Sunday, August 21, 2011

Agar Entrepreneur Muda Sukses

PDF Cetak E-mail
Sabtu, 20 Agustus 2011 08:49
Kesuksesan bisa diraih oleh siapapun, tanpa terkecuali, sepanjang ia mau berusaha keras untuk menggapainya. Begitu pula dalam entrepreneurship. Masing-masing entrepreneur berkesempatan meraih keberhasilan walau ia adalah pemain baru dengan usia yang masih belia.

young_entrepreneursMeski demikian, bercermin pada dunia olahraga, ada sejumlah ciri-ciri yang menjadi faktor pendukung kesuksesan. Misalnya, pemain basket yang harus memiliki tinggi badan memadai agar bisa menjadi atlet profesional. Berkaitan dengan hal tersebut, situs WealthForTeens, mengelompokkan lima ciri yang umumnya dimiliki entrepreneur belia nan sukses.

Ambisius
Ambisius merupakan sifat paling penting yang harus dimiliki seorang entrepreneur. Jalan menuju kesuksesan penuh dengan lika-liku yang tajam dan dalam keadaan tertentu lika-liku itu bisa memengaruhi mental entrepreneur. Akibatnya, keinginan untuk menyerah akan timbul dan merongrong jiwa entrepreneur. Di sinilah, kekuatan ambisi entrepreneur diperlukan. Bila ia tak cukup berambisi untuk meraih sukses maka saat masalah besar datang mentalnya akan goyah dan ia akan takluk dengan kegagalan.
Berani
Dalam kehidupan bisnis yang sebenarnya, tak semua ide serta proyek akan berjalan sesuai harapan. Kesalahan bisa saja terjadi atau mungkin keberuntungan belum berpihak pada si entrepreneur. Seseorang yang berjiwa entrepreneur tak akan merasa takut gagal. Ia akan mengevaluasi kesalahan serta menggunakannya sebagai pedoman agar tak melakukan hal sama untuk yang kedua kalinya.

Gigih
Meraup untung kadang membutuhkan waktu yang lama. Diibaratkan dengan menanam pohon buah, ketika sudah menanam bibit, pohon itu takkan bisa langsung berbuah. Dengan perawatan dan pupuk yang sesuai takaran, pohon akan tumbuh dan berkembang. Begitu pula halnya dengan bisnis. Karena itu, kegigihan entrepreneur sangat dibutuhkan. Ia takkan menyerah apapun yang terjadi.

Kreatif
Sebagian besar start up di dunia maya yang sukses sekarang ini berasal dari ide original. Kesempatan berkiprah dengan media internet bisa diregut dengan melakukan pembajakan dari bisnis yang sudah berjalan. Caranya mudah dan kemungkinan menyimpan keuntungan yang lebih besar. Tapi cara itu bukanlah cara entrepreneur sejati. Seseorang berjiwa entrepreneur memiliki kreatifitas lebih tinggi sehingga mampu menciptakan peluang usaha.

Sabar
Selain gigih, entrepreneur yang sukses juga harus sabar. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, tak semua ide akan langsung membuahkan profit. Jika tak cukup sabar, entrepreneur akan mudah menyerah pada langkah pertama saat ia menemui kendala. Padahal, siapa tahu saja kegagalan pertama itu berhikmah pada keberuntungan.

Mengelola bisnis di usia muda memang memiliki cukup banyak tantangan. Selain kompetitor, sikap meremehkan yang datang dari khalayak luas juga dapat memengaruhi performa sang entrepreneur. Ada baiknya, sebagai entrepreneur yang baru menjajakan kaki di jagat bisnis memiliki bekal lima ciri dasar seperti yang telah disebutkan di atas. Selamat berbisnis! (*/ely)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/component/content/article/37-advise/10625-agar-entrepreneur-muda-sukses.html

Sukses Kelola Bisnis Keluarga Sampai ke Luar Negeri

PDF Cetak E-mail
Melakukan usaha di era globalisasi ini biasanya berkiblat pada hal modern dan menanggalkan nilai-nilai budaya. Kendati tidak setiap orang seperti itu.

Seperti yang digeluti U'us, pengelola Sanggar Reret Art Shop. Sanggar itu adalah sebuah usaha kerajinan, patung kayu, primitif, kerjinan dari tulang dan lain-lain yang beralamat di Jalan Raya Bandung-Sumedang Km 19 Cibeusi, Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

uus_reret0811Sanggar Reret ini dikelola oleh seorang bapak yang bernama Dr. HC. Dayat Supriatna, bersama keluarganya termasuk anaknya yang bernama U'us.

U'us menceritakan awal mulanya usaha sanggar ini hanya bermodalkan Rp20 ribu dengan pinjaman uang dari bank. Lanjutnya dengan tekad dan kerja keras usaha ini mulai kelihatan berhasil dengan dimulai menjual dengan mendatangi rumah ke rumah dan mulut ke mulut.

"Awal mulanya usaha ini, dulu hanya dari rumah ke rumah, mulut ke mulut, door to door-lah, dengan modal awal usaha kami hanya Rp20 ribu pada tahun 1965," ungkap Uus kepada Okezone.

Usaha Sanggar Reret ini, dijelaskan U'us adalah usaha yang turun temurun dari tahun 1965, namun baru berhasil setelah tahun 1997, usaha Sanggar ini mulai baru bisa menghasilkan. U'us mulai berhasil mempekerjakan beberapa pegawai dan mulai mengekspor hasil kerajinannya.

"Sampai 1997 masih sendiri, kita jual sendiri. Mulai keangkatnya tahun 1997, setelah mulai disentuh instansi pemerintah," ucapnya.

Dia menceritakan, pemerintah tertarik membiayai UMKM ini setelah melihat sang bapak pencipta usaha melakukan show atau pameran ke luar negeri, yaitu ke Jerussalem dengan biaya sendiri dan bantuan seorang teman. Setelah melihat hasil pameran si bapak di luar negeri, pemerintah baru tertarik untuk membiayai Sanggar ini.

Dia menambahkan, setelah mendapatkan sentuhan pemerintah ini, Sanggar pun mulai berkembang, di mana pada 1997 Sanggar Reret mempekerjakan sekira 50 karyawan. "Namun pekerja kita sekarang 25-an," tambahnya.

Tidak tanggung tanggung, hasil kerajinan yang dirintis bapaknya, Uus beserta keluarganya ini sekarang telah melalangbuana ke luar negeri, dimana sekira 75 persen dari hasil produk dijualnya ke luar negeri. Adapun omzet penjualan hasil produk kerajinan ini mencapai Rp20 juta di setiap even yang dilakoninya. Barang yang dijual pun beragam harganya, mulai dari Rp15 ribu sampai Rp3 juta. "Kalau ada even begini seperti pameran, inacraft omzet kita bisa mencapai Rp15 juta sampai Rp20 juta, tapi enggak selalu tetap juga. Kalau enggak ada event biasanya kita juga masukin barang ke factory outlet," jelasnya

Dia juga menceritakan, ketika terjadi krisis moneter 1998 usaha kerajinan ini malah mendapatkan untung karena kebanyakan konsumen pasar mereka adalah orang orang luar negeri. Sehingga dengan adanya krisis ini malah menguntungkan karena tingginya harga dolar. "Malah bagus 1998, kebanyakan beli orang luar," katanya.

Walaupun demikian dia mengaku untuk penjualan ke luar negeri ini, Indonesia masih kalah jauh dengan Thailand, padahal menurut Uus barang hasil kerajinan Indonesia jauh lebih bagus dibandingkan barang asal Thailand.

Uus menjelaskan, kekalahan Indonesia dalam merambah pasar internasional ini adalah susahnya izin untuk berdagang atau ekspor keluar negeri, sehingga Indonesia kalah bersaing dengan Thailand. "Untuk ekspor keluar negeri barang kita 75 persen kita ekspor, tapi kita hanya jual ke eksportir aja, dan dalam ekspor kita juga masih kalah dengan Thailand, perizinan susah ke luar, makanya ini adalah salah satu faktor susahnya bersaing ke luar," pungkasnya.
Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/10616-sukses-kelola-bisnis-keluarga-sampai-ke-luar-negeri.html

Pilah-Pilih Jejaring Sosial yang Tepat untuk Bisnis


PDF Cetak E-mail
social-netw

Jejaring sosial sesungguhnya ialah jaringan bisnis baru. Namun Anda harus memahami budaya yang berbeda agar bisa menggunakannya dengan baik. Misalnya, minat pribadi seseorang ialah entrepreneurship dan MySpace diperuntukkan bagi para remaja muda. Jika seseorang berusia paruh baya menggunakan MySpace mungkin bisa diibaratkan seperti orang tua yang bergabung dalam sebuah pesta perayaan kelulusan anak sekolah menengah atas.  Setiap orang merasa aneh dan kurang nyaman.

Jejaring sosial memiliki karakteristiknya sendiri sehingga Anda harus benar-benar mempelajarinya sebelum memutuskan untuk terjun ke dalamnya untuk tujuan bisnis. Terdapat beberapa aturan tak tertulis yang sejumlah orang belum sadari keberadaannya.

Setiap jejaring sosial  mengklaim menjadi layanan yang paling bisa mengakomodasi para pebisnis untuk bersosialiasi dan menjual produknya tanpa atau dengan sedikit modal.

Berikut ialah penjelasan singkat tentang lansekap berbagai jejaring sosial yang terkait dengan jaringan bisnis untuk para entrepreneur dan usaha rintisan:
  • Twitter. Percaya atau tidak, banyak entrepreneur lebih menyukai Twitter dibandingkan jejaring sosial lain. Twitter menjadi tempat membaurnya 75 juta pengusaha perusahaan, individu, selebritis, bahkan politikus. Inilah versi modern surat kabar tradisional. Cukup dengan klik tautan dalam sebuah tweet, Anda bisa dapatkan berita, thread gosip selebriti, kabar perekonomian terkini, atau perkembangan dunia bisnis terkini. Sebagai entrepreneur, Anda bisa  bertemu dengan banyak entrepreneur antusias lainnya di Twitter.
  • Facebook. Inilah ‘raja rimba’ dalam belantara jejaring sosial. Dengan jumlah pengguna di seluruh dunia mencapai setengah miliar, Facebook menjadi tempat paling potensial bagi para pebisnis sekaligus entrepreneur untuk menjangkau pelanggan, berinteraksi dengan sesama entrepreneur, dan sebagainya. Anda bisa ciptakan group atau bergabung dalam group yang sudah ada untuk bisa mendapatkan kabar terkini dan berdiskusi tentang isu-isu terkini dengan orang lain.
  • LinkedIn. Jejaring sosial ini disesaki oleh 60 juta pengguna dari kalangan profesional, yang sebagian besar ialah marketer dan eksekutif. Terdapat sebuah group seperti “Applied Entrepreneurship”di mana pertukaran pendapat begitu hidup mengenai nilai hak paten, legalitas MLM, dan sebagainya. Gen Y (generasi muda yang lahir setelah 1980) mungkin merasa tidak nyaman di LinkedIn dibandingkan di Twitter atau Facebook karena kesannya yang sangat serius dan berbau bisnis yang kental. Namun justru itulah yang membuat LinkedIn sebagai sumber informasi bagi entrepreneur yang tak kalah penting.
  • MySpace. Jejaring sosial yang baru-baru ini mengalami penurunan jumlah pengguna ini didominasi oleh para musisi dan remaja awal. Namun jangan salah karena ditemui juga kelompok “Entrepreneurs” dan “Business Networking” di dalamnya. Dibandingkan LinkedIn, diskusi berbau bisnis tidak terlalu ramai di MySpace.
  • Koprol. Entrepreneur di tanah air tidak boleh melupakan jejaring sosial berbasis lokasi satu ini. Sebagai pengguna, kita akan diberikan opsi “Profil Bisnis” yang bisa menjadi tempat berpromosi usaha dan berinteraksi dengan sebanyak mungkin pelanggan bisnis kita. Bahkan akun Koprol bisnis ini bisa dikelola oleh banyak admin dan diintegrasikan dengan Twitter serta Facebook.
  • Google Plus. Siapa tidak kenal jejaring sosial baru ini? Menurut Christian Oelstein (manajer produk Google Plus), Google Plus belum mengakomodasi profil untuk bisnis/ usaha/ korporat dan jika pun ditemukan, itu hanyalah bagian eksperimen tim Google Plus. Namun tentu Anda tidak dilarang untuk sedikit melakukan upaya trial-and-error dengan profil pribadi Anda. Dengan jumlah pertumbuhan pengguna dan tingkat kenyamanan penggunaan yang terus menerus diperbaiki, tak heran jika Google Plus akan menjadi salah satu jejaring sosial yang potensial untuk suburkan bisnis.
  • Jejaring sosial lainnya (Ryze, Plaxo, Orkut, Ecademy, Bebo, Friendster, dan sebagainya). Ada begitu banyak jejaring sosial di luar sana, bahkan ada yang belum pernah kita dengar. Sejumlah layanan memang diperuntukkan bagi  teritori tertentu dan terkenal di negara tertentu saja. Orkut, misalnya, ada di India dan Asia. Sementara Ryze lebih dikenal di Eropa.

Sebelum Anda memtuskan untuk memilih jejaring sosial mana yang sesuai untuk bisnis Anda, pilihlah beberapa yang terlihat paling menjanjikan. Cobalah dan kemudian tentukan rentang waktu untuk mencoba mengukur efektifitasnya. Anda akan terkejut dengan banyaknya jumlah orang dan prospek yang berdatangan.
Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/bina-usaha/49-rencana-bisnis/10374-pilah-pilih-jejaring-sosial-yang-tepat-untuk-bisnis.html

Mendatangkan Rupiah dari Tulang Belulang

Mendatangkan Rupiah dari Tulang Belulang Cetak
Sabtu, 20 Agustus 2011 12:08
Tulang unggas, tulang ikan, hingga tulang sapi yang biasanya jadi sampah ternyata ada gunanya juga. Lihat saja, di tangan Beni Tri Bawono, tulang ternyata bisa dimanfaatkan menjadi sebuah karya seni yang dapat mendatangkan rupiah. Dari tulang itu pula, Beni mampu menciptakan miniatur sepeda, sepeda motor, naga, dan aneka perhiasan.

beni_tulangKerajinan tulang sapi atau kerbau sudah populer di Bali. Namun, siapa yang mengira tulang belulang ayam atau ikan ternyata juga bisa menjadi karya seni yang menarik dan mampu menyedot rupiah. Tapi, itulah yang dibuktikan oleh Beni Tri Bawono, perajin tulang asal Boyolali, Jawa Tengah. Di tangan terampil Beni, tulang-belulang yang mestinya tak berguna itu bisa berubah wujud menjadi miniatur becak, miniatur sepeda, miniatur Harley Davidson, hingga miniatur kapal layar dan patung naga sepanjang 1,5 meter dan tinggi 80 cm.

Beni mengungkapkan, awal mula dia bergelut dengan tulang-belulang itu setelah dia kehilangan pekerjaan pada 1998 silam. Nah, agar tak menjadi pengangguran, Beni pun berinisiatif beternak lele. Namun, inisiatif itu bubar setelah usai menguras kolam lele, Beni malah menemukan tulang-belulang ayam dan unggas bekas pakan lele. Di benak Beni ketika itu, tulang belulang itu bisa dirangkai menjadi aneka miniatur yang menarik. "Sejak itulah pergumulan saya dengan tulang dimulai," ujar Beni.

Beni mengaku tidak kesulitan mendapatkan tulang untuk bahan baku kerajinannya. Karena di kedai-kedai di sekitar rumahnya limbah tulang ini sangat berlebihan. Apalagi Beni juga menggunakan tulang selain ayam, seperti tulang ikan hingga tulang bebek. Cara Beni membuat miniatur juga unik. Dia mau tak mengubah bentuk tulang namun dia menyesuaikan bentuk tulang itu dengan miniatur yang ingin dia ciptakan. Misalnya, sadel motor, dia ciptakan dari punggung ayam, ban sepeda dari tulang leher, jeruji dibuat dari patahan tulang sayap, sedangkan kemudi dari tulang bebek.

Proses menggabung-gabungkan aneka tulang itu tentu memakan waktu. Beni mengungkapkan, untuk membuat miniatur sepeda saja, dia setidaknya butuh waktu hingga 15 hari lamanya. Adapun untuk bentuk naga yang lebih rumit, pengerjaan bisa sampai empat bulan lamanya. Proses pembuatan miniatur itu sendiri diawali dengan membersihkan tulang dari sisa-sisa daging. Untuk menghemat tenaga, hasil berburu tulang pada malam hari di warung-warung makan itu dia lemparkan ke kolam lele di belakang rumahnya. Setelah tiga hari, tulang itu diangkat dan direndam dalam air berformalin selama sehari semalam. Selanjutnya tulang-tulang dijemur hingga kering dan berwarna putih sambil sesekali disemprot formalin.

Nah, tulang yang sudah benar-benar kering kemudian direkatkan dengan lem sesuai dengan motif tulang. Setelah jadi, sebagai sentuhan akhir, rangkaian itu disemprot dengan cairan pembersih dan disapu dengan pewarna mutiara. Untuk memberi nilai tambah pada produknya, kerajinan itu dimasukkan ke dalam kotak kaca. ”Kotak kaca ini juga kami potong sendiri dan sengaja dibentuk agar bisa dibuka. Ini supaya miniatur mudah dibersihkan dengan menyemprotkan pembersih saja. Asal tidak berada di tempat lembap, kerajinan ini bisa tahan lama,” kata Beni.

Meski terbilang unik, Beni mengaku pemasaran produk miniatur dari tulang ini masih tertatih-tatih. Ia baru bisa berharap dari pameran ke pameran yang biasanya diadakan di Yogyakarta atau di Jakarta. "Biasanya sekali ikut pameran bisa laku hingga 15 unit," ujar Beni. Beni sendiri bercita-cita punya galeri untuk karya seninya itu. Tapi sayang, modalnya belum ada. "Untuk membuat karya yang dipamerkan di Jakarta saja, saya sudah habis-habisan. Uang hasil jualan lele nyaris semuanya dipakai untuk modal membuat kerajinan,” keluh Beni.

Beni menjual karya miniatur yang termurah seharga Rp250.000 hingga Rp1 juta. Namun, untuk miniatur naga dia membanderol harga mulai Rp2,5 juta hingga Rp10 juta, tergantung tingkat kerumitan. Menurut Beni, harga yang sedemikian tinggi itu merupakan penghargaan atas kreativitasnya. Meski pemasaran secara langsung tertatih-tatih, Beni tak patah arang. Dengan dibantu sepupunya, Beni menawarkan aneka miniatur itu melalui internet. Di dunia maya itu, Beni membuat blog yang berisi foto-foto dan narasi singkat tentang kerajinan tulang produknya dalam http://www.boneart-tlatar.blogspot.com dan www.boneart-tlatar.blogspot.com. ”Saya tetap merasa kerajinan ini unik dan bernilai tinggi. Saya berharap setelah pemasarannya bisa lebih luas, saya bisa mengajak orang-orang di kampung untuk ikut membuatnya. Sepanjang ada kreativitas, pasti ada jalan,” tukas Beni penuh semangat. (*/kompas.com)

Sumber: http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/10627-mendatangkan-rupiah-dari-tulang-belulang.html

Saturday, August 20, 2011

Nia berambisi dirikan 10 cabang hingga tahun 2018


Peluang Usaha

 
Kamis, 18 Agustus 2011 | 14:29  oleh Ragil Nugroho
INSPIRASI NIA FEBRIANA
Nia berambisi dirikan 10 cabang hingga tahun 2018 (3)

Seiring bertambahnya waktu, bisnis suvenir milik Nia Febriana terus bertambah dan membesar. Usai membuka cabang Griya Souvenia di Palembang 2010 lalu, Nia sekarang bercita-cita membuka 10 cabang lagi sampai tahun 2018. Tekun, fokus, kerja keras, berfikir positif serta perencanaan matang menjadi kunci sukses bagi Nia.

Nia Febriana terdaftar sebagai mahasiswi di Sekolah Tinggi Teknik (STT) Telkom Bandung sejak 2001. Hanya butuh empat tahun bagi Nia untuk menamatkan pendidikan sarjana (S1), tepatnya di tahun 2005.

Mendapatkan ijazah sarjana tidak membuat Nia berbangga hati untuk melamar kerja ke perusahaan bonafid. Wanita kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 28 tahun silam itu justru melewatkan begitu saja lowongan kerja di perusahaan terbaik yang datang padanya. Nia memilih untuk mandiri dengan menjadi pengusaha.

Bagi Nia menjadi entreprenur membuatnya berkesempatan memanfaatkan kemampuannya secara optimal. Beda ketika harus terjun dunia kerja yang harus ikut aturan dan standar kerja yang baku. "Saya merasa bisa mendapatkan feel jika menjadi pengusaha," terang perempuan berkacamata itu.

Gelar sarjana bagi Nia tidak menjamin seseorang bisa sukses. Baginya, ketekunan, kerja keras dan pantang menyerahlah yang membuat orang bisa sukses.

Kuliah bagi Nia hanya sarana untuk mendapatkan pola pikir yang matang dan mampu menghadapi kerasnya dunia bisnis. Makanya, saat memutuskan terjun ke dunia bisnis, Nia berprinsip: pantang kembali jika sudah memilih jalan. Dengan prinsip itu pula, ia bisa tekun dan fokus mengejar cita-citanya itu.

Nia berharap pengusaha muda yang sedang merintis usaha untuk tidak khawatir dalam memulai usaha. "Jalani saja usaha itu sembari berpikir positif," ujar Nia.

Merintis usaha dengan membuka usaha suvenir, mahar, dan seserahan di Bandung, dengan ketekunan, kerja keras dan berpikir positif, usaha Nia berkembang. Ia juga berhasil membuka cabang di Palembang, Sumatra Selatan tahun 2010. Tidak berhenti sampai di situ saja, kini Nia berambisi menambah cabang lagi. "Target saya ada 10 cabang lagi hingga 2018," kata Nia.

Dalam memilih cabang, Nia mencari kota yang berpotensi pasar seperti Palembang. Selain menjadi toko suvenir, cabang di Griya Souvenia di kota Mpek-mpek itu juga menjadi distributor suvenir wilayah Sumatera. "Lokasinya strategis," kata Nia.

Agar lebih cepat menambah cabang, Nia juga berencana untuk mewaralabakan usahanya. Dengan waralaba, Nia berharap bisa membuka kesempatan kerja baru bagi investor dan juga penambahan karyawan lebih banyak lagi. Kini, Nia tengah menggodok rencana itu.

Saat ini, Nia mengaku tengah fokus untuk menambah semangatnya. Ia yakin, semangat akan mampu menyelesaikan semua masalah bisnis. "Dalam bisnis, yang tinggal itu hanya tantangan yang mesti dihadapi," tambahnya.

Saat membuka bisnis suvenir dan seserahan, Nia mengaku yakin mampu menaklukan tantangan itu. Makanya, dia tekun berkreasi dengan terus menciptakan suvenir dan seserahan yang unik dan menarik.

Hasilnya pun tampak. Tahun 2000, saat Nia getol berinovasi seserahan, tren seserahan sesuai dengan kreasi Nia. Hingga kini, pelanggan terus bertambah lantaran Nia juga terus mengasah kemampuannya dalam berkreasi.

Jauh sebelum menjadi produsen suvenir dan seserahan, Nia sempat menjajal menjadi distributor suvenir pernikahan. Karena itu pula, ia perlahan menguasai teknik membuat suvenir dan seserahan. Yakin dengan kemampuannya, Nia memutuskan menjadi produsen sekaligus menjadi distributor hasil kreasi karyawannya.

Dalam menjajakan produk, Nia juga memberi kesempatan pelanggan memesan suvenir, seserahan atau mahar sesuai dengan selera.

Semakin tinggi pohon tumbuh, semakin kencang angin yang mendera. Hal ini dirasakan oleh Nia, semakin banyak pelanggan, semakin banyak juga kritik bahkan komplain kepadanya. "Pelanggan menjadi lebih rewel, tapi itu sekarang sudah menjadi hal yang biasa," ujar Nia.

Usaha suvenir dan seserahan tidak selamanya ramai. Nia mengaku, ada waktu tertentu pesanan suvenir dan seserahan sepi pesanan. "Saat sepi saya biasanya bersosialisasi dengan karyawan," kata Nia.

Saat itulah, Nia memberikan semangat kerja bagi para karyawannya itu.

Mencetak untung dari usaha cetak digital


PELUANG USAHA
 
Kamis, 18 Agustus 2011 | 15:13  oleh Fahriyadi
TAWARAN KEMITRAAN JASA CETAK DIGITAL
Mencetak untung dari usaha cetak digital

Bisnis cetak digital atau digital printing dekat dengan dunia anak muda. Berbagai produk seperti cetak gambar kaus, mug, pin, kartu identitas atau ID card, dan kartu nama tak hanya menjanjikan keuntungan finansial tapi juga kepuasan dari sisi kreativitas.


• Real Imagink Digital Printing

Berdiri tahun 2007, Real Imagink Digital Printing langsung menawarkan kemitraan setahun kemudian. Beralamat di Jalan Jati No 10, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Telp. 05114778170, Muhammad Hadi, pemilik Real Imagink yakin kalau bisnis yang ditawarkan masih menjanjikan.

Walau begitu, sering mitra bisnis terbentur pada kreativitas dalam mendesain produk. Padahal, kreativitas dan pengetahuan sangat penting dalam bisnis ini. Makanya, Hadi menekankan adalah penguasaan ilmu. "Soal konsep usaha biar mitra usaha yang jalan sendiri," kata Hadi.

Makanya, setelah mitra mengerti tentang usaha dan tahu bagaimana cara mengembangkannya, Hadi akan memberikan kesempatan bagi untuk mengeksplorasi kemampuannya. Bahkan, bagi mitra yang sudah mencapai tahap itu, Hadi tidak akan memaksa mitra menggunakan nama Real Imagink lagi.

Anda yang tertarik dengan bisnis ini, Hadi menawarkan paket investasi fleksibel. Untuk paket lengkap dengan investasi Rp 15 juta. Nilai investasi itu bisa berubah, tergantung kebutuhan calon mitra. Jika calon mitra telah memiliki peralatan seperti printer dan komputer, nilai investasi bisa ditekan.

Adapun paket satuan, investasinya Rp 3 juta hingga Rp 7 juta. Alat seperti sablon, digital printing, kursus digital, digital mug, dan digital pin akan disediakan Hadi. "Paket satuan paling banyak diminati," katanya.

Buktinya, saat ini Hadi sudah melayani 100 paket satuan dan 2 paket lengkap di Balikpapan dan Pekanbaru. Dari 100 mitra tersebut, 50% di antaranya mengambil kursus digital, baik pelatihan langsung ataupun tutorial. Hal ini, menjadi tanda banyak orang ingin belajar dan menjajal usaha cetak digital.

Karena paket digital printing paling laku, untuk sementara, Hadi menghentikan penjualan paket satuan lain. Selain itu, dia juga mulai menawarkan paket lengkap dengan sistem proteksi 1 kota, 1 mitra. Hadi menargetkan mitra akan memperoleh omzet hingga Rp 15 juta tiap bulan, sehingga balik modal bisa tercapai paling lama 6 bulan.


• Narsis Digital Printing

Seperti juga Real Imagink, Narsis Digital Printing yang berdiri sejak 2009 dan menawarkan kemitraan setahun kemudian. Dimiliki Alween Ong, Narsis beralamat di Jalan Merak Jingga No. 52, Medan, Sumatra Utara, telp. 0614510356.

"Kemitraan menganut prinsip fleksibilitas," katanya. Dengan paket investasi dari Rp 17 juta hingga Rp 38 juta, saat ini Narsis Digital Printing memiliki 28 cabang di Aceh dan Sumatera Utara.

Narsis juga menawarkan paket satuan yang terdiri dari paket facemug Rp 17 juta, Master Pin Rp 22 juta, Raja Distro Rp 26 juta dan paket komplet Rp 38 juta. "Nilainya bukan harga mati, sesuai kebutuhan dan peralatan yang dimiliki mitra," jelasnya.

Alween mentargetkan balik modal selama 3 bulan hingga 11 bulan dengan target omzet Rp 800.000 per hari. Sebab nilai utama kemitraan lebih kepada sisi pelatihan menjalankan usaha secara profesional dan menguntungkan.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/75681/Mencetak-untung-dari-usaha-cetak-digital

Membungkus laba dari parsel Lebaran yang ciamik


PELUANG USAHA

 
Jumat, 19 Agustus 2011 | 14:50  oleh Handoyo, Dea Chadiza Syafina
PELUANG BISNIS PARSEL LEBARAN
Membungkus laba dari parsel Lebaran yang ciamik

Jelang hari raya Idul Fitri adalah waktu bersuka ria bagi pengusaha parsel. Saat mendekati Lebaran, pesanan parsel mengalami kenaikan hingga tiga kali lipat. Agar penjualan terus naik, sebagian pebisnis parsel enggan menaikan harga jual parsel bikinannya.

Mendekati libur Idul Fitri, para perajin parsel didera kesibukan yang padat. Mereka mulai mempersiapkan produk parsel untuk dijual ke konsumen. Maklum, menjelang Lebaran adalah waktu favorit penjualan parsel.

Seperti yang dialami Yuli, pemilik Elcon Parcel di Surabaya. Jelang Lebaran, pesanan parsel Elcon naik dua sampai tiga kali lipat ketimbang waktu biasa. "Kenaikan permintaan parsel akan terasa dua atau satu pekan sebelum Lebaran," kata Yuli yang menggeluti bisnis parsel sejak tahun 1990 lalu.

Walaupun pekan ini pesanan belum naik signifikan, Yuli yakin pesanan parsel naik dua pekan sebelum Lebaran. Yuli bilang, jumlah penjualan parsel miliknya bisa naik dari 20 buah parsel per hari menjadi 40-60 parsel per hari.

Selain melayani pesanan parsel di Jawa Timur, Yuli juga melayani permintaan serta pengiriman parsel untuk daerah Kalimantan dan juga Sulawesi. "Pengiriman menggunakan agen travel," jelas Yuli yang ogah bilang margin usaha yang diperolehnya.

Yang pasti, Yuli mengklaim tidak menaikkan harga jual parsel saat permintaan parsel naik. Ia menjual parsel seperti tahun lalu, mulai dari harga Rp 100.000 hingga Rp 1,5 juta."Tergantung isi, semakin banyak dan berkualitas, makin mahal harganya," urai Yuli.

Isi parsel milik Yuli itu adalah makanan, minuman, dan produk berbahan keramik. Pelanggan Yuli tak hanya dari perusahaan, tapi juga pelanggan ritel.

Selain Yuli, ada juga Harni Kusniyati, pedagang parsel di dunia maya yang memanfaatkan momentum Lebaran untuk menjual parsel berisi perlengkapan ibadah.

Melalui toko online-nya Izar Parcel, Harni menjual parsel perlengkapan ibadah laki-laki dan juga untuk perempuan. Harganya mulai dari Rp 400.000 - Rp 450.000, tergantung kualitas.

Isi parsel perlengkapan ibadah itu adalah; baju koko, peci, sajadah, mukena, sarung, kerudung dan tasbih. "Varian bisa dipesan sesuai dengan selera," kata Harni yang membuka usaha sejak tahun 2008.

parsel perlengkapan ibadah milik Harni mulai dipasarkan sejak Ramadan 2010 lalu. Hasilnya, Harni sukses menjual 50 paket parsel seharga Rp 450.000 per paket. Selama Ramadan 2010, Harni mengantongi penjualan Rp 22,5 juta dari penjualan parsel perlengkapan ibadah saja.

Harni mengatakan, penjualan parsel tahun ini lebih baik ketimbang tahun lalu. Selama dua pekan saja, ia sudah menjual 10 parsel dan mengerjakan 50 parsel pesanan. "Permintaan naik 80%," kata Harni yang juga membuat parsel makanan dan minuman. Untuk parsel makanan dan minuman itu, Harni membanderol harga mulai Rp 150.000 per parsel. "Pesanan parsel dengan isi makanan dan minuman naik 50%," terang Harni yang juga ogah bilang margin usaha yang ia dapat.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/75770/Membungkus-laba-dari-parsel-Lebaran-yang-ciamik