Showing posts with label keuangan. Show all posts
Showing posts with label keuangan. Show all posts

Wednesday, August 1, 2012

Tips Sederhana Mengatur Keuangan

Hits : 354 PDF Cetak E-mail
Rabu, 01 Agustus 2012 11:35
keuangan0712
Mengelola keuangan bisa jadi rumit ketika kebanyakan orang menyulap prioritas keuangan untuk membayar utang, menabung untuk kuliah dan dana darurat serta berkontribusi terhadap rekening pensiun.

Namun sebenarnya prioritas tersebut tidaklah rumit, asalkan Anda melakukan taktik untuk mengaturnya, mengkonsolidasi dan menghilangkan kebiasaaan belanja yang buruk. Salah satunya dengan mengikuti tips National Simplify Your Life Week oleh BMO Harris Bank berikut ini:

Hilangkan beban yang tidak perlu

Salah satu cara termudah agar tagihan tidak mengkhawatirkan, tempatkan lebih banyak uang dalam rekening dan menghilangkan biaya yang tidak perlu. Contohnya kurangi biaya untuk sekedar nongkrong di warung kopi atau berlangganan saluran televisi premium.

Konsolidasi akun keuangan bagi pasangan menikah

Cara ini akan membuat Anda lebih mudah mengelola dan merencanakan masa depan. Anda akan mendapatkan gambaran jelas situasi keuangan dan melacak dari satu rekening ke rekening lainnya.

Otomatisasi pendapatan dan pembayaran

Ambil keuntungan dari semua alat yang tersedia untuk mengotomatisasi keuangan Anda. Misalnya setoran otomatis gaji Anda ke rekening, kemudian mengaturnya otomatis untuk membayar tagihan. Tidak perlu khawatir, Anda bisa membayar tagihan secara online dan melakukan otorisasi manual setiap bulannya. Beberapa bank menawarkan pembayaran tagihan online yang mencakup pengingat dan menunjukkan saat terakhir Anda membayar tagihan.

Cepat melunasi kartu kredit

Selalu buat rencana segera melunasi tagihan kartu kredit untuk meminimalkan pembayaran bunga. (*/mediaindonesia.com)

http://www.ciputraentrepreneurship.com/component/content/article/209-personal-finance/18982-tips-sederhana-mengatur-keuangan.html

Monday, April 9, 2012

Keluarga makin harmonis, kantong pun tak menipis

KIAT KOCEK

Keluarga makin harmonis, kantong pun tak menipis


Keluarga makin harmonis, kantong pun tak menipis

JAKARTA. Karena kesibukan kerja dan aktivitas masing-masing anggota keluarga, kebersamaan dengan keluarga seakan menjadi barang mahal untuk masyarakat perkotaan. Jangankan untuk bertukar pikiran, terkadang untuk makan semeja saja susah. Padahal, kualitas hubungan dalam keluarga bisa dipupuk lewat seberapa sering anggota bertemu dan saling berkomunikasi. Soalnya, dari sinilah, permasalahan yang timbul bisa diperbincangkan untuk dicari solusinya.

Menyadari betapa penting waktu kebersamaan keluarga ini, rekreasi atau pelesir bersama bisa menjadi salah satu solusi untuk benar-benar terlepas dari rutinitas dan kembali fokus ke keluarga. Perencana keuangan dari One Consulting Budi Raharjo berpendapat, banyak manfaat emosional yang bisa didapat dari rekreasi keluarga. “Sebenarnya, rekreasi sudah bukan hanya masalah keuangan, tetapi ini adalah kebutuhan untuk menyeimbangkan hidup,” kata Budi.

Maka, perencana keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari menyarankan, saat menyusun perencanaan keuangan keluarga, rekreasi sebaiknya dimasukkan dalam daftar kebutuhan. Bahkan, frekuensi rekreasi keluarga bisa lebih dari sekali dalam setahun. Tentu saja, tiap keluarga harus melongok kemampuan kocek masing-masing. Sebelum memenuhi kebutuhan untuk rekreasi, keluarga harus sudah memenuhi kebutuhan pokoknya, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan.

Sisca Novita, Account Manager PT Antara Intermediary Indonesia, agen dan konsultan asuransi, malah tegas menyebutkan, di luar kebutuhan pokok, masih ada kebutuhan lain yang penting untuk dicukupi dulu, yakni amal, pelunasan utang, asuransi, dan investasi. Barulah yang terakhir kebutuhan hiburan, termasuk pelesir.

Meski rekreasi menempati posisi paling ujung dalam daftar kebutuhan keluarga, para perencana keuangan yakin, setiap anggota keluarga dapat memenuhi kebutuhan ini. Syaratnya, arus kas yang bersangkutan harus sehat. Indikator sehat itu, antara lain utang tidak lebih dari 30% penghasilan dan ada pos untuk investasi setidaknya 10%. Lebih baik lagi jika keluarga tersebut sudah memiliki proteksi asuransi, minimal untuk pemberi nafkah utama. Asuransi penting terutama bagi keluarga yang tidak memiliki banyak aset.

Dus, anggaran untuk kegiatan rekreasi dan pelesir tidak perlu menunggu sampai Anda merasa kaya terlebih dulu. Bagi keluarga yang merasa arus kasnya cukup sehat, langkah pertama yang harus Anda lakukan ketika hendak menyusun kebutuhan rekreasi adalah menetapkan tempat tujuan rekreasi.
Budi dan Tejasari mengatakan, pilihan tujuan rekreasi ini menentukan besaran dana yang mesti dialokasikan oleh keluarga. Penentuan tujuan rekreasi berada di tangan masing-masing keluarga. Saran para perencana keuangan: sesuaikan dengan kemampuan bujet saja.

Di samping tujuan, frekuensi rekreasi juga ditetapkan berdasarkan kemampuan keuangan tiap keluarga. Misalnya, bagi keluarga yang merasa memiliki pendanaan yang cukup, melakukan rekreasi hingga lebih dari dua kali setahun tentu tak masalah.

Bagaimana agar biaya tetap terjangkau?

Namun, demi mempertahankan keuangan keluarga yang sehat, tentu strategi pengelolaan tak boleh Anda lewatkan. Tentu, yang menjadi harapan setiap keluarga adalah bisa menikmati liburan yang menyenangkan tapi kantong tidak bolong. Yuk, kita simak beberapa saran berikut!

Mencicil pendanaan

Rekreasi biasanya menyedot dana yang cukup besar. Oleh karenanya, Budi menyarankan agar pendanaan untuk rekreasi dilakukan jauh-jauh hari alias terencana. Caranya, dengan mencicil kebutuhan dananya tiap bulan. Soal besarannya memang tak ada patokan baku.

Ambil contoh begini, dalam setahun keluarga akan melakukan rekreasi dua kali pada libur sekolah anak dan pada saat Lebaran. Nah, dari keputusan tersebut, keluarga bisa membuat target besaran dana dan kapan dana yang diperlukan harus terkumpul.

Mengenai besaran uang yang bisa yang dicicil tiap bulannya, Budi memberi ancar-ancar 10% dari total pendapatan. Namun, dia menegaskan, tak ada patokan baku karena tergantung asumsi besaran dana rekreasi dan kemampuan keluarga.

Budi mengatakan, karena bisa direncanakan, maka dia tidak menyarankan keluarga untuk membobol dana darurat untuk kebutuhan rekreasi. “Dana darurat hanya untuk kebutuhan yang benar-benar darurat dan tidak bisa diprediksi sebelumnya,” tandas Budi.

Tejasari mengatakan, bonus yang biasa didapat saban tahun bisa untuk menambah pendanaan rekreasi. Tentu akan lebih bijak jika tak semuanya dicemplungkan untuk biaya rekreasi.
Karena tidak dilakukan setiap bulan, para perencana keuangan memasukkan rekreasi sebagai kebutuhan tahunan. Pos kebutuhan tahunan lain adalah membayar uang sekolah tahunan, membayar premi asuransi, membayar pajak, hingga mengalokasikan dana untuk merayakan ulangtahun anak. Meski sama-sama kebutuhan tahunan, keranjang untuk menampung alokasi dana tersebut sebaiknya dipisahkan agar pengelolaan keuangan keluarga lebih rapi dan tidak tercampur dengan tujuan keuangan yang lain.

Mengenai keranjang investasi, baik Budi maupun Tejasari mengatakan, instrumen investasi yang dipilih tentu yang sesuai dengan karakter investasi jangka pendek. Antara lain, tabungan, deposito, reksadana pasar uang, dan reksadana pendapatan tetap.

Meski Budi dan Tejasari memasukkan rekreasi dalam kebutuhan tahunan, keduanya sepakat, rekreasi juga bisa masuk dalam kategori kebutuhan jangka menengah bila tujuan rekreasi keluarga tersebut ternyata memakan dana yang cukup besar. Misalnya, liburan ke luar negeri.

Untuk kebutuhan rekreasi yang membutuhkan dana besar tersebut, waktu mencicil bisa dilakukan lebih dari setahun. Otomatis pilihan keranjang investasinya jadi makin beragam. “Bisa dimasukkan ke reksadana campuran atau obligasi saja,” kata Tejasari.

Survei harga

Menyiapkan pendanaan jauh-jauh hari ternyata membawa keuntungan ganda. Tak hanya alokasi cicilan dana yang ringan, Anda pun mempunyai kesempatan lebih banyak untuk memilih sarana transportasi dan akomodasi yang sesuai dengan kocek dan keinginan Anda. Anda bisa memanfaatkan waktu untuk melakukan survei harga dan fasilitas macam apa yang paling pas dengan kondisi kocek. “Kuncinya tentu harus mau agak repot membandingkan harga,” kata Tejasari.

Setelah yakin dengan pilihan transportasi dan akomodasi, pemesanan jauh-jauh hari pun akan memungkinkan Anda menghemat pengeluaran Anda. Harga tiket pesawat atau tarif hotel seringkali lebih miring ketimbang Anda baru membelinya ketika menjelang hari keberangkatan. Apalagi, jika jadwal rekreasi Anda itu bertepat-an dengan musim libur panjang. Biasanya, agen perjalanan dan wisata akan mengerek harga.

Manfaatkan promo

Untuk menyiasati biaya yang membengkak karena kenaikan harga, sebelum hari H rekreasi, Anda bisa memanfaatkan sejumlah program promosi yang berkaitan dengan kebutuhan rekreasi. Misalnya, promo tiket perjalanan atau penginapan murah. Bisa juga memanfaatkan program promosi kartu kredit. Cuma, jangan lupa untuk disiplin melunasi tagihan ketika jatuh tempo.

Untuk mendapatkan informasi promosi harga, Anda tentu harus rajin menggali informasi. Anda bisa bertanya sana-sini atau coba melongok situs yang menawarkan aneka kupon diskon di internet.

Memerinci kebutuhan

Setelah Anda menetapkan tujuan, waktu dan asumsi biaya rekreasi, jangan lupa membuat daftar terperinci kebutuhan Anda selama rekreasi. Hal ini perlu agar ketika rekreasi, Anda dan keluarga tidak tekor di jalan atau bahkan jadi berutang karena kekurangan dana.

Beberapa kebutuhan yang harus diperinci, seperti biaya penginapan, transportasi, makan, dan membeli oleh-oleh. Di luar biaya tersebut, Budi menyarankan agar keluarga melebihkan kebutuhan dana sebesar 10%–15% untuk biaya tak terduga selama rekreasi.

Sementara, Tejasari menyarankan agar keluarga juga mengalokasikan dana untuk biaya setelah rekreasi. Antara lain, biaya perawatan mobil yang usai dipakai rekreasi dan biaya relaksasi tubuh seluruh keluarga. “Soalnya habis rekreasi biasanya, kan, capek,” ujar Tejasari.

Nah, selamat merencanakan liburan yang menyenangkan di hati dan di kantong!

Sumber:
http://personalfinance.kontan.co.id/news/keluarga-makin-harmonis-kantong-pun-tak-menipis/?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Monday, February 27, 2012

Mesti pintar cari tambahan dan mengatur keuangan

KIAT KOCEK

Mesti pintar cari tambahan dan mengatur keuangan

Mesti pintar cari tambahan dan mengatur keuangan JAKARTA. Kebutuhan hidup bulanan terpenuhi, tak punya cicilan utang, dan mempunyai alokasi dana untuk investasi, tentu menjadi dambaan sebagian besar orang. Untuk mewujudkan itu semua, jelas, pemasukan harus lebih gemuk dari hitung-hitungan pengeluaran. Bagi karyawan, baik swasta maupun pemerintah, kenaikan gaji menjadi jalan keluar yang diharapkan untuk memperbesar porsi pemasukan.
Perencana keuangan menyebut, idealnya kenaikan gaji setidaknya dua kali besaran inflasi tahun tersebut. Jadi jika prediksi inflasi tahun ini 4,5%, idealnya kenaikan gaji karyawan adalah 9%. Lantas apa yang harus dilakukan jika kenaikan gaji di bawah inflasi?
Jika perusahaan memang mentok tak bisa mengatrol kenaikan gaji sesuai inflasi, jangan buru-buru memutuskan pindah kerja. Masih ada pilihan lain: Anda mengatur ulang arus pemasukan dan pengeluaran. Pasalnya, mencari pekerjaan baru dengan harapan mendapatkan gaji lebih pun tak semudah membalikkan telapak tangan.
Evaluasi keuangan
Perencana keuangan dari One Consulting M. Andoko menyarankan agar Anda mengamankan keuangan dulu. Mau tak mau, Anda harus lebih mengencangkan ikat pinggang dan mengerem gaya hidup yang menguras finansial. “Pengeluaran itu kontrolnya ada pada diri kita sendiri,” katanya.
Pengeluaran yang bisa ditekan, misalnya, adalah biaya makan. Jika biasanya Anda membeli makan siang, tak ada salahnya, kini lebih sering membawa bekal sendiri.
Biaya transportasi juga bisa diperhitungkan untuk dikempiskan. “Kalau biasanya ke kantor naik mobil sendiri, sekarang bisa bareng dengan teman sehingga biaya bensin dan tol bisa diatur bersama,” kata Mike Rini Sutikno, perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi.
Perencana keuangan dari TGRM Financial Planning Services Taufik Gumulya menjelaskan, rumus dasar pengelolaan keuangan keluarga yang sehat adalah cicilan utang tak lebih dari 30% dan besaran investasi 10% dari total penghasilan bulanan. Semakin kecil persentase cicilan utang dan semakin besar persentase investasi, tentu makin baik. Dengan mengetahui rumusan tersebut, Anda bisa mengukur sejauh mana tingkat kesehatan keuangan Anda.
Menambah penghasilan
Selain mengendalikan pengeluaran, para perencana keuangan juga menyarankan Anda mulai mencari sumber pendapatan baru di luar pendapatan utama. Berikut detail saran dari para perencana keuangan itu:
Melirik keranjang investasi
Sebaiknya, Anda mencari keranjang investasi untuk investasi jangka pendek saja atau sampai tiga tahun. Meski dari sisi return, biasanya, kalah jauh ketimbang keranjang investasi jangka menengah dan panjang, setidaknya, risikonya tidak besar dan relatif lebih likuid.
Anda tentu tak ingin duit yang Anda benamkan justru ajrut-ajrutan nilainya bukan? Padahal duit tersebut diharapkan bisa dicairkan sewaktu-waktu jika diperlukan untuk menambal penghasilan utama yang tak maksimal.
Pilihan keranjang investasi para perencana keuangan adalah reksadana pendapatan tetap, reksadana pasar uang, dan obligasi ritel. “Investasi tersebut masih bisa diandalkan untuk menghasilkan return di atas 7% atau di atas target inflasi 4,5%,” kata Andoko. Untuk besaran investasinya, Taufik tetap bilang 10% dari penghasilan.
Kerja tambahan
Mencari pekerjaan sampingan juga bisa menjadi alternatif Anda mencari pendapatan tambahan. Saran Andoko dan Mike, carilah pekerjaan tambahan yang sesuai dengan kegemaran. Tujuannya agar Anda tak terlampau tegang melakoninya. Maklum, dengan mencari pekerjaan tambahan, otomatis, Anda harus membagi konsentrasi lebih banyak lagi. Jangan sampai, gara-gara kerja tambahan, pekerjaan utama lalu dilakukan asal-asalan.
Misalnya, Anda hobi fotografi. Maka, tak ada salahnya Anda menawarkan jasa fotografi di waktu senggang, misalnya, saat akhir pekan. Atau, bagi Anda yang mempunyai gairah besar dalam pendidikan, mencari pekerjaan tambahan dengan memberikan kursus, les privat, hingga mengajukan diri menjadi pengajar tamu di sebuah instansi pendidikan pun bukan hal yang mustahil. Begitu pula, Anda yang hobi dengan komputer, bisa saja membuka jasa servis komputer.
Bisa dibilang, upaya untuk mencari kerja tambahan tersebut tak butuh modal besar. “Hanya memanfaatkan keahlian yang ada saja,” kata Mike.
Membuka usaha
Untuk Anda yang mau repot, membuka usaha bisa menjadi pilihan mencari nafkah tambahan. Namun, para perencana keuangan mengingatkan, risiko pilihan ini sangat besar. Apalagi bagi Anda yang baru pertama kali mencoba membuka usaha. “Sebanyak 90% pengusaha pemula mengalami kegagalan ketika membuka usahanya,” kata Taufik.
Indikator kegagalan usaha, menurut Taufik, yakni jika hingga enam bulan usaha tak kunjung mendatangkan untung. Atas dasar itulah, Taufik mengatakan, idealnya seorang pengusaha yang akan membuka usaha setidaknya memiliki tiga kali modal. Jadi ketika usaha gagal hingga bulan keenam, dia masih bisa meneruskan usaha hingga setahun ke depan.
Mengenai modal, para perencana keuangan menyarankan agar Anda mengutamakan pinjaman lunak, seperti dari keluarga atau teman. Jika tak memungkinkan, bisa saja mengambil pinjaman dari bank. “Tapi harus dihitung benar tentang kemampuan mencicil. Jangan sampai justru menggerus pemasukan utama bulanan,” wanti-wanti Mike.
Sementara untuk usaha yang dikembangkan, para perencana keuangan menyarankan agar Anda mempelajari benar usaha yang dipilih; termasuk mempelajari cara pemasaran yang jitu dan melihat potensi pengembangannya.
Kalau tak mau repot, membeli waralaba bisa jadi pilihan yang menyederhanakan kerepotan tersebut. Soalnya, pemilik waralaba biasanya sudah mempunyai penghitungan rinci tentang proyeksi pendapatan dan balik modal. “Tapi, tetap harus selektif saat memilih waralaba karena tak semua waralaba menjanjikan keuntungan seperti yang tertuang dalam perencanaan keuangan mereka,” kata Andoko.
Para perencana keuangan juga berpesan, Anda harus total mengelola usaha itu meski hanya usaha sampingan. Siapa tahu dengan keseriusan Anda, usaha tersebut justru menghasilkan pendapatan lebih besar dari pendapatan utama.
Menyewakan properti
Kalau kebetulan rumah Anda cukup besar atau Anda memiliki lebih dari satu rumah, menyewakan rumah bisa dilakukan. Bahkan, Taufik mengatakan, jika Anda mempunyai tabungan lebih yang bisa digunakan sebagai uang muka untuk membeli properti, membeli properti untuk disewakan juga bisa Anda pertimbangkan. Dengan catatan, setelah uang digunakan untuk membeli properti, masih ada dana cadangan lebih dalam di brankas.
Agar gampang dilirik penyewa, saran para perencana keuangan, pilihlah lokasi yang strategis. Jika berada di tempat yang strategis, kemungkinan besar, Anda bisa menyewakan dengan harga yang cukup tinggi. Potensi kenaikan harganya pun baik. “Tentu yang diharapkan uang sewa bisa menutup cicilan rumah dan menyisakan hasil untuk pendapatan tambahan,” kata Taufik.
Sekarang pilihan ada di tangan Anda. Mana sumber pendapatan tambahan yang akan Anda pilih?
#Pertimbangan finansial jika mencari kerja

Jika pada akhirnya Anda memutuskan untuk mencari pekerjaan baru, para perencana keuangan menyarankan agar Anda bisa melakukan negosiasi yang baik dari sisi finansial. Tujuannya tak lain adalah agar Anda mendapatkan gaji lebih besar daripada yang didapat sebelumnya sehingga keuangan Anda bisa lebih sehat.
Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi Mike Rini Sutikno menyarankan, besaran gaji yang sebaiknya Anda perjuangkan adalah 20% lebih tinggi dibandingkan gaji yang diterima sebelumnya. Tentu saja, Anda juga harus mencari informasi tentang potensi kenaikan gaji per tahun serta indikator apa saja yang menentukan kenaikan tersebut.
Perencana keuangan One Consulting M. Andoko mengingatkan, ketika menghitung peningkatan gaji, sebaiknya, Anda juga memasukkan bonus di luar gaji bulanan dan tunjangan hari raya (THR). Jadi, besaran gaji bulanan Anda adalah jumlah semua uang yang diterima dalam setahun dari perusahaan dibagi 12. “Soalnya ada perusahaan yang mungkin gajinya tak terlalu besar tapi sering memberikan bonus,” kata Andoko beralasan.
Di luar gaji, sejumlah fasilitas pun harus menjadi pertimbangan. Sebut saja tunjangan kesehatan, dana pensiun, serta uang makan dan transportasi. Semakin jauh jarak rumah Anda ke perusahaan yang baru, biaya transportasi akan semakin mahal. Artinya, bisa saja, Anda nombok. Oh, iya, pertimbangkan pula berapa lama waktu yang Anda perlukan untuk diangkat sebagai karyawan tetap.
Anda tentu tak mau berlama-lama menjadi karyawan magang dan menerima gaji tak sampai 100%. Sementara, ekspektasi Anda adalah mendapatkan gaji yang nilainya bisa memperkecil rasio cicilan utang dan memperbesar rasio investasi.

Sumber:
http://personalfinance.kontan.co.id/news/mesti-pintar-cari-tambahan-dan-mengatur-keuangan

Thursday, January 5, 2012

Trik Mengelola Keuangan Usaha

Views :426 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 05 Januari 2012 08:51
keuangan0112Ada kalanya pebisnis mengeluh penghasilan dari usahanya selalu habis sebelum ditabung. Kalau pun ada yang bisa ditabung, jumlahnya hanya sedikit. Padahal, proyek yang ia terima cukup banyak. Seharusnya, usahanya bisa berjalan lancar dan hidupnya bisa senang meski sedang tidak ada order. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Hal ini mungkin pernah dialami oleh sebagian orang yang mengawali dunia usaha. Apalagi, jika usaha tergolong jenis usaha keluarga. Pada awal usaha, saat mendapat proyek, uang selalu saja habis untuk menghidupi keluarga. Istilahnya, saat sudah senang, lupa segalanya. Lupa harus bayar listrik, telepon, internet, transportasi, dan sebagainya.

Dan satu hal yang selalu terlupakan adalah mencatat semua kegiatan dan transaksi. Tak banyak usaha kecil yang melakukannya. Padahal, pencatatan adalah langkah dasar penting yang harus dilakukan untuk memajukan usaha. Lalu, bagaimana mengatur keuangan usaha yang baik? Berikut hal-hal yang bisa Anda lakukan seperti kami sadur dari Majalah Chic.

1. Tentukan porsi keuanganCara paling mudah untuk mengatur keuangan usaha adalah dengan menyepakati sejak awal berapa porsi uang yang akan digunakan sesuai lalu lintas uang yang dibutuhkan. Misalnya, berapa jumlah uang yang akan digunakan untuk membayar gaji, operasional perusahaan, serta berapa keuntungan yang akan digunakan mengembangkan usaha dan untuk ditabung.

Untuk langkah awal, Anda bisa mencoba membagi porsi 30:30:30:10. Porsi 30 persen untuk gaji, 30 persen lagi untuk operasional perusahaan, seperti sewa kantor, biaya listrik, telepon, fax, transportasi, dan lain sebagainya. Lalu 30 persen lainnya untuk mengembangkan usaha, dan sisa 10 persen untuk tabungan pribadi.

Jadi, misalnya pemasukan sebesar Rp 20 juta, Rp 6 juta (30 persen) langsung dipotong di awal untuk disishkan sebagai gaji, Rp 6 juta untuk biaya operasional, Rp 6 juta untuk biaya pengembangan usaha, dan Rp 2 juta untuk tabungan pribadi.

Pola pembagian dengan struktur jumlah persentase ini tidak mutlak. Anda boleh menentukan sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah kedisiplinan dalam membagi berdasar nilai yang sudah disepakati di awal. Dengan cara ini, Anda akan lebih mudah mengatur keuangan usaha.

2. Pisahkan rekening pribadi dan usahaSetelah porsi ditentukan, langkah berikutnya lakukan pencatatan keuangan usaha. Memang jika usaha masih kecil, kita cenderung sering menyamakan antara uang yang diterima dalam usaha dan uang untuk kepentingan pribadi. Bahkan kita biasanya menyimpan uang itu dalam satu nomor rekening.

Padahal, jika keuangan usaha dan keuangan pribadi digabung, Anda akan kesulitan dalam melakukan monitoring pendapatan atau pun pengeluaran yang telah dilakukan. Dengan melakukan pemisahan pencatatan antara keuangan usaha dengan keuangan pribadi, maka akan lebih mudah untuk membedakan antara arus dana dari usaha dengan penggunaan uang untuk kepentingan pribadi.

Di samping itu, pemisahan pencatatan juga dapat memberikan informasi lebih jelas tentang keadaan finansial dari usaha yang sedang dijalankan. Apalagi saat ini sejumlah bank sudah menyediakan produk layanan yang dapat mendukung pencatatan keuangan usaha Anda.

3. Jangan mudah tergoda

Inilah poin yang utama sebagai bentuk usaha mendisiplinkan diri. Dan, memang kunci utama mengatur keuangan usaha adalah disiplin dalam mematuhi porsi persentase yang kita atur untuk keuangan usaha dan pribadi.

Godaan biasanya sering datang saat sedang banyak order. Barang-barang tadinya belum terlalu penting jadi seperti "minta dibeli". Ada kalanya, saat uang masuk dalam jumlah besar, tiba-tiba kita merasa butuh ini dan itu. Salah satunya, membeli baju dengan alasan agar terlihat lebih pantas saat bertemu klien.

Memang tidak ada salahnya memenuhi keinginan itu. Namun dengan catatan, Anda mesti bisa membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli sesuatu dengan alasan usaha, tanyakan dulu, apakah itu merupakan kebutuhan mendesak atau keinginan yang bisa ditunda. Nah, jawaban ini yang akan membantu Anda menentukan ke mana uang bisa digunakan.

Bila memungkinkan dan punya cukup dana, Anda bisa menggunakan software akuntansi untuk pencatatan keuangan usaha. Dengan software ini, pencatatan keuangan bisa dilakukan lebih profesional dan rapi. Dengan begitu, Anda juga tidak memiliki celah untuk seenaknya mengambil uang usaha untuk kebutuhan pribadi.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/177-manajemen/14009-trik-mengelola-keuangan-usaha.html

Tuesday, January 3, 2012

5 Kesalahan Pasangan dalam Mengelola Keuangan

5 Kesalahan Pasangan dalam Mengelola Keuangan
Christina Andhika Setyanti | Dini | Selasa, 3 Januari 2012 | 
 
Rencanakan keuangan bersama dengan pasangan Anda agar semua masalah keuangan dapat diatasi bersama dan tanpa masalah di kemudian hari

KOMPAS.com - Uang sering menjadi pemicu berbagai permasalahan, salah satunya dalam hubungan suami istri. Sebuah penelitian di Amerika mengungkapkan, hampir seperempat pasangan suami istri di Amerika ternyata menyembunyikan masalah keuangan dari pasangan mereka masing-masing. The National Foundation for Credit Counseling menunjukkan adanya tekanan dan permasalahan dalam keuangan menjadi alasan utama untuk bercerai. Hal ini didukung pula oleh sebuah studi pada tahun 2009 berjudul Bank on It: Thrifty Couples are the Happiest yang menyebutkan, masalah uang termasuk dalam tiga masalah utama penyebab perceraian selain penyalahgunaan narkoba dan perselingkuhan.

Bila dicermati, ada beberapa kesalahan yang sering dialami pasangan suami istri dalam mengelola keuangan menurut Stacy Johnson, penulis dan pembawa acara Money Talks, yaitu:

1. Kurang komunikasi. Sangat penting untuk menyisihkan waktu dengan pasangan Anda untuk membahas topik pengelolaan keuangan, sehingga masalah keuangan tidak akan terjadi dan berlarut-larut. Anda bisa membuat percakapan yang santai bersama pasangan, namun jangan sampai menyalahkan satu sama lain akibat cara mengelola uang yang berbeda. Bahas masalah ini ketika sedang bersantai berdua sambil menonton televisi, sarapan, atau ketika sedang dalam suasana santai di atas tempat tidur. Berkomunikasi dengan lancar, tepat waktu, dan sering, sangat penting bagi setiap hubungan.

2. Merahasiakan sesuatu. Banyak pasangan yang menyembunyikan barang belanjaan mereka satu sama lainnya. Berbagai pengeluaran ini bisa menjadi kejutan yang tidak menyenangkan bagi pasangan ketika mengetahui rahasia Anda ini, apalagi jika Anda menggunakan kartu kredit untuk membelinya. Alasan yang sering digunakan untuk menutupi pengeluaran ini adalah karena Anda merasa bersalah karena telah membeli barang-barang yang mahal dan sebenarnya tidak diperlukan. Selain itu, Anda tidak ingin disebut seperti anak kecil yang selalu melaporkan setiap hal yang dibeli. Salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebiasaan ini adalah dengan memperlakukan pasangan kita sebagai orang dewasa yang independen, misalnya memiliki rekening bank yang terpisah, atau memiliki batas pengaturan pengeluaran uang bersama. Namun yang paling jelas adalah harus adanya keterbukaan antara pasangan agar Anda tak lagi sembunyi-sembunyi dalam melakukan sesuatu.

3. Tak menabung. Banyak pasangan yang masih sulit untuk menyisihkan uang untuk ditabung. Tabungan sangat diperlukan untuk berbagai kesulitan yang mungkin tiba-tiba dihadapi, misalnya saja untuk biaya perawatan di rumah sakit, atau memperbaiki atap rumah yang bocor. Hal yang paling utama untuk bisa melakukan hal ini adalah membangun motivasi yang kuat untuk mulai menyisihkan sejumlah uang untuk ditabung. Tapi ingat, tidak menabung dari uang yang tersisa di akhir bulan, melainkan menyisihkan sejumlah uang setelah gajian untuk ditabung.
4. Menghindari perbedaan. Dalam pernikahan, pasangan sering mengganggap mereka sudah sehati dan sepikiran, sehingga melupakan perbedaan pemikiran yang ada, terutama dalam pengelolaan uang. Tak jarang hal ini akan menciptakan perbedaan yang melebar dalam urusan lain. Sebaiknya diskusikan terlebih dulu bagaimana cara Anda mengelola keuangan seperti menabung, membeli produk asuransi, atau berinvestasi. Jangan biasakan untuk mengambil keputusan secara sepihak, karena hal ini bisa menyebabkan pasangan merasa tidak dilibatkan, atau tidak dipercaya dalam mengelola keuangan bersama. Berdiskusi dan putuskan hal ini bersama-sama.

5. Memilih waktu yang salah. Berbagi segala hal kepada pasangan Anda dan tak merahasiakan apapun memang romantis, namun ternyata terbuka mengenai segala sesuatu juga tidak selalu menguntungkan. Berbagi cerita dan masalah di saat yang tidak tepat justru akan menambah masalah. Misalnya Anda membeberkan utang kartu kredit yang nyaris tak terbayar saat pasangan sedang lelah. Pilihlah saat yang tepat untuk berdiskusi dengan pasangan Anda mengenai problem keuangan apapun, terutama mengenai utang.


Sumber: MSN Money
http://female.kompas.com/read/2012/01/03/0847514/5.Kesalahan.Pasangan.dalam.Mengelola.Keuangan