Wednesday, August 17, 2011

Selama Ramadan, penjualan sirop jahe benar-benar panas


PELUANG USAHA
 
Selasa, 16 Agustus 2011 | 13:57  oleh Fahriyadi, Bambang Rakhmanto
PELUANG BISNIS KULINER SIROP JAHE
Selama Ramadan, penjualan sirop jahe benar-benar panas
Manisnya pasar sirop di bulan Ramadan memang sungguh menyegarkan. Tak hanya sirop beraroma buah-buahan, seperti sirsak, apel, atau melon yang laris manis. Para produsen sirop jahe yang rasanya hangat-hangat manis pun ikut kecipratan rezeki di bulan suci ini.

Seandainya ada lembaga survei mau iseng meneliti kebutuhan Lebaran yang paling dicari, sirop pasti masuk dalam kategori itu. Ya, saban menjelang Lebaran atau di saat Bulan Suci Ramadan, penjualan sirop memang melenting tinggi. Di saat Lebaran, banyak orang menyuguhkan minuman sirop yang praktis untuk para tetamu.

Kenaikan konsumsi sirop jelas mendongkrak rezeki para produsen sirop, baik produsen skala kecil hingga skala raksasa. Termasuk juga produsen sirop non-konvensional, seperti sirop jahe.

Lihat saja sekarang betapa senangnya produsen sirop jahe di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Yatimah, salah satu produsen sirop jahe itu, bercerita bahwa penjualan sirop jahe naik 177% di bulan Ramadan. Konkretnya, selama bulan puasa ini, Yatimah sudah bisa menjual 100 botol sirop jahe. Padahal, di hari biasa, hanya laku 36 botol (ukuran 600 mililiter). "Permintaan bisa lebih banyak lagi, tapi saya tak bisa menambah produksi," keluh Yatimah, produsen sirop jahe merek Tazakka itu.

Jelas kenaikan penjualan itu juga mengerek omzet Yatimah. Selama Ramadan yang baru berlangsung 11 hari ini, Yatimah sudah mengantongi omzet Rp 50 juta. Di hari biasa omzet selama sebulan hanya Rp 20 juta.

Ia pertama kali melirik bisnis sirop jahe itu pada 2003 lalu. "Saya racik sirop jahe dengan gula aren, akar alang, dan ramuan alami lain yang bisa menyembuhkan masuk angin," klaim Yatimah.

Ternyata produksi perdana itu laku di pasaran. Bahkan pesanan sudah meningkat di produksi berikutnya. Yatimah pun semakin kreatif dengan menambahkan varian rasa untuk sirop jahenya itu, seperti sirop jahe alang-alang. Soal harga, Yatimah membanderol produknya mulai dari Rp 12.000 hingga Rp 17.500 per botol.

Agar jualan cepat laku, selain memasok ke supermarket, Yatimah juga menjual sirop jahe tersebut di berbagai toko oleh-oleh khas Semarang.

Walaupun omzet Yatimah lancar, ia mengeluhkan soal kenaikan harga bahan baku jahe. Tak tanggung-tanggung, kenaikan harga jahe itu mencapai 100%. "Dari harga Rp 7.500 per kilogram (kg) naik menjadi Rp 15.000 per kg," terang Yatimah.

Lonjakan harga jahe ini tentu membuat biaya produksi juga melambung. Namun, Yatimah enggan menaikkan harga jual. Dia khawatir penjualan akan melorot kalau harga naik.

Selain Yatimah, kenaikan penjualan sirop jahe juga dirasakan oleh Antonius Jarwoko, juga di Semarang. Ia bilang, permintaan sirop jahe selama Ramadan bisa mencapai 1.600 botol atau naik 60% bulan ini ketimbang bulan biasa.

Anton menjual sirop jahe seharga Rp 12.500 untuk botol ukuran 630 ml. Omzet Anton selama puasa ini mencapai Rp 20 juta. "Permintaannya naik dari tahun ke tahun," terang Anton.

Bulan Ramadan tahun lalu, Anton mampu menjual 1.200 botol sirop jahe. Tahun ini, jumlahnya melonjak menjadi 1.600 botol. "Kebanyakan sirop ini untuk parsel Lebaran," kata Anton yang baru saja menaikkan harga jual sirop jahe dari Rp 11.000 per botol menjadi Rp 12.500 per botol akibat harga bahan baku naik.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/75543/Selama-Ramadan-penjualan-sirop-jahe-benar-benar-panas

No comments:

Post a Comment