Showing posts with label ayam. Show all posts
Showing posts with label ayam. Show all posts

Wednesday, August 8, 2012

Tawaran bisnis kuliner Ayam Abiss

TAWARAN KEMITRAAN

Tawaran bisnis kuliner Ayam Abiss

Pamor bisnis kuliner olahan ayam belum memudar. Bisnis ini tetap menjadi magnet bagi para pebisnis kuliner. Kuliner olahan ayam juga semakin marak karena banyak pemain menawarkan kemitraan atau waralaba. Salah satunya adalah Melby Baradja, pemilik usaha Ayam Abiss di Bintaro, Jakarta Selatan. Restoran Ayam Abiss ini telah berdiri sejak tahun 2004 di bawah bendera usaha PT Wadha Artha Abadi. Saat ini, Melby sudah memiliki dua cabang Restoran Ayam Abiss di Bintaro dan Bogor. "Semua masih milik sendiri," katanya. Saat ini, Ayam Abiss memang belum memiliki mitra.Pasalnya, tawaran waralaba restoran ini baru saja dirilis pada pertengahan tahun ini. "Resminya, kami menawarkan waralaba pada bulan September nanti, tapi sekarang sudah terbuka jika ada mitra yang tertarik," papar Melby.
Ayam Abiss menawarkan menu utama berupa ayam goreng presto, ayam goreng sambal, iga goreng, daging kambing goreng, dan gulai kambing.
Sementara minumannya ada kopi panas, kopi susu, es lemon tea, es jeruk, dan green tea. Makanan dan minuman ini dibanderol mulai Rp 16.000 - Rp 20.000 per porsi.
Melby mengklaim, makanan hasil racikannya memiliki kelebihan pada citarasanya yang khas dan gurih. Selain itu, bahan baku ayamnya juga hasil peternakan sendiri. Demi kenyamanan pengunjung, desain restoran juga dibuat senatural mungkin. "Kami pakai bambu juga di dalam ruangan," jelasnya.
Ayam Abiss menawarkan satu paket waralaba, yakni paket resto dengan investasi Rp 195 juta. Mitra akan mendapat seluruh perlengkapan memasak, termasuk furniture seperti meja dan kursi untuk 60 tempat duduk, kipas angin ukuran jumbo, dan wifi untuk akses internet.
Mitra hanya perlu menyiapkan tempat di lokasi yang strategis. Omzet mitra ditargetkan mencapai Rp 81 juta per bulan. Dengan catatan, mitra bisa meraup omzet rata-rata Rp 2,7 juta per hari.
Kerjasama ini tidak memungut royalty fee dan franchise fee. Dengan laba 15%, mitra bisa balik modal dalam waktu sembilan bulan sejak beroperasi. Kalau mitra belum memiliki gerai sendiri disarankan menyewa ruko dan menyediakan enam karyawan.
Konsultan waralaba dari International Franchise Business Management, Evi Diah Puspitawati menilai, tawaran kemitraan makanan olahan ayam sudah cukup banyak. Kendati demikian, pangsa pasarnya masih terbuka. Makanya, setiap pemain masih berpeluang untuk sukses di bisnis ini. Namun, bagi yang menawarkan waralaba atau kemitraan ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
Diantaranya menyangkut standardisasi operasional. "Hal ini meliputi sistem bisnis, menu, administrasi, hingga marketing, itu yang perlu diperhatikan," jelas Evi. Menurutnya, pewaralaba harus dapat menjadi guru yang baik bagi calon mitra. Caranya, dengan membuat standar operasional yang sama, mulai dari pusat hingga mitra. "Terutama rasa menu makanan itu harus sama di berbagai gerai," katanya.
PT Wadha Artha Abadi Jl Kesehatan Raya No 88,
Bintaro Jaya Sektor 1, Jakarta Selatan Telp: 021-73886568 HP: 0857-17417707

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/tawaran-bisnis-kuliner-ayam-abiss

Thursday, March 22, 2012

Prasetio, Raup Laba dari Ayam Organik

Views :118 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 22 Maret 2012 09:19
Budaya menyantap makanan organik kini sedang menjadi tren bagian dari gaya hidup sehat. Sebab, bahan makanan organik bebas dari berbagai jenis pestisida dan zat kimia yang bisa membahayakan tubuh. Sejauh ini, jenis makanan organik lebih banyak berupa sayur mayur dan tanaman organik seperti beras organik, cabai organik, hingga kangkung organik. Belakangan, tren organik meluas hingga ke bahan makanan yang berasal dari hewan ternak seperti ayam organik.

ayam_organicPrasetio Yuwono, salah satu pengusaha yang telah menekuni bisnis ayam organik sejak 2008. Dia melihat masyarakat membutuhkan pasokan ayam yang sehat dan bermanfaat bagi tubuh. Bersama Gina Dyah Miranti dan Agus Hanif, anak dan  menantunya, mereka melakukan penelitian dengan memelihara ayam tanpa antibiotik, vaksin, dan hormon sejak 2002.

Hasilnya, ayam organik yang dihasilkan oleh peternakannya di Desa Jeglong, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, telah lulus Laboratorium Pengujian Veteriner Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta Departemen Pertanian Ditjen Bina Produksi Peternakan. Ayam organik produksinya dinyatakan tidak mengandung residu antibiotik erytromycin, kanamycin, tetracyclin, penisilin, logam berat Arsen, Pb (timbal), maupun Cr (crom), serta bebas virus flu burung dan penyakit New Castle. "Seluruh proses produksi ayam bebas dari bahan kimia dan rekayasa genetika, mulai dari pengembangbiakkan sejak dari benih, lingkungan, hingga pengemasan," paparnya saat ditemui di gerai Healthy Chicken miliknya di Jalan Ngaglik Baru No  22.

Pada 2008, Prasetio mulai menjual ayam organik. Awalnya, dia hanya memasarkan ayam organik di Supermarket Gelael Citraland Mall. Kemudian secara bertahap, produksi ayam organiknya terus meningkat hingga mampu menghasilkan 1.200-an ekor ayam per minggu tiap kandang, dari enam kandang yang dimiliki. Kenaikan produksi itu diikuti peningkatan permintaan dari beberapa kota seperti Surabaya yang mencapai 2.000 ekor per minggu, Yogyakarta 250 ekor per minggu, Bandung 1.500 ekor per minggu, dan Semarang 1.500 ekor per minggu. Maklum, ayam  organik terbilang sehat dan tidak berisiko membawa penyakit. "Selain punya 5 gerai cabang di Semarang, kami sedang merintis pasar untuk Denpasar, Solo, dan Irian Barat," katanya.

Dari bisnis ini, Prasetio mengantongi omzet lumayan besar. Hitung saja, dia menjual ayam organik Rp 38.500 per ekor. Setiap minggu, dia sanggup memasok sekitar 1.200 ekor. Selama proses pemeliharaan, ayam diberi ramuan herbal agar sehat. Ini berbeda dari kebanyakan peternak lain yang menyuntikkan antibiotik agar ayam bebas penyakit. Tak hanya pantang dengan suntikan antibiotik dan makanan berunsur  kimia, ayam juga diberi minum air isi ulang untuk menghindari bakteri E Coli. "Kami memberikan ramuan dari 32 macam jenis herbal, yang mampu mencegah dan membasmi bakteri serta virus. Ramuan tersebut membuat ayam tahan penyakit, lebih lincah, tingkat kematian lebih rendah, dan nafsu makan bertambah dibanding ayam konvensional," paparnya.

Berdasarkan hasil penelitian, kadar lemak ayam organik hanya 9,9%. Ini lebih rendah dari ayam konvensional yang berkisar 25%. Sedangkan kadar proteinnya mencapai 70,8%, lebih tinggi dari ayam lain yang hanya 18,2%. (*/Suara Merdeka)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/15448-prasetio-raup-laba-dari-ayam-organik.html