TAWARAN KEMITRAAN KULINER: SIOMAY
Bisnis siomay masih tetap hangat
Oleh Revi Yohana, Noverius Laoli, Marantina - Minggu, 14 Oktober 2012 | 19:14 WIB

Siomay sudah menjadi kudapan yang akrab di lidah masyarakat
Indonesia. Saat disajikan, siomay biasanya berteman tahu kukus, sayur
kol gulung, telur rebus, kentang rebus, juga pare. Tak ketinggalan pula
bumbu penyedap saus kacang plus tetesan jeruk.
Makanan yang satu ini sudah merakyat sehingga penjualnya pun gampang
dijumpai, mulai yang menjajakan keliling, hingga yang mangkal di gerai
tertentu. Tak pelak, usaha siomay ini pun semakin bertebaran termasuk
mereka yang kemitraan.
Meski makin padat pemain, bisnis ini sepertinya masih ada celah untuk
tumbuh. Hal itu terungkap dari usaha kemitraan siomay yang pernah
diulas KONTAN sebelumnya, yakni Siomay Menteng, Siomay Pink, dan Siomay
Bandung (Kang Otong).
Umumnya bisnis mereka berkembang. Ukurannya terlihat dari jumlah
mitra yang bertambah banyak.Nah, mari kita simak perkembangan usaha
mereka.
Siomay Menteng
Pada September 2010 lalu, KONTAN sudah mengulas tawaran kemitraan
Siomay Menteng. Kala itu, Siomay yang dirintis Ferryano Prawirakusuma
sejak tahun 2001 ini masih memiliki 57 gerai.
Setelah dua tahun berlalu, jumlah gerai Siomay Menteng tumbuh cukup
signifikan. Saat ini jumlah mitra mereka mencapai 120 mitra. "Lima gerai
diantaranya milik sendiri," ujar Oyon Suriana, pengelola Siomay
Menteng. Mitra tersebut tersebar di sejumlah berbagai yakni Jabodetabek,
Palembang, Solo dan Surabaya.
Siomay Menteng menawarkan keunggulan berupa rasa ikan tenggiri asli
dan tanpa bahan pengawet. Saat ini harga jual Siomay Menteng di kisaran
harga Rp 4.000 hingga Rp 7.000 per buah. Harga ini lebih tinggi
dibandingkan dua tahun lalu yang dibanderol Rp 2.000 - Rp 2.500 per
siomay.
Menurut Oyong, jumlah mitra Siomay Menteng ini bertambah karena
mereka menjaga kualitas rasa produk mereka. Selain itu, tentu saja
promosi yang gencar. Berbagai media digunakan oleh Oyong untuk terus
mengembangkan bisnis Siomay Menteng. "Kami aktif berpromosi melalui
Facebook juga," ujar Oyon.
Kini, tawaran paket investasi Siomay Menteng sudah berubah. Dulu,
mereka menawarkan tiga paket kemitraan untuk jangka waktu lima tahun,
yakni paket Rp 5 juta, Rp 6 juta dan paket Rp 7,5 juta. Namun sekarang,
mereka tak membuka lagi paket dengan nilai investasi Rp 5 juta.
Setiap paket mendapat fasilitas gerobak dan tungku yang bisa memuat
300 buah siomay. Untuk paket Rp 6 juta disediakan gerobak yang sudah
dipasangi kanopi. Adapun paket Rp 7,5 juta mendapat fasilitas tambahan
gerobak yang dilengkapi kompor dua tungku. Satu tungku untuk siomay dan
tungku lain untuk penggorengan.
Untuk kemitraan dengan investasi Rp 6 juta, mitra ditargetkan bisa
menjual rata-rata 500 siomay per minggu atau 2.000 siomay per bulan.
Sementara, paket dengan investasi Rp 7,5 juta, mitra bisa menjual
rata-rata 3.000 siomay per minggu atau 12.000 siomay per bulan.
Siomay Menteng tidak menetapkan kriteria lokasi secara khusus. Yang
penting, lokasi usaha di kawasan pemukiman penduduk atau bisa juga di
pusat perbelanjaan kelas menengah yang cukup strategis.
Siomay Pink
Nama Siomay Pink memang sempat menarik perhatian
karena penjajanya menggunakan peralatan serba pink. Usaha Siomay ini
didirikan oleh Najib pada Februari 2011.
Saat KONTAN mengulas Siomay Pink pada November 2011, Najib sudah
memiliki 10 gerai, delapan diantaranya dimiliki mitra. Saat ini, gerai
mereka bertambah meski tak banyak menjadi 13 gerai, sembilan gerai
diantaranya milik mitra. "Kami hanya menerima mitra yang serius
menjalankan usaha," ujar Najib.
Paket investasi yang ditawarkan Najib, kini sudah berubah.
Sebelumnya, Najib menawarkan dua paket kemitraan, yakni, paket seharga
Rp 17 juta dan paket seharga Rp 125 juta. Nah, paket kedua ini sekarang
harganya sudah naik menjadi Rp 150 juta.
Untuk paket pertama, mitra akan mendapatkan sepeda, kompor, cat,
dandang, tabung gas 12 kg, kaos seragam, aksesoris makan berupa piring,
sendok dan perlengkapan promosi. Tapi, mitra harus menyediakan sendiri
meja dan kursi untuk pengunjung.
Paket kedua merupakan paket mobil. Mitra akan mendapatkan satu unit
mobil boks Suzuki Carry untuk gerai berjualan. Selain mobil berwarna
pink, mitra juga akan mendapat meja, atap dan bangku sebanyak 10 unit.
Termasuk, satu unit sepeda pink dan semua perlengkapan yang tersedia
dalam paket pertama.
Selain dua paket itu, Najib juga menawarkan paket kemitraan baru,
yakni paket motor roda tiga. Paket ini sudah mulai diluncurkan pada
April 2012 dengan harga Rp 45 juta. Di paket ini, mitra akan mendapatkan
satu unit motor roda tiga berwarna pink dan perlengkapan memasak.
Mulai Juli tahun ini, Najib juga membuka jenis kemitraan baru, yakni
kemitraan pasif. Kemitraan ini dibuka karena banyak yang tertarik bisnis
ini tapi kurang bisa aktif dalam membesarkan usaha. Nah, calon mitra
yang berminat bisa memilih untuk menanamkan modal saja.
Penawaran sistem kemitraan pasif ini mulai dari nilai Rp 2 juta dan
bisa lebih sesuai kelipatannya. Untuk investasi Rp 2 juta, misalnya,
mitra nantinya akan ditransferkan uang harian sebesar Rp 30.000 per hari
selama 90 hari.
Siomay Bandung (Asli Kang Otong)
Usaha Siomay Bandung (Asli Kang Otong) berdiri pada 2006 oleh Akhlis
Mukhidin di Yogyakarta. Ketika KONTAN mengulas tawaran kemitraan dari
Siomay Bandung pada 2011 lalu, Akhlis belum memiliki mitra bisnis sama
sekali. Namun, saat ini ia sudah mempunyai 10 mitra dengan sistem
kemitraan terbuka.
Jumlah mitranya akan bertambah pada November mendatang. Akhlis
mengatakan, akan ada lima mitra baru yang membuka usaha di Klaten, Solo,
Semarang, Yogyakarta, dan Magelang.
Awalnya, Akhlis menawarkan kemitraan dengan biaya investasi Rp 45
juta. Kini, biaya investasi yang mereka tawarkan naik menjadi sebesar Rp
75 juta. Dengan biaya sebesar itu, mitra akan mendapatkan peralatan
memasak, displai makanan, alat promosi, serta biaya kerjasama selama
lima tahun.
Mitra juga bakal memperoleh pelatihan karyawan dan bahan baku perdana
senilai Rp 1 juta untuk 500 siomay. Yang harus mitra siapkan ialah
ruangan seluas 48 meter persegi.
Akhlis menghitung, mitra bisa balik modal setelah 12 bulan atau
selambat-lambatnya dalam tempo 18 bulan. Asumsinya, omzet kotor yang
dihasilkan per harinya berkisar Rp 700.000 hingga Rp 800.000.
Omzet itu belum termasuk pengeluaran untuk gaji karyawan, sewa
tempat, belanja bahan baku, dan royalti fee sebesar 3% dari omzet. Kini,
Akhlis juga menawarkan paket kemitraan terbuka dengan biaya investasi
Rp 5 juta.
Mitra akan mendapatkan paket bahan baku siomay, pelatihan produksi,
penjualan siomay, sistem pemasaran, dan sistem keuangan. Namun, mitra
tidak harus memakai merek atau nama Siomay Bandung.
Nantinya, ia akan tetap menawarkan pada mitra yang memilih kemitraan
terbuka itu untuk mengubah merek dagangnya menjadi Siomay Bandung. “Kami
sedang siapkan sistemnya seperti apa,” ujarnya.
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/bisnis-siomay-masih-tetap-hangat