepatu buatannya sendiri.
Bahkan keahlian Agnes membuat sepatu itu telah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan baginya. Kini, Agnes mampu memproduksi hingga 500 pasang sepatu wanita per bulan dengan omzet lebih dari Rp 60 juta.
Agnes pertama kali membuat sepatu wanita pada 2008, saat ia berusia 19 tahun. Ide itu muncul saat ia melihat banyak sisa kain pembuatan jaket berserakan di konveksinya. Maklum, sebelum memproduksi sepatu, Agnes sudah memproduksi jaket batik.
Dari bahan batik sisa jaket itulah Agnes mendesainnya menjadi sepatu. "Sayang jika bahan batik itu terbuang percuma," terang Agnes.
Ketika itu, Agnes belum punya keinginan membuat sepatu untuk keperluan komersial. Dia hanya ingin membuat sepatu buat dirinya sendiri. Tapi ternyata, banyak koleganya tertarik dengan sepatu dengan tampilan unik itu. "Bahan batik menjadi lapisan luar dari sepatu," terang Agnes.
Karena banyak yang berminat, Agnes memutuskan memproduksi sepatu yang dia beri merek Kulkith itu. Bahkan, agar produknya ini terkenal, ia membawa sepatu itu pada ajang pameran. Pada tahun 2009 itu, Agnes mengikuti pameran kerajinan Inacraft di Jakarta Convention Center (JCC). "Saya membawa dua lusin sepatu motif batik yang saya produksi dengan modal Rp 2 juta," terangnya.
Dari pameran itu, hatinya makin mantap berbisnis sepatu batik lantaran punya pasar potensial. Hampir seluruh sepatu itu habis terjual. Agnes pun pulang dengan membawa duit sekitar Rp 8 juta. "Dari dua lusin yang saya bawa, yang tersisa hanya lima pasang," kenang Agnes.
Dengan usia yang tergolong muda, Agnes kini sudah memiliki toko sepatu sendiri di Bandung, Jawa Barat. Ia juga sudah memiliki agen penjualan sendiri di Jakarta. Tak hanya itu, Agnes juga memiliki agen pemasaran hingga ke Malaysia. Namun begitu, penjualan sepatu batiknya masih mengandalkan pasar Jabodetabek.
Keunggulan sepatu produksi Agnes terletak pada penggunaan bahan baku. Agnes membuat sepatu dengan memadukan kain batik dengan bahan baku kulit. "Penggunaan bahan batik inilah ciri khas sepatu kami," terang Agnes.
Dengan mematok harga jual Rp 130.000 sampai Rp 250.000 per pasang, Agnes membidik segmen pasar kalangan perempuan muda yang berusia 15 tahun sampai usia 25 tahun.
Alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB itu mengaku sengaja memproduksi sepatu batik untuk kaum perempuan. Sebab, dari penilaiannya, kaum perempuan lebih peduli akan desain sepatu ketimbang kaum pria. "Maka itu setiap bulan saya selalu merilis tiga desain baru agar tetap bisa mengikuti tren pasar sepatu," jelas Agnes.
Demi kepuasan pelanggannya, Agnes tidak mau menjual sepatu dengan harga mahal. Alasan dia, konsumen bakal jarang berbelanja jika harga jual sepatu itu terlalu berat bagi kantong. "Jika harganya murah, mereka akan sering berbelanja," terang Agnes.
Walaupun harga sepatu itu terbilang murah, tetapi Agnes tidak mau menyepelekan masalah produksi. Ia tetap membuat sepatu dari bahan baku batik berkualitas dan bahan kulit yang bermutu. "Pemilihan corak batik juga penting agar cocok dibuat sepatu," kata dia.
Dalam bisnis ini, keluhan Agnes hanya satu: susahnya mencari tenaga kerja. Sebab, bisnis ini butuh tenaga kerja yang terampil, handal, serta kreatif. "Faktor tenaga kerja sangat penting karena sepatu kami ini buatan tangan atau hand made," katanya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/87093/Agnes-mengolah-kain-perca-batik-menjadi-sepatu-unik-

Wednesday, December 7, 2011

Yuningsih, Sulap Kain Perca Jadi Laba

Views :154 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 06 Desember 2011 16:26
Memiliki usaha sendiri mungkin tidak terbayang sebelumnya oleh Yuningsih, warga Bangsalan RT 05/RW I, Bangsalan, Teras, Boyolali, Jawa Tengah ini. Tiga tahun lalu, Ning, sapaan akrabnya, masih bekerja pada orang lain sebagai tukang jahit. Lantaran sepi permintaan, oleh majikannya Ning pun disuruh berhenti. Tetapi, ia diberi bekal untuk membuat lembaran kain yang terbuat dari sambungan kain perca, terutama perca batik.

kainper1211Berawal dari modal Rp 35.000, Ning mulai merintis membuat lembaran kain dari perca. Perca yang tak ada nilainya itu pun, disambung-sambung menjadi selembar kain ukuran dua meter persegi.

“Kain itu saya jual kepada majikan saya. Tapi saya tidak mau berhenti sampai disitu. Dengan ragu saya mencoba menawarkan sambungan kain perca itu kepada pedagang-pedagang di Pasar Beringharjo Jogja. Waktu itu sangat sangat tidak percaya diri karena hanya jual sambungan kain,” kata Ning, seperti dikutip dari Espos.

Namun jalan berkata lain. “Saya tidak menyangka, banyak pedagang yang minta dan pesan kain sambungan itu kepada saya. Mereka pesan tidak sedikit, tapi satu pedagang bisa pesan satu kodi hingga dua kodi.”

Setelah satu tahun, ia pun mulai berfikir mengembangkan usahanya. Dengan keahliannya menjahit, ia berkreasi menambah nilai jual kain yang ia buat. “Akhirnya saya mencoba untuk membuat bed cover dan tas. Alhamdulillah, tas produksinya saat ini laku tidak hanya di Beringharjo saja, tetapi di beberapa pusat perbelanjaan batik di Solo, seperti Pusat Grosir Solo dan Pasar Klewer. Selain itu, saya juga memenuhi banyak permintaan dari Tegal, Rembang, Semarang, Banjarmasin, Batam dan Bali. Meski masih menjalankan model pemasaran dari mulut ke mulut, permintaan dari berbagai daerah mulai mengalir.”

Usahanya terus berkembang, setelah produk yang diberi label Kanza Uniqka ini mendapat perhatian dari banyak kalangan. Seperti GTZ, Pemerintah Provinsi Jateng dan perbankan. Saat ini ia memiliki 17 karyawan dengan  omzet  Rp 3 juta – Rp 4 juta per bulan.

Di sisi lain produknya pun  lebih bervariasi, seperti tempat handphone, tempat laptop, tempat tisu dan kover dispenser. “Dari kain perca itu pula, anak saya bisa kuliah. Yang satu sudah lulus Teknik Kimia dan yang satu lagi masih semester 7 UMS.”

Ning mengaku, sekarang ia mulai kewalahan melayani permintaan. “Saya sebenarnya punya cita-cita untuk mempromosikan produk saya melalui media internet. Tapi saya belum berani karena saya belum bisa stok barang.”

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/wanita/13295-yuningsih-sulap-kain-perca-jadi-laba.html