Showing posts with label batik. Show all posts
Showing posts with label batik. Show all posts

Thursday, January 3, 2013

INSPIRASI FATICHUN

INSPIRASI FATICHUN

Fatichun pasok batik seragam PNS di Salatiga (1)

Fatichun pasok batik seragam PNS di Salatiga (1)
Usia yang tidak lagi muda ternyata tidak menghalangi seseorang untuk memulai usaha. Begitu juga dengan Fatichun, 64 tahun. Di usianya yang sudah tua, ia sukses mengibarkan batik khas daerahnya, Salatiga,  Jawa Tengah,
Awal mula perkenalannya dengan bisnis batik terjadi saat ia mendapat pelatihan dari Dinas Pariwisata Kota Salatiga pada 2008. Saat itu, ia baru dua tahun pensiun sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Pemkab Semarang.
"Walau sudah pensiun saya itu tidak betah berdiam diri tanpa pekerjaan," kata ayah dua putri ini. Lantaran masih ingin memiliki kesibukan, ia pun semangat mengikuti pelatihan mengenai bisnis batik selama 15 hari.
Kendati singkat, ia mengaku banyak mendapat pelajaran penting mengenai seluk beluk bisnis batik. Pelatihan itu sendiri memang mendorong para pesertanya terjun ke usaha batik.
Makanya, tak lama dari mengikuti pelatihan itu, ia langsung memutuskan terjun ke usaha pembuatan batik dengan brand Batik Selotigo. "Kebetulan saat pensiun, saya memang berniat membuka usaha," ujarnya.
Ia pun langsung mempraktikkan seluruh ilmu dan pengalaman yang didapatnya dari pelatihan, terutama menyangkut teknik produksi dan pemasaran.
Keputusan Fatichun terjun ke bisnis batik ini cukup berani. Pasalnya, dari 20 peserta pelatihan, hanya ia saja yang memutuskan terjun ke usaha batik.
Namun, keputusannya itu tidak salah. Dalam waktu singkat, ia sukses meraup omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.
Bisnisnya makin berkembang setelah Walikota Salatiga mewajibkan setiap PNS di daerahnya memakai batik khas Salatiga sebagai seragam kantor.
Makanya, pelanggan Batik Selotigo kebanyakan masyarakat setempat, khususnya dari instansi pemerintah. “PNS di Pemkot Salatiga diharuskan memakai pakaian berbahan kain batik khas Salatiga setiap hari Rabu sampai Sabtu,” katanya.
Peraturan yang berlaku mulai tahun 2010 itu turut mendorong kelancaran usahanya. Sejak saat itu, orderan dari pegawai pemerintah kota Salatiga membludak.
Bila sebelumnya hanya bisa menjual ratusan potong kain batik per bulan, kini permintaan terhadap kain batiknya mencapai ribuan potong."Dalam sebulan, saya bisa menjual sekitar 3.000 potong batik," katanya.
Selain menjual batik dalam bentuk kain lembaran, ia juga menjual batik dalam bentuk kemeja dan rok. Produk batiknya beragam dari batik tulis hingga batik cap, dan dibanderol mulai Rp 80.000 - Rp 250.000 per pieces.
Fatichun mengatakan, keputusan pemerintah itu merupakan bentuk dukungan terhadap industri kecil menengah (IKM) di Salatiga, terutama untuk produk kain batik.
Fatichun mengaku, tanpa bantuan pemerintah, bisnis batiknya akan sulit berkembang. Apalagi, batik khas Salatiga belum begitu dikenal
Usia batik Salatiga memang tergolong baru dibandingkan batik dari daerah lain, seperti Solo, Pekalongan, Cirebon, dan Yogyakarta. Fatichun sendiri mengklaim kalau  dirinya termasuk pelopor batik khas Salatiga.

Fatichun, juragan batik yang tak bisa membatik (2)

Fatichun, juragan batik yang tak bisa membatik (2)

Batik khas Salatiga sudah mulai diciptakan pada tahun 2004. Namun, pemerintah setempat baru serius mengembangkan batik khas daerah itu pada 2008, ketika Dinas Pariwisata Salatiga mengadakan pelatihan seputar batik.
Fatichun (64) menjadi salah satu pesertanya, sekaligus menjadi satu-satunya peserta yang terjun ke bisnis batik. Peserta lainnya tidak melakukan hal yang sama karena kekurangan modal.
Tidak lama setelah mendapat pelatihan, Fatichun langsung memulai usaha batik. Fatichun mengaku, merogoh kocek Rp 150 juta buat modal awal mendirikan usaha batik dengan brand Selotigo.
Modal itu digunakan untuk membeli perlengkapan membatik dan mendirikan galeri batik di Jalan Raya Salatiga – Bringin kilometer (km) 2, Watu Rumpuk, Salatiga.
Waktu itu, Fatichun mengaku mendapatkan pinjaman modal dari anaknya sendiri yang tengah bekerja di Jepang. Menjadi pengusaha batik sukses sering kali membuat orang menyangka Fatichun memiliki keterampilan membatik. Padahal, pemilik usaha batik Selotigo ini mengaku sama sekali tidak bisa membatik.
Maklum, usaha batik baru dimulainya ketika ia sudah berumur 60 tahun. Saat itu, ia baru dua tahun pensiun dari PNS Kabupaten Semarang. "Jangankan membatik, menjahit kain saja saya tidak bisa," katanya.
Lantaran tidak memiliki keterampilan membatik, saat awal memulai usaha, ia  langsung mendatangkan delapan orang pembatik dari Pekalongan dan Sidoarjo.
Saat itu, masih belum banyak pembatik profesional dari Salatiga. Seluruh kegiatan produksi diserahkan pada para pembatik tersebut. Ia hanya menjalankan manajemen batik Selotigo.
Setelah mendapatkan sumber daya manusia (SDM), Fatichun mencari merek dagang yang dirasa mampu mewakili visinya memajukan batik khas daerahnya.
Awalnya, ia mau memakai nama "Salatiga". "Tapi ketentuannya nama kota tidak bisa dijadikan merek dagang," ujarnya. Karena itu, ia memilih nama Selotigo yang memiliki arti tiga batu yang bertumpuk.
Nama ini memiliki kesamaan arti dengan motif "Watu Rumpuk" yang menjadi ciri khas batik daerah Salatiga. Pada tahun 2010, Fatichun mulai memasarkan batik Selotigo melalu internet, terutama di Facebook dan blog. Namun cara ini dirasa kurang efektif sehingga Fatichun tidak meneruskannya.
Sekarang, Fatichun fokus melakukan pemasaran lewat radio lokal. Dalam beberapa kesempatan, ia diundang menjadi pembicara talkshow di radio seputar batik khas Salatiga. Di situ, ia juga mempromosikan produk batiknya.
Selain itu, ia juga rajin mengikuti pameran di beberapa kota, seperti Semarang, Kudus, dan Grobogan. Fatichun juga pernah mengikuti fashion show khusus produk batik.
"Waktu itu ada acara pemilihan model. Batik saya terpilih diikutkan pada fashion show," katanya. Selama empat tahun menjalankan usaha batik, Fatichun masih belum menemukan pembatik asli Salatiga.
Padahal, ia ingin menambah desain batik khas Salatiga agar lebih bervariasi.   

Fatichun mendongkrak pamor batik Salatiga (3)


Fatichun mendongkrak pamor batik Salatiga (3)

Walau diciptakan tahun 2004, batik khas Salatiga baru serius dikembangkan oleh pemerintah setempat pada 2008 lalu. Fatichun termasuk salah seorang pelopor industri batik Salatiga dengan merek dagang Selotigo.
Sebetulnya, menjadi pelopor industri batik Salatiga jauh dari impian Fatichun. Apalagi, sejak awal pria pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) ini tak pernah memiliki keinginan menjadi pengusaha.
Keinginan untuk berwiraswasta baru muncul saat Fatichun pensiun sebagai pegawai Pemerintah Kabupaten Semarang tahun 2006. "Walau sudah pensiun, saya tidak betah berdiam diri tanpa pekerjaan," kata ayah dua putri ini.
Perkenalannya dengan dunia batik terjadi saat mengikuti pelatihan yang digelar Dinas Pariwisata Kota Salatiga pada 2008. Sejak mengikuti pelatihan itu, Fatichun belajar banyak seputar dunia batik khususnya batik Salatiga.
Fatichun mengatakan, batik Salatiga sering juga disebut dengan batik plumpungan. Motif batik plumpungan diciptakan pertama kali tahun 2004 dan menjadi motif batik yang paling terkenal di Salatiga.
Nama plumpungan berasal dari Prasasati Plumpungan yang sarat nilai filosofi dan sejarah bagi Salatiga. Gagasan dasarnya ialah mengambil bongkahan batu tulis yang terdapat pada Prasasti Plumpungan.
Makanya, yang menjadi ciri khas batik plumpungan adalah gambar dua bulatan batu yang terdiri dari batu besar dan kecil yang saling berimpitan.
Selain plumpungan, batik Salatiga juga memiliki beberapa motif lain, seperti bayang-bayang, cempaka mekar, gendongan, genggong, dan watu rumpuk plumpungan. Semua motif ini ada di butik milik Fatichun.
Menurut Fatichun, batik Salatiga mempunyai beberapa kelebihan. Misalnya, warna yang awet dan tidak mudah luntur. Mayoritas kelirnya juga cerah sehingga disukai banyak kalangan masyarakat. "Saya sengaja pakai warna ngejreng pada batik saya supaya anak muda juga suka," ujarnya.
Kendati sudah sukses, Fatichun belum puas dengan usaha batiknya saat ini. Ia terobsesi membuka sekolah membatik bagi warga Salatiga. Sebab, pembatik yang terampil di Salatiga realtif jarang.
Rencananya, Fatichun akan menjadikan butik batiknya sebagai tempat pelatihan membatik. Dengan membuka tempat pelatihan, dia berharap, semakin banyak orang yang tertarik mendalami batik Salatiga  dan mengembangkannya di masa mendatang.
Fatichun juga berkeinginan, kelak Salatiga bisa terkenal sebagai kota penghasil batik, semisal Pekalongan dan Solo. "Kalau daerah lain saja bisa mendapatkan identitas penghasil batik, tentunya Salatiga juga bisa," ucapnya yakin.
Batik Salatiga, Fatichun bilang, sangat potensial dikembangkan. Saat ini saja, peminat produk batiknya meliputi hampir semua kalangan.
Dari kalangan artis, contohnya, butik batiknya pernah dikunjungi Dwi Andika sdan Shezi Idris. Tapi, lantaran usianya sudah tidak muda lagi, dia berencana mewariskan bisnis batiknya ke anaknya.      

(Selesai)
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/fatichun-pasok-batik-seragam-pns-di-salatiga-1/2012/12/26
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/fatichun-juragan-batik-yang-tak-bisa-membatik-2/2012/12/27
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/fatichun-mendongkrak-pamor-batik-salatiga-3

Monday, September 24, 2012

Batik Laweyan

SENTRA BATIK LAWEYAN SOLO, JAWA TENGAH

Batik Laweyan: Berjaya setelah jadi ikon wisata

Batik Laweyan: Berjaya setelah jadi ikon wisata

Kampung Batik Laweyan merupakan salah satu sentra kerajinan batik yang cukup kesohor di daerah Solo, Jawa Tengah. Konon, sentra batik terbesar di Solo ini sudah ada sejak 350 tahun silam.
Saat ini, terdapat ratusan perajin yang memproduksi batik dengan aneka motif secara turun temurun. Sebagai generasi penerus, mereka kini terobsesi untuk mengembalikan Laweyan seperti masa kejayaannya di tahun 1900-an.
Berbagai usaha telah dilakukan untuk memperkenalkan kembali ini sentra ini ke khalayak ramai. Salah satunya dengan menobatkan Kampung Batik Laweyan sebagai ikon pariwisata Kota Solo.
Upaya itu tidak sia-sia. Terbukti, dalam beberapa tahun terakhir, Kampung Batik Laweyan kembali berjaya. Saat KONTAN mengunjungi sentra ini, beberapa waktu lalu, tampak banyak wisatawan berkunjung ke Laweyan.
Selain belanja batik, banyak dari wisatawan itu memanfaatkan kunjungannya untuk belajar membatik langsung dari para perajin. Aktivitas itu terlihat di salah satu bengkel batik bernama Omah Laweyan.
Selain sebagai bengkel produksi, Omah Laweyan juga berfungsi sebagai toko. Tampak luar, toko ini tetap mempertahankan kekhasan bangunan zaman dulu, dipadu dengan sentuhan modern di bagian dalam.
Di teras toko, nampak beberapa pembatik tengah sibuk menggoreskan canting ke atas kain dengan motif batik. Beberapa pengunjung terlihat antusias memperhatikan proses pembuatan batik tersebut.
Pengunjung lainnya ada pula yang sibuk melihat-lihat ke dalam toko, dan memborong beberapa kain batik maupun suvenir khas Solo. Pemilik Omah Laweyan, Heru Cahyono mengakui, sentra Laweyan kini mulai kembali ramai dikunjungi. "Memang harapan kami, ke depan Laweyan bisa menjadi maskot kota Solo," ujar Heru.
Sejak ramai wisatawan berkunjung, ia mengaku penjualan batiknya terus meningkat. Setiap bulan, rata-rata ia bisa menjual hingga ratusan kain batik. Omah Laweyan kebanyakan menjual batik tulis dengan harga mulai dari Rp 400.000 hingga Rp 14 juta per lembar. Di luar itu, ada pula penjualan batik print atau cetak, aneka kaos khas Solo, dan suvenir.
Diperkirakan, omzet Omah Laweyan bisa mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya. Menurut Heru, kembali berjayanya Kampung Laweyan merupakan kerja keras berbagai pihak.
Salah satu yang berjasa adalah Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL). Forum ini merupakan gabungan dari para pengusaha batik. "Tadinya satu kampung Laweyan ini pembatik, tapi di tahun 2000-an pengusaha yang tersisa tinggal 16 saja, hampir punah" ujar Humas sekaligus Kepala Divisi IT PKBL, Arif Budiman Effendi.
Prihatin melihat kondisi itu, pada September 2004 mereka pun mendirikan FPKBL. Sejak dibentuk, forum ini fokus mengembangkan Laweyan. Untuk itu, mereka pun gencar melakukan sinergi dengan berbagai pihak.
Salah satunya dengan pemerintah setempat dengan mencanangkan Laweyan sebagai tempat wisata. Para pengusaha juga terus berupaya melestarikan tradisi pembuatan batik dengan mengembangkan sumber daya manusia.
Selain menggandeng pemerintah, mereka juga gencar menjalin kerja sama dengan pengelola hotel di Solo untuk memperkenalkan Laweyan. Dalam kerjasama ini, pengusaha batik Laweyan menyediakan sarana transportasi gratis dari hotel ke Kampung Laweyan. "Mereka bisa telepon, kami segera antar-jemput dari hotel ke tempat kami, gratis," ujar Heru.
Laweyan sebagai ikon pariwisata Solo, sukses bukan hanya karena tradisi batiknya. Tapi juga karena Laweyan memiliki aset cagar budaya dari segi bangunannya. Banyak rumah atau toko milik pengusaha batik di kampung ini bergaya kuno dan dibiarkan seperti aslinya.
Mayoritas bangunannya merupakan perpaduan gaya Jawa dan Eropa tempo dulu. Wisata edukasi pun dikembangkan di tempat ini. "Sudah banyak para siswa sekolah dan mahasiswa, mulai dari S1 sampai S3 yang mengadakan penelitian di Laweyan. Semua kami sambut dan kami layani dengan baik," ujar Arif.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/batik-laweyan-berjaya-setelah-jadi-ikon-wisata

Friday, September 14, 2012

Sentra batik Krebet

SENTRA BATIK KAYU DESA KREBET, BANTUL

Sentra batik Krebet: Baru berkembang tahun 2000 (2

Sentra batik Krebet: Baru berkembang tahun 2000 (2

Kerajinan batik kayu di desa Krebet, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta sudah ada sejak tahun 1980-an. Namun, kerajinan di desa ini berkembang sejak Krebet dikukuhkan sebagai desa wisata di tahun 2000. Sejak itu, banyak sanggar baru bermunculan. Total sudah ada 50 sanggar di desa ini.

Desa Krebet, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Batul sudah terkenal sebagai gudang produk kerajinan batik kayu sejak tahun 1980-an. Beberapa kerajinan, seperti topeng kayu, tempat perhiasan, sandal, wayang orang, miniatur binatang, dan pernak-pernik lainnya, ada di desa ini.

Namun, sentra ini baru benar-benar terbentuk pada tahun 2000. Yakni, bertepatan dengan pengukuhan Desa Krebet sebagai desa wisata di Yogyakarta.

Yulianto, Wakil Ketua Kelompok Sadar Wisata Krebet bilang, sejak dikukuhkan sebagai desa wisata, industri kerajinan batik kayu di desa ini berkembang pesat. "Banyak sanggar baru bermunculan," katanya.

Sampai saat ini saja, tercatat sudah ada 50 sanggar kerajinan yang menyerap lebih dari 500 perajin di desa ini. Yulianto sendiri termasuk salah seorang pemilik sanggar bernama Yuan Art.

Yulianto bilang, sejak menjadi desa wisata, pasar kerajinan batik kayu di desa ini semakin terbuka lebar. Itu juga yang mendorong bermunculannya sejumlah sanggar baru.

Selain di dalam negeri, kerajinan batik kayu desa ini juga merambah pasar luar negeri. Maklum, sejak menjadi desa wisata, desa ini sering didatangi turis lokal dan asing.

Sebagai desa wisata, warga Krebet juga menyediakan fasilitas home stay bagi turis yang ingin menginap. "Nah, banyak turis yang mampir ke Krebet untuk menimba ilmu membatik di atas kayu," ungkap Yulianto.

Karena pasarnya kian terbuka, banyak warga yang tadinya menjadi perajin kini membuka usaha sendiri sebagai produsen batik kayu. "Jadi banyak yang memutuskan mandiri," ujarnya.

Untuk tenaga perajinnya, mereka banyak mempekerjakan warga dari desa lain. Karena perkembangan yang pesat itu, kini Krebet makin kesohor sebagai penghasil kerajinan batik kayu.

Kendati makin banyak sanggar, tingkat persaingannya masih kondusif. Menurut Yulianto, setiap sanggar memiliki pasar sendiri serta mengambil spesialisasi masing-masing. "Beberapa sanggar ada yang mengambil spesialisasi ukiran kayu saja dan ada pula yang spesialis membatik, jadi kedua nya bisa saling terintegrasi," ujarnya.

Agus Jati Kumara, pengelola Sanggar Punokawan, mengakui, usaha batik kayu di Krebet semakin berkembang sejak menjadi desa wisata. Menurutnya, seringnya turis asing mampir belajar membatik membawa berkah bagi para perajin.

Sebab, banyak dari turis itu yang datang kembali dan juga merekomendasikan Krebet kepada kenalannya di negara mereka. "Sejauh ini testimoninya selalu positif," ujarnya.

Karena sering berhubungan dengan dunia luar, wawasan para perajin pun kian terbuka. Terbukti, banyak dari mereka kini melek teknologi. Hampir semua perajin di desa ini sudah memiliki website untuk mempromosikan produk-produknya di internet. "Pasar potensial kami di luar Bantul, untuk menjangkaunya perlu internet," kata Agus.

Sentra batik Krebet: Cari siasat agar melesat (3)


Sentra batik Krebet: Cari siasat agar melesat (3)
Kendati pamor Desa Krebet mulai moncer, tak berarti bisnis para produsen batik kayu di desa tersebut terangkat. Infrastruktur jalan yang rusak dan lesunya pasar ekspor menjadi penghambat bisnis mereka. Kini mereka fokus menggarap pasar lokal.

Meskipun namanya sudah mulai terangkat sebagai daerah wisata kerajinan batik kayu, namun tak serta merta usaha para produsen batik kayu di desa Krebet, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi moncer. Rusaknya jalan menuju Desa Krebet serta lesunya pasar ekspor masih menjadi hambatan utama. Untungnya, mereka masih bisa mengandalkan pasar domestik yang tetap bergairah.

Yulianto, pemilik Yuan Art di sentra ini mengakui, agar bisa memasarkan produk kerajinan pihaknya tak bisa hanya menunggu konsumen datang. "Kami harus berinisiatif, ikut pameran atau menjajakan produk lewat internet," katanya.

Ini penting karena kalau cuma mengandalkan turis yang datang, dapur mereka tak bisa mengepul. Maklum, akses jalan menuju Krebet banyak yang rusak. Bahkan, kata Yulianto, warga di sekitar Yogyakarta sendiri enggan datang ke Krebet, gara-gara jalanan yang rusak.

"Kami berharap Pemerintah Kabupaten Bantul mau mendengar keluhan ini sekaligus melakukan perbaikan," ujarnya.

Tak hanya jalan rusak, pasar ekspor yang lesu juga membuat usaha mereka rada seret. Yulianto berkisah, pada tahun 2005-2007 silam, permintaan pasar ekspor cukup tinggi. Waktu itu, dalam setahun, ia setidaknya mengirim tiga kali pesanan produk wayang kayu jati dengan motif batik ke berbagai negara di Eropa dan Asia Timur.

Sayang, tahun 2008 krisis keuangan dunia menerjang. Ekspor produk batik kayu pun langsung lunglai bahkan sampai sekarang. Karena permintaan pasar ekspor jatuh, mereka pun fokus menggarap pasar domestik.

Agus Jati Kumara, pengelola Sanggar Punokawan mengakui, pasar ekspor telah lama vakum karena minimnya permintaan. Ia bilang, pasar lokal kini menjadi andalan para produsen kayu batik untuk mengais rupiah.

Sejumlah cara dilakukan demi menggenjot permintaan dari pembeli dalam negeri. "Kami mengirimkan produk ke pusat penjualan kerajinan kayu yang banyak ditemukan di Yogyakarta, Solo, dan Bali," timpal Yulianto.

Selain itu, mereka juga sering mengikuti pameran yang diadakan berbagai pihak. Meski hasil penjualan dari pameran tak terlalu besar, tapi setidaknya bisa menjadi ajang promosi produk mereka.

Strategi lain demi mendongkrak penjualan adalah dengan pemasaran secara online. Selain itu, belakangan para produsen batik kayu Krebet juga melayani pembuatan batik kayu secara custom atau sesuai pesanan.

Tatik Nur Hayati, Manajer Operasional Sanggar Peni mengatakan, beberapa sanggar di Krebet menawarkan batik kayu secara custom berikut jenis kayu yang diinginkan pembeli. Bahkan termasuk motif batik yang diinginkan. "Batik jawa timuran dan Kalimantan sering menjadi pilihan," katanya.

Agar bisnis batik kayu Krebet makin hidup, Yulianto yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata Krebet bilang, pihaknya tahun depan akan mencari sponsor untuk bersama-sama mengembangkan potensi wisata di Krebet. \'Mudah-mudahan banyak yang berperan serta dalam rencana ini," katanya.

peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-batik-krebet-baru-berkembang-tahun-2000-2/2012/09/12
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-batik-krebet-cari-siasat-agar-melesat-3

Wednesday, September 5, 2012

Peluang bisnis baju batik pria khas Solo


TAWARAN KEMITRAAN


Batik kini semakin digemari berbagai kalangan dan usia.Peluang itu juga yang mendorong CV Ansena Group terjun ke usaha pembuatan batik dengan brand Eleven Batik di Kalitan, Solo, Jawa Tengah.
Usaha ini berdiri tahun 2011 dan mulai tahun ini, CV Ansena menawarkan kemitraan. "Sekarang kami punya 10 cabang dan lima milik sendiri," kata Marketing Manager Ansena Group, Darryl Mosses.
Semua cabang tersebut masih berada di Solo dan sekitarnya. Darryl bilang, Eleven Batik hanya menyediakan baju batik khusus pria. Kepada para mitranya, batik pria dewasa ini dibanderol Rp 70.000 - Rp 75.000 per pieces.
Mitra bisa menjualnya ke pasaran dengan harga mulai Rp 100.000 - Rp 105.000 per pieces. "Jadi ada laba Rp 30.000 per baju," jelasnya. Bagi yang tertarik menjadi mitra, Elenven Batik menawarkan paket investasi Rp 4 juta. Dengan investasi itu, mitra akan mendapat 11 pieces batik, satu set hanger, satu buah lemari, papan banner, dan hang tag.
Estimasi omzet mitra Rp 2 juta - Rp 6 juta per bulan. Degan asumsi, mitra menjual rata-rata lima hingga 10 pieces batik per hari, mitra balik modal dalam waktu dua sampai tiga bulan pasca beroperasi. 

Wednesday, January 18, 2012

INSPIRASI DEDEN SUPRIYADI

Peluang Usaha
 
Senin, 16 Januari 2012 | 14:27  oleh Muhammad Yazid
INSPIRASI DEDEN SUPRIYADI
Deden pengibar batik tasikmalaya sampai ke luar kota (1)
Sebagai warisan budaya, motif batik di Indonesia sangat kaya ragam. Hampir setiap daerah memiliki corak yang khas. Tak terkecuali Tasikmalaya yang memiliki batik khasnya sendiri. Sayangnya, batik tasikmalaya kalah pamor dibandingkan dengan batik asal Pekalongan dan Solo. Padahal, keelokan batik tasikmalaya tak bisa dianggap sebelah mata.

Menyadari potensi tersebut, Deden Supriyadi terobsesi untuk memperkenalkan batik khas Tasikmalaya ke seluruh penjuru Nusantara. Upaya itu tidak sia-sia. Di bawah bendera usaha Deden Batik, ia sukses memperkenalkan batik khas Tasikmalaya hingga ke Jakarta, Surabaya, dan Samarinda.

Di daerahnya asalnya sendiri, merek Deden Batik termasuk legendaris. Keterampilan Deden membuat batik diwarisi dari kedua orang tua. "Sejak tahun 1945, orang tua saya merintis usaha pembuatan khas Tasikmalaya dengan merek Asep Batik," kata Deden, kemarin.

Namun, Deden mulai terlibat langsung membantu usaha batik orang tuanya itu sejak lulus sekolah menengah atas pada 1987. Saat itu, ia bertugas sebagai tenaga pemasar.

Sejak kedua orang tuanya meninggal di awal tahun 2.000, ia mulai memegang kendali Asep Batik. Merek dagang pun ia ganti menjadi Deden Batik. Berkat pengalamannya memasarkan produk batik, ia sukses mengembangkan pasar hingga ke luar kota.

Selain mengelola dua gerai toko, kini Deden juga memiliki pabrik batik di Tasikmalaya. Pabrik tersebut tidak menggunakan mesin dan beroperasi secara manual.

Terdapat sekitar 50 orang yang bekerja di pabrik tersebut. Selain batik cap, Deden juga memproduksi batik tulis. Dalam sebulan, ia memproduksi 12.000 potong batik cap, dan dua kodi atau 40 lembar kain batik tulis.

Harga kedua batik tersebut berbeda. Untuk batik cap dibanderol Rp 45.000 per potong. Adapun harga per kodi Rp 900.000. Harga batik tulis jauh lebih mahal, yakni Rp 500.000 per lembar. "Kami juga menawarkan jasa jahit, dengan tarif sekitar Rp 45.000," kata Deden.

Dalam sebulan, rata-rata penjualan mencapai 10.000 potong batik. Selain untuk memenuhi pasar di Jawa Barat, batik-batik tersebut dipasarkan ke Samarinda, Jakarta, dan Surabaya.

Dengan penjualan sebanyak itu, omzet yang ia peroleh berkisar antara Rp 500 juta hingga Rp 600 juta per bulan. "Laba bersih saya sekitar 40% dari omzet," ujar Deden.

Kini, Deden sudah tergolong pemain batik besar di Tasikmalaya. Hampir tiap hari, toko batiknya ramai dikunjungi pembeli. Selain pembeli lokal, banyak juga pembeli dari daerah lain.

Berkat toko tersebut, pemasaran batiknya terus berjalan. "Setiap produsen batik seharusnya memiliki toko agar tidak putus pemasarannya jika permintaan luar kota sedang sepi," tutur Deden.

Batik buatan Deden digemari karena warna-warnanya mencolok seperti merah, biru, dan hijau merupakan warna khas dari batik tasikmalaya. Menurut Deden, ketiga warna cerah tersebut sejak lama menjadi ciri khas batik tasikmalaya. Saat ini, ia sudah membuat sekitar 10.000 motif batik yang beredar di pasar. 
 
Selasa, 17 Januari 2012 | 14:52  oleh Muhammad Yazid
INSPIRASI DEDEN SUPRIYADI
Deden merintis usaha berbekal dua peralatan batik sederhana (2)
Deden Supriyadi mulai mengenal kerajinan batik dari orang tuanya sejak kecil. Di bawah bendera usaha Asep Batik, orang tua Deden membuat aneka motif batik khas Tasikmalaya. Namun, Deden baru bersentuhan langsung dengan batik pertama kali sejak lulus sekolah menengah atas (SMA) pada 1987.

Saat itu, Deden diminta membantu memasarkan produksi batik. Kebetulan, saat itu orang tuanya sudah memiliki toko batik di Garut, Jawa Barat. "Nah, saya diminta untuk mengurus toko itu," kata Deden.

Selama 13 tahun ia mengelola toko tersebut. Ketika bapaknya meninggal di tahun 2.000, Deden terpaksa kembali ke Tasik untuk mengurus usaha pembuatan batik yang telah dirintis sejak tahun 1945.

Toko batik di Garut dijual. "Hasilnya untuk dibagi-bagikan kepada saudara," kenang Deden.

Sepeninggalnya bapaknya, usaha pembuatan batik semakin meredup. Aset yang masih tersisa hanya dua buah peralatan batik sederhana, empat orang karyawan, serta uang tunai Rp 3 juta.

Dalam kondisi yang serba-terbatas itu, ia nekat membangun kembali usaha pembuatan batik tersebut, dengan bendera baru bernama Deden Batik. Untuk modal usaha, ia mendapat pinjaman dari seorang teman dengan sistem bagi hasil.

Dalam waktu singkat, Deden Batik sudah mampu berkibar. Usahanya berkembang cukup pesat. Pesanan besar, pertama kali datang dari Pemda Garut yang meminta dibuatkan seragam batik bagi pegawai negeri sipil (PNS) di daerah tersebut. Dari pesanan itu, Deden bahkan dapat membeli satu unit rumah.

Pada 2003, bapak dua anak ini mencoba mengembangkan usahanya dengan memproduksi busana muslim. Untuk bahan pakaian, ia dapatkan dari seorang produsen tekstil dengan sistem pembayaran di belakang (utang).

Saat itu, ia mendapat bahan pakaian dengan nilai barang mencapai Rp 300 juta. Deden lalu memasarkan busana muslim ke sejumlah pasar di daerah Tasikmalaya. Sekitar 100 pedagang pakaian bersedia bekerja sama dengannya untuk menjual produk tersebut. Kerja sama dengan pedagang itu memakai sistem kredit.

Berjalan dua tahun, usaha dalam bentuk kredit kepada pedagang berjalan lancar dan dapat menambah omzet Deden Batik hingga puluhan juta rupiah. Tapi, seiring berjalannya waktu, cicilan pembayaran dari para pedagang mulai tersendat. Pasalnya, mereka juga menawarkan sistem kredit kepada pembeli.

Karena kredit macet itu, ia juga tidak dapat membayar utang kepada produsen tekstil yang menjadi mitra kerjanya. "Utang saya lebih dari Rp 400 juta," katanya.

Terlilit utang ratusan juta, sempat membuat Deden kelimpungan. Sebab, pakaian yang sudah telanjur dipasarkan ke pedagang susah bisa ditarik kembali, padahal utang harus segera dilunasi.

Demi menutup utang, Deden akhirnya menjual rumahnya seharga Rp 160 juta. Sementara itu, sisa utang dibayarnya secara mencicil.

Uang yang diperoleh dari menjual rumah, tidak semuanya digunakan untuk membayar utang. Sebagian dipakai buat menambah modal usaha. "Kali ini saya hanya fokus ke batik, sepertinya saya memang cocok di situ," ujarnya.
 
Rabu, 18 Januari 2012 | 12:10  oleh Muhammad Yazid
INSPIRASI DEDEN SUPRIYADI
Meski sukses, Deden tidak berpuas diri dan akan terus ekspansi (3)
Setelah terjerat dalam lilitan utang, Deden Supriyadi memutuskan untuk meninggalkan usaha pembuatan busana muslim, dan kembali fokus menggeluti bisnis batik. Namun, tak mudah bagi Deden untuk bangkit kembali. Sebab, jeratan utang senilai hampir Rp 400 juta sempat membuat usaha batiknya terpuruk.

Tetapi, hal itu tidak membuatnya putus asa. Pantang menyerah dan terus berusaha memang menjadi moto hidup Deden. "Cobaan berat harus saya hadapi sekuat mungkin," katanya.

Berbekal uang hasil menjual rumah yang sebagian dia pakai untuk membayar utang, Deden kembali membenahi Deden Batik. Sisa uang penjualan rumah ia gunakan buat menyewa toko untuk memasarkan karya-karya batiknya.

Selain itu, ia juga mulai mengembangkan jaringan pemasaran melalui internet.Tetapi, Deden mengaku butuh waktu lama untuk meyakinkan rekan-rekan bisnis agar mau bekerja sama kembali. "Saat punya utang, saya dijauhi dan tidak dipercaya. Sekarang Alhamdulillah," ungkapnya.

Semua upaya yang ia lakukan memang tidak sia-sia. Deden Batik kini berjaya lagi dan semakin berkembang. Karya-karyanya telah menembus pasar di berbagai kota, seperti Jakarta, Surabaya, dan Samarinda.

Toko batiknya di Tasikmalaya juga ramai dikunjungi pembeli. Berkat toko itu, pemasaran batiknya terus berjalan. "Batik yang batal dikirim keluar kota masih bisa dipasarkan di toko sendiri," ujar Deden.

Jika tidak memiliki toko, biasanya para produsen akan melempar produknya ke penjual dengan harga yang murah. "Makanya, setiap produsen perlu punya toko sendiri," ucapnya.

Selain pembeli eceran, banyak juga pedagang batik dari daerah lain yang berkunjung ke toko Deden Batik. Umumnya, mereka mendapat infromasi Deden Batik lewat internet.

Pesanan dalam skala besar juga selalu datang. Pesanan besar pertama datang dari Pemerintah Kota Samarinda, Kalimantan Timur di awal 2009. Saat itu, Pemerintah Samarinda memesan 3.000 potong baju batik tulis.

Produk batik Deden diminati karena mirip dengan batik khas Kalimantan. "Saya dapat kabar, tahun ini, Pemerintah Samarinda akan pesan lagi," kata dia.

Selain dari Samarinda, dua pedagang asal Surabaya juga kepincut batik buatan Deden. Saban bulan, Deden mengirim minimal 300 potong jenis batik cap berukuran 2,35 x 1,7 meter ke Kota Pahlawan tersebut.Kerja sama itu sudah terjalin sejak awal 2011 lalu.

Sejak dua tahun lalu, ia juga mulai menjalin kerja sama dengan pedagang batik dari Jakarta. Saat ini, sepuluh pedagang dari ibu kota menjadi langganan Deden. "Setiap bulan, kami mengirim 8.000 potong bahan batik ke Jakarta," imbuhnya.

Di Tasikmalaya, Deden telah memiliki dua toko dan satu pabrik yang menampung 50 pekerja. Setiap bulan, ia memproduksi 12.000 potong batik cap dan 40 potong batik tulis. Pada pertengahan Januari ini, Deden akan membuka pabrik baru di Banjar, Jawa Barat yang dapat mempekerjakan 20 orang.
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/deden-pengibar-batik-tasikmalaya-sampai-ke-luar-kota-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/deden-merintis-usaha-berbekal-dua-peralatan-batik-sederhana-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/meski-sukses-deden-tidak-berpuas-diri-dan-akan-terus-ekspansi-3

Friday, November 25, 2011

Mayasari Serkarlaranti, Hasilkan Batik Berkualitas dengan Bahan Alami



Views :129 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 23 November 2011 13:08
Kekayaan alam nusantara yang melimpah, tak jarang menjadi sumber inspirasi bagi para entrepreneur untuk menjalankan bisnis yang kreatif. Begitu pula di bisnis pakaian, yang amat membutuhkan kreatifitas produk untuk menjaring konsumen. Salah satunya di bisnis batik, di mana Indonesia adalah trend setter dan ikon batik dunia. Hal inilah yang coba dilakukan oleh Mayasari Serkarlaranti. Dengan tanaman Indigofera tinctoria, atau lebih dikenal dengan sebutan tanaman nila, wanita yang akrab disapa Nita ini berusaha melestarikan batik Jawa dengan pewarna alami. Kini ia telah memiliki Galeri Batik Jawa sebagai tempat usahanya di lima kota, yakni Jakarta, Yogyakarta, Bekasi, Semarang, dan Bandung.

batik_INDIGODengan pewarnaan alami yang berasal dari daun indigo ini, jadilah batik yang berwarna biru, yang ia sebut dengan "Colour of The King" mengingat warna biru dipakai dalam pakaian raja-raja Jawa zaman dahulu. Namun, sekalipun dominan biru, batik indigo pun bisa dicampur dengan warna lainnya. Untuk ini, Nita pun tetap menggunakan pewarna alami, seperti dari kulit batang mahoni untuk warna coklatnya. Karena berusaha menonjolkan sisi alami dalam pemilihan bahan, tak aneh jika proses pewarnaan menggunakan indigo tidak mudah.

"Saya cuma melestarikan saja. Dulu batik Jawa semuanya pakai warna alam, salah satunya indigo. Karena, memang terus terang proses untuk batik indigo ini masih dikatakan (bisa) 15 sampai 20 kali celupan. Sementara untuk batik-batik dengan warna biru kimia cukup dua kali celup sudah selesai," terang Nita seperti dikutip dari Kompas.com, Rabu (23/11).

Selain itu, faktor cuaca cukup berpengaruh. Panas matahari dibutuhkan untuk proses pengeringan setelah proses celup selesai. Ia pun menyebutkan, proses celupan bisa memakan waktu dua minggu hingga satu bulan. Dari 10 kg daun itu dapat menghasilkan 1 kg campuran indigo. Perkenalan batik indigo melalui pameran pun baru dilakukan tahun 2009 di Jakarta. Namun, penelitian untuk menggunakan warna biru dari daun, yang kini ditanamnya sendiri di lahan seluas 5.000 meter persegi, telah memakan waktu tujuh tahun.

Tahun 2006, saat gempa di Yogyakarta terjadi, ia pun membuat pendampingan untuk para perajin batik di Imogiri guna melakukan pencobaan proses celup dengan daun indigo. Dengan galeri batik yang dikelolanya sejak tahun 2005, kini 90 persen produk yang dijual merupakan batik indigo, selebihnya batik titipan dari para perajin batik desa.

Nita menceritakan, dirinya sempat mengalami kendala teknis, yaitu ketersediaan daun indigo. Sebelum membudidayakannya, ia hanya mengandalkan pencarian daun di pinggir pantai, sekitar lapangan bola, sekitar pabrik gula peninggalan zaman Belanda.

Sekalipun menemui sejumlah kesulitan, seperti kenaikan harga bahan baku, ia tetap berusaha menggunakan pewarna dari daun indigo 100 persen. Meskipun sudah ada yang menjual pewarna ini di pasar, ia tetap memproduksinya sendiri karena takut sudah ada campuran kimianya.

Mengenai pemasaran, dirinya mengaku masih dalam tahap mengenalkan batik indigo ini agar dikenal oleh masyarakat Indonesia dulu sebelum menembus ke luar negeri. Namun, ia pun tidak menampik jika ada permintaan hadir di pameran-pameran yang diadakan di luar Indonesia. Saat ini ia mempunyai 20 pekerja untuk proses pencelupan. Adapun untuk proses menenun hingga menulis dengan canting, pihaknya bekerja sama dengan para perajin. Setelah lima tahun pembatikan berjalan, kini di Imogiri mulai tumbuh generasi pelanjut. Sudah ada beberapa anak remaja yang terlibat membatik.

”Kuncinya adalah pemahaman pada generasi muda bahwa batik bisa menghasilkan income yang rutin. Memang ada batik-batik yang per helainya dikerjakan sampai berbulan-bulan, tapi untuk pemasukan rutinnya, mereka juga mengerjakan batik yang motifnya mudah dan bisa diselesaikan dalam beberapa hari,” kata Nita.

Di gerainya, Nita menjual batik tulis indigo seharga Rp 350.000 sampai Rp 1,5 juta untuk kain, dan Rp 350.000 sampai Rp 1,5 juta untuk baju yang sudah jadi. (*/Gentur)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/wanita/12980-mayasari-serkarlaranti-hasilkan-batik-berkualitas-dengan-bahan-alami.html

Wednesday, October 12, 2011

Endi, Sang Pemilik Nila Kandi

Views :102 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 12 Oktober 2011 10:03
Berawal dari kecintaannya terhadap batik sejak bangku Sekolah Menegah Pertama, Rachmani Endrawati mewujudkan hobinya dengan membangun label batik Nila Kandi. Kecenderungan memilik batik encim yang dipilihnya pun karena ia memang sangat menyukai motif batik encim yang ramai, dan penuh warna yang menarik.

nilakandiEndi, demikian sapaan akrab perempuan kelahiran Surabaya, 1 Oktober 1961 ini, membuat batik Nila Kandi identik dengan gaya seksi. Dengan cara ini, ia ingin menjelaskan kepada masyarakat umum bahwa batik cocok dan pantas dipakai oleh kalangan usia manapun, di mana pun, dan dalam acara apa pun.

"Rasanya akan lebih oke kalau desainnya juga menunjukkan keseksian wanita yang memakainya. Yang pasti tetap pantas dikenakan, dan enak dilihat," tutur Endi.

Endi, yang semula seorang ibu rumah tangga biasa, awalnya memang tidak berniat terjun untuk berbisnis. Niatnya hanya mengoleksi busana dan kain batik saja. Namun, rasa bosan yang melanda membuatnya iseng mendesain busana batik. Niatnya tersebut didukung penuh oleh sang suami yang berkebangsaan Inggris, David Cheadle. Tahun 2007, Endi mulai membuka tempat usaha di Kuta, Bali.

Hingga sekarang, Endi telah memiliki 10 gerai dan butik yang tersebar di Jakarta (antara lain di Alun-Alun Grand Indonesia), Bali, Serpong (Pendopo Alam Sutera), dan Bandung (Alun-Alun Paris van Java). Ia mengincar kalangan menengah ke atas dan pasar ekspatriat. Sayangnya, butik pertama yang dibukanya di Kuta saat ini sudah tutup. Hal ini disebabkan kesibukannya di Jakarta yang menuntut perhatian, dan menyebabkan butik di Kuta jadi tak terurus.

"Lagipula biaya sewanya mahal sekali, Rp 200 juta setahun. Siapa yang sanggup?" selorohnya.

Endi tak berniat merendahkan diri. Meskipun tanpa promosi, lini busana Nila Kandi (dari bahasa Sansekerta yang artinya "langit biru") yang ditawarkan dengan harga mulai Rp 25.000 hingga Rp 1,5 juta tersebut telah menghasilkan omzet antara Rp 30-75 juta per bulan. Kapasitas produksinya dalam sebulan baru mencapai 100 barang, termasuk aksesori seperti tas, sepatu, serta pernak-pernik lainnya seperti taplak meja dan tatakan gelas.

Perempuan enerjik ini memang tidak berniat memproduksi barang secara massal. Ia mengutamakan eksklusivitas bagi para pelanggannya. Sebagai contoh, satu model busana hanya diproduksinya sebanyak 10 buah, dan semuanya disebar ke semua outlet-nya. Sepuluh busana tersebut juga dibuat dengan warna yang berbeda-beda, sehingga tidak ada baju yang sama persis.

Hal tersebut tentu mengharuskan Endi memikirkan betul bagaimana konsep bisnisnya. Ia juga mengatur seluruh perencanaan hingga distribusi barangnya. Ia masih ragu mempercayakan bisnisnya pada orang lain, karena khawatir mereka tak dapat memahami dan menangkap keinginannya dengan tepat.

Endi memang boleh dibilang single fighter dalam menjalankan bisnis batiknya. Semua proses produksi berada dalam tanggung jawabnya secara langsung, dari mencari bahan baku hingga loading barang di beberapa outlet-nya di pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta dan Bandung.

"Semua saya kerjakan sendiri, dari mendesain, mengantar barang, sampai menata barang di toko. Baru beberapa waktu lalu saya merekrut manager untuk dapat membantu mengatur pekerjaan saya," ungkap Endi, yang juga memiliki koleksi lini kedua dengan merek NDI.

Ia mencari sendiri bahan baku dengan mengunjungi perajin batik di kawasan batik pesisir seperti Pekalongan, Tuban, hingga Madura. Ia memesan motif-motif batik tulis dan cap yang sudah ada, namun dengan warna-warna yang dipilihnya sendiri. Dalam hal ini, ia lebih memilih batik tulis karena hasilnya lebih indah. Batik tulis biasanya dilukis bolak-balik di atas kain, sehingga ketika digulung atau dilipat, sisi satunya tidak terlihat putih yang mengurangi keindahan busana saat dikenakan.

Berangkat dari niat mulia untuk memperluas lapangan pekerjaan, Endi pun kerap memilih pembatik yang berasal kalangan menengah ke bawah, yang biasanya berasal dari desa-desa yang terpencil. Merupakan kebanggaan tersendiri baginya apabila ia berhasil memajukan perekonomian pekerja-pekerja yang dibinanya.

Endi sangat bersyukur atas hasil yang telah dicapainya saat ini, meski tanpa adanya promosi atau  iklan yang biasanya digunakan wirausahawan untuk dapat menggebrak penjualan. "Saya tidak menggunakan media periklanan untuk meningkatkan penjualan, karena yang saya tunjukkan adalah prestasi," kata Endi, yang hanya berpromosi gratis melalui Facebook.

Meskipun telah sukses, Endi tak ingin berhenti belajar. Ia tetap berusaha meningkatkan kemampuannya mendesain busana. Selain pernah belajar mengenai rancang busana di ESMOD dan jurusan Pakaian Jadi di LaSalle College, Endi juga terus menambah wawasannya mengenai pembuatan batik itu sendiri. Batik sudah menjadi passion-nya, sehingga ia bertekad mengetahui segala sesuatu mengenai dunia ini.

Kepuasan pelanggan juga menjadi perhatiannya yang utama. Endi selalu bersedia memberikan pelayanan ekstra kepada pelanggan untuk memperbaiki kerusakan pada batik yang telah terjual. Layanan back to order pun kerap diterima untuk memenuhi keinginan pelanggannya.

Endi menegaskan, kesuksesan usahanya ini tidak terlepas dari dua hal yang selalu ia tekankan, yakni selalu fokus dan enjoy dalam menjalani setiap pekerjaan yang dilakukan. Endi sangat berharap dapat lebih maju dalam bisnis yang digelutinya, serta dapat memperluas distribusi batik Nila Kandi hingga keluar negeri. (*/Kompas Female/Tabloid Nova)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/wanita/11889-endi-sang-pemilik-nila-kandi.html

Thursday, October 6, 2011

Lampu Hias Batik Ala Fajar Adhinata


Views :216 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 05 Oktober 2011 11:05
Motif batik yang menarik ternyata bisa diadopsi untuk berbagai keperluan. Salah satunya adalah dijadikan motif hiasan pada kap lampu hias yang terbuat dari kayu. Salah satu yang menekuninya adalah Fajar Adhinata, pemilik usaha Lampu Batik Solo. Dia kini sedang merintis agar bisnis lampu hias bermotif batik ini bisa menembus pasar ekspor.

lampubatik1011Bermula dari usaha sampingan dua tahun lalu, Fajar optimistis potensi pasar untuk produk antik dan unik ini pasti ada. Apalagi, saat ini batik sedang booming, dan menjadi aset khas Kota Solo. “Dulu saya hanya karyawan yang mengerjakan konsep lampu interior di lantai 3 salah satu mal terkemuka di Kota Solo. Dari situ, saya punya ide untuk mengembangkan bisnis lampu hias sendiri, yang harapannya punya nilai jual dan banyak orang yang suka,” kata Fajar di lokasi usahanya di Ngipang, RT 4/RW 28, Kadipiro, Banjarsari, Solo.

Membuat lampu hias bermotif batik jadi pilihannya. Awalnya, Fajar mencoba mengembangkan lampu hias itu dengan bahan dasar pipa. Tetapi, bahan pipa ini dinilai tidak cocok dengan konsep motif batik yang diusungnya. “Akhirnya, saya cari bahan yang memang murah, mudah diperoleh dan cocok dengan nuansa etnis batik. Yakni pakai kayu jati,” kata Fajar seperti dikutip dari Solopos.

Dengan proses hand made, mungkin untuk kualitas produk bisa lebih teruji. “Dulu, kali pertama saya mencoba membuat lampu hias batik ini, saya hanya pakai alat sederhana. Hanya pakai gergaji triplek. Tetapi, saat ini sudah pakai alat potong mesin untuk mempercepat pekerjaan saja. Tetapi, desain motif tetap saya ukir sendiri,” paparnya.

Lampu batik Solo kini mulai dikenal di luar Solo. Terutama Jakarta. “Menurut saya sih ini masih sangat terbatas. Jadi, saya sangat terbuka membuka peluang kalau ada yang bersedia menjadi retailer atau memasarkan produk ini. Saat ini retailer baru ada satu di Jogja,” jelas Fajar.

Selama ini, model pemesanan juga kebanyakan ritel. “Pesan satu atau dua buah lampu saja. Tetapi, saya justru mau menerima pesanan untuk produk khusus dan spesial. Misalnya, ada ukiran logo perusahaan, ukir nama inisial atau nama lengkap juga bisa. Nanti, harganya saja yang lain.”

Fajar, selama ini menawarkan produknya itu pada harga Rp 125.000 hingga Rp 250.000 per item. Harga tergantung jenis lampu, apakah lampu dinding, lampu meja, lampu gantung atau lampu sudut. “Kalau untuk kerumitan motif batik, selama ini belum terlalu mempengaruhi harga. Dan saat ini, motif parang dengan sedikit modifikasi cukup banyak diminati pasar,” kata Fajar. Cita-citanya yang lain adalah memberdayakan lebih banyak warga di kampungnya.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/produk/inovatif/11711-lampu-hias-batik-ala-fajar-adhinata.html

Thursday, September 22, 2011

INSPIRASI GURUH SABDO NUGROHO

Peluang Usaha

INSPIRASI

 
Kamis, 22 September 2011 | 14:08  oleh Dea Chadiza Syafina
INSPIRASI GURUH SABDO NUGROHO
Guruh si raja gitar batik dari Solo

Aksen batik bisa disematkan pada produk apa saja, termasuk gitar. Perpaduan antara gitar dan seni batik inilah yang membuat Guruh Sabdo Nugroho kebanjiran order. Tak hanya pasar lokal, pasar mancanegara seperti Belanda, Singapura dan Malaysia juga dirambahnya. Karena itu omzet Guruh pun melonjak menjadi Rp 80 juta per bulan.

Sentuhan batik telah mengangkat nilai seni sebuah gitar sehingga bernilai jual tinggi. Dengan tambahan aksen batik pula, Guruh Sabdo Nugroho berhasil menggenjot penjualan gitar mencapai rata-rata 20 unit gitar per bulan dengan nama Batik Guitar.

Mencoba membuat gitar batik sejak 2009, Guruh yang gemar bermain gitar ini mengaku mendapatkan ide penyatuan batik dan gitar karena daerah tempat tinggalnya di Solo dikelilingi oleh perajin batik.

Dengan kreativitas inilah, jika dulunya dia hanya mampu menjual lima gitar biasa saat ini mampu menjual 20 gitar batik tiap bulan. "Saya tidak menyangka ternyata penggemar gitar batik banyak juga," katanya.

Tidak hanya memenuhi pesanan pasar lokal, gitar batik Guruh saat ini telah merambah beberapa negara di dunia seperti Belanda, Singapura dan Malaysia. Di tiga negara tersebut, dia mengaku rutin mengirim lima unit gitar batik per bulan.

Karena murni mengandalkan sentuhan tangan, dirinya hanya mampu mengirimkan lima gitar tiap bulan. "Kalau diterima semua order, bisa mencapai 50 gitar sebulan," ujarnya. Ia tidak sanggup memenuhi semua pesanan karena sumber daya manusia pembuat gitar yang mumpuni tidak banyak. Oleh karena itulah, dia bermaksud menambah jumlah perajin gitar batik dari 10 orang yang dipunyainya saat ini.

Untuk penambahan perajin gitar dan batik, sebenarnya bukan masalah yang sulit bagi lulusan D3 Desain Grafis salah satu sekolah tinggi swasta di Solo ini. Sebab, daerahnya banyak tersebar pembuat gitar. Solo juga terkenal sebagai sentra batik. Yang menjadi sulit adalah bagaimana menemukan perajin gitar handal yang bisa membuat gitar kelas premium dan pembatiknya.

Maklum, untuk membuat satu gitar batik, setidaknya membutuhkan waktu hingga dua bulan. Selain keahlian dalam membuat gitar, ketelitian dan keterampilan membatik juga sangat dibutuhkan sehingga gitar batik bisa menjadi karya seni bernilai tinggi.

Satu unit gitar batik biasanya dijual bervariasi antara Rp 1 juta sampai Rp 8 juta. Tinggi rendahnya harga tergantung tingkat kerumitan model gitar, harga bahan baku kayu, kerumitan motif batik, serta jenis perlengkapan atau hardware yang disematkan di gitar. Menurut Guruh, harga gitar batik akan lebih mahal jika perpaduan warna untuk batik lebih banyak. Sebab, dengan perpaduan warna yang banyak membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih lama.

Dengan penjualan mencapai rata-rata 20 unit per bulan, Guruh mengaku mendapatkan omzet mencapai Rp 80 juta per bulan. "Saya tidak hanya jual gitar, tapi juga seni batik," katanya.

Memadukan seni batik untuk gitar, menurut Guruh pada prinsipnya sama dengan pembuatan gitar kayu akustik biasa. Yang menjadi perbedaan adalah penyematan seni batik pada badan gitar. Untuk memberikan aksen batik, dibutuhkan beberapa proses, seperti pemberian malam atau lilin batik, pemberian melamin hingga pembatikan.

Kayu bahan baku gitar, seperti kayu mahoni, eboni, maple, spruce, citrus, rosewood, dan sonokeling, sebelumnya dibentuk bodi gitar dahulu. Setelah diamplas rapi, bahan itu lantas dilapisi malam atau melamin.

Lapisan melamin akan memberikan kesan gloosy atau berkilau pada gitar. Untuk jenis gitar dengan lapisan melamin hanya membutuhkan sedikit tambahan lilin batik. Adapun gitar tanpa melamin menggunakan banyak lilin batik untuk pelapisan. Pelapisan dibutuhkan untuk menutup pori-pori kayu. Setelah itu baru proses pembatikan dengan menggunakan canting. Kesan klasik dan antik akan didapatkan untuk batik tanpa melamin, sehingga harganya pun lebih mahal.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/78058/Guruh-si-raja-gitar-batik-dari-Solo

Wednesday, September 21, 2011

INSPIRASI ASIWA

Peluang Usaha

INSPIRASI

Selasa, 20 September 2011 | 13:55  oleh Fransiska Firlana
INSPIRASI ASIWA
Asiwa sukses usai jemput pelanggan ke stasiun (1)
Persaingan pedagang batik yang kian sengit membuat Asiwa, pemilik Batik Jaya Abadi di Cirebon, Jawa Barat, harus kreatif dalam berjualan. Caranya, dengan menyediakan sarana jemput pelangggan di stasiun Cirebon. Cara ini terbukti efektif. Kini, Asiwa mampu menangguk omzet hingga Rp 100 juta per bulan.

Berfikir kreatif ternyata penting dalam membangun usaha secara mandiri. Seperti yang dilakukan oleh Asiwa, pemilik perusahaan batik khas Cirebon bernama Jaya Abadi di kota Cirebon, Jawa Barat.

Asiwa sejak tiga tahun lalu menggalang ide memasarkan aneka produk batik dengan cara yang relatif berbeda dari pengusaha batik lainnya. Ia memasarkan batik dengan sistem jemput bola ke konsumen.

Caranya dengan memberikan layanan antar-jemput konsumen secara gratis ke stasiun kereta api Cirebon. Tidak hanya jasa antar-jemput ke stasiun saja yang ia berikan kepada konsumen. Asiwa terkadang menjamu konsumennya dengan makanan khas Cirebon seperti empal genthong atau bothok.

Berkat layanan antar-jemput ke stasiun itulah usaha jualan batik Asiwa berbuah manis. Banyak pelanggan senang belanja batik di tempat Asiwa karena merasa nyaman, aman, dan mudah. Alhasil, banyak pelanggan Asiwa rutin berkunjung ke toko milik Asiwa.

Sejatinya, Asiwa sudah membuka toko batik sejak lima tahun yang lalu di kawasan Trusmi, Cirebon. Selama dua tahun ia berjualan batik secara konvensional: menunggu konsumen datang dan membeli.

Ketika itu, di Trusmi baru ada lima pedagang batik. Namun, menurut cerita Asiwa, setelah dua tahun dia berjualan di situ, jumlah pedagang kian bertambah hingga berjumlah puluhan.

Bertambahnya jumlah pedagang batik itu tak lepas dari kian populernya batik cirebon belakangan ini. Maklum, ciri khas batik cirebon berbeda dengan batik solo maupun batik pekalongan.

Salah satu motif terkenal batik cirebon adalah motif mega mendung yang memadukan warna-warna lembut dan warna cerah. Motif ini banyak dicari konsumen dari luar daerah Cirebon.

Karena peminat batik cirebon kian banyak, para pedagang batik di Trusmi pun ikut menikmati hasilnya. Namun, dampaknya jumlah pedagang juga semakin banyak. "Jumlah pedagang makin menjamur,” ungkap Asiwa.

Akibat jumlah pedagang yang kian banyak, persaingan pun kian ketat. Berbagai cara dilakukan pedagang untuk menarik minat konsumen datang ke toko mereka. Demikian juga Asiwa yang meluncurkan ide jemput konsumen ke stasiun kereta api Cirebon.

Asiwa mengaku, layanan antar jemput konsumen ini terinspirasi layanan antar jemput yang dilakukan terhadap tamu-tamu hotel. “Kalau tamu hotel bisa dijemput, tentu tamu saya bisa dijemput juga,” terang Asiwa.

Asiwa memberikan layanan antar jemput gratis itu menggunakan minibus miliknya. Hitungan Asiwa, biaya antar jemput ini tidak terlalu besar. Masih bisa ditutup dengan keuntungan berjualan batik sebab lokasi toko dengan stasiun relatif terjangkau, termasuk dengan terminal. "Akses transportasinya cukup mudah, tapi kami butuh mendekatkan diri kepada konsumen,” terang Asiwa.

Layanan prima kepada konsumen itu ternyata mendapat respons yang baik dari pelanggan atau calon pelanggan Asiwa. Bahkan ada konsumen secara sukarela menginformasikan layanan itu lewat media sosial di internet. "Saya tidak promosi sendiri, tapi pelanggan yang mempromosikan," terang Asiwa.

Dengan layanan antar jemput itu tak hanya pembeli yang menjadi kenal Asiwa. Nama Asiwa pun tenar di kalangan pedagang batik di luar Cirebon sehingga mereka pun kulakan batik di toko Asiwa.

Nah, bagi calon pelanggan yang ingin berbelanja ke showroom Asiwa di Cirebon itu dan ingin dijemput di stasiun caranya cukup mudah. Pelanggan tinggal menghubungi Jaya Abadi dan kemudian membuat janji kedatangan. “Kalau jumlahnya sedikit, saya jemput pakai mini-bus kalau banyak saya jemput pakai Isuzu Elf yang mampu mengangkut penumpang lebih banyak,” terang Asiwa, berpromosi.

Asiwa mengaku, berkat layanan antar jemput itulah penjualan batiknya menanjak drastis. Belakangan ini, dalam sebulan Asiwa bisa mengantongi omzet hingga Rp 100 juta per bulan.  

Rabu, 21 September 2011 | 13:03  oleh Fransiska Firlana
INSPIRASI ASIWA
Asiwa bikin toko bagus agar konsumen nyaman (2)

Berkat layanan antar-jemput, usaha Asiwa makin membesar. Kini, ia sudah punya tiga toko dan armada khusus untuk antar jemput pelanggan. Selain antar jemput untuk pejabat pemerintah dan wisatawan yang menjadi pelanggan Jaya Abadi, Asiwa juga menyediakan antar jemput untuk pedagang batik dari luar Cirebon.

Ide Asiwa, pemilik toko batik Jaya Abadi di Cirebon, untuk menyediakan layanan antar jemput buat pelanggan ternyata tak sia-sia. Berkat layanan itulah ia bisa menggaet pelanggan dari Jakarta dan sekitarnya dan dari berbagai provinsi.

Segmen pelanggan Asiwa juga beragam, mulai wisatawan, pejabat pemerintahan pusat hingga daerah, termasuk juga pedagang yang kulakan batik di Jaya Abadi. "Istri pejabat juga sering belanja ke tempat saya," terang Asiwa.

Kebanyakan pelanggan yang menggunakan jasa antar jemput itu adalah pelanggan dari Jabodetabek dan Jawa Barat. Sebab ada perjalanan kereta api tujuh kali sehari dari arah Jakarta menuju Cirebon dan sebaliknya.

Karena mudahnya transportasi itulah konsumen dari Jakarta senang belanja batik ke Cirebon. “Pengunjung dari Jakarta bisa datang belanja hanya cukup dalam sehari saja,” tutur Asiwa.

Hampir sama dengan toko batik lainnya, toko Asiwa pun ramai pengunjung di saat liburan. Sebaliknya, di saat Ramadan pengunjung sepi. Dan baru ramai lagi saat libur Lebaran.

Meski di saat Ramadan sepi pengunjung, tapi jangan dikira omzet Asiwa ikut melorot. Justru di saat sepi inilah order atau pesanan batik malah ramai datang dari luar Cirebon. "Bulan Puasa jumlah pengunjung sepi, tapi pesanan banyak," terangnya.

Biasanya pelanggan Asiwa yang rutin memesan batik itu berasal dari Bali, Medan, Palembang, Yogyakarta, dan beberapa kota di Jawa. Kalau ingin pesan, pelanggan cukup memencet nomor telepon untuk memesan batik yang diinginkan.

Selain memberi layanan antar jemput, sikap Asiwa yang baik terhadap pelanggan juga menghasilkan "keuntungan" yang lain. Seorang pelanggan Asiwa dengan suka rela mempromosikan Jaya Abadi di internet. Lihat saja, nama Asiwa beberapa kali tampil di beberapa blog milik pelanggan di internet.

Layanan antar jemput dan seringnya Asiwa nongol di internet membuat usahanya makin terkenal. Bahkan mobil minibus miliknya tak cukup lagi menjemput pelanggan yang sudah terlalu banyak.

Agar layanan antar jemputnya tetap lancar, Asiwa memutuskan membeli minibus Isuzu Elf seharga Rp 290 juta dengan cara kredit. "Angkutan ini bisa membawa 20 tamu sekaligus," terang Asiwa yang mempekerjakan sopir khusus untuk melayani antar jemput itu.

Semakin banyaknya pelanggan tentu membuat fulus Asiwa semakin tebal. Dengan duit yang makin lancar mengalir, Asiwa pun memberanikan diri menambah toko. Tak tanggung-tanggung, tiga toko batik berukuran besar dia bangun sekaligus.

Bagi Asiwa kenyamanan pengunjung adalah nomor satu. Karena itu toko-toko barunya itu dia desain senyaman mungkin. “Konsumen itu harus nyaman. Kalau sudah nyaman, mereka akan membeli," imbuh Asiwa.

Trik Asiwa yang menyediakan layanan antar jemput untuk pelanggan itu mendapat acungan jempol dari Adi Jakaria, pengamat manajemen dari Universitas Indonesia (UI). Adi menilai upaya Asiwa itu sebagai terobosan yang berani. "Apalagi ia melakukannya secara mandiri," ungkap Adi.

Tak hanya itu, Adi menilai layanan antar-jemput konsumen secara gratis oleh Asiwa itu mesti punya perhitungan cermat. Sebab modal untuk menyediakan armada antar jemput juga lumayan besar. "Jasa antar jemput mesti sesuai dengan jumlah pelanggan yang datang," terang Adi.

Adi menyatakan, layanan antar jemput itu jelas akan membuat penyedia jasa ini populer. Sebab, pelanggan yang datang akan merasakan kenyamanan dalam berbelanja. "Konsumen juga tidak perlu repot memikirkan transportasi," terang Adi, panjang lebar.

Selain menghitung jumlah calon pelanggan, untuk menerapkan pola serupa mesti mempertimbangkan lokasi dan kondisi toko. Karena itu, bagi yang ingin mencontoh kiat Asiwa, perlu menghitung dengan cermat biaya penjemputan dari toko ke lokasi penjemputan.

Namun Adi mengingatkan, layanan antar-jemput ini tidak efektif bila diberlakukan terlalu lama. “Layanan ini ampuh, tapi tidak untuk jangka panjang,” kata Adi.

Kamis, 22 September 2011 | 13:40  oleh Fransiska Firlana
INSPIRASI ASIWA
Asiwa awali karier dari pedagang batik keliling (3)

Demi mencapai sukses menjual produk batik khas Cirebon, Asiwa yang kini sudah menjadi juragan batik, mengawali usahanya ini dengan berjualan batik keliling dari satu kota ke kota lain. Baru pada 2005 Asiwa bisa buka toko sendiri. Toko batik itu pula yang menginspirasi warga Trusmi membuka membuka toko serupa.

Untuk menggapai sukses ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setidaknya itulah pengalaman Asiwa, pemilik toko batik Jaya Abadi di Cirebon, Jawa Barat, ketika mengawali berbisnis batik cirebon.

Asiwa butuh puluhan tahun agar usaha batiknya dikenal hingga ke berbagai daerah. Tak hanya itu, Asiwa juga telah menapak ribuan kilometer untuk mencari pelanggan batiknya.

Ketika itu, kenang Asiwa, sekitar tahun 1980-an dia baru lulus SMA. Namun demi mencari masa depan yang lebih baik, Asiwa rela menjadi pedagang batik keliling dari satu kota ke kota lainnya di berbagai kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur. "Saya jualan batik hingga Surabaya," kenang Asiwa.

Ketika itu, Asiwa optimistis, dagangannya bakal laku karena batik cirebon punya ciri khas yang berbeda dengan batik lain. Kekhasan batik cirebon itu terletak pada luriknya yang tidak terdapat pada batik lain.

Berbekal minibus, Asiwa keliling berbagai kota. Minibus ini memang berjasa bagi karier Asiwa. Dengan minibus ini pula Asiwa mewujudkan kiat pemasarannya: antar jemput pelanggan.

Kesabaran Asiwa menjajakan batik cirebon ternyata berbuah manis. Banyak pedagang batik dari berbagai kota yang menjadi langganan setia Asiwa. Alhasil, karena saling percaya, transaksi tak lagi butuh ketemu muka tapi cukup dengan saling telepon dan barang dikirim dengan menggunakan jasa ekspedisi.

Bahkan, dalam perkembangannya, setelah menjelajah di pasar Jawa, Asiwa juga menjual batik hingga ke Sumatra. Kini, Asiwa sudah memiliki pelanggan di Medan dan Palembang. "Ada juga pelanggan dari Bali yang juga rutin pesan batik," jelas pria berkumis itu.

Setelah punya banyak pelanggan, barulah Asiwa memutuskan membuka toko di depan rumahnya di daerah Trusmi, pada 2005 lalu. Dengan sendirinya, sejak membuka toko, Asiwa pun mulai jarang berjualan keliling berbagai kota.

Namun begitu, pesanan batik dari pelanggannya tetap mengalir. Terkadang para pelanggannya berkunjung ke toko, selain hanya untuk silaturahmi, pelanggan itu mencari produk batik baru.

Agar tidak mengecewakan pelanggan, Asiwa rutin memperbaharui jualannya. Ia berusaha menjual batik selengkap mungkin, agar tokonya menjadi toko batik one stop shopping.

Di tokonya, Asiwa menjual beragam jenis batik, mulai batik tulis, batik cap, dan batik printing khas Cirebon. Namun, untuk memenuhi konsep one stop shopping bagi toko batinya, Asiwa pun menjual batik dari berbagai daerah di Indonesia, mulai batik solo, batik yogyakarta, dan juga batik pekalongan.

Namun, agar tokonya menjual produk eksklusif, Asiwa juga membuat motif batik sendiri yang berbeda dengan produk batik cirebon lainnya. “Selain menjual batik lembaran, kami juga menjual batik jadi berupa baju atau gaun,” terang Asiwa.

Dalam memproduksi batik, Asiwa tidak perlu jauh-jauh mencari pekerja. Sebab, di Trusmi banyak ahli membatik. Sebab, tradisi membatik di Trusmi sudah turun-temurun.

Sebenarnya, keuletan Asiwa itu menjadi pionir bagi pedagang batik lain di Trusmi. Setelah melihat toko batik Asiwa sukses, terutama dalam lima tahun terakhir ini, mereka juga ramai-ramai membuka toko batik.

Kini jumlah toko batik di Trusmi mencapai puluhan toko. "Jarak satu toko dengan toko lain terkadang tidak sampai 50 meter," terang Asiwa.

Lantaran jumlah pedagang batik di Jalan Panembahan itu kian banyak, membuat lokasi ini menjadi tujuan belanja batik di Cirebon. Letak yang strategis membuat kawasan ini semakin cepat dikenal. Apalagi akses dan infrastruktur jalan di situ juga memadai. Bahkan, belakangan muncul rencana akan membuat mal batik di kawasan itu.

Namun, kehadiran puluhan toko batik itu tidak membuat Asiwa gundah. Sebab, para pedagang batik di Trusmi rata-rata bersaudara. "Kami yang tinggal di Trusmi masih memiliki leluhur yang sama, yang rata-rata menguasai batik," ungkap Asiwa. Selain itu, pesaing itu obat untuk tetap bersemangat.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1316501729/77836/Asiwa-sukses-usai-jemput-pelanggan-ke-stasiun-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/77944/Asiwa-bikin-toko-bagus-agar-konsumen-nyaman-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/78054/Asiwa-awali-karier-dari-pedagang-batik-keliling-3

Friday, August 5, 2011

Dulu Aktor Sekarang Juragan Batik

Dulu Aktor Sekarang Juragan Batik Cetak
Rabu, 03 Agustus 2011 13:11
Saud Effendi dalam kesehariannya adalah pengusaha batik di Laweyan. Namun mungkin tak banyak orang tahu kalau pemilik produk batik bermerek sama dengan namanya itu dulu sempat menggeluti dunia layar lebar sebagai aktor.

saud-eff675Lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) ASRI Jogja tahun 1979 ini mengaku, membatik maupun akting sama-sama membutuhkan jiwa yang cinta pada seni.

“Setelah lulus kuliah, saya merantau ke Jakarta ingin bekerja sebagai art director. Tapi saya malah berkesempatan main film,” kisah suami Lis Alida ini.

Sejumlah film remaja pernah menampilkan sosok Saud, meski bukan sebagai bintang utama. Sebut saja Colak-Colek, Selamat Tinggal Masa Remaja, Bersemi di Lembah Tidar dan Wolter Monginsidi. Andai tidak tergerak untuk pulang kampung, ke Solo, Saud mungkin bakal lebih dikenal sebagai aktor.

Begitu menikah dan kembali ke Solo, sekitar tahun 1985, pria kelahiran 30 November 1953 itu memulai usaha batik. Awalnya, dia membatik untuk kesenangan sendiri, sekadar menyalurkan jiwa seni yang pernah padam. Lambat laun usaha batiknya mulai berkembang. Dimulai dengan batik tulis, lantas berkembang ke kombinasi batik cap dan tulis, hingga sengaja menggunakan teknik printing yang lebih sedikit membutuhkan biaya operasional.

Berbagai tahapan untuk pengembangan batik dijalani Saud sendiri, didampingi istri. Usahanya terus berkembang hingga sempat mengekspor batik ke Arab Saudi. Kini, kendati usahanya telah berjalan stabil, Saud tak mau mandheg berkreasi. Macam-macam model batik kombinasi dan kreatif terus dia ciptakan.

“Saya memang suka corat-coret sendiri. Menyampurkan motif batik pakem dengan motif lain. Menabrak-nabrakkan motif, mengikuti selera pasar. Yang jelas saya tidak mau berhenti,” ujarnya seperti dikutip dari Solopos.

Walau sudah 100% bekecimpung di dunia batik, Saud rupanya tak bisa lepas dari dunia akting yang sempat digelutinya beberapa tahun. Produksi film Saur Sepuh yang dilakukan di wilayah Solo, kembali membawa namanya. Saud juga masih dipercaya bermain di salah satu judul sinetron yang tayang belasan episode di televisi.

Sumber: http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/selebriti/10218-dulu-aktor-sekarang-juragan-batik.html

Thursday, August 4, 2011

Jimmy menuliskan laba pada batik khas papua

Peluang Usaha


Kamis, 04 Agustus 2011 | 13:35  oleh Bambang Rakhmanto
INSPIRASI JIMMY HENDRICK AFAAR
Jimmy menuliskan laba pada batik khas papua
Selain terkenal dengan kekayaan alamnya, Provinsi Papua ternyata juga kaya akan motif batik. Suku-suku yang tersebar di provinsi paling timur Indonesia ini, menyajikan banyak motif khas merujuk pada alam, budaya, dan cerita rakyat. Karena peminat batik papua cukup banyak, perajin pun bisa mendulang omzet ratusan juta per bulan.

Setiap daerah memang memiliki kain yang khas. Baik itu berupa kain hasil tenunan atau kain tenun, juga kain batik yang berhias motif yang juga khas dari daerah asal batik itu sendiri. Kain-kain nan khas ini tentu layak untuk dijadikan cenderamata atau oleh-oleh bagi tetamu yang datang ke daerah penghasil kain itu.

Dengan mengusung keragaman alam, budaya, serta cerita rakyat yang dituangkan dalam sehelai kain, Provinsi Papua memiliki motif batik yang juga sangat khas. Bahkan, hingga kini, batik Papua ini sudah mengoleksi sekitar 200 motif.

Banyaknya motif ini karena setiap suku yang ada di provinsi ini memiliki budaya dan kebiasaan yang berbeda-beda. Nama motif batik ini disesuaikan dengan nama suku seperti batik Kamoro, Amugme, Tobati, Kawera, Marin, Honay, Asmat, Sentani, Kayu Pulau, dan Griminawa. Ciri khas lain batik papua adalah penggunaan warna-warna terang, seperti merah muda, biru muda, dan kuning.

Salah satu perajin batik papua yang tekun adalah Jimmy Hendrick Afaar. Jimmy adalah pemilik butik Batik Prot Numbay di Jayapura. Ia sudah mulai menjadi perajin dan berdagang batik sejak April 2007 silam.

Sebelumnya putra asli Papua ini adalah seorang desainer. Ia pernah bergabung dengan desainer kondang Poppy Darsono, dan pernah pula menimba ilmu pada seorang pembatik di Pekalongan.

Jimmy memang ingin mengangkat batik papua supaya tak punah lantaran tak dikenal khalayak. “Selain itu, banyak anak muda di Papua yang belum mengenal batik daerah mereka sendiri,” ucapnya.

Ia pun mengajak warga Papua, terutama kaum ibu, untuk membuat dan mengenakan batik papua. Supaya produknya bisa bersaing dengan batik dari daerah lainnya, Jimmy tak segan mendatangkan pembatik dari Yogyakarta untuk melatih para pekerjanya. "Kami mendatangkan pelatih dari balai pelatihan batik di Yogya," ujar Jimmy.

Usaha Jimmy memang terus berkembang. Kini dia sudah memperkerjakan 40 karyawan. Untuk karyawan laki-laki bertugas membuat batik cap. Sementara karyawan perempuan menggarap batik tulis yang memang membutuhkan ketelitian dan konsentrasi tinggi.

Dengan 40 karyawan, produksi batik Prot Numbay bisa mencapai sebanyak 2.000 potong batik cap dan 60 potong batik tulis berbahan sutra dan katun per bulan. Ia menjual sehelai batik mulai Rp 400.000 sampai Rp 4 juta per potong.

Jimmy pun mengaku omzetnya sekarang sudah mencapai Rp 100 juta per bulan. Pendapatan itu belum termasuk jika ada pesanan untuk seragam kawinan.

Selain dijual di Papua, Jimmy juga memasarkan batiknya hingga Surabaya dan Jakarta. Bahkan, ia sudah merambah pasar Belanda, Selandia Baru, dan Hongkong. Cara Jimmy berjualan batik ke luar negeri ini melalui website. Selain itu, Jimmy tak mau ketinggalan kalau ada pameran-pameran tentang batik, baik di tingkat nasional dan internasional.

Hanya, Jimmy mengaku susah mendapatkan bahan baku, seperti kain atau mori, pewarna sintetis, dan perlengkapan batik lainnya. Pasalnya, semuanya harus dipasok dari Jawa, kecuali pewarna alam yang sudah tersedia di Papua.

Menurut Jimmy, batik buatannya bisa memperlihatkan keindahan alam, pariwisata, hingga budaya Papua. "Setiap orang yang memakai batik saya itu, setidaknya tahu tentang budayanya, dia tahu tentang pariwisatanya," ungkapnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/74622/Jimmy-menuliskan-laba-pada-batik-khas-papua

Sumartoyo mendesain laba dengan membatik kayu


Peluang Usaha

INSPIRASI

 
Rabu, 03 Agustus 2011 | 12:40  oleh Bambang Rakhmanto
INSPIRASI SUMARTOYO
Sumartoyo mendesain laba dengan membatik kayu
 
Gagal jadi pengusaha agen perjalanan, Sumartoyo harus rela "turun derajat" menjadi karyawan perusahaan batik kayu. Tapi, setelah bekerja dua tahun sebagai karyawan, Sumartoyo kembali menjadi pengusaha dengan membuka usaha batik kayu sendiri. Kini, ia menjadi eksportir batik kayu beromzet Rp 50 juta per bulan.

Membuat kerajinan kayu bernilai jual ternyata tidak selalu dengan diukir saja, tapi juga bisa dengan cara dibatik. Setidaknya itulah usaha Sumartoyo, yang berjualan produk kerajinan kayu yang dibatik atau batik kayu.

Sumartoyo memulai usaha produk kerajinan batik kayu ini sejak 1998 silam. Kini, dari usaha batik kayu ini Sumartoyo bisa mengukir omzet hingga Rp 50 juta per bulan.

Omzet itu dia kantongi dari penjualan batik kayu berbentuk meja, kursi, gelang, topeng, wayang, wadah buah, lemari, tempat tidur, hingga papan catur.

Sebelum menjadi pengusaha kerajinan batik kayu itu, Sumartoyo sempat buka usaha agen perjalanan. Namun usaha tersebut kandas di tengah jalan.

Agar tetap bisa mencari sesuap nasi, Sumartoyo terpaksa rela berstatus pekerja di sebuah perusahaan yang memproduksi batik kayu di Solo, Jawa Tengah. Meski hanya sebagai staf, namun insting pengusaha Sumartoyo tak pernah padam.

Di tempat kerja itulah, Sumartoyo mengenal dan belajar dunia bisnis secara langsung. Dia belajar mulai cara memproduksi hingga bagaimana bisa laku di pasar.

Setelah dua tahun bekerja dan belajar, Sumartoyo memutuskan berhenti bekerja dan memilih kembali menjadi pengusaha. Pada tahun 1998. Dengan modal Rp 65.000, Sumartoyo mencoba memproduksi dan memasarkan sendiri produk batik kayu karyanya.

Sejatinya, di awal usaha itu, Sumartoyo tak murni memproduksi batik kayunya itu sendiri. Dengan cerdik dia memanfaatkan jasa para perajin miniatur mobil dan sepeda motor dari kayu di Boyolali.

Nah, lantaran tidak bisa membatik sendiri, urusan ini dia serahkan ke neneknya di Karanganyar. “Selesai dibatik, miniatur batik saya titip jual ke toko cenderamata dan toko batik,” katanya.

Dengan penuh semangat Sumartoyo menjalani bisnis barunya ini. Kali ini, dia sudah paham seluk beluk menjadi pengusaha. Tidak seperti kala dia membuka usaha agen perjalanan.

Dengan skuter butut miliknya, setiap hari Sumartoyo berjualan keliling batik kayunya ke penjuru kota Solo.

Semangat dan kerja keras Sumartoyo itu akhirnya berbuah manis. Tak sampai setahun, batik kayu jualannya itu kian laris manis.

Begitu modal cukup, Sumartoyo pun mulai buka sendiri bengkel batik kayu yang dia beri nama Puri Art di Karanganyar. Sejak itulah, Sumartoyo semakin kreatif mencari kerajinan kayu yang bisa dibatik.

Namun dalam hal produksi, Sumartoyo tetap menggunakan "cara lama", yakni mencari perajin kayu. Seperti batik topeng kayu. Topeng itu tak dia buat sendiri, tetapi dikerjakan perajin topeng kayu. "Topeng itu dibawa ke bengkel kemudian digambar setelah itu dibatik dengan canting," kata Sumartoyo.

Sama dengan proses batik lainnya, setelah selesai dicanting, maka kayu itu juga melalui proses pewarnaan melalui dua cara, yakni dengan direndam pewarna dan dicat menggunakan kuas.

Agar produk kayu batik yang diproduksinya kian dikenal, Sumartoyo mulai rajin ikut pameran, baik di dalam negeri maupun di luar negeri seperti Jepang, Singapura, Malaysia, China, Kamboja, Belgia, Belanda, hingga Kanada. “Dalam setahun, saya bisa ikuti empat pameran,” kata Sumartoyo yang pernah meraih penghargaan sebagai pengusaha kreatif 2009 oleh Bank BNI.

Karena sering ikut pameran itulah batik kayu dikenal di mancanegara. "Permintaan ekspor hingga sekarang masih tinggi," kata pria pehobi sepeda itu.

Setelah sukses membatik kayu, kini Sumartoyo bercita-cita memiliki showroom batik kayu. Ia ingin, batik kayu tidak hanya sebagai produk perdagangan saja, tetapi juga dikenal sebagai produk seni.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/74502/Sumartoyo-mendesain-laba-dengan-membatik-kayu

Wednesday, July 27, 2011

SOCIAL ENTREPRENEUR BAMBANG SUGORO

Peluang Usaha

 
Selasa, 26 Juli 2011 | 16:30  oleh Bambang Rakhmanto
SOCIAL ENTREPRENEUR BAMBANG SUGORO
Bambang tinggalkan karier demi mengajari petani membatik indigo

Kerinduan akan kampung halaman membuat Bambang Sugoro rela melepas karier di salah satu perusahaan asing di Jakarta. Ia pulang kampung dan menjabat sebagai kepala desa di Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Di sinilah ia mengajak warga membatik dengan pewarna alami dari tanaman indigo.

Kerinduan akan kampung halaman membuat Bambang Sugoro rela melepas karier di salah satu perusahaan asing di Jakarta. Ia pulang kampung dan menjabat sebagai kepala desa di Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Di sinilah ia mengajak warga membatik dengan pewarna alami dari tanaman indigo. Rindu akan kampung halaman membuat Bambang Sugoro rela meninggalkan pekerjaan di bidang human resource development (HRD) di salah satu perusahaan kimia di Jakarta. Ia memutuskan pulang kampung dan memilih meninggalkan hiruk-pikuk Ibukota.

Bambang pun kini menetap di Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, tepatnya sejak 2000 silam. Agar tidak menganggur, Bambang bekerja sebagai HRD di salah satu hotel swasta yang ada di Semarang.

Tapi, pada 2002, pekerjaan sebagai HRD ia tinggalkan. Sebab, saat itu ia didaulat menjadi Kepala Desa Gemawang. Hingga kini, ia sudah menjabat untuk kedua kalinya.

Saat memulai jabatan sebagai kepala desa itulah Bambang mencari ide untuk meningkatkan kesejahteraan warganya yang mayoritas adalah petani.

Berbekal pengalaman bekerja pada perusahaan asing, membuat Bambang berpikir kreatif. Ia melirik potensi tanaman indigo (Indigofera tinctoria) yang banyak tumbuh di Gemawang. Tanaman indigo bisa diolah menjadi sumber pewarna alami dengan menghasilkan warna biru yang banyak digunakan membatik gambar alam.

Bambang pun kemudian mengajak warganya memproduksi pewarna biru dari indigo itu. Agar pewarna indigo punya nilai tambah, Bambang pun mengajak warganya belajar membatik.

Tak tanggung-tanggung, Bambang mengajak seorang instruktur bernama Suliantoro yang berprofesi sebagai pembatik di Yogyakarta untuk melatih warganya. Terutama melatih membatik dengan pewarnaan indigo.

Untuk mengajak warga membatik dan mengolah tanaman indigo itu tentu juga butuh waktu. Sebab, mengolah tanaman indigo menjadi pewarna biru butuh waktu paling cepat enam bulan.

Pertama, daun tanaman indigo direbus dulu, kemudian air hasil rebusan dicampur dengan kapur hingga berbentuk adonan. Usai berbentuk adonan, indigo dipendam di dalam tanah selama enam bulan. Kedua, usai melewati masa "karantina" selama enam bulan, adonan indigo berubah bentuk, mirip pasta. Setelah itu, adonan direbus lagi dan dicampur dengan gula jawa. "Proses dengan gula jawa untuk memperkuat warna biru daun indigo," ujar Bambang.

Setelah pewarnaan indigo selesai, barulah warga diajak membatik. Saat pertama kali buka kelas batik, ada 100 peserta yang ikut pelatihan secara cuma-cuma. "Pelatihan ini tidak pakai anggaran pemerintah," beber Bambang.

Kini, warga Gemawang sudah memproduksi batik menggunakan pewarnaan indigo. Agar batik warga tidak sia-sia, Bambang memasarkan batik itu ke pusat perbelanjaan serta butik-butik yang ada di Semarang.

Soal harga, batik indigo made in Gemawang dijual seharga Rp 75.000 hingga Rp 500.000 per potong, tergantung dari kualitas. Selain dijual di pasar domestik, tak jarang warga juga menjual kain batik indigo itu kepada wisatawan asing yang berkunjung.

Sayang, produksi batik indigo ini belum maksimal. Dalam sehari, warga baru mampu memproduksi 10 potong batik tulis, dan 30 potong batik cap yang dicampur tulis. "Dari seluruh produksi kain batik itu, baru 10% kami olah menjadi baju dan suvenir, sisanya dijual dalam bentuk kain batik," kata Bambang.

Produksi yang mini itu terjadi karena banyak warga yang tidak tertarik membatik. Dari 3.475 warga, baru 40 warga yang terlibat aktif membatik indigo. "Padahal, dengan membatik, mereka bisa menambah penghasilan selain bertani," ujar Bambang.

Dalam hitungan Bambang, pembatik bisa mendapatkan tambahan pendapatan Rp 1,5 juta sebulan jika memproduksi lebih dari tiga potong kain batik tulis. Sebab, untuk satu potong kain batik indigo tulis harganya bisa mencapai Rp 500.000 per potong.

Sebagai kepala desa, Bambang bertekad menjadikan desa seluas 786 hektare itu menjadi desa wisata batik yang menggunakan pewarna alami. Sebab, Desa Gemawang punya banyak sumber pewarna alami. Seperti, kulit kopi untuk warna merah dan ungu, daun dan kulit pohon jati untuk merah hati, kulit akar pace untuk merah, kulit pohon mahoni untuk warna cokelat, serta gergajian kayu nangka untuk warna kuning. "Pewarna indigo juga melimpah," kata Bambang.

Batik adalah salah satu produk tren fesyen yang awet dan tidak ketinggalan zaman. Bambang melihat, masa depan batik sangatlah cerah, apalagi batik yang menggunakan bahan pewarna alami.

Selain mengembangkan batik indigo, Bambang juga mengajarkan warga memproduksi madu, budi daya belut, serta sarang burung walet. Bambang bilang, untuk menyejahterakan warga harus dimulai dengan membangun ekonomi warga.

Tapi, tidak hanya membangun ekonomi, Bambang juga membangun fasilitas pendidikan. Seperti, rumah pintar yang dilengkapi dengan komputer dan juga perpustakaan.

Tak hanya itu, Bambang juga merintis desanya hadir di dunia maya lewat situs www.gemawang.com. "Pendidikan itu penting untuk kesejahteraan warga," tegas Bambang.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/73825/Bambang-tinggalkan-karier-demi-mengajari-petani-membatik-indigo