Showing posts with label etika. Show all posts
Showing posts with label etika. Show all posts

Thursday, September 6, 2012

Jangan Akhiri E-mail dengan Simbol "X"


Penulis : Felicitas Harmandini | Rabu, 5 September 2012 | 10:20 WIB

Pengirim pesan sebenarnya menyadari bahwa simbol X atau XoXo bisa memberikan kesan yang salah pada penerimanya.
KOMPAS.com - Beberapa dari Anda mungkin terbiasa mengakhiri surat elektronik (surel) dengan tanda "X", "Xoxo", atau ikon smiley. Tetapi, jangan biarkan kebiasaan mengakhiri surel pribadi semacam ini terbawa ke kantor. Sebab, akibatnya mungkin tidak akan Anda duga.
Survei terbaru dari situs kencan whatsyourprice.com menunjukkan bahwa surel yang menampilkan emosi semacam itu berpotensi menimbulkan kisah cinta di kantor. Lebih dari separuh orang yang disurvei, yang memiliki hubungan cinta dengan rekan kerja, mengaku bahwa affair terjadi setelah tanda "X" dikirimkan dalam pesan-pesan mereka di SMS atau surel.
Mayoritas dari mereka yang disurvei memang mengakui bahwa mereka tidak menanggalkan ikon smiley atau "X" tersebut, dan secara otomatis menggunakannya. Mereka sebenarnya menyadari bahwa simbol-simbol tersebut bisa memberikan kesan yang salah pada penerimanya. Maklum saja, "X" atau "XoXo" merupakan simbol "peluk dan cium", yang biasa digunakan untuk mengekspresikan perasaan atau keakraban di bagian akhir pesan-pesan SMS, surel, atau instant messenger.
Survei tersebut juga mendapati bahwa hampir 90 persen perempuan dan 85 persen laki-laki sepakat bahwa menerima pesan yang ditandai dengan "X" sebelum kencan pertama meningkatkan peluang keintiman.
Seperti Anda duga, penggunaan "X" di dunia kerja dicetuskan oleh tempat kerja yang didominasi kaum perempuan. Mereka melakukannya untuk menciptakan suasana yang rileks dan ramah di kalangan rekan sekerja. Namun, seiring berjalannya waktu, simbol-simbol tersebut kini digunakan oleh kaum laki-laki ataupun perempuan.


Sumber: Marie Claire
Editor :
Dini
http://female.kompas.com/read/2012/09/05/10202213/Jangan.Akhiri.Email.dengan.Simbol.X

Wednesday, May 9, 2012

Inilah Etika Jamuan Makan Bisnis

Views :278 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 09 Mei 2012 09:36
makan_biz0512Sebagai entrepreneur, menjalin relasi dengan rekan bisnis atau menghadiri undangan makan dengan orang-orang penting tak dipungkiri sering Anda lakukan. Menjaga citra diri dan aturan wajib dilakukan demi menjaga kelancaran bisnis.

Makan siang, makan malam atau sekadar duduk dan berbincang di kedai kopi adalah sarana hangat yang dapat dimanfaatkan untuk mempererat hubungan bisnis. Namun walaupun dalam suasana santai seperti itu bukan berarti Anda bisa bebas melakukan semua hal. Anda tetap harus menjaga sikap dan bertindak sopan serta profesional di hadapan rekan Anda.

Beberapa etiket perlu Anda tahu untuk membangun citra dan kepercayaan pada relasi atau atasan Anda yang dikutip dari vemale.com:

1. Datanglah tepat waktu! Tidak memungkiri memang jalanan akan macet atau sesuatu menghambat Anda, seandainya hal ini terjadi, maka segera memberi kabar akan keterlambatan Anda. Setidaknya pemberitahuan Anda akan membuat mereka memaklumi perihal keterlambatan Anda tersebut.

2. Jika Anda di posisi menunggu, bersabarlah untuk menunggu sekitar 15-30 menit, jangan terus-terusan menelepon mereka untuk memastikan kedatangannya. Tunggulah terlebih dahulu, jika memang terlalu lama maka Anda boleh menghubunginya.

3. Matikan semua ponsel dan alat komunikasi yang Anda miliki selama Anda makan siang atau makan malam bersama mereka.

4. Pesanlah menu yang sederhana, tidak terlalu ribet dan tidak mewah.

5. Tunggu sampai semua orang mendapatkan masing-masing orderan menu sebelum Anda memulai menyantap menu Anda sendiri. Sikap sopan ini berarti Anda menghargai kebersamaan dan kerja sama yang akan Anda jalin bersama mereka.

6. Pastikan Anda membayar bill jika memang Anda di posisi mengundang dan menjamu tamu. Jangan biarkan mereka merogoh kocek sendiri.

7. Jangan letakkan tas file, sisir, lipstik, cermin atau barang-barang yang tidak seharusnya ada di meja makan.

8. Jangan berbicara dengan mulut penuh. Untuk itu suap sedikit demi sedikit makanan ke dalam mulut Anda, mengingat dalam momen ini Anda butuh banyak berbincang.

9. Hindari pemilihan menu yang akan menyulitkan Anda. Pilih yang mudah dipotong dan disantap tanpa membutuhkan usaha lebih. Serta hindari menu makanan yang menggunakan tangan, selalu gunakan sendok garpu atau pisau makan.

10. Jangan memesan minuman beralkohol, sekalipun klien Anda memintanya.

11. Jika Anda memiliki masalah dengan menu yang Anda santap, jangan menunjukkan emosi Anda dan marah-marah di depan tamu. Sebaiknya datangi pramusaji dan katakan keluhan Anda padanya.

12. Jangan berbicara dengan kedua tangan memegang garpu - sendok atau pisau ke atas. Ini akan membuat posisi lawan bicara merasa tidak aman. Setidaknya letakkan dulu alat makan Anda ketika hendak mengutarakan sesuatu.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/37-advise/16688-inilah-etika-jamuan-makan-bisnis.html

Sunday, April 29, 2012

Inilah 8 Poin Etika Telepon Bisnis

Views :921 Times PDF Cetak E-mail
Minggu, 29 April 2012 20:37
telepon_bisnis0412Untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis Anda ke arah yang lebih baik, kadang interaksi dengan klien atau pelanggan lewat telepon memang diperlukan. Interaksi lewat telepon akan memudahkan berbagai perencanaan, membantu efektivitas kerja, bahkan dapat membangun peluang bisnis baru. Karena itulah, pelaku bisnis perlu mempraktikkan kecakapan bicara lewat telepon.

Nyatanya, berkomunikasi dengan klien atau para pelanggan via telepon bukanlah perkara mudah. Diperlukan pendekatan yang khusus agar pembicaraan Anda dengan mereka dapat berjalan efektif dan sukses. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan telepon bisnis.

1. Gunakan nama depan Anda saat memperkenalkan diri. Ini merupakan bentuk lain dari salam pembuka yang ramah dan hangat dalam standar bisnis profesional.
2. Jika klien atau pelanggan menelepon Anda duluan, cobalah untuk tidak membiarkan mereka menunggu terlalu lama. Bila Anda tidak bisa membantunya secepat mungkin, katakan padanya bahwa Anda akan menelponnya kembali.
3. Bersikaplah sabar dan bersahabat. Dengarkan secara seksama hal-hal yang klien atau pelanggan sampaikan. Hindari menyela atau melontarkan jawaban sebelum klien atau pelanggan menyelesaikan pembicaraannya.
4. Segera tindak lanjuti telepon dari klien atau pelanggan. Ini penting untuk meningkatkan kepercayaan dari mereka sekaligus menunjukan bentuk pelayanan terbaik dari Anda.
5. Cobalah untuk bersuara lembut dan ramah saat berinteraksi via telepon dengan mereka. Seringlah menyapa dengan menyebut namanya setiap kali Anda meneleponnya.
6. Tersenyumlah setiap kali Anda berbicara dengan di telepon. Karena, meskipun senyum Anda tidak terlihat, namun suara dan nada bicara Anda akan terdengar lebih menyenangkan jika dibandingkan dengan bicara tanpa tersenyum.
7. Hindari menerima telepon dengan terburu-buru. Jika Anda merasa tidak mampu menangani telepon yang masuk dengan baik, biarkanlah mesin penjawab yang menjawabnya sampai Anda benar-benar siap menerima telepon.
8. Tidak ada salahnya jika Anda ingin menelepon mereka hingga beberapa kali untuk menindaklanjuti beberapa proses bisnis atau memperkenalkan sebuah produk. Tapi jangan terlalu sering, karena bisa jadi Anda malah dicap sebagai pengganggu. Jika klien atau pelanggan merasa terganggu, risikonya Anda malah jadi kehilangan peluang. (*/Kompas.com)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/37-advise/16444-inilah-8-poin-etika-telepon-bisnis.html

Thursday, March 1, 2012

Jangan Melupakan Etika Berbisnis

Views :206 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 01 Maret 2012 13:12
etika0212Terjadinya perbuatan tercela dalam dunia bisnis tampaknya tidak menurun bahkan cenderung semakin meningkat. Tindakan mark up, ingkar janji, kolusi dan suap, tidak mengindahkan kepentingan masyarakat, serta tidak mempedulikan lingkungan hidup merupakan contoh pengabaian pengusaha terhadap etika bisnis.

Mungkin ada yang bertanya, apakah bisnis memang perlu memperhatikan etika? Bukankah bisnis dan etika merupakan dua hal yang berbeda? Sering pula ada anggapan bahwa etika bisnis itu hanya terdapat dalam teori, pada kenyataannya, jika mau untung, sering kali kita melupakan etika. Benarkah demikian?

Sebelumnya kita harus mengetahui pengertian etika. Banyak definisi yang berkaitan dengan etika. Etika berbeda dengan hukum atau regulasi. Jika melanggar hukum, sanksinya jelas berupa pidana atau perdata. Sedangkan melanggar etika, sanksinya tidak jelas, hanya sanksi moral semata atau sanksi dari Yang Maha Kuasa. Maka, melanggar etika belum tentu berarti melanggar hukum. Akibatnya, sering etika tidak begitu diperhatikan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengatakan etika adalah, "Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak)". Menurut Wikipedia etika adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Tetapi, menurut John Calvin, etika tertinggi adalah dari pencipta manusia.

Hukum yang Tuhan berikan justru memberikan kebebasan bagi manusia untuk benar-benar menjadi manusia seutuhnya yang sesuai dengan keinginan Pencipta. Seharusnya, sanksi moral yang umumnya tidak jelas merupakan sanksi yang paling berat bagi umat beriman.

Kita seringkali terjebak dengan apa yang terlihat dan menempatkannya sebagai sesuatu yang lebih bernilai daripada hal-hal yang tidak kelihatan. Kita tidak menyadari bahwa sangat banyak hal yang tidak kelihatan, tapi justru memiliki porsi yang luar biasa besar dan penting.

Sebagai contoh, seorang pedagang kamera menjual kamera dengan mutu rendah atau cacat. Penjual berhasil menyembunyikan cacat itu, sehingga tidak diketahui oleh pembeli. Penjual mengingatkan pembeli bahwa barang yang telah dijual tidak bisa ditukar atau dikembalikan. Setelah beberapa waktu, pembeli komplain dan meminta untuk menggantinya. Penjual berdalih, bahwa waktu terjadi transaksi barangnya baik-baik saja. Salahkah si penjual.

Secara hukum bisa jadi benar. Tetapi, dari sisi etika bisnis, jelas-jelas salah. Dari semula sebenarnya penjual mengetahui barang tersebut ada cacatnya, tetapi tidak memberitahu si pembeli. Dalam jangka pendek, bisnis yang tidak memperhatikan etika mungkin mendatangkan keuntungan. Tetapi, dalam jangka panjang, akan terbentuk opini masyarakat mengenai toko tersebut, yaitu menjual barang rusak atau cacat. Lambat laun pembeli cenderung menurun. Jadi, sanksi etika itu hanya berbentuk sanksi moral dan baru terlihat dalam jangka panjang.

Contoh di atas memperlihatkan bahwa etika itu penting. Secara sederhana etika bisnis dapat diartikan sebagai suatu aturan main yang tidak mengikat, karena bukan hukum. Tetapi, dalam praktik bisnis sehari-hari etika bisnis dapat menjadi pedoman bagi aktivitas bisnis yang dijalankan.

Pengabaian etika bisnis tidak hanya berdampak kerugian bagi masyarakat, tetapi juga bagi tatanan ekonomi nasional. Disadari atau tidak, para pengusaha yang tidak memperhatikan etika bisnis akan menghancurkan nama mereka. Peribahasa mengatakan, "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang". Ketika seseorang meninggal, ia akan meninggalkan namanya. Problemnya adalah apa yang dilakukan semasa ia hidup.

Banyak orang yang mengejar "fast money and easy money" dengan segenap tenaga, bahkan tidak memikirkan orang lain. Apakah orang akan mengenang namanya karena banyaknya uang yang dimiliki? Mungkin namanya akan rusak karena banyak orang dirugikan semasa ia hidup. Kita harus bekerja baik baik, peduli terhadap orang lain atau pun juga alam sekitar, agar reputasi kita dikenang dengan baik nantinya

Bisnis pada waktu dulu hanya berdasarkan kepercayaan antarindividu. Tidak berbelit-belit dan rumit seperti sekarang. Kita bisa melihat kesederhanaan di dalamnya, Sederhana itu tetap yang terbaik. Namun, seiring "kemajuan" zaman, standar moral etika pun mengalami kemunduran luar biasa. Etika kerap dengan gampang dilanggar karena ego individu yang tak terkendalikan, dalam hal ini adalah pelaku bisnis yang serakah. (*/dari berbagai sumber)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/amankan-bisnis/14860-jangan-melupakan-etika-berbisnis.html

Monday, February 13, 2012

Merancang Strategi Bisnis yang Etis


Hits : 1044 PDF Cetak E-mail
Senin, 13 Februari 2012 14:35
CE-logoPerkembangan sebuah iklim perusahaan atau organisasi untuk menciptakan perilaku yang beretika dan bertanggung jawab membutuhkan upaya yang berkelanjutan dan investasi berupa waktu dan tenaga serta sumber daya yang tak sedikit. Sebuah kode tata perilaku, etika karyawan, program pelatihan dan pemeriksaan etika serta tata perilaku tidak serta merta bisa membentuk perilaku yang bertanggung jawab dan penuh etika dalam sebuah perusahaan. Sebuah program etika formal bisa digunakan sebagai katalis dan sistem pendukung tetapi integritas perusahaaan bergantung pada integrasi prinsip-prinsip perusahaan ke dalam sistem pengelolaannya.

Berikut ini merupakan beberapa unsur kunci yang harus diingat oleh entrepreneur saat mengembangkan sebuah strategi yang etis.
  • Prinsip dan komitmen yang menjadi panduan bagi entrepreneur harus tidak bertentangan dengan akal sehat dan bisa dikominikasikan dengan jelas. Prinsip dan komitmen tersebut harus cerminkan kewajiban perusahaan yang penting dan aspirasi yang dimiliki bersama yang menarik dan menyatukan anggota perusahaan. Para pegawai dalam setiap jenjang harus mengedepankan hal ini, merasa nyaman untuk berdiskusi tentang hal itu dan memiliki pemahaman yang konkret mengenai manfaat praktisnya.
  • Entrepreneur harus memiliki komitmen dari dalam dirinya, memiliki kredibilitas, dan bersedia untuk mengambil tindakan jika harus dihadapkan pada ancaman terlanggarnya nilai dan prinsip yang mereka junjung. Mereka ini bukan hanya orang yang bisa berbicara dan menggertak. Mereka harus bersedia untuk meneliti dengan keputusan mereka sendiri. Konsistensi dalam sisi kepemimpinan ialah sesuatu yang mutlak.  Entrepreneur harus berpikir bahwa ia juga bertanggung jawab untuk berani menegakkan konflik kewajiban dan kepentingan.
  • Nilai dan prinsip yang dianut harus diintegrasikan ke dalam kanal-kanal kegiatan penting perusahaan: inovasi perencanaan, alokasi sumber daya, komunikasi informasi dan kemajuan dan promosi personel.
  • Sistem dan struktur usaha  harus mendukung dan menegakkan prinsip-prinsipnya. Sistem informasi, misalnya, harus didesain untuk memberikan informasi yang aktual dan akurat. Pelaporan hubungan bisnis juga harus disusun untuk membangun sebuah kesiembangan dalam praktik ‘check and balance’ untuk meningkatkan penilaian objektif.
  • Para pegawai di seluruh bagian perusahaan harus memiliki ketrampilan, pengetahuan dan kompetensi pengambilan keputusan yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang etis setiap harinya. Pemikiran dan kesadaran teerhadap etika selayaknya menjadi bagian dari ketrampilan setiap pegawai yang bekerja dalam suatu perusahaan.
*) diadaptasi dari Lynn Sharp Paine, “Managing for Organizational Integrity,” Harvard Business Review” (Maret/April 1994): 106-17

http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/174-rencana-bisnis/14355-merancang-strategi-bisnis-yang-etis.html